Al-Baiquniyyah Bab 10: Mu'allal, Mudhtharib, Mudraj, dan Mudabbaj

Empat bait berikutnya membahas empat istilah yang sekilas terdengar mirip tapi menunjuk hal yang berbeda: cacat yang tersembunyi (mu'allal), riwayat yang simpang siur (mudhtharib), lafal yang tercampur ke dalam matan (mudraj), dan dua perawi sebaya yang saling meriwayatkan (mudabbaj).

Pertama: Hadits Mu'allal

وَمَا بِعِلَّةٍ غُمُوضٍ أَوْ خَفَا مُعَلَّلٌ عِنْدَهُمُ قَدْ عُرِفَا

Wa maa bi'illatin ghumuudhin au khafaa, mu'allalun 'indahumu qad 'urifaa

"Dan (hadits) yang memiliki 'illat yang samar atau tersembunyi, di sisi ulama (hadits) dikenal sebagai hadits mu'allal."

Kata kuncinya ada pada kata "samar" dan "tersembunyi". Hadits mu'allal secara zahir tampak memenuhi seluruh syarat hadits shahih - sanadnya bersambung, perawinya tsiqah - tapi setelah diteliti sangat mendalam oleh ahli 'ilal (spesialis cacat tersembunyi hadits), ternyata ada cacat yang tidak kasat mata: misalnya sebuah riwayat yang sebenarnya mursal tapi sanadnya "disambungkan" secara keliru oleh salah satu perawi, atau kekeliruan mengira dua riwayat berbeda sebagai satu riwayat yang sama.

Mendeteksi 'illat semacam ini butuh keahlian tingkat tinggi - menguasai seluruh jalur sebuah hadits, mengenal kebiasaan periwayatan tiap perawi, dan jeli membandingkan detail-detail kecil yang mudah terlewat. Karena itu, ilmu 'ilal al-hadits dianggap salah satu cabang paling rumit dalam musthalah hadits, biasanya baru dipelajari di jenjang yang lebih tinggi.1

Kedua: Hadits Mudhtharib

وَذو اخْتِلافِ سَنَدٍ أَوْ مَتْنِ مُضْطَرِبٌ عِنْدَ أُهَيْلِ الْفَنِّ

Wa dzul ikhtilaafi sanadin au matni, mudhtharibun 'inda uhailil fanni

"Dan (hadits) yang sanad atau matannya diriwayatkan secara simpang siur (berbeda-beda tanpa bisa dirajihkan), di sisi ahli (musthalah hadits) disebut mudhtharib."

Mudhtharib (dari akar kata "idhthirab" - kegoncangan/kekacauan) terjadi ketika sebuah hadits diriwayatkan dengan versi yang saling bertentangan - baik pada sanadnya (misalnya perawi yang sama kadang menyebut satu nama, kadang nama lain untuk posisi sanad yang sama) maupun pada matannya - dan tidak ada satu versi pun yang bisa dirajihkan (diunggulkan) atas versi lainnya. Kalau salah satu versi bisa dirajihkan sebagai yang paling kuat, hadits itu tidak lagi disebut mudhtharib - status "goncang" ini hanya berlaku kalau ketidakpastian itu benar-benar tidak bisa diselesaikan.

Ketiga: Hadits Mudraj

وَالمُدْرَجَاتُ في الحَدِيثِ مَا أَتَتْ مِنْ بَعْضِ أَلْفَاظِ الرُّواةِ اتَّصَلَتْ

Wal mudrajaatu fil hadiitsi maa atat, min ba'dhi alfaadhir-ruwaati ttashalat

"Hadits-hadits mudraj adalah (hadits) yang di dalamnya tersisipkan sebagian lafal perawi (yang tercampur menyatu dengan matan asli)."

Mudraj terjadi ketika seorang perawi menambahkan penjelasan, komentar, atau kesimpulan fiqihnya sendiri langsung setelah menyampaikan matan hadits - tanpa memberi jeda atau penanda yang jelas - sehingga pembaca/pendengar berikutnya sulit membedakan mana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang asli dan mana tambahan pribadi sang perawi. Biasanya sisipan ini tidak dimaksudkan untuk menipu - sang perawi hanya ingin menjelaskan konteks - tapi tetap berbahaya kalau kemudian generasi berikutnya menganggap seluruh kalimat itu sebagai sabda Nabi.

Keempat: Hadits Mudabbaj

وَمَا رَوَى كُلُّ قَرِينٍ عَنْ أَخِهْ مُدَبَّجٌ فَاعْرِفْهُ حَقاً وَانْتَخِهْ

Wa maa rawaa kullu qariinin 'an akhih, mudabbajun fa'rifhu haqqan wantakhih

"Dan apa yang diriwayatkan oleh dua orang sebaya, masing-masing dari yang lain (secara timbal balik), disebut mudabbaj - kenalilah ia dengan benar."

Berbeda dengan istilah-istilah sebelumnya yang membahas cacat, mudabbaj justru netral - sekadar penamaan untuk fenomena dua perawi sebaya (semasa, se-thabaqah) yang saling meriwayatkan hadits satu sama lain: A meriwayatkan dari B, dan di kesempatan lain B juga meriwayatkan dari A. Mengenali pola mudabbaj berguna untuk memetakan hubungan antar-perawi dalam satu generasi, sesuatu yang sangat membantu saat menelusuri jaringan sanad secara menyeluruh.

Kelima: Empat Cacat, Satu Kesamaan

Mu'allal, mudhtharib, dan mudraj - tiga dari empat istilah di bab ini - punya kesamaan yang penting dicatat: ketiganya adalah jenis kelemahan yang tidak kasat mata pada pandangan pertama. Berbeda dengan sanad yang jelas-jelas terputus (munqathi', mu'dhal), cacat semacam ini baru terungkap lewat penelitian mendalam dan perbandingan lintas jalur riwayat. Inilah alasan kenapa ilmu musthalah hadits tidak pernah berhenti pada definisi istilah semata - ia menuntut ketekunan meneliti setiap riwayat sampai ke detail yang paling halus.

Baca lebih lengkap soal istilah ini di Hadits Mu'allal: Cacat Tersembunyi ('Illat).

Catatan & Referensi

  1. Ilmu 'ilal al-hadits sebagai cabang tersendiri yang menuntut penguasaan seluruh jalur sebuah riwayat dijelaskan Ibnu Shalah dalam Muqaddimah-nya sebagai salah satu cabang musthalah hadits paling rumit, yang hanya benar-benar dikuasai segelintir ulama hafizh di setiap generasi.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email