Muqaddimah Ibnu Shalah Bab 41: At-Tabi'in

النَّوْعُ الْمُوفِي أَرْبَعِينَ: مَعْرِفَةُ التَّابِعِينَ
"Anwa' genap keempat puluh: mengenal at-tabi'in."1

هَذَا وَمَعْرِفَةُ الصَّحَابَةِ أَصْلٌ أَصِيلٌ يُرْجَعُ إِلَيْهِ فِي مَعْرِفَةِ الْمُرْسَلِ وَالْمُسْنَدِ.
"Ini semua, dan mengenal para sahabat adalah pokok asasi yang menjadi rujukan dalam mengenal (hadits) mursal dan musnad."
قَالَ الْخَطِيبُ الْحَافِظُ: التَّابِعِيُّ مَنْ صَحِبَ الصَّحَابِيَّ.
"Al-Khathib al-Hafizh berkata: tabi'i adalah orang yang menyertai (shahiba) seorang sahabat."
قُلْتُ: وَمُطْلَقُهُ مَخْصُوصٌ بِالتَّابِعِ بِإِحْسَانٍ، وَيُقَالُ لِلْوَاحِدِ مِنْهُمْ: تَابِعٌ وَتَابِعِيٌّ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: kemutlakan definisi ini dikhususkan bagi orang yang mengikuti (para sahabat) dengan baik (at-taba' bi ihsan). Satu orang dari mereka disebut taabi' dan taabi'i."
وَكَلَامُ الْحَاكِمِ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ وَغَيْرِهِ مُشْعِرٌ بِأَنَّهُ يَكْفِي فِيهِ أَنْ يَسْمَعَ مِنَ الصَّحَابِيِّ أَوْ يَلْقَاهُ، وَإِنْ لَمْ تُوجَدِ الصُّحْبَةُ الْعُرْفِيَّةُ، وَالِاكْتِفَاءُ فِي هَذَا بِمُجَرَّدِ اللِّقَاءِ وَالرُّؤْيَةِ أَقْرَبُ مِنْهُ فِي الصَّحَابِيِّ، نَظَرًا إِلَى مُقْتَضَى اللَّفْظَيْنِ فِيهِمَا.
"Perkataan Al-Hakim Abu Abdillah dan selainnya mengindikasikan bahwa cukup baginya (untuk disebut tabi'i) sekadar mendengar dari seorang sahabat atau bertemu dengannya, sekalipun tidak ditemukan shuhbah (persahabatan) menurut kebiasaan ('urf). Kecukupan dengan sekadar pertemuan dan penglihatan di sini lebih dekat kebenarannya dibanding pada kasus shahabi, mengingat konsekuensi makna kedua istilah itu."
وَهَذِهِ مُهِمَّاتٌ فِي هَذَا النَّوْعِ:
"Berikut ini adalah hal-hal penting (muhimmat) dalam anwa' ini:"

Yang pertama:
ذَكَرَ الْحَافِظُ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ التَّابِعِينَ عَلَى خَمْسَ عَشْرَةَ طَبَقَةً: الْأُولَى: الَّذِينَ لَحِقُوا الْعَشَرَةَ: سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ، وَقَيْسُ بْنُ أَبِي حَازِمٍ، وَأَبُو عُثْمَانَ النَّهْدِيُّ، وَقَيْسُ بْنُ عُبَادٍ، وَأَبُو سَاسَانَ حُضَيْنُ بْنُ الْمُنْذِرِ، وَأَبُو وَائِلٍ، وَأَبُو رَجَاءٍ الْعُطَارِدِيُّ وَغَيْرُهُمْ.
"Al-Hafizh Abu Abdillah (Al-Hakim) menyebutkan bahwa tabi'in terbagi menjadi lima belas thabaqat. Thabaqat pertama: orang-orang yang sempat berjumpa dengan al-'Asyarah (sepuluh sahabat yang dijanjikan surga), yaitu Sa'id bin al-Musayyab, Qais bin Abi Hazim, Abu Utsman an-Nahdi, Qais bin Ubad, Abu Sasan Hudhain bin al-Mundzir, Abu Wa'il, Abu Raja' al-'Utharidi, dan selain mereka."2

وَعَلَيْهِ فِي بَعْضِ هَؤُلَاءِ إِنْكَارٌ، فَإِنَّ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيَّبِ لَيْسَ بِهَذِهِ الْمَثَابَةِ، لِأَنَّهُ وُلِدَ فِي خِلَافَةِ عُمَرَ، وَلَمْ يَسْمَعْ مِنْ أَكْثَرِ الْعَشَرَةِ، وَقَدْ قَالَ بَعْضُهُمْ: لَا تَصِحُّ لَهُ رِوَايَةٌ عَنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَشَرَةِ إِلَّا سَعْدَ بْنَ أَبِي وَقَّاصٍ.
"Namun terhadap penyebutan ini ada bantahan pada sebagian nama tersebut. Sa'id bin al-Musayyab sendiri sebenarnya tidak seperti itu kedudukannya, karena ia lahir pada masa khilafah Umar, dan tidak mendengar (langsung) dari sebagian besar al-'Asyarah. Sebagian ulama bahkan berkata: tidak sahih baginya riwayat dari seorang pun dari al-'Asyarah kecuali dari Sa'd bin Abi Waqqash."
قُلْتُ: وَكَانَ سَعْدٌ آخِرَهُمْ مَوْتًا.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: Sa'd adalah yang paling akhir wafat di antara mereka."
وَذَكَرَ الْحَاكِمُ قَبْلَ كَلَامِهِ الْمَذْكُورِ أَنَّ سَعِيدًا أَدْرَكَ عُمَرَ فَمَنْ بَعْدَهُ إِلَى آخِرِ الْعَشَرَةِ.
"Al-Hakim menyebutkan sebelum perkataannya di atas bahwa Sa'id sempat berjumpa Umar, lalu siapa saja sesudahnya hingga yang paling akhir dari al-'Asyarah."
وَقَالَ: لَيْسَ فِي جَمَاعَةِ التَّابِعِينَ مَنْ أَدْرَكَهُمْ وَسَمِعَ مِنْهُمْ غَيْرَ سَعِيدٍ وَقَيْسِ بْنِ أَبِي حَازِمٍ، وَلَيْسَ ذَلِكَ عَلَى مَا قَالَ كَمَا ذَكَرْنَاهُ، نَعَمْ، قَيْسُ بْنُ أَبِي حَازِمٍ سَمِعَ الْعَشَرَةَ وَرَوَى عَنْهُمْ، وَلَيْسَ فِي التَّابِعِينَ أَحَدٌ رَوَى عَنِ الْعَشَرَةِ سِوَاهُ، ذَكَرَ ذَلِكَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ يُوسُفَ بْنُ خِرَاشٍ الْحَافِظُ، فِيمَا رُوِّينَا أَوْ بَلَغَنَا عَنْهُ، وَعَنْ أَبِي دَاوُدَ السِّجِسْتَانِيِّ أَنَّهُ قَالَ: رَوَى عَنِ التِّسْعَةِ: وَلَمْ يَرْوِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ.
"Al-Hakim juga berkata: tidak ada di kalangan tabi'in yang berjumpa dan mendengar dari seluruh al-'Asyarah selain Sa'id dan Qais bin Abi Hazim. Namun hal itu tidak seperti yang beliau katakan, sebagaimana telah kami sebutkan. Yang benar, Qais bin Abi Hazim-lah yang mendengar dari al-'Asyarah dan meriwayatkan dari mereka semua, dan tidak ada seorang pun tabi'in yang meriwayatkan dari seluruh al-'Asyarah selain dirinya - disebutkan demikian oleh Abdurrahman bin Yusuf bin Khirasy al-Hafizh, sebagaimana yang kami riwayatkan atau sampai kepada kami darinya. Dan dari Abu Dawud as-Sijistani, bahwa ia berkata: (Qais) meriwayatkan dari sembilan orang (dari al-'Asyarah), dan tidak meriwayatkan dari Abdurrahman bin Auf."
وَيْلِي هَؤُلَاءِ التَّابِعُونَ الَّذِينَ وُلِدُوا فِي حَيَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَبْنَاءِ الصَّحَابَةِ كَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ، وَأَبِي أُمَامَةَ أَسْعَدَ بْنِ سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ، وَأَبِي إِدْرِيسَ الْخَوْلَانِيِّ، وَغَيْرِهِمْ.
"Sesudah mereka, menyusul para tabi'in yang lahir pada masa hidup Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dari kalangan putra-putra sahabat, seperti Abdullah bin Abi Thalhah, Abu Umamah As'ad bin Sahl bin Hunaif, Abu Idris al-Khaulani, dan selain mereka."

Yang kedua:
الْمُخَضْرَمُونَ مِنَ التَّابِعِينَ: هُمُ الَّذِينَ أَدْرَكُوا الْجَاهِلِيَّةَ، وَحَيَاةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَسْلَمُوا، وَلَا صُحْبَةَ لَهُمْ، وَاحِدُهُمْ مُخَضْرَمٌ - بِفَتْحِ الرَّاءِ - كَأَنَّهُ خُضْرِمَ أَيْ قُطِعَ عَنْ نُظَرَائِهِ الَّذِينَ أَدْرَكُوا الصُّحْبَةَ وَغَيْرَهَا.
"Al-mukhadhramun di kalangan tabi'in: mereka adalah orang-orang yang sempat mengalami masa jahiliah dan masa hidup Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu masuk Islam, namun tidak memiliki shuhbah (tidak pernah berjumpa Nabi secara langsung). Satu orang dari mereka disebut mukhadhram - dengan fathah pada huruf ra' - seakan-akan ia dikhudhrim, yakni terputus dari rekan-rekan sejawatnya yang sempat memperoleh shuhbah dan yang lainnya."3

وَذَكَرَهُمْ مُسْلِمٌ فَبَلَغَ بِهِمْ عِشْرِينَ نَفْسًا، مِنْهُمْ: أَبُو عَمْرٍو الشَّيْبَانِيُّ، وَسُوَيْدُ بْنُ غَفَلَةَ الْكِنْدِيُّ، وَعَمْرُو بْنُ مَيْمُونٍ الْأَوْدِيُّ، وَعَبْدُ خَيْرِ بْنُ يَزِيدَ الْخَيْوَانِيُّ، وَأَبُو عُثْمَانَ النَّهْدِيُّ، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مُلٍّ، وَأَبُو الْحَلَالِ الْعَتَكِيُّ رَبِيعَةُ بْنُ زُرَارَةَ.
"Imam Muslim menyebutkan mereka hingga mencapai dua puluh orang, di antaranya: Abu Amr asy-Syaibani, Suwaid bin Ghafalah al-Kindi, Amr bin Maimun al-Awdi, Abdu Khair bin Yazid al-Khaiwani, Abu Utsman an-Nahdi, Abdurrahman bin Mull, dan Abul Halal al-Ataki - Rabi'ah bin Zurarah."
وَمِمَّنْ لَمْ يَذْكُرُهُ مُسْلِمٌ: مِنْهُمْ أَبُو مُسْلِمٍ الْخَوْلَانِيُّ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ ثُوَبَ، وَالْأَحْنَفُ بْنُ قَيْسٍ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Adapun yang tidak disebutkan oleh Muslim, di antaranya adalah Abu Muslim al-Khaulani Abdullah bin Tsuwab, dan al-Ahnaf bin Qais. Wallahu a'lam."

Yang ketiga:
مِنْ أَكَابِرِ التَّابِعِينَ: الْفُقَهَاءُ السَّبْعَةُ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ، وَهْمُ سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ، وَالْقَاسِمُ بْنُ مُحَمَّدٍ، وَعُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ، وَخَارِجَةُ بْنُ زَيْدٍ، وَأَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، وَعُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ، وَسُلَيْمَانُ بْنُ يَسَارٍ.
"Termasuk tokoh besar (akabir) tabi'in adalah al-fuqaha as-sab'ah (tujuh fuqaha) dari penduduk Madinah, yaitu Sa'id bin al-Musayyab, al-Qasim bin Muhammad, Urwah bin az-Zubair, Kharijah bin Zaid, Abu Salamah bin Abdurrahman, Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah, dan Sulaiman bin Yasar."4

رُوِّينَا عَنِ الْحَافِظِ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ أَنَّهُ قَالَ: "هَؤُلَاءِ الْفُقَهَاءُ السَّبْعَةُ عِنْدَ الْأَكْثَرِ مِنْ عُلَمَاءِ الْحِجَازِ".
"Kami meriwayatkan dari al-Hafizh Abu Abdillah bahwa ia berkata: 'ketujuh fuqaha ini adalah menurut mayoritas ulama Hijaz.'"
وَرُوِّينَا عَنِ ابْنِ الْمُبَارَكِ قَالَ: "كَانَ فُقَهَاءُ أَهْلِ الْمَدِينَةِ الَّذِينَ يَصْدُرُونَ عَنْ رَأْيِهِمْ سَبْعَةً" فَذَكَرَ هَؤُلَاءِ إِلَّا أَنَّهُ لَمْ يَذْكُرْ أَبَا سَلَمَةَ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، وَذَكَرَ بَدَلَهُ سَالِمَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ.
"Kami meriwayatkan dari Ibnul Mubarak, ia berkata: 'para fuqaha penduduk Madinah yang pendapat mereka menjadi rujukan orang-orang ada tujuh orang', lalu ia menyebutkan nama-nama di atas, hanya saja ia tidak menyebut Abu Salamah bin Abdurrahman, dan sebagai gantinya ia menyebut Salim bin Abdullah bin Umar."
وَرُوِّينَا عَنْ أَبِي الزِّنَادِ تَسْمِيَتَهُمْ فِي كِتَابِهِ عَنْهُمْ، فَذَكَرَ هَؤُلَاءِ، إِلَّا أَنَّهُ ذَكَرَ أَبَا بَكْرِ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بَدَلَ أَبِي سَلَمَةَ وَسَالِمٍ.
"Kami meriwayatkan dari Abu Zinad penamaan mereka dalam kitabnya, lalu ia menyebutkan nama-nama tersebut, hanya saja ia menyebut Abu Bakr bin Abdurrahman sebagai ganti Abu Salamah dan Salim."

Yang keempat:
وَرَدَ عَنْ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ أَنَّهُ قَالَ: "أَفْضَلُ التَّابِعِينَ سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ"، فَقِيلَ لَهُ: "فَعَلْقَمَةُ وَالْأَسْوَدُ؟" فَقَالَ: "سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ، وَعَلْقَمَةُ، وَالْأَسْوَدُ".
"Diriwayatkan dari Ahmad bin Hanbal bahwa ia berkata: 'tabi'in yang paling utama adalah Sa'id bin al-Musayyab.' Ada yang bertanya kepadanya: 'bagaimana dengan Alqamah dan al-Aswad?' Beliau menjawab: 'Sa'id bin al-Musayyab, Alqamah, dan al-Aswad (sama-sama utama).'"

وَعَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: "لَا أَعْلَمُ فِي التَّابِعِينَ مِثْلَ أَبِي عُثْمَانَ النَّهْدِيِّ، وَقَيْسِ بْنِ أَبِي حَازِمٍ".
"Dan darinya juga, ia berkata: 'aku tidak mengetahui di kalangan tabi'in ada yang menyerupai Abu Utsman an-Nahdi dan Qais bin Abi Hazim.'"
وَعَنْهُ أَيْضًا أَنَّهُ قَالَ: "أَفْضَلُ التَّابِعِينَ قَيْسٌ، وَأَبُو عُثْمَانَ وَعَلْقَمَةُ، وَمَسْرُوقٌ، هَؤُلَاءِ كَانُوا فَاضِلِينَ، وَمِنْ عِلْيَةِ التَّابِعِينَ".
"Dan darinya lagi, ia berkata: 'tabi'in yang paling utama adalah Qais, Abu Utsman, Alqamah, dan Masruq. Mereka semua adalah orang-orang mulia, dan termasuk kalangan elite tabi'in.'"
وَأَعْجَبَنِي مَا وَجَدْتُهُ عَنِ الشَّيْخِ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ بْنِ خَفِيفٍ الزَّاهِدِ الشِّيرَازِيِّ فِي كِتَابٍ لَهُ، قَالَ: "اخْتَلَفَ النَّاسُ فِي أَفْضَلِ التَّابِعِينَ: فَأَهْلُ الْمَدِينَةِ يَقُولُونَ: سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ، وَأَهْلُ الْكُوفَةِ يَقُولُونَ: أُوَيْسٌ الْقَرَنِيُّ، وَأَهْلُ الْبَصْرَةِ يَقُولُونَ: الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ".
"Aku (Ibnu Shalah) terkesan dengan apa yang aku temukan dari Syaikh Abu Abdillah bin Khafif az-Zahid asy-Syirazi dalam salah satu kitabnya. Ia berkata: 'orang-orang berselisih tentang siapa tabi'in yang paling utama. Penduduk Madinah berkata: Sa'id bin al-Musayyab. Penduduk Kufah berkata: Uwais al-Qarni. Penduduk Basrah berkata: al-Hasan al-Bashri.'"5
وَبَلَغَنَا عَنْ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ قَالَ: "لَيْسَ أَحَدٌ أَكْثَرَ فِي فَتْوَى مِنَ الْحَسَنِ، وَعَطَاءٍ، يَعْنِي مِنَ التَّابِعِينَ".
"Sampai kepada kami dari Ahmad bin Hanbal, ia berkata: 'tidak ada seorang pun yang lebih banyak berfatwa dibanding al-Hasan dan Atha, yakni dari kalangan tabi'in.'"
وَقَالَ أَيْضًا: "كَانَ عَطَاءٌ مُفْتِيَ مَكَّةَ وَالْحَسَنُ مُفْتِيَ الْبَصْرَةِ، فَهَذَانِ أَكْثَرَ النَّاسُ عَنْهُمْ آرَاءُهُمْ".
"Beliau juga berkata: 'Atha adalah mufti Makkah dan al-Hasan adalah mufti Basrah, keduanya adalah yang paling banyak diambil pendapatnya oleh orang-orang.'"
وَبَلَغَنَا عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ أَبِي دَاوُدَ قَالَ: "سَيِّدَتَا التَّابِعِينَ مِنَ النِّسَاءِ: حَفْصَةُ بِنْتُ سِيرِينَ، وَعَمْرَةُ بِنْتُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ. وَثَالِثُهُمَا - وَلَيْسَتْ كَهُمَا - أُمُّ الدَّرْدَاءِ"، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Sampai kepada kami dari Abu Bakr bin Abi Dawud, ia berkata: 'dua wanita penghulu tabi'in adalah Hafshah binti Sirin dan Amrah binti Abdurrahman. Yang ketiga - meskipun tidak sederajat dengan keduanya - adalah Ummu ad-Darda.' Wallahu a'lam."

Yang kelima:
رُوِّينَا عَنِ الْحَاكِمِ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: "طَبَقَةٌ تُعَدُّ فِي التَّابِعِينَ، وَلَمْ يَصِحَّ سَمَاعُ أَحَدٍ مِنْهُمْ مِنَ الصَّحَابَةِ، مِنْهُمْ: إِبْرَاهِيمُ بْنُ سُوَيْدٍ النَّخَعِيُّ الْفَقِيهُ، وَلَيْسَ بِإِبْرَاهِيمَ بْنِ يَزِيدَ النَّخَعِيِّ الْفَقِيهِ، وَبُكَيْرُ بْنُ أَبِي السَّمِيطِ، وَبُكَيْرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنُ الْأَشَجِّ"، وَذَكَرَ غَيْرَهُمْ.
"Kami meriwayatkan dari al-Hakim Abu Abdillah, ia berkata: 'ada satu thabaqat yang dihitung termasuk tabi'in, namun tidak sahih riwayat pendengaran seorang pun dari mereka langsung dari sahabat. Di antaranya: Ibrahim bin Suwaid an-Nakha'i al-Faqih - bukan Ibrahim bin Yazid an-Nakha'i al-Faqih -, Bukair bin Abi as-Samith, dan Bukair bin Abdullah bin al-Asyajj', lalu ia menyebutkan yang lainnya."

قَالَ: "وَطَبَقَةٌ عِدَادُهُمْ عِنْدَ النَّاسِ فِي أَتْبَاعِ التَّابِعِينَ وَقَدْ لَقُوا الصَّحَابَةَ، مِنْهُمْ: أَبُو الزِّنَادِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ ذَكْوَانَ لَقِيَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ وَأَنَسًا، وَهِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ، وَقَدْ أُدْخِلَ عَلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ وَجَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ وَمُوسَى بْنِ عُقْبَةَ، وَقَدْ أَدْرَكَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ وَأُمَّ خَالِدٍ بِنْتَ خَالِدِ بْنِ سَعِيدِ بْنِ الْعَاصِ"، وَفِي بَعْضِ مَا قَالَهُ مَقَالٌ.
"Beliau melanjutkan: 'dan ada satu thabaqat lain yang menurut hitungan orang-orang termasuk atba' at-tabi'in (pengikut tabi'in), padahal mereka sebenarnya sempat berjumpa dengan sahabat. Di antaranya: Abu Zinad Abdullah bin Dzakwan, yang berjumpa Abdullah bin Umar dan Anas; Hisyam bin Urwah, yang pernah dibawa masuk menemui Abdullah bin Umar, Jabir bin Abdullah, dan Musa bin Uqbah; dan yang sempat berjumpa Anas bin Malik dan Ummu Khalid binti Khalid bin Sa'id bin al-Ash.' Namun sebagian dari apa yang beliau katakan ini masih diperbincangkan."
قُلْتُ: وَقَوْمٌ عُدُّوا مِنَ التَّابِعِينَ وَهُمْ مِنَ الصَّحَابَةِ، وَمِنْ أَعْجَبِ ذَلِكَ عَدُّ الْحَاكِمِ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ: النُّعْمَانَ وَسُوَيْدًا ابْنَيْ مُقَرِّنٍ الْمُزَنِيِّ فِي التَّابِعِينَ، عِنْدَمَا ذَكَرَ الْأُخْوَةَ مِنَ التَّابِعِينَ، وَهُمَا صَحَابِيَّانِ مَعْرُوفَانِ مَذْكُورَانِ فِي الصَّحَابَةِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: ada sekelompok orang yang dihitung dari kalangan tabi'in padahal mereka sebenarnya sahabat. Dan di antara yang paling mengherankan dari hal itu adalah penghitungan al-Hakim Abu Abdillah atas an-Nu'man dan Suwaid, dua putra Muqarrin al-Muzani, ke dalam kalangan tabi'in, ketika beliau menyebutkan pasangan bersaudara dari kalangan tabi'in - padahal keduanya adalah sahabat yang dikenal dan disebutkan di kalangan para sahabat. Wallahu a'lam."6

Catatan & Referensi

  1. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 299.

  2. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 299-300.

  3. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 300-301.

  4. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 301-302.

  5. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 302-303.

  6. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 303-304.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email