Istilah keenam belas dalam Al-Muqizhah membahas satu jenis riwayat yang punya daya tarik tersendiri di kalangan pencari sanad - bukan karena kekuatannya, tapi karena keunikan pola periwayatannya: musalsal.
Definisi Musalsal
Kata musalsal berasal dari akar silsilah (rantai) - menggambarkan sanad yang setiap rawinya, secara berturut-turut, mengulang satu sifat/kondisi/ungkapan yang sama persis ketika meriwayatkan. Contoh yang disebut adz-Dzahabi: rangkaian sanad di mana SETIAP rawi, dari yang pertama sampai terakhir, sama-sama memakai kata "sami'tu" (aku mendengar) - bukan "haddatsana" atau lafal lain - menciptakan pola berantai yang konsisten dari ujung ke ujung.
Kualitas Musalsal - Sebagian Besar Lemah
Adz-Dzahabi memberi penilaian tegas soal kualitas riwayat-riwayat musalsal secara umum:
Beliau lalu mengecualikan empat jenis musalsal yang dinilai paling kuat di antara yang lain: musalsal dengan bacaan surat Ash-Shaff, musalsal dengan para rawi Damaskus, musalsal dengan para rawi Mesir, dan musalsal dengan nama "Muhammad" secara berturut-turut sampai kepada Ibnu Syihab (Az-Zuhri).
Kenapa Musalsal Tetap Diminati Meski Lemah
Meski sebagian besar musalsal tergolong lemah dari sisi kekuatan hujjah, tradisi mencari sanad musalsal tetap hidup di kalangan penuntut ilmu hadits sepanjang sejarah - bukan karena nilai hujjahnya, tapi karena nilai simbolisnya sebagai bentuk tabarruk (mengharap keberkahan) dan penghubung emosional dengan tradisi periwayatan itu sendiri. Salah satu musalsal paling populer yang masih diamalkan sampai sekarang adalah "musalsal bil-mahabbah" (rangkaian sanad para pecinta), di mana setiap guru mengatakan kepada muridnya bahwa gurunya sendiri berkata: "Aku mencintaimu karena Allah" - meneruskan tradisi kasih sayang guru-murid lintas generasi.
Untuk perbandingan definisi musalsal, lihat Al-Baiquniyyah bab 5, yang membahas contoh klasik musalsal secara lebih rinci. Bab berikutnya membahas istilah ketujuh belas: mu'an'an.
Catatan & Referensi
Adz-Dzahabi, Al-Muqizhah fi 'Ilm Musthalah al-Hadits, tahqiq Abdul Fattah Abu Ghuddah (Halab: Maktabah al-Mathbu'at al-Islamiyyah, cet. ke-2, 1412 H), hlm. 22.
↩