Muqaddimah Ibnu Shalah Bab 3: Hadits Hasan

النَّوْعُ الثَّانِي: مَعْرِفَةُ الْحَسَنِ مِنَ الْحَدِيثِ
"Anwa' kedua: mengenal al-hasan (hadits hasan)."1

رُوِّينَا عَنْ أَبِي سُلَيْمَانَ الْخَطَّابِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ أَنَّهُ قَالَ بَعْدَ حِكَايَتِهِ أَنَّ الْحَدِيثَ عِنْدَ أَهْلِهِ يَنْقَسِمُ إِلَى الْأَقْسَامِ الثَّلَاثَةِ الَّتِي قَدَّمْنَا ذِكْرَهَا:
"Kami meriwayatkan dari Abu Sulaiman al-Khaththabi rahimahullah, bahwa beliau berkata setelah menuturkan bahwa hadits menurut ahlinya terbagi menjadi tiga bagian yang telah kami sebutkan sebelumnya:"
" الْحَسَنُ مَا عُرِفَ مُخْرَجُهُ وَاشْتَهَرَ رِجَالُهُ ". قَالَ: " وَعَلَيْهِ مَدَارُ أَكْثَرِ الْحَدِيثِ، وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُهُ أَكْثَرُ الْعُلَمَاءِ، وَيَسْتَعْمِلُهُ عَامَّةُ الْفُقَهَاءِ ".
"'Hasan adalah [hadits] yang diketahui jalur periwayatannya dan populer para perawinya.' Beliau berkata pula: 'Dan atasnyalah poros mayoritas hadits, dan itulah yang diterima oleh mayoritas ulama, dan dipakai oleh kebanyakan fuqaha.'"
وَرُوِّينَا عَنْ أَبِي عِيسَى التِّرْمِذِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ يُرِيدُ بِالْحَسَنِ " أَنْ لَا يَكُونَ فِي إِسْنَادِهِ مَنْ يُتَّهَمُ بِالْكَذِبِ، وَلَا يَكُونُ حَدِيثًا شَاذًّا، وَيُرْوَى مِنْ غَيْرِ وَجْهٍ نَحْوُ ذَلِكَ ".
"Kami meriwayatkan dari Abu 'Isa at-Tirmidzi radhiyallahu 'anhu bahwa yang beliau maksud dengan hasan adalah 'hadits yang di dalam sanadnya tidak ada perawi yang dituduh berdusta, tidak pula syadz (menyelisihi riwayat yang lebih kuat), dan diriwayatkan dari jalur lain yang semisal itu.'"
وَقَالَ بَعْضُ الْمُتَأَخِّرِينَ: " الْحَدِيثُ الَّذِي فِيهِ ضَعْفٌ قَرِيبٌ مُحْتَمَلٌ هُوَ الْحَدِيثُ الْحَسَنُ، وَيَصْلُحُ لِلْعَمَلِ بِهِ ".
"Sebagian ulama mutaakhkhirin berkata: 'Hadits yang di dalamnya terdapat kelemahan ringan yang masih bisa ditoleransi, itulah hadits hasan, dan sah untuk diamalkan.'"
قُلْتُ: كُلُّ هَذَا مُسْتَبْهَمٌ لَا يَشْفِي الْغَلِيلَ، وَلَيْسَ فِيمَا ذَكَرَهُ التِّرْمِذِيُّ وَالْخَطَّابِيُّ مَا يَفْصِلُ الْحَسَنَ مِنَ الصَّحِيحِ.
"Aku (Ibnu Shalah) katakan: semua ini masih samar, tidak memuaskan dahaga (pemahaman), dan tidak ada dalam apa yang disebutkan oleh at-Tirmidzi dan al-Khaththabi itu yang memisahkan secara jelas antara hasan dan shahih."

Penetapan Dua Pembagian Hasan

وَقَدْ أَمْعَنْتُ النَّظَرَ فِي ذَلِكَ وَالْبَحْثَ، جَامِعًا بَيْنَ أَطْرَافِ كَلَامِهِمْ، مُلَاحِظًا مَوَاقِعَ اسْتِعْمَالِهِمْ، فَتَنَقَّحَ لِي وَاتَّضَحَ أَنَّ الْحَدِيثَ الْحَسَنَ قِسْمَانِ:
"Aku telah mencurahkan perhatian dan penelitian dalam hal ini, menghimpun berbagai ujung perkataan mereka, dan mencermati tempat-tempat penggunaan istilah mereka, sehingga menjadi jernih dan jelas bagiku bahwa hadits hasan itu terbagi dua:"
أَحَدُهُمَا: الْحَدِيثُ الَّذِي لَا يَخْلُو رِجَالُ إِسْنَادِهِ مِنْ مَسْتُورٍ لَمْ تَتَحَقَّقْ أَهْلِيَّتُهُ، غَيْرَ أَنَّهُ لَيْسَ مُغَفَّلًا كَثِيرَ الْخَطَأِ فِيمَا يَرْوِيهِ، وَلَا هُوَ مُتَّهَمٌ بِالْكَذِبِ فِي الْحَدِيثِ، أَيْ لَمْ يَظْهَرْ مِنْهُ تَعَمُّدُ الْكَذِبِ فِي الْحَدِيثِ وَلَا سَبَبٌ آخَرُ مُفَسِّقٌ، وَيَكُونُ مَتْنُ الْحَدِيثِ مَعَ ذَلِكَ قَدْ عُرِفَ بِأَنْ رُوِيَ مِثْلُهُ أَوْ نَحْوُهُ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ أَوْ أَكْثَرَ حَتَّى اعْتَضَدَ بِمُتَابَعَةِ مَنْ تَابَعَ رَاوِيَهُ عَلَى مِثْلِهِ، أَوْ بِمَا لَهُ مِنْ شَاهِدٍ، وَهُوَ وُرُودُ حَدِيثٍ آخَرَ بِنَحْوِهِ، فَيَخْرُجُ بِذَلِكَ عَنْ أَنْ يَكُونَ شَاذًّا وَمُنْكَرًا، وَكَلَامُ التِّرْمِذِيِّ عَلَى هَذَا الْقِسْمِ يَتَنَزَّلُ.
"Salah satunya: hadits yang para perawi sanadnya tidak lepas dari perawi mastur (tidak dikenal luas) yang belum terbukti kelayakannya, namun ia bukan orang yang lalai/banyak keliru dalam apa yang diriwayatkannya, dan tidak pula dituduh berdusta dalam hadits — artinya tidak tampak darinya kesengajaan berdusta dalam hadits maupun sebab lain yang menjatuhkan kredibilitasnya (fisq). Dan matan haditsnya, di samping itu, dikenal karena telah diriwayatkan yang semisal atau semakna dengannya dari satu jalur lain atau lebih, sehingga ia dikuatkan oleh mutaba'ah dari orang yang mengikuti perawinya pada riwayat yang semisal, atau oleh syahid yang dimilikinya, yaitu datangnya hadits lain yang semakna. Maka dengan itu ia keluar dari status syadz dan munkar. Perkataan at-Tirmidzi tentang hadits hasan tertuju pada bagian ini."
الْقِسْمُ الثَّانِي: أَنْ يَكُونَ رَاوِيهِ مِنَ الْمَشْهُورِينَ بِالصِّدْقِ وَالْأَمَانَةِ، غَيْرَ أَنَّهُ لَمْ يَبْلُغْ دَرَجَةَ رِجَالِ الصَّحِيحِ، لِكَوْنِهِ يَقْصُرُ عَنْهُمْ فِي الْحِفْظِ وَالْإِتْقَانِ، وَهُوَ مَعَ ذَلِكَ يَرْتَفِعُ عَنْ حَالِ مَنْ يُعَدُّ مَا يَنْفَرِدُ بِهِ مِنْ حَدِيثِهِ مُنْكَرًا، وَيُعْتَبَرُ فِي كُلِّ هَذَا - مَعَ سَلَامَةِ الْحَدِيثِ مِنْ أَنْ يَكُونَ شَاذًّا وَمُنْكَرًا - سَلَامَتُهُ مِنْ أَنْ يَكُونَ مُعَلَّلًا.
"Bagian kedua: perawinya termasuk orang yang dikenal luas kejujuran dan amanahnya, hanya saja ia belum mencapai derajat para perawi hadits shahih, karena ia lebih rendah dari mereka dalam hafalan dan ketelitian (itqan). Namun demikian, ia tetap berada di atas kondisi orang yang riwayat tunggalnya (yang tidak diriwayatkan orang lain) dihukumi munkar. Disyaratkan dalam kedua bagian ini — di samping selamatnya hadits dari syadz dan munkar — juga selamatnya dari 'illah (cacat tersembunyi)."
وَعَلَى الْقِسْمِ الثَّانِي يَتَنَزَّلُ كَلَامُ الْخَطَّابِيِّ.
"Dan perkataan al-Khaththabi tertuju pada bagian kedua ini."
فَهَذَا الَّذِي ذَكَرْنَاهُ جَامِعٌ لِمَا تَفَرَّقَ فِي كَلَامِ مَنْ بَلَغَنَا كَلَامُهُ فِي ذَلِكَ، وَكَأَنَّ التِّرْمِذِيَّ ذَكَرَ أَحَدَ نَوْعَيِ الْحَسَنِ، وَذَكَرَ الْخَطَّابِيُّ النَّوْعَ الْآخَرَ، مُقْتَصِرًا كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَلَى مَا رَأَى أَنَّهُ يُشْكِلُ، مُعْرِضًا عَمَّا رَأَى أَنَّهُ لَا يُشْكِلُ. أَوْ أَنَّهُ غَفَلَ عَنِ الْبَعْضِ وَذَهِلَ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ، هَذَا تَأْصِيلُ ذَلِكَ.
"Maka apa yang kami sebutkan ini merangkum apa yang terpisah-pisah dalam perkataan orang-orang yang sampai kepada kami perkataannya tentang hal ini. Seakan-akan at-Tirmidzi menyebutkan salah satu dari dua jenis hasan, dan al-Khaththabi menyebutkan jenis yang satunya lagi, masing-masing dari keduanya membatasi diri pada apa yang dipandangnya sulit (musykil), dan berpaling dari apa yang dipandangnya tidak sulit. Atau bisa jadi salah satunya lalai dan lupa terhadap sebagian jenis lainnya. Wallahu a'lam. Inilah penetapan dasar (ta'shil) persoalan ini."
وَنُوَضِّحُهُ بِتَنْبِيهَاتٍ وَتَفْرِيعَاتٍ.
"Dan kami akan memperjelasnya dengan beberapa tanbih (catatan penting) dan tafri' (cabang pembahasan)."2

Tanbih Pertama

أَحَدُهَا: الْحَسَنُ يَتَقَاصَرُ عَنِ الصَّحِيحِ فِي أَنَّ الصَّحِيحَ مِنْ شَرْطِهِ: أَنْ يَكُونَ جَمِيعُ رُوَاتِهِ قَدْ ثَبَتَتْ عَدَالَتُهُمْ وَضَبْطُهُمْ وَإِتْقَانُهُمْ، إِمَّا بِالنَّقْلِ الصَّرِيحِ، أَوْ بِطَرِيقِ الِاسْتِفَاضَةِ، عَلَى مَا سَنُبَيِّنُهُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى، وَذَلِكَ غَيْرُ مُشْتَرَطٍ فِي الْحَسَنِ، فَإِنَّهُ يُكْتَفَى فِيهِ بِمَا سَبَقَ ذِكْرُهُ مِنْ مَجِيءِ الْحَدِيثِ مِنْ وُجُوهٍ، وَغَيْرِ ذَلِكَ مِمَّا تَقَدَّمَ شَرْحُهُ.
"Pertama: Hasan lebih rendah dari shahih dalam hal bahwa di antara syarat shahih adalah seluruh perawinya telah terbukti 'adalah (integritas), dhabt (ketelitian hafalan), dan itqan-nya, baik melalui penukilan yang jelas maupun melalui jalan istifadhah (kemasyhuran), sebagaimana akan kami jelaskan insya Allah Ta'ala. Sedangkan hal itu tidak disyaratkan pada hasan, karena cukup padanya apa yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu datangnya hadits dari beberapa jalur, dan hal-hal lain yang telah dijelaskan sebelumnya."
وَإِذَا اسْتَبْعَدَ ذَلِكَ مِنَ الْفُقَهَاءِ الشَّافِعِيَّةِ مُسْتَبْعِدٌ ذَكَرْنَا لَهُ نَصَّ الشَّافِعِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي مَرَاسِيلِ التَّابِعِينَ: أَنَّهُ يُقْبَلُ مِنْهَا الْمُرْسَلُ الَّذِي جَاءَ نَحْوُهُ مُسْنَدًا، وَكَذَلِكَ لَوْ وَافَقَهُ مُرْسَلٌ آخَرُ، أَرْسَلَهُ مَنْ أَخَذَ الْعِلْمَ عَنْ غَيْرِ رِجَالِ التَّابِعِيِّ الْأَوَّلِ فِي كَلَامٍ لَهُ ذَكَرَ فِيهِ وُجُوهًا مِنَ الِاسْتِدْلَالِ عَلَى صِحَّةِ مُخْرَجِ الْمُرْسَلِ لِمَجِيئِهِ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ.
"Dan jika ada seorang faqih Syafi'iyah yang menganggap hal ini jauh (tidak masuk akal), kami sebutkan kepadanya nash Imam asy-Syafi'i radhiyallahu 'anhu tentang hadits-hadits mursal para Tabi'in: bahwa diterima darinya hadits mursal yang datang semisalnya secara musnad, demikian pula jika ada mursal lain yang sesuai dengannya, yang diriwayatkan secara mursal oleh orang yang mengambil ilmu dari selain guru-guru Tabi'in yang pertama tadi — dalam perkataan beliau yang di dalamnya beliau menyebutkan beberapa segi dalil atas keabsahan sumber hadits mursal karena datangnya dari jalur lain."
وَذَكَرْنَا لَهُ أَيْضًا مَا حَكَاهُ الْإِمَامُ أَبُو الْمُظَفَّرِ السَّمْعَانِيُّ وَغَيْرُهُ عَنْ بَعْضِ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ مِنْ أَنَّهُ تُقْبَلُ رِوَايَةُ الْمَسْتُورِ، وَإِنْ لَمْ تُقْبَلْ شَهَادَةُ الْمَسْتُورِ، وَلِذَلِكَ وَجْهٌ مُتَّجِهٌ، كَيْفَ وَإِنَّا لَمْ نَكْتَفِ فِي الْحَدِيثِ الْحَسَنِ بِمُجَرَّدِ رِوَايَةِ الْمَسْتُورِ عَلَى مَا سَبَقَ آنِفًا. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Kami sebutkan pula kepadanya apa yang dinukil oleh Imam Abu al-Muzhaffar as-Sam'ani dan yang lainnya dari sebagian sahabat (murid) asy-Syafi'i, bahwa riwayat perawi mastur diterima, sekalipun kesaksiannya tidak diterima. Hal itu memiliki sisi pandang yang kuat, apalagi kita di sini tidak cukup dalam hadits hasan hanya dengan sekadar riwayat perawi mastur saja sebagaimana telah disebutkan tadi. Wallahu a'lam."

Tanbih Kedua

الثَّانِي: لَعَلَّ الْبَاحِثَ الْفَهِمَ يَقُولُ: إِنَّا نَجِدُ أَحَادِيثَ مَحْكُومًا بِضَعْفِهَا مَعَ كَوْنِهَا قَدْ رُوِيَتْ بِأَسَانِيدَ كَثِيرَةٍ مِنْ وُجُوهٍ عَدِيدَةٍ مِثْلَ حَدِيثِ: " الْأُذُنَانِ مِنَ الرَّأْسِ " وَنَحْوِهِ، فَهَلَّا جَعَلْتُمْ ذَلِكَ وَأَمْثَالَهُ مِنْ نَوْعِ الْحَسَنِ، لِأَنَّ بَعْضَ ذَلِكَ عَضَّدَ بَعْضًا، كَمَا قُلْتُمْ فِي نَوْعِ الْحَسَنِ عَلَى مَا سَبَقَ آنِفًا.
"Kedua: boleh jadi seorang peneliti yang cermat akan berkata: 'Kami dapati hadits-hadits yang dihukumi lemah, padahal ia diriwayatkan dengan sanad yang banyak dari berbagai jalur, seperti hadits 'kedua telinga termasuk bagian dari kepala' dan semisalnya. Mengapa kalian tidak menggolongkan hadits semacam itu dan yang serupa dengannya ke dalam jenis hasan, karena sebagiannya saling menguatkan sebagiannya yang lain, sebagaimana yang kalian katakan tentang jenis hasan sebelumnya?'"
وَجَوَابُ ذَلِكَ أَنَّهُ لَيْسَ كُلُّ ضَعْفٍ فِي الْحَدِيثِ يَزُولُ بِمَجِيئِهِ مِنْ وُجُوهٍ، بَلْ ذَلِكَ يَتَفَاوَتُ:
"Jawabannya: tidak setiap kelemahan pada hadits hilang hanya karena datangnya dari berbagai jalur, bahkan hal itu bertingkat-tingkat:"
فَمِنْهُ ضَعْفٌ يُزِيلُهُ ذَلِكَ بِأَنْ يَكُونَ ضَعْفُهُ نَاشِئًا مِنْ ضَعْفِ حِفْظِ رَاوِيهِ، مَعَ كَوْنِهِ مِنْ أَهْلِ الصِّدْقِ وَالدِّيَانَةِ. فَإِذَا رَأَيْنَا مَا رَوَاهُ قَدْ جَاءَ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ عَرَفْنَا أَنَّهُ مِمَّا قَدْ حَفِظَهُ، وَلَمْ يَخْتَلَّ فِيهِ ضَبْطُهُ لَهُ. وَكَذَلِكَ إِذَا كَانَ ضَعْفُهُ مِنْ حَيْثُ الْإِرْسَالُ زَالَ بِنَحْوِ ذَلِكَ، كَمَا فِي الْمُرْسَلِ الَّذِي يُرْسِلُهُ إِمَامٌ حَافِظٌ، إِذْ فِيهِ ضَعْفٌ قَلِيلٌ، يَزُولُ بِرِوَايَتِهِ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ.
"Di antaranya ada kelemahan yang hilang dengan cara itu, yaitu apabila kelemahannya bersumber dari lemahnya hafalan perawinya, sementara ia termasuk ahli kejujuran dan agama (diyanah). Maka apabila kami melihat apa yang diriwayatkannya juga datang dari jalur lain, kami mengetahui bahwa itu termasuk yang telah ia hafal dengan benar, dan ketelitiannya (dhabt) padanya tidak terganggu. Demikian pula apabila kelemahannya dari segi irsal (keterputusan mursal), ia hilang dengan cara serupa, sebagaimana pada hadits mursal yang diriwayatkan oleh seorang imam hafizh, karena padanya hanya ada kelemahan ringan yang hilang dengan datangnya riwayat dari jalur lain."
وَمِنْ ذَلِكَ ضَعْفٌ لَا يَزُولُ بِنَحْوِ ذَلِكَ، لِقُوَّةٍ الضَّعْفِ وَتَقَاعُدِ هَذَا الْجَابِرِ عَنْ جَبْرِهِ وَمُقَاوَمَتِهِ. وَذَلِكَ كَالضَّعْفِ الَّذِي يَنْشَأُ مِنْ كَوْنِ الرَّاوِي مُتَّهَمًا بِالْكَذِبِ، أَوْ كَوْنِ الْحَدِيثِ شَاذًّا.
"Dan di antaranya ada pula kelemahan yang tidak hilang dengan cara serupa itu, karena kuatnya kelemahan tersebut dan lemahnya faktor penguat ini untuk menutupi dan mengimbanginya. Itu seperti kelemahan yang muncul karena perawinya dituduh berdusta, atau karena haditsnya syadz."
وَهَذِهِ جُمْلَةٌ تَفَاصِيلُهَا تُدْرَكُ بِالْمُبَاشَرَةِ وَالْبَحْثِ، فَاعْلَمْ ذَلِكَ، فَإِنَّهُ مِنَ النَّفَائِسِ الْعَزِيزَةِ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Ini adalah kaidah umum yang rincian-rinciannya diketahui lewat praktik langsung dan penelitian. Maka ketahuilah hal ini, karena ia termasuk mutiara ilmu yang berharga dan langka. Wallahu a'lam."

Tanbih Ketiga

الثَّالِثُ: إِذَا كَانَ رَاوِي الْحَدِيثِ مُتَأَخِّرًا عَنْ دَرَجَةِ أَهْلِ الْحِفْظِ وَالْإِتْقَانِ، غَيْرَ أَنَّهُ مِنَ الْمَشْهُورِينَ بِالصِّدْقِ وَالسَّتْرِ، وَرُوِيَ مَعَ ذَلِكَ حَدِيثُهُ مِنْ غَيْرِ وَجْهٍ، فَقَدِ اجْتَمَعَتْ لَهُ الْقُوَّةُ مِنَ الْجِهَتَيْنِ، وَذَلِكَ يُرَقِّي حَدِيثَهُ مِنْ دَرَجَةِ الْحَسَنِ إِلَى دَرَجَةِ الصَّحِيحِ.
"Ketiga: apabila perawi hadits berada di bawah derajat ahli hafalan dan ketelitian (itqan), namun ia termasuk yang dikenal luas kejujuran dan sitr (kelurusan hidupnya), dan di samping itu haditsnya diriwayatkan dari jalur lain, maka telah terkumpul padanya kekuatan dari dua sisi, dan hal itu mengangkat haditsnya dari derajat hasan naik ke derajat shahih."
مِثَالُهُ: حَدِيثُ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ ".
"Contohnya: hadits Muhammad bin 'Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Sekiranya tidak memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka bersiwak pada setiap kali hendak shalat.'"
فَمُحَمَّدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ عَلْقَمَةَ مِنَ الْمَشْهُورِينَ بِالصِّدْقِ وَالصِّيَانَةِ، لَكِنَّهُ لَمْ يَكُنْ مِنْ أَهْلِ الْإِتْقَانِ، حَتَّى ضَعَّفَهُ بَعْضُهُمْ مِنْ جِهَةِ سُوءٍ حِفْظِهِ، وَوَثَّقَهُ بَعْضُهُمْ لِصِدْقِهِ وَجَلَالَتِهِ، فَحَدِيثُهُ مِنْ هَذِهِ الْجِهَةِ حَسَنٌ. فَلَمَّا انْضَمَّ إِلَى ذَلِكَ كَوْنُهُ رُوِيَ مِنْ أَوْجُهٍ أُخَرَ، زَالَ بِذَلِكَ مَا كُنَّا نَخْشَاهُ عَلَيْهِ مِنْ جِهَةِ سُوءِ حِفْظِهِ، وَانْجَبَرَ بِهِ ذَلِكَ النَّقْصُ الْيَسِيرُ، فَصَحَّ هَذَا الْإِسْنَادُ وَالْتَحَقَ بِدَرَجَةِ الصَّحِيحِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Muhammad bin 'Amr bin 'Alqamah termasuk yang dikenal luas kejujuran dan penjagaan dirinya (shiyanah), hanya saja ia bukan termasuk ahli itqan, sampai-sampai sebagian ulama mendhaifkannya karena buruknya hafalannya, sementara sebagian lain mentsiqahkannya karena kejujuran dan kemuliaannya. Maka haditsnya dari sisi ini berstatus hasan. Ketika bergabung dengannya kenyataan bahwa hadits itu diriwayatkan dari jalur-jalur lain, hilanglah kekhawatiran kita terhadapnya dari sisi buruknya hafalan tersebut, dan tertutupilah kekurangan ringan itu, maka sahihlah sanad ini dan bergabung ke derajat shahih. Wallahu a'lam."

Tanbih Keempat

الرَّابِعُ: كِتَابُ أَبِي عِيسَى التِّرْمِذِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ أَصْلٌ فِي مَعْرِفَةِ الْحَدِيثِ الْحَسَنِ وَهُوَ الذى نَوَّهَ بِاسْمِهِ، وَأَكْثَرَ مِنْ ذِكْرِهِ فِي جَامِعِهِ.
"Keempat: kitab Abu 'Isa at-Tirmidzi rahimahullah adalah rujukan pokok dalam mengenal hadits hasan, dan beliaulah yang mempopulerkan istilah ini serta paling banyak menyebutkannya dalam kitab Jami'-nya."
وَيُوجَدُ فِي مُتَفَرِّقَاتٍ مِنْ كَلَامِ بَعْضِ مَشَايِخِهِ وَالطَّبَقَةِ الَّتِي قَبْلَهُ، كَأَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ، وَالْبُخَارِيِّ، وَغَيْرِهِمَا.
"Istilah ini juga dijumpai secara terpencar-pencar dalam perkataan sebagian guru beliau dan generasi sebelumnya, seperti Ahmad bin Hanbal, al-Bukhari, dan selain keduanya."
وَتَخْتَلِفُ النُّسَخُ مِنْ كِتَابِ التِّرْمِذِيِّ فِي قَوْلِهِ: " هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ ". أَوْ: " هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ " وَنَحْوِ ذَلِكَ. فَيَنْبَغِي أَنْ تُصَحِّحَ أَصْلَكَ بِهِ بِجَمَاعَةِ أُصُولٍ، وَتَعْتَمِدَ عَلَى مَا اتَّفَقَتْ عَلَيْهِ.
"Naskah-naskah kitab at-Tirmidzi berbeda-beda dalam mencantumkan ucapan 'ini hadits hasan' atau 'ini hadits hasan shahih' dan semacamnya. Maka selayaknya seseorang mentashih naskah rujukannya dengan membandingkan beberapa naskah asal, lalu berpegang pada apa yang disepakati olehnya."
وَنَصَّ الدَّارَقُطْنِيُّ فِي سُنَنِهِ عَلَى كَثِيرٍ مِنْ ذَلِكَ.
"Ad-Daraquthni dalam kitab Sunan-nya juga menegaskan banyak dari hal itu."
وَمِنْ مَظَانِّهِ سُنَنُ أَبِي دَاوُدَ السِّجِسْتَانِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى. رُوِّينَا عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: " ذَكَرْتُ فِيهِ الصَّحِيحَ وَمَا يُشْبِهُهُ وَيُقَارِبُهُ ". وَرُوِّينَا عَنْهُ أَيْضًا مَا مَعْنَاهُ: أَنَّهُ يَذْكُرُ فِي كُلِّ بَابٍ أَصَحَّ مَا عَرَفَهُ فِي ذَلِكَ الْبَابِ. وَقَالَ: " مَا كَانَ فِي كِتَابِي مِنْ حَدِيثٍ فِيهِ وَهَنٌ شَدِيدٌ فَقَدْ بَيَّنْتُهُ، وَمَا لَمْ أَذْكُرْ فِيهِ شَيْئًا فَهُوَ صَالِحٌ، وَبَعْضُهَا أَصَحُّ مِنْ بَعْضٍ ".
"Di antara tempat rujukan yang layak dicari adalah kitab Sunan Abu Dawud as-Sijistani rahimahullah Ta'ala. Kami meriwayatkan darinya bahwa beliau berkata: 'Aku sebutkan di dalamnya yang shahih dan yang menyerupai serta mendekatinya.' Kami juga meriwayatkan darinya, dengan makna: bahwa beliau menyebutkan pada setiap bab hadits paling shahih yang beliau ketahui dalam bab itu. Beliau juga berkata: 'Hadits dalam kitabku yang memiliki kelemahan berat, telah aku jelaskan. Dan yang tidak aku sebutkan apa pun tentangnya, maka ia layak (shalih), dan sebagiannya lebih shahih dari sebagian yang lain.'"
قُلْتُ: فَعَلَى هَذَا مَا وَجَدْنَاهُ فِي كِتَابِهِ مَذْكُورًا مُطْلَقًا، وَلَيْسَ فِي وَاحِدٍ مِنَ الصَّحِيحَيْنِ، وَلَا نَصَّ عَلَى صِحَّتِهِ أَحَدٌ مِمَّنْ يُمَيِّزُ بَيْنَ الصَّحِيحِ وَالْحَسَنِ، عَرَفْنَاهُ بِأَنَّهُ مِنَ الْحَسَنِ عِنْدَ أَبِي دَاوُدَ.
"Aku (Ibnu Shalah) katakan: berdasarkan hal ini, apa yang kami dapati dalam kitabnya disebutkan secara mutlak (tanpa penjelasan status), dan tidak terdapat dalam salah satu dari Shahihain, serta tidak ada seorang pun ahli yang membedakan shahih dari hasan menegaskan keshahihannya, maka kami mengetahuinya sebagai hadits hasan menurut Abu Dawud."
وَقَدْ يَكُونُ فِي ذَلِكَ مَا لَيْسَ بِحَسَنٍ عِنْدَ غَيْرِهِ، وَلَا مُنْدَرِجٍ فِيمَا حَقَّقْنَا ضَبْطَ الْحَسَنِ بِهِ عَلَى مَا سَبَقَ، إِذْ حَكَى أَبُو عَبْدِ اللَّهِ بْنُ مَنْدَهْ الْحَافِظُ أَنَّهُ سَمِعَ مُحَمَّدَ بْنَ سَعْدٍ الْبَاوَرْدِيَّ بِمِصْرَ يَقُولُ: " كَانَ مِنْ مَذْهَبِ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ النَّسَائِيِّ أَنْ يُخْرِجَ عَنْ كُلِّ مَنْ لَمْ يُجْمَعْ عَلَى تَرْكِهِ ". وَقَالَ ابْنُ مَنْدَهْ: " وَكَذَلِكَ أَبُو دَاوُدَ السِّجِسْتَانِيُّ يَأْخُذُ مَأْخَذَهُ، وَيُخْرِجُ الْإِسْنَادَ الضَّعِيفَ إِذَا لَمْ يَجِدْ فِي الْبَابِ غَيْرَهُ؛ لِأَنَّهُ أَقْوَى عِنْدَهُ مَنْ رَأْيِ الرِّجَالِ "، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Terkadang dijumpai pula di dalamnya hadits yang tidak dianggap hasan menurut ulama lain, dan tidak termasuk dalam apa yang telah kami tetapkan sebagai batasan hasan sebagaimana disebutkan sebelumnya. Sebab, Al-Hafizh Abu 'Abdillah bin Mandah menceritakan bahwa ia mendengar Muhammad bin Sa'd al-Baawardi berkata di Mesir: 'Termasuk mazhab (metode) Abu 'Abdirrahman an-Nasa'i adalah meriwayatkan dari setiap orang yang tidak disepakati untuk ditinggalkan (tidak disepakati kelemahannya).' Ibnu Mandah juga berkata: 'Demikian pula Abu Dawud as-Sijistani, ia mengambil metode yang sama, dan meriwayatkan sanad yang lemah apabila ia tidak mendapati selainnya dalam bab tersebut, karena hal itu menurutnya lebih kuat daripada sekadar pendapat (ra'yu) para ahli fikih.' Wallahu a'lam."

Tanbih Kelima

الْخَامِسُ: مَا صَارَ إِلَيْهِ صَاحِبُ الْمَصَابِيحِ رَحِمَهُ اللَّهُ مِنْ تَقْسِيمِ أَحَادِيثِهِ إِلَى نَوْعَيْنِ: الصِّحَاحِ وَالْحِسَانِ، مُرِيدًا بِالصِّحَاحِ مَا وَرَدَ فِي أَحَدِ الصَّحِيحَيْنِ أَوْ فِيهِمَا، وَبِالْحِسَانِ مَا أَوْرَدَهُ أَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ وَأَشْبَاهُهُمَا فِي تَصَانِيفِهِمْ. فَهَذَا اصْطِلَاحٌ لَا يُعْرَفُ، وَلَيْسَ الْحَسَنُ عِنْدَ أَهْلِ الْحَدِيثِ عِبَارَةً عَنْ ذَلِكَ. وَهَذِهِ الْكُتُبُ تَشْتَمِلُ عَلَى حَسَنٍ وَغَيْرِ حَسَنٍ كَمَا سَبَقَ بَيَانُهُ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Kelima: apa yang dilakukan penulis kitab al-Mashabih rahimahullah dalam membagi hadits-haditsnya menjadi dua jenis: shahih dan hasan — memaksudkan dengan 'shahih' hadits yang terdapat dalam salah satu atau kedua kitab Shahihain, dan dengan 'hasan' hadits yang dicantumkan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan semisal keduanya dalam kitab-kitab mereka. Ini adalah istilah yang tidak dikenal, dan hasan menurut ahli hadits bukanlah ungkapan untuk maksud tersebut. Kitab-kitab itu memuat hadits hasan maupun yang bukan hasan, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Wallahu a'lam."

Tanbih Keenam

السَّادِسُ: كُتُبُ الْمَسَانِيدِ غَيْرُ مُلْتَحِقَةٍ بِالْكُتُبِ الْخَمْسَةِ الَّتِي هِيَ: الصَّحِيحَانِ، وَسُنَنُ أَبِي دَاوُدَ، وَسُنَنُ النَّسَائِيِّ، وَجَامِعُ التِّرْمِذِيِّ، وَمَا جَرَى مَجْرَاهَا فِي الِاحْتِجَاجِ بِهَا وَالرُّكُونِ إِلَى مَا يُورَدُ فِيهَا مُطْلَقًا، كَمُسْنَدِ أَبِي دَاوُدَ الطَّيَالِسِيِّ، وَمُسْنَدِ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ مُوسَى، وَمُسْنَدِ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ، وَمُسْنَدِ إِسْحَاقَ بْنِ رَاهَوَيْهِ، وَمُسْنَدِ عَبْدِ بْنِ حُمَيْدٍ، وَمُسْنَدِ الدَّارِمِيِّ، وَمُسْنَدِ أَبِي يَعْلَى الْمَوْصِلِيِّ، وَمُسْنَدِ الْحَسَنِ بْنِ سُفْيَانَ، وَمُسْنَدِ الْبَزَّارِ أَبِي بَكْرٍ، وَأَشْبَاهِهَا، فَهَذِهِ عَادَتُهُمْ فِيهَا أَنْ يُخْرِجُوا فِي مُسْنَدِ كُلِّ صَحَابِيٍّ مَا رَوَوْهُ مِنْ حَدِيثِهِ، غَيْرَ مُتَقَيِّدِينَ بِأَنْ يَكُونَ حَدِيثًا مُحْتَجًّا بِهِ. فَلِهَذَا تَأَخَّرَتْ مَرْتَبَتُهَا - وَإِنْ جَلَّتْ لِجَلَالَةِ مُؤَلِّفِيهَا - عَنْ مَرْتَبَةِ الْكُتُبِ الْخَمْسَةِ وَمَا الْتَحَقَ بِهَا مِنَ الْكُتُبِ الْمُصَنَّفَةِ عَلَى الْأَبْوَابِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Keenam: kitab-kitab musnad tidak sederajat dengan kitab yang lima, yaitu: Shahihain, Sunan Abu Dawud, Sunan an-Nasa'i, dan Jami' at-Tirmidzi, dan yang serupa dengannya dalam hal dijadikan hujjah dan dijadikan sandaran atas apa yang dimuat di dalamnya secara mutlak — seperti Musnad Abu Dawud ath-Thayalisi, Musnad 'Ubaidillah bin Musa, Musnad Ahmad bin Hanbal, Musnad Ishaq bin Rahawaih, Musnad 'Abd bin Humaid, Musnad ad-Darimi, Musnad Abu Ya'la al-Mawshili, Musnad al-Hasan bin Sufyan, Musnad al-Bazzar Abu Bakr, dan yang semisalnya. Kebiasaan para penyusun kitab-kitab ini adalah mencantumkan pada musnad setiap Sahabat apa saja yang mereka riwayatkan dari haditsnya, tanpa terikat syarat bahwa hadits itu bisa dijadikan hujjah. Karena itulah kedudukan kitab-kitab ini — meski agung karena keagungan penyusunnya — berada di bawah kedudukan kitab yang lima dan kitab-kitab yang sederajat dengannya yang disusun berdasarkan bab-bab fikih. Wallahu a'lam."

Tanbih Ketujuh

السَّابِعُ: قَوْلُهُمْ " هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ، أَوْ حَسَنُ الْإِسْنَادِ " دُونَ قَوْلِهِمْ: " هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ أَوْ حَدِيثٌ حَسَنٌ " لِأَنَّهُ قَدْ يُقَالُ: " هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ "، وَلَا يَصِحُّ، لِكَوْنِهِ شَاذًّا أَوْ مُعَلَّلًا.
"Ketujuh: perkataan mereka 'ini hadits shahih sanadnya' atau 'hasan sanadnya', berbeda dari perkataan 'ini hadits shahih' atau 'hadits hasan' secara mutlak. Sebab, terkadang dikatakan 'ini hadits shahih sanadnya' padahal ia tidak shahih secara keseluruhan, karena ia syadz atau mengandung 'illah."
غَيْرَ أَنَّ الْمُصَنِّفَ الْمُعْتَمَدَ مِنْهُمْ إِذَا اقْتَصَرَ عَلَى قَوْلِهِ: إِنَّهُ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ، وَلَمْ يَذْكُرْ لَهُ عِلَّةً، وَلَمْ يَقْدَحْ فِيهِ، فَالظَّاهِرُ مِنْهُ الْحُكْمُ لَهُ بِأَنَّهُ صَحِيحٌ فِي نَفْسِهِ؛ لِأَنَّ عَدَمَ الْعِلَّةِ وَالْقَادِحِ هُوَ الْأَصْلُ وَالظَّاهِرُ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Hanya saja, apabila seorang penyusun yang menjadi rujukan (mu'tamad) di antara mereka hanya membatasi diri pada perkataan 'ini shahih sanadnya', tanpa menyebutkan adanya 'illah padanya, dan tidak mencelanya, maka yang tampak (zhahir) darinya adalah hukum bahwa hadits itu shahih pada dirinya sendiri, karena ketiadaan 'illah dan cela itulah yang menjadi asal dan yang tampak. Wallahu a'lam."

Tanbih Kedelapan

الثَّامِنُ: فِي قَوْلِ التِّرْمِذِيِّ وَغَيْرِهِ: " هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ " إِشْكَالٌ، لِأَنَّ الْحَسَنَ قَاصِرٌ عَنِ الصَّحِيحِ، كَمَا سَبَقَ إِيضَاحُهُ، فَفِي الْجَمْعِ بَيْنَهُمَا فِي حَدِيثٍ وَاحِدٍ جَمْعٌ بَيْنَ نَفْيِ ذَلِكَ الْقُصُورِ وَإِثْبَاتِهِ.
"Kedelapan: dalam perkataan at-Tirmidzi dan lainnya 'ini hadits hasan shahih' terdapat kerancuan (isykal), karena hasan itu lebih rendah dari shahih sebagaimana telah dijelaskan. Maka menggabungkan kedua istilah itu pada satu hadits berarti menggabungkan antara meniadakan kekurangan tersebut dan menetapkannya sekaligus."
وَجَوَابُهُ: أَنَّ ذَلِكَ رَاجِعٌ إِلَى الْإِسْنَادِ، فَإِذَا رُوِيَ الْحَدِيثُ الْوَاحِدُ بِإِسْنَادَيْنِ: أَحَدُهُمَا إِسْنَادٌ حَسَنٌ، وَالْآخَرُ إِسْنَادٌ صَحِيحٌ اسْتَقَامَ أَنْ يُقَالَ فِيهِ: إِنَّهُ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ، أَيْ إِنَّهُ حَسَنٌ بِالنِّسْبَةِ إِلَى إِسْنَادٍ، صَحِيحٌ بِالنِّسْبَةِ إِلَى إِسْنَادٍ آخَرَ.
"Jawabannya: hal itu kembali kepada sanad. Apabila satu hadits yang sama diriwayatkan dengan dua sanad — salah satunya sanad yang hasan, dan yang lain sanad yang shahih — maka tepat dikatakan tentangnya: 'ini hadits hasan shahih', artinya ia hasan ditinjau dari satu sanad, dan shahih ditinjau dari sanad yang lain."
عَلَى أَنَّهُ غَيْرُ مُسْتَنْكَرٍ أَنْ يَكُونَ بَعْضُ مَنْ قَالَ ذَلِكَ أَرَادَ بِالْحُسْنِ مَعْنَاهُ اللُّغَوِيَّ، وَهُوَ: مَا تَمِيلُ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَلَا يَأْبَاهُ الْقَلْبُ، دُونَ الْمَعْنَى الِاصْطِلَاحِيِّ الَّذِي نَحْنُ بِصَدَدِهِ، فَاعْلَمْ ذَلِكَ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Selain itu, tidak dianggap aneh pula jika sebagian orang yang mengucapkan hal itu memaksudkan dengan 'husn' makna bahasanya, yaitu sesuatu yang disukai oleh jiwa dan tidak ditolak oleh hati, bukan makna istilah (ishthilahi) yang sedang kita bahas ini. Maka ketahuilah hal itu. Wallahu a'lam."

Tanbih Kesembilan

التَّاسِعُ: مِنْ أَهْلِ الْحَدِيثِ مَنْ لَا يُفْرِدُ نَوْعَ الْحَسَنِ، وَيَجْعَلُهُ مُنْدَرِجًا فِي أَنْوَاعِ الصَّحِيحِ، لِانْدِرَاجِهِ فِي أَنْوَاعِ مَا يُحْتَجُّ بِهِ، وَهُوَ الظَّاهِرُ مِنْ كَلَامِ الْحَاكِمِ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظِ فِي تَصَرُّفَاتِهِ، وَإِلَيْهِ يُومِي فِي تَسْمِيَتِهِ كِتَابَ التِّرْمِذِيِّ بِالْجَامِعِ الصَّحِيحِ، وَأَطْلَقَ الْخَطِيبُ أَبُو بَكْرٍ أَيْضًا عَلَيْهِ اسْمَ الصَّحِيحِ، وَعَلَى كِتَابِ النَّسَائِيِّ. وَذَكَرَ الْحَافِظُ أَبُو الطَّاهِرِ السِّلَفِيُّ الْكُتُبَ الْخَمْسَةَ، وَقَالَ: " اتَّفَقَ عَلَى صِحَّتِهَا عُلَمَاءُ الشَّرْقِ وَالْغَرْبِ ".
"Kesembilan: di antara ahli hadits ada yang tidak memisahkan jenis hasan secara tersendiri, dan menjadikannya masuk ke dalam jenis-jenis shahih, karena hasan termasuk dalam jenis-jenis yang dijadikan hujjah. Ini yang tampak dari perkataan Al-Hakim Abu 'Abdillah al-Hafizh dalam praktiknya, dan ke arah itu pula isyarat beliau ketika menamai kitab at-Tirmidzi dengan al-Jami' ash-Shahih. Al-Khathib Abu Bakr juga menyebutnya dengan nama 'shahih', begitu pula kitab an-Nasa'i. Al-Hafizh Abu Thahir as-Silafi menyebutkan kitab yang lima, lalu berkata: 'Para ulama timur dan barat telah sepakat atas keshahihannya.'"
وَهَذَا تَسَاهُلٌ؛ لِأَنَّ فِيهَا مَا صَرَّحُوا بِكَوْنِهِ ضَعِيفًا أَوْ مُنْكَرًا أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ مِنْ أَوْصَافِ الضَّعِيفِ. وَصَرَّحَ أَبُو دَاوُدَ فِيمَا قَدَّمْنَا رِوَايَتَهُ عَنْهُ بِانْقِسَامِ مَا فِي كِتَابِهِ إِلَى صَحِيحٍ وَغَيْرِهِ، وَالتِّرْمِذِيُّ مُصَرِّحٌ فِيمَا فِي كِتَابِهِ بِالتَّمْيِيزِ بَيْنَ الصَّحِيحِ وَالْحَسَنِ.
"Ini termasuk sikap yang longgar (tasahul), karena di dalam kitab-kitab itu terdapat hadits yang mereka sendiri tegaskan sebagai dhaif atau munkar atau sifat-sifat kelemahan lainnya. Abu Dawud sendiri telah menegaskan, sebagaimana telah kami sebutkan riwayatnya sebelumnya, bahwa isi kitabnya terbagi menjadi yang shahih dan selainnya. Demikian pula at-Tirmidzi, beliau menegaskan dalam kitabnya adanya pembedaan antara yang shahih dan yang hasan."
ثُمَّ إِنَّ مَنْ سَمَّى الْحَسَنَ صَحِيحًا لَا يُنْكِرُ أَنَّهُ دُونَ الصَّحِيحِ الْمُقَدَّمِ الْمُبَيَّنِ أَوَّلًا، فَهَذَا إِذًا اخْتِلَافٌ فِي الْعِبَارَةِ دُونَ الْمَعْنَى، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Kemudian, orang yang menamai hasan sebagai shahih itu pun tidak mengingkari bahwa ia tetap berada di bawah shahih yang utama yang telah dijelaskan di awal. Maka perbedaan ini hanyalah perbedaan dalam ungkapan, bukan perbedaan makna. Wallahu a'lam."3

Catatan & Referensi

  1. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 29.

  2. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 29-32.

  3. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 32-40.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email