Bab lalu memaparkan sepuluh sebab Tha'n secara umum, dan merinci tiga sebab pertama: Maudhu', Matruk, dan Munkar — lihat Bab 8. Bab ini melanjutkan ke dua sebab berikutnya, yang paling banyak melahirkan istilah teknis: Wahm dan Mukhalafah.
Wahm: Kesalahan Tersembunyi yang Melahirkan Mu'allal
Mu'allal (juga disebut Ma'lul) adalah salah satu kategori paling sulit dalam ilmu hadits — hadits yang sanadnya tampak sempurna secara lahiriah (perawinya tsiqah, sanadnya bersambung), tapi ternyata menyimpan cacat tersembunyi ('illat) yang hanya bisa ditemukan lewat penelitian mendalam: membandingkan seluruh jalur periwayatan satu sama lain, memeriksa kemungkinan seorang perawi keliru menyebut nama gurunya, atau salah menyambungkan sebuah riwayat mursal menjadi seolah-olah muttashil. Karena butuh keahlian dan ketelitian luar biasa untuk menemukannya, kemampuan mendeteksi 'illat dianggap salah satu puncak keahlian dalam ilmu hadits — hanya dikuasai segelintir ulama besar seperti Imam Al-Bukhari, Ad-Daraquthni, dan Ibnu Hajar sendiri.
Mukhalafah: Ketika Riwayat Perawi Menyimpang dari yang Lebih Kuat
Sebab berikutnya, Mukhalafah (penyelisihan), terjadi ketika riwayat seorang perawi bertentangan dengan riwayat perawi lain yang lebih kuat/lebih terpercaya. Ibnu Hajar merinci mukhalafah ini menjadi lima bentuk, tergantung bagaimana bentuk penyimpangannya:
Mudraj: Ada Sisipan yang Tercampur
Mudraj (sisipan) terjadi ketika sesuatu yang bukan bagian asli dari sabda Nabi — misalnya penjelasan atau komentar dari perawi sendiri — tercampur dan disampaikan seolah-olah itu juga bagian dari matan hadits, tanpa ada pemisah yang jelas. Bentuk yang paling sering dibahas adalah Mudraj al-Matn (sisipan pada teks, seperti dijelaskan di matan ini: mencampurkan perkataan sahabat/mauquf ke dalam sabda Nabi/marfu'), meski ada juga bentuk Mudraj al-Isnad (sisipan pada sanad) yang dibahas ulama musthalah hadits lain secara lebih rinci.
Maqlub: Terbalik Urutannya
Maqlub (terbalik) terjadi ketika ada bagian dari sanad atau matan yang tertukar posisinya — misalnya, nama seorang perawi tertukar dengan perawi lain yang mirip namanya, atau urutan kalimat dalam matan terbalik sehingga mengubah makna.
Mazid fi Muttashil al-Asanid: Ada Tambahan Perawi
Kategori ini adalah kebalikan dari Saqth (yang dibahas di Bab 7) — kalau saqth adalah gugurnya perawi yang seharusnya ada, Al-Mazid fi Muttashil al-Asanid adalah munculnya perawi tambahan yang sebenarnya tidak pernah ada dalam sanad asli, biasanya karena kekeliruan sebagian perawi yang menyisipkan nama tambahan padahal sanad aslinya lebih pendek.
Mudhtharib: Simpang Siur Tanpa Bisa Diunggulkan
Mudhtharib (simpang siur/goncang) terjadi ketika sebuah hadits diriwayatkan dengan beberapa versi yang saling bertentangan — baik pada sanad maupun matan — dan tidak ada satu pun versi yang bisa diunggulkan di atas versi lainnya (tidak ada tarjih yang meyakinkan, berbeda dari kasus Mukhtalif al-Hadits di Bab 6 yang masih bisa dikompromikan). Ketidakpastian inilah yang membuat status hadits mudhtharib melemah — kalau semua versi setara kekuatannya namun saling bertentangan, tidak ada satu pun yang bisa dipastikan sebagai versi yang benar.
Mushahhaf dan Muharraf: Perubahan Kata/Harakat
Tashif dan tahrif sama-sama berarti perubahan kecil pada teks hadits yang membuat maknanya melenceng — tashif biasanya merujuk pada kekeliruan membaca tulisan tanpa titik/harakat (mengubah satu huruf jadi huruf lain yang mirip bentuk tulisannya), sementara tahrif lebih luas mencakup perubahan harakat/bunyi kata meski bentuk tulisannya sama. Keduanya sering terjadi bukan karena kesengajaan, melainkan karena kesalahan salin-menyalin naskah di masa sebelum percetakan, atau kesalahan dengar saat periwayatan lisan.
Menuju Bab Berikutnya
Dengan selesainya wahm dan lima bentuk mukhalafah, tinggal tiga sebab tha'n tersisa dari daftar sepuluh di Bab 8: jahalah (ketidakjelasan jati diri perawi), bid'ah, dan su'ul hifzh (buruknya hafalan) — masing-masing dibahas pada dua bab berikutnya.
Catatan & Referensi
Redaksi Arab dikutip dari naskah matan Nukhbatul Fikar yang sama dengan bab-bab sebelumnya (sumber Wikisource Arab, entri "نخبة الفكر في مصطلح أهل الأثر").
↩Sumber sama dengan catatan kaki 1.
↩Sumber sama dengan catatan kaki 1.
↩Sumber sama dengan catatan kaki 1.
↩Sumber sama dengan catatan kaki 1.
↩Sumber sama dengan catatan kaki 1.
↩