An-Naw' Ats-Tsalits wal-'Isyrun: Ma'rifatu Man Tuqbalu Riwayatuhu wa Man La Tuqbalu wa Bayanul Jarh wat-Ta'dil
الْمَقْبُولُ: الثِّقَةُ الضَّابِطُ لِمَا يَرْوِيهِ. وَهُوَ: الْمُسْلِمُ الْعَاقِلُ الْبَالِغُ، سَالِمًا مِنْ أَسْبَابِ الْفِسْقِ وَخَوَارِمِ الْمُرُوءَةِ، وَأَنْ يَكُونَ مَعَ ذَلِكَ مُتَيَقِّظًا غَيْرَ مُغَفَّلٍ، حَافِظًا إِنْ حَدَّثَ مِنْ حِفْظِهِ، فَاهِمًا إِنْ حَدَّثَ عَلَى الْمَعْنَى. فَإِنِ اخْتَلَّ شَرْطٌ مِمَّا ذَكَرْنَا رُدَّتْ رِوَايَتُهُ
"Perawi yang diterima (al-maqbul) adalah orang yang tsiqah (terpercaya) dan dhabith (cermat) terhadap apa yang ia riwayatkan. Yaitu: seorang muslim, berakal, baligh, selamat dari sebab-sebab kefasikan dan hal-hal yang mencederai muru'ah, serta di samping itu ia waspada (tidak lalai), hafal jika ia meriwayatkan dari hafalannya, dan paham jika ia meriwayatkan secara makna. Jika salah satu syarat yang kami sebutkan ini tidak terpenuhi, riwayatnya tertolak."
وَتَثْبُتُ عَدَالَةُ الرَّاوِي بِاشْتِهَارِهِ بِالْخَيْرِ وَالثَّنَاءِ الْجَمِيلِ عَلَيْهِ، أَوْ بِتَعْدِيلِ الْأَئِمَّةِ، أَوِ اثْنَيْنِ مِنْهُمْ لَهُ، أَوْ وَاحِدٍ عَلَى الصَّحِيحِ، وَلَوْ بِرِوَايَتِهِ عَنْهُ فِي قَوْلٍ
"'Adalah (keadilan) seorang perawi dapat ditetapkan dengan: kemasyhurannya dalam kebaikan dan pujian yang baik terhadapnya, atau dengan ta'dil dari para imam - baik oleh dua orang dari mereka, atau bahkan satu orang saja menurut pendapat yang shahih - bahkan menurut satu pendapat, cukup dengan periwayatan seorang imam darinya."
قَالَ ابْنُ الصَّلَاحِ: وَتَوَسَّعَ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ، فَقَالَ: كُلُّ حَامِلِ عِلْمٍ مَعْرُوفٍ بِالْعِنَايَةِ بِهِ، فَهُوَ عَدْلٌ، مَحْمُولٌ أَمْرُهُ عَلَى الْعَدَالَةِ، حَتَّى يَتَبَيَّنَ جَرْحُهُ، لِقَوْلِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: " يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُولُهُ ". قَالَ: وَفِيمَا قَالَهُ اتِّسَاعٌ غَيْرُ مَرْضِيٍّ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ
"Ibnu Shalah berkata: Ibnu 'Abdil Barr memperluas pengertian ini, ia berkata: Setiap pengemban ilmu yang dikenal memiliki perhatian terhadapnya, maka ia adalah 'adil - urusannya dibawa kepada keadilan, hingga jelas jarh-nya - berdasarkan sabda beliau shallallahu 'alaihi wasallam: 'Ilmu ini akan dibawa oleh orang-orang adil dari setiap generasi.' Beliau (Ibnu Shalah) berkata: Apa yang dikatakan Ibnu 'Abdil Barr ini adalah perluasan yang tidak dapat diterima. Wallahu a'lam."
" قُلْتُ ": لَوْ صَحَّ مَا ذَكَرَهُ مِنَ الْحَدِيثِ لَكَانَ مَا ذَهَبَ إِلَيْهِ قَوِيًّا، وَلَكِنْ فِي صِحَّتِهِ نَظَرٌ قَوِيٌّ، وَالْأَغْلَبُ عَدَمُ صِحَّتِهِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ
"Aku (Ibnu Katsir) berkata: Sekiranya hadits yang disebutkannya itu shahih, niscaya pendapat yang ia tuju itu kuat. Namun keshahihannya masih perlu ditinjau ulang secara kuat, dan yang lebih kuat adalah hadits itu tidak shahih. Wallahu a'lam."
وَيُعْرَفُ ضَبْطُ الرَّاوِي بِمُوَافَقَةِ الثِّقَاتِ لَفْظًا أَوْ مَعْنًى، وَعَكْسُهُ عَكْسُهُ
"Kedhabithan seorang perawi diketahui dengan kesesuaian riwayatnya dengan riwayat para perawi tsiqah lainnya, baik secara lafal maupun makna; dan sebaliknya menunjukkan sebaliknya."
وَالتَّعْدِيلُ مَقْبُولٌ، ذُكِرَ السَّبَبُ أَوْ لَمْ يُذْكَرْ لِأَنَّ تَعْدَادَهُ يَطُولُ، فَقُبِلَ إِطْلَاقُهُ. بِخِلَافِ الْجَرْحِ، فَإِنَّهُ لَا يُقْبَلُ إِلَّا مُفَسَّرًا، لِاخْتِلَافِ النَّاسِ فِي الْأَسْبَابِ الْمُفَسِّقَةِ، فَقَدْ يَعْتَقِدُ الْجَارِحُ شَيْئًا مُفَسِّقًا، فَيُضَعِّفُهُ، وَلَا يَكُونُ كَذَلِكَ فِي نَفْسِ الْأَمْرِ، أَوْ عِنْدَ غَيْرِهِ، فَلِهَذَا اشْتُرِطَ بَيَانُ السَّبَبِ فِي الْجَرْحِ
"Ta'dil diterima, baik disebutkan sebabnya maupun tidak, karena penyebutan sebab-sebabnya satu per satu akan terlalu panjang, sehingga diterima secara mutlak. Berbeda dengan jarh, yang tidak diterima kecuali disertai penjelasan sebabnya (mufassar), karena orang berbeda pendapat mengenai sebab-sebab yang menyebabkan kefasikan - bisa jadi orang yang men-jarh meyakini sesuatu sebagai penyebab kefasikan lalu ia melemahkan perawi itu karenanya, padahal hal itu sebenarnya bukan demikian, atau tidak demikian menurut orang lain. Karena itulah disyaratkan penjelasan sebab dalam jarh."
قَالَ الشَّيْخُ أَبُو عَمْرٍو: وَأَكْثَرُ مَا يُوجَدُ فِي كُتُبِ الْجَرْحِ وَالتَّعْدِيلِ: " فُلَانٌ ضَعِيفٌ "، أَوْ: " مَتْرُوكٌ "، وَنَحْوَ ذَلِكَ، فَإِنْ لَمْ نَكْتَفِ بِهِ انْسَدَّ بَابٌ كَبِيرٌ فِي ذَلِكَ. وَأَجَابَ: بِأَنَّا إِذَا لَمْ نَكْتَفِ بِهِ تَوَقَّفْنَا فِي أَمْرِهِ، لِحُصُولِ الرِّيبَةِ عِنْدَنَا بِذَلِكَ
"Asy-Syaikh Abu 'Amr (Ibnu Shalah) berkata: Yang paling banyak dijumpai dalam kitab-kitab Jarh wat-Ta'dil hanyalah ungkapan seperti: 'Fulan dhaif', atau 'matruk', dan semisalnya. Jika kita tidak mencukupkan diri dengan itu, niscaya tertutuplah pintu yang besar dalam permasalahan ini. Beliau menjawab: Bahwa jika kita tidak mencukupkan diri dengan itu, maka kita bersikap tawaqquf terhadap urusannya, karena timbulnya keraguan pada kita akibat hal tersebut."
" قُلْتُ ": أَمَّا كَلَامُ هَؤُلَاءِ الْأَئِمَّةِ الْمُنْتَصِبِينَ لِهَذَا الشَّأْنِ، فَيَنْبَغِي أَنْ يُؤْخَذَ مُسَلَّمًا مِنْ غَيْرِ ذِكْرِ أَسْبَابٍ، وَذَلِكَ لِلْعِلْمِ بِمَعْرِفَتِهِ، وَاطِّلَاعِهِمْ وَاضْطِلَاعِهِمْ فِي هَذَا الشَّأْنِ، وَاتِّصَافِهِمْ بِالْإِنْصَافِ وَالدِّيَانَةِ وَالْخِبْرَةِ وَالنُّصْحِ، لَا سِيَّمَا إِذَا أَطْبَقُوا عَلَى تَضْعِيفِ الرَّجُلِ، أَوْ كَوْنِهِ مَتْرُوكًا، أَوْ كَذَّابًا أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ. فَالْمُحَدِّثُ الْمَاهِرُ لَا يَتَخَالَجُهُ فِي مِثْلِ هَذَا وَقْفَةٌ فِي مُوَافَقَتِهِمْ، لِصِدْقِهِمْ وَأَمَانَتِهِمْ وَنُصْحِهِمْ. وَلِهَذَا يَقُولُ الشَّافِعِيُّ، فِي كَثِيرٍ مِنْ كَلَامِهِ عَلَى الْأَحَادِيثِ: " لَا يُثْبِتُهُ أَهْلُ الْعِلْمِ بِالْحَدِيثِ "، وَيَرُدُّهُ، وَلَا يَحْتَجُّ بِهِ، بِمُجَرَّدِ ذَلِكَ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ
"Aku (Ibnu Katsir) berkata: Adapun ucapan para imam yang memang berkecimpung khusus dalam bidang ini, sepatutnya diterima begitu saja tanpa perlu penyebutan sebab-sebabnya - karena pengetahuan akan keahlian mereka, penguasaan dan kepakaran mereka dalam bidang ini, serta sifat mereka yang adil, bertakwa, berpengalaman, dan tulus menasihati. Terlebih lagi jika mereka sepakat dalam melemahkan seseorang, atau menyatakannya matruk, atau pendusta, dan semisalnya. Maka seorang ahli hadits yang mahir tidak akan ragu untuk sepakat dengan mereka dalam hal semacam ini, karena kejujuran, amanah, dan ketulusan nasihat mereka. Oleh karena itulah Asy-Syafi'i, dalam banyak ucapannya tentang hadits-hadits, berkata: 'Ahli ilmu hadits tidak menetapkannya', lalu beliau menolaknya dan tidak berhujjah dengannya, hanya dengan pernyataan itu saja. Wallahu a'lam."
أَمَّا إِذَا تَعَارَضَ جَرْحٌ وَتَعْدِيلٌ، فَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ الْجَرْحُ حِينَئِذٍ مُفَسَّرًا. وَهَلْ هُوَ الْمُقَدَّمُ؟ أَوِ التَّرْجِيحُ بِالْكَثْرَةِ أَوِ الْأَحْفَظِ؟ فِيهِ نِزَاعٌ مَشْهُورٌ فِي أُصُولِ الْفِقْهِ وَفُرُوعِهِ وَعِلْمِ الْحَدِيثِ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ
"Adapun apabila jarh dan ta'dil saling bertentangan pada perawi yang sama, maka jarh ketika itu sepatutnya disertai penjelasan sebab. Apakah jarh yang didahulukan atas ta'dil? Ataukah tarjih dilakukan berdasarkan jumlah yang lebih banyak, atau berdasarkan yang lebih hafizh? Dalam hal ini ada perselisihan yang masyhur dalam ushul fiqih, furu'nya, dan ilmu hadits. Wallahu a'lam."
وَيَكْفِي قَوْلُ الْوَاحِدِ فِي التَّعْدِيلِ وَالتَّجْرِيحِ عَلَى الصَّحِيحِ. وَأَمَّا رِوَايَةُ الثِّقَةِ عَنْ شَيْخٍ: فَهَلْ يَتَضَمَّنُ تَعْدِيلَهُ ذَلِكَ الشَّيْخَ أَمْ لَا؟ فِيهِ ثَلَاثَةُ أَقْوَالٍ ... " ثَالِثُهَا ": إِنْ كَانَ لَا يَرْوِي إِلَّا عَنْ ثِقَةٍ فَتَوْثِيقٌ، وَإِلَّا فَلَا. وَالصَّحِيحُ أَنَّهُ لَا يَكُونُ تَوْثِيقًا لَهُ، حَتَّى وَلَوْ كَانَ مِمَّنْ يَنُصُّ عَلَى عَدَالَةِ شُيُوخِهِ. وَلَوْ قَالَ: " حَدَّثَنِي الثِّقَةُ "، لَا يَكُونُ ذَلِكَ تَوْثِيقًا لَهُ عَلَى الصَّحِيحِ، لِأَنَّهُ قَدْ يَكُونُ ثِقَةً عِنْدَهُ، لَا عِنْدَ غَيْرِهِ، وَهَذَا وَاضِحٌ. وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
"Cukuplah pernyataan satu orang saja dalam ta'dil maupun tajrih menurut pendapat yang shahih. Adapun periwayatan seorang perawi tsiqah dari seorang gurunya: apakah hal itu mengandung ta'dil terhadap guru tersebut atau tidak? Dalam hal ini ada tiga pendapat... Pendapat ketiga: jika ia tidak meriwayatkan kecuali dari perawi tsiqah, maka itu menjadi tautsiq baginya; jika tidak, maka bukan. Yang shahih adalah bahwa hal itu bukanlah tautsiq baginya, sekalipun ia termasuk orang yang menegaskan keadilan para gurunya. Dan jika ia berkata: 'Telah menceritakan kepadaku seorang yang tsiqah', maka itu pun bukan tautsiq baginya menurut pendapat yang shahih, karena bisa jadi orang itu tsiqah menurutnya, namun tidak tsiqah menurut orang lain. Ini jelas. Walillahil hamd."
قَالَ: وَكَذَلِكَ فُتْيَا الْعَالِمِ أَوْ عَمَلُهُ عَلَى وَفْقِ حَدِيثٍ، لَا يَسْتَلْزِمُ تَصْحِيحَهُ لَهُ
"Beliau (Ibnu Shalah) berkata: Begitu pula fatwa seorang alim atau amalannya yang sesuai dengan suatu hadits, tidak mengharuskan bahwa ia mensahihkan hadits tersebut."
" قُلْتُ ": وَفِي هَذَا نَظَرٌ، إِذَا لَمْ يَكُنْ فِي الْبَابِ غَيْرُ ذَلِكَ الْحَدِيثِ، أَوْ تَعَرَّضَ لِلِاحْتِجَاجِ بِهِ فِي فُتْيَاهُ أَوْ حُكْمِهِ، أَوِ اسْتَشْهَدَ بِهِ عِنْدَ الْعَمَلِ بِمُقْتَضَاهُ
"Aku (Ibnu Katsir) berkata: Dalam hal ini perlu ditinjau ulang, apabila dalam bab tersebut tidak ada hadits lain selain hadits itu, atau ia secara eksplisit berhujjah dengannya dalam fatwa atau keputusan hukumnya, atau ia menjadikannya sebagai dalil ketika mengamalkan konsekuensinya."
قَالَ ابْنُ الْحَاجِبِ: وَحُكْمُ الْحَاكِمِ الْمُشْتَرِطِ الْعَدَالَةَ تَعْدِيلٌ بِاتِّفَاقٍ
"Ibnul Hajib berkata: Keputusan hukum seorang hakim yang mensyaratkan 'adalah dalam persaksian merupakan ta'dil menurut kesepakatan ulama."
وَأَمَّا إِعْرَاضُ الْعَالِمِ عَنِ الْحَدِيثِ الْمُعَيَّنِ بَعْدَ الْعِلْمِ بِهِ، فَلَيْسَ قَادِحًا فِي الْحَدِيثِ بِاتِّفَاقٍ، لِأَنَّهُ قَدْ يَعْدِلُ عَنْهُ لِمُعَارِضٍ أَرْجَحَ عِنْدَهُ، مَعَ اعْتِقَادِ صِحَّتِهِ
"Adapun berpalingnya seorang alim dari suatu hadits tertentu setelah ia mengetahuinya, itu bukanlah cacat bagi hadits tersebut menurut kesepakatan, karena bisa jadi ia berpaling darinya karena ada dalil penentang yang lebih rajih menurutnya, meski ia tetap meyakini keshahihan hadits itu."
" مَسْئَلَةٌ ": مَجْهُولُ الْعَدَالَةِ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا لَا تُقْبَلُ رِوَايَتُهُ عِنْدَ الْجَمَاهِيرِ. وَمَنْ جُهِلَتْ عَدَالَتُهُ بَاطِنًا، وَلَكِنَّهُ عَدْلٌ فِي الظَّاهِرِ، وَهُوَ الْمَسْتُورُ: فَقَدْ قَالَ بِقَبُولِهِ بَعْضُ الشَّافِعِيِّينَ، وَرَجَّحَ ذَلِكَ سُلَيْمُ بْنُ أَيُّوبَ الْفَقِيهُ، وَوَافَقَهُ ابْنُ الصَّلَاحِ. وَقَدْ حَرَّرْتُ الْبَحْثَ فِي ذَلِكَ فِي الْمُقَدِّمَاتِ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ
"Masalah: Perawi yang majhul 'adalahnya, baik secara zahir maupun batin, riwayatnya tidak diterima menurut jumhur ulama. Adapun perawi yang tidak diketahui 'adalahnya secara batin, namun tampak adil secara zahir - inilah yang disebut al-mastur: sebagian ulama Syafi'iyyah berpendapat riwayatnya diterima, dan pendapat ini dirajihkan oleh Sulaim bin Ayyub Al-Faqih, disepakati pula oleh Ibnu Shalah. Aku telah menguraikan pembahasan ini secara mendalam dalam kitab Al-Muqaddimat. Wallahu a'lam."
فَأَمَّا الْمُبْهَمُ الَّذِي لَمْ يُسَمَّ، أَوْ مَنْ سُمِّيَ وَلَا تُعْرَفُ عَيْنُهُ فَهَذَا مِمَّنْ لَا يَقْبَلُ رِوَايَتَهُ أَحَدٌ عَلِمْنَاهُ. وَلَكِنَّهُ إِذَا كَانَ فِي عَصْرِ التَّابِعِينَ وَالْقُرُونِ الْمَشْهُودِ لَهُمْ بِالْخَيْرِ، فَإِنَّهُ يُسْتَأْنَسُ بِرِوَايَتِهِ، وَيُسْتَضَاءُ بِهَا فِي مَوَاطِنَ. وَقَدْ وَقَعَ فِي مُسْنَدِ الْإِمَامِ أَحْمَدَ وَغَيْرِهِ مِنْ هَذَا الْقَبِيلِ كَثِيرٌ وَاللَّهُ أَعْلَمُ
"Adapun perawi mubham yang tidak disebutkan namanya, atau yang disebutkan namanya namun tidak diketahui identitasnya secara pasti, maka riwayatnya tidak diterima oleh siapa pun yang kami ketahui. Namun jika ia berada pada masa tabi'in dan generasi-generasi yang dipersaksikan kebaikannya, maka riwayatnya bisa dijadikan sebagai penguat, dan diambil cahayanya pada beberapa tempat. Hal semacam ini banyak dijumpai dalam Musnad Imam Ahmad dan kitab-kitab lainnya. Wallahu a'lam."
قَالَ الْخَطِيبُ الْبَغْدَادِيُّ وَغَيْرُهُ: وَتَرْتَفِعُ الْجَهَالَةُ عَنِ الرَّاوِي بِمَعْرِفَةِ الْعُلَمَاءِ لَهُ، أَوْ بِرِوَايَةِ عَدْلَيْنِ عَنْهُ. قَالَ الْخَطِيبُ: لَا يَثْبُتُ لَهُ حُكْمُ الْعَدَالَةِ بِرِوَايَتِهِمَا عَنْهُ. وَعَلَى هَذَا النَّمَطِ مَشَى ابْنُ حِبَّانَ وَغَيْرُهُ: بِأَنْ حَكَمَ لَهُ بِالْعَدَالَةِ بِمُجَرَّدِ هَذِهِ الْحَالَةِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ
"Al-Khathib Al-Baghdadi dan selainnya berkata: Status jahalah seorang perawi dapat terangkat dengan pengenalan para ulama terhadapnya, atau dengan adanya dua orang perawi 'adil yang meriwayatkan darinya. Al-Khathib berkata: Status hukum 'adalah tidak dapat ditetapkan baginya semata-mata karena diriwayatkan oleh dua orang itu. Namun Ibnu Hibban dan selainnya menempuh jalan lain: bahwa hukum 'adalah ditetapkan baginya semata-mata dengan keadaan itu. Wallahu a'lam."
قَالُوا: فَأَمَّا مَنْ لَمْ يَرْوِ عَنْهُ سِوَى وَاحِدٍ، مِثْلُ عَمْرِو ذِي مُرٍّ، وَجَبَّارٍ الطَّائِيِّ، وَسَعِيدِ بْنِ ذِي حُدَّانَ، تَفَرَّدَ بِالرِّوَايَةِ عَنْهَا أَبُو إِسْحَاقَ السَّبِيعِيُّ، وَجُرَيِّ بْنِ كُلَيْبٍ، تَفَرَّدَ عَنْهُ قَتَادَةُ، قَالَ الْخَطِيبُ: وَالْهَزْهَازُ ابْنُ مَيْزَنَ، تَفَرَّدَ عَنْهُ الشَّعْبِيُّ، قَالَ ابْنُ الصَّلَاحِ: وَرَوَى عَنْهُ الثَّوْرِيُّ
"Mereka berkata: Adapun perawi yang tidak diriwayatkan darinya kecuali oleh satu orang saja - seperti 'Amr Dzi Murrin, Jabbar Ath-Tha'i, dan Sa'id bin Dzi Hudan, yang periwayatannya hanya menyendiri melalui Abu Ishaq As-Sabi'i; juga Jurayy bin Kulaib, yang hanya diriwayatkan sendirian oleh Qatadah. Al-Khathib berkata: Dan Al-Hazhaz bin Maizin, yang hanya diriwayatkan sendirian oleh Asy-Sya'bi - Ibnu Shalah berkata: dan diriwayatkan pula darinya oleh Ats-Tsauri."
وَقَالَ ابْنُ الصَّلَاحِ: وَقَدْ رَوَى الْبُخَارِيُّ لِمِرْدَاسٍ الْأَسْلَمِيِّ، وَلَمْ يَرْوِ عَنْهُ سِوَى قَيْسِ بْنِ أَبِي حَازِمٍ، وَمُسْلِمٌ لِرَبِيعَةَ بْنِ كَعْبٍ، وَلَمْ يَرْوِ عَنْهُ سِوَى أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ. قَالَ: وَذَلِكَ مَصِيرٌ مِنْهُمَا إِلَى ارْتِفَاعِ الْجَهَالَةِ بِرِوَايَةِ وَاحِدٍ. وَذَلِكَ مُتَّجِهٌ، كَالْخِلَافِ فِي الِاكْتِفَاءِ بِوَاحِدٍ فِي التَّعْدِيلِ
"Ibnu Shalah berkata: Al-Bukhari telah meriwayatkan hadits dari Mirdas Al-Aslami, padahal tidak ada yang meriwayatkan darinya kecuali Qais bin Abi Hazim; begitu pula Muslim meriwayatkan dari Rabi'ah bin Ka'b, padahal tidak ada yang meriwayatkan darinya kecuali Abu Salamah bin 'Abdirrahman. Beliau berkata: Hal itu menunjukkan pandangan keduanya bahwa status jahalah dapat terangkat hanya dengan satu orang perawi saja. Pandangan ini beralasan kuat, sebagaimana perselisihan mengenai cukupnya satu orang saja dalam ta'dil."
" قُلْتُ ": تَوْجِيهٌ جَيِّدٌ. لَكِنَّ الْبُخَارِيَّ وَمُسْلِمًا إِنَّمَا اكْتَفَيَا فِي ذَلِكَ بِرِوَايَةِ الْوَاحِدِ فَقَطْ، لِأَنَّ هَذَيْنِ صَحَابِيَّانِ، وَجَهَالَةُ الصَّحَابِيِّ لَا تَضُرُّ، بِخِلَافِ غَيْرِهِ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ
"Aku (Ibnu Katsir) berkata: Ini adalah alasan yang baik. Namun Al-Bukhari dan Muslim mencukupkan diri dengan periwayatan satu orang saja dalam hal ini, karena kedua orang itu adalah sahabat, sedangkan jahalah seorang sahabat tidaklah membahayakan keabsahan riwayatnya, berbeda dengan selain sahabat. Wallahu a'lam."
" مَسْئَلَةٌ ": الْمُبْتَدِعُ إِنْ كَفَرَ بِبِدْعَتِهِ، فَلَا إِشْكَالَ فِي رَدِّ رِوَايَتِهِ. وَإِذَا لَمْ يَكْفُرْ، فَإِنِ اسْتَحَلَّ الْكَذِبَ رُدَّتْ أَيْضًا، وَإِنْ لَمْ يَسْتَحِلَّ الْكَذِبَ، فَهَلْ يُقْبَلُ أَوْ لَا؟ أَوْ يُفَرَّقُ بَيْنَ كَوْنِهِ دَاعِيَةً أَوْ غَيْرَ دَاعِيَةٍ؟ فِي ذَلِكَ نِزَاعٌ قَدِيمٌ وَحَدِيثٌ. وَالَّذِي عَلَيْهِ الْأَكْثَرُونَ التَّفْصِيلُ بَيْنَ الدَّاعِيَةِ وَغَيْرِهِ، وَقَدْ حُكِيَ عَنْ نَصِّ الشَّافِعِيِّ، وَقَدْ حَكَى ابْنُ حِبَّانَ عَلَيْهِ الِاتِّفَاقَ، فَقَالَ: لَا يَجُوزُ الِاحْتِجَاجُ بِهِ عِنْدَ أَئِمَّتِنَا قَاطِبَةً، لَا أَعْلَمُ بَيْنَهُمْ فِيهِ خِلَافًا
"Masalah: Jika seorang mubtadi' kafir karena bid'ahnya, maka tidak ada persoalan dalam menolak riwayatnya. Jika ia tidak sampai kafir: jika ia menghalalkan dusta, riwayatnya juga ditolak; namun jika ia tidak menghalalkan dusta, apakah riwayatnya diterima atau tidak? Ataukah dibedakan antara ia seorang da'i (penyeru) bid'ahnya atau bukan? Dalam hal ini ada perselisihan sejak dahulu hingga sekarang. Pendapat mayoritas ulama adalah dengan merinci antara da'i dan bukan da'i - pendapat ini dinukil dari nash Asy-Syafi'i, dan Ibnu Hibban menukilkan bahwa ini adalah kesepakatan ulama, ia berkata: 'Tidak boleh berhujjah dengannya menurut para imam kami secara keseluruhan, aku tidak mengetahui adanya perselisihan di antara mereka dalam hal ini.'"
قَالَ ابْنُ الصَّلَاحِ: وَهَذَا أَعْدَلُ الْأَقْوَالِ وَأَوْلَاهَا. وَالْقَوْلُ بِالْمَنْعِ مُطْلَقًا بَعِيدٌ، مُبَاعِدٌ لِلشَّائِعِ عَنْ أَئِمَّةِ الْحَدِيثِ، فَإِنَّ كُتُبَهُمْ طَافِحَةٌ بِالرِّوَايَةِ عَنِ الْمُبْتَدِعَةِ غَيْرِ الدُّعَاةِ، فَفِي الصَّحِيحَيْنِ مِنْ حَدِيثِهِمْ فِي الشَّوَاهِدِ وَالْأُصُولِ كَثِيرٌ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ
"Ibnu Shalah berkata: Inilah pendapat yang paling adil dan paling utama. Adapun pendapat yang melarang secara mutlak adalah pendapat yang jauh dari kebenaran, bertentangan dengan apa yang masyhur dari para imam hadits, sebab kitab-kitab mereka penuh dengan riwayat dari ahli bid'ah yang bukan da'i - dalam Ash-Shahihain sendiri terdapat banyak hadits dari mereka, baik sebagai syawahid maupun sebagai hadits pokok. Wallahu a'lam."
" قُلْتُ ": وَقَدْ قَالَ الشَّافِعِيُّ: أَقْبَلُ شَهَادَةَ أَهْلِ الْأَهْوَاءِ إِلَّا الْخَطَّابِيَّةَ مِنَ الرَّافِضَةِ، لِأَنَّهُمْ يَرَوْنَ الشَّهَادَةَ بِالزُّورِ لِمُوَافِقِيهِمْ. فَلَمْ يُفَرِّقِ الشَّافِعِيُّ فِي هَذَا النَّصِّ بَيْنَ الدَّاعِيَةِ وَغَيْرِهِ، ثُمَّ مَا الْفَرْقُ فِي الْمَعْنَى بَيْنَهُمَا؟ وَهَذَا الْبُخَارِيُّ قَدْ خَرَّجَ لِعِمْرَانَ بْنِ حِطَّانَ الْخَارِجِيِّ مَادِحِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ مُلْجَمٍ قَاتِلِ عَلِيٍّ، وَهَذَا مِنْ أَكْبَرِ الدُّعَاةِ إِلَى الْبِدْعَةِ! وَاللَّهُ أَعْلَمُ
"Aku (Ibnu Katsir) berkata: Asy-Syafi'i pernah berkata: 'Aku menerima kesaksian ahli bid'ah (ahlul ahwa'), kecuali kelompok Khathabiyyah dari kalangan Rafidhah, karena mereka membolehkan kesaksian palsu demi orang-orang yang sepaham dengan mereka.' Maka dalam nash ini Asy-Syafi'i tidak membedakan antara da'i dan bukan da'i - lalu apa sebenarnya perbedaan maknanya antara keduanya? Padahal Al-Bukhari sendiri telah mengeluarkan riwayat dari 'Imran bin Hithan Al-Khariji, yang memuji 'Abdurrahman bin Muljam, pembunuh 'Ali - padahal ia termasuk da'i bid'ah terbesar! Wallahu a'lam."
" مَسْئَلَةٌ ": التَّائِبُ مِنَ الْكَذِبِ فِي حَدِيثِ النَّاسِ تُقْبَلُ رِوَايَتُهُ، خِلَافًا لِأَبِي بَكْرٍ الصَّيْرَفِيِّ. فَأَمَّا إِنْ كَانَ قَدْ كَذَبَ فِي الْحَدِيثِ مُتَعَمِّدًا، فَنَقَلَ ابْنُ الصَّلَاحِ عَنْ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ وَأَبِي بَكْرٍ الْحُمَيْدِيِّ شَيْخِ الْبُخَارِيِّ: أَنَّهُ لَا تُقْبَلُ رِوَايَتُهُ أَبَدًا، وَقَالَ أَبُو الْمُظَفَّرِ السَّمْعَانِيُّ: مَنْ كَذَبَ فِي خَبَرٍ وَاحِدٍ وَجَبَ إِسْقَاطُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ حَدِيثِهِ
"Masalah: Orang yang bertaubat dari dusta dalam pembicaraan biasa manusia, riwayatnya setelah bertaubat tetap diterima - berbeda dengan pendapat Abu Bakr Ash-Shairafi. Adapun jika ia pernah berdusta dalam hadits Nabi secara sengaja, maka Ibnu Shalah menukil dari Ahmad bin Hanbal dan Abu Bakr Al-Humaidi (guru Al-Bukhari): bahwa riwayatnya tidak diterima selama-lamanya. Abul Muzhaffar As-Sam'ani berkata: 'Barangsiapa berdusta dalam satu hadits saja, wajib digugurkan seluruh haditsnya yang telah lalu.'"
" قُلْتُ ": وَمِنَ الْعُلَمَاءِ مَنْ كَفَّرَ مُتَعَمِّدَ الْكَذِبِ فِي الْحَدِيثِ النَّبَوِيِّ وَمِنْهُ مَنْ يُحَتِّمُ قَتْلَهُ. وَقَدْ حَرَّرْتُ ذَلِكَ فِي الْمُقَدِّمَاتِ. وَأَمَّا مَنْ غَلِطَ فِي حَدِيثٍ فَبُيِّنَ لَهُ الصَّوَابُ فَلَمْ يَرْجِعْ إِلَيْهِ: فَقَالَ ابْنُ الْمُبَارَكِ وَأَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ وَالْحُمَيْدِيُّ: لَا تُقْبَلُ رِوَايَتُهُ أَيْضًا، وَتَوَسَّطَ بَعْضُهُمْ، فَقَالَ: إِنْ كَانَ عَدَمُ رُجُوعِهِ إِلَى الصَّوَابِ عِنَادًا، فَهَذَا يَلْتَحِقُ بِمَنْ كَذَبَ عَمْدًا، وَإِلَّا فَلَا وَاللَّهُ أَعْلَمُ
"Aku (Ibnu Katsir) berkata: Sebagian ulama mengkafirkan orang yang sengaja berdusta dalam hadits Nabi, bahkan sebagian mewajibkan hukuman mati baginya. Aku telah menguraikan hal ini secara mendalam dalam kitab Al-Muqaddimat. Adapun orang yang keliru dalam suatu hadits, lalu ditunjukkan kepadanya yang benar namun ia tidak mau kembali kepadanya: Ibnul Mubarak, Ahmad bin Hanbal, dan Al-Humaidi berkata: riwayatnya juga tidak diterima. Sebagian ulama mengambil sikap pertengahan, mereka berkata: jika ketidakmauannya kembali kepada yang benar itu karena keras kepala ('inad), maka ia digolongkan sebagai orang yang sengaja berdusta; jika tidak demikian, maka tidak. Wallahu a'lam."
وَمِنْ هَهُنَا يَنْبَغِي التَّحَرُّزُ مِنَ الْكَذِبِ كُلَّمَا أَمْكَنَ، فَلَا يُحَدِّثُ إِلَّا مِنْ أَصْلٍ مُعْتَمَدٍ، وَيَجْتَنِبُ الشَّوَاذَّ وَالْمُنْكَرَاتِ، فَقَدْ قَالَ الْقَاضِي أَبُو يُوسُفَ: مَنْ تَتَبَّعَ غَرَائِبَ الْحَدِيثِ كَذَبَ، وَفِي الْأَثَرِ: " كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ "
"Dari sinilah sepatutnya seseorang menjaga diri dari dusta semampu mungkin, sehingga ia tidak meriwayatkan hadits kecuali dari sumber yang dapat dipercaya, dan menjauhi riwayat-riwayat yang syadz dan munkar. Al-Qadhi Abu Yusuf berkata: 'Barangsiapa yang gemar mengejar riwayat-riwayat gharib, niscaya ia akan berdusta.' Dan dalam sebuah atsar disebutkan: 'Cukuplah seseorang berdosa apabila ia menceritakan setiap apa yang ia dengar.'"
" مَسْئَلَةٌ ": إِذَا حَدَّثَ ثِقَةٌ عَنْ ثِقَةٍ بِحَدِيثٍ، فَأَنْكَرَ الشَّيْخُ سَمَاعَهُ لِذَلِكَ بِالْكُلِّيَّةِ، فَاخْتَارَ ابْنُ الصَّلَاحِ أَنَّهُ لَا تُقْبَلُ رِوَايَتُهُ عَنْهُ، بِجَزْمِهِ بِإِنْكَارِهِ، وَلَا يَقْدَحُ ذَلِكَ فِي عَدَالَةِ الرَّاوِي عَنْهُ فِيمَا عَدَاهُ، بِخِلَافِ مَا إِذَا قَالَ: لَا أَعْرِفُ هَذَا الْحَدِيثَ مِنْ سَمَاعِي، فَإِنَّهُ تُقْبَلُ رِوَايَتُهُ عَنْهُ. وَأَمَّا إِذَا نَسِيَهُ، فَإِنَّ الْجُمْهُورَ يَقْبَلُونَهُ، وَرَدَّهُ بَعْضُ الْحَنَفِيَّةِ. كَحَدِيثِ سُلَيْمَانَ بْنِ مُوسَى عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ: " أَيُّمَا امْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ ". قَالَ ابْنُ جُرَيْجٍ: فَلَقِيتُ الزُّهْرِيَّ فَسَأَلْتُهُ عَنْهُ؟ فَلَمْ يَعْرِفْهُ. وَكَحَدِيثِ رَبِيعَةَ عَنْ سُهَيْلِ بْنِ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: " قَضَى بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ ". ثُمَّ نَسِيَ سُهَيْلٌ، لِآفَةٍ حَصَلَتْ لَهُ فَكَانَ يَقُولُ: حَدَّثَنِي رَبِيعَةُ عَنِّي
"Masalah: Apabila seorang perawi tsiqah meriwayatkan suatu hadits dari perawi tsiqah lainnya (gurunya), namun sang guru mengingkari secara total bahwa ia pernah mendengar hadits itu, maka Ibnu Shalah memilih pendapat bahwa riwayat murid darinya tidak diterima, karena kepastian pengingkarannya - namun hal itu tidak mencederai 'adalah sang perawi murid pada riwayat-riwayatnya yang lain. Berbeda halnya jika sang guru berkata: 'Aku tidak mengetahui hadits ini dari pendengaranku', maka riwayat murid darinya tetap diterima. Adapun jika sang guru lupa terhadap hadits itu, maka jumhur ulama tetap menerimanya, sedangkan sebagian ulama Hanafiyyah menolaknya. Seperti hadits Sulaiman bin Musa, dari Az-Zuhri, dari 'Urwah, dari 'Aisyah: 'Wanita mana pun yang menikah tanpa izin walinya, maka nikahnya batal.' Ibnu Juraij berkata: 'Aku menemui Az-Zuhri lalu aku menanyakannya tentang hadits itu, namun ia tidak mengetahuinya.' Begitu pula hadits Rabi'ah, dari Suhail bin Abi Shalih, dari ayahnya, dari Abu Hurairah: 'Beliau memutuskan perkara dengan saksi dan sumpah.' Kemudian Suhail lupa akan hadits itu karena suatu gangguan yang menimpanya, sehingga ia kemudian berkata: 'Rabi'ah telah menceritakannya kepadaku, dariku sendiri.'"
" قُلْتُ ": هَذَا أَوْلَى بِالْقَبُولِ مِنَ الْأَوَّلِ. وَقَدْ جَمَعَ الْخَطِيبُ الْبَغْدَادِيُّ كِتَابًا فِيمَنْ حَدَّثَ بِحَدِيثٍ ثُمَّ نَسِيَ
"Aku (Ibnu Katsir) berkata: Kasus ini lebih layak diterima daripada kasus yang pertama. Al-Khathib Al-Baghdadi telah menyusun sebuah kitab khusus tentang perawi yang meriwayatkan suatu hadits lalu kemudian melupakannya."
" مَسْئَلَةٌ ": وَمَنْ أَخَذَ عَلَى التَّحْدِيثِ أُجْرَةً: هَلْ تُقْبَلُ رِوَايَتُهُ أَمْ لَا؟ رُوِيَ عَنْ أَحْمَدَ وَإِسْحَاقَ وَأَبِي حَاتِمٍ: أَنَّهُ لَا يُكْتَبُ عَنْهُ، لِمَا فِيهِ مِنْ خَرْمِ الْمُرُوءَةِ. وَتَرَخَّصَ أَبُو نُعَيْمٍ الْفَضْلُ بْنُ دُكَيْنٍ وَعَلِيُّ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَآخَرُونَ، كَمَا تُؤْخَذُ الْأُجْرَةُ عَلَى تَعْلِيمِ الْقُرْآنِ، وَقَدْ ثَبَتَ فِي صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ: " إِنَّ أَحَقَّ مَا أَخَذْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا كِتَابُ اللَّهِ ". وَقَدْ أَفْتَى الشَّيْخُ أَبُو إِسْحَاقَ الشِّيرَازِيُّ فَقِيهُ الْعِرَاقِ بِبَغْدَادَ لِأَبِي الْحُسَيْنِ بْنِ النَّقُّورِ بِأَخْذِ الْأُجْرَةِ، لِشُغْلِ الْمُحَدِّثِينَ لَهُ عَنِ التَّكَسُّبِ لِعِيَالِهِ
"Masalah: Adapun perawi yang mengambil upah atas penyampaian hadits: apakah riwayatnya diterima atau tidak? Diriwayatkan dari Ahmad, Ishaq, dan Abu Hatim: bahwa riwayatnya tidak dicatat, karena hal itu mencederai muru'ah. Sementara Abu Nu'aim Al-Fadhl bin Dukain, 'Ali bin 'Abdil 'Aziz, dan yang lainnya memberi keringanan, sebagaimana upah boleh diambil atas pengajaran Al-Qur'an. Telah tetap dalam Shahih Al-Bukhari sabda Nabi: 'Sesungguhnya yang paling berhak kalian ambil upah atasnya adalah Kitabullah.' Asy-Syaikh Abu Ishaq Asy-Syirazi, faqih Irak di Baghdad, telah memberi fatwa kepada Abul Husain bin An-Nuqur agar boleh mengambil upah, karena kesibukan para ahli hadits dalam mengajar membuat mereka tidak sempat mencari nafkah bagi keluarganya."
" مَسْئَلَةٌ ": قَالَ الْخَطِيبُ الْبَغْدَادِيُّ: أَعْلَى الْعِبَارَاتِ فِي التَّعْدِيلِ وَالتَّجْرِيحِ أَنْ يُقَالَ " حُجَّةٌ " أَوْ " ثِقَةٌ "، وَأَدْنَاهَا أَنْ يُقَالَ: " كَذَّابٌ ". " قُلْتُ ": وَبَيْنَ ذَلِكَ أُمُورٌ كَثِيرَةٌ يَعْسُرُ ضَبْطُهَا، وَقَدْ تَكَلَّمَ الشَّيْخُ أَبُو عَمْرٍو عَلَى مَرَاتِبَ مِنْهَا. وَثَمَّ اصْطِلَاحَاتٌ لِأَشْخَاصٍ، يَنْبَغِي التَّوَقُّفُ عَلَيْهَا
"Masalah: Al-Khathib Al-Baghdadi berkata: Ungkapan tertinggi dalam ta'dil dan tajrih adalah dikatakan 'hujjah' atau 'tsiqah', sedangkan yang terendah adalah dikatakan 'kadzdzab'. Aku (Ibnu Katsir) berkata: Di antara kedua ungkapan tersebut terdapat banyak tingkatan yang sulit untuk dipastikan batasannya. Asy-Syaikh Abu 'Amr telah membicarakan sebagian tingkatannya. Selain itu, ada pula istilah-istilah khusus milik tokoh-tokoh tertentu, yang sepatutnya diketahui secara khusus."
وَمِنْ ذَلِكَ أَنَّ الْبُخَارِيَّ إِذَا قَالَ، فِي الرَّجُلِ: " سَكَتُوا عَنْهُ "، أَوْ " فِيهِ نَظَرٌ "، فَإِنَّهُ يَكُونُ فِي أَدْنَى الْمَنَازِلِ وَأَرْدَئِهَا عِنْدَهُ، لَكِنَّهُ لَطِيفُ الْعِبَارَةِ فِي التَّجْرِيحِ، فَلْيُعْلَمْ ذَلِكَ
"Di antaranya: apabila Al-Bukhari mengatakan tentang seorang perawi: 'Mereka mendiamkannya', atau 'Padanya ada sesuatu yang perlu ditinjau (fihi nazhar)', maka perawi itu berada pada tingkatan yang paling rendah dan paling buruk menurutnya - hanya saja beliau menggunakan ungkapan yang halus dalam men-tajrih. Maka hendaklah hal ini diketahui."
قَالَ ابْنُ مَعِينٍ: إِذَا قُلْتُ " لَيْسَ بِهِ بَأْسٌ " فَهُوَ ثِقَةٌ. قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: إِذَا قِيلَ " صَدُوقٌ " أَوْ " مَحَلُّهُ الصِّدْقُ " أَوْ " لَا بَأْسَ بِهِ " فَهُوَ مِمَّنْ يُكْتَبُ حَدِيثُهُ وَيُنْظَرُ فِيهِ
"Ibnu Ma'in berkata: 'Jika aku mengatakan tentang seorang perawi: laisa bihi ba's (tidak ada masalah dengannya), maka ia adalah tsiqah.' Ibnu Abi Hatim berkata: 'Jika dikatakan shaduq, atau mahalluhu ash-shidq, atau la ba'sa bihi, maka ia termasuk perawi yang haditsnya dicatat dan ditinjau lebih lanjut.'"
وَرَوَى ابْنُ الصَّلَاحِ عَنْ أَحْمَدَ بْنِ صَالِحٍ الْمِصْرِيِّ أَنَّهُ قَالَ: لَا يُتْرَكُ الرَّجُلُ حَتَّى يَجْتَمِعَ الْجَمِيعُ عَلَى تَرْكِ حَدِيثِهِ. وَقَدْ بَسَطَ ابْنُ الصَّلَاحِ الْكَلَامَ فِي ذَلِكَ. وَالْوَاقِفُ عَلَى عِبَارَاتِ الْقَوْمِ يَفْهَمُ مَقَاصِدَهُمْ بِمَا عُرِفَ مِنْ عِبَارَاتِهِمْ فِي غَالِبِ الْأَحْوَالِ، وَبِقَرَائِنَ تُرْشِدُ إِلَى ذَلِكَ. وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ
"Ibnu Shalah meriwayatkan dari Ahmad bin Shalih Al-Mishri, bahwa ia berkata: 'Seseorang tidak boleh ditinggalkan hingga semua ulama sepakat untuk meninggalkan haditsnya.' Ibnu Shalah telah menguraikan pembicaraan tentang hal ini secara luas. Orang yang menelaah ungkapan-ungkapan para ulama akan memahami maksud mereka melalui apa yang telah dikenal dari ungkapan-ungkapan mereka pada umumnya, serta melalui berbagai qarinah yang mengarahkan kepada hal itu. Wallahul muwaffiq."
قَالَ ابْنُ الصَّلَاحِ: وَقَدْ فُقِدَتْ شُرُوطُ الْأَهْلِيَّةِ فِي غَالِبِ أَهْلِ زَمَانِنَا، وَلَمْ يَبْقَ إِلَّا مُرَاعَاةُ اتِّصَالِ السِّلْسِلَةِ فِي الْإِسْنَادِ، فَيَنْبَغِي أَنْ لَا يَكُونَ مَشْهُورًا بِفِسْقٍ وَنَحْوِهِ، وَأَنْ يَكُونَ ذَلِكَ مَأْخُوذًا عَنْ ضَبْطِ سَمَاعِهِ مِنْ مَشَايِخِهِ مِنْ أَهْلِ الْخِبْرَةِ بِهَذَا الشَّأْنِ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ
"Ibnu Shalah berkata: Syarat-syarat keahlian dalam periwayatan hadits telah hilang pada kebanyakan orang di zaman kita, dan yang tersisa hanyalah perhatian pada kesambungan rangkaian sanad. Maka sepatutnya perawi itu tidak dikenal dengan kefasikan dan semisalnya, dan hendaknya kesambungan sanadnya itu diperoleh dari kecermatan pendengarannya dari para gurunya, dari kalangan orang-orang yang berpengalaman dalam bidang ini. Wallahu a'lam."