Kalau artikel tentang tadlis sebelumnya sudah mengenalkan konsepnya secara umum, Fathul Mughits membawa pembahasan ini lebih jauh dengan memilah at-tadlis jadi beberapa jenis yang berbeda cara kerja dan tingkat keparahannya. Memahami jenis-jenisnya penting karena tidak semua tadlis punya bobot cacat yang sama.
Pertama: Kenapa Tadlis Berbeda dari Berbohong Terang-Terangan
At-tadlis secara bahasa berarti menyembunyikan cacat. Dalam ilmu hadits, ia adalah tindakan seorang rawi meriwayatkan dari seseorang yang sezaman dengannya (dan mungkin pernah ditemuinya), dengan redaksi yang memberi kesan ia mendengar langsung riwayat tersebut, padahal sebenarnya tidak - biasanya dengan memakai kata penghubung ambigu seperti "'an" (dari) alih-alih kata tegas seperti "haddatsana" (menceritakan kepada kami) atau "sami'tu" (aku mendengar).1
Bedanya dengan kedustaan terang-terangan (al-kadzib): seorang mudallis (pelaku tadlis) tidak menciptakan riwayat palsu atau menyandarkannya kepada orang yang sama sekali tidak ia kenal. Ia tetap meriwayatkan sesuatu yang benar-benar ada, hanya menyamarkan bagaimana ia memperolehnya. Tapi justru karena itu ulama tetap memandangnya sangat serius:
التَّدْلِيسُ أَخُو الْكَذِبِ
"Tadlis adalah saudaranya dusta." (Perkataan Imam Syu'bah bin Al-Hajjaj, dinukil Imam Asy-Syafi'i, dikutip Al-Khathib Al-Baghdadi dalam Al-Kifayah fi 'Ilmi Ar-Riwayah)
Dan tentu tetap berlaku ancaman umum atas siapa pun yang menyandarkan sesuatu kepada Nabi tanpa dasar yang jelas: "Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka" (HR. Al-Bukhari no. 1229, dari Al-Mughirah bin Syu'bah) - sudah dibahas di bab 1 rangkaian ini.
Kedua: Tadlis al-Isnad
Alfiyah al-'Iraqi mendefinisikan tadlis al-isnad dalam bait berikut:
وَ "قَالَ" يُوهِمُ اتِّصَالً
"Tadlis al-isnad adalah seperti seseorang yang menggugurkan (nama) orang yang meriwayatkan hadits kepadanya, lalu ia naik (menyandarkan langsung ke gurunya) dengan lafal 'an atau anna, dan 'qala' - memberi kesan seolah-olah sanadnya bersambung (padahal tidak)." (Alfiyah al-'Iraqi, bait 153-154, dinukil dan disyarah As-Sakhawi dalam Fathul Mughits, jilid 1 hlm. 221)
Tadlis al-isnad adalah jenis paling umum: seorang rawi meriwayatkan dari orang yang sezaman dan pernah ia temui (atau bahkan pernah ia dengar riwayat lain darinya), tapi untuk hadits tertentu ini ia sebenarnya tidak mendengarnya langsung - mungkin mendengarnya lewat perantara orang ketiga yang lemah, lalu ia buang perantara itu dan memakai kata "'an" seolah-olah langsung.2 Cara mendeteksinya biasanya lewat perbandingan riwayat - kalau di jalur lain ternyata ada perawi yang menyebutkan perantara yang hilang itu secara eksplisit, terungkaplah tadlis-nya.
Ketiga: Tadlis at-Taswiyah
Tadlis at-taswiyah dianggap jenis tadlis yang paling berat konsekuensinya. Di sini seorang rawi membuang seorang perawi lemah yang berada di tengah sanad - bukan gurunya sendiri, tapi rawi lemah yang menjadi penghubung antara dua rawi tsiqah lain di atas dan di bawahnya - sehingga sanad terlihat seolah-olah "rata" (musawwa), semuanya terdiri dari rawi-rawi tsiqah yang saling bertemu langsung, padahal sebenarnya ada mata rantai lemah yang disembunyikan.3 Disebut paling berat karena efeknya membuat sebuah sanad yang sebenarnya cacat terlihat sempurna di permukaan - jauh lebih sulit dideteksi dibanding tadlis al-isnad biasa.
Keempat: Tadlis asy-Syuyukh
Alfiyah al-'Iraqi mendefinisikan tadlis asy-syuyukh sekaligus menyebut motif-motifnya dalam bait berikut:
فَشَرُّهُ لِلضَّعْفِ وَاسْتِصْغَارَا ... وَكَالْخَطِيبِ يُوهِمُ اسْتِكْثَارَ
"(Tadlis asy-syuyukh adalah) menyifati sang guru dengan sebutan yang tidak dikenal untuknya, dengan maksud yang berbeda-beda - yang paling buruk adalah untuk menyembunyikan kelemahan (guru itu) atau meremehkannya, seperti (yang dilakukan) Al-Khathib (Al-Baghdadi) yang memberi kesan seolah memiliki banyak guru." (Alfiyah al-'Iraqi, bait 158-159, dinukil dan disyarah As-Sakhawi dalam Fathul Mughits, jilid 1 hlm. 221)
Tadlis asy-syuyukh berbeda karakternya dari dua jenis di atas - di sini rawi benar-benar mendengar langsung dari gurunya (tidak ada masalah pada ittishal-nya), hanya saja ia menyebut nama gurunya dengan cara yang tidak umum - memakai kun-yah, nasab, atau gelar yang jarang dipakai untuk orang itu - sehingga orang yang mendengarnya kesulitan mengenali siapa sebenarnya guru yang dimaksud.4 Motifnya beragam: sebagian rawi melakukannya karena gurunya lebih muda usianya, atau karena ingin terlihat memiliki banyak guru dengan menyebut nama yang sama dengan cara berbeda-beda.
Karena tidak ada masalah pada ittishal sanad, tadlis asy-syuyukh dianggap lebih ringan dibanding tadlis al-isnad dan tadlis at-taswiyah - tapi tetap tercela karena menyulitkan proses verifikasi riwayat oleh orang lain.
Kelima: Bagaimana Ulama Memperlakukan Riwayat Mudallis
Ulama membagi para mudallis (pelaku tadlis) dalam beberapa tingkatan, tergantung seberapa sering mereka melakukannya dan dari siapa saja. Riwayat seorang mudallis yang memakai kata ambigu seperti "'an" umumnya tidak diterima kecuali ia menyatakan secara eksplisit mendengar langsung (misalnya dengan kata "sami'tu" atau "haddatsana"), sementara riwayat yang sudah jelas dari jalur lain benar-benar bersambung tetap bisa diterima.5 Inilah kenapa mengetahui daftar rawi yang dikenal sebagai mudallis, dan tingkatan tadlisnya masing-masing, menjadi salah satu cabang penting dalam ilmu rijalul hadits.
Bab selanjutnya membahas cacat lain yang berbeda karakternya dari tadlis: asy-syadz - riwayat dari rawi tsiqah yang menyelisihi periwayatan yang lebih kuat.
Catatan & Referensi
Definisi at-tadlis secara umum, termasuk perbedaan kata penghubung "'an" dari kata tegas seperti "haddatsana", dirumuskan Ibnu Shalah dalam Muqaddimah-nya dan diulang As-Sakhawi dalam Fathul Mughits.
↩Definisi tadlis al-isnad sebagai bentuk tadlis paling umum dijelaskan panjang lebar oleh As-Sakhawi dalam Fathul Mughits, mengikuti rumusan Ibnu Shalah.
↩Definisi tadlis at-taswiyah sebagai bentuk tadlis paling berat, karena membuang rawi lemah di tengah sanad sehingga sanad terlihat seluruhnya tsiqah, dijelaskan As-Sakhawi dalam Fathul Mughits.
↩Definisi tadlis asy-syuyukh sebagai penyamaran identitas guru tanpa masalah pada ittishal sanad dijelaskan Ibnu Shalah dan As-Sakhawi.
↩Kaidah penerimaan riwayat mudallis - hanya diterima jika ada pernyataan eksplisit mendengar langsung - adalah rumusan baku ilmu musthalah hadits yang dinukil luas, termasuk oleh Ibnu Hajar al-'Asqalani dalam kitabnya yang khusus membahas para mudallis, Ta'rif Ahlit Taqdis.
↩