An-Naw' Ats-Tsani wa-Sittin: Ma'rifatu Man Ikhtalatha fi Akhiri 'Umrihi
إِمَّا الْخَوْفُ أَوْ ضَرَرٌ أَوْ مَرَضٌ أَوْ عَرَضٌ: كَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ لَهِيعَةَ، لَمَّا ذَهَبَتْ كُتُبُهُ اخْتَلَطَ فِي عَقْلِهِ، فَمَنْ سَمِعَ مِنْ هَؤُلَاءِ قَبْلَ اخْتِلَاطِهِمْ قُبِلَتْ رِوَايَتُهُمْ، وَمَنْ سَمِعَ بَعْدَ ذَلِكَ أَوْ شَكَّ فِي ذَلِكَ لَمْ تُقْبَلْ
"Sebab ikhtilath (perubahan/kekacauan hafalan di akhir usia) bisa berupa ketakutan, suatu musibah, penyakit, atau sebab tertentu lainnya - seperti 'Abdullah bin Lahi'ah, ketika kitab-kitabnya (naskah haditsnya) hilang terbakar, akalnya menjadi kacau. Maka siapa saja yang mendengar hadits dari perawi-perawi semacam ini sebelum mereka mengalami ikhtilath, riwayatnya diterima; dan siapa yang mendengar setelah itu, atau ragu-ragu tentangnya, tidak diterima."
وَمِمَّنِ اخْتَلَطَ بِأَخَرَةٍ: عَطَاءُ بْنُ السَّائِبِ، وَأَبُو إِسْحَاقَ السَّبِيعِيُّ، قَالَ الْحَافِظُ أَبُو يَعْلَى الْخَلِيلِيُّ: وَإِنَّمَا سَمِعَ ابْنُ عُيَيْنَةَ مِنْهُ بَعْدَ ذَلِكَ. وَسَعِيدُ بْنُ أَبِي عَرُوبَةَ، وَكَانَ سَمَاعُ وَكِيعٍ وَالْمُعَافَى بْنِ عِمْرَانَ مِنْهُ بَعْدَ اخْتِلَاطِهِ. وَالْمَسْعُودِيُّ، وَرَبِيعَةُ، وَصَالِحٌ مَوْلَى التَّوْأَمَةِ، وَحُصَيْنُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، قَالَهُ النَّسَائِيُّ. وَسُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ قَبْلَ مَوْتِهِ بِسَنَتَيْنِ، قَالَهُ يَحْيَى الْقَطَّانُ. وَعَبْدُ الْوَهَّابِ الثَّقَفِيُّ، قَالَهُ ابْنُ مَعِينٍ. وَعَبْدُ الرَّزَّاقِ بْنُ هَمَّامٍ، قَالَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ: اخْتَلَطَ بَعْدَمَا عَمِيَ، فَكَانَ يُلَقَّنُ، فَيَتَلَقَّنُ فَمَنْ سَمِعَ مِنْهُ بَعْدَمَا عَمِيَ فَلَا شَيْءَ
"Di antara perawi yang mengalami ikhtilath di akhir usianya: 'Atha' bin As-Sa'ib dan Abu Ishaq As-Sabi'i - Al-Hafizh Abu Ya'la Al-Khalili berkata: Ibnu 'Uyainah mendengar hadits darinya (Abu Ishaq) hanya setelah ikhtilathnya. Sa'id bin Abi 'Arubah, dan Waki' serta Al-Mu'afa bin 'Imran mendengar darinya setelah ikhtilathnya. Al-Mas'udi, Rabi'ah, Shalih maula At-Tau'amah, dan Hushain bin 'Abdirrahman - demikian dikatakan An-Nasa'i. Sufyan bin 'Uyainah (ikhtilath) dua tahun sebelum wafatnya, demikian dikatakan Yahya Al-Qaththan. 'Abdul Wahhab Ats-Tsaqafi, demikian dikatakan Ibnu Ma'in. Dan 'Abdurrazzaq bin Hammam - Ahmad bin Hanbal berkata: ia mengalami ikhtilath setelah menjadi buta, sehingga ia biasa dituntun (dibisikkan) lalu ia mengikutinya - maka siapa saja yang mendengar darinya setelah ia buta, riwayatnya tidak bernilai apa pun."
قَالَ ابْنُ الصَّلَاحِ: وَقَدْ وَجَدْتُ فِيمَا رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ الدَّبَرِيِّ عَنْ عَبْدِ الرَّزَّاقِ أَحَادِيثَ مُنْكَرَةً، فَلَعَلَّ سَمَاعَهُ كَانَ مِنْهُ بَعْدَ اخْتِلَاطِهِ. وَذَكَرَ إِبْرَاهِيمُ الْحَرْبِيُّ أَنَّ الدَّبَرِيَّ كَانَ عُمُرُهُ حِينَ مَاتَ عَبْدُ الرَّزَّاقِ سِتَّ أَوْ سَبْعَ سِنِينَ. وَعَارِمٌ اخْتَلَطَ بِأَخَرَةٍ
"Ibnu Shalah berkata: Aku telah menemukan dalam riwayat yang dibawakan Ath-Thabarani, dari Ishaq bin Ibrahim Ad-Dabari, dari 'Abdurrazzaq, beberapa hadits yang munkar - barangkali sama'nya (Ad-Dabari) darinya (dari 'Abdurrazzaq) terjadi setelah ikhtilathnya. Ibrahim Al-Harbi menyebutkan bahwa usia Ad-Dabari saat 'Abdurrazzaq wafat adalah enam atau tujuh tahun (sehingga sama'nya diragukan). 'Arim juga mengalami ikhtilath di akhir usianya."
وَمِمَّنِ اخْتَلَطَ مِمَّنْ بَعْدَ هَؤُلَاءِ أَبُو قِلَابَةَ الرَّقَاشِيُّ، وَأَبُو أَحْمَدَ الْغِطْرِيفِيُّ، وَأَبُو بَكْرِ بْنُ مَالِكٍ الْقَطِيعِيُّ، خَرِفَ حَتَّى كَانَ لَا يَدْرِي مَا يَقْرَأُ
"Di antara perawi yang mengalami ikhtilath dari generasi sesudah mereka: Abu Qilabah Ar-Raqasyi, Abu Ahmad Al-Ghithrifi, dan Abu Bakr Ibnu Malik Al-Qathi'i - ia mengalami kepikunan hingga tidak lagi mengerti apa yang ia bacakan."