Al-Baiquniyyah Bab 11: Muttafiq-Muftariq, Mu'talif-Mukhtalif, Munkar, Matruk, Maudhu'

Bab ini membawa kita ke titik paling kritis dalam seluruh nazham: dari sekadar nama-nama perawi yang mirip, sampai ke tiga tingkatan hadits paling lemah - munkar, matruk, dan puncaknya, hadits yang benar-benar dipalsukan (maudhu').

Pertama: Muttafiq dan Muftariq

مُتَّفِقٌ لَفْظاً وَخَطاً مُتَّفِقُ وَضِدُّهُ فِيمَا ذَكَرْنَا المُفْتَرِقْ

Muttafiqun lafzhan wa khaththan muttafiq, wa dhidduhu fiimaa dzakarnal muftariq

"Muttafiq adalah (nama-nama perawi yang) sama dalam lafal dan tulisannya, sedangkan kebalikannya disebut muftariq (berbeda)."

Muttafiq adalah istilah untuk dua perawi (atau lebih) berbeda yang kebetulan memiliki nama - baik cara membaca maupun cara menulisnya - persis sama. Misalnya, ada beberapa perawi berbeda dalam sejarah hadits yang sama-sama bernama "Khalaf bin Khalifah" atau nama-nama lain yang identik.1 Kebalikannya, muftariq, adalah nama-nama yang tampak mirip secara tulisan tapi sebenarnya menunjuk orang yang berbeda.

Kedua: Mu'talif dan Mukhtalif

مُؤتَلِفٌ مُتَّفِقُ الخَطِّ فَقَطْ وَضِدُّهُ مُخْتَلِفٌ فَاخْشَ الغَلَطْ

Mu'talifun muttafiqul khatthi faqath, wa dhidduhu mukhtalifun fakhsyal ghalath

"Mu'talif adalah (nama-nama yang) sama hanya dalam tulisannya (namun berbeda cara bacanya), sedangkan kebalikannya disebut mukhtalif - maka waspadalah terhadap kekeliruan."

Mu'talif dan mukhtalif menyoroti jebakan yang lebih halus lagi: dua nama yang tertulis persis sama dalam huruf Arab (yang aslinya tanpa harakat/tanda baca), tapi cara membacanya berbeda - sehingga bisa merujuk ke dua orang yang sama sekali berbeda. Peringatan tegas di akhir bait ini ("fakhsyal ghalath" - waspadalah terhadap kekeliruan) menunjukkan betapa seriusnya risiko salah mengenali seorang perawi hanya karena kemiripan tulisan namanya - kesalahan semacam ini bisa membuat penilaian sebuah sanad melenceng jauh dari yang seharusnya.

Ketiga: Hadits Munkar

وَالمُنْكَرُ الْفَرْدُ بِهِ رَاو غَدَا تَعْدِيلُهُ لا يَحْمِلُ التَّفَرُّدَا

Wal munkarul fardu bihi raawin ghadaa, ta'diiluhu laa yahmilut-tafarrudaa

"Hadits munkar adalah hadits yang diriwayatkan sendirian oleh seorang perawi yang ta'dilnya (predikat keadilannya) tidak cukup kuat untuk menanggung periwayatan sendirian (tanpa penguat)."

Munkar mirip dengan fard/gharib yang sudah dibahas di bab 9 - sama-sama diriwayatkan seorang diri - tapi bedanya krusial: perawi tunggal pada hadits munkar tidak cukup kuat kredibilitasnya untuk dipercaya sendirian, tanpa dukungan riwayat lain. Kalau perawi yang meriwayatkan sendirian itu tsiqah, riwayatnya masih bisa diterima sebagai fard/gharib. Tapi kalau kredibilitasnya lemah, riwayat tunggalnya itu justru ditolak sebagai munkar.

Keempat: Hadits Matruk

مَتْرُوكُهُ مَا وَاحِدٌ بِهِ انْفَرَدْ وَأَجْمَعُوا لِضَعْفِهِ فَهْوَ كَرَدّْ

Matruukuhu maa waahidun bihinfarad, wa ajma'uu lidha'fihii fahuwa karadd

"Hadits matruk adalah hadits yang diriwayatkan sendirian oleh seorang (perawi) yang telah disepakati kelemahannya (oleh para ulama), sehingga kedudukannya seperti hadits yang tertolak."

Matruk (secara bahasa berarti "ditinggalkan") satu tingkat lebih parah dari munkar: bukan sekadar lemah kredibilitasnya, tapi perawinya sudah disepakati para kritikus hadits (ahli jarh wa ta'dil) sebagai perawi yang layak ditinggalkan riwayatnya sama sekali - biasanya karena dikenal sering berdusta dalam percakapan sehari-hari (meski tidak terbukti berdusta secara khusus atas nama Nabi), atau karena kesalahan yang berulang dan mencolok dalam periwayatannya.

Kelima: Hadits Maudhu' - Puncak Kelemahan

وَالكَذِبُ المُخْتَلَقُ المَصْنُوعُ عَلَى النَّبِي فَذَلِكَ المَوْضُوعُ

Wal kadzibul mukhtalaqul mashnuu'u, 'alan-nabiyyi fadzaalikal maudhuu'

"Dan kedustaan yang direka-reka serta dibuat-buat, lalu disandarkan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, itulah yang disebut hadits maudhu' (hadits palsu)."

Inilah tingkatan paling bawah, di luar seluruh spektrum hadits dha'if yang sudah dibahas sejak bab 3: bukan lagi soal sanad yang lemah atau terputus, tapi kalimat yang sepenuhnya dikarang-karang lalu sengaja disandarkan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, padahal beliau tidak pernah mengucapkannya. Nabi sendiri memberi ancaman paling keras untuk perbuatan ini, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan lewat puluhan jalur sahabat berbeda (hadits mutawatir):

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
"Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka." (Hadits mutawatir, di antaranya HR. Al-Bukhari no. 1229 dan no. 106, Muslim no. 1 dalam Muqaddimah, diriwayatkan lewat lebih dari 60 jalur sahabat berbeda)

Dua contoh nyata kalimat yang beredar luas di masyarakat sebagai "hadits" - padahal tergolong maudhu', tidak pernah diucapkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam - adalah "utlubul 'ilma minal mahdi ilal lahdi" (tuntutlah ilmu dari buaian sampai liang lahat) dan "utlubul 'ilma walau bish-shin" (tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina). Keduanya sering dikutip dengan niat baik untuk memotivasi menuntut ilmu, tapi tetap tidak boleh disandarkan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai sabda beliau - inilah persis contoh nyata kenapa seluruh rangkaian istilah dalam nazham ini, dari shahih sampai maudhu', harus benar-benar dikuasai: supaya kita tidak ikut menyebarkan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah beliau ucapkan.

Pembahasan lebih menyeluruh soal ciri-ciri hadits maudhu' dan bagaimana ulama mendeteksinya bisa dibaca di artikel jenis-jenis hadits dha'if.

Baca lebih lengkap soal istilah ini di Hadits Maudhu': Mengenal Hadits Palsu.

Catatan & Referensi

  1. Contoh kasus muttafiq/muftariq dan mu'talif/mukhtalif banyak dihimpun dalam kitab-kitab khusus ilmu rijalul hadits, di antaranya Al-Mu'talif wal Mukhtalif karya Ad-Daraquthni - salah satu rujukan klasik yang secara khusus membahas jebakan kemiripan nama perawi ini.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email