Istilah keempat dalam Al-Muqizhah ini termasuk yang paling jarang dibahas tersendiri di matn-matn musthalah hadits lain - kebanyakan kitab langsung meloncat dari dha'if ke maudhu' (hadits palsu). Adz-Dzahabi justru menyisipkan satu tingkatan lagi di antara keduanya: mathruh.
Pertama: Definisi Mathruh - Satu Tingkat di Bawah Dha'if
Definisi adz-Dzahabi untuk istilah ini singkat, hanya menyambung dari bab sebelumnya:
Kata mathruh sendiri berasal dari akar kata tharaha - melempar atau membuang. Secara bahasa, mathruh berarti "yang dilemparkan/dibuang" - menggambarkan riwayat yang derajatnya sudah begitu rendah sehingga para muhaddits nyaris tidak mempertimbangkannya sama sekali, jauh berbeda dengan dha'if kelas atas yang dibahas di bab sebelumnya (yang masih dipakai fuqaha dan penulis kitab Sunan).
Kedua: Di Mana Mathruh Biasa Ditemukan
Menariknya, adz-Dzahabi mencatat bahwa riwayat kelas mathruh ini tetap muncul dalam sebagian kitab hadits yang dianggap otoritatif - bahkan dalam Sunan Ibnu Majah dan Jami' Abi 'Isa (nama lain untuk Sunan at-Tirmidzi):
Beliau lalu memberi contoh nyata beberapa jalur sanad kelas mathruh: 'Amr bin Syamir dari Jabir al-Ju'fi dari Al-Harits dari 'Ali; Shadaqah ad-Daqiqi dari Farqad as-Sabakhi dari Murrah ath-Thayyib dari Abu Bakr; Juwaibir dari Adh-Dhahhak dari Ibnu 'Abbas; dan Hafsh bin 'Umar al-'Adani dari Al-Hakam bin Aban dari 'Ikrimah. Beliau menutup dengan catatan penting: "dan yang serupa itu dari kalangan matruk (rawi yang ditinggalkan) dan halka (rawi yang hancur reputasinya), sebagian lebih parah dari sebagian lain" - artinya, bahkan di dalam kelas mathruh ini sendiri masih ada gradasi keparahan.
Ketiga: Kenapa Kitab Otoritatif Bisa Memuat Riwayat Selemah Ini?
Fakta bahwa Sunan Ibnu Majah dan Jami' at-Tirmidzi memuat riwayat mathruh bukan berarti kedua kitab itu "cacat" - justru sebaliknya, ini menunjukkan disiplin ilmu para penyusunnya: mereka mencantumkan sanad lengkap setiap riwayat, sehingga pembaca yang memiliki kemampuan menilai sanad bisa mengetahui sendiri kelemahan sebuah riwayat, alih-alih diam-diam menyembunyikannya. Inilah salah satu alasan kenapa ilmu musthalah hadits - termasuk istilah-istilah bertingkat seperti mathruh ini - begitu penting dikuasai siapa pun yang ingin membaca kitab hadits klasik secara serius, bukan sekadar menghafal matan tanpa memeriksa sanadnya.
Bab berikutnya membahas istilah kelima, satu tingkat lebih parah lagi dari mathruh: hadits maudhu' - hadits yang dipalsukan.
Catatan & Referensi
Adz-Dzahabi, Al-Muqizhah fi 'Ilm Musthalah al-Hadits, tahqiq Abdul Fattah Abu Ghuddah (Halab: Maktabah al-Mathbu'at al-Islamiyyah, cet. ke-2, 1412 H), hlm. 13-14.
↩