هَذِهِ عُيُونٌ مِنْ آدَابِ الْمُحَدِّثِ، اجْتَزَأْنَا بِهَا مُعْرِضِينَ عَنِ التَّطْوِيلِ بِمَا لَيْسَ مِنْ مُهِمَّاتِهَا، أَوْ هُوَ ظَاهِرٌ لَيْسَ مِنْ مُسْتَبْهِمَاتِهَا، وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ، وَالْمُعِينُ، وَهُوَ أَعْلَمُ.
"Itulah pokok-pokok adab seorang muhaddits, kami cukupkan dengan itu, tidak memperpanjang dengan hal-hal yang bukan bagian pentingnya, atau yang sudah jelas dan bukan bagian yang rumit darinya. Allah-lah pemberi taufik dan pertolongan, dan Dia Maha Mengetahui."
النَّوْعُ الثَّامِنُ وَالْعِشْرُونَ: مَعْرِفَةُ آدَابِ طَالِبِ الْحَدِيثِ
"Anwa' kedua puluh delapan: mengenal adab seorang penuntut hadits."1
وَقَدِ انْدَرَجَ طَرَفٌ مِنْهُ فِي ضِمْنِ مَا تَقَدَّمَ. فَأَوَّلُ مَا عَلَيْهِ تَحْقِيقُ الْإِخْلَاصِ، وَالْحَذَرُ مِنْ أَنْ يَتَّخِذَهُ وُصْلَةً إِلَى شَيْءٍ مِنَ الْأَغْرَاضِ الدُّنْيَوِيَّةِ.
"Telah tercakup sebagiannya dalam pembahasan sebelumnya. Yang pertama wajib baginya adalah mewujudkan keikhlasan, dan berhati-hati agar tidak menjadikannya sebagai sarana menuju tujuan-tujuan duniawi."
رُوِّينَا ... عَنْ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: "مَنْ طَلَبَ الْحَدِيثَ لِغَيْرِ اللَّهِ مُكِرَ بِهِ" ....
"Kami meriwayatkan dari Hammad bin Salamah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: 'siapa yang menuntut hadits bukan karena Allah, ia akan diperdayai olehnya.'"
وَرُوِّينَا ... عَنْ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: "مَا أَعْلَمُ عَمَلًا هُوَ أَفْضَلُ مِنْ طَلَبِ الْحَدِيثِ لِمَنْ أَرَادَ اللَّهَ بِهِ ...". وَرُوِّينَا نَحْوَهُ عَنِ ابْنِ الْمُبَارَكِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ.
"Kami meriwayatkan dari Sufyan ats-Tsauri radhiyallahu 'anhu, ia berkata: 'aku tidak mengetahui suatu amalan yang lebih utama daripada menuntut hadits, bagi orang yang menghendaki Allah dengannya...' Kami meriwayatkan hal serupa dari Ibnul Mubarak radhiyallahu 'anhu."
وَمِنْ أَقْرَبِ الْوُجُوهِ فِي إِصْلَاحِ النِّيَّةِ فِيهِ مَا رُوِّينَا ... عَنْ أَبِي عَمْرٍو إِسْمَاعِيلَ بْنِ نُجَيْدٍ أَنَّهُ سَأَلَ أَبَا جَعْفَرٍ أَحْمَدَ بْنَ حَمْدَانَ، وَكَانَا عَبْدَيْنِ صَالِحَيْنِ، فَقَالَ لَهُ: "بِأَيِّ نِيَّةٍ أَكْتُبُ الْحَدِيثَ؟" فَقَالَ: "أَلَسْتُمْ تَرْوُونَ أَنَّ عِنْدَ ذِكْرِ الصَّالِحِينَ تَنْزِلُ الرَّحْمَةُ؟" قَالَ: "نَعَمْ"، قَالَ: "فَرَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - رَأْسُ الصَّالِحِينَ" ....
"Di antara cara paling dekat untuk memperbaiki niat dalam hal ini adalah apa yang kami riwayatkan dari Abu Amr Isma'il bin Nujaid, bahwa ia bertanya kepada Abu Ja'far Ahmad bin Hamdan - keduanya adalah hamba yang shalih - ia bertanya: 'dengan niat apa aku menulis hadits?' Abu Ja'far menjawab: 'bukankah kalian meriwayatkan bahwa saat menyebut orang-orang shalih, rahmat pun turun?' Ia menjawab: 'benar.' Abu Ja'far berkata: 'maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah pemimpin orang-orang shalih.'"
وَلْيَسْأَلِ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى التَّيْسِيرَ، وَالتَّأْيِيدَ، وَالتَّوْفِيقَ، وَالتَّسْدِيدَ، وَلْيَأْخُذْ نَفْسَهُ بِالْأَخْلَاقِ الزَّكِيَّةِ، وَالْآدَابِ الْمَرْضِيَّةِ، فَقَدْ رُوِّينَا ... عَنْ أَبِي عَاصِمٍ النَّبِيلِ، قَالَ: "مَنْ طَلَبَ هَذَا الْحَدِيثَ فَقَدْ طَلَبَ أَعْلَى أُمُورِ الدِّينِ، فَيَجِبُ أَنْ يَكُونَ خَيْرَ النَّاسِ" ....
"Hendaklah ia memohon kepada Allah Tabaraka wa Ta'ala kemudahan, dukungan, taufik, dan bimbingan, serta membiasakan dirinya dengan akhlak yang bersih dan adab yang diridhai. Kami meriwayatkan dari Abu Ashim an-Nabil, ia berkata: 'siapa yang menuntut hadits ini, sungguh ia telah menuntut perkara agama yang paling tinggi, maka wajib baginya menjadi sebaik-baik manusia.'"
وَفِي السِّنِّ الَّذِي يُسْتَحَبُّ فِيهِ الِابْتِدَاءُ بِسَمَاعِ الْحَدِيثِ، وَبِكِتْبَتِهِ اخْتِلَافٌ، سَبَقَ بَيَانُهُ فِي أَوَّلِ النَّوْعِ الرَّابِعِ وَالْعِشْرِينَ.
"Mengenai usia yang dianjurkan untuk mulai mendengar dan menulis hadits, ada perselisihan pendapat - telah dijelaskan sebelumnya di awal anwa' kedua puluh empat."
وَإِذَا أَخَذَ فِيهِ فَلْيُشَمِّرْ عَنْ سَاقِ جُهْدِهِ، وَاجْتِهَادِهِ، وَيَبْدَأْ بِالسَّمَاعِ مِنْ أَسْنَدِ شُيُوخِ مِصْرِهِ، وَمِنَ الْأَوْلَى فَالْأَوْلَى مِنْ حَيْثُ الْعِلْمُ، أَوِ الشُّهْرَةُ، أَوِ الشَّرَفُ، أَوْ غَيْرُ ذَلِكَ.
"Apabila ia telah memulainya, hendaklah ia bersungguh-sungguh mengerahkan segenap usaha dan kesungguhannya, memulai sama' dari guru-guru negerinya yang paling tinggi sanadnya, lalu yang berikutnya paling utama, baik dari sisi ilmu, ketermasyhuran, kemuliaan, atau selainnya."
وَإِذَا فَرَغَ مِنْ سَمَاعِ الْعَوَالِي وَالْمُهِمَّاتِ الَّتِي بِبَلَدِهِ فَلْيَرْحَلْ إِلَى غَيْرِهِ.
"Apabila ia telah selesai mendengar sanad-sanad tinggi dan hal-hal penting di negerinya, hendaklah ia melakukan rihlah (perjalanan menuntut ilmu) ke negeri lain."
رُوِّينَا ... عَنْ يَحْيَى بْنِ مَعِينٍ أَنَّهُ قَالَ: "أَرْبَعَةٌ لَا تُؤْنِسُ مِنْهُمْ رُشْدًا: حَارِسُ الدَّرْبِ، وَمُنَادِي الْقَاضِي، وَابْنُ الْمُحَدِّثِ، وَرَجُلٌ يَكْتُبُ فِي بَلَدِهِ وَلَا يَرْحَلُ فِي طَلَبِ الْحَدِيثِ" ....
"Kami meriwayatkan dari Yahya bin Ma'in, ia berkata: 'empat golongan yang jarang engkau dapati kematangannya: penjaga jalan, juru seru pengadilan, anak seorang muhaddits, dan orang yang hanya menulis hadits di negerinya sendiri tanpa melakukan rihlah dalam menuntutnya.'"
وَرُوِّينَا ... عَنْ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قِيلَ لَهُ: "أَيَرْحَلُ الرَّجُلُ فِي طَلَبِ الْعُلُوِّ؟" فَقَالَ: "بَلَى، وَاللَّهِ شَدِيدًا، لَقَدْ كَانَ عَلْقَمَةُ، وَالْأَسْوَدُ يَبْلُغُهُمَا الْحَدِيثُ عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَلَا يُقْنِعُهُمَا حَتَّى يَخْرُجَا إِلَى عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَيَسْمَعَانِهِ مِنْهُ" ..، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Kami meriwayatkan dari Ahmad bin Hanbal radhiyallahu 'anhu, bahwa ia ditanya: 'apakah seseorang harus melakukan rihlah demi mencari sanad yang lebih tinggi?' Ia menjawab: 'benar, demi Allah, sungguh keras usaha itu diperlukan. Alqamah dan al-Aswad, apabila sampai kepada mereka sebuah hadits dari Umar radhiyallahu 'anhu, mereka tidak puas hingga mereka pergi menemui Umar radhiyallahu 'anhu sendiri dan mendengarnya langsung darinya.' Wallahu a'lam."
وَعَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ أَدْهَمَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: "إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَدْفَعُ الْبَلَاءَ عَنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ بِرِحْلَةِ أَصْحَابِ الْحَدِيثِ" ....
"Dari Ibrahim bin Adham radhiyallahu 'anhu, ia berkata: 'sesungguhnya Allah Ta'ala menolak bala dari umat ini dengan sebab rihlah para ahli hadits.'"
وَلَا يَحْمِلَنَّهُ الْحِرْصُ، وَالشَّرَهُ عَلَى التَّسَاهُلِ فِي السَّمَاعِ، وَالتَّحَمُّلِ، وَالْإِخْلَالِ بِمَا يُشْتَرَطُ عَلَيْهِ فِي ذَلِكَ، عَلَى مَا تَقَدَّمَ شَرْحُهُ.
"Janganlah ambisi dan ketamakan mendorongnya bermudah-mudahan dalam sama' dan tahammul, sehingga mengabaikan syarat-syarat yang telah dijelaskan sebelumnya."
وَلْيَسْتَعْمِلْ مَا يَسْمَعُهُ مِنَ الْأَحَادِيثِ الْوَارِدَةِ بِالصَّلَاةِ وَالتَّسْبِيحِ وَغَيْرِهِمَا مِنَ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ، فَذَلِكَ زَكَاةُ الْحَدِيثِ، عَلَى مَا رُوِّينَا ... عَنِ الْعَبْدِ الصَّالِحِ بِشْرِ بْنِ الْحَارِثِ الْحَافِي رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وَرُوِّينَا عَنْهُ أَيْضًا أَنَّهُ قَالَ: "يَا أَصْحَابَ الْحَدِيثِ، أَدُّوا زَكَاةَ هَذَا الْحَدِيثِ، اعْمَلُوا مِنْ كُلِّ مِائَتَيْ حَدِيثٍ بِخَمْسَةِ أَحَادِيثَ" ....
"Hendaklah ia mengamalkan apa yang ia dengar dari hadits-hadits tentang shalat, tasbih, dan amal-amal shalih lainnya, karena itulah zakat hadits, sebagaimana kami riwayatkan dari hamba yang shalih Bisyr bin al-Harits al-Hafi radhiyallahu 'anhu. Kami juga meriwayatkan darinya, ia berkata: 'wahai ahli hadits, tunaikanlah zakat hadits ini - amalkanlah dari setiap dua ratus hadits, lima hadits.'"
وَرُوِّينَا ... عَنْ عَمْرِو بْنِ قَيْسٍ الْمُلَائِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: "إِذَا بَلَغَكَ شَيْءٌ مِنَ الْخَيْرِ فَاعْمَلْ بِهِ وَلَوْ مَرَّةً تَكُنْ مِنْ أَهْلِهِ" ....
"Kami meriwayatkan dari Amr bin Qais al-Mula'i radhiyallahu 'anhu, ia berkata: 'apabila sampai kepadamu suatu kebaikan, amalkanlah sekalipun sekali saja, agar engkau termasuk ahlinya.'"
وَرُوِّينَا عَنْ وَكِيعٍ، قَالَ: "إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَحْفَظَ الْحَدِيثَ فَاعْمَلْ بِهِ" ....
"Kami meriwayatkan dari Waki', ia berkata: 'apabila engkau ingin menghafal suatu hadits, amalkanlah.'"
وَلْيُعَظِّمْ شَيْخَهُ، وَمَنْ يَسْمَعُ مِنْهُ، فَذَلِكَ مِنْ إِجْلَالِ الْحَدِيثِ، وَالْعِلْمِ، وَلَا يُثْقِلْ عَلَيْهِ، وَلَا يُطَوِّلْ بِحَيْثُ يُضْجِرُهُ، فَإِنَّهُ يُخْشَى عَلَى فَاعِلِ ذَلِكَ أَنْ يُحْرَمَ الِانْتِفَاعَ، وَقَدْ رُوِّينَا ... عَنِ الزُّهْرِيِّ أَنَّهُ قَالَ: "إِذَا طَالَ الْمَجْلِسُ كَانَ لِلشَّيْطَانِ فِيهِ نَصِيبٌ" .., (وَاللَّهُ أَعْلَمُ).
"Hendaklah ia mengagungkan gurunya dan orang yang ia dengar darinya, karena itu termasuk memuliakan hadits dan ilmu. Ia tidak boleh memberatkannya atau memperpanjang hingga membuatnya jengkel, karena dikhawatirkan orang yang melakukan itu akan terhalang dari manfaatnya. Kami meriwayatkan dari az-Zuhri, ia berkata: 'apabila majelis terlalu panjang, setan pun memiliki bagian di dalamnya.' Wallahu a'lam."
وَمَنْ ظَفِرَ مِنَ الطَّلَبَةِ بِسَمَاعِ شَيْخٍ فَكَتَمَهُ غَيْرَهُ، لِيَنْفَرِدَ بِهِ عَنْهُمْ، كَانَ جَدِيرًا بِأَنْ لَا يَنْتَفِعَ بِهِ، وَذَلِكَ مِنَ اللُّؤْمِ الَّذِي يَقَعُ فِيهِ جَهَلَةُ الطَّلَبَةِ الْوُضَعَاءِ، وَمِنْ أَوَّلِ فَائِدَةِ طَلَبِ الْحَدِيثِ الْإِفَادَةُ، رُوِّينَا ... عَنْ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: "مِنْ بَرَكَةِ الْحَدِيثِ إِفَادَةُ بَعْضِهِمْ بَعْضًا" ....
"Siapa saja penuntut ilmu yang berhasil mendapatkan sama' dari seorang guru, lalu menyembunyikannya dari orang lain agar ia menyendiri dengannya, layak baginya untuk tidak mendapatkan manfaat darinya. Itu termasuk kejahatan yang biasa dilakukan penuntut ilmu yang bodoh lagi hina. Termasuk faidah pertama dari menuntut hadits adalah membaginya kepada orang lain. Kami meriwayatkan dari Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata: 'di antara berkah hadits adalah sebagian mereka memberi faidah kepada sebagian yang lain.'"
وَرُوِّينَا ... عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ رَاهْوَيْهِ أَنَّهُ قَالَ لِبَعْضِ مَنْ سَمِعَ مِنْهُ فِي جَمَاعَةٍ: "انْسَخْ مِنْ كِتَابِهِمْ مَا قَدْ قَرَأْتُ، فَقَالُ: إِنَّهُمْ لَا يُمَكِّنُونَنِي، قَالَ: إِذًا وَاللَّهِ لَا يُفْلِحُونَ، قَدْ رَأَيْنَا أَقْوَامًا مَنَعُوا هَذَا السَّمَاعَ، فَوَاللَّهِ مَا أَفْلَحُوا، وَلَا أَنْجَحُوا" ....
"Kami meriwayatkan dari Ishaq bin Ibrahim Rahawaih, bahwa ia berkata kepada sebagian orang yang mendengar darinya bersama sekelompok orang lain: 'salinlah dari kitab mereka apa yang telah aku bacakan.' Orang itu menjawab: 'mereka tidak mengizinkanku.' Ishaq berkata: 'kalau begitu, demi Allah, mereka tidak akan beruntung. Kami telah melihat kaum-kaum yang melarang sama' semacam ini, demi Allah, mereka tidak beruntung dan tidak berhasil.'"
قُلْتُ: وَقَدْ رَأَيْنَا نَحْنُ أَقْوَامًا مَنَعُوا السَّمَاعَ فَمَا أَفْلَحُوا، وَلَا أَنْجَحُوا، وَنَسْأَلُ اللَّهَ الْعَافِيَةَ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: kami sendiri telah melihat kaum-kaum yang melarang sama' ini pun tidak beruntung dan tidak berhasil. Kami memohon kepada Allah keselamatan. Wallahu a'lam."
وَلَا يَكُنْ مِمَّنْ يَمْنَعُهُ الْحَيَاءُ، أَوِ الْكِبْرُ عَنْ كَثِيرٍ مِنَ الطَّلَبِ. وَقَدْ رُوِّينَا ... عَنْ مُجَاهِدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: "لَا يَتَعَلَّمُ مُسْتَحٍ وَلَا مُسْتَكْبِرٌ" ..، وَرُوِّينَا ... عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، وَابْنِهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّهُمَا قَالَا: "مَنْ رَقَّ وَجْهُهُ رَقَّ عِلْمُهُ" ....
"Janganlah ia termasuk orang yang dihalangi rasa malu atau kesombongan dari banyak hal dalam menuntut ilmu. Kami meriwayatkan dari Mujahid radhiyallahu 'anhu, ia berkata: 'orang yang pemalu (berlebihan) dan orang yang sombong tidak akan bisa belajar.' Kami meriwayatkan dari Umar bin al-Khaththab dan putranya radhiyallahu 'anhuma, keduanya berkata: 'siapa yang tipis (mudah malu) wajahnya, tipis pula ilmunya.'"
وَلَا يَأْنَفْ مِنْ أَنْ يَكْتُبَ عَمَّنْ دُونَهُ مَا يَسْتَفِيدُهُ مِنْهُ. رُوِّينَا ... عَنْ وَكِيعِ بْنِ الْجَرَّاحِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: "لَا يَنْبُلُ الرَّجُلُ مِنْ أَصْحَابِ الْحَدِيثِ حَتَّى يَكْتُبَ عَمَّنْ هُوَ فَوْقَهُ وَعَمَّنْ هُوَ مِثْلُهُ، وَعَمَّنْ هُوَ دُونَهُ" ..، وَلَيْسَ بِمُوَفَّقٍ مَنْ ضَيَّعَ شَيْئًا مِنْ وَقْتِهِ فِي الِاسْتِكْثَارِ مِنَ الشُّيُوخِ، لِمُجَرَّدِ اسْمِ الْكَثْرَةِ وَصِيتِهَا.
"Ia tidak boleh enggan menulis dari orang yang di bawahnya, apa yang bisa ia ambil faidahnya. Kami meriwayatkan dari Waki' bin al-Jarrah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: 'seseorang dari ahli hadits tidak akan menjadi mulia sampai ia menulis dari orang di atasnya, orang yang setara dengannya, dan orang di bawahnya.' Tidak beruntung orang yang menyia-nyiakan sebagian waktunya untuk memperbanyak guru semata demi nama kebanyakan dan popularitasnya."
وَلَيْسَ مِنْ ذَلِكَ ... قَوْلُ أَبِي حَاتِمٍ الرَّازِيِّ: "إِذَا كَتَبْتَ فَقَمِّشْ، وَإِذَا حَدَّثْتَ فَفَتِّشْ" ....
"Tidak termasuk hal itu ucapan Abu Hatim ar-Razi: 'apabila engkau menulis, kumpulkanlah sebanyak-banyaknya, namun apabila engkau meriwayatkan, telitilah.'"
وَلْيَكْتُبْ، وَلْيَسْمَعْ مَا يَقَعُ إِلَيْهِ مِنْ كِتَابٍ أَوْ جُزْءٍ عَلَى التَّمَامِ، وَلَا يَنْتَخِبُ. فَقَدْ ... قَالَ ابْنُ الْمُبَارَكِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: "مَا انْتَخَبْتُ عَلَى عَالَمٍ قَطُّ إِلَّا نَدِمْتُ" .... وَرُوِّينَا عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: "لَا يُنْتَخَبُ عَلَى عَالَمٍ إِلَّا بِذَنْبٍ"، وَرُوِّينَا - أَوْ بَلَغَنَا - ... عَنْ يَحْيَى بْنِ مَعِينٍ أَنَّهُ قَالَ: "سَيَنْدَمُ الْمُنْتَخِبُ فِي الْحَدِيثِ حِينَ لَا تَنْفَعُهُ النَّدَامَةُ" ....
"Hendaklah ia menulis dan mendengar apa yang sampai kepadanya dari sebuah kitab atau juz secara lengkap, tanpa memilih-milih (intikhab). Ibnul Mubarak radhiyallahu 'anhu berkata: 'tidaklah aku pernah memilih-milih (hadits) dari seorang alim, kecuali aku menyesalinya.' Kami meriwayatkan pula darinya, ia berkata: 'tidak seorang pun memilih-milih dari seorang alim kecuali karena suatu dosa (kelalaian).' Sampai kepada kami dari Yahya bin Ma'in, ia berkata: 'orang yang memilih-milih dalam hadits akan menyesal, pada saat penyesalan itu tidak lagi bermanfaat baginya.'"
فَإِنْ ضَاقَتْ بِهِ الْحَالُ عَنِ الِاسْتِيعَابِ، وَأُحْوِجَ إِلَى الِانْتِقَاءِ، وَالِانْتِخَابِ، تَوَلَّى ذَلِكَ بِنَفْسِهِ إِنْ كَانَ أَهْلًا مُمَيِّزًا، عَارِفًا بِمَا يَصْلُحُ لِلِانْتِقَاءِ، وَالِاخْتِيَارِ، وَإِنْ كَانَ قَاصِرًا عَنْ ذَلِكَ اسْتَعَانَ بِبَعْضِ الْحُفَّاظِ لِيَنْتَخِبَ لَهُ. وَقَدْ كَانَ جَمَاعَةٌ مِنَ الْحُفَّاظِ مُتَصَدِّينَ لِلِانْتِقَاءِ عَلَى الشُّيُوخِ، وَالطَّلَبَةُ تَسْمَعُ وَتَكْتُبُ بِانْتِخَابِهِمْ، مِنْهُمْ إِبْرَاهِيمُ بْنُ أُرْمَةَ الْأَصْبَهَانِيُّ، وَأَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْمَعْرُوفُ بِعُبَيْدٍ الْعِجْلِ، وَأَبُو الْحَسَنِ الدَّارَقُطْنِيُّ، وَأَبُو بَكْرٍ الْجِعَابِيُّ، فِي آخَرِينَ.
"Namun apabila keadaannya sempit untuk mencakup semuanya, dan ia terpaksa memilih dan menyeleksi, hendaklah ia sendiri yang melakukannya, apabila ia adalah orang yang layak dan cermat, mengerti apa yang pantas dipilih. Jika ia belum mampu melakukannya, hendaklah ia meminta bantuan sebagian hafizh untuk memilihkan baginya. Sejumlah hafizh dahulu memang mengemban tugas menyeleksi hadits dari para guru, dan para penuntut ilmu mendengar serta menulis berdasarkan seleksi mereka, di antaranya Ibrahim bin Urmah al-Ashbahani, Abu Abdillah al-Husain bin Muhammad yang dikenal dengan Ubaid al-'Ijl, Abul Hasan ad-Daraquthni, dan Abu Bakr al-Ji'abi, bersama yang lainnya."
وَكَانَتِ الْعَادَةُ جَارِيَةً بِرَسْمِ الْحَافِظِ عَلَامَةً فِي أَصْلِ الشَّيْخِ عَلَى مَا يَنْتَخِبُهُ، فَكَانَ النُّعَيْمِيُّ أَبُو الْحَسَنِ يُعَلِّمُ بِصَادٍ مَمْدُودَةٍ، وَأَبُو مُحَمَّدٍ الْخَلَّالُ بِطَاءٍ مَمْدُودَةٍ، وَأَبُو الْفَضْلِ الْفَلَكِيُّ بِصُورَةِ هَمْزَتَيْنِ، وَكُلُّهُمْ يُعَلِّمُ بِحِبْرٍ فِي الْحَاشِيَةِ الْيُمْنَى مِنَ الْوَرَقَةِ، وَعَلَّمَ الدَّارَقُطْنِيُّ فِي الْحَاشِيَةِ الْيُسْرَى بِخَطٍّ عَرِيضٍ بِالْحُمْرَةِ، وَكَانَ أَبُو الْقَاسِمِ اللَّالَكَائِيُّ الْحَافِظُ يُعَلِّمُ بِخَطٍّ صَغِيرٍ بِالْحُمْرَةِ عَلَى أَوَّلِ إِسْنَادِ الْحَدِيثِ، وَلَا حَجْرَ فِي ذَلِكَ وَلِكُلٍّ الْخِيَارُ.
"Sudah menjadi kebiasaan bagi sang hafizh untuk membubuhkan tanda pada naskah asli sang guru terhadap apa yang ia seleksi. An-Nu'aimi Abul Hasan menandainya dengan huruf shad yang dipanjangkan; Abu Muhammad al-Khallal dengan huruf tha yang dipanjangkan; Abul Fadhl al-Falaki dengan bentuk dua hamzah; semuanya membubuhkan tanda dengan tinta di catatan pinggir kanan kertas. Ad-Daraquthni membubuhkan tanda di catatan pinggir kiri dengan garis tebal berwarna merah. Abul Qasim al-Lalaka'i al-Hafizh menandai dengan garis kecil berwarna merah pada awal sanad hadits. Tidak ada larangan dalam hal ini, dan masing-masing bebas memilih caranya."
ثُمَّ لَا يَنْبَغِي لِطَالِبِ الْحَدِيثِ أَنْ يَقْتَصِرَ عَلَى سَمَاعِ الْحَدِيثِ، وَكَتْبِهِ دُونَ مَعْرِفَتِهِ، وَفَهْمِهِ، فَيَكُونُ قَدْ أَتْعَبَ نَفْسَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَظْفَرَ بِطَائِلٍ، وَبِغَيْرِ أَنْ يَحْصُلَ فِي عِدَادِ أَهْلِ الْحَدِيثِ، بَلْ لَمْ يَزِدْ عَلَى أَنْ صَارَ مِنَ الْمُتَشَبِّهِينَ الْمَنْقُوصِينَ، الْمُتَحَلِّينَ بِمَا هُمْ مِنْهُ عَاطِلُونَ.
"Tidak sepatutnya seorang penuntut hadits membatasi diri hanya pada sama' dan menulis hadits saja tanpa mengenal dan memahaminya - sehingga ia telah melelahkan dirinya tanpa memperoleh manfaat berarti, dan tanpa termasuk dalam golongan ahli hadits. Ia hanya menjadi orang yang menyerupai (ahli hadits) namun kekurangan, berhias dengan apa yang sesungguhnya kosong darinya."
قُلْتُ: أَنْشَدَنِي أَبُو الْمُظَفَّرِ بْنُ الْحَافِظِ أَبِي سَعْدٍ السَّمْعَانِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ - لَفْظًا - بِمَدِينَةِ مَرْوَ، قَالَ: أَنْشَدَنَا وَالِدِي - لَفْظًا، أَوْ قِرَاءَةً عَلَيْهِ - قَالَ: أَنْشَدَنَا مُحَمَّدُ بْنُ نَاصِرٍ السَّلَامِيُّ مِنْ لَفْظِهِ، قَالَ: أَنْشَدَنَا الْأَدِيبُ الْفَاضِلُ فَارِسُ بْنُ الْحُسَيْنِ لِنَفْسِهِ:
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: Abul Muzhaffar bin al-Hafizh Abu Sa'd as-Sam'ani rahimahullah membacakan syair ini kepadaku secara lisan di kota Marw, dari ayahnya, dari Muhammad bin Nashir as-Salami, dari sang sastrawan mulia Faris bin al-Husain, syair gubahannya sendiri:"
يَا طَالِبَ الْعِلْمِ الَّذِي ... ذَهَبَتْ بِمُدَّتِهِ الرِّوَايَهْ
"'Wahai penuntut ilmu, yang usianya telah habis oleh riwayat -"
كُنْ فِي الرِّوَايَةِ ذَا الْعِنَا ... يَةِ بِالرِّوَايَةِ وَالدِّرَايَهْ
"jadilah dalam meriwayatkan, seorang yang penuh perhatian pada riwayat sekaligus pemahaman -"
وَارْوِ الْقَلِيلَ وَرَاعِهِ ... فَالْعِلْمُ لَيْسَ لَهُ نِهَايَهْ
"riwayatkanlah yang sedikit namun perhatikanlah baik-baik, karena ilmu itu tidak ada habisnya.'"
وَلْيُقَدِّمِ الْعِنَايَةَ بِالصَّحِيحَيْنِ، ثُمَّ بِسُنَنِ أَبِي دَاوُدَ، وَسُنَنِ النَّسَائِيِّ، وَكِتَابِ التِّرْمِذِيِّ، ضَبْطًا لِمُشْكِلِهَا، وَفَهْمًا لِخَفِيِّ مَعَانِيهَا، وَلَا يُخْدَعَنَّ عَنْ كِتَابِ السُّنَنِ الْكَبِيرِ لِلْبَيْهَقِيِّ، فَإِنَّا لَا نَعْلَمُ مِثْلَهُ فِي بَابِهِ.
"Hendaklah ia mendahulukan perhatian pada kedua kitab Shahih, kemudian Sunan Abi Dawud, Sunan an-Nasa'i, dan kitab at-Tirmidzi - men-dhabt bagian yang rumit dan memahami makna-makna tersembunyinya. Jangan sampai ia terlena hingga lupa pada kitab as-Sunan al-Kabir karya al-Baihaqi, karena kami tidak mengetahui ada yang setara dengannya dalam bidangnya."
ثُمَّ بِسَائِرِ مَا تَمَسُّ حَاجَةُ صَاحِبِ الْحَدِيثِ إِلَيْهِ مِنْ كُتُبِ الْمَسَانِدِ كَمُسْنَدِ أَحْمَدَ، وَمِنْ كُتُبِ الْجَوَامِعَ الْمُصَنَّفَةِ فِي الْأَحْكَامِ الْمُشْتَمِلَةِ عَلَى الْمَسَانِيدِ وَغَيْرِهَا، وَمُوَطَّأُ مَالِكٍ هُوَ الْمُقَدَّمُ مِنْهَا.
"Kemudian dengan seluruh kitab lain yang dibutuhkan seorang ahli hadits, dari kitab-kitab musnad seperti Musnad Ahmad, dan dari kitab-kitab jami' yang disusun dalam bidang hukum yang mencakup musnad dan lainnya - dan al-Muwaththa' karya Malik adalah yang paling utama di antaranya."
وَمِنْ كُتُبِ عِلَلِ الْحَدِيثِ، وَمِنْ أَجْوَدِهَا كِتَابُ الْعِلَلِ عَنْ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ، وَكِتَابُ الْعِلَلِ عَنِ الدَّارَقُطْنِيِّ.
"Dan dari kitab-kitab ilal (cacat tersembunyi) hadits, yang terbaik di antaranya adalah Kitab al-Ilal dari Ahmad bin Hanbal, dan Kitab al-Ilal dari ad-Daraquthni."
وَمِنْ كُتُبِ مَعْرِفَةِ الرِّجَالِ وَتَوَارِيخِ الْمُحَدِّثِينَ، وَمِنْ أَفْضَلِهَا (تَارِيخُ الْبُخَارِيِّ الْكَبِيرُ) وَ (كِتَابُ الْجَرْحِ وَالتَّعْدِيلِ) لِابْنِ أَبِي حَاتِمٍ.
"Dan dari kitab-kitab pengenalan para perawi dan sejarah para muhaddits, yang paling utama di antaranya adalah at-Tarikh al-Kabir karya al-Bukhari, dan Kitab al-Jarh wat-Ta'dil karya Ibnu Abi Hatim."
وَمِنْ كُتُبِ الضَّبْطِ لِمُشِكِلِ الْأَسْمَاءِ، وَمِنْ أَكْمَلِهَا "كِتَابُ الْإِكَمالِ" لِأَبِي نَاصِرِ بْنِ مَاكُولَا.
"Dan dari kitab-kitab yang men-dhabt nama-nama yang rumit, yang paling lengkap di antaranya adalah Kitab al-Ikmal karya Abu Nashr Ibnu Makula."
وَلْيَكُنْ كُلَّمَا مَرَّ بِهِ اسْمٌ مُشْكِلٌ، أَوْ كَلِمَةٌ مِنْ حَدِيثٍ مُشْكِلَةٌ، بَحَثَ عَنْهَا، وَأَوْدَعَهَا قَلْبَهُ، فَإِنَّهُ يَجْتَمِعُ لَهُ بِذَلِكَ عِلْمٌ كَثِيرٌ فِي يُسْرٍ.
"Setiap kali ia berjumpa nama yang rumit atau kata hadits yang rumit, hendaklah ia menelitinya dan menyimpannya dalam hatinya - dengan itu akan terhimpun baginya ilmu yang banyak dengan mudah."
وَلْيَكُنْ تَحَفُّظُهُ لِلْحَدِيثِ عَلَى التَّدْرِيجِ قَلِيلًا قَلِيلًا مَعَ الْأَيَّامِ وَاللَّيَالِي، فَذَلِكَ أَحْرَى بِأَنْ يُمَتَّعَ بِمَحْفُوظِهِ.
"Hendaklah ia menghafal hadits secara bertahap, sedikit demi sedikit, seiring hari dan malam - cara ini lebih layak agar ia dianugerahi manfaat lama dari hafalannya."
وَمِمَّنْ وَرَدَ ذَلِكَ عَنْهُ مِنْ حُفَّاظِ الْحَدِيثِ الْمُتَقَدِّمِينَ: شُعْبَةُ، وَابْنُ عُلَيَّةَ، وَمَعْمَرٌ.
"Di antara hafizh hadits terdahulu yang diriwayatkan melakukan hal itu adalah Syu'bah, Ibnu Ulayyah, dan Ma'mar."
وَرُوِّينَا عَنْ مَعْمَرٍ قَالَ: ... سَمِعْتُ الزُّهْرِيَّ يَقُولُ: "مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ جُمْلَةً فَاتَهُ جُمْلَةً، وَإِنَّمَا يُدْرَكُ الْعِلْمُ حَدِيثًا، وَحَدِيثَيْنِ" ....
"Kami meriwayatkan dari Ma'mar, ia berkata: aku mendengar az-Zuhri berkata: 'siapa yang menuntut ilmu sekaligus secara keseluruhan, ia akan kehilangannya secara keseluruhan pula. Ilmu itu hanya bisa dicapai hadits demi hadits, satu atau dua saja.'"
وَلْيَكُنِ الْإِتْقَانُ مِنْ شَأْنِهِ، فَقَدَ ... قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ: "الْحِفْظُ الْإِتْقَانُ" ....
"Hendaklah ketelitian menjadi kebiasaannya. Abdurrahman bin Mahdi berkata: 'hafalan yang sesungguhnya adalah ketelitian.'"
ثُمَّ إِنَّ الْمُذَاكَرَةَ بِمَا يَتَحَفَّظُهُ مِنْ أَقْوَى أَسْبَابِ الْإِمْتَاعِ بِهِ، رُوِّينَا ... عَنْ عَلْقَمَةَ النَّخَعِيِّ قَالَ: "تَذَاكَرُوا الْحَدِيثَ، فَإِنَّ حَيَاتَهُ ذِكْرُهُ" .... وَعَنْ إِبْرَاهِيمَ النَّخَعِيِّ قَالَ: "مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَحْفَظَ الْحَدِيثَ، فَلْيُحَدِّثْ بِهِ، وَلَوْ أَنْ يُحَدِّثَ بِهِ مَنْ لَا يَشْتَهِيهِ" ....
"Mudzakarah (saling mengulang bersama) atas apa yang dihafal termasuk sebab paling kuat agar hafalan itu bertahan lama. Kami meriwayatkan dari Alqamah an-Nakha'i, ia berkata: 'saling ber-mudzakarah-lah kalian dalam hadits, karena kelangsungan hidupnya adalah dengan mengingatnya (mengulangnya).' Dari Ibrahim an-Nakha'i, ia berkata: 'siapa yang ingin menghafal suatu hadits, hendaklah ia menceritakannya, sekalipun kepada orang yang tidak menyukainya.'"
وَلْيَشْتَغِلْ بِالتَّخْرِيجِ، وَالتَّأْلِيفِ، وَالتَّصْنِيفِ إِذَا اسْتَعَدَّ لِذَلِكَ، وَتَأَهَّلَ لَهُ، فَإِنَّهُ - كَمَا قَالَ الْخَطِيبُ الْحَافِظُ - يُثَبِّتُ الْحِفْظَ، وَيُذَكِّي الْقَلْبَ، وَيَشْحَذُ الطَّبْعَ، وَيُجِيدُ الْبَيَانَ، وَيَكْشِفُ الْمُلْتَبِسَ، وَيُكْسِبُ جَمِيلَ الذِّكْرِ، وَيُخَلِّدُهُ إِلَى آخِرِ الدَّهْرِ، وَقَلَّ مَا يَمْهَرُ فِي عِلْمِ الْحَدِيثِ، وَيَقِفُ عَلَى غَوَامِضهِ، وَيَسْتَبِينُ الْخَفِيَّ مِنْ فَوَائِدِهِ إِلَّا مَنْ فَعَلَ ذَلِكَ.
"Hendaklah ia menyibukkan diri dengan takhrij, penulisan, dan penyusunan karya, apabila ia telah siap dan layak untuk itu - karena, sebagaimana dikatakan al-Khathib al-Hafizh, hal itu menguatkan hafalan, mencerdaskan hati, mengasah bakat, memperbaiki kemampuan menjelaskan, menyingkap yang rancu, mendatangkan nama baik, dan mengabadikannya hingga akhir zaman. Jarang sekali seseorang mahir dalam ilmu hadits, menguasai bagian-bagiannya yang rumit, dan menyingkap faidahnya yang tersembunyi, kecuali orang yang melakukan hal itu."
وَحَدَّثَ الصُّورِيُّ الْحَافِظُ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيٍّ قَالَ: "رَأَيْتُ أَبَا مُحَمَّدٍ عَبْدَ الْغَنِيِّ بْنَ سَعِيدٍ الْحَافِظَ فِي الْمَنَامِ، فَقَالَ لِي: يَا أَبَا عَبْدِ اللَّهِ، خَرِّجْ، وَصَنِّفْ قَبْلَ أَنْ يُحَالَ بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ، هَذَا أَنَا تَرَانِي قَدْ حِيلَ بَيْنِي وَبَيْنَ ذَلِكَ" ....
"Ash-Shuri al-Hafizh Muhammad bin Ali menceritakan, ia berkata: 'aku melihat Abu Muhammad Abdul Ghani bin Sa'id al-Hafizh dalam mimpi, ia berkata kepadaku: wahai Abu Abdillah, lakukanlah takhrij dan penyusunan karya sebelum engkau dihalangi darinya - lihatlah aku, aku telah dihalangi dari hal itu.'"
Dua Metode Penyusunan Kitab Hadits
وَلِلْعُلَمَاءِ بِالْحَدِيثِ فِي تَصْنِيفِهِ طَرِيقَتَانِ: إِحْدَاهُمَا: التَّصْنِيفُ عَلَى الْأَبْوَابِ، وَهُوَ تَخْرِيجُهُ عَلَى أَحْكَامِ الْفِقْهِ، وَغَيْرِهَا، وَتَنْوِيعُهُ أَنْوَاعًا وَجَمْعُ مَا وَرَدَ فِي كُلِّ حُكْمٍ، وَكُلِّ نَوْعٍ فِي بَابٍ فَبَابٍ.
"Para ulama hadits memiliki dua metode dalam menyusun kitab. Pertama: penyusunan berdasarkan bab-bab (abwab), yaitu men-takhrij-nya berdasarkan hukum-hukum fikih dan selainnya, mengelompokkannya menjadi berbagai jenis, dan menghimpun apa yang datang pada setiap hukum dan jenis dalam satu bab demi satu bab."
وَالثَّانِيَةُ: تَصْنِيفُهُ عَلَى الْمَسَانِيدِ، وَجَمْعُ حَدِيثِ كُلِّ صَحَابِيٍّ وَحْدَهُ، وَإِنِ اخْتَلَفَتْ أَنْوَاعُهُ، وَلِمَنِ اخْتَارَ ذَلِكَ أَنْ يُرَتِّبَهُمْ عَلَى حُرُوفِ الْمُعْجَمِ فِي أَسْمَائِهِمْ، وَلَهُ أَنْ يُرَتِّبَهُمْ عَلَى الْقَبَائِلِ، فَيَبْدَأُ بِبَنِي هَاشِمٍ، ثُمَّ بِالْأَقْرَبِ، فَالْأَقْرَبِ نَسَبًا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، وَلَهُ أَنْ يُرَتِّبَ عَلَى سَوَابِقِ الصَّحَابَةِ، فَيَبْدَأُ بِالْعَشَرَةِ، ثُمَّ بِأَهْلِ بَدْرٍ، ثُمَّ بِأَهْلِ الْحُدَيْبِيَةِ، ثُمَّ بِمَنْ أَسْلَمَ، وَهَاجَرَ بَيْنَ الْحُدَيْبِيَةِ، وَفَتْحِ مَكَّةَ، وَيَخْتِمُ بِأَصَاغِرِ الصَّحَابَةِ كَأَبِي الطُّفَيْلِ، وَنُظَرَائِهِ، ثُمَّ بِالنِّسَاءِ، وَهَذَا أَحْسَنُ، وَالْأَوَّلُ أَسْهَلُ، وَفِي ذَلِكَ مِنْ وُجُوهِ التَّرْتِيبِ غَيْرُ ذَلِكَ.
"Kedua: penyusunan berdasarkan musnad, yaitu menghimpun hadits setiap sahabat secara tersendiri, sekalipun jenis-jenisnya berbeda. Orang yang memilih metode ini boleh menyusun mereka berdasarkan urutan abjad nama-nama mereka, atau boleh menyusun berdasarkan suku, dimulai dari Bani Hasyim lalu yang paling dekat nasabnya dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Boleh pula ia menyusun berdasarkan keutamaan lebih dahulu masuk Islam para sahabat, dimulai dari sepuluh sahabat yang dijanjikan surga, lalu ahli Badar, lalu ahli Hudaibiyah, lalu yang masuk Islam dan berhijrah di antara Hudaibiyah dan penaklukan Makkah, dan diakhiri dengan sahabat-sahabat termuda seperti Abuth Thufail dan yang semisalnya, kemudian para wanita. Cara ini lebih baik, sementara cara pertama (abjad) lebih mudah. Ada pula bentuk-bentuk urutan lain selain itu."
ثُمَّ إِنَّ مِنْ أَعْلَى الْمَرَاتِبِ فِي تَصْنِيفِهِ تَصْنِيفَهُ مُعَلَّلًا، بِأَنْ يَجْمَعَ فِي كُلِّ حَدِيثٍ طَرَفَهُ، وَاخْتِلَافَ الرُّوَاةِ فِيهِ، كَمَا فَعَلَ يَعْقُوبُ بْنُ شَيْبَةَ فِي مُسْنَدِهِ.
"Termasuk martabat paling tinggi dalam penyusunan adalah menyusunnya secara mu'allal, yaitu menghimpun pada setiap hadits potongan-potongannya dan perbedaan para perawi di dalamnya, sebagaimana dilakukan Ya'qub bin Syaibah dalam musnadnya."
وَمِمَّا يَعْتَنُونَ بِهِ فِي التَّأْلِيفِ جَمْعُ الشُّيُوخِ، أَيْ: جَمْعُ حَدِيثِ شُيُوخٍ مَخْصُوصِينَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ عَلَى انْفِرَادِهِ. ... قَالَ عُثْمَانُ بْنُ سَعِيدٍ الدَّارِمِيُّ: "يُقَالُ: مَنْ لَمْ يَجْمَعْ حَدِيثَ هَؤُلَاءِ الْخَمْسَةِ فَهُوَ مُفْلِسٌ فِي الْحَدِيثِ: سُفْيَانُ، وَشُعْبَةُ، وَمَالِكٌ، وَحَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، وَابْنُ عُيَيْنَةَ، وَهُمْ أُصُولُ الدِّينِ" ....
"Di antara yang menjadi perhatian dalam penulisan karya adalah menghimpun (hadits per) guru, yaitu menghimpun hadits guru-guru tertentu, masing-masing secara tersendiri. Utsman bin Sa'id ad-Darimi berkata: 'dikatakan: siapa yang belum menghimpun hadits kelima orang ini, ia bangkrut dalam ilmu hadits: Sufyan, Syu'bah, Malik, Hammad bin Zaid, dan Ibnu Uyainah - mereka adalah pokok-pokok agama.'"
وَأَصْحَابُ الْحَدِيثِ يَجْمَعُونَ حَدِيثَ خَلْقٍ كَثِيرٍ غَيْرِ الَّذِينَ ذَكَرَهُمُ الدَّارِمِيُّ، مِنْهُمْ: أَيُّوبُ السَّخْتِيَانِيُّ، وَالزُّهْرِيُّ، وَالْأَوْزَاعِيُّ.
"Para ahli hadits juga menghimpun hadits banyak tokoh lain selain yang disebutkan ad-Darimi, di antaranya Ayyub as-Sikhtiyani, az-Zuhri, dan al-Auza'i."
وَيَجْمَعُونَ أَيْضًا التَّرَاجِمَ، وَهِيَ أَسَانِيدُ يَخُصُّونَ مَا جَاءَ بِهَا بِالْجَمْعِ، وَالتَّأْلِيفِ، مِثْلُ تَرْجَمَةِ مَالِكٍ عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، وَتَرْجَمَةِ سُهَيْلِ بْنِ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، وَتَرْجَمَةِ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، فِي أَشْبَاهٍ لِذَلِكَ كَثِيرَةٍ.
"Mereka juga menghimpun tarajim (jalur-jalur khusus), yaitu sanad-sanad tertentu yang mereka khususkan hadits-hadits di dalamnya dengan penghimpunan dan penulisan tersendiri, seperti jalur Malik dari Nafi', dari Ibnu Umar; jalur Suhail bin Abi Shalih, dari ayahnya, dari Abu Hurairah; dan jalur Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah radhiyallahu 'anha, serta banyak jalur serupa lainnya."
وَيَجْمَعُونَ أَيْضًا أَبْوَابًا مِنْ أَبْوَابِ الْكُتُبِ الْمُصَنَّفَةِ الْجَامِعَةِ لِلْأَحْكَامِ، فَيُفْرِدُونَهَا بِالتَّأْلِيفِ، فَتَصِيرُ كُتُبًا مُفْرَدَةً نَحْوَ بَابِ رُؤْيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَبَابِ رَفْعِ الْيَدَيْنِ، وَبَابِ الْقِرَاءَةِ خَلْفَ الْإِمَامِ، وَغَيْرِ ذَلِكَ.
"Mereka juga menghimpun bab-bab tertentu dari kitab-kitab jami' yang mencakup berbagai hukum, lalu menyendirikannya dalam penulisan tersendiri, sehingga menjadi kitab-kitab tersendiri, seperti bab tentang melihat Allah 'Azza wa Jalla, bab mengangkat kedua tangan (dalam shalat), bab membaca (Al-Fatihah) di belakang imam, dan selainnya."
وَيُفْرِدُونَ أَحَادِيثَ، فَيَجْمَعُونَ طُرُقَهَا فِي كُتُبٍ مُفْرَدَةٍ نَحْوَ طُرُقِ حَدِيثِ قَبْضِ الْعِلْمِ، وَحَدِيثِ الْغُسْلِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، وَغَيْرِ ذَلِكَ. وَكَثِيرٌ مِنْ أَنْوَاعِ كِتَابِنَا هَذَا قَدْ أَفْرَدُوا أَحَادِيثَهُ بِالْجَمْعِ وَالتَّصْنِيفِ.
"Mereka juga menyendirikan hadits-hadits tertentu, menghimpun jalur-jalurnya dalam kitab-kitab tersendiri, seperti jalur-jalur hadits tentang dicabutnya ilmu, hadits mandi pada hari Jum'at, dan selainnya. Banyak dari anwa' dalam kitab kami ini pun telah dikhususkan haditsnya dengan penghimpunan dan penyusunan tersendiri."
وَعَلَيْهِ فِي كُلِّ ذَلِكَ تَصْحِيحُ الْقَصْدِ، وَالْحَذَرُ مِنْ قَصْدِ الْمُكَاثَرَةِ وَنَحْوِهِ. بَلَغَنَا عَنْ حَمْزَةَ بْنِ مُحَمَّدٍ الْكِنَانِيِّ: أَنَّهُ خَرَّجَ حَدِيثًا وَاحِدًا مِنْ نَحْوِ مِائَتَيْ طَرِيقٍ، فَأَعْجَبَهُ ذَلِكَ، فَرَأَى يَحْيَى بْنَ مَعِينٍ فِي مَنَامِهِ، فَذَكَرَ لَهُ ذَلِكَ، فَقَالَ لَهُ: أَخْشَى أَنْ يَدْخُلَ هَذَا تَحْتَ: (أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ).
"Wajib baginya dalam semua ini memperbaiki niat dan berhati-hati dari niat berbangga-bangga dengan banyaknya dan semisalnya. Sampai kepada kami dari Hamzah bin Muhammad al-Kinani, bahwa ia men-takhrij satu hadits dari sekitar dua ratus jalur, dan ia bangga dengan hal itu. Lalu ia bermimpi melihat Yahya bin Ma'in, ia pun menceritakan hal itu kepadanya. Yahya berkata kepadanya: 'aku khawatir ini termasuk dalam (firman): bermegah-megahan telah melalaikan kalian.'"
ثُمَّ لِيَحْذَرْ أَنْ يُخْرِجَ إِلَى النَّاسِ مَا يُصَنِّفُهُ إِلَّا بَعْدَ تَهْذِيبِهِ، وَتَحْرِيرِهِ، وَإِعَادَةِ النَّظَرِ فِيهِ، وَتَكْرِيرِهِ.
"Hendaklah ia berhati-hati agar tidak menerbitkan kepada orang-orang apa yang ia susun, kecuali setelah merapikannya, menyuntingnya, meninjaunya kembali, dan mengulanginya."
وَلْيَتَّقِ أَنْ يَجْمَعَ مَا لَمْ يَتَأَهَّلْ بَعْدُ لِاجْتِنَاءِ ثَمَرَتِهِ، وَاقْتِنَاصِ فَائِدَةِ جَمْعِهِ، كَيْلَا يَكُونَ حُكْمُهُ مَا رُوِّينَاهُ ... عَنْ عَلِيِّ بْنِ الْمَدِينِيِّ، قَالَ: إِذَا رَأَيْتَ الْحَدَثَ أَوَّلَ مَا يَكْتُبُ الْحَدِيثَ، يَجْمَعُ حَدِيثَ الْغُسْلِ، وَحَدِيثَ: "مَنْ كَذَبَ" فَاكْتُبْ عَلَى قَفَاهُ "لَا يُفْلِحُ" ....
"Hendaklah ia menjaga diri agar tidak menghimpun apa yang belum layak baginya untuk memetik buahnya dan meraih faidah dari penghimpunannya, agar tidak menjadi seperti apa yang kami riwayatkan dari Ali bin al-Madini, ia berkata: 'apabila engkau melihat seorang pemula yang baru mulai menulis hadits, langsung menghimpun hadits tentang mandi (jinabat) dan hadits 'man kadzaba' (barangsiapa berdusta atas namaku), maka tuliskanlah di tengkuknya: tidak akan beruntung.'"
ثُمَّ إِنَّ هَذَا الْكِتَابَ مَدْخَلٌ إِلَى هَذَا الشَّأْنِ، مُفْصِحٌ عَنْ أُصُولِهِ وَفُرُوعِهِ، شَارِحٌ لِمُصْطَلَحَاتِ أَهْلِهِ وَمَقَاصِدِهِمْ وَمُهِمَّاتِهِمُ الَّتِي يَنْقُصُ الْمُحَدِّثُ بِالْجَهْلِ بِهَا نَقْصًا فَاحِشًا، فَهُوَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ جَدِيرٌ بِأَنْ تُقَدَّمَ الْعِنَايَةُ بِهِ، وَنَسْأَلُ اللَّهَ سُبْحَانَهُ فَضْلَهُ الْعَظِيمَ، وَهُوَ أَعْلَمُ.
"Kitab ini (yang dimaksud Ibnu Shalah tentang muqaddimah yang sedang ditulisnya) adalah pintu masuk ke disiplin ilmu ini, menjelaskan pokok-pokok dan cabang-cabangnya, menerangkan istilah-istilah ahlinya, maksud-maksud mereka, serta hal-hal penting yang jika seorang muhaddits tidak mengetahuinya, kekurangannya menjadi sangat besar. Insya Allah, kitab ini layak diberikan perhatian utama. Kami memohon kepada Allah Subhanahu karunia-Nya yang agung, dan Dia Maha Mengetahui."2