Man Ittafaqa Ismuhu wa Ismu Abihi wa Jaddihi: Ketika Tiga Generasi Nama Kebetulan Sama

Nau' 83 dalam Tadrib ar-Rawi membahas kerancuan nama yang lebih rumit daripada sekadar nama sendiri yang sama dengan nama ayah: kali ini tiga tingkat nasab sekaligus - nama diri sendiri, nama ayah, dan nama kakek - kebetulan sama persis antara dua perawi yang sebenarnya orang berbeda. Nau' sebelumnya membahas kasus serupa dalam bentuk lain, ketika nama seorang guru kebetulan sama dengan nama ayah muridnya sendiri (lihat Man Wafaqa Isma Syaikhihi Isma Abihi).

Disebutkan Ibnu Hajar dalam An-Nukhbah

As-Suyuthi menjelaskan, nau' ini disebutkan oleh Syaikhul Islam - yakni Ibnu Hajar al-'Asqalani - dalam kitabnya, An-Nukhbah (Nukhbatul Fikar). Beliau mencontohkannya dengan Al-Hasan bin Al-Hasan bin 'Ali bin Abi Thalib: rangkaian tiga nama (Al-Hasan sebagai nama diri, Al-Hasan sebagai nama ayah, dan 'Ali sebagai nama kakek) yang berpotensi tertukar kalau ada rangkaian nasab serupa milik perawi lain yang sama sekali berbeda orang, zaman, atau jalur periwayatannya.1

Kitab Abul Fath Al-Azdi tentang Nama yang Sama dengan Nama Ayah

As-Suyuthi mencatat, gejala kesamaan nama semacam ini sebenarnya punya kitab tersendiri yang lebih longgar cakupannya - cukup dua tingkat, bukan tiga. Abul Fath Al-Azdi menyusun sebuah kitab khusus mengumpulkan para perawi yang namanya kebetulan sama dengan nama ayahnya sendiri. Di antara contoh yang beliau kumpulkan: Al-Hajjaj bin Al-Hajjaj Al-Aslami (seorang sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam), 'Adi bin 'Adi Al-Kindi, Hind bin Hind bin Abi Halah, Hujr bin Hujr Al-Kala'i, Hasyim bin Hasyim bin 'Utbah, 'Abbad bin 'Abbad Al-Muhallabi, Shalih bin Shalih bin Hayy Al-Hamdani, dan Sa'id bin Sa'id bin Al-'Ash - serta masih banyak nama lain selain mereka.2

Ketika Kesamaan Meluas Lebih dari Tiga Tingkat

As-Suyuthi menambahkan, kesamaan nama dengan nama ayah semacam ini kadang bahkan meluas lebih jauh lagi, naik ke atas berulang-ulang, tidak berhenti di dua atau tiga tingkat saja. Contoh yang beliau berikan adalah Abul Yaman Al-Kindi, yang nama lengkapnya Zaid bin Al-Hasan bin Zaid bin Al-Hasan bin Zaid bin Al-Hasan - nama "Zaid" dan "Al-Hasan" berulang bergantian sampai tiga generasi penuh dalam satu rangkaian nasabnya sendiri.3

Kenapa Ketelitian Ini Penting

Semakin banyak tingkat nasab yang kebetulan berulang atau sama dengan rangkaian nama perawi lain, semakin besar pula peluang seseorang keliru menyamakan dua orang yang sebenarnya berbeda - padahal kredibilitas, generasi, dan jaringan guru-muridnya bisa jadi sangat berlainan. Karena itu ulama hadits menaruh perhatian sangat rinci pada detail nasab semacam ini, sejalan dengan prinsip besar dalam menjaga keakuratan sumber sebuah riwayat:

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
"Sesungguhnya ilmu (agama) ini adalah agama, maka perhatikanlah baik-baik dari siapa kalian mengambil (ilmu) agama kalian." (dinukil dalam Muqaddimah Shahih Muslim)4

Nau' 83 ini disebutkan Ibnu Hajar al-'Asqalani dalam An-Nukhbah dan diperluas As-Suyuthi dalam kitab Tadrib ar-Rawi, kitab rujukan jenjang Lanjut program Ulumul Hadits Berjenjang Ngajisanad.

Catatan & Referensi

  1. As-Suyuthi, Tadrib ar-Rawi fi Syarh Taqrib an-Nawawi, tahqiq Abu Qutaybah Nazhar Muhammad al-Faryabi, naskah digital Al-Maktabah Asy-Syamilah, hlm. 923.

  2. Ibid., hlm. 923.

  3. Ibid., hlm. 923.

  4. Dinukil Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email