Fathul Mughits Bab 50: Ma'rifatut Tabi'in

Bab sebelumnya membahas para sahabat. Bab ini membahas generasi sesudahnya - mereka yang mewarisi ilmu dari sahabat, tapi tidak sempat bertemu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam secara langsung.

Definisi Tabi'in

Alfiyah al-'Iraqi merangkum definisi tabi'in dalam bait berikut:

وَالتَّابِعُ اللَّاقِي لِمَنْ قَدْ صَحِبَا ... وَلِلْخَطِيبِ حَدُّهُ أَنْ يَصْحَبَا
"Dan tabi'in adalah orang yang bertemu dengan siapa saja yang pernah menjadi sahabat (Nabi) - sedangkan menurut Al-Khathib (Al-Baghdadi), batasannya (harus lebih dari sekadar bertemu, yaitu) harus benar-benar bergaul (shuhbah) dengannya." (Alfiyah al-'Iraqi, bait 817, dinukil dan disyarah As-Sakhawi dalam Fathul Mughits, jilid 4 hlm. 144)

As-Sakhawi lalu menjelaskan sendiri cakupan istilah ini dalam prosa syarahnya:

التَّابِعُ وَيُقَالَ لَهُ: التَّابِعِيُّ أَيْضًا، وَكَذَا التَّبَعُ، وَيُجْمَعُ عَلَيْهِ أَيْضًا، وَكَذَا عَلَى أَتْبَاعٍ، هُوَ اللَّاقِي لِمَنْ قَدْ صَحِبَا النَّبِيَّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وَاحِدًا فَأَكْثَرَ
"At-tabi' - disebut juga at-tabi'i, demikian pula at-taba' (bentuk jamaknya juga demikian, atau atba') - adalah orang yang bertemu dengan siapa saja yang pernah menjadi sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, baik satu orang maupun lebih." (As-Sakhawi, Fathul Mughits, jilid 4 hlm. 145)

At-tabi'in adalah generasi setelah para sahabat - orang yang bertemu (dan beriman) dengan seorang sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam semasa keimanannya, lalu wafat dalam keadaan Muslim.1 Syarat "bertemu sahabat" ini yang membedakan tabi'in dari generasi sesudahnya, yang disebut tabi'ut tabi'in (hanya bertemu tabi'in, bukan sahabat langsung).

Tingkatan Tabi'in

Ulama membagi tabi'in ke dalam beberapa thabaqat (tingkatan generasi), tergantung seberapa banyak dan seberapa senior sahabat yang mereka temui. Tabi'in senior (kibarut tabi'in) adalah mereka yang sempat bertemu banyak sahabat besar, termasuk tokoh-tokoh seperti Sa'id bin Al-Musayyab yang dikenal luas sebagai salah satu fuqaha tabi'in paling terkemuka di Madinah.2 Sementara tabi'in junior hanya sempat bertemu sahabat yang usianya sudah sangat lanjut, atau hanya sedikit sahabat yang masih hidup di masa mereka.

Al-Mukhadhramun - Generasi Peralihan

As-Sakhawi juga menyinggung kategori khusus di titik peralihan: al-mukhadhramun, yaitu orang-orang yang hidup semasa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan sudah masuk Islam, tapi tidak sempat bertemu beliau secara langsung (misalnya karena berada jauh di luar Jazirah Arab saat itu).3 Mereka dihitung sebagai tabi'in senior, bukan sahabat, meski hidup semasa dengan Nabi - karena syarat kesahabatan mengharuskan pertemuan langsung, bukan sekadar kesamaan masa hidup.

Mengetahui tingkatan tabi'in ini penting untuk menilai kemungkinan ittishal sanad - kalau seorang rawi disebut sebagai tabi'in junior tapi diklaim meriwayatkan langsung dari sahabat yang wafat jauh sebelum masa tabi'in junior itu aktif belajar, itu jadi indikasi kuat adanya inqitha' yang perlu diteliti lebih jauh.

Bab selanjutnya membahas fenomena yang terdengar tidak lazim: rawi senior yang justru meriwayatkan dari rawi yang jauh lebih muda usianya, akabir 'anil ashaghir.

Catatan & Referensi

  1. Definisi at-tabi'in sebagai generasi yang bertemu sahabat dalam keimanan dan wafat dalam keadaan Muslim dirumuskan Ibnu Shalah dalam Muqaddimah-nya dan dijelaskan As-Sakhawi dalam Fathul Mughits.

  2. Kedudukan Sa'id bin Al-Musayyab sebagai salah satu tabi'in senior dan fuqaha terkemuka di Madinah dicatat luas dalam literatur biografi tabi'in (kutubut-thabaqat).

  3. Definisi al-mukhadhramun sebagai generasi yang hidup semasa Nabi tapi tidak bertemu beliau langsung dirumuskan Ibnu Shalah dan dijelaskan As-Sakhawi dalam Fathul Mughits.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email