Muqaddimah Ibnu Shalah Bab 9: Hadits Maqthu'

النَّوْعُ الثَّامِنُ: مَعْرِفَةُ الْمَقْطُوعِ
"Anwa' kedelapan: mengenal al-maqthu' (hadits yang dihentikan sandarannya pada Tabi'in)."1

وَهُوَ غَيْرُ الْمُنْقَطِعِ الَّذِي يَأْتِي ذِكْرُهُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى. وَيُقَالُ فِي جَمْعِهِ: الْمَقَاطِعُ وَالْمَقَاطِيعُ.
"Al-Maqthu' ini berbeda dari al-Munqathi' yang akan disebutkan nanti insya Allah Ta'ala. Bentuk jamaknya disebut al-Maqathi' dan al-Maqathi'."
وَهُوَ مَا جَاءَ عَنِ التَّابِعِينَ مَوْقُوفًا عَلَيْهِمْ مِنْ أَقْوَالِهِمْ أَوْ أَفْعَالِهِمْ.
"Al-Maqthu' adalah apa yang datang dari para Tabi'in, dihentikan sandarannya pada mereka, baik berupa perkataan maupun perbuatan mereka."
قَالَ الْخَطِيبُ أَبُو بَكْرٍ الْحَافِظُ فِي جَامِعِهِ: " مِنَ الْحَدِيثِ: الْمَقْطُوعُ ". وَقَالَ: " الْمَقَاطِعُ هِيَ الْمَوْقُوفَاتُ عَلَى التَّابِعِينَ ". [وَاللَّهُ أَعْلَمُ].
"Al-Khathib Abu Bakr al-Hafizh berkata dalam kitab Jami'-nya: 'Di antara jenis hadits adalah al-Maqthu'.' Beliau juga berkata: 'Al-Maqathi' adalah riwayat-riwayat yang dihentikan sandarannya pada para Tabi'in.' [Wallahu a'lam]."
قُلْتُ: وَقَدْ وَجَدْتُ التَّعْبِيرَ بِالْمَقْطُوعِ عَنِ الْمُنْقَطِعِ غَيْرِ الْمَوْصُولِ فِي كَلَامِ الْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ، وَأَبِي الْقَاسِمِ الطَّبَرَانِيِّ، وَغَيْرِهِمَا، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Aku (Ibnu Shalah) katakan: aku dapati pula ungkapan al-maqthu' dipakai untuk maksud al-munqathi' ghairu al-mausul (yang tidak bersambung sanadnya) dalam perkataan Imam asy-Syafi'i, Abu al-Qasim ath-Thabarani, dan selain keduanya. Wallahu a'lam."

Tafri'at (Cabang-Cabang Pembahasan)

أَحَدُهَا: قَوْلُ الصَّحَابِيِّ: " كُنَّا نَفْعَلُ كَذَا، أَوْ كُنَّا نَقُولُ كَذَا " إِنْ لَمْ يُضِفْهُ إِلَى زَمَانِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُوَ مِنْ قَبِيلِ الْمَوْقُوفِ، وَإِنْ أَضَافَهُ إِلَى زَمَانِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَالَّذِي قَطَعَ بِهِ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ بْنُ الْبَيِّعِ الْحَافِظُ وَغَيْرُهُ مِنْ أَهْلِ الْحَدِيثِ وَغَيْرِهِمْ أَنَّ ذَلِكَ مِنْ قَبِيلِ الْمَرْفُوعِ.
"Pertama: perkataan seorang Sahabat: 'Dahulu kami biasa melakukan begini,' atau 'dahulu kami biasa mengatakan begini' — jika tidak dinisbahkan kepada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka ia termasuk mauquf. Namun jika dinisbahkan kepada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka yang ditegaskan oleh Abu 'Abdillah bin al-Bayyi' al-Hafizh (Al-Hakim) dan ahli hadits lainnya adalah bahwa itu termasuk marfu'."
وَبَلَغَنِي عَنْ أَبِي بَكْرٍ الْبُرْقَانِيِّ: أَنَّهُ سَأَلَ أَبَا بَكْرٍ الْإِسْمَاعِيلِيَّ الْإِمَامَ عَنْ ذَلِكَ، فَأَنْكَرَ كَوْنَهُ مِنَ الْمَرْفُوعِ.
"Telah sampai kabar kepadaku dari Abu Bakr al-Burqani, bahwa ia bertanya kepada Imam Abu Bakr al-Isma'ili tentang hal itu, dan beliau mengingkari bahwa itu termasuk marfu'."
وَالْأَوَّلُ هُوَ الَّذِي عَلَيْهِ الِاعْتِمَادُ، لِأَنَّ ظَاهِرَ ذَلِكَ مُشْعِرٌ بِأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اطَّلَعَ عَلَى ذَلِكَ وَقَرَّرَهُمْ عَلَيْهِ، وَتَقْرِيرُهُ أَحَدُ وُجُوهِ السُّنَنِ الْمَرْفُوعَةِ، فَإِنَّهَا أَنْوَاعٌ: مِنْهَا أَقْوَالُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمِنْهَا أَفْعَالُهُ، وَمِنْهَا تَقْرِيرُهُ وَسُكُوتُهُ عَنِ الْإِنْكَارِ بَعْدَ اطِّلَاعِهِ.
"Pendapat pertama itulah yang menjadi pegangan (mu'tamad), karena secara lahiriah hal itu mengisyaratkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengetahui perkara itu dan menetapkannya (taqrir) atas mereka. Taqrir Nabi merupakan salah satu bentuk sunnah yang marfu'. Sebab sunnah yang marfu' itu bermacam-macam jenisnya: di antaranya adalah perkataan beliau shallallahu 'alaihi wasallam, di antaranya perbuatan beliau, dan di antaranya adalah taqrir dan diamnya beliau tanpa mengingkari suatu perkara setelah mengetahuinya."
وَمِنْ هَذَا الْقَبِيلِ قَوْلُ الصَّحَابِيِّ: " كُنَّا لَا نَرَى بَأْسًا بِكَذَا وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِينَا، أَوْ كَانَ يُقَالُ كَذَا وَكَذَا عَلَى عَهْدِهِ، أَوْ كَانُوا يَفْعَلُونَ كَذَا وَكَذَا فِي حَيَاتِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ". فَكُلُّ ذَلِكَ وَشِبْهُهُ مَرْفُوعٌ مُسْنَدٌ، مُخَرَّجٌ فِي كُتُبِ الْمَسَانِيدِ.
"Termasuk dalam kategori ini pula perkataan Sahabat: 'Dahulu kami tidak memandang mengapa untuk melakukan begini, sedangkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berada di tengah-tengah kami,' atau 'dahulu biasa dikatakan begini dan begini pada masa beliau,' atau 'dahulu mereka biasa melakukan begini dan begini semasa hidup beliau shallallahu 'alaihi wasallam.' Semua itu dan yang serupa dengannya termasuk marfu' musnad, dan dimuat dalam kitab-kitab musnad."
وَذَكَرَ الْحَاكِمُ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ - فِيمَا رُوِّينَاهُ عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ: " كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَعُونَ بَابَهُ بِالْأَظَافِيرِ " أَنَّ هَذَا يَتَوَهَّمُهُ مَنْ لَيْسَ مِنْ أَهْلِ الصَّنْعَةِ مُسْنَدًا - يَعْنِي مَرْفُوعًا - لِذِكْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِ، وَلَيْسَ بِمُسْنَدٍ، بَلْ هُوَ مَوْقُوفٌ. وَذَكَرَ الْخَطِيبُ أَيْضًا نَحْوَ ذَلِكَ فِي جَامِعِهِ.
"Al-Hakim Abu 'Abdillah menyebutkan — dalam riwayat yang kami terima dari al-Mughirah bin Syu'bah, ia berkata: 'Dahulu para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengetuk pintu beliau dengan kuku-kuku jari' — bahwa riwayat semacam ini disangka musnad (yakni marfu') oleh orang yang bukan ahli di bidang ini, karena di dalamnya disebutkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, padahal ia bukan musnad, melainkan mauquf. Al-Khathib juga menyebutkan hal serupa dalam kitab Jami'-nya."
قُلْتُ: بَلْ هُوَ مَرْفُوعٌ كَمَا سَبَقَ ذِكْرُهُ. وَهُوَ بِأَنْ يَكُونَ مَرْفُوعًا أَحْرَى، لِكَوْنِهِ أَحْرَى بِاطِّلَاعِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ. وَالْحَاكِمُ مُعْتَرِفٌ بِكَوْنِ ذَلِكَ مِنْ قَبِيلِ الْمَرْفُوعِ، وَقَدْ كُنَّا عَدَدْنَا هَذَا فِيمَا أَخَذْنَاهُ عَلَيْهِ. ثُمَّ تَأَوَّلْنَاهُ لَهُ عَلَى أَنَّهُ أَرَادَ أَنَّهُ لَيْسَ بِمُسْنَدٍ لَفْظًا، بَلْ هُوَ مَوْقُوفٌ لَفْظًا، وَكَذَلِكَ سَائِرُ مَا سَبَقَ مَوْقُوفٌ لَفْظًا، وَإِنَّمَا جَعَلْنَاهُ مَرْفُوعًا مِنْ حَيْثُ الْمَعْنَى، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Aku (Ibnu Shalah) katakan: bahkan riwayat itu marfu' sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, dan lebih layak lagi disebut marfu', karena lebih besar kemungkinan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengetahuinya. Al-Hakim sendiri sebenarnya mengakui bahwa itu termasuk marfu', dan kami dahulu pernah menghitung hal ini sebagai salah satu catatan atas beliau. Kemudian kami memberikan penakwilan atasnya, bahwa yang beliau maksudkan adalah riwayat itu bukan musnad secara lafal, melainkan mauquf secara lafal. Demikian pula seluruh contoh yang telah disebutkan sebelumnya, semuanya mauquf secara lafal, namun dijadikan marfu' ditinjau dari segi makna. Wallahu a'lam."
الثَّانِي: قَوْلُ الصَّحَابِيِّ " أُمِرْنَا بِكَذَا، أَوْ نُهِينَا عَنْ كَذَا " مِنْ نَوْعِ الْمَرْفُوعِ وَالْمُسْنَدِ عِنْدَ أَصْحَابِ الْحَدِيثِ، وَهُوَ قَوْلُ أَكْثَرِ أَهْلِ الْعِلْمِ، وَخَالَفَ فِي ذَلِكَ فَرِيقٌ مِنْهُمْ أَبُو بَكْرٍ الْإِسْمَاعِيلِيُّ، وَالْأَوَّلُ هُوَ الصَّحِيحُ؛ لِأَنَّ مُطْلَقَ ذَلِكَ يَنْصَرِفُ بِظَاهِرِهِ إِلَى مَنْ إِلَيْهِ الْأَمْرُ وَالنَّهْيُ، وَهُوَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
"Kedua: perkataan Sahabat 'kami diperintahkan untuk begini,' atau 'kami dilarang dari begini,' termasuk jenis marfu' dan musnad menurut para ahli hadits, dan ini pendapat mayoritas ulama. Sekelompok ulama menyelisihi pendapat ini, di antaranya Abu Bakr al-Isma'ili. Pendapat pertama itulah yang benar (shahih), karena secara lahiriah ungkapan itu, jika disebutkan secara mutlak, merujuk kepada pihak yang berwenang memerintah dan melarang, yaitu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam."
وَهَكَذَا قَوْلُ الصَّحَابِيِّ: " مِنَ السُّنَّةِ كَذَا " فَالْأَصَحُّ أَنَّهُ مُسْنَدٌ مَرْفُوعٌ؛ لِأَنَّ الظَّاهِرَ أَنَّهُ لَا يُرِيدُ بِهِ إِلَّا سُنَّةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا يَجِبُ اتِّبَاعُهُ. وَكَذَلِكَ قَوْلُ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: " أُمِرَ بِلَالٌ أَنْ يَشْفَعَ الْأَذَانَ وَيُوتِرَ الْإِقَامَةَ ". وَسَائِرُ مَا جَانَسَ ذَلِكَ، فَلَا فَرْقَ بَيْنَ أَنْ يَقُولَ ذَلِكَ فِي زَمَانِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَبَعْدَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Demikian pula perkataan Sahabat: 'termasuk sunnah adalah begini,' pendapat yang paling shahih menyatakan bahwa itu musnad marfu', karena secara lahiriah ia tidak memaksudkan selain sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan apa yang wajib diikuti. Demikian pula perkataan Anas radhiyallahu 'anhu: 'Bilal diperintahkan untuk menggenapkan lafal adzan dan mengganjilkan lafal iqamah.' Dan seluruh contoh yang serupa dengan itu — tidak ada bedanya apakah perkataan itu diucapkan pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam maupun sesudah beliau wafat. Wallahu a'lam."
الثَّالِثُ: مَا قِيلَ مِنْ أَنَّ تَفْسِيرَ الصَّحَابِيِّ حَدِيثٌ مُسْنَدٌ، فَإِنَّمَا ذَلِكَ فِي تَفْسِيرٍ يَتَعَلَّقُ بِسَبَبِ نُزُولِ آيَةٍ يُخْبِرُ بِهِ الصَّحَابِيُّ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ، كَقَوْلِ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: " كَانَتِ الْيَهُودُ تَقُولُ: مَنْ أَتَى امْرَأَتَهُ مِنْ دُبُرِهَا فِي قُبُلِهَا جَاءَ الْوَلَدُ أَحْوَلَ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: (نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ) الْآيَةَ.
"Ketiga: adapun pernyataan bahwa tafsir seorang Sahabat dihukumi sebagai hadits musnad, itu hanya berlaku pada tafsir yang berkaitan dengan sebab turunnya suatu ayat, yang dikabarkan langsung oleh Sahabat, atau semacam itu. Seperti perkataan Jabir radhiyallahu 'anhu: 'Dahulu orang-orang Yahudi berkata: barangsiapa mendatangi istrinya dari arah belakang namun tetap pada kemaluannya (qubul), maka anak yang lahir akan juling matanya. Maka Allah 'Azza wa Jalla menurunkan ayat: (Istri-istrimu adalah ladang bagimu) hingga akhir ayat.'"
فَأَمَّا سَائِرُ تَفَاسِيرِ الصَّحَابَةِ الَّتِي لَا تَشْتَمِلُ عَلَى إِضَافَةِ شَيْءٍ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَعْدُودَةٌ فِي الْمَوْقُوفَاتِ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Adapun tafsir-tafsir Sahabat lainnya yang tidak memuat penyandaran apa pun kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka ia dihitung termasuk golongan mauquf. Wallahu a'lam."
الرَّابِعُ: مِنْ قَبِيلِ الْمَرْفُوعِ الْأَحَادِيثُ الَّتِي قِيلَ فِي أَسَانِيدِهَا عِنْدَ ذِكْرِ الصَّحَابِيِّ: " يَرْفَعُ الْحَدِيثَ، أَوْ يَبْلُغُ بِهِ، أَوْ يُنْمِيهِ، أَوْ رِوَايَةً ".
"Keempat: termasuk kategori marfu' pula hadits-hadits yang dalam sanadnya, ketika menyebutkan Sahabat, dikatakan: 'ia me-rafa'-kan hadits itu,' atau 'ia menyampaikannya sampai (yablughu bihi),' atau 'ia menyandarkannya (yunmihi),' atau 'secara riwayat.'"
مِثَالُ ذَلِكَ: " سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الْأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رِوَايَةً: " تُقَاتِلُونَ قَوْمًا صِغَارَ الْأَعْيُنِ.. " الْحَدِيثَ.
"Contohnya: 'Sufyan bin 'Uyainah, dari Abu az-Zinad, dari al-A'raj, dari Abu Hurairah, secara riwayat (riwayatan): "Kalian akan memerangi suatu kaum yang bermata kecil..."' — hadits selengkapnya."
وَبِهِ " عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، يَبْلُغُ بِهِ، قَالَ: النَّاسُ تَبَعٌ لِقُرَيْشٍ.. " الْحَدِيثَ.
"Dan dengan sanad yang sama: 'dari Abu Hurairah, ia menyampaikannya sampai (kepada Nabi), ia berkata: manusia mengikuti Quraisy...' — hadits selengkapnya."
فَكُلُّ ذَلِكَ وَأَمْثَالُهُ كِنَايَةٌ عَنْ رَفْعِ الصَّحَابِيِّ الْحَدِيثَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَحُكْمُ ذَلِكَ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ حُكْمُ الْمَرْفُوعِ صَرِيحًا.
"Semua ungkapan itu dan yang semisalnya merupakan kinayah (ungkapan tidak langsung) dari penyandaran hadits oleh Sahabat kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dan hukumnya menurut para ulama sama dengan hukum marfu' yang tegas (sharih)."
قُلْتُ: وَإِذَا قَالَ الرَّاوِي عَنِ التَّابِعِيِّ: " يَرْفَعُ الْحَدِيثَ، أَوْ يَبْلُغُ بِهِ " فَذَلِكَ أَيْضًا مَرْفُوعٌ، وَلَكِنَّهُ مَرْفُوعٌ مُرْسَلٌ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Aku (Ibnu Shalah) katakan: apabila seorang perawi mengatakan tentang seorang Tabi'in: 'ia me-rafa'-kan hadits itu,' atau 'ia menyampaikannya sampai (kepada Nabi),' maka itu juga termasuk marfu', hanya saja ia marfu' mursal (karena Sahabatnya tidak disebutkan). Wallahu a'lam."2

Catatan & Referensi

  1. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 47.

  2. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 47-51.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email