Arbain Nawawi 18: Takwa, Menghapus Keburukan dengan Kebaikan, dan Akhlak Mulia

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
"Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada. Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya ia akan menghapusnya. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik." (HR. Tirmidzi, hasan shahih, dari Abu Dzar Jundub bin Junadah dan Abu Abdurrahman Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhuma, sebagaimana dicantumkan Imam An-Nawawi dalam Al-Arbain An-Nawawiyah, hadits kedelapan belas)1

Hadits kedelapan belas Arbain Nawawi ini merangkum tiga wasiat sekaligus dalam tiga kalimat pendek: hubungan seorang hamba dengan Allah (takwa), cara menutup dosa yang sudah terlanjur dilakukan (kebaikan menghapus keburukan), dan hubungan dengan sesama manusia (akhlak yang baik). Tiga cakupan ini - kepada Allah, kepada diri sendiri, kepada sesama - membuat hadits ini sering disebut sebagai salah satu rangkuman paling padat dari keseluruhan ajaran Islam.

Pertama: Redaksi Hadits dan Dua Jalur Periwayatannya

Dibandingkan dengan data hadits yang sudah diverifikasi di Ngaji Sanad, matan yang dicantumkan Imam An-Nawawi di atas cocok kata demi kata dengan riwayat berikut:

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
"Bertakwalah kamu kepada Allah di mana saja kamu berada dan ikutilah setiap keburukan dengan kebaikan yang dapat menghapuskannya, serta pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik." (HR. Tirmidzi no. 1987, Kitab Kebajikan dan Silaturahmi, bab Bergaul dengan sesama manusia, dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, dinilai hasan shahih oleh Imam At-Tirmidzi sendiri)2

Ada hal menarik dalam sanad riwayat ini yang jarang diperhatikan pembaca terjemahan Arbain Nawawi: Imam An-Nawawi mencantumkan dua nama sahabat sekaligus sebagai perawi - Abu Dzar dan Mu'adz bin Jabal - padahal dalam data primer Ngaji Sanad, riwayat Tirmidzi no. 1987 ini sebenarnya mencatat dua jalur sanad terpisah untuk matan yang sama persis: satu jalur dari Abu Dzar, satu jalur lain dari Mu'adz bin Jabal, keduanya lewat sanad yang sama dari Habib bin Abu Tsabit dan Maimun bin Abu Syabib. Imam At-Tirmidzi sendiri menutup riwayat ini dengan menyatakan bahwa jalur Abu Dzar-lah yang paling shahih di antara keduanya - sebuah catatan kejujuran periwayatan yang tetap dipertahankan Imam An-Nawawi dengan mencantumkan kedua nama perawi tersebut sekaligus, alih-alih hanya menampilkan satu jalur yang dianggap terkuat saja.

Kedua: Takwa di Mana Pun Berada, Bukan Hanya di Depan Orang Lain

Frasa haitsuma kunta - "di mana pun kamu berada" - menegaskan bahwa takwa yang diminta bukan sekadar penampilan yang baik di hadapan orang lain, melainkan kesadaran yang sama besarnya ketika sendirian maupun ketika di keramaian. Kesadaran ini dibangun di atas keyakinan bahwa Allah senantiasa mengetahui keadaan seorang hamba, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an:

مَا يَكُونُ مِن نَّجْوَىٰ ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَىٰ مِن ذَٰلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا
"Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, kecuali Dialah yang keempatnya, dan tidak ada lima orang, kecuali Dialah yang keenamnya. Tidak kurang dari itu atau lebih banyak, kecuali Dia bersama mereka di mana pun mereka berada." (QS. Al-Mujadilah: 7)3

Takwa dalam pengertian yang menyeluruh berarti menjalankan segala yang diwajibkan dan menjauhi segala yang diharamkan, secara konsisten - baik saat diawasi manusia maupun tidak. Inilah sebabnya wasiat ini didahulukan sebelum dua wasiat lain dalam hadits ini: takwa kepada Allah adalah fondasi, sedangkan dua wasiat berikutnya adalah konsekuensi praktisnya dalam kehidupan sehari-hari.

Ketiga: Kebaikan yang Menghapus Keburukan

Wasiat kedua, atbi'is sayyi'atal hasanata tamhuha ("iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya ia akan menghapusnya"), memberi jalan keluar bagi manusia yang tidak luput dari kesalahan. Prinsip ini berakar dari firman Allah:

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ
"Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapuskan kesalahan-kesalahan." (QS. Hud: 114)4

Ulama menjelaskan bahwa kaidah ini berlaku pada dosa-dosa kecil (shaghair), yang bisa terhapus dengan amal-amal saleh - shalat, sedekah, dzikir, dan kebaikan lainnya. Adapun dosa besar (kaba-ir) tetap memerlukan taubat yang sungguh-sungguh, bukan sekadar tertutup oleh amal kebaikan biasa. Selain itu, kebaikan yang berkaitan dengan hak Allah (misalnya meninggalkan shalat) bisa terhapus dengan kebaikan yang berkaitan dengan hak Allah pula, tetapi keburukan yang menzalimi hak sesama manusia - seperti ghibah, mengambil hak orang lain, atau menyakiti seseorang - tidak cukup dihapus dengan amal saleh semata, melainkan memerlukan penyelesaian langsung dengan orang yang dizalimi, misalnya dengan meminta kehalalan darinya.

Keempat: Bergaul dengan Manusia atas Dasar Akhlak yang Baik

Wasiat ketiga, khaaliqin naasa bikhuluqin hasan ("pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik"), menegaskan bahwa hubungan baik dengan Allah lewat takwa harus berbuah pada hubungan baik dengan sesama manusia - keduanya tidak bisa dipisahkan. Betapa besar bobot akhlak yang baik ini ditegaskan dalam hadits lain:

مَا مِنْ شَيْءٍ يُوضَعُ فِي الْمِيزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ، وَإِنَّ صَاحِبَ حُسْنِ الْخُلُقِ لَيَبْلُغُ بِهِ دَرَجَةَ صَاحِبِ الصَّوْمِ وَالصَّلَاةِ
"Tidak ada sesuatu pun yang diletakkan dalam timbangan (amal) yang lebih berat daripada akhlak yang baik, dan sesungguhnya pemilik akhlak yang baik bisa mencapai derajat orang yang rajin berpuasa dan shalat." (HR. Tirmidzi no. 2003, Kitab Kebajikan dan Silaturahmi, bab Akhlak yang baik, dari Abu Darda radhiyallahu 'anhu, dinilai gharib dari jalur ini oleh Imam At-Tirmidzi sendiri)5

Akhlak yang baik yang dimaksud mencakup kelapangan wajah ketika bertemu orang lain, sabar menghadapi gangguan, memaafkan kesalahan, murah hati, dan menahan diri dari menyakiti - baik lewat lisan maupun perbuatan. Sebagaimana sudah dibahas pada hadits keenam belas Arbain Nawawi tentang larangan marah, akhlak yang baik ini bukan bakat yang hanya dimiliki sebagian orang, melainkan buah dari latihan menahan diri yang terus-menerus.

Kelima: Kenapa Urutan Ketiga Wasiat Ini Bukan Kebetulan

Susunan tiga wasiat dalam hadits ini - takwa, lalu menghapus keburukan dengan kebaikan, lalu akhlak kepada manusia - mengikuti tahapan yang logis dalam perjalanan seorang hamba menuju kebaikan. Takwa didahulukan karena ia adalah fondasi: tanpa kesadaran akan pengawasan Allah, dua wasiat berikutnya kehilangan pijakannya. Wasiat kedua diletakkan di tengah karena manusia, sekuat apa pun ketakwaannya, tetap tidak luput dari kesalahan - hadits ini tidak menuntut kesempurnaan mutlak, melainkan mengajarkan cara bangkit setelah jatuh. Baru kemudian wasiat ketiga, akhlak kepada sesama, ditempatkan sebagai buah akhir dari dua wasiat sebelumnya: seseorang yang bertakwa dan senantiasa memperbaiki dirinya sendiri akan secara alami lebih mudah berlapang dada dan berakhlak baik kepada orang di sekitarnya, karena hatinya sudah terlatih untuk introspeksi, bukan menyalahkan pihak lain.

Keenam: Tiga Wasiat yang Saling Menopang

Ketiga wasiat dalam hadits ini bukan tiga nasihat yang berdiri sendiri-sendiri, melainkan satu kesatuan yang saling menopang. Takwa yang benar akan mendorong seseorang untuk segera bertaubat dan memperbanyak kebaikan begitu menyadari kesalahannya, dan kesadaran akan pengawasan Allah yang sama itu jugalah yang mendorongnya berakhlak baik kepada sesama manusia - karena ia tahu bahwa memperlakukan orang lain dengan buruk juga bagian dari hal yang akan dihisab Allah kelak. Hadits ini menjadi salah satu bukti bahwa dalam Islam, ibadah ritual (takwa), perbaikan diri (menghapus dosa dengan kebaikan), dan interaksi sosial (akhlak) adalah satu paket yang tidak terpisahkan, bukan tiga ranah yang bisa ditekuni salah satunya saja sambil mengabaikan yang lain.

Catatan & Referensi

  1. HR. Tirmidzi, hasan shahih, dari Abu Dzar Jundub bin Junadah dan Abu Abdurrahman Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhuma - matan sebagaimana dicantumkan Imam An-Nawawi dalam Al-Arbain An-Nawawiyah (dicek langsung ke naskah Arab di ar.wikisource.org), cocok kata demi kata dengan Jami' At-Tirmidzi no. 1987 - lihat catatan 2 di bawah untuk penjelasan dua jalur sanadnya.

  2. HR. Tirmidzi no. 1987 (Kitab Kebajikan dan Silaturahmi, bab Bergaul dengan sesama manusia), dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, dengan jalur sanad kedua dari Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu tercatat pada entri yang sama - teks Arab dan terjemahan dikutip dari data hadits primer Ngaji Sanad sendiri (hadith-api/books/tirmidzi.json), termasuk penilaian Imam At-Tirmidzi sendiri di akhir riwayat bahwa jalur Abu Dzar lebih shahih dibanding jalur Mu'adz bin Jabal. Lihat teks lengkap di halaman hadits ini.

  3. QS. Al-Mujadilah: 7 - teks Arab dan terjemahan dicek lewat API sumber sekunder berbahasa Indonesia (equran.id).

  4. QS. Hud: 114 - teks Arab dan terjemahan dicek lewat API sumber sekunder berbahasa Indonesia (equran.id).

  5. HR. Tirmidzi no. 2003 (Kitab Kebajikan dan Silaturahmi, bab Akhlak yang baik), dari Abu Darda radhiyallahu 'anhu - teks Arab dan terjemahan dikutip dari data hadits primer Ngaji Sanad sendiri, termasuk penilaian Imam At-Tirmidzi sendiri (gharib dari jalur ini) di akhir riwayat - dicantumkan apa adanya, bukan diklaim shahih/hasan tanpa dasar. Lihat teks lengkap di halaman hadits ini.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email