إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الْأُولَى: إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
"Sesungguhnya di antara perkataan kenabian terdahulu yang masih diketahui manusia adalah: jika kamu tidak punya rasa malu, berbuatlah sesukamu." (HR. Al-Bukhari, dari Abu Mas'ud 'Uqbah bin 'Amr Al-Anshari radhiyallahu 'anhu, sebagaimana dicantumkan Imam An-Nawawi dalam Al-Arbain An-Nawawiyah, hadits kedua puluh)1
Hadits kedua puluh Arbain Nawawi ini menutup rangkaian sepuluh hadits sebelumnya (hadits kesebelas hingga kedua puluh, yang secara umum banyak membicarakan adab dan akhlak) dengan satu kalimat yang disebut Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sendiri sebagai warisan dari para nabi terdahulu: pentingnya rasa malu (haya) sebagai pengendali perilaku manusia.
Pertama: Redaksi Hadits dan Catatan tentang Status Periwayatannya
Dibandingkan dengan data hadits yang sudah diverifikasi di Ngaji Sanad, redaksi yang dicantumkan Imam An-Nawawi di atas cocok kata demi kata dengan riwayat berikut:
إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الْأُولَى إِذَا لَمْ تَسْتَحِي فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
"Sesungguhnya di antara perkataan kenabian terdahulu yang diperoleh manusia adalah: jika kamu tidak mempunyai rasa malu, maka berbuatlah sesukamu." (HR. Bukhari, Kitab Adab, bab Jika engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu, no. 6120, dari Abu Mas'ud radhiyallahu 'anhu)2
Ada satu catatan penting yang perlu jujur disampaikan: sebagian ulama hadits, termasuk Imam Al-Bukhari sendiri, Abu Zur'ah, dan Ad-Daruquthni, menyebut hadits ini lebih tepat dinilai sebagai perkataan Abu Mas'ud radhiyallahu 'anhu sendiri (mauquf) ketimbang sabda langsung Nabi shallallahu 'alaihi wasallam (marfu'), meskipun riwayat yang tercatat dalam Shahih al-Bukhari menampilkannya sebagai sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Perbedaan penilaian semacam ini adalah hal yang lazim dalam ilmu hadits ketika sebuah riwayat memiliki beberapa jalur dengan status berbeda-beda, dan tidak mengurangi kedudukan hadits ini sebagai riwayat yang tercatat sahih dalam kitab hadits paling otoritatif tersebut.
Kedua: "Perkataan Kenabian Terdahulu" - Nilai Universal Lintas Syariat
Frasa kalaamin nubuwwatil-uula ("perkataan kenabian terdahulu") menunjukkan bahwa rasa malu bukan nilai yang baru diperkenalkan dalam syariat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, melainkan nilai universal yang sudah diajarkan para nabi sebelumnya dan tetap diakui kebenarannya lintas zaman, sampai tetap diucapkan dan diketahui manusia meski syariat-syariat sebelumnya sudah berganti. Ini menegaskan bahwa haya bukan sekadar norma sosial atau budaya tertentu, melainkan fitrah kebaikan yang diakui oleh setiap risalah kenabian sebagai fondasi akhlak manusia.
Ketiga: Dua Cara Memahami "Jika Tidak Malu, Berbuatlah Sesukamu"
Kalimat inti hadits ini, idzaa lam tastahi fashna' maa syi'ta, dipahami ulama dengan dua penafsiran yang saling melengkapi. Penafsiran pertama memandangnya sebagai kabar (berita), bukan perintah: rasa malu adalah penghalang alami dari perbuatan buruk, maka orang yang benar-benar kehilangan rasa malu pada akhirnya akan berbuat sesuka hatinya tanpa kendali, karena penghalang satu-satunya sudah hilang darinya. Penafsiran kedua memandangnya sebagai ancaman (tahdid), semakna dengan firman Allah:
Dalam penafsiran kedua ini, kalimat "berbuatlah sesukamu" bukan izin, melainkan peringatan keras: siapa yang sudah tidak punya rasa malu, silakan saja berbuat apa pun yang ia mau, tetapi ia harus siap menanggung akibat dan pertanggungjawabannya di hadapan Allah kelak. Kedua penafsiran ini sama-sama menunjukkan betapa sentralnya kedudukan rasa malu sebagai kendali moral seorang manusia - tanpanya, seseorang kehilangan rem alami dari perbuatan tercela.
Keempat: Dua Jenis Rasa Malu - Bawaan dan yang Diupayakan
Ulama membagi rasa malu menjadi dua jenis: pertama, malu yang bersifat fitri (bawaan/naluriah) - sebagian orang memang secara tabiat lebih pemalu dibanding yang lain, dan jenis malu ini termasuk yang paling murni dan terpuji karena datang tanpa dibuat-buat. Kedua, malu yang muktasab (diupayakan) - tumbuh dari pengetahuan dan makrifat seseorang terhadap keagungan Allah, kedekatan-Nya, dan pengawasan-Nya yang tidak pernah lepas dari hamba-Nya. Semakin seseorang mengenal Allah, semakin ia merasa malu untuk bermaksiat di hadapan-Nya - jenis malu inilah yang bisa dipupuk dan ditingkatkan lewat ibadah, dzikir, dan mempelajari ilmu agama, berbeda dari malu bawaan yang kadarnya berbeda-beda pada tiap orang sejak lahir.
Kelima: Batas Rasa Malu yang Terpuji
Meski hadits ini memuji rasa malu setinggi-tingginya, penting dipahami bahwa tidak semua bentuk "malu" adalah terpuji dalam syariat. Malu yang menghalangi seseorang menunaikan kewajiban - misalnya malu bertanya tentang hukum agama, malu menyampaikan kebenaran karena takut dicap kaku, atau malu menegur kemungkaran karena mempertahankan hubungan baik semata - bukan termasuk haya yang dipuji Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam hadits ini, melainkan lebih dekat pada sifat lemah atau pengecut yang menyamar sebagai rasa malu. Haya yang terpuji adalah yang mencegah seseorang dari perbuatan tercela dan pelanggaran terhadap hak Allah maupun hak sesama manusia, bukan yang justru menghalanginya dari kewajiban.
Keenam: Malu kepada Allah dengan Sebenar-benarnya Malu
Bila hadits kedua puluh Arbain Nawawi berbicara tentang malu secara umum, sebuah riwayat lain menjelaskan lebih spesifik apa yang dimaksud dengan malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya:
Riwayat ini memperluas pemahaman tentang haya - bukan sekadar rasa segan atau canggung secara sosial, melainkan kesadaran menyeluruh yang mencakup menjaga pikiran dan panca indera dari yang haram, menjaga perut dari makanan yang tidak halal serta menahan syahwat, hingga senantiasa mengingat kematian sebagai pengingat agar tidak terlena dengan gemerlap dunia.
Ketujuh: Malu sebagai Bagian dari Iman
Kedudukan tinggi rasa malu dalam Islam juga ditegaskan lewat hadits lain yang menyebutnya sebagai salah satu cabang keimanan:
Hadits ini menutup rangkaian sepuluh hadits (kesebelas sampai kedua puluh) yang banyak berbicara tentang adab, akhlak, dan hubungan sosial dalam Arbain Nawawi - mulai dari meninggalkan yang tidak bermanfaat, mencintai saudara seperti mencintai diri sendiri, menjaga lisan dan memuliakan tetangga serta tamu, hingga menahan amarah dan berakhlak baik. Rasa malu menjadi penutup yang tepat karena ia adalah akar yang mendasari hampir seluruh adab tersebut - seseorang yang punya rasa malu kepada Allah dan sesama manusia akan secara alami terdorong menjaga lisannya, menahan amarahnya, dan berbuat baik kepada orang di sekitarnya, sebagaimana sudah dibahas pada hadits-hadits sebelumnya dalam koleksi ini.
Catatan & Referensi
HR. Al-Bukhari, dari Abu Mas'ud 'Uqbah bin 'Amr Al-Anshari radhiyallahu 'anhu - matan sebagaimana dicantumkan Imam An-Nawawi dalam Al-Arbain An-Nawawiyah (dicek langsung ke naskah Arab di ar.wikisource.org), cocok kata demi kata dengan Shahih al-Bukhari no. 6120 - lihat catatan 2 di bawah, termasuk catatan tentang perbedaan penilaian ulama atas status periwayatannya (mauquf/marfu').
↩HR. Bukhari no. 6120 (Kitab Adab, bab Jika engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu), dari Abu Mas'ud radhiyallahu 'anhu - teks Arab dan terjemahan dikutip dari data hadits primer Ngaji Sanad sendiri (hadith-api/books/bukhari.json). Riwayat paralel dengan redaksi sedikit berbeda (tanpa kata "al-uula") juga tercatat di Bukhari no. 3483 dan 3484 - dicek dari data primer sendiri, tidak dikutip literal di badan artikel karena redaksi no. 6120 paling persis cocok dengan matan Imam An-Nawawi. Catatan tentang penilaian sejumlah ulama (Al-Bukhari sendiri, Abu Zur'ah, Ad-Daruquthni) bahwa riwayat ini lebih tepat mauquf (perkataan Abu Mas'ud) daripada marfu' (sabda Nabi) diperoleh dari riset lewat sumber sekunder berbahasa Indonesia, bukan diverifikasi langsung ke kitab-kitab ilal/jarh wat-ta'dil klasik dalam sesi penulisan ini - dicantumkan dengan hedge tersebut. Lihat teks lengkap di halaman hadits ini.
↩QS. Fushshilat: 40 - teks Arab dan terjemahan dicek lewat API sumber sekunder berbahasa Indonesia (equran.id).
↩HR. Tirmidzi no. 2458 (Kitab Sifat Hari Kiamat, Ar-Riqaq, dan Al-Wara', bab Penjelasan tentang makna malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya rasa malu), dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu - teks Arab dikutip dari data hadits primer Ngaji Sanad sendiri (hadith-api/books/tirmidzi.json), kolom terjemahan Indonesia pada entri ini kosong di data primer sehingga terjemahan disusun mandiri dari teks Arabnya. Dinilai gharib oleh Imam At-Tirmidzi sendiri di akhir riwayat ("hanya dikenal dari jalur ini") - dicantumkan apa adanya, bukan diklaim shahih/hasan tanpa dasar. Lihat teks Arab lengkap di halaman hadits ini.
↩HR. Bukhari no. 9 (Kitab Iman, bab Cabang-cabang iman), dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu - teks Arab dan terjemahan dikutip dari data hadits primer Ngaji Sanad sendiri. Lihat teks lengkap di halaman hadits ini.
↩