Setelah bab 9 membahas hadits maudhu' - kepalsuan yang paling parah - bab 10 ini membahas empat cacat lain yang levelnya sedikit di bawahnya, tapi tetap serius: matruk, munkar (berikut lawannya, ma'ruf), syadz (berikut lawannya, mahfuzh), dan 'illat tersembunyi (mu'allal). Sebagaimana disusun sendiri oleh Dr. Mahmud Ath-Thahhan, keempatnya adalah cacat kedua hingga keenam dari sepuluh sebab tertolaknya sebuah hadits karena persoalan rawi - berbeda dari terputusnya sanad yang sudah dibahas di bab 7-8.
Matruk: Perawinya Tertuduh Berdusta
Ath-Thahhan menjelaskan, tuduhan dusta pada seorang perawi muncul karena salah satu dari dua sebab: hadits itu hanya diriwayatkan olehnya seorang diri (tafarrud) dan menyelisihi kaidah-kaidah yang sudah baku, atau perawi itu dikenal berdusta dalam percakapan sehari-hari meski belum terbukti berdusta khusus soal hadits Nabi. Sebagai contoh, beliau menyebut hadits Amr bin Syamr Al-Ju'fi Al-Kufi, dari Jabir, dari Abu Thufail, dari Ali dan Ammar radhiyallahu 'anhuma, tentang qunut Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di shalat Subuh dan takbir pada hari Arafah - An-Nasa'i, Ad-Daraquthni, dan ulama lain menyatakan Amr bin Syamr "matruk al-hadits".2
Munkar dan Lawannya, Ma'ruf
Definisi kedua inilah yang bikin munkar gampang tertukar dengan syadz, karena keduanya sama-sama soal penyelisihan (mukhalafah). Ath-Thahhan sendiri menegaskan titik bedanya secara langsung:
Lawan kata munkar adalah ma'ruf: riwayat perawi tsiqah yang justru menyelisihi riwayat perawi dha'if di atas.5 Contohnya persis pasangan dari contoh munkar: hadits "barangsiapa mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji, berpuasa, dan menjamu tamu, ia masuk surga" - diriwayatkan marfu' (matruk) oleh Habib bin Habib, tapi para perawi tsiqah lain meriwayatkannya mauquf, hanya sampai perkataan Ibnu Abbas - Abu Hatim menyebut versi marfu' itu munkar, dan versi mauquf itulah yang ma'ruf.
Syadz dan Lawannya, Mahfuzh
Menetapkan status syadz butuh proses yang tidak sederhana: mengumpulkan semua jalur periwayatan hadits yang sama, lalu membandingkan mana yang lebih kuat hafalan perawinya atau lebih banyak jumlahnya. Riwayat yang kalah itulah syadz; riwayat yang menang disebut al-mahfuzh - "riwayat perawi yang lebih terpercaya (authaq) yang menyelisihi riwayat perawi tsiqah (biasa)."7 Ath-Thahhan menyimpulkan hukumnya dengan singkat: "sudah diketahui bahwa syadz adalah hadits mardud, sedangkan mahfuzh adalah hadits maqbul."8
Mu'allal: Cacat Tersembunyi yang Butuh Keahlian Tinggi
'Illat baru bisa ditemukan lewat penelitian sangat mendalam: mengumpulkan seluruh jalur periwayatan sebuah hadits, membandingkan perbedaan-perbedaan kecil di antaranya, lalu menyimpulkan versi mana yang sebenarnya lebih akurat. Ath-Thahhan menegaskan betapa beratnya bidang ini:
Ath-Thahhan menyebut segelintir nama yang benar-benar menguasainya: Ibnul Madini, Ahmad bin Hanbal, Al-Bukhari, Abu Hatim, dan Ad-Daraquthni - yang terakhir dengan kitabnya Al-'Ilal adalah salah satu yang paling dikenal dalam bidang ini.
Skala Keparahan: Dari Matruk sampai Mudhtarib
Menutup bab ini, Ath-Thahhan mengutip urutan tingkat keparahan yang disusun Al-Hafizh Ibnu Hajar - berguna untuk melihat di mana persisnya posisi matruk, munkar, dan mu'allal di antara cacat-cacat hadits dha'if lainnya:
Urutan ini menegaskan kembali kenapa memeriksa sebuah kabar sebelum meyakininya bukan perkara sederhana - sebuah hadits bisa saja sanadnya kelihatan bersambung sempurna dan perawinya semua tsiqah, tapi tetap tertolak karena mengandung 'illat yang baru terlihat setelah dibandingkan dengan jalur-jalur lain:
إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
"Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya." (QS. Al-Hujurat: 6)
Bab berikutnya membahas cacat yang sedikit berbeda sifatnya: bukan lagi soal kualitas perawi, melainkan kekeliruan teknis dalam menyusun atau menyalin redaksi hadits itu sendiri - mudraj, maqlub, mudhtarib, mushahhaf, dan mubham.
Catatan & Referensi
Dikutip dari Taisir Musthalah al-Hadits karya Dr. Mahmud Ath-Thahhan (Syamela.ws, kitab no. 8681, hlm. 109).
↩Contoh hadits Amr bin Syamr Al-Ju'fi dan urutan tingkat keparahan cacat hadits, dikutip dari Taisir Musthalah al-Hadits (Syamela.ws, kitab no. 8681, hlm. 110).
↩Dikutip dari Taisir Musthalah al-Hadits (Syamela.ws, kitab no. 8681, hlm. 111).
↩Perbedaan syadz dan munkar, beserta contoh hadits "kulu al-balah bit-tamr", dikutip dari Taisir Musthalah al-Hadits (Syamela.ws, kitab no. 8681, hlm. 112-113).
↩Definisi ma'ruf dan contohnya, dikutip dari Taisir Musthalah al-Hadits (Syamela.ws, kitab no. 8681, hlm. 114).
↩Definisi syadz, mahfuzh, dan hukum keduanya, dikutip dari Taisir Musthalah al-Hadits (Syamela.ws, kitab no. 8681, hlm. 115-116).
↩Definisi syadz, mahfuzh, dan hukum keduanya, dikutip dari Taisir Musthalah al-Hadits (Syamela.ws, kitab no. 8681, hlm. 115-116).
↩Definisi syadz, mahfuzh, dan hukum keduanya, dikutip dari Taisir Musthalah al-Hadits (Syamela.ws, kitab no. 8681, hlm. 115-116).
↩Definisi mu'allal dan 'illat, dikutip dari Taisir Musthalah al-Hadits (Syamela.ws, kitab no. 8681, hlm. 117).
↩Dikutip dari Taisir Musthalah al-Hadits (Syamela.ws, kitab no. 8681, hlm. 118), nama-nama ulama ahli 'ilal dari halaman 118-119.
↩Contoh hadits Amr bin Syamr Al-Ju'fi dan urutan tingkat keparahan cacat hadits, dikutip dari Taisir Musthalah al-Hadits (Syamela.ws, kitab no. 8681, hlm. 110).
↩