Syadz, Munkar, dan Matruk: Kenapa Sebuah Hadits Bisa Ditolak

Salah satu syarat hadits shahih yang dibahas di Apa Itu Hadits Shahih? adalah "tidak syadz" — riwayatnya tidak menyelisihi riwayat lain yang lebih kuat. Tapi "menyelisihi riwayat lebih kuat" sendiri terbagi jadi dua istilah teknis yang berbeda, tergantung siapa yang menyelisihi: syadz dan munkar. Artikel ini membedah keduanya, plus satu istilah lagi yang levelnya lebih rendah: matruk.

Pertama: Syadz — Rawi Tsiqah Menyelisihi yang Lebih Tsiqah

Syadz adalah riwayat yang diriwayatkan seorang rawi tsiqah (terpercaya, memenuhi syarat 'adalah dan dhabt), tapi isinya menyelisihi riwayat rawi lain yang lebih tsiqah atau lebih banyak jumlahnya.1 Perhatikan poin pentingnya: perawi hadits syadz sendiri sebenarnya layak dipercaya. Masalahnya bukan pada kredibilitasnya, tapi pada fakta bahwa riwayatnya bertentangan dengan riwayat yang lebih kuat kedudukannya.

Kedua: Munkar — Rawi Dha'if Menyelisihi yang Tsiqah

Munkar adalah riwayat yang diriwayatkan seorang rawi dha'if, dan isinya menyelisihi riwayat rawi yang tsiqah.2 Inilah pembeda utama antara syadz dan munkar: keduanya sama-sama kasus "riwayat yang menyelisihi riwayat lebih kuat", tapi syadz pelakunya rawi yang tsiqah (diterima), sementara munkar pelakunya rawi yang dha'if (ditolak). Karena itu munkar dianggap lebih berat cacatnya dibanding syadz.

Ketiga: Mahfuzh dan Ma'ruf — Lawan dari Syadz dan Munkar

Setiap kali ada riwayat syadz, pasti ada riwayat yang lebih kuat yang diselisihinya — riwayat yang lebih kuat inilah yang disebut mahfuzh. Begitu juga dengan munkar: riwayat tsiqah yang diselisihi oleh riwayat munkar disebut ma'ruf. Dua pasangan istilah ini (syadz-mahfuzh dan munkar-ma'ruf) selalu berjalan berdampingan — menyebut sebuah riwayat syadz berarti secara otomatis mengakui ada riwayat mahfuzh yang menjadi rujukan pembandingnya, begitu juga sebaliknya.

Keempat: Matruk — Riwayat dari Rawi yang Dituduh Berdusta

Matruk secara bahasa berarti "ditinggalkan". Secara istilah, matruk adalah hadits yang diriwayatkan oleh seorang rawi yang dituduh berdusta dalam periwayatan hadits (meski tidak sampai terbukti memalsukan hadits secara langsung), atau rawi yang dikenal sering melakukan kesalahan fatal dan menyendiri dalam periwayatannya (tafarrud) tanpa ada penguat sama sekali.3 Levelnya berada tepat di atas maudhu' (hadits palsu) — kalau maudhu' sudah pasti kebohongan, matruk adalah riwayat yang sangat dicurigai berasal dari kebohongan tapi belum bisa dipastikan sepenuhnya.

Kelima: Kenapa Perbedaan Status Rawi Ini Menentukan Segalanya

Ketiga istilah di atas menunjukkan satu pola yang sama: derajat kecacatan sebuah riwayat yang menyelisihi riwayat lain sangat bergantung pada SIAPA yang meriwayatkannya, bukan cuma soal ISI riwayatnya menyimpang atau tidak. Rawi tsiqah yang menyelisihi (syadz) masih dianggap kesalahan yang bisa dimaklumi dalam kadar tertentu; rawi dha'if yang menyelisihi (munkar) jauh lebih serius; dan rawi yang reputasinya sudah tercoreng tuduhan dusta (matruk) nyaris tidak punya ruang untuk dipercaya kembali. Untuk memahami tingkatan kecacatan yang paling parah — hadits yang sepenuhnya dikarang dan bukan sekadar menyelisihi riwayat lain — baca Hadits Maudhu': Definisi, Motif Pemalsuan, dan Cara Ulama Mendeteksinya.

Catatan & Referensi

  1. Definisi hadits syadz sebagai penyelisihan rawi tsiqah terhadap rawi yang lebih tsiqah atau lebih banyak jumlahnya, rumusan baku ilmu musthalah hadits.

  2. Definisi hadits munkar sebagai penyelisihan rawi dha'if terhadap rawi tsiqah, dan pembeda utamanya dari syadz (status rawi yang menyelisihi), rumusan baku ilmu musthalah hadits.

  3. Definisi hadits matruk sebagai riwayat dari rawi yang dituduh berdusta atau sering melakukan kesalahan fatal tanpa penguat, dinukil dari rumusan baku ilmu musthalah hadits.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email