An-Naw' Ats-Tsalits 'Asyar: Asy-Syadz
قَالَ الشَّافِعِيُّ: وَهُوَ أَنْ يَرْوِيَ الثِّقَةُ حَدِيثًا يُخَالِفُ مَا رَوَى النَّاسُ، وَلَيْسَ مِنْ ذَلِكَ أَنْ يَرْوِيَ مَا لَمْ يَرْوِ غَيْرُهُ
"Asy-Syafi'i berkata: Ia (syadz) adalah ketika seorang perawi tsiqah meriwayatkan hadits yang menyelisihi apa yang diriwayatkan orang banyak. Bukan termasuk syadz, seorang perawi meriwayatkan sesuatu yang tidak diriwayatkan selainnya (semata-mata karena menyendiri)."
وَقَدْ حَكَاهُ الْحَافِظُ أَبُو يَعْلَى الْخَلِيلِيُّ الْقَزْوِينِيُّ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنَ الْحِجَازِيِّينَ أَيْضًا
"Al-Hafizh Abu Ya'la Al-Khalili Al-Qazwini juga menukilkan definisi ini dari sekelompok ulama Hijaz."
قَالَ: وَالَّذِي عَلَيْهِ حُفَّاظُ الْحَدِيثِ: أَنَّ الشَّاذَّ مَا لَيْسَ لَهُ إِلَّا إِسْنَادٌ وَاحِدٌ، يَشِذُّ بِهِ ثِقَةٌ أَوْ غَيْرُ ثِقَةٍ، فَيُتَوَقَّفُ فِيمَا شَذَّ بِهِ الثِّقَةُ وَلَا يُحْتَجُّ بِهِ، وَيُرَدُّ مَا شَذَّ بِهِ غَيْرُ الثِّقَةِ
"Beliau (Ibnu Shalah) berkata: Yang menjadi pegangan para huffazh hadits: bahwa syadz adalah hadits yang hanya memiliki satu sanad, diriwayatkan menyendiri oleh perawi tsiqah atau bukan tsiqah. Maka yang diriwayatkan menyendiri oleh perawi tsiqah, ditangguhkan (tawaqquf) dan tidak dijadikan hujjah; sedangkan yang diriwayatkan menyendiri oleh yang bukan tsiqah, ditolak."
وَقَالَ الْحَاكِمُ النَّيْسَابُورِيُّ: هُوَ الَّذِي يَنْفَرِدُ بِهِ الثِّقَةُ، وَلَيْسَ لَهُ مُتَابِعٌ
"Al-Hakim An-Naisaburi berkata: Ia adalah hadits yang diriwayatkan menyendiri oleh perawi tsiqah, dan tidak ada mutaba'ah (penguat) baginya."
قَالَ ابْنُ الصَّلَاحِ: وَيُشْكِلُ عَلَى هَذَا: حَدِيثُ " الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ "، فَإِنَّهُ تَفَرَّدَ بِهِ عُمَرُ، وَعَنْهُ عَلْقَمَةُ، وَعَنْهُ مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيُّ، وَعَنْهُ يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْأَنْصَارِيُّ
"Ibnu Shalah berkata: Definisi Al-Hakim ini bermasalah jika diterapkan pada hadits 'Innamal a'malu bin-niyyat' (sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya), sebab hadits ini diriwayatkan menyendiri oleh 'Umar, lalu darinya 'Alqamah, lalu darinya Muhammad bin Ibrahim At-Taimi, lalu darinya Yahya bin Sa'id Al-Anshari."
" قُلْتُ ": ثُمَّ تَوَاتَرَ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ هَذَا، فَيُقَالُ: إِنَّهُ رَوَاهُ عَنْهُ نَحْوٌ مِنْ مِائَتَيْنِ، وَقِيلَ أَزْيَدُ مِنْ ذَلِكَ، وَقَدْ ذَكَرَ لَهُ ابْنُ مَنْدَةَ مُتَابَعَاتٍ غَرَائِبَ، وَلَا تَصِحُّ، كَمَا بَسَطْنَاهُ فِي مُسْنَدِ عُمَرَ، وَفِي الْأَحْكَامِ الْكَبِيرِ
"Aku (Ibnu Katsir) berkata: Kemudian dari Yahya bin Sa'id inilah hadits itu menjadi mutawatir - dikatakan ada sekitar dua ratus orang yang meriwayatkan darinya, bahkan ada yang mengatakan lebih dari itu. Ibnu Mandah menyebutkan beberapa mutaba'ah yang gharib (jarang) baginya, namun tidak shahih - sebagaimana telah kami uraikan panjang lebar dalam Musnad 'Umar dan dalam Al-Ahkam Al-Kabir."
قَالَ: وَكَذَلِكَ حَدِيثُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ: " أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ بَيْعِ الْوَلَاءِ وَعَنْ هِبَتِهِ "
"Beliau berkata: Begitu pula hadits 'Abdullah bin Dinar, dari 'Abdullah bin 'Umar: 'Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melarang jual-beli hak wala' (perwalian pembebasan budak) dan menghibahkannya.'"
وَتَفَرَّدَ مَالِكٌ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَنَسٍ: " أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ مَكَّةَ وَعَلَى رَأْسِهِ الْمِغْفَرُ "
"Dan Malik meriwayatkan sendirian, dari Az-Zuhri, dari Anas: 'Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memasuki Makkah sedangkan di kepala beliau ada al-mighfar (baju besi penutup kepala).'"
وَكُلٌّ مِنْ هَذِهِ الْأَحَادِيثِ الثَّلَاثَةِ فِي الصَّحِيحَيْنِ مِنْ هَذِهِ الْوُجُوهِ الْمَذْكُورَةِ فَقَطْ
"Dan setiap dari ketiga hadits ini ada dalam Ash-Shahihain hanya dari jalur-jalur yang disebutkan tadi saja (tanpa jalur lain)."
وَقَدْ قَالَ مُسْلِمٌ: لِلزُّهْرِيِّ تِسْعُونَ حَرْفًا لَا يَرْوِيهَا غَيْرُهُ
"Muslim berkata: Az-Zuhri memiliki sembilan puluh lafal hadits yang tidak diriwayatkan oleh selainnya."
وَهَذَا الَّذِي قَالَ مُسْلِمٌ عَنِ الزُّهْرِيِّ، مِنْ تَفَرُّدِهِ بِأَشْيَاءَ لَا يَرْوِيهَا غَيْرُهُ: يُشَارِكُهُ فِي نَظِيرِهِ جَمَاعَةٌ مِنَ الرُّوَاةِ
"Dan apa yang dikatakan Muslim tentang Az-Zuhri ini - yakni menyendirinya dengan hal-hal yang tidak diriwayatkan selainnya - dimiliki pula sepertinya oleh sejumlah perawi lain."
فَإِذَنِ الَّذِي قَالَهُ الشَّافِعِيُّ أَوَّلًا هُوَ الصَّوَابُ: أَنَّهُ إِذَا رَوَى الثِّقَةُ شَيْئًا قَدْ خَالَفَهُ فِيهِ النَّاسُ فَهُوَ الشَّاذُّ، يَعْنِي الْمَرْدُودَ. وَلَيْسَ مِنْ ذَلِكَ أَنْ يَرْوِيَ الثِّقَةُ مَا لَمْ يَرْوِ غَيْرُهُ، بَلْ هُوَ مَقْبُولٌ إِذَا كَانَ عَدْلًا ضَابِطًا حَافِظًا
"Maka, apa yang dikatakan Asy-Syafi'i pada awalnya itulah yang benar: bahwa apabila perawi tsiqah meriwayatkan sesuatu yang diselisihi orang banyak di dalamnya, itulah syadz, yakni yang tertolak. Bukan termasuk syadz, seorang perawi tsiqah meriwayatkan apa yang tidak diriwayatkan selainnya - bahkan itu diterima, selama ia 'adil, dhabith, lagi hafizh."
فَإِنَّ هَذَا لَوْ رُدَّ لَرُدَّتْ أَحَادِيثُ كَثِيرَةٌ مِنْ هَذَا النَّمَطِ وَتُعُطِّلَتْ كَثِيرٌ مِنَ الْمَسَائِلِ عَنِ الدَّلَائِلِ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ
"Sebab jika hal semacam ini ditolak, niscaya akan tertolak pula banyak hadits sejenis, dan banyak permasalahan (fiqih) akan kehilangan dalilnya. Wallahu a'lam."
وَأَمَّا إِنْ كَانَ الْمُنْفَرِدُ بِهِ غَيْرَ حَافِظٍ، وَهُوَ مَعَ ذَلِكَ عَدْلٌ ضَابِطٌ: فَحَدِيثُهُ حَسَنٌ. فَإِنْ فَقَدَ ذَلِكَ فَمَرْدُودٌ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ
"Adapun jika yang menyendiri meriwayatkannya bukan seorang hafizh, namun tetap 'adil lagi dhabith, maka haditsnya hasan. Jika ia kehilangan sifat itu (dhabith), maka haditsnya tertolak. Wallahu a'lam."