Tepat di bawah hadits shahih yang dibahas bab 4, ada satu tingkatan lagi dalam kategori khabar maqbul (diterima): hadits hasan. Ath-Thahhan menempatkan bab ini persis setelah shahih, mengikuti pemaparan yang sama.
Pengertian Hadits Hasan
Secara istilah, Ath-Thahhan mencatat bahwa para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan hasan, karena kedudukannya memang di tengah antara shahih dan dha'if. Sebelum merumuskan definisi pilihannya, ia menyurvei tiga definisi ulama terdahulu: Al-Khaththabi mendefinisikannya dari sisi reputasi - dikenal sumbernya dan diterima luas oleh mayoritas fuqaha; At-Tirmidzi dari sisi sanad - tidak memuat perawi yang tertuduh dusta, tidak syadz, dan didukung jalur lain yang serupa; sementara Ibnu Hajar membandingkannya langsung dengan shahih - syaratnya sama persis, hanya dhabt (kecermatan hafalan) perawinya sedikit berkurang.
Ath-Thahhan menilai definisi Ibnu Hajar ini yang paling tepat, lalu merumuskan definisi pilihannya sendiri berdasarkan itu:
Ath-Thahhan menambahkan satu catatan penting: frasa "dari perawi yang semisalnya" bukan berarti seluruh perawi dalam sanad harus 'adil namun berkurang dhabt-nya - cukup satu orang saja di antara mereka, meski perawi lainnya 'adil dan sempurna dhabt-nya, sebab patokan penilaian sebuah hadits adalah perawi yang paling lemah dalam sanadnya.
Hukum Beramal dengan Hadits Hasan
Contoh Hadits Hasan li Dzatihi
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ الضُّبَعِيُّ، عَنْ أَبِي عِمْرَانَ الْجَوْنِيِّ، عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ قَالَ: سَمِعْتُ أَبِي بِحَضْرَةِ الْعَدُوِّ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ أَبْوَابَ الْجَنَّةِ تَحْتَ ظِلَالِ السُّيُوفِ
"Telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Ja'far bin Sulaiman Adh-Dhuba'i, dari Abu 'Imran Al-Jauni, dari Abu Bakr bin Abi Musa Al-Asy'ari, ia berkata: aku mendengar ayahku, di hadapan musuh, berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Sesungguhnya pintu-pintu surga berada di bawah naungan pedang.'" (HR. At-Tirmidzi, Abwabu Fadha'ilil Jihad, 5/300, dengan syarah Tuhfatul Ahwadzi)5
At-Tirmidzi sendiri menilai hadits ini حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ ("hadits hasan gharib"). Ath-Thahhan menjelaskan alasannya:
Tingkatan Hadits Hasan
Sama seperti shahih, hasan juga punya tingkatan yang berbeda kekuatannya. Adz-Dzahabi membaginya menjadi dua:
"Shahih al-Isnad" dan "Hasan al-Isnad"
Ath-Thahhan menekankan bedanya ucapan "hadits shahih" dengan "hadits shahih al-isnad" (begitu juga "hadits hasan" dengan "hadits hasan al-isnad"):
Sebaliknya, jika seorang hafizh yang terpercaya cukup menyebut "shahih sanadnya" tanpa menyebutkan 'illat apa pun, secara lahiriah matannya pun tetap dianggap shahih - karena pada asalnya memang tidak ada 'illat maupun syudzudz.
Makna "Hadits Hasan Shahih" Menurut At-Tirmidzi
At-Tirmidzi terkenal sering menyandingkan dua predikat sekaligus, "hadits hasan shahih", pada satu hadits - padahal hasan seharusnya di bawah shahih. Ath-Thahhan mengutip jawaban Ibnu Hajar (yang disetujui As-Suyuthi) atas kejanggalan ini:
Kitab-Kitab Rujukan Utama Hadits Hasan
Tidak ada kitab yang khusus memuat hadits hasan murni, sebagaimana Al-Bukhari dan Muslim khusus memuat shahih murni. Namun beberapa kitab dikenal banyak memuat hadits hasan, di antaranya:
Jami' At-Tirmidzi (dikenal juga sebagai Sunan At-Tirmidzi):
فَهُوَ أَصْلٌ فِي مَعْرِفَةِ الْحَسَنِ، وَالتِّرْمِذِيُّ هُوَ الَّذِي شَهَّرَهُ فِي هَذَا الْكِتَابِ، وَأَكْثَرَ مِنْ ذِكْرِهِ
"Kitab ini adalah rujukan pokok dalam mengenal hasan - At-Tirmidzi sendirilah yang mempopulerkan istilah ini lewat kitabnya, dan paling banyak menyebutnya."12
Sunan Abu Dawud: Abu Dawud sendiri menyatakan dalam suratnya kepada penduduk Makkah bahwa kitabnya memuat hadits shahih dan yang menyerupai serta mendekatinya, hadits yang cacat berat ia jelaskan cacatnya, sedangkan hadits yang tidak diberi catatan apa pun berarti shalih (layak dipakai). Karena itu, sebuah hadits dalam kitab ini yang tidak dijelaskan kelemahannya dan tidak pula dishahihkan oleh imam-imam rujukan, secara konvensi berstatus hasan menurut Abu Dawud.
Sunan Ad-Daruquthni: Ad-Daruquthni sendiri juga banyak menegaskan status hasan pada hadits-hadits dalam kitabnya.
Hasan li Ghairihi
Dari definisi ini, Ath-Thahhan menjelaskan dua syarat sebuah hadits dha'if bisa naik menjadi hasan li ghairihi:
Predikat hasan pada hadits semacam ini datang bukan dari sanad pertamanya sendiri, melainkan dari bergabungnya jalur-jalur lain kepadanya - karena itu kedudukannya tetap lebih rendah daripada hasan li dzatihi, dan bila keduanya bertentangan, hasan li dzatihi yang didahulukan. Meski begitu, hasan li ghairihi tetap termasuk hadits maqbul yang bisa dijadikan hujjah.
Contoh yang dipakai Ath-Thahhan:
مَا رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ، مِنْ طَرِيقِ شُعْبَةَ، عَنْ عَاصِمِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ امْرَأَةً مِنْ بَنِي فَزَارَةَ تَزَوَّجَتْ عَلَى نَعْلَيْنِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَرَضِيتِ مِنْ نَفْسِكِ وَمَالِكِ بِنَعْلَيْنِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ، قَالَ: فَأَجَازَ
"Apa yang diriwayatkan At-Tirmidzi dan dihasankannya, dari jalur Syu'bah, dari 'Ashim bin 'Ubaidillah, dari 'Abdullah bin 'Amir bin Rabi'ah, dari ayahnya: bahwa seorang perempuan dari Bani Fazarah menikah dengan mahar sepasang sandal. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Apakah engkau rela, dirimu dan hartamu, dengan (mahar) sepasang sandal?' Ia menjawab: 'Ya.' Maka beliau pun mengesahkan (pernikahan itu)." (HR. At-Tirmidzi, Abwabun Nikah, Bab Ma Ja-a fi Muhuris Nisa', hadits no. 1113, 3/420-421)16
Ath-Thahhan menjelaskan mengapa hadits ini hasan li ghairihi, bukan hasan li dzatihi:
Dengan bab 4 dan 5 ini, keempat cabang khabar maqbul - shahih li dzatihi, shahih li ghairihi, hasan li dzatihi, hasan li ghairihi - sudah lengkap kamu pelajari. Bab berikutnya berpindah ke sisi lain klasifikasi ini: hadits dha'if, definisinya secara umum, dan tingkatan kelemahannya.
Catatan & Referensi
Dikutip dari Taisir Musthalah al-Hadits karya Dr. Mahmud Ath-Thahhan (Syamela.ws, kitab no. 8681, hlm. 48).
↩Dikutip dari Taisir Musthalah al-Hadits karya Dr. Mahmud Ath-Thahhan (Syamela.ws, kitab no. 8681, hlm. 49).
↩Dikutip dari Taisir Musthalah al-Hadits karya Dr. Mahmud Ath-Thahhan (Syamela.ws, kitab no. 8681, hlm. 49).
↩Dikutip dari Taisir Musthalah al-Hadits karya Dr. Mahmud Ath-Thahhan (Syamela.ws, kitab no. 8681, hlm. 50).
↩Dikutip dari Taisir Musthalah al-Hadits karya Dr. Mahmud Ath-Thahhan (Syamela.ws, kitab no. 8681, hlm. 50).
↩Dikutip dari Taisir Musthalah al-Hadits karya Dr. Mahmud Ath-Thahhan (Syamela.ws, kitab no. 8681, hlm. 50).
↩Dikutip dari Taisir Musthalah al-Hadits karya Dr. Mahmud Ath-Thahhan (Syamela.ws, kitab no. 8681, hlm. 50-51).
↩Dikutip dari Taisir Musthalah al-Hadits karya Dr. Mahmud Ath-Thahhan (Syamela.ws, kitab no. 8681, hlm. 51).
↩Dikutip dari Taisir Musthalah al-Hadits karya Dr. Mahmud Ath-Thahhan (Syamela.ws, kitab no. 8681, hlm. 51).
↩Dikutip dari Taisir Musthalah al-Hadits karya Dr. Mahmud Ath-Thahhan (Syamela.ws, kitab no. 8681, hlm. 52).
↩Dikutip dari Taisir Musthalah al-Hadits karya Dr. Mahmud Ath-Thahhan (Syamela.ws, kitab no. 8681, hlm. 52).
↩Dikutip dari Taisir Musthalah al-Hadits karya Dr. Mahmud Ath-Thahhan (Syamela.ws, kitab no. 8681, hlm. 53).
↩Dikutip dari Taisir Musthalah al-Hadits karya Dr. Mahmud Ath-Thahhan (Syamela.ws, kitab no. 8681, hlm. 57).
↩Dikutip dari Taisir Musthalah al-Hadits karya Dr. Mahmud Ath-Thahhan (Syamela.ws, kitab no. 8681, hlm. 57).
↩Dikutip dari Taisir Musthalah al-Hadits karya Dr. Mahmud Ath-Thahhan (Syamela.ws, kitab no. 8681, hlm. 57).
↩Dikutip dari Taisir Musthalah al-Hadits karya Dr. Mahmud Ath-Thahhan (Syamela.ws, kitab no. 8681, hlm. 58).
↩Dikutip dari Taisir Musthalah al-Hadits karya Dr. Mahmud Ath-Thahhan (Syamela.ws, kitab no. 8681, hlm. 58).
↩