An-Naw' Al-Khamis wal-'Isyrun: Kitabatul Hadits wa Dhabtuhu wa Taqyiduhu
قَدْ وَرَدَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ مَرْفُوعًا: " مَنْ كَتَبَ عَنِّي شَيْئًا سِوَى الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ "
"Telah diriwayatkan dalam Shahih Muslim, dari Abu Sa'id secara marfu': 'Barangsiapa menulis dariku sesuatu selain Al-Qur'an, hendaklah ia menghapusnya.'"
قَالَ ابْنُ الصَّلَاحِ: وَمِمَّنْ رَوَيْنَا عَنْهُ كَرَاهَةَ ذَلِكَ: عُمَرُ، وَابْنُ مَسْعُودٍ، وَزَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ، وَأَبُو مُوسَى، وَأَبُو سَعِيدٍ، فِي جَمَاعَةٍ آخَرِينَ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ
"Ibnu Shalah berkata: Di antara yang diriwayatkan darinya kebencian terhadap penulisan hadits adalah: 'Umar, Ibnu Mas'ud, Zaid bin Tsabit, Abu Musa, dan Abu Sa'id, beserta sekelompok sahabat dan tabi'in lainnya."
قَالَ: وَمِمَّنْ رَوَيْنَا عَنْهُ إِبَاحَةَ ذَلِكَ أَوْ فِعْلَهُ: عَلِيٌّ، وَابْنُهُ الْحَسَنُ، وَأَنَسٌ، وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ، فِي جَمْعٍ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ
"Beliau berkata: Di antara yang diriwayatkan darinya kebolehan atau praktik menulis hadits adalah: 'Ali, putranya Al-Hasan, Anas, dan 'Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash, beserta sejumlah sahabat dan tabi'in lainnya."
" قُلْتُ ": وَثَبَتَ فِي الصَّحِيحَيْنِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " اكْتُبُوا لِأَبِي شَاهٍ " وَقَدْ تُحُرِّرَ هَذَا الْفَصْلُ فِي أَوَائِلِ كِتَابِنَا الْمُقَدِّمَاتِ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
"Aku (Ibnu Katsir) berkata: Telah tetap dalam Ash-Shahihain bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Tuliskanlah untuk Abu Syah.' Pembahasan ini telah kami uraikan secara mendalam di awal kitab kami, Al-Muqaddimat, walillahil hamd."
قَالَ الْبَيْهَقِيُّ وَابْنُ الصَّلَاحِ وَغَيْرُ وَاحِدٍ: لَعَلَّ النَّهْيَ عَنْ ذَلِكَ كَانَ حِينَ يُخَافُ الْتِبَاسُهُ بِالْقُرْآنِ، وَالْإِذْنُ فِيهِ حِينَ أُمِنَ ذَلِكَ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ
"Al-Baihaqi, Ibnu Shalah, dan lebih dari seorang ulama berkata: Barangkali larangan menulis hadits itu berlaku pada saat dikhawatirkan tercampurnya dengan Al-Qur'an, sedangkan izin untuk menulisnya berlaku setelah kekhawatiran itu telah aman. Wallahu a'lam."
وَقَدْ حُكِيَ إِجْمَاعُ الْعُلَمَاءِ فِي الْأَعْصَارِ الْمُتَأَخِّرَةِ عَلَى تَسْوِيغِ كِتَابَةِ الْحَدِيثِ وَهَذَا أَمْرٌ مُسْتَفِيضٌ، شَائِعٌ ذَائِعٌ، مِنْ غَيْرِ نَكِيرٍ
"Telah dinukilkan ijma' para ulama pada masa-masa belakangan atas bolehnya menulis hadits, dan ini adalah perkara yang mustafidh (banyak diriwayatkan), masyhur, dan tersebar luas, tanpa ada pengingkaran."
Adab dan Kaidah Menulis Hadits
فَإِذَا تَقَرَّرَ هَذَا، فَيَنْبَغِي لِكَاتِبِ الْحَدِيثِ - أَوْ غَيْرِهِ مِنَ الْعُلُومِ - أَنْ يَضْبِطَ مَا يُشْكِلُ مِنْهُ، أَوْ قَدْ يُشْكِلُ عَلَى بَعْضِ الطَّلَبَةِ، فِي أَصْلِ الْكِتَابِ، نَقْطًا وَشَكْلًا وَإِعْرَابًا، عَلَى مَا هُوَ الْمُصْطَلَحُ عَلَيْهِ بَيْنَ النَّاسِ، وَلَوْ قُيِّدَ فِي الْحَاشِيَةِ لَكَانَ حَسَنًا
"Jika hal ini telah tetap, maka sepatutnya bagi penulis hadits - atau penulis ilmu-ilmu lainnya - untuk mencermati (dhabt) apa yang membingungkan darinya, atau yang mungkin membingungkan sebagian penuntut ilmu, di dalam naskah asli kitab, dengan pemberian titik, harakat, dan i'rab, sesuai dengan apa yang sudah menjadi kesepakatan di kalangan manusia. Jika dicatat pula di catatan pinggir (hasyiyah), itu lebih baik."
وَيَنْبَغِي تَوْضِيحُهُ. وَيُكْرَهُ التَّدْقِيقُ وَالتَّعْلِيقُ فِي الْكِتَابِ لِغَيْرِ عُذْرٍ. قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ لِابْنِ عَمِّهِ حَنْبَلٍ - وَقَدْ رَآهُ يَكْتُبُ دَقِيقًا -: لَا تَفْعَلْ، فَإِنَّهُ يَخُونُكَ أَحْوَجَ مَا تَكُونُ إِلَيْهِ
"Dan sepatutnya (tulisannya) dijelaskan. Dibenci menulis dengan tulisan yang terlalu kecil dan rapat dalam kitab tanpa ada uzur. Al-Imam Ahmad pernah berkata kepada anak pamannya, Hanbal - saat beliau melihatnya menulis dengan tulisan yang sangat kecil -: 'Jangan lakukan itu, sebab tulisan itu akan mengkhianatimu justru pada saat engkau paling membutuhkannya.'"
قَالَ ابْنُ الصَّلَاحِ: وَيَنْبَغِي أَنْ يُجْعَلَ بَيْنَ كُلِّ حَدِيثَيْنِ دَائِرَةً. وَمِمَّنْ بَلَغَنَا عَنْهُ ذَلِكَ: أَبُو الزِّنَادِ، وَأَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ، وَإِبْرَاهِيمُ الْحَرْبِيُّ، وَابْنُ جَرِيرٍ الطَّبَرِيُّ
"Ibnu Shalah berkata: Sepatutnya dibuat sebuah lingkaran kecil (da'irah) di antara setiap dua hadits (sebagai pemisah). Di antara yang telah sampai kepada kami tentang kebiasaan ini adalah: Abuz-Zinad, Ahmad bin Hanbal, Ibrahim Al-Harbi, dan Ibnu Jarir Ath-Thabari."
" قُلْتُ ": قَدْ رَأَيْتُهُ فِي خَطِّ الْإِمَامِ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى
"Aku (Ibnu Katsir) berkata: Aku sendiri telah melihat hal itu (lingkaran pemisah tersebut) dalam tulisan tangan Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullahu ta'ala."
قَالَ الْخَطِيبُ الْبَغْدَادِيُّ: وَيَنْبَغِي أَنْ يُتْرَكَ الدَّائِرَةَ غُفْلًا، فَإِذَا قَابَلَهَا نُقِطَ فِيهَا نُقْطَةٌ
"Al-Khathib Al-Baghdadi berkata: Sepatutnya lingkaran itu dibiarkan kosong (tanpa titik), lalu jika seseorang telah mencocokkan (muqabalah) bacaannya dengan naskah asli, barulah diberi sebuah titik di dalamnya."
قَالَ ابْنُ الصَّلَاحِ: وَيُكْرَهُ أَنْ يَكْتُبَ " عَبْدَ اللَّهِ بْنَ فُلَانٍ " فَيَجْعَلَ " عَبْدَ " آخِرَ سَطْرٍ وَالْجَلَالَةَ فِي أَوَّلِ سَطْرٍ، بَلْ يَكْتُبَهُمَا فِي سَطْرٍ وَاحِدٍ
"Ibnu Shalah berkata: Dibenci menuliskan ''Abdullah bin Fulan' dengan menempatkan kata ''Abdu' di akhir baris dan lafal jalalah (Allah) di awal baris berikutnya - melainkan hendaklah keduanya dituliskan dalam satu baris yang sama."
قَالَ: وَلْيُحَافِظْ عَلَى الثَّنَاءِ عَلَى اللَّهِ، وَالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى رَسُولِهِ، وَإِنْ تَكَرَّرَ فَلَا يَسْأَمْ، فَإِنَّ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا. قَالَ: وَمَا وُجِدَ مِنْ خَطِّ الْإِمَامِ أَحْمَدَ مِنْ غَيْرِ صَلَاةٍ فَمَحْمُولٌ عَلَى أَنَّهُ أَرَادَ الرِّوَايَةَ. قَالَ الْخَطِيبُ: وَبَلَغَنِي أَنَّهُ كَانَ يُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نُطْقًا لَا خَطًّا
"Beliau berkata: Hendaklah seseorang senantiasa menjaga pujian kepada Allah, serta shalawat dan salam kepada Rasul-Nya (setiap kali nama beliau disebut dalam tulisan), dan jika hal itu berulang-ulang, janganlah ia bosan, karena di dalamnya terdapat kebaikan yang banyak. Beliau berkata: Apa yang dijumpai dari tulisan tangan Al-Imam Ahmad tanpa disertai shalawat, itu dipahami bahwa beliau bermaksud (menuliskannya sebagai) periwayatan (teks asli, bukan lalai). Al-Khathib berkata: Telah sampai kepadaku bahwa beliau dahulu tetap bershalawat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam secara lisan, meski tidak dituliskan."
قَالَ ابْنُ الصَّلَاحِ: وَلْيَكْتُبِ الصَّلَاةَ وَالتَّسْلِيمَ مُجَلَّةً لَا رَمْزًا. قَالَ وَلَا يَقْتَصِرْ عَلَى قَوْلِهِ " عَلَيْهِ السَّلَامُ "، يَعْنِي: وَلْيَكْتُبْ " صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ " وَاضِحَةً كَامِلَةً
"Ibnu Shalah berkata: Hendaklah shalawat dan salam dituliskan secara lengkap, bukan dengan simbol singkatan. Beliau berkata: Dan janganlah seseorang mencukupkan diri dengan ucapan 'alaihis salam' saja - maksudnya: hendaklah ia menuliskan 'shallallahu 'alaihi wasallam' secara jelas dan lengkap."
قَالَ: وَلْيُقَابِلْ أَصْلَهُ بِأَصْلٍ مُعْتَمَدٍ، وَمَعَ نَفْسِهِ أَوْ غَيْرِهِ مِنْ مَوْثُوقٍ بِهِ ضَابِطٍ. قَالَ: وَمِنَ النَّاسِ مَنْ شَدَّدَ وَقَالَ: لَا يُقَابِلُ إِلَّا مَعَ نَفْسِهِ. قَالَ: وَهَذَا مَرْفُوضٌ مَرْدُودٌ
"Beliau berkata: Hendaklah seseorang mencocokkan (muqabalah) naskahnya dengan naskah asli yang terpercaya, baik dengan dirinya sendiri (membandingkan langsung dengan sumbernya) atau dengan orang lain yang terpercaya dan cermat. Beliau berkata: Sebagian orang bersikap keras dan berkata: Tidak boleh melakukan muqabalah kecuali dengan dirinya sendiri (harus mendengar langsung dari sumbernya). Beliau berkata: Pendapat ini ditolak dan tidak diterima."
وَقَدْ تَكَلَّمَ الشَّيْخُ أَبُو عَمْرٍو عَلَى مَا يَتَعَلَّقُ بِالتَّخْرِيجِ وَالتَّضْبِيبِ وَالتَّصْحِيحِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الِاصْطِلَاحَاتِ الْمُطَّرِدَةِ وَالْخَاصَّةِ: مَا أَطَالَ الْكَلَامَ فِيهِ جِدًّا
"Asy-Syaikh Abu 'Amr (Ibnu Shalah) telah membicarakan panjang lebar berbagai hal yang berkaitan dengan takhrij (mencatat asal riwayat), tadhbib (simbol tanda keraguan), tash-hih (koreksi/pembenaran), dan istilah-istilah baku maupun khusus lainnya - beliau memperpanjang pembicaraan tentang hal itu dengan sangat luas."
وَتَكَلَّمَ عَلَى كِتَابَةِ " ح " بَيْنَ الْإِسْنَادَيْنِ، وَأَنَّهَا " ح " مُهْمَلَةٌ، مِنَ التَّحْوِيلِ أَوِ الْحَائِلِ بَيْنَ الْإِسْنَادَيْنِ، أَوْ عِبَارَةٌ عَنْ قَوْلِهِ " الْحَدِيثَ "
"Beliau juga membicarakan tentang penulisan huruf 'ha' di antara dua sanad (perpindahan sanad), dan bahwa huruf itu adalah 'ha' yang tidak bertitik (muhmalah), diambil dari kata At-Tahwil (perpindahan) atau Al-Ha'il (pemisah) di antara dua sanad, atau merupakan singkatan dari ucapan 'Al-Hadits'."
" قُلْتُ ": وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَوَهَّمُ أَنَّهَا " خَاءٌ " مُعْجَمَةٌ، أَيْ إِسْنَادٌ آخَرُ. وَالْمَشْهُورُ الْأَوَّلُ، وَحَكَى بَعْضُهُمُ الْإِجْمَاعَ عَلَيْهِ
"Aku (Ibnu Katsir) berkata: Sebagian orang keliru mengira bahwa huruf itu adalah 'kha' yang bertitik, yang berarti 'sanad lain'. Namun yang masyhur adalah pendapat pertama (huruf 'ha' yang tidak bertitik), dan sebagian ulama bahkan menukilkan ijma' atas hal itu."