النَّوْعُ الثَّانِي وَالسِّتُّونَ: مَعْرِفَةُ مَنْ خَلَطَ فِي آخِرِ عُمْرِهِ مِنَ الثِّقَاتِ
"Anwa' keenam puluh dua: mengenal perawi tsiqah yang mengalami ikhtilath (kekacauan hafalan) di akhir usianya."1
هَذَا فَنٌّ عَزِيزٌ مُهِمٌّ، لَمْ أَعْلَمْ أَحَدًا أَفْرَدَهُ بِالتَّصْنِيفِ وَاعْتَنَى بِهِ، مَعَ كَوْنِهِ حَقِيقًا بِذَلِكَ جِدًّا.
"Ini adalah cabang ilmu yang langka lagi penting. Aku tidak mengetahui ada seorang pun yang menyusun karya khusus tentangnya dan memberi perhatian padanya, padahal ia sungguh layak mendapatkannya."
وَهُمْ مُنْقَسِمُونَ: فَمِنْهُمْ مَنْ خَلَطَ لِاخْتِلَاطِهِ وَخَرَفِهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ خَلَطَ لِذَهَابِ بَصَرِهِ، أَوْ لِغَيْرِ ذَلِكَ.
"Mereka (para perawi yang mengalami ini) terbagi: sebagian mengalami kekacauan karena ikhtilath (gangguan akal) dan kepikunan, sebagian karena hilangnya penglihatan, atau karena sebab lain."
وَالْحُكْمُ فِيهِمْ أَنَّهُ يُقْبَلُ حَدِيثُ مَنْ أُخِذَ عَنْهُمْ قَبْلَ الِاخْتِلَاطِ، وَلَا يُقْبَلُ حَدِيثُ مَنْ أُخِذَ عَنْهُ بَعْدَ الِاخْتِلَاطِ، أَوْ أُشْكِلَ أَمْرُهُ فَلَمْ يُدْرَ هَلْ أُخِذَ عَنْهُ قَبْلَ الِاخْتِلَاطِ أَوْ بَعْدَهُ.
"Hukum bagi mereka: riwayat orang yang diambil darinya sebelum ikhtilath diterima, dan riwayat yang diambil darinya sesudah ikhtilath tidak diterima - begitu pula jika keadaannya diragukan, tidak diketahui apakah riwayat itu diambil sebelum atau sesudah ikhtilath."
Contoh-Contoh Perawi yang Mengalami Ikhtilath
فَمِنْهُمْ عَطَاءُ بْنُ السَّائِبِ:اخْتَلَطَ فِي آخِرِ عُمْرِهِ، فَاحْتَجَّ أَهْلُ الْعِلْمِ بِرِوَايَةِ الْأَكَابِرِ عَنْهُ، مِثْلُ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ وَشُعْبَةَ، لِأَنَّ سَمَاعَهُمْ مِنْهُ كَانَ فِي الصِّحَّةِ، وَتَرَكُوا الِاحْتِجَاجَ بِرِوَايَةِ مَنْ سَمِعَ مِنْهُ آخِرًا.
"Di antaranya 'Atha' bin as-Sa'ib: ia mengalami ikhtilath di akhir usianya, maka para ahli ilmu berhujjah dengan riwayat para perawi senior darinya, seperti Sufyan ats-Tsauri dan Syu'bah, karena mereka mendengar darinya saat ia masih sehat (hafalannya), dan mereka meninggalkan berhujjah dengan riwayat orang yang mendengar darinya belakangan."
وَقَالَ يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْقَطَّانُ فِي شُعْبَةَ:" إِلَّا حَدِيثَيْنِ كَانَ شُعْبَةُ يَقُولُ: سَمِعْتُهُمَا بِأَخَرَةٍ عَنْ زَادَانَ "
.
"Yahya bin Sa'id al-Qaththan berkata tentang Syu'bah: 'kecuali dua hadits, Syu'bah sendiri berkata: aku mendengar keduanya belakangan dari Zadzan.'"
"Yahya bin Sa'id al-Qaththan berkata tentang Syu'bah: 'kecuali dua hadits, Syu'bah sendiri berkata: aku mendengar keduanya belakangan dari Zadzan.'"
أَبُو إِسْحَاقَ السَّبِيعِيُّ:اخْتَلَطَ أَيْضًا، وَيُقَالُ إِنَّ سَمَاعَ سُفْيَانَ بْنِ عُيَيْنَةَ مِنْهُ بَعْدَمَا اخْتَلَطَ، ذَكَرَ ذَلِكَ أَبُو يَعْلَى الْخَلِيلِيُّ.
"Abu Ishaq as-Sabi'i: ia juga mengalami ikhtilath, dan dikatakan bahwa pendengaran Sufyan bin 'Uyainah darinya terjadi setelah ia ikhtilath - disebutkan demikian oleh Abu Ya'la al-Khalili."
سَعِيدُ بْنُ إِيَاسٍ الْجُرَيْرِيُّ:اخْتَلَطَ وَتَغَيَّرَ حِفْظُهُ قَبْلَ مَوْتِهِ.
"Sa'id bin Iyas al-Jurairi: ia mengalami ikhtilath dan hafalannya berubah sebelum wafatnya."
قَالَ أَبُو الْوَلِيدِ الْبَاجِيُّ الْمَالِكِيُّ: قَالَ النَّسَائِيُّ:" أُنْكِرَ أَيَّامَ الطَّاعُونِ، وَهُوَ أَثْبَتُ عِنْدَنَا مِنْ خَالِدٍ الْحَذَّاءِ مَا سُمِعَ مِنْهُ قَبْلَ أَيَّامِ الطَّاعُونِ "
.
"Abu al-Walid al-Baji al-Maliki berkata, an-Nasa'i berkata: 'ia diingkari (riwayatnya) pada masa wabah tha'un, dan riwayat yang didengar darinya sebelum masa wabah tha'un lebih kuat menurut kami daripada riwayat Khalid al-Hadzdza'.'"
"Abu al-Walid al-Baji al-Maliki berkata, an-Nasa'i berkata: 'ia diingkari (riwayatnya) pada masa wabah tha'un, dan riwayat yang didengar darinya sebelum masa wabah tha'un lebih kuat menurut kami daripada riwayat Khalid al-Hadzdza'.'"
سَعِيدُ بْنُ أَبِي عَرُوبَةَ: قَالَ يَحْيَى بْنُ مَعِينٍ:خَلَطَ سَعِيدُ بْنُ أَبِي عَرُوبَةَ بَعْدَ هَزِيمَةِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حَسَنِ بْنِ حَسَنٍ سَنَةَ اثْنَتَيْنِ وَأَرْبَعِينَ - يَعْنِي وَمِائَةٍ -، فَمَنْ سَمِعَ مِنْهُ بَعْدَ ذَلِكَ فَلَيْسَ بِشَيْءٍ.
"Sa'id bin Abi 'Arubah: Yahya bin Ma'in berkata: 'Sa'id bin Abi 'Arubah mengalami ikhtilath setelah kekalahan Ibrahim bin 'Abdillah bin Hasan bin Hasan pada tahun seratus empat puluh dua, maka siapa yang mendengar darinya setelah itu, riwayatnya tidak bernilai apa pun.'"
وَيَزِيدُ بْنُ هَارُونَ صَحِيحٌ السَّمَاعُ مِنْهُ، سُمِعَ مِنْهُ بِوَاسِطٍ وَهُوَ يُرِيدُ الْكُوفَةَ، وَأَثْبَتُ النَّاسِ سَمَاعًا مِنْهُ عَبْدَةُ بْنُ سُلَيْمَانَ.
"Adapun Yazid bin Harun, pendengarannya darinya sahih - ia mendengar darinya di Wasith saat hendak menuju Kufah - dan orang yang paling kuat pendengarannya darinya adalah 'Abdah bin Sulaiman."
قُلْتُ:وَمِمَّنْ عُرِفَ أَنَّهُ سَمِعَ مِنْهُ بَعْدَ اخْتِلَاطِهِ وَكِيعٌ، وَالْمُعَافَى بْنُ عِمْرَانَ الْمَوْصِلِيُّ، بَلَغَنَا عَنِ ابْنِ عَمَّارٍ الْمَوْصِلِيِّ أَحَدِ الْحُفَّاظِ أَنَّهُ قَالَ: " لَيْسَتْ رِوَايَتُهُمَا عَنْهُ بِشَيْءٍ، إِنَّمَا سَمَاعُهُمَا بَعْدَمَا اخْتَلَطَ ".
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: di antara yang diketahui mendengar darinya setelah ikhtilath adalah Waki' dan Al-Mu'afa bin 'Imran al-Mawshili - sampai kepada kami dari Ibnu 'Ammar al-Mawshili, salah seorang huffazh, bahwa ia berkata: 'riwayat keduanya darinya tidak bernilai apa pun, karena pendengaran keduanya terjadi setelah ia ikhtilath.'"
وَقَدْ رُوِّينَا عَنْ يَحْيَى بْنِ مَعِينٍ أَنَّهُ قَالَ لِوَكِيعٍ:" تُحَدِّثُ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي عَرُوبَةَ وَإِنَّمَا سَمِعْتَ مِنْهُ فِي الِاخْتِلَاطِ؟ "فَقَالَ: " رَأَيْتَنِي حَدَّثْتُ عَنْهُ إِلَّا بِحَدِيثٍ مُسْتَوٍ؟ "
.
"Kami meriwayatkan dari Yahya bin Ma'in bahwa ia berkata kepada Waki': 'engkau meriwayatkan dari Sa'id bin Abi 'Arubah padahal engkau mendengar darinya di masa ikhtilath?' Waki' menjawab: 'apakah engkau pernah melihatku meriwayatkan darinya kecuali hadits yang lurus (baik)?'"
"Kami meriwayatkan dari Yahya bin Ma'in bahwa ia berkata kepada Waki': 'engkau meriwayatkan dari Sa'id bin Abi 'Arubah padahal engkau mendengar darinya di masa ikhtilath?' Waki' menjawab: 'apakah engkau pernah melihatku meriwayatkan darinya kecuali hadits yang lurus (baik)?'"
الْمَسْعُودِيُّ:مِمَّنِ اخْتَلَطَ، وَهُوَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ الْهُذَلِيُّ، وَهُوَ أَخُو أَبِي الْعُمَيْسِ عُتْبَةَ الْمَسْعُودِيِّ، ذَكَرَ الْحَاكِمُ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ فِي " كِتَابِ الْمُزَكِّينَ لِلرُّوَاةِ " عَنْ يَحْيَى بْنِ مَعِينٍ أَنَّهُ قَالَ: " مَنْ سَمِعَ مِنَ الْمَسْعُودِيِّ فِي زَمَانِ أَبِي جَعْفَرٍ فَهُوَ صَحِيحُ السَّمَاعِ، وَمَنْ سَمِعَ مِنْهُ فِي أَيَّامِ الْمَهْدِيِّ فَلَيْسَ سَمَاعُهُ بِشَيْءٍ ".
"Al-Mas'udi, yaitu 'Abdurrahman bin 'Abdillah bin 'Utbah bin 'Abdillah bin Mas'ud al-Hudzali, saudara Abu al-'Umais 'Utbah al-Mas'udi, termasuk yang mengalami ikhtilath. Al-Hakim Abu 'Abdillah menyebutkan dalam 'Kitab al-Muzakkin lir-Ruwah' dari Yahya bin Ma'in bahwa ia berkata: 'siapa yang mendengar dari Al-Mas'udi pada masa Abu Ja'far, maka pendengarannya sahih, dan siapa yang mendengar darinya pada masa Al-Mahdi, maka pendengarannya tidak bernilai apa pun.'"
وَذَكَرَ حَنْبَلُ بْنُ إِسْحَاقَ عَنْ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ أَنَّهُ قَالَ:" سَمَاعُ عَاصِمٍ - هُوَ ابْنُ عَلِيٍّ - وَأَبِي النَّضْرِ وَهَؤُلَاءِ مِنَ الْمَسْعُودِيِّ بَعْدَمَا اخْتَلَطَ "
.
"Hanbal bin Ishaq menyebutkan dari Ahmad bin Hanbal bahwa ia berkata: 'pendengaran 'Ashim - yaitu Ibnu 'Ali - dan Abu an-Nadhr serta yang semisal mereka dari Al-Mas'udi terjadi setelah ia ikhtilath.'"
"Hanbal bin Ishaq menyebutkan dari Ahmad bin Hanbal bahwa ia berkata: 'pendengaran 'Ashim - yaitu Ibnu 'Ali - dan Abu an-Nadhr serta yang semisal mereka dari Al-Mas'udi terjadi setelah ia ikhtilath.'"
رَبِيعَةُ الرَّأْيِ بْنُ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ أُسْتَاذُ مَالِكٍ:قِيلَ: إِنَّهُ تَغَيَّرَ فِي آخِرِ عُمْرِهِ، وَتُرِكَ الِاعْتِمَادُ عَلَيْهِ لِذَلِكَ.
"Rabi'ah ar-Ra'y bin Abi 'Abdirrahman, guru Imam Malik: dikatakan bahwa hafalannya berubah di akhir usianya, dan karena itu bersandar padanya ditinggalkan."
صَالِحُ بْنُ نَبْهَانَ مَوْلَى التَّوْأَمَةِ بِنْتِ أُمَيَّةَ بْنِ خَلَفٍ:رَوَى عَنْهُ ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ وَالنَّاسُ، قَالَ أَبُو حَاتِمِ بْنُ حِبَّانَ: " تَغَيَّرَ فِي سَنَةِ خَمْسٍ وَعِشْرِينَ وَمِائَةٍ، وَاخْتَلَطَ حَدِيثُهُ الْأَخِيرُ بِحَدِيثِهِ الْقَدِيمِ وَلَمْ يَتَمَيَّزْ، فَاسْتَحَقَّ التَّرْكَ "
.
"Shalih bin Nabhan, maula at-Tau'amah binti Umayyah bin Khalaf: Ibnu Abi Dzi'b dan orang banyak meriwayatkan darinya. Abu Hatim bin Hibban berkata: 'hafalannya berubah pada tahun seratus dua puluh lima, dan hadits-hadits terakhirnya bercampur dengan hadits-hadits lamanya tanpa bisa dibedakan, sehingga ia layak ditinggalkan.'"
"Shalih bin Nabhan, maula at-Tau'amah binti Umayyah bin Khalaf: Ibnu Abi Dzi'b dan orang banyak meriwayatkan darinya. Abu Hatim bin Hibban berkata: 'hafalannya berubah pada tahun seratus dua puluh lima, dan hadits-hadits terakhirnya bercampur dengan hadits-hadits lamanya tanpa bisa dibedakan, sehingga ia layak ditinggalkan.'"
حُصَيْنُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْكُوفِيُّ:مِمَّنِ اخْتَلَطَ وَتَغَيَّرَ، ذَكَرَهُ النَّسَائِيُّ وَغَيْرُهُ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Hushain bin 'Abdirrahman al-Kufi: termasuk yang mengalami ikhtilath dan perubahan hafalan, disebutkan oleh an-Nasa'i dan selainnya. Wallahu a'lam."
عَبْدُ الْوَهَّابِ الثَّقَفِيُّ:ذَكَرَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ الرَّازِيُّ عَنْ يَحْيَى بْنِ مَعِينٍ أَنَّهُ قَالَ: " اخْتَلَطَ بِأَخَرَةٍ "
.
"'Abdul Wahhab ats-Tsaqafi: Ibnu Abi Hatim ar-Razi menyebutkan dari Yahya bin Ma'in bahwa ia berkata: 'ia mengalami ikhtilath belakangan.'"
"'Abdul Wahhab ats-Tsaqafi: Ibnu Abi Hatim ar-Razi menyebutkan dari Yahya bin Ma'in bahwa ia berkata: 'ia mengalami ikhtilath belakangan.'"
سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ:وَجَدْتُ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمَّارٍ الْمَوْصِلِيِّ أَنَّهُ سَمِعَ يَحْيَى بْنَ سَعِيدٍ الْقَطَّانَ يَقُولُ: " أَشْهَدُ أَنَّ سُفْيَانَ بْنَ عُيَيْنَةَ اخْتَلَطَ سَنَةَ سَبْعٍ وَتِسْعِينَ، فَمَنْ سَمِعَ مِنْهُ فِي هَذِهِ السَّنَةِ وَبَعْدَ هَذَا فَسَمَاعُهُ لَا شَيْءَ "، قُلْتُ: تُوُفِّيَ بَعْدَ ذَلِكَ بِنَحْوِ سَنَتَيْنِ سَنَةَ تِسْعٍ وَتِسْعِينَ وَمِائَةٍ.
"Sufyan bin 'Uyainah: aku mendapati dari Muhammad bin 'Abdillah bin 'Ammar al-Mawshili bahwa ia mendengar Yahya bin Sa'id al-Qaththan berkata: 'aku bersaksi bahwa Sufyan bin 'Uyainah mengalami ikhtilath pada tahun sembilan puluh tujuh, maka siapa yang mendengar darinya pada tahun ini dan sesudahnya, pendengarannya tidak bernilai apa pun.' Aku (Ibnu Shalah) berkata: ia wafat sekitar dua tahun setelah itu, pada tahun seratus sembilan puluh sembilan."
عَبْدُ الرَّزَّاقِ بْنُ هَمَّامٍ:ذَكَرَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ أَنَّهُ عَمِيَ فِي آخِرِ عُمْرِهِ، فَكَانَ يُلَقَّنُ فَيَتَلَقَّنُ، فَسَمَاعُ مَنْ سَمِعَ مِنْهُ بَعْدَمَا عَمِيَ لَا شَيْءَ، وَقَالَ النَّسَائِيُّ: " فِيهِ نَظَرٌ لِمَنْ كَتَبَ عَنْهُ بِأَخَرَةٍ "
.
"'Abdurrazzaq bin Hammam: Ahmad bin Hanbal menyebutkan bahwa ia buta di akhir usianya, sehingga ia disuapi (bacaan) lalu menirukannya - maka pendengaran siapa pun yang mendengar darinya setelah ia buta tidak bernilai apa pun. An-Nasa'i berkata: 'perlu ditinjau ulang bagi siapa yang mencatat darinya belakangan.'"
"'Abdurrazzaq bin Hammam: Ahmad bin Hanbal menyebutkan bahwa ia buta di akhir usianya, sehingga ia disuapi (bacaan) lalu menirukannya - maka pendengaran siapa pun yang mendengar darinya setelah ia buta tidak bernilai apa pun. An-Nasa'i berkata: 'perlu ditinjau ulang bagi siapa yang mencatat darinya belakangan.'"
قُلْتُ:وَعَلَى هَذَا نَحْمِلُ قَوْلَ عَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْعَظِيمِ لَمَّا رَجَعَ مِنْ صَنْعَاءَ: " وَاللَّهِ لَقَدْ تَجَشَّمْتُ إِلَى عَبْدِ الرَّزَّاقِ، وَإِنَّهُ لَكَذَّابٌ، وَالْوَاقِدِيُّ أَصْدَقُ مِنْهُ ".
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: atas dasar inilah kami memahami ucapan 'Abbas bin 'Abdil 'Azhim ketika kembali dari Shan'a': 'demi Allah, sungguh aku telah bersusah payah menempuh perjalanan menuju 'Abdurrazzaq, dan ternyata ia pendusta, sedang Al-Waqidi lebih jujur darinya!'"
قُلْتُ:قَدْ وَجَدْتُ فِيمَا رُوِيَ عَنِ الطَّبَرَانِيِّ عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ الدَّبَرِيِّ عَنْ عَبْدِ الرَّزَّاقِ أَحَادِيثَ اسْتَنْكَرْتُهَا جِدًّا، فَأَحَلْتُ أَمْرَهَا عَلَى ذَلِكَ، فَإِنَّ سَمَاعَ الدَّبَرِيِّ مِنْهُ مُتَأَخِّرٌ جِدًّا، قَالَ إِبْرَاهِيمُ الْحَرْبِيُّ: مَاتَ عَبْدُ الرَّزَّاقِ وَلِلدَّبَرِيِّ سِتُّ سِنِينَ أَوْ سَبْعُ سِنِينَ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: aku mendapati dalam apa yang diriwayatkan dari ath-Thabarani, dari Ishaq bin Ibrahim ad-Dabari, dari 'Abdurrazzaq, hadits-hadits yang sungguh aku anggap munkar, maka aku sandarkan sebabnya kepada hal itu (ikhtilath), karena pendengaran ad-Dabari darinya terjadi sangat belakangan. Ibrahim al-Harbi berkata: 'Abdurrazzaq wafat ketika ad-Dabari berusia enam atau tujuh tahun."
وَنَحْصُلُ أَيْضًا فِي نَظَرٍ مِنْ كَثِيرٍ مِنَ الْعَوَالِي الْوَاقِعَةِ عَمَّنْ تَأَخَّرَ سَمَاعُهُ مِنْ سُفْيَانَ بْنِ عُيَيْنَةَ وَأَشْبَاهِهِ.
"Kami juga sampai pada kesimpulan yang perlu ditinjau ulang terhadap banyak sanad 'ali (tinggi/pendek) yang berasal dari orang-orang yang pendengarannya dari Sufyan bin 'Uyainah dan yang semisalnya terjadi belakangan."
عَارِمٌ مُحَمَّدُ بْنُ الْفَضْلِ أَبُو النُّعْمَانِ:اخْتَلَطَ بِأَخَرَةٍ، فَمَا رَوَاهُ عَنْهُ الْبُخَارِيُّ وَمُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى الذُّهْلِيُّ وَغَيْرُهُمَا مِنَ الْحُفَّاظِ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ مَأْخُوذًا عَنْهُ قَبْلَ اخْتَلَاطِهِ.
"'Arim Muhammad bin al-Fadhl Abu an-Nu'man: ia mengalami ikhtilath belakangan, maka apa yang diriwayatkan darinya oleh al-Bukhari, Muhammad bin Yahya adz-Dzuhli, dan huffazh lainnya sepatutnya diambil darinya sebelum ia ikhtilath."
أَبُو قِلَابَةَ عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الرَّقَاشِيُّ:رُوِّينَا عَنِ الْإِمَامِ ابْنِ خُزَيْمَةَ أَنَّهُ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو قِلَابَةَ بِالْبَصْرَةِ قَبْلَ أَنْ يَخْتَلِطَ وَيَخْرُجَ إِلَى بَغْدَاذَ.
"Abu Qilabah 'Abdul Malik bin Muhammad bin 'Abdillah ar-Raqasyi: kami meriwayatkan dari Imam Ibnu Khuzaimah bahwa ia berkata: 'Abu Qilabah menceritakan kepada kami di Bashrah sebelum ia mengalami ikhtilath dan pergi ke Baghdad.'"
وَمِمَّنْ بَلَغَنَا عَنْهُ ذَلِكَ مِنَ الْمُتَأَخِّرِينَ أَبُو أَحْمَدَ الْغِطْرِيفِيُّ الْجُرْجَانِيُّ، وَأَبُو طَاهِرٍ حَفِيدُ الْإِمَامِ ابْنِ خُزَيْمَةَ: ذَكَرَ الْحَافِظُ أَبُو عَلِيٍّ الْبَرْذَعِيُّ ثُمَّ السَّمَرْقَنْدِيُّ فِي مُعْجَمِهِ أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّهُمَا اخْتَلَطَا فِي آخِرِ عُمْرِهِمَا.
"Dan di antara ulama belakangan yang kami dengar mengalami hal serupa adalah Abu Ahmad al-Ghithrifi al-Jurjani, dan Abu Thahir cucu Imam Ibnu Khuzaimah: Al-Hafizh Abu 'Ali al-Bardza'i lalu as-Samarqandi menyebutkan dalam mu'jamnya bahwa sampai kepadanya bahwa keduanya mengalami ikhtilath di akhir usia mereka."
وَأَبُو بَكْرِ بْنُ مَالِكٍ الْقَطِيعِيُّ:رَاوِي مُسْنَدِ أَحْمَدَ وَغَيْرِهِ اخْتَلَّ فِي آخِرِ عُمْرِهِ وَخَرِفَ حَتَّى كَانَ لَا يَعْرِفُ شَيْئًا مِمَّا يُقْرَأُ عَلَيْهِ.
"Abu Bakr bin Malik al-Qathi'i, perawi Musnad Ahmad dan kitab lainnya: hafalannya kacau di akhir usianya dan ia pikun, sampai-sampai ia tidak mengenali sedikit pun dari apa yang dibacakan kepadanya."
Penutup: Kaidah Umum
وَاعْلَمْ أَنَّ مَنْ كَانَ مِنْ هَذَا الْقَبِيلِ مُحْتَجًّا بِرِوَايَتِهِ فِي الصَّحِيحَيْنِ أَوْ أَحَدِهِمَا فَإِنَّا نَعْرِفُ عَلَى الْجُمْلَةِ أَنَّ ذَلِكَ مِمَّا تَمَيَّزَ، وَكَانَ مَأْخُوذًا عَنْهُ قَبْلَ الِاخْتِلَاطِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Ketahuilah, siapa pun dari golongan ini yang riwayatnya dijadikan hujjah dalam Shahihain atau salah satunya, maka kami mengetahui secara umum bahwa riwayat itu termasuk yang sudah dibedakan (ditapis), dan diambil darinya sebelum ia mengalami ikhtilath. Wallahu a'lam."2