Nau' 51 dalam Tadrib ar-Rawi membahas kebalikan dari nau' sebelumnya (Al-Asma' wal-Kuna) - kali ini fokus pada perawi yang justru lebih dikenal lewat NAMA aslinya, padahal mereka juga menyandang kunyah yang jarang dipakai orang. As-Suyuthi menjelaskan, kaidah penyusunannya adalah membuat bab berdasarkan nama, lalu di bawah tiap nama dicantumkan kunyah yang menyertainya.1
Kedudukan Nau' Ini: Berdiri Sendiri atau Bagian dari Pembahasan Kunyah?
Ibnu Ash-Shalah mencatat, nau' ini dari satu sisi adalah kebalikan dari nau' sebelumnya - mengenal perawi yang justru dikenal lewat nama, bukan kunyah. Namun dari sisi lain, ia juga bisa dianggap bagian dari pembahasan kunyah secara umum, karena sama-sama membahas para pemilik kunyah; atas dasar itu Ibnu Hibban pernah menyusun karya tersendiri tentangnya. Mengikuti cara pandang kedua ini, Ibnu Jama'ah dalam Al-Manhal Ar-Rawi bahkan menggabungkan nau' ini dengan nau' sebelumnya menjadi satu pembahasan besar berisi sepuluh bagian - langkah yang diikuti pula oleh Al-'Iraqi, dengan alasan para penulis kitab tentang kunyah memang biasa menggabungkan kedua nau' ini sekaligus dalam satu karya.2
Contoh Sahabat Berkunyah Abu Muhammad, Abu Abdullah, dan Abu Abdurrahman
As-Suyuthi mencantumkan sejumlah sahabat radhiyallahu 'anhum yang dikenal lewat nama, namun juga menyandang kunyah tertentu. Yang berkunyah Abu Muhammad di antaranya Thalhah, Abdurrahman bin 'Auf, Al-Hasan bin 'Ali, Tsabit bin Qais, Ka'b bin 'Ujrah, Al-Asy'ats bin Qais, Abdullah bin Ja'far, Ibnu 'Amr bin Al-'Ash, dan Ibnu Buhainah. Yang berkunyah Abu Abdullah di antaranya Az-Zubair bin Al-'Awwam, Al-Husain bin 'Ali, Salman Al-Farisi, Hudzaifah bin Al-Yaman, dan 'Amr bin Al-'Ash. Sedangkan yang berkunyah Abu Abdurrahman di antaranya Ibnu Mas'ud, Mu'adz bin Jabal, Zaid bin Al-Khaththab, Ibnu 'Umar, dan Mu'awiyah bin Abi Sufyan - As-Suyuthi menambahkan, pada sebagian nama dalam daftar ini masih ada perbedaan pendapat di kalangan ulama.3 Ia turut menyinggung contoh dari generasi setelah sahabat, seperti Abu Adh-Dhuha yang nama aslinya Muslim; menurut Ibnu Ash-Shalah, Ibnu Abdil Barr bahkan punya karya tulis tersendiri yang bagus, khusus membahas tokoh-tokoh semacam ini dari kalangan sesudah sahabat.4
Koreksi Al-'Iraqi: Kasus Abdullah bin Ja'far yang Dicatat dengan Dua Kunyah Berbeda
Bagian syarah memperlihatkan bagaimana ulama saling mengoreksi ketika mendata kunyah seorang perawi. Al-'Iraqi mencermati bahwa Ibnu Ash-Shalah tampaknya terpengaruh oleh apa yang tertulis dalam Al-Kuna karya An-Nasa'i: pada huruf mim, An-Nasa'i mencatat 'Abu Muhammad, Abdullah bin Ja'far', lalu meriwayatkan dengan sanadnya bahwa Al-Walid bin Abdul Malik pernah menyapanya, 'Wahai Abu Muhammad' - padahal An-Nasa'i sendiri, pada huruf jim, mengulang tokoh yang sama namun menyebutnya 'Abu Ja'far'. Al-'Iraqi menilai, Ibnu Az-Zubair sesungguhnya lebih mengenal Abdullah dibanding Al-Walid, jika yang dimaksud An-Nasa'i adalah putra-putra Ja'far bin Abi Thalib - dan itulah yang lebih tampak benar; namun bila yang dimaksud adalah Abdullah bin Ja'far yang lain, riwayat itu pun tidak saling bertentangan.5
Koreksi serupa muncul untuk 'Umarah bin Hazm, yang oleh Ibnu Ash-Shalah dimasukkan ke daftar sahabat berkunyah Abu Abdullah. Al-'Iraqi menyatakan hal ini perlu ditinjau ulang, sebab ia sendiri tidak menemukan seorang pun yang pernah menyebutkan kunyah baginya.6
Kenapa Ketelitian Ini Penting
Kasus Abdullah bin Ja'far di atas memperlihatkan persis kenapa nau' ini perlu ada: satu sumber yang tidak konsisten mencatat kunyah seseorang bisa membuat pembaca mengira ada dua tokoh berbeda, padahal orangnya sama. Begitu pula ketika sebuah kunyah dinisbahkan ke seseorang tanpa dasar yang jelas, seperti kasus 'Umarah bin Hazm - ulama rijal wajib menahan diri dan meninjau ulang, bukan sekadar mengikuti catatan sebelumnya begitu saja. Kehati-hatian semacam ini sejalan dengan prinsip memastikan kejelasan sumber sebuah riwayat sebelum menerimanya:
إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
"Sesungguhnya ilmu (agama) ini adalah agama, maka perhatikanlah baik-baik dari siapa kalian mengambil (ilmu) agama kalian." (dinukil dalam Muqaddimah Shahih Muslim)7
Nau' 51 ini adalah salah satu dari 93 nau' dalam kitab Tadrib ar-Rawi, kitab rujukan jenjang Lanjut program Ulumul Hadits Berjenjang Ngajisanad.
Catatan & Referensi