Al-Asma' allati Yasytariku fihar-Rijalu wan-Nisa': Nama yang Sama-Sama Dipakai Perawi Laki-Laki dan Perempuan

Motif arabesque, ilustrasi untuk artikel "Al-Asma' allati Yasytariku fihar-Rijalu wan-Nisa': Nama yang Sama-Sama Dipakai Perawi Laki-Laki dan Perempuan"

Nau' 88 dalam Tadrib ar-Rawi mengangkat kasus ma'rifatul asma' allati yasytariku fihar-rijalu wan-nisa - mengenal nama-nama yang kebetulan dipakai bersama, baik oleh perawi laki-laki maupun perawi perempuan. Kalau sebuah sanad hanya menyebut nama tanpa kunyah atau nisbah yang biasanya membantu menandai identitas, seorang pengkaji sanad bisa keliru menetapkan siapa sebenarnya yang dimaksud - termasuk keliru soal jenis kelaminnya.

Dua Kategori Kebetulan Nama

As-Suyuthi membagi kasus ini menjadi dua bagian. Pertama, perawi laki-laki dan perempuan yang kebetulan hanya sama pada nama (ism) saja, tanpa nama ayah mereka ikut sama. Kedua, yang lebih jarang dan lebih berpotensi membingungkan: perawi laki-laki dan perempuan yang kebetulan sama persis baik pada nama diri maupun nama ayahnya sekaligus.1

Kategori Pertama: Nama Saja yang Sama

As-Suyuthi mendaftar sejumlah pasangan nama yang termasuk kategori ini. Nama Asma' dipakai baik oleh dua sahabat laki-laki - Asma' bin Haritsah dan Asma' bin Rabab - maupun dua sahabat perempuan - Asma' binti Abi Bakr dan Asma' binti 'Umais. Nama Buraidah dipakai oleh sahabat laki-laki Buraidah bin al-Hushaib, sekaligus oleh sahabat perempuan Buraidah binti Bisyr. Nama Barakah dipakai oleh Barakah Ummu Aiman (sahabat perempuan, pengasuh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam), sekaligus oleh Barakah bin al-'Uryan, seorang perawi laki-laki yang meriwayatkan dari Ibnu 'Umar dan Ibnu 'Abbas. Nama Hunaidah dipakai Hunaidah bin Khalid al-Khuza'i, yang meriwayatkan dari 'Ali, sekaligus oleh Hunaidah binti Syarik, yang meriwayatkan dari 'Aisyah. Dan nama Juwairiyah dipakai baik oleh Juwairiyah Ummul Mu'minin (istri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam) maupun oleh Juwairiyah bin Asma' adh-Dhuba'i, seorang perawi laki-laki.2

Kategori Kedua: Nama dan Nama Ayah Sama-Sama Sama

Kasus yang lebih membingungkan adalah ketika nama dan nama ayahnya kebetulan sama persis antara perawi laki-laki dan perempuan. As-Suyuthi mencontohkan Busrah bin Shafwan, yang meriwayatkan dari Ibrahim bin Sa'd, berhadapan dengan Busrah binti Shafwan, seorang sahabat perempuan. Contoh berikutnya: Hind bin Muhallab, yang diriwayatkan darinya oleh Muhammad bin az-Zibriqan, berhadapan dengan Hind binti al-Muhallab, yang meriwayatkan dari ayahnya sendiri. Contoh terakhir: Umayyah bin 'Abdullah al-Umawi, yang meriwayatkan dari Ibnu 'Umar, berhadapan dengan Umayyah binti 'Abdullah, yang meriwayatkan dari 'Aisyah - dan darinya 'Ali bin Zaid bin Jud'an meriwayatkan, sebuah riwayat yang dikeluarkan oleh At-Tirmidzi.3

Kenapa Ketelitian Ini Penting

Tanpa mengetahui pasangan-pasangan nama semacam ini, seorang pengkaji sanad berisiko salah menetapkan identitas perawi yang dimaksud sebuah riwayat - termasuk salah menebak jenis kelaminnya - padahal riwayat hidup dua orang yang kebetulan sama nama itu (guru, murid, masa hidup) kemungkinan besar sama sekali berbeda. Kecermatan semacam ini sejalan dengan prinsip memastikan kejelasan sumber sebuah riwayat sebelum menerimanya:

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
"Sesungguhnya ilmu (agama) ini adalah agama, maka perhatikanlah baik-baik dari siapa kalian mengambil (ilmu) agama kalian." (atsar Ibnu Sirin, dinukil dalam Muqaddimah Shahih Muslim)4

Nau' 88 ini adalah salah satu dari 93 nau' dalam kitab Tadrib ar-Rawi, kitab rujukan jenjang Lanjut program Ulumul Hadits Berjenjang Ngajisanad.

Catatan & Referensi

  1. As-Suyuthi, Tadrib ar-Rawi fi Syarh Taqrib an-Nawawi, tahqiq Abu Qutaybah Nazhar Muhammad al-Faryabi, naskah digital Al-Maktabah Asy-Syamilah, hlm. 928.

  2. Ibid., hlm. 928.

  3. Ibid., hlm. 928.

  4. Dinukil Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email