Lathaif al-Isnad: Keunikan-Keunikan Seputar Sanad

Bab 14 membahas cara-cara menerima dan menyampaikan hadits. Bab 15 - bab terakhir Taisir Musthalah al-Hadits - membahas tujuh keunikan yang bisa muncul pada sebuah sanad, mulai dari tinggi-rendahnya sanad sampai kebetulan-kebetulan menarik dalam rangkaian perawinya. Isnad sendiri adalah kekhususan yang mulia bagi umat ini, tidak dimiliki umat-umat sebelumnya:

الإسناد من الدين، ولولا الإسناد لقال من شاء ما شاء
"Isnad adalah bagian dari agama - sekiranya tidak ada isnad, niscaya siapa saja bisa berkata semaunya." (Ibnul Mubarak)1

الإسناد سلاح المؤمن
"Isnad adalah senjata seorang mukmin." (Ats-Tsauri)2

1. Isnad 'Ali dan Nazil

Isnad 'ali (tinggi) adalah sanad yang jumlah perawinya lebih sedikit dibanding sanad lain untuk hadits yang sama; isnad nazil (rendah) sebaliknya, lebih banyak perawinya.3 Mencari sanad yang lebih tinggi juga sunnah yang dianjurkan sejak masa salaf - Ahmad bin Hanbal menyebutnya "sunnah dari orang-orang terdahulu", karena para sahabat sendiri sampai mengembara dari Kufah ke Madinah demi belajar langsung dari 'Umar.4

'Uluw (ketinggian sanad) terbagi lima jenis, satu di antaranya mutlak dan sisanya nisbi: (a) dekat dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lewat sanad yang shahih dan bersih - inilah 'uluw mutlak; (b) dekat dengan salah satu imam hadits (seperti Al-A'masy, Ibnu Juraij, atau Malik) meski jumlah perawi setelahnya sampai Nabi tetap banyak; (c) dekat dengan periwayatan salah satu Kutubus Sittah - kategori ini sendiri punya empat sub-jenis yang dikenal dengan istilah muwafaqah, badal, musawah, dan mushafahah, dengan definisi teknis yang cukup rumit soal jalur mana yang lebih pendek dibanding jalur asli si penyusun kitab;5 (d) lebih dulu wafatnya perawi - Imam An-Nawawi memberi contoh: riwayatnya lewat tiga orang dari Al-Baihaqi lebih tinggi dibanding lewat tiga orang dari jalur lain, karena Al-Baihaqi wafat lebih dulu dari perawi pembandingnya;6 dan (e) lebih dulu waktu mendengarnya dari sang guru - dua orang yang sama-sama mendengar dari satu guru dengan jumlah perawi sama, yang mendengarnya lebih dulu dianggap sanadnya lebih 'ali. Nuzul (kerendahan sanad) punya lima jenis pula, kebalikan langsung dari lima jenis 'uluw di atas.7

Soal mana yang lebih utama, pendapat jumhur mengatakan 'uluw lebih utama dibanding nuzul - Ibnul Madini bahkan berkata "nuzul itu sial" - selama kedua sanad sama kuatnya; nuzul baru jadi lebih utama kalau sanad yang lebih rendah itu punya keunggulan lain (misalnya perawinya lebih tsiqah atau lebih paham fiqih).8 Tidak ada kitab khusus yang membahas isnad 'ali/nazil secara umum, tapi ulama menyusun juz-juz khusus berjudul Ats-Tsulatsiyyat - hadits yang hanya berjarak tiga orang perawi dari si penyusun sampai Nabi - seperti Tsulatsiyyat Al-Bukhari karya Ibnu Hajar.9

2. Al-Musalsal

Secara istilah, musalsal adalah sanad yang para perawinya berturut-turut memiliki satu sifat atau kondisi yang sama, baik pada diri perawinya sendiri maupun pada cara periwayatannya.10 Ada tiga jenisnya:

Musalsal dengan kondisi perawi - bisa berupa ucapan, perbuatan, atau keduanya sekaligus. Contoh ucapan: hadits Mu'adz bin Jabal, di mana Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepadanya, "Wahai Mu'adz, aku mencintaimu, maka ucapkanlah di akhir setiap shalat..." - lalu setiap perawi dalam sanadnya turut mengucapkan "aku pun mencintaimu, maka ucapkanlah" (HR. Abu Dawud, Kitab Al-Witr, hadits no. 1522). Contoh perbuatan: hadits Abu Hurairah tentang penciptaan bumi, di mana setiap perawi dalam sanadnya turut menjabat tangan orang yang meriwayatkan darinya, meniru perbuatan Abul Qasim shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri. Contoh gabungan keduanya: hadits Anas soal takdir, di mana setiap perawi turut memegang jenggotnya sendiri sambil mengucapkan "aku beriman kepada takdir, baik dan buruknya".11

Musalsal dengan sifat perawi - misalnya kesamaan nama para perawi (musalsal bil-Muhammadin, semua perawinya bernama Muhammad), kesamaan profesi (musalsal dengan para fuqaha atau huffazh), atau kesamaan nisbah kota asal. Musalsal dengan sifat periwayatan - misalnya kesamaan shighah ada' yang dipakai setiap perawi (semua bilang "sami'tu"), kesamaan waktu periwayatan (diriwayatkan setiap hari raya), atau kesamaan tempat periwayatan.12

Tidak disyaratkan ketersambungan itu bertahan di sepanjang sanad - kalau putus di tengah, cukup disebut "musalsal sampai fulan". Dan musalsal tidak otomatis berkaitan dengan keshahihan - sebuah hadits musalsal jarang selamat dari cacat dalam rangkaian ketersambungannya sendiri, meski matan aslinya (lewat jalur lain yang tidak musalsal) bisa saja tetap shahih.13 Karya paling dikenal di bidang ini: Al-Musalsalat Al-Kubra karya As-Suyuthi (85 hadits) dan Al-Manahil As-Salsalah karya Muhammad 'Abdul Baqi Al-Ayyubi (212 hadits).14

3. Riwayat al-Akabir 'anil Ashaghir

Seorang perawi meriwayatkan dari orang yang lebih muda darinya, baik dari sisi usia/generasi maupun dari sisi ilmu dan hafalan.15 Tiga bentuknya: perawi lebih tua usia dan generasinya sekaligus lebih berilmu; perawi lebih unggul ilmunya saja meski gurunya lebih tua usianya (seperti Malik yang hafizh meriwayatkan dari 'Abdullah bin Dinar yang sekadar rawi biasa); atau perawi unggul di kedua sisi sekaligus (seperti Al-Barqani dari Al-Khathib).16 Contoh yang lebih dikenal: para sahabat yang meriwayatkan dari Ka'ab Al-Ahbar (seorang tabi'in), atau Yahya bin Sa'id Al-Anshari (tabi'in) yang meriwayatkan dari Malik. Yang perlu diwaspadai: jangan sampai mengira perawi yang diriwayatkan darinya (yang lebih kecil) itu justru lebih utama karena posisinya tidak biasa, dan jangan mengira ada kesalahan urutan dalam sanad.17

4-5. Riwayat Aba' 'anil Abna' dan Abna' 'anil Aba'

Dua jenis yang saling berkebalikan: seorang ayah meriwayatkan dari anaknya sendiri - contohnya Al-'Abbas bin Al-Muththalib yang meriwayatkan dari putranya, Al-Fadhl, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjamak dua shalat di Muzdalifah (asal haditsnya ada di Shahihain) - dan seorang anak meriwayatkan dari ayahnya, kadang berlanjut sampai kakeknya (seperti 'Amr bin Syu'aib, dari ayahnya, dari kakeknya).18 Yang perlu diwaspadai untuk jenis pertama: jangan mengira ada kesalahan urutan, karena lazimnya justru anak yang meriwayatkan dari ayah. Untuk jenis kedua: perlu diteliti dulu siapa sebenarnya yang dimaksud kakek dalam sanad - kakek kandung si perawi, atau kakek dari sisi ayahnya.19 Karya khusus di bidang ini antara lain Riwayat al-Aba' 'anil Abna' karya Al-Khathib Al-Baghdadi.

6. Al-Mudabbaj dan Riwayat al-Aqran

Al-aqran (sepasang perawi) adalah dua perawi yang usia dan level sanadnya saling berdekatan. Riwayat al-aqran terjadi kalau salah satu dari keduanya meriwayatkan dari yang lain (tapi tidak sebaliknya); kalau keduanya SALING meriwayatkan satu sama lain, itulah yang disebut al-mudabbaj.20 Contoh mudabbaj: di kalangan sahabat, 'Aisyah meriwayatkan dari Abu Hurairah dan Abu Hurairah meriwayatkan dari 'Aisyah; di kalangan tabi'in, Az-Zuhri dan 'Umar bin 'Abdil 'Aziz saling meriwayatkan; di kalangan generasi setelahnya, Malik dan Al-Auza'i saling meriwayatkan.21 Dua hal yang perlu diwaspadai: jangan mengira ada tambahan perawi dalam sanad, dan jangan salah mengira kata sambung wa (dan) sebagai 'an (dari) atau sebaliknya. Karya khusus: Al-Mudabbaj karya Ad-Daraquthni dan Riwayat al-Aqran karya Abusy-Syaikh Al-Ashbahani.22

7. As-Sabiq wal-Lahiq

Dua perawi meriwayatkan dari guru yang sama, tapi jarak wafat keduanya terpaut sangat jauh.23 Contoh: Muhammad bin Ishaq As-Sarraj dan Al-Khaffaf sama-sama meriwayatkan dari Al-Bukhari, tapi jarak wafat keduanya 137 tahun lebih; atau Imam Malik dan Ahmad bin Isma'il As-Sahmi yang sama-sama meriwayatkan dari Az-Zuhri, terpaut 135 tahun (Az-Zuhri wafat 124H, As-Sahmi wafat 259H, karena As-Sahmi berumur panjang, sekitar 100 tahun).24 Perawi yang lebih dulu (as-sabiq) berkedudukan sebagai guru bagi sang guru bersama itu, sementara yang belakangan (al-lahiq) seperti muridnya - yang perlu diwaspadai justru jangan sampai mengira sanad si lahiq terputus, semata karena rentang waktunya yang tampak janggal. Karya khusus di bidang ini: As-Sabiq wal-Lahiq karya Al-Khathib Al-Baghdadi.25

Penutup Kitab

Tujuh keunikan sanad di atas menutup seluruh rangkaian pembahasan Taisir Musthalah al-Hadits - dari pembagian khabar di bab 1-12, sifat rawi maqbul dan jarh wat-ta'dil di bab 13, cara periwayatan dan adabnya di bab 14, sampai keunikan-keunikan sanad ini. Kalau kamu ingin melanjutkan ke jenjang berikutnya dalam program Ulumul Hadits Berjenjang, atau ingin melihat bagaimana sanad-sanad semacam ini diverifikasi secara nyata untuk pengajar di Ngajisanad, kamu bisa mulai dari profil masyaikh yang jalur sanadnya bisa ditelusuri langsung buktinya.

Catatan & Referensi

  1. Dikutip dari Taisir Musthalah al-Hadits karya Dr. Mahmud Ath-Thahhan (Syamela.ws, kitab no. 8681, hlm. 208).

  2. Dikutip dari Taisir Musthalah al-Hadits karya Dr. Mahmud Ath-Thahhan (Syamela.ws, kitab no. 8681, hlm. 208).

  3. Taisir Musthalah al-Hadits, hlm. 208-209.

  4. Taisir Musthalah al-Hadits, hlm. 208.

  5. Taisir Musthalah al-Hadits, hlm. 209-211, mengutip Ibnu Hajar dalam Syarh An-Nukhbah.

  6. Taisir Musthalah al-Hadits, hlm. 211, mengutip An-Nawawi.

  7. Taisir Musthalah al-Hadits, hlm. 211.

  8. Taisir Musthalah al-Hadits, hlm. 212.

  9. Taisir Musthalah al-Hadits, hlm. 212.

  10. Taisir Musthalah al-Hadits, hlm. 213.

  11. Taisir Musthalah al-Hadits, hlm. 214.

  12. Taisir Musthalah al-Hadits, hlm. 215.

  13. Taisir Musthalah al-Hadits, hlm. 216.

  14. Taisir Musthalah al-Hadits, hlm. 216.

  15. Taisir Musthalah al-Hadits, hlm. 217.

  16. Taisir Musthalah al-Hadits, hlm. 217-218.

  17. Taisir Musthalah al-Hadits, hlm. 218.

  18. Taisir Musthalah al-Hadits, hlm. 219-220.

  19. Taisir Musthalah al-Hadits, hlm. 220-221.

  20. Taisir Musthalah al-Hadits, hlm. 222.

  21. Taisir Musthalah al-Hadits, hlm. 223.

  22. Taisir Musthalah al-Hadits, hlm. 223.

  23. Taisir Musthalah al-Hadits, hlm. 224.

  24. Taisir Musthalah al-Hadits, hlm. 224-225.

  25. Taisir Musthalah al-Hadits, hlm. 225.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email