Fathul Mughits Bab 17: Al-Mu'allal

Enam bab terakhir jilid pertama Fathul Mughits membahas enam cacat hadits yang belum masuk kategori mana pun sebelumnya. Bab ini membuka dengan cacat yang dianggap paling sulit dideteksi di seluruh ilmu musthalah hadits.

Al-Mu'allal

Alfiyah al-'Iraqi mendefinisikan al-mu'allal dalam dua bait berikut, sekaligus menegaskan penyebutan istilah yang benar:

وَسَمِّ مَا بِعِلَّةٍ مَشْمُولُ ... مُعَلَّلًا، وَلَا تَقُلْ: مَعْلُولُ
وَهْيَ عِبَارَةٌ عَنْ أَسْبَابٍ طَرَتْ ... فِيهَا غُمُوضٌ وَخَفَاءٌ أَثَّرَت
ْ
"Sebutlah apa yang mengandung 'illah sebagai mu'allal - dan jangan katakan ma'lul. 'Illah itu adalah ungkapan tentang sebab-sebab tersembunyi yang muncul, mengandung kesamaran dan ketersembunyian yang berpengaruh (pada keabsahan hadits)." (Alfiyah al-'Iraqi, bait 193-194, dinukil dan disyarah As-Sakhawi dalam Fathul Mughits, jilid 1 hlm. 273)

Bait pertama ini penting diperhatikan: meski istilah "al-ma'lul" cukup sering terdengar di kalangan umum, Al-'Iraqi secara eksplisit menegaskan bahwa penyebutan yang tepat menurut kaidah bahasa dan konvensi ulama musthalah hadits adalah al-mu'allal, bukan al-ma'lul.

Al-mu'allal adalah hadits yang secara lahiriah tampak selamat dari cacat, tapi sebenarnya menyimpan 'illah - sebab tersembunyi yang merusak keabsahannya, yang hanya bisa ditemukan lewat penelusuran mendalam terhadap seluruh jalur periwayatan.1 'Illah bisa berupa banyak hal: sanad yang terlihat muttasil marfu' padahal sebenarnya mursal atau mawquf ketika dibandingkan dengan jalur lain yang lebih kuat, atau kekeliruan mengidentifikasi seorang rawi karena kemiripan nama dengan rawi lain.

Mendeteksi 'illah membutuhkan keahlian yang sangat tinggi - inilah cabang ilmu yang disebut 'ilmu 'ilalil hadits, yang hanya dikuasai segelintir ulama sepanjang sejarah (dikenal sebagai ahlul 'ilal), seperti Ali bin Al-Madini, Imam Al-Bukhari sendiri, Ad-Daraquthni, dan Ibnu Abi Hatim lewat kitabnya yang khusus berjudul Al-'Ilal. Karena butuh hafalan ribuan jalur sanad untuk bisa membandingkannya, ilmu ini dianggap puncak tertinggi dalam kompetensi seorang muhaddits.

Bab selanjutnya membahas cacat berbeda: riwayat yang diriwayatkan dengan versi-versi saling bertentangan tanpa bisa direkonsiliasi, al-mudhtarib.

Catatan & Referensi

  1. Definisi al-mu'allal dan cabang ilmu 'ilalil hadits dirumuskan Ibnu Shalah dalam Muqaddimah-nya dan dijelaskan panjang lebar As-Sakhawi dalam Fathul Mughits, menyebutkan nama-nama ahli 'ilal seperti Ali bin Al-Madini dan Ad-Daraquthni.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email