Bab sebelumnya menuntaskan tha'n yang berkaitan dengan 'adalah (kejujuran) perawi. Bab ini masuk ke lima tha'n yang berkaitan dengan dhabt (kekuatan hafalan/ketelitian) — dimulai dari yang paling berat dan halus penelitiannya: al-wahm.
Tha'n Keenam: Al-Wahm — Hadits Mu'allal
ثُمَّ الْوَهْمُ، وَهُوَ الْقِسْمُ السَّادِسُ... إِنِ اطُّلِعَ عَلَيْهِ؛ أَيْ عَلَى الْوَهْمِ بِالْقَرَائِنِ الدَّالَّةِ عَلَى وَهْمِ رَاوِيهِ مِنْ وَصْلِ مُرْسَلٍ أَوْ مُنْقَطِعٍ، أَوْ إِدْخَالِ حَدِيثٍ فِي حَدِيثٍ، أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ... فَهَذَا هُوَ الْمُعَلَّلُ، وَهُوَ مِنْ أَغْمَضِ أَنْوَاعِ عُلُومِ الْحَدِيثِ وَأَدَقِّهَا
"Kemudian al-wahm (dugaan keliru), yaitu bagian keenam — jika diketahui lewat qarinah-qarinah yang menunjukkan kekeliruan perawinya, seperti menyambungkan yang mursal atau munqathi', atau memasukkan satu hadits ke hadits lain, atau semacamnya — inilah al-mu'allal, dan ia termasuk jenis ilmu hadits paling samar dan paling teliti."1
Ibnu Hajar menegaskan bahwa 'ilal (cacat tersembunyi) hanya bisa dideteksi lewat penelusuran seluruh jalur hadits secara luas dan mendalam — bukan sekadar melihat satu sanad saja. Karena kerumitannya, hanya sedikit ulama yang benar-benar menguasai bidang ini: Ali bin Al-Madini, Ahmad bin Hanbal, Al-Bukhari, Ya'qub bin Abi Syaibah, Abu Hatim, Abu Zur'ah, dan Ad-Daraquthni. Bahkan menurut Ibnu Hajar, kadang ungkapan seorang ahli 'ilal terlalu ringkas untuk benar-benar membuktikan klaimnya secara terang — persis seperti tukang tukar uang (shairafi) yang menilai keaslian dinar-dirham lewat firasat mata terlatih, sulit dijelaskan lewat kata-kata kepada orang awam.
Tha'n Ketujuh: Al-Mukhalafah — Lima Bentuknya
Tha'n ketujuh adalah mukhalafah (penyelisihan) yang terjadi dalam berbagai bentuk berbeda. Ibnu Hajar merinci lima wujudnya:
Mudraj: Perubahan pada Susunan
ثُمَّ الْمُخَالَفَةُ... إِنْ كَانَتْ وَاقِعَةً بِسَبَبِ تَغْيِيرِ السِّيَاقِ؛ أَيْ سِيَاقِ الْإِسْنَادِ؛ فَالْوَاقِعُ فِيهِ ذَلِكَ التَّغْيِيرُ هُوَ مُدْرَجُ الْإِسْنَادِ
"Mukhalafah... jika terjadi karena perubahan susunan (siyaq) — susunan isnad — maka yang mengalami perubahan itu disebut mudraj al-isnad."2
Idraj (penyisipan) ada dalam sanad dan matan. Idraj sanad terjadi lewat empat pola: menggabungkan beberapa sanad berbeda jadi satu tanpa menjelaskan perbedaannya, menyambungkan bagian matan yang aslinya punya sanad terpisah, mencampur dua matan dengan dua sanad berbeda jadi satu riwayat, atau salah paham mengira perkataan pribadi si perawi (di tengah menyampaikan sanad) sebagai bagian dari matan hadits itu sendiri. Idraj matan terjadi ketika ada kalimat tambahan yang bukan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ikut tercampur ke dalam matan — paling sering di bagian akhir, lewat penggabungan kalimat perkataan sahabat/tabi'in (mauquf) dengan sabda Nabi (marfu') tanpa pemisah yang jelas.
Maqlub: Terbalik
أَوْ إِنْ كَانَتِ الْمُخَالَفَةُ بِتَقْدِيمٍ أَوْ تَأْخِيرٍ؛ أَيْ فِي الْأَسْمَاءِ كَمُرَّةَ بْنِ كَعْبٍ، وَكَعْبِ بْنِ مُرَّةَ؛ لِأَنَّ اسْمَ أَحَدِهِمَا اسْمُ أَبِي الْآخَرِ؛ فَهَذَا هُوَ الْمَقْلُوبُ
"Jika mukhalafah itu berupa pendahuluan atau pengakhiran — dalam nama-nama, seperti Murrah bin Ka'b dan Ka'b bin Murrah, karena nama salah satunya adalah nama ayah yang lain — maka inilah al-maqlub."3
Maqlub bisa terjadi di nama perawi (tertukar urutan nama dan nama ayahnya) maupun di matan sendiri — Ibnu Hajar memberi contoh hadits tujuh golongan yang dinaungi Allah di hari kiamat, yang salah satu poinnya di riwayat Muslim tertulis "seseorang yang bersedekah secara sembunyi sampai tangan kanannya tidak tahu apa yang diinfakkan tangan kirinya" — padahal aslinya (sesuai riwayat Shahihain lain) adalah sebaliknya: "tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan tangan kanannya".
Al-Mazid fi Muttashilil Asanid dan Al-Mudhtharib
Bentuk keempat mukhalafah adalah penambahan seorang perawi di tengah sanad oleh sebagian perawi yang kurang teliti dibanding perawi lain yang tidak menambahkannya (al-mazid fi muttashilil asanid). Bentuk kelima adalah al-mudhtharib:
أَوْ إِنْ كَانَتِ الْمُخَالَفَةُ بِإِبْدَالِهِ؛ أَيِ الرَّاوِي، وَلَا مُرَجِّحَ لِإِحْدَى الرِّوَايَتَيْنِ عَلَى الْأُخْرَى، فَهَذَا هُوَ الْمُضْطَرِبُ
"Jika mukhalafah itu berupa penggantian perawi (dalam sanad), dan tidak ada faktor pengunggul (murajjih) antara dua riwayatnya — maka inilah al-mudhtharib."4
Kata kuncinya "tidak ada murajjih" — kalau salah satu versi riwayat bisa dikuatkan/diunggulkan lewat cara apapun, itu bukan idhtirab, karena idhtirab khusus untuk kasus benar-benar buntu tidak bisa ditarjih. Ibnu Hajar mencatat idhtirab lebih sering terjadi di sanad dibanding matan, dan jarang sekali seorang muhaddits memvonis idhtirab hanya karena perbedaan matan saja tanpa perbedaan sanad.
Al-Mushahhaf dan Al-Muharraf
أَوْ إِنْ كَانَتِ الْمُخَالَفَةُ بِتَغْيِيرِ حَرْفٍ أَوْ حُرُوفٍ مَعَ بَقَاءِ صُورَةِ الْخَطِّ فِي السِّيَاقِ. فَإِنْ كَانَ ذَلِكَ بِالنِّسْبَةِ إِلَى النَّقْطِ؛ فَالْمُصَحَّفُ، وَإِنْ كَانَ بِالنِّسْبَةِ إِلَى الشَّكْلِ؛ فَالْمُحَرَّفُ
"Jika mukhalafah itu berupa perubahan satu huruf atau lebih, dengan bentuk tulisan (khath) tetap sama: jika perubahan itu pada titik (nuqthah)-nya, maka al-mushahhaf; jika pada harakat (syakl)-nya, maka al-muharraf."5
Mushahhaf dan muharraf paling sering terjadi pada matan, meski bisa juga muncul di nama-nama perawi dalam sanad. Ibnu Hajar mengingatkan: tidak boleh sengaja mengubah bentuk matan sedikitpun, tidak boleh meringkasnya (kecuali oleh orang yang benar-benar 'alim yang paham betul makna dan konsekuensinya), dan periwayatan bil ma'na (dengan makna, bukan lafazh persis) tetap diperselisihkan ulama — mayoritas membolehkannya dengan syarat ketat, tapi Al-Qadhi 'Iyadh menyarankan sebaiknya pintu itu ditutup saja, supaya orang yang tidak mumpuni tidak lancang menyalahgunakannya.
Dengan selesainya lima bentuk mukhalafah ini, bab berikutnya melanjutkan tiga tha'n terakhir: jahalah (ketidaktahuan atas identitas perawi), bid'ah, dan su'ul hifzh — yang membawa pada istilah mubham, majhul, mastur, dan mukhtalith.
Catatan & Referensi
Definisi al-wahm/mu'allal dikutip dari naskah Nuzhatun Nazhar di Wikisource Arab (ar.wikisource.org, entri "نزهة النظر في توضيح نخبة الفكر في مصطلح أهل الأثر").
↩Definisi mudraj isnad dan matan, beserta empat pola idraj isnad, dikutip dari naskah yang sama.
↩Definisi maqlub, contoh nama, dan contoh matan (hadits tujuh golongan) dikutip dari naskah yang sama.
↩Definisi al-mazid fi muttashilil asanid dan al-mudhtharib dikutip dari naskah yang sama.
↩Definisi al-mushahhaf dan al-muharraf, beserta catatan soal periwayatan bil ma'na, dikutip dari naskah yang sama.
↩