Bab sebelumnya membahas al-mu'allal - cacat tersembunyi yang butuh keahlian tinggi untuk mendeteksinya. Bab ini membahas cacat yang berbeda karakternya: bukan sesuatu yang tersembunyi, tapi justru kontradiksi yang terang-terangan antar versi riwayat.
Al-Mudhtarib
Alfiyah al-'Iraqi mendefinisikan al-mudhtarib dalam tiga bait berikut:
فِي مَتْنٍ أَوْ فِي سَنَدٍ إِنِ اتَّضَحْ فِيهِ ... تَسَاوِي الْخُلْفِ أَمَّا إِنْ رَجَحْ
بَعْضُ الْوُجُوهِ لَمْ يَكُنْ مُضْطَرِبَا ... وَالْحُكْمُ لِلرَّاجِحِ مِنْهَا وَجَب
"Mudhtaribul hadits adalah hadits yang datang dalam bentuk berbeda-beda, dari satu rawi atau lebih, baik pada matan maupun sanad, apabila jelas bahwa perbedaan riwayat itu setara kekuatannya. Namun jika salah satu bentuk riwayat itu lebih unggul, maka ia tidak lagi disebut mudhtarib - dan wajib mengikuti riwayat yang lebih unggul di antara semuanya." (Alfiyah al-'Iraqi, bait 209-211, dinukil dan disyarah As-Sakhawi dalam Fathul Mughits, jilid 1 hlm. 290)
Al-mudhtarib adalah hadits yang diriwayatkan dengan versi-versi yang saling bertentangan - baik dari rawi yang sama pada waktu berbeda, maupun dari rawi-rawi berbeda - dengan kekuatan yang setara di antara semua versi tersebut, sehingga tidak ada satu versi pun yang bisa diunggulkan atau direkonsiliasi dengan yang lain.1 Syarat pentingnya: kalau ternyata salah satu versi bisa diunggulkan (misalnya karena rawinya lebih tsiqah, atau riwayatnya lebih masyhur), maka hadits itu tidak lagi disebut mudhtarib - ia justru diselesaikan lewat metode tarjih (mengunggulkan versi yang lebih kuat), bukan dibiarkan dalam status idhtirab.
Idhtirab bisa terjadi pada sanad (misalnya nama rawi yang berbeda-beda pada setiap penyebutan) maupun pada matan (redaksi yang berubah-ubah signifikan, bukan sekadar variasi kata yang wajar). Status idhtirab umumnya melemahkan sebuah riwayat, karena menunjukkan ketidaktelitian dalam periwayatannya.
Bab selanjutnya membahas cacat berikutnya: susupan kata atau kalimat yang tercampur ke dalam matan atau sanad tanpa pemisah yang jelas, al-mudraj.
Catatan & Referensi
Definisi al-mudhtarib beserta syarat kesetaraan kekuatan antar versi yang bertentangan dijelaskan Ibnu Shalah dan As-Sakhawi.
↩