Ikhtishar 'Ulumil Hadits Bab 25: Sama' dan Tahammul Hadits

An-Naw' Ar-Rabi' wal-'Isyrun: Kaifiyyatu Sama'il Hadits wa Tahammulihi wa Dhabtihi

يَصِحُّ تَحَمُّلُ الصِّغَارِ الشَّهَادَةَ وَالْأَخْبَارَ، وَكَذَلِكَ الْكُفَّارُ إِذَا أَدَّوْا مَا حَمَلُوهُ فِي حَالِ كَمَالِهِمْ، وَهُوَ الِاحْتِلَامُ وَالْإِسْلَامُ

"Sah bagi anak kecil untuk memikul (tahammul) kesaksian dan berita, begitu pula orang kafir - selama keduanya kelak menyampaikan apa yang mereka pikul itu pada saat mereka telah sempurna (syaratnya), yaitu setelah baligh (ihtilam) dan masuk Islam."

وَيَنْبَغِي الْمُبَادَرَةُ إِلَى إِسْمَاعِ الْوِلْدَانِ الْحَدِيثَ النَّبَوِيَّ. وَالْعَادَةُ الْمُطَّرِدَةُ فِي أَهْلِ هَذِهِ الْأَعْصَارِ وَمَا قَبْلَهَا بِمُدَدٍ مُتَطَاوِلَةٍ: أَنَّ الصَّغِيرَ يُكْتَبُ لَهُ حُضُورٌ إِلَى تَمَامِ خَمْسِ سِنِينَ مِنْ عُمُرِهِ، ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ يُسَمَّى سَمَاعًا، وَاسْتَأْنَسُوا فِي ذَلِكَ بِحَدِيثِ مَحْمُودِ بْنِ الرَّبِيعِ: أَنَّهُ عَقَلَ مَجَّةً مَجَّهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي وَجْهِهِ مِنْ دَلْوٍ فِي دَارِهِمْ وَهُوَ ابْنُ خَمْسِ سِنِينَ. وَرَوَاهُ الْبُخَارِيُّ. فَجَعَلُوهُ فَرْقًا بَيْنَ السَّمَاعِ وَالْحُضُورِ، وَفِي رِوَايَةٍ: وَهُوَ ابْنُ أَرْبَعِ سِنِينَ. وَضَبَطَهُ بَعْضُ الْحُفَّاظِ بِسِنِّ التَّمْيِيزِ. وَقَالَ بَعْضُهُمْ: أَنْ يُفَرِّقَ بَيْنَ الدَّابَّةِ وَالْحِمَارِ. وَقَالَ بَعْضُ النَّاسِ: لَا يَنْبَغِي السَّمَاعُ إِلَّا بَعْدَ الْعِشْرِينَ سَنَةً. وَقَالَ بَعْضٌ: عَشْرٌ. وَقَالَ آخَرُونَ: ثَلَاثُونَ. وَالْمَدَارُ فِي ذَلِكَ كُلِّهِ عَلَى التَّمْيِيزِ، فَمَتَى كَانَ الصَّبِيُّ يَعْقِلُ كُتِبَ لَهُ سَمَاعٌ

"Sepatutnya bersegera memperdengarkan hadits Nabi kepada anak-anak kecil. Kebiasaan yang berlaku di kalangan penduduk zaman ini dan zaman-zaman sebelumnya sejak masa yang panjang: bahwa anak kecil dicatat sebagai 'hadir' (hudhur) hingga genap lima tahun umurnya, kemudian setelah itu dinamakan 'mendengar' (sama'). Mereka berdalil dengan hadits Mahmud bin Rabi': bahwa ia mengingat sebuah majjah (semburan air) yang disemburkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ke wajahnya dari sebuah timba di rumah mereka, saat ia berusia lima tahun - diriwayatkan Al-Bukhari. Mereka menjadikan hadits ini sebagai pembeda antara sama' dan hudhur. Dalam satu riwayat disebutkan: saat ia berusia empat tahun. Sebagian huffazh membatasinya dengan usia tamyiz (mampu membedakan). Sebagian lain berkata: yaitu mampu membedakan antara kendaraan dan keledai. Sebagian orang berkata: sama' tidak sepatutnya kecuali setelah usia dua puluh tahun. Sebagian berkata: sepuluh tahun. Yang lain berkata: tiga puluh tahun. Namun patokan dalam semua ini adalah kemampuan tamyiz - kapan pun seorang anak sudah mampu berakal (memahami), maka dicatatlah baginya sama'."

قَالَ الشَّيْخُ أَبُو عَمْرٍو: وَبَلَغَنَا عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعِيدٍ الْجَوْهَرِيِّ أَنَّهُ قَالَ: رَأَيْتُ صَبِيًّا ابْنَ أَرْبَعِ سِنِينَ قَدْ حُمِلَ إِلَى الْمَأْمُونِ قَدْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَنَظَرَ فِي الرَّأْيِ، غَيْرَ أَنَّهُ إِذَا جَاعَ يَبْكِي

"Asy-Syaikh Abu 'Amr berkata: Telah sampai kepada kami dari Ibrahim bin Sa'id Al-Jauhari, bahwa ia berkata: 'Aku pernah melihat seorang anak berusia empat tahun dibawa menghadap Al-Ma'mun, ia telah membaca Al-Qur'an dan menelaah ilmu ra'yi (fiqih), hanya saja jika ia lapar, ia menangis.'"

Delapan Cara Tahammul Hadits

وَأَنْوَاعُ تَحَمُّلِ الْحَدِيثِ ثَمَانِيَةٌ: [الْقِسْمُ الْأَوَّلُ] السَّمَاعُ

"Cara-cara tahammul (memikul/menerima) hadits ada delapan macam: Bagian Pertama: As-Sama' (mendengar langsung)."

وَتَارَةً يَكُونُ مِنْ لَفْظِ الْمُسْمِعِ حِفْظًا، أَوْ مِنْ كِتَابٍ. قَالَ الْقَاضِي عِيَاضٌ: فَلَا خِلَافَ حِينَئِذٍ أَنْ يَقُولَ السَّامِعُ: " حَدَّثَنَا " أَوْ " أَخْبَرَنَا "، وَ " أَنْبَأَنَا ": وَ " سَمِعْتُ "، وَ " قَالَ لَنَا "، وَ " ذَكَرَ لَنَا فُلَانٌ "

"Terkadang sama' itu berasal dari lafal orang yang memperdengarkan hadits dari hafalannya, atau dari sebuah kitab. Al-Qadhi 'Iyadh berkata: Maka tidak ada perselisihan ketika itu bahwa orang yang mendengar boleh berkata: 'haddatsana (telah menceritakan kepada kami)', atau 'akhbarana (telah mengabarkan kepada kami)', dan 'anba'ana (telah memberitakan kepada kami)', 'sami'tu (aku mendengar)', 'qala lana (ia berkata kepada kami)', dan 'dzakara lana fulan (fulan menyebutkan kepada kami)'."

وَقَالَ الْخَطِيبُ: أَرْفَعُ الْعِبَارَاتِ " سَمِعْتُ " ثُمَّ " حَدَّثَنَا "، وَ " حَدَّثَنِي "، " قَالَ ": وَقَدْ كَانَ جَمَاعَةٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ لَا يَكَادُونَ يُخْبِرُونَ عَمَّا سَمِعُوهُ مِنَ الشَّيْخِ إِلَّا بِقَوْلِهِمْ " أَخْبَرَنَا "، وَمِنْهُمْ حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، وَابْنُ الْمُبَارَكِ، وَهُشَيْمُ بْنُ بَشِيرٍ، وَيَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، وَعَبْدُ الرَّزَّاقِ، وَيَحْيَى بْنُ يَحْيَى التَّمِيمِيُّ، وَإِسْحَاقُ بْنُ رَاهَوَيْهِ، وَآخَرُونَ كَثِيرُونَ

"Al-Khathib berkata: Ungkapan yang paling tinggi adalah 'sami'tu', kemudian 'haddatsana' dan 'haddatsani'. Beliau berkata: Dahulu ada sekelompok ahli ilmu yang hampir tidak pernah mengabarkan apa yang mereka dengar dari gurunya kecuali dengan ungkapan 'akhbarana' - di antara mereka adalah Hammad bin Salamah, Ibnul Mubarak, Husyaim bin Basyir, Yazid bin Harun, 'Abdurrazzaq, Yahya bin Yahya At-Tamimi, Ishaq bin Rahawaih, dan banyak lagi yang lainnya."

قَالَ ابْنُ الصَّلَاحِ: وَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ " حَدَّثَنَا " وَ " أَخْبَرَنَا " أَعْلَى مِنْ " سَمِعْتُ "، لِأَنَّهُ قَدْ لَا يَقْصِدُهُ بِالْإِسْمَاعِ، بِخِلَافِ ذَلِكَ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ. " حَاشِيَةٌ " قُلْتُ: بَلِ الَّذِي يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ أَعْلَى الْعِبَارَاتِ عَلَى هَذَا أَنْ يَقُولَ: " حَدَّثَنِي "، فَإِنَّهُ إِذَا قَالَ " حَدَّثَنَا " أَوْ " أَخْبَرَنَا "، قَدْ لَا يَكُونُ قَصَدَهُ الشَّيْخُ بِذَلِكَ أَيْضًا، لِاحْتِمَالِ أَنْ يَكُونَ فِي جَمْعٍ كَثِيرٍ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ

"Ibnu Shalah berkata: Sepatutnya 'haddatsana' dan 'akhbarana' berada di atas 'sami'tu', karena bisa jadi sang guru tidak secara khusus menujukan pengajaran itu kepada orang tersebut, berbeda dengan 'sami'tu'. Wallahu a'lam. Catatan tambahan - aku (Ibnu Katsir) berkata: Bahkan yang sepatutnya menjadi ungkapan tertinggi menurut logika ini adalah 'haddatsani (menceritakan kepadaKU secara khusus)', sebab jika ia berkata 'haddatsana' atau 'akhbarana', bisa jadi sang guru pun tidak secara khusus menujukannya kepada orang itu, karena kemungkinan ia berada dalam kumpulan orang banyak. Wallahu a'lam."

[الْقِسْمُ الثَّانِي] الْقِرَاءَةُ عَلَى الشَّيْخِ حِفْظًا أَوْ مِنْ كِتَابٍ

"Bagian Kedua: Al-Qira'ah 'alasy-Syaikh (membacakan hadits di hadapan sang guru), baik dari hafalan maupun dari sebuah kitab."

وَهُوَ " الْعَرْضُ " عِنْدَ الْجُمْهُورِ. وَالرِّوَايَةُ بِهَا سَائِغَةٌ عِنْدَ الْعُلَمَاءِ، إِلَّا عِنْدَ شُذَّاذٍ لَا يُعْتَمَدُ بِخِلَافِهِمْ. وَمُسْتَنَدُ الْعُلَمَاءِ حَدِيثُ ضِمَامِ بْنِ ثَعْلَبَةَ، وَهُوَ فِي الصَّحِيحِ. وَهِيَ دُونَ السَّمَاعِ مِنْ لَفْظِ الشَّيْخِ. وَعَنْ مَالِكٍ وَأَبِي حَنِيفَةَ وَابْنِ أَبِي ذِئْبٍ: أَنَّهَا أَقْوَى. وَقِيلَ: هُمَا سَوَاءٌ، وَيُعْزَى ذَلِكَ إِلَى أَهْلِ الْحِجَازِ وَالْكُوفَةِ، وَإِلَى مَالِكٍ أَيْضًا وَأَشْيَاخِهِ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ، وَإِلَى اخْتِيَارِ الْبُخَارِيِّ. وَالصَّحِيحُ الْأَوَّلُ، وَعَلَيْهِ عُلَمَاءُ الْمَشْرِقِ

"Cara ini disebut 'al-'Ardh' (penyodoran/pembacaan) menurut jumhur ulama. Periwayatan dengannya dibolehkan menurut para ulama, kecuali menurut segelintir yang menyimpang, yang perselisihan mereka tidak dapat dijadikan pegangan. Sandaran para ulama adalah hadits Dhimam bin Tsa'labah, yang terdapat dalam Ash-Shahih. Cara ini berada di bawah sama' dari lafal langsung sang guru. Dari Malik, Abu Hanifah, dan Ibnu Abi Dzi'b: bahwa cara ini justru lebih kuat. Ada pula pendapat yang mengatakan keduanya sama derajatnya - pendapat ini dinisbatkan kepada penduduk Hijaz dan Kufah, juga kepada Malik dan para gurunya dari penduduk Madinah, serta menjadi pilihan Al-Bukhari. Yang shahih adalah pendapat pertama (sama' dari lafal guru lebih tinggi), dan inilah pegangan para ulama wilayah timur."

فَإِذَا حَدَّثَ بِهَا يَقُولُ " قَرَأْتُ " أَوْ " قُرِئَ عَلَى فُلَانٍ وَأَنَا أَسْمَعُ فَأَقَرَّ بِهِ " أَوْ " أَخْبَرَنَا " أَوْ " حَدَّثَنَا قِرَاءَةً عَلَيْهِ ". وَهَذَا وَاضِحٌ، فَإِنْ أَطْلَقَ ذَلِكَ جَازَ عِنْدَ مَالِكٍ، وَالْبُخَارِيِّ، وَيَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ الْقَطَّانِ، وَالزُّهْرِيِّ، وَسُفْيَانَ بْنِ عُيَيْنَةَ، وَمُعْظَمِ الْحِجَازِيِّينَ وَالْكُوفِيِّينَ، حَتَّى إِنَّ مِنْهُمْ مَنْ سَوَّغَ " سَمِعْتُ " أَيْضًا، وَمَنَعَ مِنْ ذَلِكَ أَحْمَدُ، وَالنَّسَائِيُّ، وَابْنُ الْمُبَارَكِ، وَيَحْيَى بْنُ يَحْيَى التَّمِيمِيُّ

"Apabila seseorang meriwayatkan hadits dengan cara ini, ia berkata: 'qara'tu (aku membacakan)', atau 'quri'a 'ala fulan wa ana asma' fa aqarra bihi (dibacakan kepada fulan sedang aku mendengarkan, lalu ia menyetujuinya)', atau 'akhbarana', atau 'haddatsana qira'atan 'alaih (menceritakan kepada kami dengan cara dibacakan di hadapannya)'. Ini semua sudah jelas. Adapun jika ia mengucapkannya secara mutlak (tanpa qayyid, seperti langsung 'haddatsana' saja), maka itu dibolehkan menurut Malik, Al-Bukhari, Yahya bin Sa'id Al-Qaththan, Az-Zuhri, Sufyan bin 'Uyainah, dan mayoritas penduduk Hijaz dan Kufah - bahkan sebagian dari mereka membolehkan pula ungkapan 'sami'tu'. Sedangkan Ahmad, An-Nasa'i, Ibnul Mubarak, dan Yahya bin Yahya At-Tamimi melarang hal itu."

وَالثَّالِثُ أَنْ يَجُوزَ " أَخْبَرَنَا " وَلَا يَجُوزُ " حَدَّثَنَا " وَبِهِ قَالَ الشَّافِعِيُّ، وَمُسْلِمٌ، وَالنَّسَائِيُّ أَيْضًا، وَجُمْهُورُ الْمَشَارِقَةِ، بَلْ نُقِلَ ذَلِكَ عَنْ أَكْثَرِ الْمُحَدِّثِينَ. وَقَدْ قِيلَ: إِنَّ أَوَّلَ مَنْ فَرَّقَ بَيْنَهُمَا ابْنُ وَهْبٍ. قَالَ الشَّيْخُ أَبُو عَمْرٍو وَقَدْ سَبَقَهُ إِلَى ذَلِكَ ابْنُ جُرَيْجٍ؛ وَالْأَوْزَاعِيُّ، قَالَ: وَهُوَ الشَّائِعُ الْغَالِبُ عَلَى أَهْلِ الْحَدِيثِ

"Pendapat ketiga: boleh mengucapkan 'akhbarana' namun tidak boleh 'haddatsana' (untuk cara qira'ah ini) - inilah pendapat Asy-Syafi'i, Muslim, An-Nasa'i juga, dan jumhur ulama wilayah timur, bahkan dinukil sebagai pendapat mayoritas ahli hadits. Dikatakan bahwa orang pertama yang membedakan antara keduanya adalah Ibnu Wahb. Asy-Syaikh Abu 'Amr berkata: sesungguhnya Ibnu Juraij dan Al-Auza'i telah mendahuluinya dalam hal itu. Beliau berkata: dan inilah yang masyhur dan dominan di kalangan ahli hadits."

Beberapa Cabang Persoalan Qira'ah

" فَرْعٌ ": إِذَا قَرَأَ عَلَى الشَّيْخِ مِنْ نُسْخَةٍ وَهُوَ يَحْفَظُ ذَلِكَ، فَجَيِّدٌ قَوِيٌّ، وَإِنْ لَمْ يَحْفَظْ وَالنُّسْخَةُ بِيَدِ مَوْثُوقٍ بِهِ، فَكَذَلِكَ، عَلَى الصَّحِيحِ الْمُخْتَارِ الرَّاجِحِ، وَمَنَعَ مِنْ ذَلِكَ مَانِعُونَ، وَهُوَ عَسِرٌ. فَإِنْ لَمْ تَكُنْ نُسْخَةٌ إِلَّا الَّتِي بِيَدِ الْقَارِئِ وَهُوَ مَوْثُوقٌ بِهِ فَصَحِيحٌ أَيْضًا

"Cabang persoalan: Apabila seseorang membacakan (hadits) di hadapan sang guru dari sebuah naskah, sedangkan ia (pembaca) juga hafal isinya, maka ini baik dan kuat. Jika ia tidak hafal, namun naskahnya berada di tangan orang yang terpercaya, maka demikian pula (tetap sah), menurut pendapat yang shahih, terpilih, dan lebih kuat. Sebagian ulama melarang hal ini, namun itu menyulitkan. Jika tidak ada naskah lain kecuali yang berada di tangan si pembaca, dan ia orang yang terpercaya, maka itu juga sah."

" فَرْعٌ ": وَلَا يُشْتَرَطُ أَنْ يُقِرَّ الشَّيْخُ بِمَا قُرِئَ عَلَيْهِ نُطْقًا، بَلْ يَكْفِي سُكُوتُهُ وَإِقْرَارُهُ عَلَيْهِ، عِنْدَ الْجُمْهُورِ. وَقَالَ آخَرُونَ مِنَ الظَّاهِرِيَّةِ وَغَيْرِهِمْ: لَا بُدَّ مِنِ اسْتِنْطَاقِهِ بِذَلِكَ، وَبِهِ قَطَعَ الشَّيْخُ أَبُو إِسْحَاقَ الشِّيرَازِيُّ، وَابْنُ الصَّبَّاغِ، وَسُلَيْمٌ الرَّازِيُّ. قَالَ ابْنُ الصَّبَّاغِ: إِنْ لَمْ يَتَلَفَّظْ لَمْ تَجُزِ الرِّوَايَةُ، وَيَجُوزُ الْعَمَلُ بِمَا سَمِعَ عَلَيْهِ

"Cabang persoalan: Tidak disyaratkan bahwa sang guru harus mengakui secara lisan apa yang dibacakan kepadanya, cukup dengan diamnya dan pengakuan diamnya itu, menurut jumhur ulama. Sebagian ulama Zhahiriyyah dan lainnya berkata: harus ada pernyataan lisan darinya. Pendapat ini ditetapkan tegas oleh Asy-Syaikh Abu Ishaq Asy-Syirazi, Ibnu Ash-Shabbagh, dan Sulaim Ar-Razi. Ibnu Ash-Shabbagh berkata: Jika ia tidak melafalkan (pengakuannya), maka periwayatan tidak boleh, namun boleh mengamalkan apa yang telah didengarnya darinya."

" فَرْعٌ ": قَالَ ابْنُ وَهْبٍ وَالْحَاكِمُ: يَقُولُ فِيمَا قُرِئَ عَلَى الشَّيْخِ وَهُوَ وَحْدَهُ: " حَدَّثَنِي "، فَإِنْ كَانَ مَعَهُ غَيْرُهُ: " حَدَّثَنَا "، وَفِيمَا قَرَأَهُ عَلَى الشَّيْخِ وَحْدَهُ: " أَخْبَرَنِي "، فَإِنْ قَرَأَهُ غَيْرُهُ: " أَخْبَرَنَا ". قَالَ ابْنُ الصَّلَاحِ: وَهَذَا حَسَنٌ فَائِقٌ. فَإِنْ شَكَّ أَتَى بِالْمُتَحَقَّقِ، وَهُوَ الْوَحْدَةُ: " حَدَّثَنِي " أَوْ " أَخْبَرَنِي "، عِنْدَ ابْنِ الصَّلَاحِ وَالْبَيْهَقِيِّ، وَعَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ الْقَطَّانِ: يَأْتِي بِالْأَدْنَى، وَهُوَ " حَدَّثَنَا " أَوْ " أَخْبَرَنَا "

"Cabang persoalan: Ibnu Wahb dan Al-Hakim berkata: Untuk apa yang dibacakan di hadapan sang guru sementara ia (pembaca) sendirian, ia mengatakan 'haddatsani'; jika ada orang lain bersamanya, ia mengatakan 'haddatsana'. Untuk apa yang ia sendiri bacakan di hadapan sang guru, ia mengatakan 'akhbarani'; jika orang lain yang membacakannya, ia mengatakan 'akhbarana'. Ibnu Shalah berkata: Ini adalah pendapat yang baik dan unggul. Jika ia ragu (apakah sendirian atau ramai), maka ia mengambil yang lebih pasti, yaitu kesendirian: 'haddatsani' atau 'akhbarani', menurut Ibnu Shalah dan Al-Baihaqi. Sedangkan menurut Yahya bin Sa'id Al-Qaththan: ia mengambil yang lebih rendah tingkatannya, yaitu 'haddatsana' atau 'akhbarana'."

قَالَ الْخَطِيبُ الْبَغْدَادِيُّ: وَهَذَا الَّذِي قَالَهُ ابْنُ وَهْبٍ مُسْتَحَبٌّ، لَا مُسْتَحَقٌّ، عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ كَافَّةً

"Al-Khathib Al-Baghdadi berkata: Apa yang dikatakan Ibnu Wahb ini hukumnya mustahab (dianjurkan), bukan wajib, menurut seluruh ahli ilmu."

" فَرْعٌ ": اخْتَلَفُوا فِي صِحَّةِ سَمَاعِ مَنْ يَنْسَخُ أَوْ إِسْمَاعِهِ: فَمَنَعَ مِنْ ذَلِكَ إِبْرَاهِيمُ الْحَرْبِيُّ وَابْنُ عَدِيٍّ وَأَبُو إِسْحَاقَ الْأَسْفَرَايِينِيُّ. وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ أَحْمَدُ بْنُ إِسْحَاقَ الصِّبْغِيُّ يَقُولُ " حَضَرْتُ "، وَلَا يَقُولُ " حَدَّثَنَا " وَلَا " أَخْبَرَنَا ". وَجَوَّزَهُ مُوسَى بْنُ هَارُونَ الْحَافِظُ

"Cabang persoalan: Ulama berselisih tentang keabsahan sama' orang yang sedang menyalin naskah (sambil mendengarkan), atau orang yang mendengarkan sambil menyalin: Ibrahim Al-Harbi, Ibnu 'Adi, dan Abu Ishaq Al-Asfarayini melarang hal itu. Abu Bakr Ahmad bin Ishaq Ash-Shibghi dahulu berkata 'hadhartu (aku hadir)', dan tidak mengatakan 'haddatsana' maupun 'akhbarana'. Sedangkan Musa bin Harun Al-Hafizh membolehkannya."

وَكَانَ ابْنُ الْمُبَارَكِ يَنْسَخُ وَهُوَ يَقْرَأُ عَلَيْهِ

"Ibnul Mubarak dahulu biasa menyalin naskah sementara hadits sedang dibacakan kepadanya."

وَقَالَ أَبُو حَاتِمٍ: كَتَبْتُ حَدِيثَ عَارِمٍ وَعَمْرِو بْنِ مَرْزُوقٍ، وَحَضَرَ الدَّارَقُطْنِيُّ وَهُوَ شَابٌّ، فَجَلَسَ إِسْمَاعِيلُ الصَّفَّارُ وَهُوَ يُمْلِي، وَالدَّارَقُطْنِيُّ يَنْسَخُ جُزْءًا، فَقَالَ لَهُ بَعْضُ الْحَاضِرِينَ: لَا يَصِحُّ سَمَاعُكَ وَأَنْتَ تَنْسَخُ! فَقَالَ: فَهْمِي لِلْإِمْلَاءِ بِخِلَافِ فَهْمِكَ، فَقَالَ لَهُ: كَمْ أَمْلَى الشَّيْخُ حَدِيثًا إِلَى الْآنَ؟ فَقَالَ الدَّارَقُطْنِيُّ: ثَمَانِيَةَ عَشَرَ حَدِيثًا، ثُمَّ سَرَدَهَا كُلَّهَا عَنْ ظَهْرِ قَلْبٍ، بِأَسَانِيدِهَا وَمُتُونِهَا، فَتَعَجَّبَ النَّاسُ مِنْهُ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ

"Abu Hatim berkata: 'Aku pernah menulis hadits 'Arim dan 'Amr bin Marzuq. Ad-Daraquthni ikut hadir, saat itu ia masih muda, sementara Isma'il Ash-Shaffar duduk mendiktekan hadits, dan Ad-Daraquthni sedang menyalin sebuah juz. Sebagian yang hadir berkata kepadanya: Sama'-mu tidak sah, sedangkan engkau sedang menyalin! Ad-Daraquthni menjawab: Pemahamanku terhadap dikte ini berbeda dari pemahamanmu. Orang itu bertanya lagi kepadanya: Berapa hadits yang telah didiktekan sang guru sampai sekarang? Ad-Daraquthni menjawab: Delapan belas hadits, lalu ia menyebutkannya semua di luar kepala, lengkap dengan sanad dan matannya, sehingga orang-orang pun takjub kepadanya.' Wallahu a'lam."

وَكَانَ شَيْخُنَا الْحَافِظُ أَبُو الْحَجَّاجِ الْمِزِّيُّ، تَغَمَّدَهُ اللَّهُ بِرَحْمَتِهِ، يَكْتُبُ فِي مَجْلِسِ السَّمَاعِ، وَيَنْعَسُ فِي بَعْضِ الْأَحْيَانِ، وَيَرُدُّ عَلَى الْقَارِئِ رَدًّا جَيِّدًا بَيِّنًا وَاضِحًا، بِحَيْثُ يَتَعَجَّبُ الْقَارِئُ مِنْ نَفْسِهِ، أَنَّهُ يَغْلَطُ فِيمَا فِي يَدِهِ وَهُوَ مُسْتَيْقِظٌ، وَالشَّيْخُ نَاعِسٌ وَهُوَ أَنْبَهُ مِنْهُ! ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ

"Guru kami, Al-Hafizh Abul Hajjaj Al-Mizzi - semoga Allah menyelimutinya dengan rahmat-Nya - dahulu biasa menulis di majelis sama', dan terkadang mengantuk, namun ia tetap membetulkan bacaan sang qari' (pembaca) dengan koreksi yang baik, jelas, dan terang, sampai-sampai si pembaca sendiri terheran-heran pada dirinya: bagaimana ia bisa keliru pada apa yang ada di tangannya sendiri padahal ia terjaga, sementara sang guru mengantuk namun justru lebih waspada darinya! Itulah karunia Allah yang Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki."

قَالَ ابْنُ الصَّلَاحِ: وَكَذَلِكَ التَّحَدُّثُ فِي مَجْلِسِ السَّمَاعِ، وَمَا إِذَا كَانَ الْقَارِئُ سَرِيعَ الْقِرَاءَةِ، أَوْ كَانَ السَّامِعُ بَعِيدًا مِنَ الْقَارِئِ. ثُمَّ اخْتَارَ أَنَّهُ يُغْتَفَرُ الْيَسِيرُ مِنْ ذَلِكَ، وَأَنَّهُ إِذَا كَانَ يَفْهَمُ مَا يُقْرَأُ مِنَ النُّسَخِ فَالسَّمَاعُ صَحِيحٌ. وَيَنْبَغِي أَنْ يُجْبَرَ ذَلِكَ بِالْإِجَازَةِ بَعْدَ ذَلِكَ كُلِّهِ

"Ibnu Shalah berkata: Begitu pula persoalan berbincang-bincang di majelis sama', atau ketika si pembaca membaca dengan sangat cepat, atau ketika si pendengar berada jauh dari si pembaca. Kemudian beliau memilih pendapat bahwa hal-hal ringan semacam itu dimaafkan, dan bahwa selama seseorang mampu memahami apa yang dibacakan dari naskah, maka sama'-nya sah. Namun sepatutnya hal itu dikuatkan lagi dengan ijazah setelah semua itu."

هَذَا هُوَ الْوَاقِعُ فِي زَمَانِنَا الْيَوْمَ: أَنْ يَحْضُرَ مَجْلِسَ السَّمَاعِ مَنْ يَفْهَمُ وَمَنْ لَا يَفْهَمُ، وَالْبَعِيدُ مِنَ الْقَارِئِ، وَالنَّاعِسُ، وَالْمُتَحَدِّثُ، وَالصِّبْيَانُ الَّذِينَ لَا يَنْضَبِطُ أَمْرُهُمْ بَلْ يَلْعَبُونَ غَالِبًا، وَلَا يَشْتَغِلُونَ بِمُجَرَّدِ السَّمَاعِ. وَكُلُّ هَؤُلَاءِ قَدْ كَانَ يُكْتَبُ لَهُمُ السَّمَاعُ بِحَضْرَةِ شَيْخِنَا الْحَافِظِ أَبِي الْحَجَّاجِ الْمِزِّيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ

"Inilah kenyataan yang berlaku pada zaman kita hari ini: yang hadir di majelis sama' ada yang paham dan ada yang tidak paham, ada yang jauh dari si pembaca, ada yang mengantuk, ada yang berbincang-bincang, dan anak-anak kecil yang perilakunya tidak terkendali bahkan kebanyakan mereka justru bermain, tidak menyibukkan diri dengan sekadar mendengarkan. Semua orang seperti ini dahulu tetap dicatat sama'-nya di hadapan guru kami Al-Hafizh Abul Hajjaj Al-Mizzi rahimahullah."

وَبَلَغَنِي عَنِ الْقَاضِي تَقِيِّ الدِّينِ سُلَيْمَانَ الْمَقْدِسِيِّ: أَنَّهُ زَجَرَ فِي مَجْلِسِهِ الصِّبْيَانَ عَنِ اللَّعِبِ، فَقَالَ: لَا تَزْجُرُوهُمْ، فَإِنَّا سَمِعْنَا مِثْلَهُمْ

"Telah sampai kepadaku (Ibnu Katsir) tentang Al-Qadhi Taqiyyuddin Sulaiman Al-Maqdisi: bahwa ada yang menegur anak-anak kecil di majelisnya karena bermain, maka beliau berkata: 'Jangan kalian tegur mereka, sebab kita dahulu juga mendengar hadits saat masih seperti mereka.'"

وَقَدْ رُوِيَ عَنِ الْإِمَامِ الْعَلَمِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ مَهْدِيٍّ أَنَّهُ قَالَ: يَكْفِيكَ مِنَ الْحَدِيثِ شَمُّهُ. وَكَذَا قَالَ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنَ الْحُفَّاظِ

"Diriwayatkan dari Al-Imam Al-'Alam 'Abdurrahman bin Mahdi, bahwa ia berkata: 'Cukuplah bagimu dari hadits, sekadar menciumnya (baunya saja, yakni hadir sedikit di majelisnya).' Ucapan serupa juga dikatakan oleh lebih dari seorang huffazh."

وَقَدْ كَانَتِ الْمَجَالِسُ تُعْقَدُ بِبَغْدَادَ. وَبِغَيْرِهَا مِنَ الْبِلَادِ، فَيَجْتَمِعُ الْفِئَامُ مِنَ النَّاسِ، بَلِ الْأُلُوفُ الْمُؤَلَّفَةُ، وَيَصْعَدُ الْمُسْتَمْلِي عَلَى الْأَمَاكِنِ الْمُرْتَفِعَةِ، وَيُبَلِّغُونَ عَنِ الْمَشَايِخِ مَا يُمْلُونَ، فَيُحَدِّثُ النَّاسُ عَنْهُمْ بِذَلِكَ، مَعَ مَا يَقَعُ فِي مِثْلِ هَذِهِ الْمَجَامِعِ مِنَ اللَّغَطِ وَالْكَلَامِ

"Dahulu majelis-majelis (hadits) diadakan di Baghdad dan di negeri-negeri lainnya, sehingga berkumpullah rombongan besar manusia, bahkan ribuan orang, dan al-mustamli (juru penyampai) naik ke tempat-tempat yang tinggi, lalu mereka menyampaikan dari para syaikh apa yang mereka diktekan, sehingga orang-orang meriwayatkan dari mereka hal itu - disertai apa yang terjadi di perkumpulan-perkumpulan semacam ini berupa keributan dan percakapan."

وَحَكَى الْأَعْمَشُ: أَنَّهُمْ كَانُوا فِي حَلْقَةِ إِبْرَاهِيمَ إِذَا لَمْ يَسْمَعْ أَحَدُهُمُ الْكَلِمَةَ جَيِّدًا اسْتَفْهَمَ مِنْ جَارِهِ. وَقَدْ وَقَعَ هَذَا فِي بَعْضِ الْأَحَادِيثِ عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ، وَجَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ وَغَيْرِهِمَا، وَهَذَا هُوَ الْأَصْلَحُ لِلنَّاسِ. وَإِنْ قَدْ تَوَرَّعَ آخَرُونَ وَشَدَّدُوا فِي ذَلِكَ، وَهُوَ الْقِيَاسُ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ

"Al-A'masy menceritakan: bahwa dahulu mereka di halaqah Ibrahim (An-Nakha'i), apabila salah seorang dari mereka tidak mendengar suatu kalimat dengan jelas, ia bertanya kembali kepada orang di sampingnya (untuk memastikan). Hal ini juga terjadi pada sebagian hadits dari 'Uqbah bin 'Amir, Jabir bin Samurah, dan lainnya. Cara ini lebih memudahkan bagi orang banyak. Meski sebagian ulama lain lebih berhati-hati dan memperketat dalam hal ini, dan itulah yang lebih sesuai qiyas (kaidah). Wallahu a'lam."

وَيَجُوزُ السَّمَاعُ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ، كَمَا كَانَ السَّلَفُ يَرْوُونَ عَنْ أُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِينَ، وَاحْتَجَّ بَعْضُهُمْ بِحَدِيثِ: " حَتَّى يُنَادِيَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ "

"Boleh mendengarkan hadits dari balik hijab, sebagaimana dahulu kaum salaf meriwayatkan dari ummahatul mukminin (istri-istri Nabi). Sebagian ulama berdalil dengan hadits: 'Hingga Ibnu Ummi Maktum menyerukan adzan.'"

وَقَالَ بَعْضُهُمْ عَنْ شُعْبَةَ: إِذَا حَدَّثَكَ مَنْ لَا تَرَى شَخْصَهُ فَلَا تَرْوِ عَنْهُ، فَلَعَلَّهُ شَيْطَانٌ قَدْ تَصَوَّرَ فِي صُورَتِهِ، يَقُولُ حَدَّثَنَا أَخْبَرَنَا. وَهَذَا عَجِيبٌ وَغَرِيبٌ جِدًّا! إِذَا حَدَّثَهُ بِحَدِيثٍ ثُمَّ قَالَ: " لَا تَرْوِهِ عَنِّي "، أَوْ " رَجَعْتُ عَنْ إِسْمَاعِكَ "، وَنَحْوَ ذَلِكَ، وَلَمْ يُبْدِ مُسْتَنَدًا سِوَى الْمَنْعِ الْيَابِسِ، أَوْ أَسْمَعَ قَوْمًا فَخَصَّ بَعْضَهُمْ وَقَالَ: " لَا أُجِيزُ لِفُلَانٍ أَنْ يَرْوِيَ عَنِّي شَيْئًا " فَإِنَّهُ لَا يُمْنَعُ مِنْ صِحَّةِ الرِّوَايَةِ عَنْهُ، وَلَا الْتِفَاتَ إِلَى قَوْلِهِ. وَقَدْ حَدَّثَ النَّسَائِيُّ عَنِ الْحَارِثِ بْنِ مِسْكِينٍ وَالْحَالَةُ هَذِهِ؛ وَأَفْتَى الشَّيْخُ أَبُو إِسْحَاقَ الْأَسْفَرَايِينِيُّ بِذَلِكَ

"Diriwayatkan dari Syu'bah, bahwa sebagian ulama berkata: 'Jika seseorang menceritakan hadits kepadamu sedangkan engkau tidak melihat sosoknya, janganlah engkau meriwayatkan darinya, sebab bisa jadi ia adalah setan yang menjelma dalam bentuk manusia, ia berkata haddatsana akhbarana.' Ini pendapat yang aneh dan sangat ganjil! Apabila seseorang telah menceritakan suatu hadits kepada muridnya, kemudian ia berkata: 'Jangan engkau riwayatkan dariku', atau 'Aku menarik kembali izin sama'-mu', dan semisalnya, tanpa menunjukkan alasan apa pun selain larangan yang mentah - atau ia memperdengarkan hadits kepada suatu kaum lalu mengkhususkan sebagian mereka dan berkata: 'Aku tidak mengizinkan fulan untuk meriwayatkan sesuatu apa pun dariku' - maka hal ini tidak menghalangi keabsahan periwayatan darinya, dan ucapannya itu tidak perlu dihiraukan. An-Nasa'i sendiri pernah meriwayatkan dari Al-Harits bin Miskin dalam keadaan seperti ini, dan Asy-Syaikh Abu Ishaq Al-Asfarayini pun berfatwa demikian."

Bagian Ketiga: Al-Ijazah

وَالرِّوَايَةُ بِهَا جَائِزَةٌ عِنْدَ الْجُمْهُورِ، وَادَّعَى الْقَاضِي أَبُو الْوَلِيدِ الْبَاجِيُّ الْإِجْمَاعَ عَلَى ذَلِكَ. وَنَقَضَهُ ابْنُ الصَّلَاحِ بِمَا رَوَاهُ الرَّبِيعُ عَنِ الشَّافِعِيِّ: أَنَّهُ مَنَعَ مِنَ الرِّوَايَةِ بِهَا. وَبِذَلِكَ قَطَعَ الْمَاوَرْدِيُّ. وَعَزَاهُ إِلَى مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ، وَكَذَلِكَ قَطَعَ بِالْمَنْعِ الْقَاضِي حُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْمَرْوَرُوذِيُّ صَاحِبُ التَّعْلِيقَةِ، وَقَالَا جَمِيعًا: لَوْ جَازَتِ الرِّوَايَةُ بِالْإِجَازَةِ بَطَلَتِ الرِّحْلَةُ، وَكَذَا رُوِيَ عَنْ شُعْبَةَ بْنِ الْحَجَّاجِ وَغَيْرِهِ مِنْ أَئِمَّةِ الْحَدِيثِ وَحُفَّاظِهِ

"Periwayatan dengan ijazah adalah boleh menurut jumhur ulama, dan Al-Qadhi Abul Walid Al-Baji mengklaim adanya ijma' (kesepakatan) atas hal itu. Namun klaim ini dibantah oleh Ibnu Shalah dengan riwayat Ar-Rabi' dari Asy-Syafi'i: bahwa beliau melarang periwayatan dengan ijazah. Pendapat ini juga ditegaskan tegas oleh Al-Mawardi dan dinisbatkannya kepada mazhab Asy-Syafi'i. Demikian pula Al-Qadhi Husain bin Muhammad Al-Marwarudzi, penulis kitab At-Ta'liqah, menegaskan larangan ini. Keduanya berkata: 'Sekiranya periwayatan dengan ijazah dibolehkan, niscaya batal (tidak diperlukan lagi) tradisi rihlah (bepergian mencari hadits).' Demikian pula diriwayatkan dari Syu'bah bin Al-Hajjaj dan imam-imam hadits serta huffazh lainnya."

وَمِمَّنْ أَبْطَلَهَا إِبْرَاهِيمُ الْحَرْبِيُّ، وَأَبُو الشَّيْخِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْأَصْبَهَانِيُّ، وَأَبُو نَصْرٍ الْوَايِلِيُّ السِّجْزِيُّ، وَحَكَى ذَلِكَ عَنْ جَمَاعَةٍ مِمَّنْ لَقِيَهُمْ

"Di antara yang membatalkan (periwayatan dengan) ijazah ini adalah Ibrahim Al-Harbi, Abusy-Syaikh Muhammad bin 'Abdillah Al-Ashbahani, dan Abu Nashr Al-Wa'ili As-Sijzi, dan ia menukilkan hal itu pula dari sekelompok ulama yang pernah ia jumpai."

ثُمَّ هِيَ أَقْسَامٌ: ١ - إِجَازَةٌ مِنْ مُعَيَّنٍ لِمُعَيَّنٍ فِي مُعَيَّنٍ، بِأَنْ يَقُولَ: " أَجَزْتُكَ أَنْ تَرْوِيَ عَنِّي هَذَا الْكِتَابَ " أَوْ " هَذِهِ الْكُتُبَ ". وَهِيَ الْمُنَاوَلَةُ. فَهَذِهِ جَائِزَةٌ عِنْدَ الْجَمَاهِيرِ، حَتَّى الظَّاهِرِيَّةِ، لَكِنْ خَالَفُوا فِي الْعَمَلِ بِهَا، لِأَنَّهَا فِي مَعْنَى الْمُرْسَلِ عِنْدَهُمْ، إِذَا لَمْ يَتَّصِلِ السَّمَاعُ

"Kemudian ijazah itu terbagi menjadi beberapa jenis: Pertama, ijazah dari orang tertentu untuk orang tertentu pada objek tertentu, yaitu dengan mengatakan: 'Aku mengizinkanmu meriwayatkan dariku kitab ini', atau 'kitab-kitab ini'. Inilah al-munawalah (penyerahan langsung). Jenis ini boleh menurut jumhur ulama, bahkan menurut Zhahiriyyah, hanya saja mereka berbeda pendapat dalam pengamalannya, karena menurut mereka ijazah semacam ini semakna dengan hadits mursal, apabila sama'-nya tidak bersambung."

٢ - إِجَازَةٌ لِمُعَيَّنٍ فِي غَيْرِ مُعَيَّنٍ، مِثْلُ أَنْ يَقُولَ: " أَجَزْتُ لَكَ أَنْ تَرْوِيَ عَنِّي مَا أَرْوِيهِ "، أَوْ " مَا صَحَّ عِنْدَكَ، مِنْ مَسْمُوعَاتِي وَمُصَنَّفَاتِي ". وَهَذَا مِمَّا يُجَوِّزُهُ الْجُمْهُورُ أَيْضًا، رِوَايَةً وَعَمَلًا

"Kedua, ijazah untuk orang tertentu pada objek yang tidak tertentu, seperti mengatakan: 'Aku mengizinkanmu meriwayatkan dariku apa yang aku riwayatkan', atau 'apa yang engkau pastikan sah dari apa yang aku dengar dan aku susun'. Jenis ini juga dibolehkan oleh jumhur ulama, baik dari sisi periwayatan maupun pengamalannya."

٣ - الْإِجَازَةُ لِغَيْرِ مُعَيَّنٍ، مِثْلُ أَنْ يَقُولَ: " أَجَزْتُ لِلْمُسْلِمِينَ "، أَوْ " لِلْمَوْجُودِينَ "، أَوْ " لِمَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ "، وَتُسَمَّى " الْإِجَازَةَ الْعَامَّةَ ". وَقَدِ اعْتَبَرَهَا طَائِفَةٌ مِنَ الْحُفَّاظِ وَالْعُلَمَاءِ، فَمِمَّنْ جَوَّزَهَا الْخَطِيبُ الْبَغْدَادِيُّ، وَنَقَلَهَا عَنْ شَيْخِهِ الْقَاضِي أَبِي الطَّيِّبِ الطَّبَرِيِّ، وَنَقَلَهَا بَكْرٌ الْحَازِمِيُّ عَنْ شَيْخِهِ أَبِي الْعَلَاءِ الْهَمَدَانِيِّ الْحَافِظِ، وَغَيْرِهِمْ مِنْ مُحَدِّثِي الْمَغَارِبَةِ رَحِمَهُمُ اللَّهُ

"Ketiga, ijazah untuk orang yang tidak tertentu, seperti mengatakan: 'Aku mengizinkan kaum muslimin', atau 'orang-orang yang ada saat ini', atau 'siapa saja yang mengucapkan La ilaha illallah', dan ini disebut 'al-ijazah al-'ammah' (ijazah umum). Jenis ini dianggap sah oleh sekelompok huffazh dan ulama - di antara yang membolehkannya adalah Al-Khathib Al-Baghdadi, yang menukilnya dari gurunya Al-Qadhi Abuth-Thayyib Ath-Thabari; dan Bakr Al-Hazimi menukilnya dari gurunya Abul 'Ala' Al-Hamdani Al-Hafizh, serta ahli hadits Maghrib lainnya rahimahumullah."

٤ - الْإِجَازَةُ لِلْمَجْهُولِ بِالْمَجْهُولِ، فَفَاسِدَةٌ. وَلَيْسَ مِنْهَا مَا يَقَعُ مِنَ الِاسْتِدْعَاءِ لِجَمَاعَةٍ مُسَمَّيْنَ لَا يَعْرِفُهُ الْمُجِيزُ أَوْ لَا يَتَصَفَّحُ أَنْسَابَهُمْ وَلَا عِدَّتَهُمْ، فَإِنَّ هَذَا سَائِغٌ شَائِعٌ، كَمَا لَا يَسْتَحْضِرُ الْمُسْمِعُ أَنْسَابَ مَنْ يَحْضُرُ مَجْلِسَهُ وَلَا عِدَّتَهُمْ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ

"Keempat, ijazah untuk sesuatu yang majhul dengan sesuatu yang majhul pula, maka ini fasid (rusak/tidak sah). Namun bukan termasuk kategori ini apa yang terjadi berupa permohonan ijazah untuk sekelompok orang yang disebutkan namanya, meski sang pemberi ijazah tidak mengenal mereka secara pribadi atau tidak meneliti nasab dan jumlah mereka - sebab hal ini dibolehkan dan umum terjadi, sebagaimana orang yang memperdengarkan hadits pun tidak selalu mengetahui nasab orang-orang yang hadir di majelisnya dan jumlah pastinya. Wallahu a'lam."

وَلَوْ قَالَ: " أَجَزْتُ رِوَايَةَ هَذَا الْكِتَابِ لِمَنْ أَحَبَّ رِوَايَتَهُ عَنِّي "؛ فَقَدْ كَتَبَهُ أَبُو الْفَتْحِ مُحَمَّدُ بْنُ الْحُسَيْنِ الْأَسَدِيُّ، وَسَوَّغَهُ غَيْرُهُ، وَقَوَّاهُ ابْنُ الصَّلَاحِ

"Jika seseorang berkata: 'Aku mengizinkan periwayatan kitab ini bagi siapa saja yang ingin meriwayatkannya dariku' - ungkapan seperti ini pernah ditulis oleh Abul Fath Muhammad bin Al-Husain Al-Asadi, dibolehkan pula oleh ulama lain, dan dikuatkan oleh Ibnu Shalah."

وَكَذَلِكَ لَوْ قَالَ: " أَجَزْتُكَ وَلِوَلَدِكَ وَنَسْلِكَ وَعَقِبِكَ رِوَايَةَ هَذَا الْكِتَابِ " أَوْ " مَا يَجُوزُ لِي رِوَايَتُهُ " فَقَدْ جَوَّزَهَا جَمَاعَةٌ، مِنْهُمْ أَبُو بَكْرٍ ابْنُ أَبِي دَاوُدَ، قَالَ لِرَجُلٍ: " أَجَزْتُ لَكَ وَلِأَوْلَادِكَ وَلِحَبَلِ الْحَبَلَةِ "

"Begitu pula jika seseorang berkata: 'Aku mengizinkanmu, dan bagi anakmu, keturunanmu, dan cucu-cucumu, untuk meriwayatkan kitab ini', atau 'apa yang boleh aku riwayatkan' - ungkapan ini dibolehkan oleh sekelompok ulama, di antaranya Abu Bakr Ibnu Abi Dawud, yang pernah berkata kepada seseorang: 'Aku mengizinkanmu, dan bagi anak-anakmu, hingga keturunan yang jauh sekalipun (hablal hablah).'"

وَأَمَّا لَوْ قَالَ: " أَجَزْتُ لِمَنْ يُوجَدُ مِنْ بَنِي فُلَانٍ "، فَقَدْ حَكَى الْخَطِيبُ جَوَازَهَا عَنِ الْقَاضِي أَبِي يَعْلَى بْنِ الْفَرَّاءِ الْحَنْبَلِيِّ، وَأَبِي الْفَضْلِ ابْنِ عَمْرُوسٍ الْمَالِكِيِّ، وَحَكَاهُ ابْنُ الصَّبَّاغِ عَنْ طَائِفَةٍ، ثُمَّ ضَعَّفَ ذَلِكَ، وَقَالَ: هَذَا يُبْنَى عَلَى أَنَّ الْإِجَازَةَ إِذْنٌ أَوْ مُحَادَثَةٌ، وَكَذَلِكَ ضَعَّفَهَا ابْنُ الصَّلَاحِ، وَأَوْرَدَ الْإِجَازَةَ لِلطِّفْلِ الصَّغِيرِ الَّذِي لَا يُخَاطَبُ مِثْلُهُ، وَذَكَرَ الْخَطِيبُ أَنَّهُ قَالَ لِلْقَاضِي أَبِي الطَّيِّبِ: إِنَّ بَعْضَ أَصْحَابِنَا قَالَ: لَا تَصِحُّ الْإِجَازَةُ إِلَّا لِمَنْ يَصِحُّ سَمَاعُهُ؟ فَقَالَ: قَدْ يُجِيزُ الْغَائِبَ عَنْهُ، وَلَا يَصِحُّ سَمَاعُهُ مِنْهُ. ثُمَّ رَجَّحَ الْخَطِيبُ صِحَّةَ الْإِجَازَةِ لِلصَّغِيرِ، قَالَ: وَهُوَ الَّذِي رَأَيْنَا كَافَّةَ شُيُوخِنَا يَفْعَلُونَهُ، يُجِيزُونَ لِلْأَطْفَالِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَسْأَلُوا عَنْ أَعْمَارِهِمْ، وَلَمْ نَرَهُمْ أَجَازُوا لِمَنْ لَمْ يَكُنْ مَوْجُودًا فِي الْحَالِ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ

"Adapun jika seseorang berkata: 'Aku mengizinkan bagi siapa saja yang ada dari Bani Fulan' - Al-Khathib menukilkan kebolehannya dari Al-Qadhi Abu Ya'la Ibnul Farra' Al-Hanbali dan Abul Fadhl Ibnu 'Amrus Al-Maliki. Ibnu Ash-Shabbagh juga menukilkannya dari sekelompok ulama, namun kemudian ia melemahkannya, dengan berkata: 'Ini dibangun atas dasar bahwa ijazah itu berupa izin atau semacam pembicaraan.' Ibnu Shalah pun melemahkannya, dan mencontohkan (ketidak-konsistenan ini dengan) ijazah untuk bayi kecil yang belum bisa diajak bicara sama sekali. Al-Khathib menyebutkan bahwa ia pernah bertanya kepada Al-Qadhi Abuth-Thayyib: 'Sebagian sahabat kami berkata: ijazah tidak sah kecuali bagi orang yang sama'-nya (mendengarnya langsung) itu sendiri sah?' Al-Qadhi menjawab: 'Bisa saja seseorang memberi ijazah kepada orang yang tidak hadir di hadapannya, padahal sama' langsung darinya sendiri tidak sah bagi orang itu.' Kemudian Al-Khathib merajihkan keabsahan ijazah untuk anak kecil, ia berkata: 'Inilah yang kami lihat dilakukan oleh seluruh guru-guru kami, mereka memberi ijazah kepada anak-anak kecil tanpa bertanya tentang usia mereka, namun kami tidak pernah melihat mereka memberi ijazah kepada orang yang belum ada wujudnya saat itu.' Wallahu a'lam."

وَلَوْ قَالَ: " أَجَزْتُ لَكَ أَنْ تَرْوِيَ عَنِّي مَا صَحَّ عِنْدَكَ مِمَّا سَمِعْتُهُ وَمَا سَأَسْمَعُهُ "، فَالْأَوَّلُ جَيِّدٌ، وَالثَّانِي فَاسِدٌ. وَقَدْ حَاوَلَ ابْنُ الصَّلَاحِ تَخْرِيجَهُ عَلَى أَنَّ الْإِجَازَةَ إِذْنٌ كَالْوَكَالَةِ. وَفِيمَا لَوْ قَالَ: " وَكَّلْتُكَ فِي بَيْعِ مَا سَأَمْلِكُهُ " خِلَافٌ

"Jika seseorang berkata: 'Aku mengizinkanmu meriwayatkan dariku apa yang engkau pastikan sah dari apa yang telah aku dengar, dan apa yang akan aku dengar (di masa depan)' - maka bagian yang pertama (apa yang telah didengar) sah, sedangkan bagian yang kedua (apa yang akan didengar di masa depan) fasid. Ibnu Shalah mencoba menakwilkannya berdasarkan bahwa ijazah adalah semacam izin sebagaimana perwakilan (wakalah). Sedangkan mengenai ucapan: 'Aku mewakilkanmu untuk menjual apa yang akan aku miliki nanti', dalam hal ini ada perselisihan (ulama fiqih)."

وَأَمَّا الْإِجَازَةُ بِمَا يَرْوِيهِ إِجَازَةً، فَالَّذِي عَلَيْهِ الْجُمْهُورُ الرِّوَايَةُ بِالْإِجَازَةِ عَلَى الْإِجَازَةِ وَإِنْ تَعَدَّدَتْ. وَمِمَّنْ نَصَّ عَلَى ذَلِكَ الدَّارَقُطْنِيُّ، وَشَيْخُهُ أَبُو الْعَبَّاسِ ابْنُ عُقْدَةَ، وَالْحَافِظُ أَبُو نُعَيْمٍ الْأَصْبَهَانِيُّ، وَالْخَطِيبُ، وَغَيْرُ وَاحِدٍ مِنَ الْعُلَمَاءِ. قَالَ ابْنُ الصَّلَاحِ: وَمَنَعَ مِنْ ذَلِكَ بَعْضُ مَنْ لَا يُعْتَمَدُ بِهِ مِنَ الْمُتَأَخِّرِينَ، وَالصَّحِيحُ الَّذِي عَلَيْهِ الْعَمَلُ جَوَازُهُ، وَشَبَّهُوا ذَلِكَ بِتَوْكِيلِ الْوَكِيلِ

"Adapun ijazah atas apa yang diriwayatkan seseorang secara ijazah pula (ijazah berantai), maka pendapat jumhur ulama adalah bolehnya periwayatan dengan ijazah atas ijazah, sekalipun berlapis-lapis. Di antara yang menegaskan hal ini adalah Ad-Daraquthni dan gurunya Abul 'Abbas Ibnu 'Uqdah, Al-Hafizh Abu Nu'aim Al-Ashbahani, Al-Khathib, dan lebih dari seorang ulama lainnya. Ibnu Shalah berkata: Sebagian ulama mutaakhirin yang tidak dapat dijadikan pegangan melarang hal ini, namun yang shahih dan menjadi pegangan amal adalah kebolehannya - mereka menyerupakannya dengan seorang wakil yang mewakilkan lagi (kepada wakil lain)."

Bagian Keempat: Al-Munawalah

فَإِنْ كَانَ مَعَهَا إِجَازَةٌ، مِثْلُ أَنْ يُنَاوِلَ الشَّيْخُ الطَّالِبَ كِتَابًا مِنْ سَمَاعِهِ، وَيَقُولَ لَهُ: " ارْوِ هَذَا عَنِّي "، أَوْ يُمَلِّكَهُ إِيَّاهُ، أَوْ يُعِيرَهُ لِيَنْسَخَهُ ثُمَّ يُعِيدَهُ إِلَيْهِ، لِيَأْتِيَهُ الطَّالِبُ بِكِتَابٍ مِنْ سَمَاعِهِ فَيَتَأَمَّلَهُ، ثُمَّ يَقُولَ: " ارْوِ عَنِّي هَذَا "، وَيُسَمَّى هَذَا " عَرْضَ الْمُنَاوَلَةِ ". وَقَدْ قَالَ الْحَاكِمُ: إِنَّ هَذَا إِسْمَاعٌ عِنْدَ كَثِيرٍ مِنَ الْمُتَقَدِّمِينَ، وَحَكَوْهُ عَنْ مَالِكٍ نَفْسِهِ، وَالزُّهْرِيِّ، وَرَبِيعَةَ، وَيَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ الْأَنْصَارِيِّ، مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ، وَمُجَاهِدٍ، وَأَبِي الزُّبَيْرِ، وَسُفْيَانَ بْنِ عُيَيْنَةَ، مِنَ الْمَكِّيِّينَ، وَعَلْقَمَةَ، وَإِبْرَاهِيمَ، وَالشَّعْبِيِّ، مِنْ أَهْلِ الْكُوفَةِ، وَقَتَادَةَ، وَأَبِي الْعَالِيَةِ، وَأَبِي الْمُتَوَكِّلِ النَّاجِيِّ، مِنَ الْبَصْرَةِ، وَابْنِ وَهْبٍ، وَابْنِ الْقَاسِمِ، وَأَشْهَبَ، مِنْ أَهْلِ مِصْرَ، وَغَيْرِهِمْ مِنْ أَهْلِ الشَّامِ وَالْعِرَاقِ، وَنَقَلَهُ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنْ مَشَايِخِهِ. قَالَ ابْنُ الصَّلَاحِ: وَقَدْ خَلَّطَ فِي كَلَامِهِ عَرْضَ الْمُنَاوَلَةِ بِعَرْضِ الْقِرَاءَةِ

"Jika penyerahan (munawalah) itu disertai ijazah, misalnya sang guru menyerahkan sebuah kitab dari sama'-nya kepada muridnya, dan berkata: 'Riwayatkanlah kitab ini dariku', atau ia memberikannya sebagai milik, atau meminjamkannya untuk disalin lalu dikembalikan kepadanya; atau sang murid membawakan sebuah kitab dari sama'nya sendiri kepada gurunya lalu sang guru menelaahnya, kemudian berkata: 'Riwayatkanlah kitab ini dariku' - inilah yang disebut 'ardhul munawalah (penyodoran-penyerahan). Al-Hakim berkata: Cara ini dianggap sebagai bentuk isma' (memperdengarkan) menurut banyak ulama terdahulu - mereka menukilkan pendapat ini dari Malik sendiri, Az-Zuhri, Rabi'ah, dan Yahya bin Sa'id Al-Anshari dari kalangan penduduk Madinah; Mujahid, Abuz-Zubair, dan Sufyan bin 'Uyainah dari kalangan penduduk Makkah; 'Alqamah, Ibrahim, dan Asy-Sya'bi dari kalangan penduduk Kufah; Qatadah, Abul 'Aliyah, dan Abul Mutawakkil An-Naji dari Bashrah; Ibnu Wahb, Ibnul Qasim, dan Asyhab dari penduduk Mesir; dan yang lainnya dari penduduk Syam dan Irak - dan Al-Hakim menukilnya pula dari sejumlah gurunya sendiri. Ibnu Shalah berkata: Al-Hakim dalam pembicaraannya telah mencampuradukkan 'ardhul munawalah dengan 'ardhul qira'ah (pembacaan)."

ثُمَّ قَالَ الْحَاكِمُ: وَالَّذِي عَلَيْهِ جُمْهُورُ فُقَهَاءِ الْإِسْلَامِ، الَّذِينَ أَفْتَوْا فِي الْحَرَامِ وَالْحَلَالِ: أَنَّهُمْ لَمْ يَرَوْهُ سَمَاعًا، وَبِهِ قَالَ الشَّافِعِيُّ، وَأَبُو حَنِيفَةَ، وَأَحْمَدُ، وَإِسْحَاقُ، وَالثَّوْرِيُّ، وَالْأَوْزَاعِيُّ، وَابْنُ الْمُبَارَكِ، وَيَحْيَى بْنُ يَحْيَى، وَالْبُوَيْطِيُّ وَالْمُزَنِيُّ، وَعَلَيْهِ عَهِدْنَا أَئِمَّتَنَا، وَإِلَيْهِ ذَهَبُوا، وَإِلَيْهِ نَذْهَبُ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ

"Kemudian Al-Hakim berkata: Adapun pendapat yang dipegang jumhur fuqaha Islam, yang berfatwa dalam masalah halal dan haram: bahwa mereka tidak memandangnya sebagai sama' (mendengar langsung) - inilah pendapat Asy-Syafi'i, Abu Hanifah, Ahmad, Ishaq, Ats-Tsauri, Al-Auza'i, Ibnul Mubarak, Yahya bin Yahya, Al-Buwaithi, dan Al-Muzani. Dan atas pendapat inilah kami mengenal para imam kami, ke pendapat inilah mereka condong, dan ke pendapat inilah kami sendiri condong. Wallahu a'lam."

وَأَمَّا إِذَا لَمْ يُمَلِّكْهُ الشَّيْخُ الْكِتَابَ، وَلَمْ يُعِرْهُ إِيَّاهُ، فَإِنَّهُ مُنْحَطٌّ عَمَّا قَبْلَهُ، حَتَّى إِنَّ مِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ: هَذَا مِمَّا لَا فَائِدَةَ فِيهِ، وَيَبْقَى مُجَرَّدَ إِجَازَةٍ

"Adapun apabila sang guru tidak menyerahkan kepemilikan kitab itu kepada muridnya, dan tidak pula meminjamkannya, maka derajat ini lebih rendah dari yang sebelumnya - bahkan sebagian ulama mengatakan: cara ini tidak memiliki faedah apa pun, dan ia hanya tersisa sebagai ijazah semata."

" قُلْتُ ": أَمَّا إِذَا كَانَ الْكِتَابُ مَشْهُورًا، كَالْبُخَارِيِّ وَمُسْلِمٍ، أَوْ شَيْءٍ مِنَ الْكُتُبِ الْمَشْهُورَةِ: فَهُوَ كَمَا لَوْ مَلَّكَهُ أَوْ أَعَارَهُ إِيَّاهُ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ

"Aku (Ibnu Katsir) berkata: Adapun jika kitab itu sudah masyhur, seperti Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, atau kitab-kitab masyhur lainnya, maka hukumnya sama seperti jika ia menyerahkan kepemilikannya atau meminjamkannya. Wallahu a'lam."

وَلَوْ تَجَرَّدَتِ الْمُنَاوَلَةُ عَنِ الْإِذْنِ فِي الرِّوَايَةِ: فَالْمَشْهُورُ أَنَّهُ لَا تَجُوزُ الرِّوَايَةُ بِهَا، وَحَكَى الْخَطِيبُ عَنْ بَعْضِهِمْ جَوَازَهَا، قَالَ ابْنُ الصَّلَاحِ: وَمِنَ النَّاسِ مَنْ جَوَّزَ الرِّوَايَةَ بِمُجَرَّدِ إِعْلَامِ الشَّيْخِ لِلطَّالِبِ أَنَّ هَذَا سَمَاعُهُ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ

"Jika munawalah itu terlepas dari izin periwayatan (hanya penyerahan fisik tanpa izin meriwayatkan): maka pendapat yang masyhur adalah tidak boleh meriwayatkan dengannya. Al-Khathib menukil dari sebagian ulama tentang kebolehannya. Ibnu Shalah berkata: Sebagian orang membolehkan periwayatan hanya dengan sekadar pemberitahuan sang guru kepada muridnya bahwa 'ini adalah hasil sama'ku'. Wallahu a'lam."

وَيَقُولُ الرَّاوِي بِالْإِجَازَةِ: " أَنْبَأَنَا "، فَإِنْ قَالَ " إِجَازَةً " فَهُوَ أَحْسَنُ، وَيَجُوزُ " أَنْبَأَنَا " وَ " حَدَّثَنَا " عِنْدَ جَمَاعَةٍ مِنَ الْمُتَقَدِّمِينَ

"Perawi yang meriwayatkan dengan ijazah mengucapkan: 'anba'ana'. Jika ia menambahkan 'ijazatan (secara ijazah)', maka itu lebih baik. Boleh pula mengucapkan 'anba'ana' dan 'haddatsana' menurut sekelompok ulama terdahulu."

وَقَدْ تَقَدَّمَ النَّقْلُ عَنْ جَمَاعَةٍ أَنَّهُمْ جَعَلُوا عَرْضَ الْمُنَاوَلَةِ الْمَقْرُونَةِ بِالْإِجَازَةِ بِمَنْزِلَةِ السَّمَاعِ، فَهَؤُلَاءِ يَقُولُونَ: " حَدَّثَنَا " وَ " أَخْبَرَنَا "، بِلَا إِشْكَالٍ

"Telah disebutkan sebelumnya nukilan dari sekelompok ulama, bahwa mereka menjadikan 'ardhul munawalah yang disertai ijazah setara dengan sama' - maka menurut mereka boleh mengucapkan 'haddatsana' dan 'akhbarana' tanpa ada persoalan."

وَالَّذِي عَلَيْهِ جُمْهُورُ الْمُحَدِّثِينَ قَدِيمًا وَحَدِيثًا: أَنَّهُ لَا يَجُوزُ إِطْلَاقُ " حَدَّثَنَا " وَلَا " أَخْبَرَنَا " بَلْ مُقَيَّدًا. وَكَانَ الْأَوْزَاعِيُّ يُخَصِّصُ الْإِجَازَةَ بِقَوْلِهِ " خَبَّرَنَا " بِالتَّشْدِيدِ

"Adapun pendapat yang dipegang jumhur ahli hadits, baik dahulu maupun sekarang: bahwa tidak boleh mengucapkan 'haddatsana' atau 'akhbarana' secara mutlak (untuk ijazah), melainkan harus diikat (dengan tambahan kata 'ijazatan'). Al-Auza'i sendiri dahulu mengkhususkan ijazah dengan ungkapan 'khabbarana' (dengan tasydid, ditekankan)."

Bagian Kelima: Al-Mukatabah

بِأَنْ يَكْتُبَ إِلَيْهِ بِشَيْءٍ مِنْ حَدِيثِهِ. فَإِنْ أَذِنَ لَهُ فِي رِوَايَتِهِ عَنْهُ، فَهُوَ كَالْمُنَاوَلَةِ الْمَقْرُونَةِ بِالْإِجَازَةِ. وَإِنْ لَمْ تَكُنْ مَعَهَا إِجَازَةٌ، فَقَدْ جَوَّزَ الرِّوَايَةَ بِهَا أَيُّوبُ، وَمَنْصُورٌ، وَاللَّيْثُ، وَغَيْرُ وَاحِدٍ مِنَ الْفُقَهَاءِ الشَّافِعِيَّةِ وَالْأُصُولِيِّينَ، وَهُوَ الْمَشْهُورُ، وَجَعَلُوا ذَلِكَ أَقْوَى مِنَ الْإِجَازَةِ الْمُجَرَّدَةِ، وَقَطَعَ الْمَاوَرْدِيُّ بِمَنْعِ ذَلِكَ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ

"Yaitu sang guru menuliskan sesuatu dari haditsnya kepada muridnya (yang jauh). Jika ia mengizinkan muridnya meriwayatkan darinya, maka ini seperti munawalah yang disertai ijazah. Jika tidak disertai ijazah, maka Ayyub, Manshur, Al-Laits, dan lebih dari seorang fuqaha Syafi'iyyah serta ahli ushul membolehkan periwayatan dengannya - inilah pendapat yang masyhur, bahkan mereka menjadikannya lebih kuat daripada ijazah semata. Sedangkan Al-Mawardi menegaskan larangannya. Wallahu a'lam."

وَجَوَّزَ اللَّيْثُ وَمَنْصُورٌ فِي الْمُكَاتَبَةِ أَنْ يَقُولَ: " أَخْبَرَنَا " وَ " حَدَّثَنَا " مُطْلَقًا وَالْأَحْسَنُ الْأَلْيَقُ تَقْيِيدُهُ بِالْمُكَاتَبَةِ

"Al-Laits dan Manshur membolehkan dalam mukatabah untuk mengucapkan 'akhbarana' dan 'haddatsana' secara mutlak, namun yang lebih baik dan lebih pantas adalah mengikatnya dengan menyebutkan 'mukatabatan (secara tertulis)'."

Bagian Keenam: Al-I'lam

إِعْلَامُ الشَّيْخِ أَنَّ هَذَا الْكِتَابَ سَمَاعُهُ مِنْ فُلَانٍ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَأْذَنَ لَهُ فِي رِوَايَتِهِ عَنْهُ، فَقَدْ سَوَّغَ الرِّوَايَةَ بِمُجَرَّدِ ذَلِكَ طَوَائِفُ مِنَ الْمُحَدِّثِينَ وَالْفُقَهَاءِ، مِنْهُمُ ابْنُ جُرَيْجٍ، وَقَطَعَ بِهِ ابْنُ الصَّبَّاغِ، وَاخْتَارَهُ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنَ الْمُتَأَخِّرِينَ، حَتَّى قَالَ بَعْضُ الظَّاهِرِيَّةِ: لَوْ أَعْلَمَهُ بِذَلِكَ وَنَهَاهُ عَنْ رِوَايَتِهِ عَنْهُ فَلَهُ رِوَايَتُهُ، كَمَا لَوْ نَهَاهُ عَنْ رِوَايَةِ مَا سَمِعَهُ مِنْهُ

"Yaitu sang guru memberitahukan bahwa kitab ini adalah hasil sama'nya dari fulan, tanpa mengizinkan muridnya meriwayatkannya darinya. Sekelompok ahli hadits dan fuqaha membolehkan periwayatan dengan sekadar pemberitahuan ini, di antaranya Ibnu Juraij. Ibnu Ash-Shabbagh juga menegaskannya, dan dipilih pula oleh lebih dari seorang ulama mutaakhirin - bahkan sebagian ulama Zhahiriyyah berkata: sekiranya sang guru memberitahukan hal itu kepadanya lalu justru melarangnya meriwayatkan darinya, maka murid itu tetap berhak meriwayatkannya, sebagaimana halnya jika sang guru melarangnya meriwayatkan apa yang telah ia dengar sendiri darinya."

Bagian Ketujuh: Al-Washiyyah

بِأَنْ يُوصِيَ بِكِتَابٍ كَانَ يَرْوِيهِ لِشَخْصٍ. فَقَدْ تَرَخَّصَ بَعْضُ السَّلَفِ فِي رِوَايَةِ الْمُوصَى لَهُ بِذَلِكَ الْكِتَابِ عَنِ الْمُوصِي، وَشَبَّهُوا ذَلِكَ بِالْمُنَاوَلَةِ وَبِالْإِعْلَامِ بِالرِّوَايَةِ. قَالَ ابْنُ الصَّلَاحِ: وَهَذَا بَعِيدٌ، وَهُوَ إِمَّا زَلَّةُ عَالِمٍ أَوْ مُتَأَوِّلٌ، إِلَّا أَنْ يَكُونَ أَرَادَ بِذَلِكَ رِوَايَتَهُ بِالْوِجَادَةِ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ

"Yaitu seseorang mewasiatkan sebuah kitab yang biasa ia riwayatkan kepada orang tertentu. Sebagian salaf memberi keringanan agar orang yang diberi wasiat itu boleh meriwayatkan kitab tersebut dari sang pewasiat, dan mereka menyerupakan hal ini dengan munawalah dan i'lam periwayatan. Ibnu Shalah berkata: Ini adalah pendapat yang jauh (dari kebenaran), dan itu tidak lain hanyalah kekeliruan seorang alim atau sebuah takwil yang lemah - kecuali jika yang dimaksudkan adalah periwayatannya dengan cara wijadah. Wallahu a'lam."

Bagian Kedelapan: Al-Wijadah

وَصُورَتُهَا: أَنْ يَجِدَ حَدِيثًا أَوْ كِتَابًا بِخَطِّ شَخْصٍ بِإِسْنَادِهِ. فَلَهُ أَنْ يَرْوِيَهُ عَنْهُ عَلَى سَبِيلِ الْحِكَايَةِ، فَيَقُولَ: " وَجَدْتُ بِخَطِّ فُلَانٍ: حَدَّثَنَا فُلَانٌ " وَيُسْنِدُهُ. وَيَقَعُ هَذَا أَكْثَرَ فِي مُسْنَدِ الْإِمَامِ أَحْمَدَ، يَقُولُ ابْنُهُ عَبْدُ اللَّهِ: " وَجَدْتُ بِخَطِّ أَبِي: حَدَّثَنَا فُلَانٌ "، وَيَسُوقُ الْحَدِيثَ

"Bentuknya adalah: seseorang menemukan sebuah hadits atau kitab dalam tulisan tangan seseorang, lengkap dengan sanadnya. Ia boleh meriwayatkannya darinya secara hikayah (penyampaian), dengan mengatakan: 'Aku menemukan dalam tulisan tangan fulan: telah menceritakan kepada kami fulan', lalu ia menyebutkan sanadnya. Cara ini paling banyak dijumpai dalam Musnad Imam Ahmad, di mana putranya, 'Abdullah, berkata: 'Aku menemukan dalam tulisan tangan ayahku: telah menceritakan kepada kami fulan', lalu ia menuliskan haditsnya."

وَلَهُ أَنْ يَقُولَ: " قَالَ فُلَانٌ " إِذَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ تَدْلِيسٌ يُوهِمُ اللِّقَا. قَالَ ابْنُ الصَّلَاحِ: وَجَازَفَ بَعْضُهُمْ فَأَطْلَقَ فِيهِ " حَدَّثَنَا " أَوْ " أَخْبَرَنَا " وَانْتُقِدَ ذَلِكَ عَلَى فَاعِلِهِ. وَلَهُ أَنْ يَقُولَ فِيمَا وَجَدَ مِنْ تَصْنِيفِهِ بِغَيْرِ خَطِّهِ: " ذَكَرَ فُلَانٌ "، وَ " قَالَ فُلَانٌ " أَيْضًا، وَيَقُولُ: " بَلَغَنِي عَنْ فُلَانٍ "، فِيمَا لَمْ يَتَحَقَّقْ أَنَّهُ مِنْ تَصْنِيفِهِ أَوْ مُقَابَلَةِ كِتَابِهِ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ

"Ia juga boleh mengatakan: 'Fulan berkata', selama tidak ada tadlis di dalamnya yang menimbulkan kesan seolah-olah pernah bertemu langsung. Ibnu Shalah berkata: Sebagian orang bertindak sembrono dengan mengucapkan 'haddatsana' atau 'akhbarana' secara mutlak untuk cara ini, dan hal itu dikritik oleh para ulama terhadap pelakunya. Ia juga boleh mengatakan, mengenai apa yang ia temukan dari karya tulis seseorang namun bukan dalam tulisan tangannya sendiri: 'Fulan menyebutkan', dan 'Fulan berkata' pula. Dan ia mengatakan: 'Telah sampai kepadaku dari fulan', untuk apa yang belum ia pastikan berasal dari karya tulisnya atau hasil pencocokan naskahnya. Wallahu a'lam."

" قُلْتُ ": وَالْوِجَادَةُ لَيْسَتْ مِنْ بَابِ الرِّوَايَةِ، وَإِنَّمَا هِيَ حِكَايَةٌ عَمَّا وَجَدَهُ فِي الْكِتَابِ

"Aku (Ibnu Katsir) berkata: Wijadah bukanlah termasuk bab periwayatan, melainkan hanya sekadar penyampaian tentang apa yang ia temukan dalam kitab tersebut."

وَأَمَّا الْعَمَلُ بِهَا: فَمَنَعَ مِنْهُ طَائِفَةٌ كَثِيرَةٌ مِنَ الْفُقَهَاءِ وَالْمُحَدِّثِينَ، أَوْ أَكْثَرُهُمْ، فِيمَا حَكَاهُ بَعْضُهُمْ. وَنَقَلَ الشَّافِعِيُّ وَطَائِفَةٌ مِنْ أَصْحَابِهِ جَوَازَ الْعَمَلِ بِهَا. قَالَ ابْنُ الصَّلَاحِ: وَقَطَعَ بَعْضُ الْمُحَقِّقِينَ مِنْ أَصْحَابِهِ فِي الْأُصُولِ بِوُجُوبِ الْعَمَلِ بِهَا عِنْدَ حُصُولِ الثِّقَةِ بِهِ

"Adapun mengamalkan (isi) wijadah tersebut: sekelompok besar fuqaha dan ahli hadits, bahkan mayoritas mereka menurut sebagian penukilan, melarang hal itu. Sedangkan Asy-Syafi'i dan sekelompok sahabatnya menukilkan bolehnya mengamalkan wijadah. Ibnu Shalah berkata: Sebagian ulama muhaqqiq dari kalangan pengikut Asy-Syafi'i dalam ilmu ushul menegaskan bahwa mengamalkannya wajib, apabila telah terpenuhi keyakinan (tsiqah) terhadapnya."

قَالَ ابْنُ الصَّلَاحِ: وَهَذَا هُوَ الَّذِي لَا يَتَّجِهُ غَيْرُهُ فِي الْأَعْصَارِ الْمُتَأَخِّرَةِ لِتَعَذُّرِ شُرُوطِ الرِّوَايَةِ فِي هَذَا الزَّمَانِ، يَعْنِي: فَلَمْ يَبْقَ إِلَّا مُجَرَّدُ وِجَادَاتٍ

"Ibnu Shalah berkata: Inilah pendapat yang tidak ada pendapat lain yang lebih tepat untuk zaman-zaman belakangan, karena sulitnya memenuhi syarat-syarat periwayatan pada masa ini - maksudnya: yang tersisa hanyalah sekadar wijadah-wijadah semata."

" قُلْتُ ": وَقَدْ وَرَدَ فِي الْحَدِيثِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: " أَيُّ الْخَلْقِ أَعْجَبُ إِلَيْكُمْ إِيمَانًا؟ قَالُوا: الْمَلَائِكَةُ، قَالَ وَكَيْفَ لَا يُؤْمِنُونَ وَهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ؟ وَذَكَرُوا الْأَنْبِيَاءَ، فَقَالَ: وَكَيْفَ لَا يُؤْمِنُونَ وَالْوَحْيُ يَنْزِلُ عَلَيْهِمْ؟ قَالُوا: فَنَحْنُ، قَالَ: وَكَيْفَ لَا تُؤْمِنُونَ وَأَنَا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ؟ قَالُوا: فَمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: قَوْمٌ يَأْتُونَ مِنْ بَعْدِكُمْ، يَجِدُونَ صُحُفًا يُؤْمِنُونَ بِمَا فِيهَا "، وَقَدْ ذَكَرْنَا الْحَدِيثَ بِإِسْنَادِهِ وَلَفْظِهِ فِي شَرْحِ الْبُخَارِيِّ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ. فَيُؤْخَذُ مِنْهُ مَدْحُ مَنْ عَمِلَ بِالْكُتُبِ الْمُتَقَدِّمَةِ بِمُجَرَّدِ الْوِجَادَةِ لَهَا. وَاللَّهُ أَعْلَمُ

"Aku (Ibnu Katsir) berkata: Telah diriwayatkan dalam hadits dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: 'Makhluk manakah yang paling menakjubkan imannya menurut kalian?' Mereka menjawab: 'Para malaikat.' Beliau bersabda: 'Bagaimana mereka tidak beriman, sedangkan mereka berada di sisi Rabb mereka?' Mereka lalu menyebutkan para nabi. Beliau bersabda: 'Bagaimana mereka tidak beriman, sedangkan wahyu turun kepada mereka?' Mereka berkata: 'Kalau begitu, kami.' Beliau bersabda: 'Bagaimana kalian tidak beriman, sedangkan aku berada di tengah-tengah kalian?' Mereka bertanya: 'Lalu siapa, wahai Rasulullah?' Beliau menjawab: 'Suatu kaum yang datang setelah kalian, mereka mendapati lembaran-lembaran (tulisan) lalu mereka beriman dengan apa yang ada di dalamnya.' Kami telah menyebutkan hadits ini lengkap dengan sanad dan lafalnya dalam Syarh Al-Bukhari, walillahil hamd. Dari hadits ini dapat diambil pujian bagi orang yang mengamalkan kitab-kitab terdahulu semata-mata dengan wijadah (menemukannya secara tertulis) atasnya. Wallahu a'lam."

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email