(Lanjutan An-Naw' Ats-Tsamin: Al-Maqthu')
أَصْحَابِ الْحَدِيثِ. وَهُوَ قَوْلُ أَكْثَرِ أَهْلِ الْعِلْمِ. وَخَالَفَ فِي ذَلِكَ فَرِيقٌ، مِنْهُمْ أَبُو بَكْرٍ الْإِسْمَاعِيلِيُّ. وَكَذَا الْكَلَامُ عَلَى قَوْلِهِ " مِنَ السُّنَّةِ كَذَا "، وَقَوْلِ أَنَسٍ " أُمِرَ بِلَالٌ أَنْ يَشْفَعَ الْأَذَانَ وَيُوتِرَ الْإِقَامَةَ "
"...(dihukumi marfu' dan musnad menurut) para ahli hadits. Inilah pendapat mayoritas ahli ilmu. Sekelompok ulama menyelisihi pendapat ini, di antaranya Abu Bakr Al-Isma'ili. Demikian pula pembahasannya berlaku untuk ucapan sahabat 'termasuk sunnah adalah begini', dan ucapan Anas 'Bilal diperintahkan untuk menggenapkan (lafal) adzan dan mengganjilkan iqamah'."
قَالَ: وَمَا قِيلَ مِنْ أَنَّ تَفْسِيرَ الصَّحَابِيِّ فِي حُكْمِ الْمَرْفُوعِ، فَإِنَّمَا ذَلِكَ فِيمَا كَانَ سَبَبَ نُزُولٍ، أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ
"Beliau berkata: Adapun pendapat bahwa penafsiran seorang sahabat berstatus hukum marfu', itu hanya berlaku untuk penafsiran tentang sebab turunnya ayat, atau semisalnya."
أَمَّا إِذَا قَالَ الرَّاوِي عَنِ الصَّحَابِيِّ: " يَرْفَعُ الْحَدِيثَ " أَوْ " يَنْمِيهِ " أَوْ " يَبْلُغُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ "، فَهُوَ عِنْدَ أَهْلِ الْحَدِيثِ مِنْ قَبِيلِ الْمَرْفُوعِ الصَّرِيحِ فِي الرَّفْعِ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ
"Adapun jika perawi berkata tentang seorang sahabat: 'ia memarfu'kan hadits' atau 'ia menyandarkannya (kepada Nabi)' atau 'ia menyampaikannya sampai kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam' - maka menurut ahli hadits, ini termasuk marfu' yang tegas pemarfu'annya. Wallahu a'lam."
An-Naw' At-Tasi': Al-Mursal
قَالَ ابْنُ الصَّلَاحِ: وَصُورَتُهُ الَّتِي لَا خِلَافَ فِيهَا: حَدِيثُ التَّابِعِيِّ الْكَبِيرِ الَّذِي قَدْ أَدْرَكَ جَمَاعَةً مِنَ الصَّحَابَةِ وَجَالَسَهُمْ، كَعُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَدِيِّ بْنِ الْخِيَارِ، ثُمَّ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ، وَأَمْثَالِهِمَا، إِذَا قَالَ: " قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ "
"Ibnu Shalah berkata: Bentuknya yang tidak diperselisihkan adalah hadits seorang tabi'in senior yang telah menjumpai dan duduk bersama sejumlah sahabat, seperti 'Ubaidullah bin 'Adi bin Al-Khiyar, kemudian Sa'id bin Al-Musayyib, dan semisal keduanya, apabila ia berkata: 'Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda...'."
وَالْمَشْهُورُ التَّسْوِيَةُ بَيْنَ التَّابِعِينَ أَجْمَعِينَ فِي ذَلِكَ. وَحَكَى ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ عَنْ بَعْضِهِمْ: أَنَّهُ لَا يُعَدُّ إِرْسَالُ صِغَارِ التَّابِعِينَ مُرْسَلًا
"Pendapat yang masyhur menyamaratakan seluruh tabi'in dalam hal ini. Ibnu 'Abdil Barr menukil dari sebagian ulama bahwa irsal (periwayatan tanpa perantara sahabat) dari tabi'in junior tidak dianggap sebagai mursal."
ثُمَّ إِنَّ الْحَاكِمَ يَخُصُّ الْمُرْسَلَ بِالتَّابِعِينَ. وَالْجُمْهُورُ مِنَ الْفُقَهَاءِ وَالْأُصُولِيِّينَ يُعَمِّمُونَ التَّابِعِينَ وَغَيْرَهُمْ
"Al-Hakim mengkhususkan istilah mursal hanya untuk tabi'in, sedangkan jumhur fuqaha dan ahli ushul menggeneralisasikannya untuk tabi'in dan selain mereka."
" قُلْتُ ": قَالَ أَبُو عَمْرِو بْنُ الْحَاجِبِ فِي مُخْتَصَرِهِ فِي أُصُولِ الْفِقْهِ: الْمُرْسَلُ قَوْلُ غَيْرِ الصَّحَابِيِّ: " قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ "
"Aku (Ibnu Katsir) berkata: Abu 'Amr bin Al-Hajib berkata dalam ringkasan ushul fiqihnya: Mursal adalah ucapan orang selain sahabat: 'Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda...'."
هَذَا مَا يَتَعَلَّقُ بِتَصَوُّرِهِ عِنْدَ الْمُحَدِّثِينَ. وَأَمَّا كَوْنُهُ حُجَّةً فِي الدِّينِ، فَذَلِكَ يَتَعَلَّقُ بِعِلْمِ الْأُصُولِ، وَقَدْ أَشْبَعْنَا الْكَلَامَ فِي ذَلِكَ فِي كِتَابِنَا " الْمُقَدِّمَاتِ "
"Ini semua berkaitan dengan gambaran istilahnya menurut para muhaddits. Adapun kedudukannya sebagai hujjah dalam agama, itu berkaitan dengan ilmu ushul, dan kami telah membahasnya secara tuntas dalam kitab kami 'Al-Muqaddimat'."
وَقَدْ ذَكَرَ مُسْلِمٌ فِي مُقَدِّمَةِ كِتَابِهِ " أَنَّ الْمُرْسَلَ فِي أَصْلِ قَوْلِنَا وَقَوْلِ أَهْلِ الْعِلْمِ بِالْأَخْبَارِ لَيْسَ بِحُجَّةٍ " وَكَذَا حَكَاهُ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ عَنْ جَمَاهِيرِ أَصْحَابِ الْحَدِيثِ
"Muslim menyebutkan dalam Muqaddimah kitabnya: 'Bahwa mursal, menurut pokok pendapat kami dan pendapat para ahli hadits, bukanlah hujjah.' Demikian pula Ibnu 'Abdil Barr menukilnya dari mayoritas ahli hadits."
وَقَالَ ابْنُ الصَّلَاحِ: وَمَا ذَكَرْنَاهُ مِنْ سُقُوطِ الِاحْتِجَاجِ بِالْمُرْسَلِ وَالْحُكْمِ بِضَعْفِهِ، هُوَ الَّذِي اسْتَقَرَّ عَلَيْهِ آرَاءُ جَمَاعَةِ حُفَّاظِ الْحَدِيثِ وَنُقَّادِ الْأَثَرِ، وَتَدَاوَلُوهُ فِي تَصَانِيفِهِمْ
"Ibnu Shalah berkata: Apa yang kami sebutkan tentang gugurnya kehujjahan mursal dan penghukumannya sebagai dha'if, itulah yang menjadi pendapat mapan di kalangan para huffazh hadits dan kritikus atsar, dan mereka gunakan secara luas dalam karya-karya mereka."
قَالَ: وَالِاحْتِجَاجُ بِهِ مَذْهَبُ مَالِكٍ وَأَبِي حَنِيفَةَ وَأَصْحَابِهِمَا فِي طَائِفَةٍ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ
"Beliau berkata: Adapun berhujjah dengannya, itu adalah madzhab Malik dan Abu Hanifah serta para pengikut keduanya, juga sebagian ulama lain. Wallahu a'lam."
" قُلْتُ ": وَهُوَ مَحْكِيٌّ عَنِ الْإِمَامِ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ، فِي رِوَايَةٍ
"Aku berkata: Ini juga dinukil dari Imam Ahmad bin Hanbal, dalam salah satu riwayat."
وَأَمَّا الشَّافِعِيُّ فَنَصَّ عَلَى أَنَّ مُرْسَلَاتِ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ: حِسَانٌ، قَالُوا: لِأَنَّهُ تَتَبَّعَهَا فَوَجَدَهَا مُسْنَدَةً. وَاللَّهُ أَعْلَمُ
"Adapun Asy-Syafi'i, beliau menegaskan bahwa hadits-hadits mursal Sa'id bin Al-Musayyib adalah hasan. Mereka (para ulama) berkata: karena beliau (Asy-Syafi'i) telah menelusurinya dan mendapatinya musnad (bersambung dari jalur lain). Wallahu a'lam."
وَالَّذِي عَوَّلَ عَلَيْهِ كَلَامُهُ فِي الرِّسَالَةِ " أَنَّ مَرَاسِيلَ كِبَارِ التَّابِعِينَ حُجَّةٌ، إِنْ جَاءَتْ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ وَلَوْ مُرْسَلَةً، أَوِ اعْتَضَدَتْ بِقَوْلِ صَحَابِيٍّ أَوْ أَكْثَرِ الْعُلَمَاءِ، أَوْ كَانَ الْمُرْسِلُ لَوْ سَمَّى لَا يُسَمِّي إِلَّا ثِقَةً، فَحِينَئِذٍ يَكُونُ مُرْسَلُهُ حُجَّةً، وَلَا يَنْتَهِضُ إِلَى رُتْبَةِ الْمُتَّصِلِ "
"Yang menjadi pegangan utama beliau dalam kitab 'Ar-Risalah': 'Bahwa hadits-hadits mursal dari tabi'in senior adalah hujjah, jika datang pula dari jalur lain meski mursal juga, atau dikuatkan oleh ucapan seorang sahabat atau pendapat mayoritas ulama, atau jika perawi yang meng-irsal-kannya seandainya menyebutkan nama gurunya, ia tidak menyebut kecuali orang yang tsiqah - maka pada saat itu mursalnya menjadi hujjah, namun tidak sampai naik ke tingkatan muttashil.'"
قَالَ الشَّافِعِيُّ، وَأَمَّا مَرَاسِيلُ غَيْرِ كِبَارِ التَّابِعِينَ فَلَا أَعْلَمُ أَحَدًا قَبِلَهَا
"Asy-Syafi'i berkata: Adapun hadits-hadits mursal dari selain tabi'in senior, aku tidak mengetahui seorang pun yang menerimanya."
قَالَ ابْنُ الصَّلَاحِ: وَأَمَّا مَرَاسِيلُ الصَّحَابَةِ، كَابْنِ عَبَّاسٍ وَأَمْثَالِهِ، فَفِي حُكْمِ الْمَوْصُولِ، لِأَنَّهُمْ إِنَّمَا يَرْوُونَ عَنِ الصَّحَابَةِ، كُلُّهُمْ عُدُولٌ، فَجَهَالَتُهُمْ لَا تَضُرُّ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ
"Ibnu Shalah berkata: Adapun hadits-hadits mursal para sahabat, seperti Ibnu 'Abbas dan semisalnya, itu berstatus hukum mausul (bersambung), sebab mereka hanya meriwayatkan dari sesama sahabat, dan seluruh sahabat adalah 'adil - sehingga ketidaktahuan (identitas perantara) tidak membahayakan (kesahihannya). Wallahu a'lam."
" قُلْتُ ": وَقَدْ حَكَى بَعْضُهُمُ الْإِجْمَاعَ عَلَى قَبُولِ مَرَاسِيلِ الصَّحَابَةِ. وَذَكَرَ ابْنُ الْأَثِيرِ وَغَيْرُهُ فِي ذَلِكَ خِلَافًا. وَيُحْكَى هَذَا الْمَذْهَبُ عَنِ الْأُسْتَاذِ أَبِي إِسْحَاقَ الْإِسْفَرَايِينِيِّ، لِاحْتِمَالِ تَلَقِّيهِمْ عَنْ بَعْضِ التَّابِعِينَ
"Aku berkata: Sebagian ulama menukilkan ijma' (kesepakatan) atas diterimanya hadits-hadits mursal sahabat. Ibnul Atsir dan selainnya menyebutkan adanya perselisihan dalam hal ini. Pendapat (yang menolaknya) ini dinukil dari Al-Ustadz Abu Ishaq Al-Isfarayini, karena ada kemungkinan mereka (sahabat) menerimanya dari sebagian tabi'in."
وَقَدْ وَقَعَ رِوَايَةُ الْأَكَابِرِ عَنِ الْأَصَاغِرِ، وَالْآبَاءِ عَنِ الْأَبْنَاءِ، كَمَا سَيَأْتِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى
"Fenomena periwayatan orang-orang senior dari yang junior, dan orang tua dari anaknya, memang pernah terjadi, sebagaimana akan datang penjelasannya insya Allah Ta'ala."
" تَنْبِيهٌ ": وَالْحَافِظُ الْبَيْهَقِيُّ فِي كِتَابِهِ " السُّنَنِ الْكَبِيرِ " وَغَيْرِهِ يُسَمِّي مَا رَوَاهُ التَّابِعِيُّ عَنْ رَجُلٍ مِنَ الصَّحَابَةِ " مُرْسَلًا ". فَإِنْ كَانَ يَذْهَبُ مَعَ هَذَا إِلَى أَنَّهُ لَيْسَ بِحُجَّةٍ فَيَلْزَمُهُ أَنْ يَكُونَ مُرْسَلُ الصَّحَابَةِ أَيْضًا لَيْسَ بِحُجَّةٍ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ
"'Peringatan': Al-Hafizh Al-Baihaqi dalam kitabnya 'As-Sunan Al-Kabir' dan lainnya menamai apa yang diriwayatkan tabi'in dari seorang sahabat sebagai 'mursal' juga. Jika beliau bersamaan dengan itu berpendapat bahwa itu bukan hujjah, maka konsekuensinya, mursal sahabat pun mestinya bukan hujjah pula (menurut logika penamaannya sendiri). Wallahu a'lam."