Bab sebelumnya membahas saudara kandung dalam periwayatan. Bab ini membahas hubungan kekerabatan yang lebih dekat lagi: orang tua dan anak, termasuk arah periwayatan yang terdengar tidak lazim.
Riwayatul Aba' 'anil-Abna' - Ayah Meriwayatkan dari Anaknya
Alfiyah al-'Iraqi merangkum kasus ini dalam bait berikut:
Salah satu kasus yang terdengar tidak lazim tapi didokumentasikan dengan baik dalam ilmu ini adalah riwayatul aba' 'anil-abna' - seorang ayah meriwayatkan hadits dari anaknya sendiri, kebalikan dari arah periwayatan yang biasa (yang lebih tua meriwayatkan kepada yang lebih muda).1 Ini bisa terjadi karena sang anak kebetulan lebih dulu mendengar atau menyaksikan sesuatu yang belum diketahui ayahnya, atau karena sang anak memiliki sanad yang lebih tinggi (lebih pendek jalurnya) untuk riwayat tertentu dibanding ayahnya sendiri - kasus yang sama dengan pola akabir 'anil ashaghir yang sudah dibahas dua bab sebelumnya, hanya di sini spesifik terjadi antara orang tua dan anak kandung.
Riwayat al-Abna' 'anil-Aba' - Arah Sebaliknya
Alfiyah al-'Iraqi juga menyinggung arah sebaliknya dalam bait berikut:
Kebalikannya, riwayat al-abna' 'anil-aba' (anak meriwayatkan dari ayah), jauh lebih umum dan tidak memerlukan penjelasan khusus, karena mengikuti arah alami hubungan guru-murid antar generasi - sama seperti pola periwayatan pada umumnya dalam sebuah keluarga ulama, di mana ilmu diwariskan turun-temurun dari orang tua kepada anak.
Bab selanjutnya membahas pola terakhir dalam kelompok hubungan kekerabatan dan pertemuan rawi: dua rawi yang meriwayatkan dari guru yang sama, tapi wafat dalam jarak waktu yang sangat jauh, as-sabiq wal-lahiq.
Catatan & Referensi
Kasus riwayatul aba' 'anil-abna' dan kebalikannya dijelaskan As-Sakhawi dalam Fathul Mughits sebagai bagian dari cabang ilmu rijalul hadits yang mendata hubungan kekerabatan antar rawi.
↩