Fathul Mughits Bab 39: Al-Isnad al-'Ali wan-Nazil

Jilid keempat dan terakhir Fathul Mughits membahas seluk-beluk biografi rawi dan karakteristik sanad yang belum masuk kategori mana pun sebelumnya. Bab ini membuka jilid tersebut dengan topik yang sempat disinggung sekilas di bab tentang syarat tahammul: kenapa sebagian sanad dianggap lebih "tinggi" dibanding yang lain.

Al-Isnad al-'Ali wan-Nazil

As-Sakhawi membuka bab ini dengan menegaskan bahwa isnad itu sendiri adalah kekhususan mulia umat ini, sebelum merinci pembagian 'uluw (ketinggian sanad) lewat bait Alfiyah al-'Iraqi:

أَصْلُ الْإِسْنَادِ أَوَّلًا خِصِّيصَةٌ فَاضِلَةٌ مِنْ خَصَائِصِ هَذِهِ الْأُمَّةِ، وَسُنَّةٌ بَالِغَةٌ مِنَ السُّنَنِ
"Sanad itu sendiri, pertama-tama, adalah kekhususan yang mulia di antara kekhususan-kekhususan umat ini, dan sunnah yang agung di antara sunnah-sunnah (yang ada)." (As-Sakhawi, Fathul Mughits, jilid 3 hlm. 329)
وَطَلَبُ الْعُلُوِّ سُنَّةٌ وَقَدْ ... فَضَّلَ بَعْضٌ النُّزُولَ وَهْوَ رَدْ
وَقَسَّمُوهُ خَمْسَةً، فَالْأَوَّلُ ... قُرْبٌ مِنَ الرَّسُولِ وَهْوَ الْأَفْضَلُ
إِنْ صَحَّ الْإِسْنَادُ وَقِسْمُ الْقُرْبِ ... إِلَى إِمَامٍ وَعُلُوٍّ نِسْب
ِي
"Mencari (sanad) 'uluw (tinggi) adalah sunnah, dan sebagian (ulama) memang pernah mengunggulkan nuzul (sanad rendah) - namun pendapat itu tertolak. Mereka membagi 'uluw menjadi lima (jenis); yang pertama adalah kedekatan (jumlah rawi yang sedikit) kepada Rasulullah, dan inilah yang paling utama, apabila sanadnya shahih. (Jenis kedua adalah) kedekatan kepada seorang imam (hadits tertentu) - inilah yang disebut 'uluw nisbi (tinggi relatif)." (Alfiyah al-'Iraqi, bait 737-739, dinukil dan disyarah As-Sakhawi dalam Fathul Mughits, jilid 3 hlm. 329)

Al-isnad al-'ali (sanad yang tinggi) adalah sanad yang jumlah rawinya lebih sedikit untuk sampai ke Nabi dibanding sanad lain untuk matan yang sama, sedangkan al-isnad an-nazil (sanad yang rendah) adalah kebalikannya - jumlah rawinya lebih banyak.1 Ulama hadits klasik sangat menghargai isnad 'ali, karena semakin sedikit mata rantai, semakin kecil pula peluang kesalahan atau cacat menyusup ke dalam sanad tersebut.

As-Sakhawi merinci beberapa jenis isnad 'ali - di antaranya al-'uluw al-muthlaq (tinggi mutlak, sanadnya lebih pendek sampai ke Nabi dibanding jalur mana pun) dan al-'uluw an-nisbi (tinggi relatif, lebih pendek dibanding jalur ke seorang imam tertentu, seperti Imam Al-Bukhari, meski belum tentu paling pendek sampai ke Nabi sendiri).2 Perburuan sanad 'ali inilah yang mendorong tradisi rihlah - ulama rela mengembara jauh demi mendapatkan sanad yang lebih pendek, meski isinya sama dengan riwayat yang sudah mereka miliki lewat sanad yang lebih panjang.

Penting dicatat: isnad 'ali tidak otomatis lebih shahih dibanding isnad nazil - keduanya tetap harus memenuhi syarat 'adalah dan dhabt di setiap rawinya. Isnad 'ali hanya lebih dihargai karena kepraktisannya (lebih sedikit titik yang perlu diverifikasi), bukan karena secara otomatis lebih kuat kesahihannya.

Bab selanjutnya membahas satu jenis hadits berdasarkan jumlah jalur periwayatannya yang menengah - tidak setinggi mutawatir, tapi juga tidak sesempit gharib: al-masyhur.

Catatan & Referensi

  1. Definisi al-isnad al-'ali dan an-nazil dirumuskan Ibnu Shalah dalam Muqaddimah-nya dan dijelaskan As-Sakhawi dalam Fathul Mughits.

  2. Pembagian 'uluw muthlaq dan 'uluw nisbi dijelaskan As-Sakhawi dalam Fathul Mughits, mengikuti rumusan Ibnu Shalah.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email