Ikhtishar 'Ulumil Hadits Bab 16: Al-I'tibar, Al-Mutaba'ah, wal-Syawahid

An-Naw' Al-Khamis 'Asyar: Fil I'tibarat wal Mutaba'at wasy-Syawahid

مِثَالُهُ: أَنْ يَرْوِيَ حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدِيثًا، فَإِنْ رَوَاهُ غَيْرُ حَمَّادٍ عَنْ أَيُّوبَ، أَوْ غَيْرُ أَيُّوبَ عَنْ مُحَمَّدٍ، أَوْ غَيْرُ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَوْ غَيْرُ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَهَذِهِ مُتَابَعَاتٌ

"Contohnya: Hammad bin Salamah meriwayatkan dari Ayyub, dari Muhammad bin Sirin, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, sebuah hadits. Jika hadits itu diriwayatkan oleh selain Hammad dari Ayyub, atau selain Ayyub dari Muhammad, atau selain Muhammad dari Abu Hurairah, atau selain Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka riwayat-riwayat ini disebut mutaba'at (penyerta)."

فَإِنْ رُوِيَ مَعْنَاهُ مِنْ طَرِيقٍ أُخْرَى عَنْ صَحَابِيٍّ آخَرَ سُمِّيَ شَاهِدَ الْمَعْنَى

"Jika maknanya diriwayatkan dari jalur lain, dari sahabat lain, maka itu disebut syahid dengan makna (syahid bil-ma'na)."

وَإِنْ لَمْ يُرْوَ بِمَعْنَاهُ أَيْضًا حَدِيثٌ آخَرُ فَهُوَ فَرْدٌ مِنَ الْأَفْرَادِ

"Dan jika tidak ada hadits lain pun yang diriwayatkan dengan makna yang sama, maka ia adalah fard (hadits yang menyendiri) dari kalangan al-afrad."

وَيُغْتَفَرُ فِي بَابِ " الشَّوَاهِدِ وَالْمُتَابَعَاتِ " مِنَ الرِّوَايَةِ عَنِ الضَّعِيفِ الْقَرِيبِ الضَّعْفِ: مَا لَا يُغْتَفَرُ فِي الْأُصُولِ، كَمَا يَقَعُ فِي الصَّحِيحَيْنِ وَغَيْرِهِمَا مِثْلُ ذَلِكَ. وَلِهَذَا يَقُولُ الدَّارَقُطْنِيُّ فِي بَعْضِ الضُّعَفَاءِ: " يَصْلُحُ لِلِاعْتِبَارِ " ، أَوْ " لَا يَصْلُحُ أَنْ يُعْتَبَرَ بِهِ " . وَاللَّهُ أَعْلَمُ

"Dan dalam bab syawahid dan mutaba'at, ditoleransi periwayatan dari perawi dha'if yang kelemahannya ringan - sesuatu yang tidak ditoleransi dalam al-ushul (dalil-dalil pokok) - sebagaimana hal itu terjadi di dalam Ash-Shahihain (Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim) dan kitab-kitab lain selain keduanya. Oleh karena itu Ad-Daraquthni berkata tentang sebagian perawi dha'if: 'Ia layak untuk i'tibar,' atau 'Ia tidak layak untuk dijadikan i'tibar.' Wallahu a'lam."

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email