ذَكَرَ أَبُو بَكْرٍ الْخَطِيبُ الْحَافِظُ رَحِمَهُ اللَّهُ: أَنَّ الْمُسْنَدَ عِنْدَ أَهْلِ الْحَدِيثِ هُوَ الَّذِي اتَّصَلَ إِسْنَادُهُ مِنْ رَاوِيهِ إِلَى مُنْتَهَاهُ، وَأَكْثَرُ مَا يُسْتَعْمَلُ ذَلِكَ فِيمَا جَاءَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دُونَ مَا جَاءَ عَنِ الصَّحَابَةِ وَغَيْرِهِمْ
"Al-Hafizh Abu Bakr al-Khathib rahimahullah menyebutkan: bahwa musnad menurut ahli hadits adalah hadits yang sanadnya bersambung dari perawinya sampai ke ujung sanad, dan istilah ini paling banyak dipakai untuk apa yang datang dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, bukan untuk apa yang datang dari para sahabat dan selain mereka."1
وَذَكَرَ أَبُو عُمَرَ بْنُ عَبْدِ الْبَرِّ الْحَافِظُ: أَنَّ الْمَسْنَدَ مَا رُفِعَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَاصَّةً. وَقَدْ يَكُونُ مُتَّصِلًا مِثْلَ: "مَالِكٌ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ"، وَقَدْ يَكُونُ مُنْقَطِعًا مِثْلَ: "مَالِكٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ". فَهَذَا مُسْنَدٌ؛ لِأَنَّهُ قَدْ أُسْنِدَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ مُنْقَطِعٌ؛ لِأَنَّ الزُّهْرِيَّ لَمْ يَسْمَعْ مِنَ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ
"Al-Hafizh Abu 'Umar bin 'Abdil Barr menyebutkan: bahwa al-masnad adalah hadits yang dimarfu'kan (disandarkan) kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam secara khusus. Ia bisa jadi muttashil (bersambung), seperti: 'Malik, dari Nafi', dari Ibnu 'Umar, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam'; dan bisa jadi munqathi' (terputus), seperti: 'Malik, dari az-Zuhri, dari Ibnu 'Abbas, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam'. Maka contoh yang kedua ini disebut musnad, karena ia telah disandarkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, sekaligus munqathi', karena az-Zuhri tidak pernah mendengar (langsung) dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhum."
وَحَكَى أَبُو عُمَرَ عَنْ قَوْمٍ أَنَّ الْمُسْنَدَ لَا يَقَعُ إِلَّا عَلَى مَا اتَّصَلَ مَرْفُوعًا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
"Abu 'Umar juga menceritakan dari sebagian ulama, bahwa musnad tidak berlaku kecuali untuk hadits yang bersambung sanadnya sekaligus marfu' (disandarkan) kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam."
قُلْتُ: وَبِهَذَا قَطَعَ الْحَاكِمُ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ، وَلَمْ يَذْكُرْ فِي كِتَابِهِ غَيْرَهُ
"Aku (Ibnu Shalah) katakan: dengan pendapat inilah al-Hakim Abu 'Abdillah al-Hafizh memastikan pendapatnya, dan ia tidak menyebutkan selainnya di dalam kitabnya."
فَهَذِهِ أَقْوَالٌ ثَلَاثَةٌ مُخْتَلِفَةٌ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ
"Maka inilah tiga pendapat yang berbeda-beda. Wallahu a'lam."2