Bab sebelumnya membahas nasikh-mansukh. Bab ini kembali ke tema kesalahan teknis dalam periwayatan - kali ini soal kesalahan menulis atau membaca sebuah kata.
At-Tashif (Al-Mushahhaf)
As-Sakhawi merumuskan at-tashif dengan definisi yang ringkas namun tepat sasaran:
Alfiyah al-'Iraqi memberi contoh konkret betapa satu huruf saja bisa mengubah total makna sebuah kata:
At-tashif adalah kesalahan mengubah sebuah kata dalam sanad atau matan karena kemiripan bentuk tulisan (terutama pada huruf-huruf yang hanya dibedakan titik, seperti ب/ت/ث atau ج/ح/خ dalam huruf Arab), sehingga kata yang dihasilkan berbeda maknanya dari kata aslinya.1 Ini kenapa bab sebelumnya di jilid ketiga menekankan pentingnya naqth (titik pembeda huruf) dan syakl (harakat) - tashif adalah konsekuensi nyata ketika kedua praktik itu diabaikan atau diwariskan secara keliru oleh penyalin naskah.
At-Tahrif - Kesalahan pada Harakat
As-Sakhawi membedakan at-tashif (kesalahan pada bentuk huruf) dari at-tahrif (kesalahan pada harakat/vokal, di mana bentuk hurufnya tetap sama tapi cara membacanya berubah, mengubah makna kata).2 Kedua kesalahan ini sama-sama berbahaya karena bisa mengubah identitas seorang rawi (kalau terjadi pada sanad) atau makna hukum yang dikandung sebuah hadits (kalau terjadi pada matan).
Mendeteksi tashif dan tahrif membutuhkan perbandingan dengan naskah-naskah lain yang lebih akurat, atau pengetahuan luas tentang nama-nama rawi dan kosakata hadits yang lazim, sehingga sebuah kejanggalan bisa segera dikenali. Inilah salah satu alasan kenapa ulama hadits klasik menghafal begitu banyak sanad dan matan - hafalan itu menjadi rujukan pembanding internal untuk mendeteksi kesalahan semacam ini pada naskah yang mereka baca.
Bab selanjutnya menutup jilid ketiga Fathul Mughits dengan topik yang berkaitan erat: bagaimana ulama menyelesaikan hadits-hadits shahih yang tampak saling bertentangan secara makna, bukan sekadar kesalahan tulis: mukhtaliful hadits.
Catatan & Referensi