Muqaddimah Ibnu Shalah Bab 38: Al-Mazid fi Muttashil al-Asanid

النَّوْعُ السَّابِعُ وَالثَّلَاثُونَ: مَعْرِفَةُ الْمَزِيدِ فِي مُتَّصِلِ الْأَسَانِيدِ
"Anwa' ketiga puluh tujuh: mengenal al-mazid fi muttashil al-asanid (tambahan perawi dalam isnad yang tampak bersambung)."1

مِثَالُهُ: مَا رُوِيَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ، قَالَ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ بْنِ جَابِرٍ قَالَ: حَدَّثَنِي بُسْرُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا إِدْرِيسَ يَقُولُ: سَمِعْتُ وَاثِلَةَ بْنَ الْأَسْقَعِ يَقُولُ: سَمِعْتُ أَبَا مَرْثَدٍ الْغَنَوِيَّ يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - يَقُولُ: "لَا تَجْلِسُوا عَلَى الْقُبُورِ وَلَا تُصَلُّوا إِلَيْهَا".
"Contohnya: apa yang diriwayatkan dari Abdullah bin al-Mubarak, ia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Abdurrahman bin Yazid bin Jabir, ia berkata: Busr bin Ubaidillah menceritakan kepadaku, ia berkata: aku mendengar Abu Idris berkata: aku mendengar Watsilah bin al-Asqa' berkata: aku mendengar Abu Martsad al-Ghanawi berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'janganlah kalian duduk di atas kuburan dan janganlah kalian shalat menghadapnya.'"
فَذِكْرُ سُفْيَانَ فِي هَذَا الْإِسْنَادِ زِيَادَةٌ وَوَهْمٌ، وَهَكَذَا ذِكْرُ أَبِي إِدْرِيسَ.
"Penyebutan Sufyan dalam isnad ini adalah tambahan (ziyadah) sekaligus kekeliruan (wahm), demikian pula penyebutan Abu Idris."
أَمَّا الْوَهْمُ فِي ذِكْرِ سُفْيَانَ فَمِمَّنْ دُونَ ابْنِ الْمُبَارَكِ، لِأَنَّ جَمَاعَةً ثِقَاتٍ رَوَوْهُ عَنِ ابْنِ الْمُبَارَكِ عَنِ ابْنِ جَابِرٍ نَفْسِهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ صَرَّحَ فِيهِ بِلَفْظِ الْإِخْبَارِ بَيْنَهُمَا.
"Adapun kekeliruan dalam penyebutan Sufyan berasal dari perawi di bawah tingkat Ibnu al-Mubarak, karena sekelompok perawi tsiqah meriwayatkannya dari Ibnu al-Mubarak, dari Ibnu Jabir langsung (tanpa perantara Sufyan), dan di antara mereka ada yang menegaskan dengan lafal ikhbar (mengabarkan) di antara keduanya."
وَأَمَّا ذِكْرُ أَبِي إِدْرِيسَ فِيهِ: فَابْنُ الْمُبَارَكِ مَنْسُوبٌ فِيهِ إِلَى الْوَهْمِ، وَذَلِكَ لِأَنَّ جَمَاعَةً مِنَ الثِّقَاتِ رَوَوْهُ عَنِ ابْنِ جَابِرٍ، فَلَمْ يَذْكُرُوا أَبَا إِدْرِيسَ بَيْنَ بُسْرٍ وَوَاثِلَةَ، وَفِيهِمْ مَنْ صَرَّحَ فِيهِ بِسَمَاعِ بُسْرٍ مِنْ وَاثِلَةَ.
"Adapun penyebutan Abu Idris di dalamnya: Ibnu al-Mubarak sendiri yang dinisbatkan telah keliru dalam hal ini, karena sekelompok perawi tsiqah meriwayatkannya dari Ibnu Jabir tanpa menyebutkan Abu Idris di antara Busr dan Watsilah, dan di antara mereka ada yang menegaskan bahwa Busr mendengar langsung dari Watsilah."
قَالَ أَبُو حَاتِمٍ الرَّازِيُّ: "يَرَوْنَ أَنَّ ابْنَ الْمُبَارَكِ وَهِمَ فِي هَذَا، قَالَ: وَكَثِيرًا مَا يُحَدِّثُ بُسْرٌ عَنْ أَبِي إِدْرِيسَ، فَغَلِطَ ابْنُ الْمُبَارَكِ، وَظَنَّ أَنَّ هَذَا مِمَّا رَوَى عَنْ أَبِي إِدْرِيسَ عَنْ وَاثِلَةَ، وَقَدْ سَمِعَ هَذَا بُسْرٌ مِنْ وَاثِلَةَ نَفْسِهِ".
"Abu Hatim ar-Razi berkata: 'mereka (para ulama) berpendapat bahwa Ibnu al-Mubarak telah keliru dalam hal ini.' Ia berkata: 'Busr sering kali meriwayatkan dari Abu Idris, sehingga Ibnu al-Mubarak keliru dan menyangka bahwa hadits ini termasuk yang diriwayatkannya dari Abu Idris dari Watsilah, padahal Busr mendengar hadits ini langsung dari Watsilah sendiri.'"

Kitab Karya al-Khathib dan Catatan Ibnu Shalah atasnya

قُلْتُ: قَدْ أَلَّفَ الْخَطِيبُ الْحَافِظُ فِي هَذَا النَّوْعِ كِتَابًا سَمَّاهُ "كِتَابُ تَمْيِيزِ الْمَزِيدِ فِي مُتَّصِلِ الْأَسَانِيدِ"، وَفِي كَثِيرٍ مِمَّا ذَكَرَهُ نَظَرٌ، لِأَنَّ الْإِسْنَادَ الْخَالِيَ عَنِ الرَّاوِي الزَّائِدِ إِنْ كَانَ بِلَفْظَةِ "عَنْ" فِي ذَلِكَ فَيَنْبَغِي أَنْ يُحْكَمَ بِإِرْسَالِهِ، وَيُجْعَلَ مُعَلَّلًا بِالْإِسْنَادِ الَّذِي ذُكِرَ فِيهِ الزَّائِدُ، لِمَا عُرِفَ فِي نَوْعِ الْمُعَلَّلِ، وَكَمَا يَأْتِي ذِكْرُهُ إِنْ - شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى - فِي النَّوْعِ الَّذِي يَلِيهِ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: al-Khathib al-Hafizh telah menyusun sebuah kitab dalam jenis ini yang ia namai 'Kitab Tamyiz al-Mazid fi Muttashil al-Asanid' - namun dalam banyak hal yang ia sebutkan terdapat ruang untuk ditinjau kembali (nazhar), karena isnad yang kosong dari perawi tambahan, apabila menggunakan lafal 'an (dari) dalam hal itu, sepatutnya dihukumi sebagai mursal (terputus), dan dianggap mu'allal (bercacat tersembunyi) dengan isnad yang menyebutkan perawi tambahan tersebut, sebagaimana telah diketahui dalam pembahasan jenis mu'allal, dan sebagaimana akan disebutkan - insya Allah Ta'ala - pada anwa' berikutnya."
وَإِنْ كَانَ فِيهِ تَصْرِيحٌ بِالسَّمَاعِ أَوْ بِالْإِخْبَارِ، كَمَا فِي الْمِثَالِ الَّذِي أَوْرَدْنَاهُ، فَجَائِزٌ أَنْ يَكُونَ قَدْ سَمِعَ ذَلِكَ مِنْ رَجُلٍ عَنْهُ، ثُمَّ سَمِعَهُ مِنْهُ نَفْسُهُ، فَيَكُونُ بُسْرٌ فِي هَذَا الْحَدِيثِ قَدْ سَمِعَهُ مِنْ أَبِي إِدْرِيسَ عَنْ وَاثِلَةَ، ثُمَّ لَقِيَ وَاثِلَةَ فَسَمِعَهُ مِنْهُ، كَمَا جَاءَ مِثْلُهُ مُصَرَّحًا بِهِ فِي غَيْرِ هَذَا.
"Namun apabila isnad itu menegaskan sama' (mendengar langsung) atau ikhbar (pengabaran langsung), sebagaimana dalam contoh yang telah kami sebutkan, maka boleh jadi ia telah mendengar hadits itu dari seorang perantara darinya, kemudian mendengarnya lagi langsung darinya sendiri - sehingga Busr dalam hadits ini mungkin telah mendengarnya dari Abu Idris dari Watsilah, kemudian bertemu Watsilah dan mendengarnya langsung darinya, sebagaimana hal semisal ini datang dengan tegas di tempat lain."
اللَّهُمَّ إِلَّا أَنْ تُوجَدَ قَرِينَةٌ تَدُلُّ عَلَى كَوْنِهِ وَهْمًا، كَنَحْوِ مَا ذَكَرَهُ أَبُو حَاتِمٍ فِي الْمِثَالِ الْمَذْكُورِ.
"Kecuali apabila terdapat qarinah (indikasi/petunjuk) yang menunjukkan bahwa itu memang kekeliruan, sebagaimana yang disebutkan Abu Hatim dalam contoh yang telah disebutkan."
وَأَيْضًا فَالظَّاهِرُ مِمَّنْ وَقَعَ لَهُ مِثْلُ ذَلِكَ أَنْ يَذْكُرَ السَّمَاعَيْنِ، فَإِذَا لَمْ يَجِئْ عَنْهُ ذِكْرُ ذَلِكَ حَمَلْنَاهُ عَلَى الزِّيَادَةِ الْمَذْكُورَةِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Dan lagi, yang lazimnya terjadi pada orang yang mengalami hal semacam ini adalah ia menyebutkan kedua sama'-nya sekaligus. Apabila penyebutan itu tidak datang darinya, maka kami membawanya kepada penilaian sebagai ziyadah (tambahan keliru) yang telah disebutkan. Wallahu a'lam."2

Catatan & Referensi

  1. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 286.

  2. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 286-288.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email