Kalau kamu baru mulai belajar ilmu hadits (musthalah hadits), hampir pasti gurumu akan menyuruhmu menghafal satu nazham kecil dulu sebelum masuk ke kitab yang lebih tebal: Al-Manzhumah al-Baiquniyyah. Nazham ini cuma 34 bait, ditulis dalam bahar rajaz (salah satu wazan syair Arab yang paling mudah dihafal), tapi di dalamnya terangkum 32 istilah dasar yang jadi kosakata wajib siapa pun yang ingin membaca kitab hadits secara serius - dari hadits shahih sampai hadits maudhu' (palsu).
Inilah kitab pertama dalam jenjang Pemula program Ulumul Hadits Berjenjang di Ngajisanad. Sebelum masuk ke bait-baitnya satu per satu di bab-bab berikutnya, bab pembuka ini akan membahas dua bait pertama - pembukaan nazham itu sendiri - sekaligus mengenal sosok di balik nazham yang sudah dipelajari lintas generasi santri ini.
Pertama: Siapa Penulis Al-Baiquniyyah?
Nazham ini disusun oleh seorang ulama bermazhab Syafi'i asal Damaskus. Namanya sendiri punya sedikit perbedaan riwayat di antara sumber-sumber biografis: sebagian besar sumber menyebutnya 'Umar bin Muhammad bin Futuh al-Baiquni, sementara sebagian sumber lain menyebut nama depannya "Thaha" alih-alih "Umar" - keduanya sama-sama disandarkan pada nasab "bin Muhammad bin Futuh al-Baiquni ad-Dimasyqi asy-Syafi'i".1 Beliau diperkirakan wafat sekitar tahun 1080 Hijriah, meski data pastinya tidak banyak tercatat dalam kitab-kitab tarajim (biografi ulama) yang masyhur - karena itu, informasi biografis di atas sengaja disampaikan dengan hati-hati, tidak dipastikan lebih detail dari itu.
Yang jauh lebih terdokumentasi justru karyanya sendiri. Nazham ini begitu ringkas dan sistematis sehingga bertahan jadi matn pemula paling populer di dunia musthalah hadits selama berabad-abad, dipelajari di hampir setiap pesantren dan majelis ta'lim yang mengajarkan ilmu hadits sejak awal.
Kedua: Bait Pembuka - Hamdalah dan Shalawat
Seperti hampir semua karya ulama klasik, Al-Baiquniyyah dibuka dengan pujian kepada Allah dan shalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam - bukan basa-basi, tapi adab menuntut ilmu yang diajarkan turun-temurun: ilmu agama dimulai dengan mengingat Pemberi ilmu itu sendiri.
أَبْدَأُ بِالحَمْدِ مُصَلِّياً على مُحَمَّدٍ خَيْرِ نَبيٍّ اُرْسِلا
Abda'u bil hamdi mushalliyan 'ala Muhammadin khairi nabiyyin ursila
"Aku memulai (nazham ini) dengan pujian (kepada Allah), seraya bershalawat atas Muhammad, sebaik-baik nabi yang diutus."
Satu bait ini sekaligus menegaskan siapa sumber tertinggi dari seluruh ilmu yang akan dibahas: hadits adalah perkataan, perbuatan, dan persetujuan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri. Ilmu musthalah hadits ada bukan untuk dipelajari demi dirinya sendiri, tapi sebagai alat untuk memastikan apa yang disandarkan kepada beliau benar-benar berasal dari beliau.
Ketiga: Bait Kedua - Peta Jalan 32 Istilah
وَذي منْ أقسامِ الحَديثِ عِدَّهْ وَكُلُّ وَاحِدٍ أَتَى وَحَدَّهْ
Wa dzi min aqsaamil hadiitsi 'iddah, wa kullu waahidin ataa wa haddah
"Dan ini (nazham) berisi sejumlah pembagian hadits, setiap satu (pembagian) datang lengkap dengan batasan/definisinya sendiri."
Di bait kedua inilah penyair menyampaikan "peta jalan" seluruh nazhamnya: setiap bait berikutnya akan memperkenalkan satu (atau beberapa) istilah, lengkap dengan hadd-nya - definisi/batasan yang membedakannya dari istilah lain. Metode ini yang membuat Al-Baiquniyyah begitu efektif sebagai matn pemula: bukan uraian panjang, tapi definisi padat yang mudah dihafal lalu diperluas penjelasannya oleh guru secara lisan (talaqqi).
Perlu dicatat satu hal supaya tidak keliru: dua bait pembuka ini tidak berisi definisi istilah-istilah dasar seperti sanad, matan, rawi, khabar, atau atsar. Al-Baiquniyyah langsung masuk ke pembagian kualitas hadits (shahih, hasan, dha'if, dan seterusnya) mulai bait ketiga - bukan mendefinisikan kosakata dasar itu terlebih dahulu. Kalau kamu butuh pengantar istilah-istilah dasar itu, baca dulu apa itu sanad dan perbedaan sanad, matan, dan rawi - dua artikel itu jadi bekal sebelum masuk ke bait ketiga di bab berikutnya.
Keempat: Kenapa Istilah-Istilah Ini Harus Dipelajari Serius?
Boleh jadi ada yang bertanya: kenapa harus repot menghafal puluhan istilah teknis semacam ini? Jawabannya kembali ke fondasi yang sudah berkali-kali ditegaskan di situs ini - bahwa memeriksa dari siapa kita mengambil ilmu agama adalah bagian dari agama itu sendiri, bukan formalitas akademis.
الْإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ، وَلَوْلَا الْإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ
"Sanad (mata rantai periwayatan) adalah bagian dari agama. Seandainya bukan karena sanad, niscaya siapa saja akan berkata (mengklaim) apa saja yang ia kehendaki." (Perkataan Abdullah bin al-Mubarak, dinukil Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim)
Perkataan Ibnu al-Mubarak ini bukan cuma slogan. Ia menjelaskan kenapa umat ini butuh alat ukur yang presisi - istilah-istilah dalam Al-Baiquniyyah - untuk membedakan riwayat yang benar-benar sampai dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan riwayat yang cacat, lemah, atau bahkan dipalsukan. Allah subhanahu wa ta'ala sendiri memerintahkan sikap teliti serupa terhadap setiap berita yang datang kepada kita:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu." (QS. Al-Hujurat: 6)
Istilah-istilah dalam Al-Baiquniyyah - shahih, hasan, dha'if, musnad, munqathi', mudallas, dan seterusnya - pada dasarnya adalah kosakata teknis yang dipakai para muhaddits untuk menjalankan perintah "fatabayyanu" (telitilah) itu secara sistematis, generasi demi generasi.2
Kelima: Alur Belajar dari Sini
Sebelas bab berikutnya akan membahas 32 bait sisanya, dikelompokkan menurut urutan bait aslinya - bukan diacak atau disusun ulang - supaya kamu bisa mengikuti alur hafalan yang sama seperti yang dipakai turun-temurun. Setiap bab akan menampilkan teks Arab asli tiap bait, transliterasi Latin, terjemahan, dan penjelasan istilahnya satu per satu.
Kalau kamu ingin belajar nazham ini secara langsung bersama pengajar bersanad, bukan sekadar membaca teksnya, program Kelas Musthalah Hadits di Ngajisanad adalah tempat memulainya.
Baca lebih lengkap soal istilah ini di Sanad, Matan, dan Rawi: Perbedaan dan Contohnya dalam Hadits.
Catatan & Referensi
Mayoritas sumber (termasuk artikel biografis di berbagai ensiklopedia daring dan naskah terjemahan Indonesia yang beredar) menyebut nama penulis sebagai "'Umar bin Muhammad bin Futuh al-Baiquni". Sebagian sumber lain mencatat variasi "Thaha bin Muhammad bin Futuh al-Baiquni" untuk penulis yang sama - kemungkinan besar perbedaan penyalinan nama dalam manuskrip lama, bukan dua orang berbeda, namun hal ini tidak dipastikan secara definitif di sini.
↩Pembagian hadits menjadi shahih/hasan/dha'if serta berbagai sub-kategorinya adalah metodologi baku ilmu musthalah hadits yang dirumuskan ulama mutaqaddimin dan disistematisasi lebih lanjut oleh Ibnu Shalah asy-Syahrazuri dalam Muqaddimah-nya - karya yang jadi rujukan induk hampir semua matn musthalah hadits sesudahnya, termasuk Al-Baiquniyyah ini.
↩