Muqaddimah Ibnu Shalah Bab 27: Ada'ul Hadits

النَّوْعُ السَّادِسُ وَالْعِشْرُونَ: فِي صِفَةِ رِوَايَةِ الْحَدِيثِ، وَشَرْطِ أَدَائِهِ، وَمَا يَتَعَلَّقُ بِذَلِكَ
"Anwa' kedua puluh enam: tentang tata cara periwayatan hadits (ada'), syarat penyampaiannya, dan hal-hal yang berkaitan dengannya."1

وَقَدْ سَبَقَ بَيَانُ كَثِيرٍ مِنْهُ فِي ضِمْنِ النَّوْعَيْنِ قَبْلَهُ. شَدَّدَ قَوْمٌ فِي الرِّوَايَةِ فَأَفْرَطُوا، وَتَسَاهَلَ فِيهَا آخَرُونَ فَفَرَّطُوا.
"Telah dijelaskan sebelumnya banyak hal seputar ini dalam kedua anwa' sebelum ini. Sebagian orang memperketat periwayatan hingga berlebihan, sementara sebagian lain bermudah-mudahan hingga lalai."
وَمِنْ مَذَاهِبِ التَّشْدِيدِ مَذْهَبُ مَنْ قَالَ: "لَا حُجَّةَ إِلَّا فِيمَا رَوَاهُ الرَّاوِي مِنْ حِفْظِهِ، وَتَذَكُّرِهِ"، وَذَلِكَ مَرْوِيٌّ عَنْ مَالِكٍ، وَأَبِي حَنِيفَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، وَذَهَبَ إِلَيْهِ مِنْ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ أَبُو بَكْرٍ الصَّيْدَلَانِيُّ الْمَرْوَزِيُّ.
"Di antara mazhab tasydid (memperketat) adalah mazhab orang yang berkata: 'tidak ada hujjah kecuali pada apa yang diriwayatkan perawi dari hafalan dan ingatannya sendiri.' Ini diriwayatkan dari Malik dan Abu Hanifah radhiyallahu 'anhuma, dan dianut oleh Abu Bakr ash-Shaidalani al-Marwazi dari kalangan pengikut asy-Syafi'i."
وَمِنْهَا: مَذْهَبُ مَنْ أَجَازَ الِاعْتِمَادَ فِي الرِّوَايَةِ عَلَى كِتَابِهِ، غَيْرَ أَنَّهُ لَوْ أَعَارَ كِتَابَهُ وَأَخْرَجَهُ مِنْ يَدِهِ لَمْ يَرَ الرِّوَايَةَ مِنْهُ لِغَيْبَتِهِ عَنْهُ.
"Di antaranya pula: mazhab orang yang membolehkan mengandalkan kitab sendiri dalam periwayatan, hanya saja apabila ia meminjamkan kitabnya dan mengeluarkannya dari tangannya, ia tidak lagi memandang boleh meriwayatkan darinya karena kitab itu tidak lagi berada di sisinya."
وَقَدْ سَبَقَتْ حِكَايَتُنَا لِمَذَاهِبَ عَنْ أَهْلِ التَّسَاهُلِ وَإِبْطَالُهَا، فِي ضِمْنِ مَا تَقَدَّمَ مِنْ شَرْحِ وُجُوهِ الْأَخْذِ وَالتَّحَمُّلِ. وَمِنْ أَهْلِ التَّسَاهُلِ قَوْمٌ سَمِعُوا كُتُبًا مُصَنَّفَةً وَتَهَاوَنُوا، حَتَّى إِذَا طَعَنُوا فِي السِّنِّ، وَاحْتِيجَ إِلَيْهِمْ حَمَلَهُمُ الْجَهْلُ وَالشَّرَهُ عَلَى أَنْ رَوَوْهَا مِنْ نُسَخٍ مُشْتَرَاةٍ، أَوْ مُسْتَعَارَةٍ غَيْرِ مُقَابَلَةٍ، فَعَدَّهُمُ الْحَاكِمُ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ فِي طَبَقَاتِ الْمَجْرُوحِينَ. قَالَ: "وَهُمْ يَتَوَهَّمُونَ أَنَّهُمْ فِي رِوَايَتِهَا صَادِقُونَ". وَقَالَ: "هَذَا مِمَّا كَثُرَ فِي النَّاسِ، وَتَعَاطَاهُ قَوْمٌ مِنْ أَكَابِرِ الْعُلَمَاءِ، وَالْمَعْرُوفِينَ بِالصَّلَاحِ".
"Kami telah menceritakan sebelumnya mazhab-mazhab ahli tasahul (bermudah-mudahan) dan alasan batalnya, dalam penjelasan bentuk-bentuk penerimaan dan tahammul hadits yang lalu. Di antara ahli tasahul adalah orang-orang yang mendengar kitab-kitab yang tersusun namun bermudah-mudahan, hingga ketika mereka lanjut usia dan dibutuhkan orang, kebodohan dan ketamakan mendorong mereka meriwayatkannya dari naskah-naskah yang dibeli atau dipinjam yang belum dicocokkan. Al-Hakim Abu Abdillah al-Hafizh memasukkan mereka ke dalam golongan tokoh-tokoh yang di-jarh. Ia berkata: 'mereka menyangka diri mereka jujur dalam meriwayatkannya.' Ia melanjutkan: 'ini adalah hal yang banyak terjadi pada manusia, bahkan dilakukan oleh sejumlah ulama besar dan orang yang dikenal shalih.'"
قُلْتُ: وَمِنَ الْمُتَسَاهِلِينَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ لَهِيعَةَ الْمِصْرِيُّ، تُرِكَ الِاحْتِجَاجُ بِرِوَايَتِهِ مَعَ جَلَالَتِهِ لِتَسَاهُلِهِ. ذُكِرَ عَنْ يَحْيَى بْنِ حَسَّانَ: أَنَّهُ رَأَى قَوْمًا مَعَهُمْ جُزْءٌ سَمِعُوهُ مِنِ ابْنِ لَهِيعَةَ فَنَظَرَ فِيهِ فَإِذَا لَيْسَ فِيهِ حَدِيثٌ وَاحِدٌ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ لَهِيعَةَ، فَجَاءَ إِلَى ابْنِ لَهِيعَةَ، فَأَخْبَرَهُ بِذَلِكَ، فَقَالَ: "مَا أَصْنَعُ؟ يَجِيئُونِي بِكِتَابٍ، فَيَقُولُونَ: هَذَا مِنْ حَدِيثِكَ، فَأُحَدِّثُهُمْ بِهِ".
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: di antara ahli tasahul adalah Abdullah bin Lahi'ah al-Mishri, riwayatnya ditinggalkan sebagai hujjah, sekalipun ia sendiri seorang tokoh besar, karena sikap bermudah-mudahannya. Disebutkan dari Yahya bin Hassan: bahwa ia melihat sekelompok orang membawa sebuah juz yang mereka dengar dari Ibnu Lahi'ah, lalu ia memeriksanya dan ternyata tidak ada satu pun hadits Ibnu Lahi'ah di dalamnya. Ia pun mendatangi Ibnu Lahi'ah dan mengabarkan hal itu. Ibnu Lahi'ah menjawab: 'apa yang bisa kulakukan? Mereka mendatangiku membawa sebuah kitab, lalu berkata: ini haditsmu, maka aku pun meriwayatkannya kepada mereka.'"
وَمِثْلُ هَذَا وَاقِعٌ مِنْ شُيُوخِ زَمَانِنَا، يَجِيءُ إِلَى أَحَدِهِمُ الطَّالِبُ بِجُزْءٍ أَوْ كِتَابٍ، فَيَقُولُ: (هَذَا رِوَايَتُكَ)، فَيُمَكِّنُهُ مِنْ قِرَاءَتِهِ عَلَيْهِ مُقَلِّدًا لَهُ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَبْحَثَ بِحَيْثُ يَحْصُلُ لَهُ الثِّقَةُ بِصِحَّةِ ذَلِكَ.
"Hal semacam ini juga terjadi pada sebagian guru di zaman kami: seorang penuntut ilmu datang kepada salah seorang dari mereka membawa sebuah juz atau kitab, lalu berkata: 'ini riwayatmu', maka sang guru pun membiarkannya membaca kitab itu di hadapannya, hanya menaklidinya begitu saja, tanpa meneliti hingga ia benar-benar yakin akan kebenaran hal itu."
وَالصَّوَابُ: مَا عَلَيْهِ الْجُمْهُورُ، وَهُوَ التَّوَسُّطُ بَيْنَ الْإِفْرَاطِ، وَالتَّفْرِيطِ، فَإِذَا قَامَ الرَّاوِي فِي الْأَخْذِ وَالتَّحَمُّلِ بِالشَّرْطِ الَّذِي تَقَدَّمَ شَرْحُهُ، وَقَابَلَ كِتَابَهُ وَضَبَطَ سَمَاعَهُ عَلَى الْوَجْهِ الَّذِي سَبَقَ ذِكْرُهُ، جَازَتْ لَهُ الرِّوَايَةُ مِنْهُ، وَإِنْ أَعَارَهُ، وَغَابَ عَنْهُ، إِذَا كَانَ الْغَالِبُ مِنْ أَمْرِهِ سَلَامَتَهُ مِنَ التَّبْدِيلِ وَالتَّغْيِيرِ، لَا سِيَّمَا إِذَا كَانَ مِمَّنْ لَا يَخْفَى عَلَيْهِ - فِي الْغَالِبِ - لَوْ غُيِّرَ شَيْءٌ مِنْهُ وَبُدِّلَ - تَغْيِيرُهُ وَتَبْدِيلُهُ، وَذَلِكَ لِأَنَّ الِاعْتِمَادَ فِي بَابِ الرِّوَايَةِ عَلَى غَالِبِ الظَّنِّ، فَإِذَا حَصَلَ أَجْزَأَ، وَلَمْ يُشْتَرَطْ مَزِيدٌ عَلَيْهِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Yang benar adalah pendapat mayoritas, yaitu bersikap pertengahan antara berlebihan dan lalai. Apabila seorang perawi telah memenuhi syarat dalam penerimaan dan tahammul yang telah dijelaskan sebelumnya, dan telah mencocokkan kitabnya serta men-dhabt sama'-nya sesuai cara yang telah disebutkan, boleh baginya meriwayatkan darinya, sekalipun ia meminjamkannya dan kitab itu tidak lagi berada di sisinya - selama pada umumnya keadaannya aman dari perubahan dan penggantian, terutama jika ia termasuk orang yang pada umumnya tidak akan luput mengetahui jika ada sesuatu yang diubah atau diganti di dalamnya. Sebab, yang menjadi patokan dalam bab periwayatan adalah zhann yang kuat (dugaan kuat) - apabila itu telah tercapai, sudah cukup, dan tidak disyaratkan lebih dari itu. Wallahu a'lam."

Tafri'at (Cabang-Cabang Pembahasan)

Cabang pertama:
إِذَا كَانَ الرَّاوِي ضَرِيرًا، وَلَمْ يَحْفَظْ حَدِيثَهُ مِنْ فَمِ مَنْ حَدَّثَهُ، وَاسْتَعَانَ بِالْمَأْمُونِينَ فِي ضَبْطِ سَمَاعِهِ، وَحِفْظِ كِتَابِهِ، ثُمَّ عِنْدَ رِوَايَتِهِ فِي الْقِرَاءَةِ مِنْهُ عَلَيْهِ، وَاحْتَاطَ فِي ذَلِكَ عَلَى حَسَبِ حَالِهِ، بِحَيْثُ يَحْصُلُ مَعَهُ الظَّنُّ بِالسَّلَامَةِ مِنَ التَّغْيِيرِ، صَحَّتْ رِوَايَتُهُ، غَيْرَ أَنَّهُ أَوْلَى بِالْخِلَافِ وَالْمَنْعِ مِنْ مِثْلِ ذَلِكَ مِنَ الْبَصِيرِ.
"Apabila seorang perawi tunanetra dan tidak menghafal haditsnya langsung dari lisan orang yang menceritakannya, lalu ia meminta bantuan orang-orang yang terpercaya untuk men-dhabt sama'-nya dan menjaga kitabnya, kemudian pada saat ia meriwayatkannya melalui qira'ah dari kitab itu, ia bersikap hati-hati sesuai keadaannya, sehingga tercapai dugaan kuat akan keamanannya dari perubahan - maka riwayatnya sah. Hanya saja, kasus semacam ini lebih rentan perselisihan dan larangan dibanding kasus serupa dari orang yang bisa melihat."

قَالَ الْخَطِيبُ الْحَافِظُ: "وَالسَّمَاعُ مِنَ الْبَصِيرِ الْأُمِّيِّ وَالضَّرِيرِ، اللَّذَيْنِ لَمْ يَحْفَظَا مِنَ الْمُحَدِّثِ مَا سَمِعَاهُ مِنْهُ، لَكِنَّهُ كَتَبَ لَهُمَا بِمَثَابَةٍ وَاحِدَةٍ، وَقَدْ مَنَعَ مِنْهُ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنَ الْعُلَمَاءِ، وَرَخَّصَ فِيهِ بَعْضُهُمْ"، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Al-Khathib al-Hafizh berkata: 'sama' dari orang yang bisa melihat namun buta huruf, dan dari orang tunanetra, yang keduanya tidak menghafal apa yang mereka dengar dari sang muhaddits, namun ada orang lain yang menuliskannya untuk keduanya, kedudukannya sama. Tidak sedikit ulama melarang hal ini, dan sebagian lain memberi keringanan padanya.' Wallahu a'lam."

Cabang kedua:
إِذَا سَمِعَ كِتَابًا، ثُمَّ أَرَادَ رِوَايَتَهُ مِنْ نُسْخَةٍ لَيْسَ فِيهَا سَمَاعُهُ، وَلَا هِيَ مُقَابَلَةٌ بِنُسْخَةِ سَمَاعِهِ غَيْرَ أَنَّهُ سُمِعَ مِنْهَا عَلَى شَيْخِهِ، لَمْ يَجُزْ لَهُ ذَلِكَ. قَطَعَ بِهِ الْإِمَامُ أَبُو نَصْرِ بْنُ الصَّبَّاغِ الْفَقِيهُ فِيمَا بَلَغَنَا عَنْهُ. وَكَذَلِكَ لَوْ كَانَ فِيهَا سَمَاعُ شَيْخِهِ، أَوْ رَوَى مِنْهَا ثِقَةٌ عَنْ شَيْخِهِ، فَلَا تَجُوزُ لَهُ الرِّوَايَةُ مِنْهَا اعْتِمَادًا عَلَى مُجَرَّدِ ذَلِكَ، إِذْ لَا يُؤْمَنُ أَنْ تَكُونَ فِيهَا زَوَائِدُ لَيْسَتْ فِي نُسْخَةِ سَمَاعِهِ.
"Apabila seseorang mendengar sebuah kitab, lalu hendak meriwayatkannya dari naskah lain yang tidak memuat catatan sama'-nya sendiri, dan naskah itu pun tidak pernah dicocokkan dengan naskah sama'-nya, hanya saja naskah itu pernah dibacakan pada gurunya - tidak boleh baginya melakukan hal itu. Ini ditegaskan oleh Imam Abu Nashr Ibnush Shabbagh al-Faqih, sebagaimana sampai kepada kami. Begitu pula jika naskah itu memuat catatan sama' gurunya sendiri, atau seorang yang tsiqah meriwayatkan darinya dari gurunya, tetap tidak boleh baginya meriwayatkan darinya hanya dengan mengandalkan hal itu saja, karena tidak aman dari kemungkinan adanya tambahan di dalamnya yang tidak ada dalam naskah sama'-nya sendiri."

ثُمَّ وَجَدْتُ الْخَطِيبَ قَدْ حَكَى مِصْدَاقَ ذَلِكَ عَنْ أَكْثَرِ أَهْلِ الْحَدِيثِ، فَذَكَرَ فِيمَا إِذَا وَجَدَ أَصْلَ الْمُحَدِّثِ وَلَمْ يُكْتَبْ فِيهِ سَمَاعُهُ، أَوْ وَجَدَ نُسْخَةً كُتِبَتْ عَنِ الشَّيْخِ تَسْكُنُ نَفْسُهُ إِلَى صِحَّتِهَا أَنَّ عَامَّةَ أَصْحَابِ الْحَدِيثِ مَنَعُوا مِنْ رِوَايَتِهِ مِنْ ذَلِكَ. وَجَاءَ عَنْ أَيُّوبَ السَّخْتِيَانِيِّ، وَمُحَمَّدِ بْنِ بَكْرٍ الْبُرْسَانِيِّ التَّرَخُّصُ فِيهِ.
"Kemudian aku mendapati al-Khathib telah menceritakan pembenaran atas hal ini dari mayoritas ahli hadits. Ia menyebutkan bahwa dalam kasus jika seseorang mendapati naskah asli sang muhaddits namun catatan sama'-nya sendiri tidak tertulis di dalamnya, atau mendapati sebuah naskah yang ditulis dari sang guru dan hatinya tenang akan kebenarannya - kebanyakan ahli hadits tetap melarang periwayatan darinya. Namun datang dari Ayyub as-Sikhtiyani dan Muhammad bin Bakr al-Bursani keringanan dalam hal itu."
قُلْتُ: اللَّهُمَّ إِلَّا أَنْ تَكُونَ لَهُ إِجَازَةٌ مِنْ شَيْخِهِ عَامَّةٌ لِمَرْوِيَّاتِهِ، أَوْ نَحْوُ ذَلِكَ، فَيَجُوزُ لَهُ حِينَئِذٍ الرِّوَايَةُ مِنْهَا، إِذْ لَيْسَ فِيهِ أَكْثَرُ مِنْ رِوَايَةِ تِلْكَ الزِّيَادَاتِ بِالْإِجَازَةِ بِلَفْظِ (أَخْبَرَنَا)، أَوْ (حَدَّثَنَا) مِنْ غَيْرِ بَيَانٍ لِلْإِجَازَةِ فِيهَا، وَالْأَمْرُ فِي ذَلِكَ قَرِيبٌ يَقَعُ مِثْلُهُ فِي مَحَلِّ التَّسَامُحِ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: kecuali jika ia memiliki ijazah umum dari gurunya yang mencakup seluruh riwayatnya, atau semisalnya - maka boleh baginya meriwayatkan darinya, karena hal itu tidak lebih dari sekadar meriwayatkan tambahan-tambahan itu dengan ijazah menggunakan lafal (akhbarana) atau (haddatsana) tanpa menjelaskan bahwa itu ijazah - dan hal semacam ini masih dekat dengan wilayah yang dapat ditoleransi."
وَقَدْ حَكَيْنَا فِيمَا تَقَدَّمَ أَنَّهُ لَا غِنًى فِي كُلِّ سَمَاعٍ عَنِ الْإِجَازَةِ، لِيَقَعَ مَا يَسْقُطُ فِي السَّمَاعِ عَلَى وَجْهِ السَّهْوِ وَغَيْرِهِ مِنْ كَلِمَاتٍ أَوْ أَكْثَرَ مَرْوِيًّا بِالْإِجَازَةِ، وَإِنْ لَمْ يَذْكُرْ لَفْظَهَا.
"Kami telah menceritakan sebelumnya bahwa setiap sama' tidak bisa mencukupi tanpa ijazah, agar apa yang terlewat dalam sama' karena lalai atau sebab lain - satu kata atau lebih - tetap dapat diriwayatkan lewat ijazah, sekalipun lafal ijazah itu sendiri tidak disebutkan."
فَإِنْ كَانَ الَّذِي فِي النُّسْخَةِ سَمَاعَ شَيْخِ شَيْخِهِ، أَوْ هِيَ مَسْمُوعَةٌ عَلَى شَيْخِ شَيْخِهِ، أَوْ مَرْوِيَّةٌ عَنْ شَيْخِ شَيْخِهِ، فَيَنْبَغِي لَهُ حِينَئِذٍ فِي رِوَايَتِهِ مِنْهَا أَنْ تَكُونَ لَهُ إِجَازَةٌ شَامِلَةٌ مِنْ شَيْخِهِ، وَلِشَيْخِهِ إِجَازَةٌ شَامِلَةٌ مِنْ شَيْخِهِ، وَهَذَا تَيْسِيرٌ حَسَنٌ، هَدَانَا اللَّهُ لَهُ - وَلَهُ الْحَمْدُ - وَالْحَاجَةُ إِلَيْهِ مَاسَّةٌ فِي زَمَانِنَا جِدًّا. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Apabila naskah itu berisi sama' guru dari gurunya, atau dibacakan pada guru dari gurunya, atau diriwayatkan dari guru dari gurunya, maka sepatutnya, dalam meriwayatkan darinya, ia memiliki ijazah menyeluruh dari gurunya, dan gurunya sendiri memiliki ijazah menyeluruh dari guru gurunya. Ini adalah kemudahan yang baik - Allah telah menunjuki kami kepadanya, segala puji bagi-Nya - dan kebutuhan terhadapnya sangat mendesak pada zaman kami. Wallahu a'lam."

Cabang ketiga:
إِذَا وَجَدَ الْحَافِظُ فِي كِتَابِهِ خِلَافَ مَا يَحْفَظُهُ، نَظَرَ: فَإِنْ كَانَ إِنَّمَا حَفِظَ ذَلِكَ مِنْ كِتَابِهِ فَلْيَرْجِعْ إِلَى مَا فِي كِتَابِهِ، وَإِنْ كَانَ حَفِظَهُ مِنْ فَمِ الْمُحَدِّثِ فَلْيَعْتَمِدْ حِفْظَهُ دُونَ مَا فِي كِتَابِهِ إِذَا لَمْ يَتَشَكَّكْ، وَحَسَنٌ أَنْ يَذْكُرَ الْأَمْرَيْنِ فِي رِوَايَتِهِ، فَيَقُولُ "حِفْظِي كَذَا، وَفِي كِتَابِي كَذَا". هَكَذَا فَعَلَ شُعْبَةُ، وَغَيْرُهُ.
"Apabila seorang hafizh mendapati dalam kitabnya sesuatu yang berbeda dari apa yang ia hafal, hendaklah ia meninjau: jika ia menghafalnya memang dari kitabnya sendiri, hendaklah ia kembali kepada apa yang ada di kitabnya. Namun jika ia menghafalnya dari lisan sang muhaddits langsung, hendaklah ia mengandalkan hafalannya, bukan apa yang ada di kitabnya, selama ia tidak ragu. Baik pula jika ia menyebutkan kedua-duanya dalam periwayatannya, dengan berkata: 'hafalanku demikian, dan dalam kitabku demikian.' Demikianlah yang dilakukan Syu'bah dan selainnya."

وَهَكَذَا إِذَا خَالَفَهُ فِيمَا يَحْفَظُهُ بَعْضُ الْحُفَّاظِ، فَلْيَقُلْ: (حِفْظِي كَذَا وَكَذَا، وَقَالَ فِيهِ فُلَانٌ، أَوْ قَالَ فِيهِ غَيْرِي كَذَا وَكَذَا)، أَوْ شِبْهَ هَذَا مِنَ الْكَلَامِ، كَذَلِكَ فَعَلَ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ، وَغَيْرُهُ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Begitu pula apabila hafalannya diselisihi oleh hafalan sebagian hafizh lain, hendaklah ia berkata: 'hafalanku demikian dan demikian, sedangkan fulan berkata tentangnya demikian dan demikian', atau ucapan yang serupa itu. Demikianlah yang dilakukan Sufyan ats-Tsauri dan selainnya. Wallahu a'lam."

Cabang keempat:
إِذَا وَجَدَ سَمَاعَهُ فِي كِتَابِهِ، وَهُوَ غَيْرُ ذَاكِرٍ لِسَمَاعِهِ ذَلِكَ، فَعَنْ أَبِي حَنِيفَةَ (رَحِمَهُ اللَّهُ) وَبَعْضِ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ (رَحِمَهُ اللَّهُ) أَنَّهُ لَا تَجُوزُ لَهُ رِوَايَتُهُ. وَمَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ (رَحِمَهُ اللَّهُ)، وَأَكْثَرِ أَصْحَابِهِ، وَأَبِي يُوسُفَ، وَمُحَمَّدٍ: أَنَّهُ يَجُوزُ لَهُ رِوَايَتُهُ.
"Apabila seseorang mendapati catatan sama'-nya sendiri dalam kitabnya, padahal ia sendiri tidak mengingat sama' itu, maka dari Abu Hanifah rahimahullah dan sebagian pengikut asy-Syafi'i rahimahullah, tidak boleh baginya meriwayatkannya. Sedangkan mazhab asy-Syafi'i rahimahullah, mayoritas pengikutnya, Abu Yusuf, dan Muhammad (bin al-Hasan): boleh baginya meriwayatkannya."

قُلْتُ: هَذَا الْخِلَافُ يَنْبَغِي أَنْ يُبْنَى عَلَى الْخِلَافِ السَّابِقِ قَرِيبًا فِي جَوَازِ اعْتِمَادِ الرَّاوِي عَلَى كِتَابِهِ فِي ضَبْطِ مَا سَمِعَهُ، فَإِنَّ ضَبْطَ أَصْلِ السَّمَاعِ كَضَبْطِ الْمَسْمُوعِ، فَكَمَا كَانَ الصَّحِيحُ - وَمَا عَلَيْهِ أَكْثَرُ أَهْلِ الْحَدِيثِ - تَجْوِيزَ الِاعْتِمَادِ عَلَى الْكِتَابِ الْمَصُونِ فِي ضَبْطِ الْمَسْمُوعِ، حَتَّى يَجُوزَ لَهُ أَنْ يَرْوِيَ مَا فِيهِ، وَإِنْ كَانَ لَا يَذْكُرُ أَحَادِيثَهُ حَدِيثًا حَدِيثًا، كَذَلِكَ لِيَكُنْ هَذَا إِذَا وُجِدَ شَرْطُهُ، وَهُوَ أَنْ يَكُونَ السَّمَاعُ بِخَطِّهِ، أَوْ بِخَطِّ مَنْ يَثِقُ بِهِ، وَالْكِتَابُ مَصُونٌ بِحَيْثُ يَغْلِبُ عَلَى الظَّنِّ سَلَامَةُ ذَلِكَ مِنْ تَطَرُّقِ التَّزْوِيرِ، وَالتَّغْيِيرِ إِلَيْهِ، عَلَى نَحْوِ مَا سَبَقَ ذِكْرُهُ فِي ذَلِكَ. وَهَذَا إِذَا لَمْ يَتَشَكَّكْ فِيهِ، وَسَكَنَتْ نَفْسُهُ إِلَى صِحَّتِهِ، فَإِنْ تَشَكَّكَ فِيهِ لَمْ يَجُزِ الِاعْتِمَادُ عَلَيْهِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: perselisihan ini sepatutnya dibangun berdasarkan perselisihan sebelumnya, tentang bolehnya seorang perawi mengandalkan kitabnya sendiri dalam men-dhabt apa yang ia dengar - karena men-dhabt naskah asli sama' itu sama seperti men-dhabt apa yang didengar. Sebagaimana pendapat yang shahih -dan yang dipegang mayoritas ahli hadits- membolehkan mengandalkan kitab yang terjaga baik dalam men-dhabt apa yang didengar, hingga boleh baginya meriwayatkan apa yang ada di dalamnya sekalipun ia tidak mengingat hadits-haditsnya satu per satu, demikian pula hendaknya berlaku di sini, apabila terpenuhi syaratnya: yaitu catatan sama' itu ditulis dengan tangannya sendiri atau tangan orang yang ia percaya, dan kitab itu terjaga sedemikian rupa sehingga dugaan kuat menunjukkan keamanannya dari pemalsuan dan perubahan, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Ini berlaku selama ia tidak ragu terhadapnya dan hatinya tenang akan kebenarannya. Jika ia ragu, tidak boleh mengandalkannya. Wallahu a'lam."

Cabang kelima:
إِذَا أَرَادَ رِوَايَةَ مَا سَمِعَهُ عَلَى مَعْنَاهُ دُونَ لَفْظِهِ: فَإِنْ لَمْ يَكُنْ عَالِمًا عَارِفًا بِالْأَلْفَاظِ وَمَقَاصِدِهَا، خَبِيرًا بِمَا يُحِيلُ مَعَانِيَهَا، بَصِيرًا بِمَقَادِيرِ التَّفَاوُتِ بَيْنَهَا، فَلَا خِلَافَ أَنَّهُ لَا يَجُوزُ لَهُ ذَلِكَ، وَعَلَيْهِ أَنْ لَا يَرْوِيَ مَا سَمِعَهُ إِلَّا عَلَى اللَّفْظِ الَّذِي سَمِعَهُ مِنْ غَيْرِ تَغْيِيرٍ.
"Apabila seseorang hendak meriwayatkan apa yang ia dengar hanya dengan maknanya saja, tanpa lafal aslinya: jika ia bukan seorang yang alim, mengenal betul lafal-lafal dan maksudnya, mengerti apa yang dapat mengubah maknanya, dan cermat terhadap kadar perbedaan di antara lafal-lafal itu, maka tidak ada perselisihan bahwa hal itu tidak boleh baginya. Ia wajib meriwayatkan apa yang ia dengar hanya dengan lafal yang persis ia dengar, tanpa perubahan."

فَأَمَّا إِذَا كَانَ عَالِمًا عَارِفًا بِذَلِكَ، فَهَذَا مِمَّا اخْتَلَفَ فِيهِ السَّلَفُ، وَأَصْحَابُ الْحَدِيثِ، وَأَرْبَابُ الْفِقْهِ، وَالْأُصُولِ، فَجَوَّزَهُ أَكْثَرُهُمْ، وَلَمْ يُجَوِّزْهُ بَعْضُ الْمُحَدِّثِينَ، وَطَائِفَةٌ مِنَ الْفُقَهَاءِ، وَالْأُصُولِيِّينَ مِنَ الشَّافِعِيِّينَ، وَغَيْرِهِمْ. وَمَنَعَهُ بَعْضُهُمْ فِي حَدِيثِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَجَازَهُ فِي غَيْرِهِ.
"Namun apabila ia seorang alim yang benar-benar mengenal hal itu, ini termasuk yang diperselisihkan kalangan salaf, ahli hadits, dan ahli fikih serta ushul. Mayoritas mereka membolehkannya, sementara sebagian muhaddits dan sekelompok fuqaha serta ushuliyyin dari kalangan Syafi'iyyah dan selainnya tidak membolehkannya. Sebagian ulama melarangnya khusus untuk hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, namun membolehkannya untuk selain itu."
وَالْأَصَحُّ: جَوَازُ ذَلِكَ فِي الْجَمِيعِ، إِذَا كَانَ عَالِمًا بِمَا وَصَفْنَاهُ قَاطِعًا بِأَنَّهُ أَدَّى مَعْنَى اللَّفْظِ الَّذِي بَلَغَهُ؛ لِأَنَّ ذَلِكَ هُوَ الَّذِي تَشْهَدُ بِهِ أَحْوَالُ الصَّحَابَةِ، وَالسَّلَفِ الْأَوَّلِينَ، وَكَثِيرًا مَا كَانُوا يَنْقُلُونَ مَعْنًى وَاحِدًا فِي أَمْرٍ وَاحِدٍ بِأَلْفَاظٍ مُخْتَلِفَةٍ، وَمَا ذَلِكَ إِلَّا لِأَنَّ مُعَوَّلَهُمْ كَانَ عَلَى الْمَعْنَى دُونَ اللَّفْظِ.
"Pendapat yang paling shahih: bolehnya hal itu untuk semuanya, apabila ia adalah orang yang mengenal betul apa yang telah kami sifatkan tadi, dan yakin bahwa ia telah menyampaikan makna lafal yang sampai kepadanya - karena inilah yang disaksikan oleh keadaan para sahabat dan salaf terdahulu. Mereka sering kali menukil satu makna dalam satu perkara dengan lafal-lafal yang berbeda-beda, dan itu tidak lain karena sandaran mereka adalah pada makna, bukan pada lafal."
ثُمَّ إِنَّ هَذَا الْخِلَافَ لَا نَرَاهُ جَارِيًا - وَلَا أَجْرَاهُ النَّاسُ فِيمَا نَعْلَمُ - فِيمَا تَضَمَّنَتْهُ بُطُونُ الْكُتُبِ، فَلَيْسَ لِأَحَدٍ أَنْ يُغَيِّرَ لَفْظَ شَيْءٍ مِنْ كِتَابٍ مُصَنَّفٍ، وَيُثْبِتَ بَدَلَهُ فِيهِ لَفْظًا آخَرَ بِمَعْنَاهُ، فَإِنَّ الرِّوَايَةَ بِالْمَعْنَى رَخَّصَ فِيهَا مَنْ رَخَّصَ، لِمَا كَانَ عَلَيْهِمْ فِي ضَبْطِ الْأَلْفَاظِ، وَالْجُمُودِ عَلَيْهَا مِنَ الْحَرَجِ وَالنَّصَبِ، وَذَلِكَ غَيْرُ مَوْجُودٍ فِيمَا اشْتَمَلَتْ عَلَيْهِ بُطُونُ الْأَوْرَاقِ، وَالْكُتُبِ، وَلِأَنَّهُ إِنْ مَلَكَ تَغْيِيرَ اللَّفْظِ، فَلَيْسَ يَمْلِكُ تَغْيِيرَ تَصْنِيفِ غَيْرِهِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Kami memandang bahwa perselisihan ini tidak berlaku -dan tidak diberlakukan orang-orang, sepengetahuan kami- pada apa yang termuat dalam isi kitab-kitab tertulis. Tidak boleh bagi siapa pun mengubah lafal apa pun dari sebuah kitab yang telah disusun, lalu menetapkan sebagai gantinya lafal lain yang semakna. Sebab, periwayatan secara makna diberi keringanan oleh yang memberi keringanan karena adanya kesulitan dan kepayahan bagi mereka dalam men-dhabt lafal dan berpegang teguh padanya - dan kesulitan itu tidak ada pada apa yang termuat dalam isi lembaran dan kitab-kitab tertulis. Selain itu, sekalipun ia berhak mengubah lafal, ia tidak berhak mengubah karya susunan orang lain. Wallahu a'lam."

Cabang keenam:
يَنْبَغِي لِمَنْ رَوَى حَدِيثًا بِالْمَعْنَى أَنْ يُتْبِعَهُ بِأَنْ يَقُولَ: "أَوْ كَمَا قَالَ، أَوْ نَحْوَ هَذَا"، أَوْ مَا أَشْبَهَ ذَلِكَ مِنَ الْأَلْفَاظِ. رُوِيَ ذَلِكَ مِنَ الصَّحَابَةِ عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ، وَأَبِي الدَّرْدَاءِ، وَأَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ.
"Sepatutnya orang yang meriwayatkan sebuah hadits secara makna, menyertainya dengan ucapan: 'atau sebagaimana yang beliau katakan', atau 'atau semisal ini', atau ungkapan-ungkapan lain yang serupa itu. Ini diriwayatkan dari kalangan sahabat: Ibnu Mas'ud, Abud Darda', dan Anas radhiyallahu 'anhum."

قَالَ الْخَطِيبُ: "وَالصَّحَابَةُ أَرْبَابُ اللِّسَانِ، وَأَعْلَمُ الْخَلْقِ بِمَعَانِي الْكَلَامِ، وَلَمْ يَكُونُوا يَقُولُونَ ذَلِكَ إِلَّا تَخَوُّفًا مِنَ الزَّلَلِ، لِمَعْرِفَتِهِمْ بِمَا فِي الرِّوَايَةِ عَلَى الْمَعْنَى مِنَ الْخَطَرِ".
"Al-Khathib berkata: 'para sahabat adalah ahli bahasa dan makhluk yang paling mengerti makna kalimat, namun mereka tetap mengucapkan hal itu semata karena khawatir tergelincir, karena mereka mengetahui bahaya yang terkandung dalam periwayatan secara makna.'"
قُلْتُ: وَإِذَا اشْتَبَهَ عَلَى الْقَارِئِ فِيمَا يَقْرَؤُهُ لَفْظَةٌ، فَقَرَأَهَا عَلَى وَجْهٍ يَشُكُّ فِيهِ، ثُمَّ قَالَ: "أَوْ كَمَا قَالَ" فَهَذَا حَسَنٌ، وَهُوَ الصَّوَابُ فِي مِثْلِهِ؛ لِأَنَّ قَوْلَهُ: "أَوْ كَمَا قَالَ" يَتَضَمَّنُ إِجَازَةً مِنَ الرَّاوِي وَإِذْنًا فِي رِوَايَةِ صَوَابِهَا عَنْهُ إِذَا بَانَ، ثُمَّ لَا يُشْتَرَطُ إِفْرَادُ ذَلِكَ بِلَفْظِ الْإِجَازَةِ، لِمَا بَيَّنَّاهُ قَرِيبًا، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: apabila seorang pembaca ragu tentang satu kata yang ia baca, lalu membacanya dengan bentuk yang ia ragukan, kemudian berkata: 'atau sebagaimana yang beliau katakan' - ini baik, dan itulah yang benar dalam kasus semacam ini. Sebab, ucapan 'atau sebagaimana yang beliau katakan' mengandung ijazah dari sang perawi dan izin untuk meriwayatkan bentuk yang benar darinya apabila kelak terungkap - dan tidak disyaratkan menyendirikan hal itu dengan lafal ijazah eksplisit, sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya. Wallahu a'lam."

Cabang ketujuh:
هَلْ يَجُوزُ اخْتِصَارُ الْحَدِيثِ الْوَاحِدِ، وَرِوَايَةُ بَعْضِهِ دُونَ بَعْضٍ؟ اخْتَلَفَ أَهْلُ الْعِلْمِ فِيهِ: فَمِنْهُمْ مَنْ مَنَعَ مِنْ ذَلِكَ مُطْلَقًا، بِنَاءً عَلَى الْقَوْلِ بِالْمَنْعِ مِنَ النَّقْلِ بِالْمَعْنَى مُطْلَقًا. وَمِنْهُمْ مَنْ مَنَعَ مِنْ ذَلِكَ، مَعَ تَجْوِيزِهِ النَّقْلَ بِالْمَعْنَى إِذَا لَمْ يَكُنْ قَدْ رَوَاهُ عَلَى التَّمَامِ مَرَّةً أُخْرَى، وَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ غَيْرَهُ قَدْ رَوَاهُ عَلَى التَّمَامِ. وَمِنْهُمْ مَنْ جَوَّزَ ذَلِكَ وَأَطْلَقَ وَلَمْ يُفَصِّلْ.
"Bolehkah meringkas satu hadits, dan meriwayatkan sebagiannya saja tanpa sebagian yang lain? Ahli ilmu berselisih pendapat mengenai hal ini. Sebagian melarangnya secara mutlak, berdasarkan pendapat larangan periwayatan secara makna secara mutlak. Sebagian lain melarangnya, sekalipun membolehkan periwayatan secara makna, apabila ia belum pernah meriwayatkannya secara lengkap di kesempatan lain, dan tidak mengetahui bahwa orang lain telah meriwayatkannya secara lengkap. Sebagian lain membolehkannya secara mutlak tanpa perincian."

وَقَدْ رُوِّينَا ... عَنْ مُجَاهِدٍ أَنَّهُ قَالَ: "انْقُصْ مِنَ الْحَدِيثِ مَا شِئْتَ، وَلَا تَزِدْ فِيهِ ...".
"Kami meriwayatkan dari Mujahid, ia berkata: 'kurangilah dari hadits sesukamu, namun jangan menambahinya...'"
وَالصَّحِيحُ التَّفْصِيلُ، وَأَنَّهُ يَجُوزُ ذَلِكَ مِنَ الْعَالِمِ الْعَارِفِ إِذَا كَانَ مَا تَرَكَهُ مَتَمِيِّزًا عَمَّا نَقَلَهُ، غَيْرَ مُتَعَلِّقٍ بِهِ، بِحَيْثُ لَا يَخْتَلُّ الْبَيَانُ، وَلَا تَخْتَلِفُ الدَّلَالَةُ فِيمَا نَقَلَهُ بِتَرْكِ مَا تَرَكَهُ، فَهَذَا يَنْبَغِي أَنْ يَجُوزَ، وَإِنْ لَمْ يَجُزِ النَّقْلُ بِالْمَعْنَى؛ لِأَنَّ الَّذِي نَقَلَهُ وَالَّذِي تَرَكَهُ - وَالْحَالَةُ هَذِهِ - بِمَنْزِلَةِ خَبَرَيْنِ مُنْفَصِلَيْنِ فِي أَمْرَيْنِ لَا تَعَلُّقَ لِأَحَدِهِمَا بِالْآخَرِ.
"Pendapat yang shahih adalah perincian: hal itu boleh dilakukan oleh orang alim yang mengenal betul, apabila bagian yang ia tinggalkan itu terpisah dari yang ia nukilkan, tidak berkaitan dengannya, sedemikian rupa sehingga tidak merusak kejelasan dan tidak mengubah makna dari apa yang dinukilnya karena meninggalkan bagian tersebut. Ini sepatutnya boleh, sekalipun periwayatan secara makna sendiri tidak boleh - karena bagian yang dinukil dan bagian yang ditinggalkan, dalam keadaan ini, berkedudukan seperti dua khabar yang terpisah tentang dua perkara yang tidak berkaitan satu sama lain."
ثُمَّ هَذَا إِذَا كَانَ رَفِيعَ الْمَنْزِلَةِ، بِحَيْثُ لَا يَتَطَرَّقُ إِلَيْهِ فِي ذَلِكَ تُهْمَةٌ، نَقَلَهُ أَوَّلًا تَمَامًا، ثُمَّ نَقَلَهُ نَاقِصًا، أَوَنَقَلَهُ أَوَّلًا نَاقِصًا، ثُمَّ نَقَلَهُ تَامًّا.
"Ini berlaku apabila perawinya berkedudukan tinggi, sedemikian rupa sehingga tidak muncul kecurigaan terhadapnya dalam hal itu - baik ia menukilnya lengkap terlebih dahulu lalu menukilnya secara ringkas, ataupun sebaliknya, menukilnya secara ringkas terlebih dahulu lalu menukilnya secara lengkap."
فَأَمَّا إِذَا لَمْ يَكُنْ كَذَلِكَ، فَقَدْ ذَكَرَ الْخَطِيبُ الْحَافِظُ: أَنَّ مَنْ رَوَى حَدِيثًا عَلَى التَّمَامِ، وَخَافَ إِنْ رَوَاهُ مَرَّةً أُخْرَى عَلَى النُّقْصَانِ أَنْ يُتَّهَمَ بِأَنَّهُ زَادَ فِي أَوَّلِ مَرَّةٍ مَا لَمْ يَكُنْ سَمِعَهُ، أَوْ أَنَّهُ نَسِيَ فِي الثَّانِي بَاقِيَ الْحَدِيثِ لِقِلَّةِ ضَبْطِهِ، وَكَثْرَةِ غَلَطِهِ، فَوَاجِبٌ عَلَيْهِ أَنْ يَنْفِيَ هَذِهِ الظِّنَّةَ عَنْ نَفْسِهِ.
"Adapun apabila keadaannya tidak demikian, al-Khathib al-Hafizh menyebutkan: siapa yang telah meriwayatkan sebuah hadits secara lengkap, lalu khawatir jika ia meriwayatkannya di kesempatan lain secara ringkas, ia akan dituduh telah menambahkan pada periwayatan pertama sesuatu yang sebenarnya tidak pernah ia dengar, atau dituduh melupakan sisa haditsnya pada periwayatan kedua karena lemah dhabt-nya dan seringnya ia keliru - maka wajib baginya menepis kecurigaan ini dari dirinya."
وَذَكَرَ الْإِمَامُ أَبُو الْفَتْحِ سُلَيْمُ بْنُ أَيُّوبَ الرَّازِيُّ الْفَقِيهُ: أَنَّ مَنْ رَوَى بَعْضَ الْخَبَرِ، ثُمَّ أَرَادَ أَنْ يَنْقُلَ تَمَامَهُ، وَكَانَ مِمَّنْ يُتَّهَمُ بِأَنَّهُ زَادَ فِي حَدِيثِهِ، كَانَ ذَلِكَ عُذْرًا لَهُ فِي تَرْكِ الزِّيَادَةِ وَكِتْمَانِهَا.
"Imam Abul Fath Sulaim bin Ayyub ar-Razi al-Faqih menyebutkan: siapa yang telah meriwayatkan sebagian khabar, lalu hendak menukil bagian lengkapnya, sementara ia termasuk orang yang dituduh menambah-nambahi haditsnya, itu menjadi alasan (udzur) baginya untuk meninggalkan dan menyembunyikan tambahan itu."
قُلْتُ: مَنْ كَانَ هَذَا حَالُهُ فَلَيْسَ لَهُ مِنْ الِابْتِدَاءِ أَنْ يَرْوِيَ الْحَدِيثَ غَيْرَ تَامٍّ، إِذَا كَانَ قَدْ تَعَيَّنَ عَلَيْهِ أَدَاءُ تَمَامِهِ؛ لِأَنَّهُ إِذَا رَوَاهُ أَوَّلًا نَاقِصًا أَخْرَجَ بَاقِيَهُ عَنْ حَيِّزِ الِاحْتِجَاجِ بِهِ، وَدَارَ: بَيْنَ أَنْ لَا يَرْوِيَهُ أَصْلًا فَيُضَيِّعَهُ رَأْسًا، وَبَيْنَ أَنْ يَرْوِيَهُ مُتَّهَمًا فِيهِ فَيُضَيِّعَ ثَمَرَتَهُ لِسُقُوطِ الْحُجَّةِ فِيهِ، وَالْعِلْمُ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: siapa yang keadaannya demikian, tidak boleh baginya sejak awal meriwayatkan hadits secara tidak lengkap, apabila menyampaikan bagian lengkapnya memang menjadi kewajibannya - karena jika ia meriwayatkannya secara ringkas terlebih dahulu, ia telah mengeluarkan sisanya dari wilayah kehujjahan, dan ia terjebak di antara dua pilihan: tidak meriwayatkannya sama sekali sehingga menyia-nyiakannya sepenuhnya, atau meriwayatkannya dalam keadaan dicurigai sehingga menyia-nyiakan buahnya karena gugurnya hujjah padanya. Wallahu a'lam Ta'ala."
وَأَمَّا تَقْطِيعُ الْمُصَنِّفِ مَتْنَ الْحَدِيثِ الْوَاحِدِ، وَتَفْرِيقُهُ فِي الْأَبْوَابِ، فَهُوَ إِلَى الْجَوَازِ أَقْرَبُ، وَمِنَ الْمَنْعِ أَبْعَدُ، وَقَدْ فَعَلَهُ مَالِكٌ، وَالْبُخَارِيُّ، وَغَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ أَئِمَّةِ الْحَدِيثِ، وَلَا يَخْلُو مِنْ كَرَاهِيَةٍ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Adapun pemotongan matan satu hadits oleh seorang penulis dan penyebarannya di berbagai bab, ini lebih dekat kepada kebolehan dan lebih jauh dari larangan. Malik, al-Bukhari, dan tidak sedikit imam hadits lainnya telah melakukannya - hanya saja tidak lepas dari sedikit kemakruhan. Wallahu a'lam."

Cabang kedelapan:
يَنْبَغِي لِلْمُحَدِّثِ أَنْ لَا يَرْوِيَ حَدِيثَهُ بِقِرَاءَةِ لَحَّانٍ، أَوْ مُصَحِّفٍ. رُوِّينَا عَنِ النَّضْرِ بْنِ شُمَيْلٍ أَنَّهُ قَالَ: "جَاءَتْ هَذِهِ الْأَحَادِيثُ عَنِ الْأَصْلِ مُعْرَبَةً".
"Sepatutnya seorang muhaddits tidak meriwayatkan haditsnya melalui bacaan orang yang sering lahn (salah kaidah bahasa) atau tashif (salah baca tulisan). Kami meriwayatkan dari an-Nadhr bin Syumail, ia berkata: 'hadits-hadits ini datang dari sumber aslinya dengan bahasa Arab yang benar (mu'rabah).'"

وَأَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي الْمَعَالِي الْفُرَاوِيُّ - قِرَاءَةً عَلَيْهِ - قَالَ: أَخْبَرَنَا الْإِمَامُ أَبُو جَدِّي أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ الْفَضْلِ الْفُرَاوِيُّ، أَنَا أَبُو الْحُسَيْنِ عَبْدُ الْغَافِرِ بْنُ مُحَمَّدٍ الْفَارِسِيُّ، أَنَا الْإِمَامُ أَبُو سُلَيْمَانَ حَمَدُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْخَطَّابِيُّ، حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ مُعَاذٍ، قَالَ: أَنَا بَعْضُ أَصْحَابِنَا، عَنْ أَبِي دَاوُدَ السِّنْجِيِّ قَالَ: سَمِعْتُ الْأَصْمَعِيَّ يَقُولُ: إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى طَالِبِ الْعِلْمِ، إِذَا لَمْ يَعْرِفِ النَّحْوَ أَنْ يَدْخُلَ فِي جُمْلَةِ قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ" لِأَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَكُنْ يَلْحَنُ، فَمَهْمَا رَوَيْتَ عَنْهُ وَلَحَنْتَ فِيهِ كَذَبْتَ عَلَيْهِ.
"Al-Farawi mengabarkan kepada kami dengan qira'ah, dari Imam Abu Jaddi Abu Abdillah Muhammad bin al-Fadhl al-Farawi, dari Abul Husain Abdul Ghafir bin Muhammad al-Farisi, dari Imam Abu Sulaiman Hamad bin Muhammad al-Khaththabi, dari Muhammad bin Mu'adz, dari sebagian sahabatnya, dari Abu Dawud as-Sinji, ia berkata: aku mendengar al-Ashma'i berkata: 'sesungguhnya hal yang paling aku khawatirkan menimpa seorang penuntut ilmu, apabila ia tidak mengerti kaidah nahwu, adalah ia masuk ke dalam golongan yang dimaksud sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: siapa yang berdusta atas namaku, hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka. Sebab, beliau shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah lahn (salah kaidah bahasa). Maka apa pun yang engkau riwayatkan darinya, jika engkau melakukan lahn di dalamnya, berarti engkau telah berdusta atas namanya.'"
قُلْتُ: فَحَقَّ عَلَى طَالِبِ الْحَدِيثِ أَنْ يَتَعَلَّمَ مِنَ النَّحْوِ، وَاللُّغَةِ مَا يَتَخَلَّصُ بِهِ مِنْ شَيْنِ اللَّحْنِ، وَالتَّحْرِيفِ، وَمَعَرَّتِهِمَا.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: maka wajib bagi penuntut hadits mempelajari nahwu dan bahasa secukupnya untuk terbebas dari keburukan lahn dan tahrif serta aib keduanya."
رُوِّينَا ... عَنْ شُعْبَةَ، قَالَ: "مَنْ طَلَبِ الْحَدِيثَ، وَلَمْ يُبْصِرِ الْعَرَبِيَّةَ فَمَثَلُهُ مَثَلُ رَجُلٍ عَلَيْهِ بُرْنُسٌ لَيْسَ لَهُ رَأْسٌ ..."، أَوْ كَمَا قَالَ. وَعَنْ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ، قَالَ: "مَثَلُ الَّذِي يَطْلُبُ الْحَدِيثَ، وَلَا يَعْرِفُ النَّحْوَ مَثَلُ الْحِمَارِ عَلَيْهِ مِخْلَاةٌ لَا شَعِيرَ فِيهَا ...".
"Kami meriwayatkan dari Syu'bah, ia berkata: 'siapa yang menuntut hadits namun tidak mengerti bahasa Arab, perumpamaannya seperti orang yang memakai jubah bertudung namun tidak berkepala...' -atau semisal ucapan itu. Dari Hammad bin Salamah, ia berkata: 'perumpamaan orang yang menuntut hadits namun tidak mengerti nahwu adalah seperti keledai yang membawa kantung pakan namun tidak berisi gandum di dalamnya...'"
وَأَمَّا التَّصْحِيفُ: فَسَبِيلُ السَّلَامَةِ مِنْهُ الْأَخْذُ مِنْ أَفْوَاهِ أَهْلِ الْعِلْمِ، وَالضَّبْطُ، فَإِنَّ مَنْ حُرِمَ ذَلِكَ، وَكَانَ أَخْذُهُ وَتَعَلُّمُهُ مِنْ بُطُونِ الْكُتُبِ، كَانَ مِنْ شَأْنِهِ التَّحْرِيفُ، وَلَمْ يُفْلِتْ مِنَ التَّبْدِيلِ، وَالتَّصْحِيفِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Adapun tashif (salah baca tulisan), jalan keselamatan darinya adalah dengan mengambil ilmu langsung dari lisan para ulama, dan dengan dhabt. Siapa yang tidak mendapatkan itu, dan mengambil serta mempelajari ilmunya hanya dari isi kitab-kitab tertulis, ia rentan melakukan tahrif dan tidak akan terlepas dari penggantian dan tashif. Wallahu a'lam."

Cabang kesembilan:
إِذَا وَقَعَ فِي رِوَايَتِهِ لَحْنٌ، أَوْ تَحْرِيفٌ، فَقَدِ اخْتَلَفُوا، فَمِنْهُمْ مَنْ كَانَ يَرَى أَنَّهُ يَرْوِيهِ عَلَى الْخَطَأِ كَمَا سَمِعَهُ، وَذَهَبَ إِلَى ذَلِكَ مِنَ التَّابِعِينَ مُحَمَّدُ بْنُ سِيرِينَ، وَأَبُو مَعْمَرٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَخْبَرَةَ. وَهَذَا غُلُوٌّ فِي مَذْهَبِ اتِّبَاعِ اللَّفْظِ، وَالْمَنْعِ مِنَ الرِّوَايَةِ بِالْمَعْنَي.
"Apabila dalam suatu riwayat terjadi lahn atau tahrif, para ulama berselisih pendapat. Sebagian berpandangan agar ia tetap meriwayatkannya dengan kesalahan itu, persis sebagaimana ia mendengarnya - pendapat ini dianut Muhammad bin Sirin dan Abu Ma'mar Abdullah bin Sakhbarah dari kalangan tabi'in. Ini adalah sikap berlebihan dalam mazhab mengikuti lafal secara ketat dan melarang periwayatan secara makna."

وَمِنْهُمْ مَنْ رَأَى تَغْيِيرَهُ، وَإِصْلَاحَهُ، وَرِوَايَتَهُ عَلَى الصَّوَابِ، رُوِّينَا ذَلِكَ عَنِ الْأَوْزَاعِيِّ، وَابْنِ الْمُبَارَكِ، وَغَيْرِهِمَا، وَهُوَ مَذْهَبُ الْمُحَصِّلِينَ وَالْعُلَمَاءِ مِنَ الْمُحَدِّثِينَ. وَالْقَوْلُ بِهِ فِي اللَّحْنِ الَّذِي لَا يَخْتَلِفُ بِهِ الْمَعْنَى وَأَمْثَالِهِ لَازِمٌ عَلَى مَذْهَبِ تَجْوِيزِ رِوَايَةِ الْحَدِيثِ بِالْمَعْنَى، وَقَدْ سَبَقَ أَنَّهُ قَوْلُ الْأَكْثَرِينَ.
"Sebagian lain berpandangan mengubah dan memperbaikinya, lalu meriwayatkannya dengan bentuk yang benar - kami meriwayatkan pendapat ini dari al-Auza'i, Ibnul Mubarak, dan selain keduanya, dan inilah mazhab para peneliti dan ulama dari kalangan muhaddits. Pendapat ini, khusus untuk lahn yang tidak mengubah makna dan yang semisalnya, adalah konsekuensi tetap dari mazhab yang membolehkan periwayatan hadits secara makna - dan telah disebutkan sebelumnya bahwa itulah pendapat mayoritas."
وَأَمَّا إِصْلَاحُ ذَلِكَ وَتَغْيِيرُهُ فِي كِتَابِهِ وَأَصْلِهِ، فَالصَّوَابُ تَرْكُهُ، وَتَقْرِيرُ مَا وَقَعَ فِي الْأَصْلِ عَلَى مَا هُوَ عَلَيْهِ، مَعَ التَّضْبِيبِ عَلَيْهِ، وَبَيَانِ الصَّوَابِ خَارِجًا فِي الْحَاشِيَةِ، فَإِنَّ ذَلِكَ أَجْمَعُ لِلْمَصْلَحَةِ وَأَنْفَى لِلْمَفْسَدَةِ.
"Adapun memperbaiki dan mengubahnya langsung di dalam kitab dan naskah aslinya, yang benar adalah meninggalkannya - membiarkan apa yang terjadi dalam naskah asli tetap sebagaimana adanya, disertai tadbib padanya, dan menjelaskan bentuk yang benar secara terpisah di catatan pinggir. Sebab, cara ini paling menghimpun maslahat dan paling menjauhkan dari mafsadat."
وَقَدْ رُوِّينَا أَنَّ بَعْضَ أَصْحَابِ الْحَدِيثِ رُئِيَ فِي الْمَنَامِ، وَكَأَنَّهُ قَدْ مَرَّ مِنْ شَفَتِهِ، أَوْ لِسَانِهِ شَيْءٌ، فَقِيلَ لَهُ فِي ذَلِكَ، فَقَالَ: "لَفْظَةٌ مِنْ حَدِيثِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ غَيَّرْتُهَا بِرَأْيِي، فَفُعِلَ بِي هَذَا".
"Kami meriwayatkan bahwa seorang ahli hadits terlihat dalam mimpi seakan ada sesuatu yang berlalu dari bibir atau lisannya. Ia ditanya tentang hal itu, lalu menjawab: 'itu adalah sebuah lafal dari hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa 'ala alihi wasallam yang aku ubah dengan pendapatku sendiri, maka aku diperlakukan seperti ini.'"
وَكَثِيرًا مَا نَرَى مَا يَتَوَهَّمُهُ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ خَطَأً - وَرُبَّمَا غَيَّرُوهُ - صَوَابًا ذَا وَجْهٍ صَحِيحٍ، وَإِنْ خَفِيَ، وَاسْتُغْرِبَ لَا سِيَّمَا فِيمَا يَعُدُّونَهُ خَطَأً مِنْ جِهَةِ الْعَرَبِيَّةِ، وَذَلِكَ لِكَثْرَةِ لُغَاتِ الْعَرَبِ وَتَشَعُّبِهَا.
"Sering kali kami dapati apa yang disangka salah oleh banyak ahli ilmu -bahkan terkadang mereka mengubahnya- ternyata benar dengan sisi kebenaran yang sah, sekalipun tersembunyi dan terasa asing, terutama pada apa yang mereka anggap salah dari sisi bahasa Arab - hal ini karena banyaknya ragam dialek bahasa Arab dan percabangannya."
وَرُوِّينَا عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ قَالَ: "كَانَ إِذَا مَرَّ بِأَبِي لَحْنٌ فَاحِشٌ غَيَّرَهُ، وَإِذَا كَانَ لَحْنًا سَهْلًا تَرَكَهُ، وَقَالَ: كَذَا قَالَ الشَّيْخُ".
"Kami meriwayatkan dari Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, ia berkata: 'apabila ayahku menjumpai lahn yang parah, ia mengubahnya. Namun apabila lahn itu ringan, ia membiarkannya dan berkata: demikianlah kata sang guru.'"
وَأَخْبَرَنِي بَعْضُ أَشَياخِنَا: عَمَّنْ أَخْبَرَهُ عَنِ الْقَاضِي الْحَافِظِ عِيَاضٍ بِمَا مَعْنَاهُ، وَاخْتِصَارُهُ: "أَنَّ الَّذِي اسْتَمَرَّ عَلَيْهِ عَمَلُ أَكْثَرِ الْأَشْيَاخِ أَنْ يَنْقُلُوا الرِّوَايَةَ كَمَا وَصَلَتْ إِلَيْهِمْ، وَلَا يُغَيِّرُوهَا فِي كُتُبِهِمْ حَتَّى فِي أَحْرُفٍ مِنَ الْقُرْآنِ، اسْتَمَرَّتِ الرِّوَايَةُ فِيهَا فِي الْكُتُبِ عَلَى خِلَافِ التِّلَاوَةِ الْمُجْمَعِ عَلَيْهَا، وَمِنْ غَيْرِ أَنْ يَجِيءَ ذَلِكَ فِي الشَّوَاذِّ. وَمِنْ ذَلِكَ مَا وَقَعَ فِي "الصَّحِيحَيْنِ"، وَ "الْمُوَطَّأِ"، وَغَيْرِهَا، لَكِنَّ أَهْلَ الْمَعْرِفَةِ مِنْهُمْ يُنَبِّهُونَ عَلَى خَطَئِهَا عِنْدَ السَّمَاعِ، وَالْقِرَاءَةِ، وَفِي حَوَاشِي الْكُتُبِ، مَعَ تَقْرِيرِهِمْ مَا فِي الْأُصُولِ عَلَى مَا بَلَغَهُمْ.
"Sebagian guru kami mengabarkan kepadaku, dari orang yang mengabarkan kepadanya dari Al-Qadhi al-Hafizh Iyadh, maknanya dan ringkasannya: 'yang menjadi kebiasaan tetap mayoritas guru adalah menukil riwayat persis sebagaimana sampai kepada mereka, dan tidak mengubahnya di dalam kitab-kitab mereka, bahkan pada huruf-huruf Al-Qur'an sekalipun - riwayat pada bagian itu tetap berlaku dalam kitab-kitab menyelisihi bacaan yang telah disepakati, tanpa termasuk dalam kategori bacaan syadz. Di antaranya terjadi dalam kedua kitab Shahih, al-Muwaththa', dan lainnya. Hanya saja ulama yang mengetahui hal itu memberi peringatan atas kesalahannya saat sama' dan qira'ah, serta di catatan pinggir kitab, sembari tetap menetapkan apa yang ada dalam naskah asli sesuai apa yang sampai kepada mereka.'"
وَمِنْهُمْ مَنْ جَسَرَ عَلَى تَغْيِيرِ الْكُتُبِ، وَإِصْلَاحِهَا، مِنْهُمْ أَبُو الْوَلِيدِ هِشَامُ بْنُ أَحْمَدَ الْكِنَانِيُّ الْوَقَشِيُّ، فَإِنَّهُ - لِكَثْرَةِ مُطَالَعَتِهِ وَافْتِتَانِهِ، وَثُقُوبِ فَهْمِهِ، وَحِدَّةِ ذِهْنِهِ - جَسَرَ عَلَى الْإِصْلَاحِ كَثِيرًا، وَغَلِطَ فِي أَشْيَاءَ مِنْ ذَلِكَ، وَكَذَلِكَ غَيْرُهُ مِمَّنْ سَلَكَ مَسْلَكَهُ.
"Sebagian ulama lain berani mengubah dan memperbaiki kitab-kitab, di antaranya Abul Walid Hisyam bin Ahmad al-Kinani al-Waqasyi - karena banyaknya bacaan dan kegemarannya, ketajaman pemahamannya, dan kecerdasan pikirannya, ia berani banyak melakukan perbaikan, namun ia keliru dalam beberapa hal darinya, begitu pula ulama lain yang menempuh jalannya."
فَالْأَوْلَى سَدُّ بَابِ التَّغْيِيرِ، وَالْإِصْلَاحِ، لِئَلَّا يَجْسُرَ عَلَى ذَلِكَ مَنْ لَا يُحْسِنُ، وَهُوَ أَسْلَمُ مَعَ التَّبْيِينِ، فَيَذْكُرُ ذَلِكَ عِنْدَ السَّمَاعِ كَمَا وَقَعَ، ثُمَّ يَذْكُرُ وَجْهَ صَوَابِهِ إِمَّا مِنْ جِهَةِ الْعَرَبِيَّةِ، وَإِمَّا مِنْ جِهَةِ الرِّوَايَةِ، وَإِنْ شَاءَ قَرَأَهُ، أَوَّلًا عَلَى الصَّوَابِ، ثُمَّ قَالَ: "وَقَعَ عِنْدَ شَيْخِنَا، أَوْ فِي رِوَايَتِنَا، أَوْ مِنْ طَرِيقِ فُلَانٍ كَذَا وَكَذَا". وَهَذَا أَوْلَى مِنَ الْأَوَّلِ، كَيْلَا يَتَقَوَّلَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا لَمْ يَقُلْ.
"Maka yang lebih utama adalah menutup pintu pengubahan dan perbaikan, agar tidak berani melakukannya orang yang tidak menguasainya. Ini lebih aman disertai penjelasan, yaitu ia menyebutkan hal itu saat sama' persis sebagaimana terjadi, kemudian menyebutkan bentuk yang benar, baik dari sisi bahasa Arab maupun dari sisi periwayatan. Atau jika ia mau, ia membacanya terlebih dahulu dengan bentuk yang benar, lalu berkata: 'demikianlah yang terjadi pada naskah guru kami, atau dalam riwayat kami, atau dari jalur fulan, demikian dan demikian.' Ini lebih utama daripada cara pertama, agar tidak dikatakan bahwa ia mengada-adakan atas nama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam apa yang tidak beliau katakan."
وَأَصْلَحُ مَا يُعْتَمَدُ عَلَيْهِ فِي الْإِصْلَاحِ أَنْ يَكُونَ مَا يُصْلَحُ بِهِ الْفَاسِدُ قَدْ وَرَدَ فِي أَحَادِيثَ أُخَرَ، فَإِنْ ذَاكَرَهُ آمِنٌ مِنْ أَنْ يَكُونَ مُتَقَوِّلًا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا لَمْ يَقُلْ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Sandaran terbaik dalam melakukan perbaikan adalah apabila bentuk yang digunakan untuk memperbaiki yang rusak itu memang telah datang dalam hadits-hadits lain, sehingga orang yang membicarakannya aman dari tuduhan mengada-adakan atas nama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam apa yang tidak beliau katakan. Wallahu a'lam."2

Cabang kesepuluh:
إِذَا كَانَ الْإِصْلَاحُ بِزِيَادَةِ شَيْءٍ قَدْ سَقَطَ: فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي ذَلِكَ مُغَايَرَةٌ فِي الْمَعْنَى، فَالْأَمْرُ فِيهِ عَلَى مَا سَبَقَ، وَذَلِكَ كَنَحْوِ مَا رُوِيَ عَنْ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قِيلَ لَهُ: "أَرَأَيْتَ حَدِيثَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُزَادُ فِيهِ الْوَاوُ وَالْأَلِفُ، وَالْمَعْنَى وَاحِدٌ؟ فَقَالَ: أَرْجُو أَنْ يَكُونَ خَفِيفًا".
"Apabila perbaikan itu berupa penambahan sesuatu yang terlewat: jika tidak ada perbedaan makna di dalamnya, hukumnya sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya - seperti yang diriwayatkan dari Malik radhiyallahu 'anhu, bahwa ia ditanya: 'bagaimana pendapatmu tentang hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang ditambahkan padanya huruf wau atau alif, sementara maknanya tetap satu?' Ia menjawab: 'aku berharap itu perkara yang ringan (tidak mengapa).'"

وَإِنْ كَانَ الْإِصْلَاحُ بِالزِّيَادَةِ يَشْتَمِلُ عَلَى مَعْنَى مُغَايِرٍ لِمَا وَقَعَ فِي الْأَصَلِ تَأَكَّدَ فِيهِ الْحُكْمُ بِأَنَّهُ يَذْكُرُ مَا فِي الْأَصْلِ مَقْرُونًا بِالتَّنْبِيهِ عَلَى مَا سَقَطَ، لِيَسْلَمَ مِنْ مَعَرَّةِ الْخَطَأِ، وَمِنْ أَنْ يَقُولَ عَلَى شَيْخِهِ مَا لَمْ يَقُلْ.
"Namun jika perbaikan dengan tambahan itu mengandung makna yang berbeda dari apa yang terdapat dalam naskah asli, semakin ditegaskan hukumnya bahwa ia harus menyebutkan apa yang ada di naskah asli disertai peringatan atas apa yang terlewat, agar ia selamat dari aib kesalahan dan dari menuduhkan pada gurunya perkataan yang tidak pernah ia ucapkan."
حَدَّثَ أَبُو نُعَيْمٍ الْفَضْلُ بْنُ دُكَيْنٍ، عَنْ شَيْخٍ لَهُ بِحَدِيثٍ قَالَ فِيهِ: "عَنْ بُحَيْنَةَ"، فَقَالَ أَبُو نُعَيْمٍ: إِنَّمَا هُوَ "ابْنُ بُحَيْنَةَ"، وَلَكِنَّهُ قَالَ "بُحَيْنَةَ".
"Abu Nu'aim al-Fadhl bin Dukain meriwayatkan hadits dari gurunya, yang di dalamnya guru itu berkata: 'dari Buhainah'. Abu Nu'aim berkata: 'yang benar adalah Ibnu Buhainah, namun ia (guru) mengatakannya Buhainah (tanpa Ibnu).'"
وَإِذَا كَانَ مِنْ دُونِ مَوْضِعِ الْكَلَامِ السَّاقِطِ مَعْلُومًا أَنَّهُ قَدْ أُتِيَ بِهِ، وَإِنَّمَا أَسْقَطَهُ مَنْ بَعْدَهُ، فَفِيهِ وَجْهٌ آخَرُ، وَهُوَ أَنْ يُلْحَقَ السَّاقِطُ فِي مَوْضِعِهِ مِنَ الْكِتَابِ مَعَ كَلِمَةِ (يَعْنِي) كَمَا فَعَلَ الْخَطِيبُ الْحَافِظُ، إِذْ رَوَى عَنِ ابْنِ عُمَرَ بْنِ مَهْدِيٍّ، عَنِ الْقَاضِي الْمَحَامِلِيِّ بِإِسْنَادِهِ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَمْرَةَ بِنْتِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ - تَعْنِي عَنْ عَائِشَةَ - أَنَّهَا قَالَتْ: "كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُدْنِي إِلَيَّ رَأْسَهُ، فَأُرَجِّلُهُ".
"Apabila diketahui bahwa perawi di bawah tempat kata yang terlewat itu memang membawakannya dengan benar, dan yang menggugurkannya justru perawi setelahnya - ada cara lain: yaitu bagian yang terlewat itu disambungkan pada tempatnya dalam kitab disertai kata (ya'ni - maksudnya), sebagaimana dilakukan al-Khathib al-Hafizh, ketika ia meriwayatkan dari Ibnu Umar bin Mahdi, dari Al-Qadhi al-Mahamili dengan sanadnya, dari Urwah, dari Amrah binti Abdirrahman -maksudnya: dari Aisyah- bahwa ia berkata: 'Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam biasa mendekatkan kepalanya kepadaku, lalu aku sisirkan.'"
قَالَ الْخَطِيبُ: "كَانَ فِي أَصْلِ ابْنِ مَهْدِيٍّ" عَنْ عَمْرَةَ أَنَّهَا قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُدْنِي إِلَيَّ رَأْسَهُ"، فَأَلْحَقْنَا فِيهِ ذِكْرَ عَائِشَةَ إِذْ لَمْ يَكُنْ مِنْهُ بُدٌّ، وَعَلِمْنَا أَنَّ الْمَحَامِلِيَّ كَذَلِكَ رَوَاهُ، وَإِنَّمَا سَقَطَ مِنْ كِتَابِ شَيْخِنَا أَبِي عُمَرَ، وَقُلْنَا فِيهِ: "تَعْنِي عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا" لِأَجْلِ أَنَّ ابْنَ مَهْدِيٍّ لَمْ يَقُلْ لَنَا ذَلِكَ، وَهَكَذَا رَأَيْتُ غَيْرَ وَاحِدٍ مِنْ شُيُوخِنَا يَفْعَلُ فِي مِثْلِ هَذَا، ثُمَّ ذَكَرَ بِإِسْنَادِهِ عَنْ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: ... سَمِعْتُ وَكِيعًا يَقُولُ: إِنَّا لَنَسْتَعِينُ فِي الْحَدِيثِ بِـ "يَعْنِي".
"Al-Khathib berkata: 'dalam naskah asli Ibnu Mahdi tertulis: dari Amrah, bahwa ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam biasa mendekatkan kepalanya kepadaku - maka kami menyambungkan padanya penyebutan Aisyah karena memang tidak ada jalan lain, dan kami tahu bahwa al-Mahamili memang meriwayatkannya demikian, hanya saja bagian itu terlewat dari kitab guru kami Abu Umar. Kami menuliskan padanya: maksudnya dari Aisyah radhiyallahu 'anha, karena Ibnu Mahdi sendiri tidak mengatakannya kepada kami secara eksplisit. Aku melihat tidak sedikit guru kami melakukan hal serupa dalam kasus semacam ini.' Kemudian al-Khathib menyebutkan dengan sanadnya dari Ahmad bin Hanbal radhiyallahu 'anhu, ia berkata: ...aku mendengar Waki' berkata: 'kami sering menolong diri dalam hadits dengan kata yajni (maksudnya).'"
قُلْتُ: وَهَذَا إِذَا كَانَ شَيْخُهُ قَدْ رَوَاهُ لَهُ عَلَى الْخَطَأِ. فَأَمَّا إِذَا وَجَدَ ذَلِكَ فِي كِتَابِهِ، وَغَلَبَ عَلَى ظَنِّهِ أَنَّ ذَلِكَ مِنَ الْكِتَابِ لَا مِنْ شَيْخِهِ، فَيَتَّجِهُ هَاهُنَا إِصْلَاحُ ذَلِكَ فِي كِتَابِهِ، وَفِي رِوَايَتِهِ عِنْدَ تَحْدِيثِهِ بِهِ مَعًا.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: ini berlaku jika gurunya memang meriwayatkannya kepadanya dengan kesalahan itu. Namun jika ia mendapati kesalahan itu dalam kitabnya sendiri, dan dugaan kuatnya menunjukkan bahwa itu berasal dari kesalahan penulisan kitab, bukan dari gurunya, maka di sini boleh baginya memperbaikinya baik dalam kitabnya maupun dalam periwayatannya saat ia menceritakannya sekaligus."
ذَكَرَ أَبُو دَاوُدَ أَنَّهُ قَالَ لِأَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ: وَجَدْتُ فِي كِتَابِي (حَجَّاجٌ، عَنْ جُرَيْجٍ، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ) يَجُوزُ لِي أَنْ أُصْلِحَهُ (ابْنَ جُرَيْجٍ)؟ فَقَالَ: "أَرْجُو أَنْ يَكُونَ هَذَا لَا بَأْسَ بِهِ"، (وَاللَّهُ أَعْلَمُ).
"Abu Dawud menyebutkan bahwa ia bertanya kepada Ahmad bin Hanbal: 'aku mendapati dalam kitabku tertulis (Hajjaj, dari Juraij, dari Abu az-Zubair), bolehkah aku memperbaikinya menjadi (Ibnu Juraij)?' Ahmad menjawab: 'aku berharap ini tidak mengapa.' Wallahu a'lam."
وَهَذَا مِنْ قَبِيلِ مَا إِذَا دَرَسَ مِنْ كِتَابِهِ بَعْضُ الْإِسْنَادِ، أَوِ الْمَتْنِ، فَإِنَّهُ يَجُوزُ لَهُ اسْتِدْرَاكُهُ مِنْ كِتَابِ غَيْرِهِ، إِذَا عَرَفَ صِحَّتَهُ وَسَكَنَتْ نَفْسُهُ إِلَى أَنَّ ذَلِكَ هُوَ السَّاقِطُ مِنْ كِتَابِهِ، وَإِنْ كَانَ فِي الْمُحَدِّثِينَ مَنْ لَا يَسْتَجِيزُ ذَلِكَ. وَمِمَّنْ فَعَلَ ذَلِكَ نُعَيْمُ بْنُ حَمَّادٍ فِيمَا رَوَى عَنْ يَحْيَى بْنِ مَعِينٍ، عَنْهُ، قَالَ الْخَطِيبُ الْحَافِظُ: "وَلَوْ بُيِّنَ ذَلِكَ فِي حَالِ الرِّوَايَةِ كَانَ أَوْلَى".
"Ini termasuk kategori kasus apabila sebagian sanad atau matan dalam kitabnya sudah usang/rusak tak terbaca, maka boleh baginya memperbaikinya dari kitab orang lain, apabila ia mengetahui kebenarannya dan hatinya tenang bahwa itu memang bagian yang terlewat dari kitabnya - sekalipun ada di antara para muhaddits yang tidak membolehkan hal itu. Di antara yang melakukannya adalah Nu'aim bin Hammad, sebagaimana diriwayatkan Yahya bin Ma'in darinya. Al-Khathib al-Hafizh berkata: 'seandainya hal itu dijelaskan pada saat periwayatan, tentu lebih utama.'"
وَهَكَذَا الْحُكْمُ فِي اسْتِثْبَاتِ الْحَافِظِ مَا شَكَّ فِيهِ مِنْ كِتَابِ غَيْرِهِ، أَوْ مِنْ حِفْظِهِ، وَذَلِكَ مَرْوِيٌّ عَنْ غَيْرِ وَاحِدٍ مِنْ أَهْلِ الْحَدِيثِ، مِنْهُمْ عَاصِمٌ، وَأَبُو عَوَانَةَ، وَأَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ.
"Demikian pula hukumnya untuk seorang hafizh yang memastikan kembali apa yang ia ragukan dari kitab orang lain atau dari hafalannya sendiri - hal ini diriwayatkan dari tidak sedikit ahli hadits, di antaranya Ashim, Abu Awanah, dan Ahmad bin Hanbal."
وَكَانَ بَعْضُهُمْ يُبَيِّنُ مَا ثَبَّتَهُ فِيهِ غَيْرُهُ، فَيَقُولُ: "حَدَّثَنَا فُلَانٌ، وَثَبَّتَنِي فُلَانٌ" كَمَا رُوِيَ عَنْ يَزِيدَ بْنِ هَارُونَ أَنَّهُ قَالَ: "أَخْبَرَنَا عَاصِمٌ، وَثَبَّتَنِي شُعْبَةُ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَرْجِسَ".
"Sebagian ulama menjelaskan apa yang dipastikan orang lain untuknya, dengan berkata: 'fulan menceritakan kepada kami, dan fulan memastikannya untukku' - sebagaimana diriwayatkan dari Yazid bin Harun, ia berkata: 'Ashim mengabarkan kepada kami, dan Syu'bah memastikannya untukku, dari Abdullah bin Sarjis.'"
وَهَكَذَا الْأَمْرُ فِيمَا إِذَا وَجَدَ فِي أَصْلِ كِتَابِهِ كَلِمَةً مِنْ غَرِيبِ الْعَرَبِيَّةِ، أَوْ غَيْرِهَا غَيْرَ مُقَيَّدَةٍ، وَأَشْكَلَتْ عَلَيْهِ، فَجَائِزٌ أَنْ يَسْأَلَ عَنْهَا أَهْلَ الْعِلْمِ بِهَا، وَيَرْوِيَهَا عَلَى مَا يُخْبِرُونَهُ بِهِ. رُوِيَ مِثْلُ ذَلِكَ عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ رَاهْوَيْهِ، وَأَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ، وَغَيْرِهِمَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Demikian pula halnya apabila seseorang mendapati dalam naskah asli kitabnya sebuah kata dari bahasa Arab yang gharib (asing) atau semisalnya, tanpa harakat, dan terasa rumit baginya - boleh baginya bertanya tentangnya kepada ahli bahasa itu, dan meriwayatkannya sesuai apa yang mereka beritahukan kepadanya. Hal serupa diriwayatkan dari Ishaq bin Rahawaih, Ahmad bin Hanbal, dan selain keduanya radhiyallahu 'anhum. Wallahu a'lam."

Cabang kesebelas:
إِذَا كَانَ الْحَدِيثُ عِنْدَ الرَّاوِي عَنِ اثْنَيْنِ، أَوْ أَكْثَرَ، وَبَيْنَ رِوَايَتِهِمَا تَفَاوُتٌ فِي اللَّفْظِ وَالْمَعْنَى وَاحِدٌ، كَانَ لَهُ أَنْ يَجْمَعَ بَيْنَهُمَا فِي الْإِسْنَادِ، ثُمَّ يَسُوقُ الْحَدِيثَ عَلَى لَفْظِ أَحَدِهِمَا خَاصَّةً، وَيَقُولُ: "أَخْبَرَنَا فُلَانٌ، وَفُلَانٌ، وَاللَّفْظُ لِفُلَانٍ، أَوْ وَهَذَا لَفْظُ فُلَانٍ، قَالَ، أَوْ قَالَا: أَخْبَرَنَا فُلَانٌ"، أَوْ مَا أَشْبَهَ ذَلِكَ مِنَ الْعِبَارَاتِ.
"Apabila seorang perawi memiliki hadits dari dua orang guru atau lebih, dan di antara riwayat keduanya terdapat perbedaan lafal namun maknanya satu, ia boleh menggabungkan keduanya dalam satu sanad, kemudian membawakan hadits itu dengan lafal salah satunya secara khusus, sambil berkata: 'fulan dan fulan mengabarkan kepada kami, dan lafalnya milik fulan', atau 'ini lafal fulan, ia berkata, atau keduanya berkata: fulan mengabarkan kepada kami', atau ungkapan-ungkapan lain yang serupa itu."

وَلِمُسْلِمٍ صَاحِبِ الصَّحِيحِ مَعَ هَذَا فِي ذَلِكَ عِبَارَةٌ أُخْرَى حَسَنَةٌ مِثْلُ قَوْلِهِ: "حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَأَبُو سَعِيدٍ الْأَشَجُّ كِلَاهُمَا عَنْ أَبِي خَالِدٍ، قَالَ أَبُو بَكْرٍ: حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ الْأَحْمَرُ، عَنِ الْأَعْمَشِ، وَسَاقَ الْحَدِيثَ". فَإِعَادَتُهُ ثَانِيًا ذِكْرَ أَحَدِهِمَا خَاصَّةً إِشْعَارٌ بِأَنَّ اللَّفْظَ الْمَذْكُورَ لَهُ.
"Muslim, penulis kitab Shahih, memiliki ungkapan lain yang baik untuk kasus ini, seperti ucapannya: 'Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Abu Sa'id al-Asyajj menceritakan kepada kami, keduanya dari Abu Khalid. Abu Bakr berkata: Abu Khalid al-Ahmar menceritakan kepada kami, dari al-A'masy - lalu ia membawakan haditsnya.' Pengulangan penyebutan salah satunya secara khusus di bagian kedua ini memberi kesan bahwa lafal yang disebutkan itu memang miliknya."
وَأَمَّا إِذَا لَمْ يَخُصَّ لَفْظَ أَحَدِهِمَا بِالذِّكْرِ، بَلْ أَخَذَ مِنْ لَفْظِ هَذَا، وَمِنْ لَفْظِ ذَاكَ، وَقَالَ "أَخْبَرَنَا فُلَانٌ، وَفُلَانٌ، وَتَقَارَبَا فِي اللَّفْظِ، قَالَا: أَخْبَرَنَا فُلَانٌ" فَهَذَا غَيْرُ مُمْتَنِعٍ عَلَى مَذْهَبِ تَجْوِيزِ الرِّوَايَةِ بِالْمَعْنَى.
"Adapun apabila ia tidak mengkhususkan lafal salah satunya secara jelas, melainkan mengambil sebagian dari lafal yang satu dan sebagian dari lafal yang lain, lalu berkata: 'fulan dan fulan mengabarkan kepada kami, dan keduanya berdekatan lafalnya, mereka berkata: fulan mengabarkan kepada kami' - ini tidak terlarang menurut mazhab yang membolehkan periwayatan secara makna."
وَقَوْلُ أَبِي دَاوُدَ - صَاحِبِ السُّنَنِ -: "حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، وَأَبُو تَوْبَةَ - الْمَعْنَى - قَالَا: حَدَّثَنَا أَبُو الْأَحْوَصِ" مَعَ أَشْبَاهٍ لِهَذَا فِي كِتَابِهِ، يُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ مِنْ قَبِيلِ الْأَوَّلِ، فَيَكُونُ اللَّفْظُ لِمُسَدَّدٍ، وَيُوَافِقُهُ أَبُو تَوْبَةَ فِي الْمَعْنَى. وَيُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ مِنْ قَبِيلِ الثَّانِي، فَلَا يَكُونُ قَدْ أَوْرَدَ لَفْظَ أَحَدِهِمَا خَاصَّةً، بَلْ رَوَاهُ بِالْمَعْنَى عَنْ كِلَيْهِمَا، وَهَذَا الِاحْتِمَالُ يَقْرُبُ فِي قَوْلِهِ: "حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، وَمُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ - الْمَعْنَى وَاحِدٌ - قَالَا: حَدَّثَنَا أَبَانٌ".
"Ucapan Abu Dawud, penulis kitab as-Sunan: 'Musaddad dan Abu Taubah menceritakan kepada kami -maknanya sama- keduanya berkata: Abul Ahwash menceritakan kepada kami', bersama contoh-contoh serupa dalam kitabnya, bisa jadi termasuk kategori pertama, sehingga lafalnya milik Musaddad, dan Abu Taubah sepakat dengannya secara makna. Bisa jadi pula termasuk kategori kedua, sehingga ia tidak membawakan lafal salah satunya secara khusus, melainkan meriwayatkannya secara makna dari keduanya sekaligus. Kemungkinan kedua ini lebih dekat pada ucapannya: 'Muslim bin Ibrahim dan Musa bin Isma'il menceritakan kepada kami -maknanya satu- keduanya berkata: Aban menceritakan kepada kami.'"
وَأَمَّا إِذَا جَمَعَ بَيْنَ جَمَاعَةِ رُوَاةٍ قَدِ اتَّفَقُوا فِي الْمَعْنَى، وَلَيْسَ مَا أَوْرَدَهُ لَفْظَ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ، وَسَكَتَ عَنِ الْبَيَانِ لِذَلِكَ، فَهَذَا مِمَّا عِيبَ بِهِ الْبُخَارِيُّ، أَوْ غَيْرُهُ، وَلَا بَأْسَ بِهِ عَلَى مُقْتَضَى مَذْهَبِ تَجْوِيزِ الرِّوَايَةِ بِالْمَعْنَى.
"Adapun apabila seseorang menggabungkan sejumlah perawi yang sepakat secara makna, sementara apa yang ia bawakan bukan lafal masing-masing mereka secara persis, dan ia diam tanpa menjelaskan hal itu - ini termasuk hal yang dikritik dari al-Bukhari atau lainnya, namun tidak mengapa menurut konsekuensi mazhab yang membolehkan periwayatan secara makna."
وَإِذَا سَمِعَ كِتَابًا مُصَنَّفًا مِنْ جَمَاعَةٍ، ثُمَّ قَابَلَ نُسْخَتَهُ بِأَصْلِ بَعْضِهِمْ دُونَ بَعْضٍ، وَأَرَادَ أَنْ يَذْكُرَ جَمِيعَهُمْ فِي الْإِسْنَادِ، وَيَقُولَ: "وَاللَّفْظُ لِفُلَانٍ" كَمَا سَبَقَ، فَهَذَا يُحْتَمَلُ أَنْ يَجُوزَ كَالْأَوَّلِ؛ لِأَنَّ مَا أَوْرَدَهُ قَدْ سَمِعَهُ بِنَصِّهِ مِمَّنْ ذَكَرَ أَنَّهُ بِلَفْظِهِ.
"Apabila seseorang mendengar sebuah kitab tersusun dari sekelompok perawi, lalu mencocokkan naskahnya dengan naskah asli sebagian mereka saja tanpa yang lain, namun hendak menyebutkan mereka semua dalam sanad dan berkata: 'lafalnya milik fulan' sebagaimana telah disebutkan - ini bisa jadi boleh seperti kasus pertama, karena apa yang ia bawakan memang telah ia dengar secara persis dari orang yang disebutkan bahwa itu adalah lafalnya."
وَيُحْتَمَلُ أَنْ لَا يَجُوزَ، لِأَنَّهُ لَا عِلْمَ عِنْدَهُ بِكَيْفِيَّةِ رِوَايَةِ الْآخَرِينَ حَتَّى يُخْبِرَ عَنْهَا، بِخِلَافِ مَا سَبَقَ، فَإِنَّهُ اطَّلَعَ عَلَى رِوَايَةِ غَيْرِ مَنْ نَسَبَ اللَّفْظَ إِلَيْهِ وَعَلَى مُوَافَقَتِهِمَا مِنْ حَيْثُ الْمَعْنَى، فَأَخْبَرَ بِذَلِكَ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Bisa jadi pula tidak boleh, karena ia tidak mengetahui bentuk periwayatan perawi-perawi lain hingga dapat mengabarkannya - berbeda dengan kasus sebelumnya, di mana ia telah mengetahui riwayat selain orang yang dinisbatkan lafal kepadanya dan mengetahui kesesuaian keduanya secara makna, sehingga ia mengabarkan hal itu. Wallahu a'lam."

Cabang kedua belas:
لَيْسَ لَهُ أَنْ يَزِيدَ فِي نَسَبٍ مَنْ فَوْقَ شَيْخِهِ مِنْ رِجَالِ الْإِسْنَادِ عَلَى مَا ذَكَرَهُ شَيْخُهُ مُدْرِجًا عَلَيْهِ مِنْ غَيْرِ فَصْلٍ مُمَيَّزٍ، فَإِنْ أَتَى بِفَصْلٍ جَازَ، مِثْلُ أَنْ يَقُولَ: (هُوَ ابْنُ فُلَانٍ الْفُلَانِيُّ) أَوْ (يَعْنِي: ابْنَ فُلَانٍ)، وَنَحْوَ ذَلِكَ.
"Tidak boleh baginya menambahkan pada nasab perawi di atas gurunya melebihi apa yang disebutkan gurunya, dengan menyisipkannya tanpa pemisah yang jelas. Namun jika ia memberikan pemisah, boleh - misalnya berkata: '(ia adalah) Ibnu fulan al-fulani', atau '(maksudnya): Ibnu fulan', dan semisalnya."

وَذَكَرَ الْحَافِظُ الْإِمَامُ أَبُو بَكْرٍ الْبَرْقَانِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ فِي كِتَابِ (اللُّقَطِ) لَهُ بِإِسْنَادِهِ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ الْمَدِينِيِّ، قَالَ: إِذَا حَدَّثَكَ الرَّجُلُ، فَقَالَ: حَدَّثَنَا فُلَانٌ، وَلَمْ يَنْسِبْهُ، فَأَحْبَبْتَ أَنْ تَنْسِبَهُ، فَقُلْ: (حَدَّثَنَا فُلَانٌ، أَنَّ فُلَانَ بْنَ فُلَانٍ، حَدَّثَهُ)، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Al-Hafizh al-Imam Abu Bakr al-Barqani rahimahullah menyebutkan dalam kitabnya al-Luqath dengan sanadnya, dari Ali bin al-Madini, ia berkata: 'apabila seseorang menceritakan hadits kepadamu dan berkata: fulan menceritakan kepada kami, tanpa menyebutkan nasabnya, lalu engkau ingin menyebutkan nasabnya, katakanlah: fulan menceritakan kepada kami, bahwa fulan bin fulan menceritakan kepadanya.' Wallahu a'lam."
وَأَمَّا إِذَا كَانَ شَيْخُهُ قَدْ ذَكَرَ نَسَبَ شَيْخِهِ، أَوْ صِفَتَهُ، فِي أَوَّلِ كِتَابٍ أَوْ جُزْءٍ عِنْدَ أَوَّلِ حَدِيثٍ مِنْهُ، وَاقْتَصَرَ فِيمَا بَعْدَهُ مِنَ الْأَحَادِيثِ عَلَى ذِكْرِ اسْمِ الشَّيْخِ، أَوْ بَعْضِ نَسَبِهِ، مِثَالُهُ: أَنْ أَرْوِيَ جُزْءًا عَنِ الْفُرَاوِيِّ، وَأَقُولَ فِي أَوَّلِهِ: "أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرٍ مَنْصُورُ بْنُ عَبْدِ الْمُنْعِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْفُرَاوِيُّ، قَالَ: أَخْبَرَنَا فُلَانٌ"، وَأَقُولُ فِي بَاقِي أَحَادِيثِهِ: "أَخْبَرَنَا مَنْصُورٌ، أَخْبَرَنَا مَنْصُورٌ"، فَهَلْ يَجُوزُ لِمَنْ سَمِعَ ذَلِكَ الْجُزْءَ مِنِّي أَنْ يَرْوِيَ عَنِّي الْأَحَادِيثَ الَّتِي بَعْدَ الْحَدِيثِ الْأَوَّلِ مُتَفَرِّقَةً، وَيَقُولُ فِي كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهَا: "أَنَا فُلَانٌ، قَالَ: أَنَا أَبُو بَكْرٍ مَنْصُورُ بْنُ عَبْدِ الْمُنْعِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْفُرَاوِيُّ، قَالَ: أَنَا فُلَانٌ) وَإِنْ لَمْ أَذْكُرْ لَهُ ذَلِكَ فِي كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهَا، اعْتِمَادًا عَلَى ذِكْرِي لَهُ أَوَّلًا؟
"Adapun apabila gurunya sendiri telah menyebutkan nasab atau sifat gurunya (guru dari gurunya) di awal sebuah kitab atau juz, pada hadits pertama darinya, lalu pada hadits-hadits berikutnya hanya membatasi diri menyebutkan nama gurunya saja atau sebagian nasabnya - misalnya: aku meriwayatkan sebuah juz dari al-Farawi, dan aku katakan di awalnya: 'Abu Bakr Manshur bin Abdil Mun'im bin Abdillah al-Farawi mengabarkan kepada kami, ia berkata: fulan mengabarkan kepada kami', lalu pada sisa hadits-haditsnya aku hanya katakan: 'Manshur mengabarkan kepada kami, Manshur mengabarkan kepada kami' - apakah boleh bagi orang yang mendengar juz itu dariku untuk meriwayatkan dariku hadits-hadits setelah hadits pertama itu secara terpisah, dengan mengatakan pada setiap satunya: 'fulan mengabarkan kepadaku, ia berkata: Abu Bakr Manshur bin Abdil Mun'im bin Abdillah al-Farawi mengabarkan kepadaku, ia berkata: fulan mengabarkan kepadaku', sekalipun aku tidak menyebutkan itu secara lengkap pada setiap satunya, hanya mengandalkan penyebutanku di awal?"
فَهَذَا قَدْ حَكَى الْخَطِيبُ الْحَافِظُ عَنْ أَكْثَرِ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّهُمْ أَجَازُوهُ، وَعَنْ بَعْضِهِمْ أَنَّ الْأَوْلَى أَنْ يَقُولَ: "يَعْنِي ابْنَ فُلَانٍ". وَرَوَى بِإِسْنَادِهِ عَنْ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ إِذَا جَاءَ اسْمُ الرَّجُلِ غَيْرَ مَنْسُوبٍ قَالَ "يَعْنِي ابْنَ فُلَانٍ".
"Al-Khathib al-Hafizh menceritakan bahwa mayoritas ahli ilmu membolehkan hal ini. Dari sebagian mereka, lebih utama mengatakan: 'maksudnya: Ibnu fulan'. Al-Khathib meriwayatkan dengan sanadnya dari Ahmad bin Hanbal radhiyallahu 'anhu, bahwa apabila muncul nama seseorang tanpa nasab, ia berkata: 'maksudnya: Ibnu fulan'."
وَرُوِيَ عَنِ الْبَرْقَانِيِّ بِإِسْنَادِهِ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ الْمَدِينِيِّ مَا قَدَّمْنَا ذِكْرَهُ عَنْهُ، ثُمَّ ذَكَرَ أَنَّهُ هَكَذَا رَأَى أَبَا بَكْرٍ أَحْمَدَ بْنَ عَلِيٍّ الْأَصْبَهَانِيَّ - نَزِيلَ نَيْسَابُورَ - يَفْعَلُ، وَكَانَ أَحَدَ الْحُفَّاظِ الْمُجَوِّدِينَ وَمِنْ أَهْلِ الْوَرَعِ، وَالدِّينِ، وَأَنَّهُ سَأَلَهُ عَنْ أَحَادِيثَ كَثِيرَةٍ رَوَاهَا لَهُ قَالَ فِيهَا: "أَنَا أَبُو عَمْرِو بْنُ حَمْدَانَ: أَنَّ أَبَا يَعْلَى أَحْمَدَ بْنَ عَلِيِّ بْنِ الْمُثَنَّى الْمَوْصِلِيَّ أَخْبَرَهُمْ، وَأَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ الْمُقْرِيِّ: أَنَّ إِسْحَاقَ بْنَ أَحْمَدَ بْنِ نَافِعٍ حَدَّثَهُمْ، وَأَخْبَرَنَا أَبُو أَحْمَدَ الْحَافِظُ: أَنَّ أَبَا يُوسُفَ مُحَمَّدَ بْنَ سُفْيَانَ الصَّفَّارَ أَخْبَرَهُمْ"، فَذَكَرَ لَهُ أَنَّهَا أَحَادِيثُ سَمِعَهَا قِرَاءَةً عَلَى شُيُوخِهِ فِي جُمْلَةِ نَسْخٍ، نَسَبُوا الَّذِينَ حَدَّثُوهُمْ بِهَا فِي أَوَّلِهَا، وَاقْتَصَرُوا فِي بَقِيَّتِهَا عَلَى ذِكْرِ أَسْمَائِهِمْ.
"Diriwayatkan dari al-Barqani dengan sanadnya, dari Ali bin al-Madini, apa yang telah kami sebutkan sebelumnya darinya. Al-Barqani menceritakan bahwa ia melihat Abu Bakr Ahmad bin Ali al-Ashbahani, penduduk Naisabur, melakukan hal serupa - ia adalah salah satu hafizh yang cermat dan ahli wara' serta agama. Al-Barqani bertanya kepadanya tentang banyak hadits yang diriwayatkannya, di mana ia berkata di dalamnya: 'Abu Amr bin Hamdan mengabarkan kepadaku: bahwa Abu Ya'la Ahmad bin Ali bin al-Mutsanna al-Mawshili mengabarkan kepada mereka; dan Abu Bakr bin al-Muqri mengabarkan kepada kami: bahwa Ishaq bin Ahmad bin Nafi' menceritakan kepada mereka; dan Abu Ahmad al-Hafizh mengabarkan kepada kami: bahwa Abu Yusuf Muhammad bin Sufyan ash-Shaffar mengabarkan kepada mereka.' Ia menjelaskan bahwa itu adalah hadits-hadits yang ia dengar dengan qira'ah pada guru-gurunya dalam sejumlah naskah, di mana mereka menyebutkan nasab orang-orang yang menceritakan hadits kepada mereka di awalnya, lalu pada sisanya hanya membatasi diri menyebut nama mereka saja."
قَالَ: وَكَانَ غَيْرُهُ يَقُولُ فِي مِثْلِ هَذَا "أَخْبَرَنَا فُلَانٌ قَالَ: أَخْبَرَنَا فُلَانٌ هُوَ ابْنُ فُلَانٍ"، ثُمَّ يَسُوقُ نَسَبَهُ إِلَى مُنْتَهَاهُ. قَالَ: "وَهَذَا الَّذِي أَسْتَحِبُّهُ؛ لِأَنَّ قَوْمًا مِنَ الرُّوَاةِ كَانُوا يَقُولُونَ فِيمَا أُجِيزَ لَهُمْ: "أَخْبَرَنَا فُلَانٌ: أَنَّ فُلَانًا حَدَّثَهُمْ".
"Al-Barqani melanjutkan: ulama lain dalam kasus semacam ini berkata: 'fulan mengabarkan kepada kami, ia berkata: fulan mengabarkan kepada kami, yaitu Ibnu fulan', lalu membawakan nasabnya hingga tuntas. Ia berkata: 'inilah yang aku anjurkan, karena sebagian perawi biasa mengatakan tentang apa yang diijazahkan kepada mereka: fulan mengabarkan kepada kami, bahwa fulan menceritakan kepada mereka.'"
قُلْتُ: جَمِيعُ هَذِهِ الْوُجُوهِ جَائِزَةٌ، وَأَوْلَاهَا أَنْ يَقُولَ: (هُوَ ابْنُ فُلَانٍ، أَوْ يَعْنِي ابْنَ فُلَانٍ)، ثُمَّ أَنْ يَقُولَ: (إِنَّ فُلَانَ بْنَ فُلَانٍ)، ثُمَّ أَنْ يَذْكُرَ الْمَذْكُورَ فِي أَوَّلِ الْجُزْءِ بِعَيْنِهِ مِنْ غَيْرِ فَصْلٍ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: seluruh bentuk ini boleh. Yang paling utama adalah mengatakan: '(ia adalah) Ibnu fulan, atau maksudnya Ibnu fulan', kemudian yang mengatakan: 'bahwa fulan bin fulan', kemudian yang menyebutkan sebagaimana disebutkan di awal juz persis tanpa pemisah. Wallahu a'lam."

Cabang ketiga belas:
جَرَتِ الْعَادَةُ بِحَذْفِ (قَالَ)، وَنَحْوِهِ، فِيمَا بَيْنَ رِجَالِ الْإِسْنَادِ خَطًّا، وَلَا بُدَّ مِنْ ذِكْرِهِ حَالَةَ الْقِرَاءَةِ لَفْظًا.
"Sudah menjadi kebiasaan menghapus kata (qala - ia berkata) dan semisalnya secara tertulis di antara para perawi dalam sanad, namun wajib tetap diucapkan secara lisan pada saat qira'ah."

وَمِمَّا قَدْ يُغْفَلُ عَنْهُ مِنْ ذَلِكَ مَا إِذَا كَانَ فِي أَثْنَاءِ الْإِسْنَادِ (قُرِئَ عَلَى فُلَانٍ: أَخْبَرَكَ فُلَانٌ)، فَيَنْبَغِي لِلْقَارِئِ أَنْ يَقُولَ فِيهِ: (قِيلَ لَهُ: أَخْبَرَكَ فُلَانٌ)، وَوَقَعَ فِي بَعْضِ ذَلِكَ (قُرِئَ عَلَى فُلَانٍ: حَدَّثَنَا فُلَانٌ)، فَهَذَا يَذْكُرُ فِيهِ (قَالَ)، فَيُقَالُ (قُرِئَ عَلَى فُلَانٍ قَالَ: ثَنَا فُلَانٌ)، وَقَدْ جَاءَ هَذَا مُصَرَّحًا بِهِ خَطًّا هَكَذَا فِي بَعْضِ مَا رُوِّينَاهُ.
"Di antara hal yang sering dilalaikan dari ini: apabila di tengah sanad terdapat tulisan (quri'a 'ala fulan: akhbaraka fulan - dibacakan pada fulan: fulan mengabarkan kepadamu), sepatutnya si pembaca mengucapkannya: (qila lahu: akhbaraka fulan - dikatakan kepadanya: fulan mengabarkan kepadamu). Terkadang tertulis (quri'a 'ala fulan: haddatsana fulan), maka di sini perlu disebutkan kata (qala), sehingga diucapkan (quri'a 'ala fulan qala: tsana fulan). Ini bahkan pernah ditulis secara eksplisit tertulis demikian dalam sebagian yang kami riwayatkan."
وَإِذَا تَكَرَّرَتْ كَلِمَةُ (قَالَ) كَمَا فِي قَوْلِهِ فِي كِتَابِ الْبُخَارِيِّ "حَدَّثَنَا صَالِحُ بْنُ حَيَّانَ قَالَ: قَالَ عَامِرٌ الشَّعْبِيُّ"، حَذَفُوا إِحْدَاهُمَا فِي الْخَطِّ، وَعَلَى الْقَارِئِ أَنْ يَلْفِظَ بِهِمَا جَمِيعًا، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Apabila kata (qala) berulang, seperti dalam ucapan di kitab al-Bukhari: 'haddatsana Shalih bin Hayyan, qala: qala Amir asy-Sya'bi', mereka menghapus salah satunya dalam tulisan, namun si pembaca wajib mengucapkan keduanya. Wallahu a'lam."

Cabang keempat belas:
النُّسَخُ الْمَشْهُورَةُ الْمُشْتَمِلَةُ عَلَى أَحَادِيثَ بِإِسْنَادٍ وَاحِدٍ، كَنُسْخَةِ "هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ"، رِوَايَةِ عَبْدِ الرَّزَّاقِ، عَنْ مَعْمَرٍ عَنْهُ، وَنَحْوِهَا مِنَ النُّسَخِ، وَالْأَجْزَاءِ. مِنْهُمْ مَنْ يُجَدِّدُ ذِكْرَ الْإِسْنَادِ فِي أَوَّلِ كُلِّ حَدِيثٍ مِنْهَا، وَيُوجَدُ هَذَا فِي كَثِيرٍ مِنَ الْأُصُولِ الْقَدِيمَةِ، وَذَلِكَ أَحْوَطُ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَكْتَفِي بِذِكْرِ الْإِسْنَادِ فِي أَوَّلِهَا عِنْدَ أَوَّلِ حَدِيثٍ مِنْهَا، أَوْ فِي أَوَّلِ كُلِّ مَجْلِسٍ مِنْ مَجَالِسِ سَمَاعِهَا، وَيُدْرِجُ الْبَاقِيَ عَلَيْهِ، وَيَقُولُ فِي كُلِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ: "وَبِالْإِسْنَادِ"، أَوْ "وَبِهِ"، وَذَلِكَ هُوَ الْأَغْلَبُ الْأَكْثَرُ.
"Naskah-naskah masyhur yang memuat hadits-hadits dengan satu sanad, seperti naskah 'Hammam bin Munabbih, dari Abu Hurairah' riwayat Abdurrazzaq dari Ma'mar darinya, dan naskah-naskah serta juz-juz semisalnya - sebagian ulama memperbarui penyebutan sanad di awal setiap hadits darinya, dan ini ditemukan dalam banyak naskah asli kuno, ini lebih hati-hati. Sebagian lain cukup menyebutkan sanadnya di awal, pada hadits pertama darinya, atau di awal setiap majelis sama'-nya, lalu menyisipkan sisanya di bawahnya, dengan mengatakan pada setiap hadits setelahnya: 'dan dengan sanad tersebut', atau 'dan dengannya' - inilah yang lebih umum dan lebih banyak dilakukan."

وَإِذَا أَرَادَ مَنْ كَانَ سَمَاعُهُ عَلَى هَذَا الْوَجْهِ تَفْرِيقَ تِلْكَ الْأَحَادِيثِ، وَرِوَايَةَ كُلِّ حَدِيثٍ مِنْهَا بِالْإِسْنَادِ الْمَذْكُورِ فِي أَوَّلِهَا، جَازَ لَهُ ذَلِكَ عِنْدَ الْأَكْثَرِينَ، مِنْهُمْ وَكِيعُ بْنُ الْجَرَّاحِ، وَيَحْيَى بْنُ مَعِينٍ، وَأَبُو بَكْرٍ الْإِسْمَاعِيلِيُّ، وَهَذَا لِأَنَّ الْجَمِيعَ مَعْطُوفٌ عَلَى الْأَوَّلِ، فَالْإِسْنَادُ الْمَذْكُورُ أَوَّلًا فِي حُكْمِ الْمَذْكُورِ فِي كُلِّ حَدِيثٍ، وَهُوَ بِمَثَابَةِ تَقْطِيعِ الْمَتْنِ الْوَاحِدِ فِي أَبْوَابٍ بِإِسْنَادِهِ الْمَذْكُورِ فِي أَوَّلِهِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Apabila orang yang sama'-nya dalam bentuk seperti ini hendak memisahkan hadits-hadits itu, dan meriwayatkan setiap hadits dengan sanad yang disebutkan di awalnya secara terpisah, boleh baginya melakukan itu menurut mayoritas ulama, di antaranya Waki' bin al-Jarrah, Yahya bin Ma'in, dan Abu Bakr al-Isma'ili. Ini karena semuanya digandengkan (ma'thuf) pada yang pertama, sehingga sanad yang disebutkan pertama kali berkedudukan hukum seperti disebutkan pada setiap hadits - ini setara dengan pemotongan satu matan menjadi beberapa bab dengan sanadnya yang disebutkan di awal. Wallahu a'lam."
وَمِنَ الْمُحَدِّثِينَ مَنْ أَبَى إِفْرَادَ شَيْءٍ مِنْ تِلْكَ الْأَحَادِيثِ الْمُدْرَجَةِ بِالْإِسْنَادِ الْمَذْكُورِ أَوَّلًا، وَرَآهُ تَدْلِيسًا. وَسَأَلَ بَعْضُ أَهْلِ الْحَدِيثِ الْأُسْتَاذَ أَبَا إِسْحَاقَ الْإِسْفَرَائِينِيَّ الْفَقِيهَ الْأُصُولِيَّ عَنْ ذَلِكَ، فَقَالَ: "لَا يَجُوزُ".
"Sebagian muhaddits menolak menyendirikan salah satu dari hadits-hadits yang disisipkan itu dengan sanad yang disebutkan pertama kali, dan memandangnya sebagai tadlis. Sebagian ahli hadits bertanya kepada Ustadz Abu Ishaq al-Isfarayini, al-Faqih al-Ushuli, tentang hal itu, ia menjawab: 'tidak boleh.'"
وَعَلَى هَذَا مَنْ كَانَ سَمَاعُهُ عَلَى هَذَا الْوَجْهِ فَطَرِيقُهُ أَنْ يُبَيِّنَ، وَيَحْكِيَ ذَلِكَ كَمَا جَرَى، كَمَا فَعَلَهُ مُسْلِمٌ فِي صَحِيحِهِ فِي صَحِيفَةِ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ، نَحْوَ قَوْلِهِ: ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ، قَالَ: ثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، قَالَ: أَنَا مَعْمَرٌ عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ، قَالَ: هَذَا مَا حَدَّثَنَا أَبُو هُرَيْرَةَ، وَذَكَرَ أَحَادِيثَ، مِنْهَا: وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّ أَدْنَى مَقْعَدِ أَحَدِكُمْ فِي الْجَنَّةِ أَنْ يَقُولَ لَهُ: تَمَنَّ.... الْحَدِيثَ". وَهَكَذَا فَعَلَ كَثِيرٌ مِنَ الْمُؤَلِّفِينَ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Berdasarkan hal ini, siapa yang sama'-nya dalam bentuk ini, caranya adalah menjelaskan dan menceritakan hal itu persis sebagaimana terjadi - sebagaimana dilakukan Muslim dalam Shahih-nya pada shahifah Hammam bin Munabbih, seperti ucapannya: 'Muhammad bin Rafi' menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Ma'mar mengabarkan kepadaku dari Hammam bin Munabbih, ia berkata: ini adalah apa yang Abu Hurairah ceritakan kepada kami' - lalu ia menyebutkan hadits-hadits, di antaranya: 'Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: sesungguhnya tempat duduk paling rendah bagi salah seorang dari kalian di surga adalah dikatakan kepadanya: berangan-anganlah...' -hadits ini seterusnya. Demikian pula dilakukan banyak penulis lain. Wallahu a'lam."

Cabang kelima belas:
إِذَا قَدَّمَ ذِكْرَ الْمَتْنِ عَلَى الْإِسْنَادِ، أَوْ ذِكْرَ الْمَتْنِ، وَبَعْضَ الْإِسْنَادِ، ثُمَّ ذَكَرَ الْإِسْنَادَ عَقِيبَهُ عَلَى الِاتِّصَالِ، مِثْلَ أَنْ يَقُولَ: (قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَذَا وَكَذَا)، أَوْ يَقُولَ: (رَوَى عَمْرُو بْنُ دِينَارٍ، عَنْ جَابِرٍ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَذَا وَكَذَا)، ثُمَّ يَقُولُ: (أَخْبَرَنَا بِهِ فُلَانٌ، قَالَ: أَخْبَرَنَا فُلَانٌ) وَيَسُوقُ الْإِسْنَادَ حَتَّى يَتَّصِلَ بِمَا قَدَّمَهُ، فَهَذَا يَلْتَحِقُ بِمَا إِذَا قَدَّمَ الْإِسْنَادَ فِي كَوْنِهِ يَصِيرُ بِهِ مُسْنِدًا لِلْحَدِيثِ لَا مُرْسِلًا لَهُ.
"Apabila seseorang mendahulukan penyebutan matan atas sanad, atau menyebutkan matan dan sebagian sanad, lalu menyebutkan sanad setelahnya secara bersambung - misalnya berkata: '(Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda demikian dan demikian)', atau berkata: '(Amr bin Dinar meriwayatkan, dari Jabir, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam demikian dan demikian)', kemudian berkata: '(fulan mengabarkannya kepada kami, ia berkata: fulan mengabarkan kepada kami)' lalu membawakan sanad hingga tersambung dengan apa yang telah ia dahulukan - ini bergabung dengan kasus jika ia mendahulukan sanad, dalam hal ia tetap menjadi musnid (penyandar) hadits itu, bukan mursil (yang meng-irsal-kannya)."

فَلَوْ أَرَادَ مَنْ سَمِعَهُ مِنْهُ هَكَذَا أَنْ يُقَدِّمَ الْإِسْنَادَ وَيُؤَخِّرَ الْمَتْنَ، وَيُلَفِّقَهُ كَذَلِكَ فَقَدْ وَرَدَ عَنْ بَعْضِ مَنْ تَقَدَّمَ مِنَ الْمُحَدِّثِينَ أَنَّهُ جَوَّزَ ذَلِكَ.
"Seandainya orang yang mendengarnya darinya dengan bentuk seperti ini hendak mendahulukan sanad dan mengakhirkan matan, menyusunnya kembali seperti itu, diriwayatkan dari sebagian muhaddits terdahulu bahwa mereka membolehkan hal itu."
قُلْتُ: يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ فِيهِ خِلَافٌ نَحْوُ الْخِلَافِ فِي تَقْدِيمِ بَعْضِ مَتْنِ الْحَدِيثِ عَلَى بَعْضٍ. وَقَدْ حَكَى الْخَطِيبُ الْمَنْعَ مِنْ ذَلِكَ عَلَى الْقَوْلِ بِأَنَّ الرِّوَايَةَ عَلَى الْمَعْنَى لَا تَجُوزُ، وَالْجَوَازَ عَلَى الْقَوْلِ بِأَنَّ الرِّوَايَةَ عَلَى الْمَعْنَى تَجُوزُ، وَلَا فَرْقَ بَيْنَهُمَا فِي ذَلِكَ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: sepatutnya ini memiliki perselisihan yang serupa dengan perselisihan dalam mendahulukan sebagian matan hadits atas sebagian yang lain. Al-Khathib menceritakan larangan hal itu berdasarkan pendapat bahwa periwayatan secara makna tidak boleh, dan bolehnya berdasarkan pendapat bahwa periwayatan secara makna itu boleh - dan tidak ada bedanya di antara keduanya dalam hal ini. Wallahu a'lam."
وَأَمَّا مَا يَفْعَلُهُ بَعْضُهُمْ مِنْ إِعَادَةِ ذِكْرِ الْإِسْنَادِ فِي آخِرِ الْكِتَابِ، أَوِ الْجُزْءِ بَعْدَ ذِكْرِهِ أَوَّلًا، فَهَذَا لَا يَرْفَعُ الْخِلَافَ الَّذِي تَقَدَّمَ ذِكْرُهُ فِي إِفْرَادِ كُلِّ حَدِيثٍ بِذَلِكَ الْإِسْنَادِ عِنْدَ رِوَايَتِهَا، لِكَوْنِهِ لَا يَقَعُ مُتَّصِلًا بِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهَا، وَلَكِنَّهُ يُفِيدُ تَأْكِيدًا، وَاحْتِيَاطًا، وَيَتَضَمَّنُ إِجَازَةً بَالِغَةً مِنْ أَعْلَى أَنْوَاعِ الْإِجَازَاتِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Adapun apa yang dilakukan sebagian ulama, mengulang penyebutan sanad di akhir kitab atau juz setelah menyebutkannya di awal, ini tidak menghilangkan perselisihan yang telah disebutkan tentang menyendirikan setiap hadits dengan sanad itu saat meriwayatkannya, karena hal itu tidak tersambung langsung dengan masing-masing hadits. Namun ia memberi faidah penegasan dan kehati-hatian, serta mengandung ijazah yang kuat dari jenis ijazah paling tinggi. Wallahu a'lam."

Cabang keenam belas:
إِذَا رَوَى الْمُحَدِّثُ الْحَدِيثَ بِإِسْنَادٍ، ثُمَّ أَتْبَعَهُ بِإِسْنَادٍ آخَرَ، وَقَالَ عِنْدَ انْتِهَائِهِ "مِثْلَهُ" فَأَرَادَ الرَّاوِي عَنْهُ أَنْ يَقْتَصِرَ عَلَى الْإِسْنَادِ الثَّانِي، وَيَسُوقَ لَفْظَ الْحَدِيثِ الْمَذْكُورِ عَقِيبَ الْإِسْنَادِ الْأَوَّلِ، فَالْأَظْهَرُ الْمَنْعُ مِنْ ذَلِكَ.
"Apabila seorang muhaddits meriwayatkan hadits dengan satu sanad, kemudian menyusulinya dengan sanad lain, dan berkata pada akhirnya 'mitslahu' (semisalnya), lalu perawi darinya hendak membatasi diri pada sanad kedua saja, dan membawakan lafal hadits yang disebutkan setelah sanad pertama - pendapat yang lebih kuat adalah melarang hal itu."

وَرُوِّينَا عَنْ أَبِي بَكْرٍ الْخَطِيبِ الْحَافِظِ رَحِمَهُ اللَّهُ قَالَ: "كَانَ شُعْبَةُ لَا يُجِيزُ ذَلِكَ".
"Kami meriwayatkan dari Abu Bakr al-Khathib al-Hafizh rahimahullah, ia berkata: 'Syu'bah tidak membolehkan hal itu.'"
وَقَالَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ: يَجُوزُ ذَلِكَ، إِذَا عُرِفَ أَنَّ الْمُحَدِّثَ ضَابِطٌ مُتَحَفِّظٌ يَذْهَبُ إِلَى تَمْيِيزِ الْأَلْفَاظِ وَعَدِّ الْحُرُوفِ، فَإِنْ لَمْ يُعْرَفْ ذَلِكَ مِنْهُ لَمْ يَجُزْ ذَلِكَ، وَكَانَ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ إِذَا رَوَى مِثْلَ هَذَا يُورِدُ الْإِسْنَادَ، وَيَقُولُ: (مِثْلَ حَدِيثٍ قَبْلَهُ مَتْنُهُ كَذَا وَكَذَا)، ثُمَّ يَسُوقُهُ. وَكَذَلِكَ إِذَا كَانَ الْمُحَدِّثُ قَدْ قَالَ: (نَحْوَهُ). قَالَ: (وَهَذَا هُوَ الَّذِي أَخْتَارُهُ).
"Sebagian ahli ilmu berkata: hal itu boleh, apabila diketahui bahwa sang muhaddits adalah orang yang dhabit lagi teliti, yang berupaya membedakan lafal-lafal dan menghitung huruf-hurufnya. Jika hal itu tidak diketahui darinya, tidak boleh. Tidak sedikit ahli ilmu, apabila meriwayatkan kasus semacam ini, membawakan sanadnya lalu berkata: 'seperti hadits sebelumnya, matannya demikian dan demikian', kemudian membawakannya. Begitu pula apabila sang muhaddits telah berkata: '(nahwahu - mirip dengannya).' Ia (al-Khathib) berkata: 'inilah yang aku pilih.'"
أَخْبَرَنَا أَبُو أَحْمَدَ عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ أَبِي مَنْصُورٍ عَلِيِّ بْنِ عَلِيٍّ الْبَغْدَاذِيُّ شَيْخُ الشُّيُوخِ بِهَا، بِقِرَاءَتِي عَلَيْهِ بِهَا، قَالَ أَنَا وَالِدِي رَحِمَهُ اللَّهُ، قَالَ: أَنَا أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ الصَّرِيفِينِيُّ، قَالَ: أَنَا أَبُو الْقَاسِمِ بْنُ حُبَابَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو الْقَاسِمِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ الْبَغَوِيُّ، قَالَ: ثَنَا عَمْرُو بْنُ مُحَمَّدٍ النَّاقِدُ، قَالَ: قَالَ ثَنَا وَكِيعٌ، قَالَ: قَالَ شُعْبَةُ: "فُلَانٌ عَنْ فُلَانٍ مِثْلَهُ" "لَا يُجْزِئُ". قَالَ وَكِيعٌ: وَقَالَ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ: "يُجْزِئُ".
"Abu Ahmad Abdul Wahhab bin Abi Manshur Ali bin Ali al-Baghdadi, Syaikhusy Syuyukh di kota itu, mengabarkan kepada kami dengan bacaanku kepadanya, dari ayahnya rahimahullah, dari Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad ash-Sharifini, dari Abul Qasim bin Hubabah, dari Abul Qasim Abdullah bin Muhammad al-Baghawi, dari Amr bin Muhammad an-Naqid, dari Waki', ia berkata: Syu'bah berkata: 'fulan dari fulan mitslahu (semisalnya) - itu tidak mencukupi.' Waki' berkata: Sufyan ats-Tsauri berkata: 'itu mencukupi.'"
وَأَمَّا إِذَا قَالَ: (نَحْوَهُ)، فَهُوَ فِي ذَلِكَ عِنْدَ بَعْضِهِمْ كَمَا إِذَا قَالَ: (مِثْلَهُ). وَنُبِّئْنَا بِإِسْنَادٍ عَنْ وَكِيعٍ قَالَ: قَالَ سُفْيَانُ: إِذَا قَالَ "نَحْوَهُ"، فَهُوَ حَدِيثٌ. وَقَالَ شُعْبَةُ (نَحْوَهُ) شَكٌّ.
"Adapun apabila seseorang berkata: '(nahwahu)', menurut sebagian ulama kedudukannya sama seperti berkata: '(mitslahu)'. Kami diberitahu dengan sanad dari Waki', ia berkata: Sufyan berkata: 'apabila seseorang berkata nahwahu, itu tetap dianggap satu hadits (bisa diriwayatkan secara langsung).' Sedangkan Syu'bah berkata: '(nahwahu) mengandung keraguan.'"
وَعَنْ يَحْيَى بْنِ مَعِينٍ أَنَّهُ أَجَازَ مَا قَدَّمْنَا ذِكْرَهُ فِي قَوْلِهِ "مِثْلَهُ" وَلَمْ يُجِزْهُ فِي قَوْلِهِ: "نَحْوَهُ".
"Dari Yahya bin Ma'in, ia membolehkan apa yang telah kami sebutkan dalam ucapan 'mitslahu', namun tidak membolehkannya dalam ucapan 'nahwahu'."
قَالَ الْخَطِيبُ: وَهَذَا الْقَوْلُ عَلَى مَذْهَبِ مَنْ لَمْ يُجِزِ الرِّوَايَةَ عَلَى الْمَعْنَى. فَأَمَّا عَلَى مَذْهَبِ مَنْ أَجَازَهَا فَلَا فَرْقَ بَيْنَ "مِثْلَهُ"، وَ "نَحْوَهُ".
"Al-Khathib berkata: pendapat ini sesuai mazhab yang tidak membolehkan periwayatan secara makna. Adapun menurut mazhab yang membolehkannya, tidak ada beda antara 'mitslahu' dan 'nahwahu'."
قُلْتُ: هَذَا لَهُ تَعَلُّقٌ بِمَا رُوِّينَاهُ عَنْ مَسْعُودِ بْنِ عَلِيٍّ السِّجْزِيِّ أَنَّهُ سَمِعَ الْحَاكِمَ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظَ يَقُولُ: "إِنَّ مِمَّا يَلْزَمُ الْحَدِيثِيَّ مِنَ الضَّبْطِ وَالْإِتْقَانِ أَنْ يُفَرِّقَ بَيْنَ أَنْ يَقُولَ: "مِثْلَهُ"، أَوْ يَقُولَ: "نَحْوَهُ"، فَلَا يَحِلُّ لَهُ أَنْ يَقُولَ: "مِثْلَهُ" إِلَّا بَعْدَ أَنْ يَعْلَمَ أَنَّهُمَا عَلَى لَفْظٍ وَاحِدٍ، وَيَحِلُّ أَنْ يَقُولَ: "نَحْوَهُ" إِذَا كَانَ عَلَى مِثْلِ مَعَانِيهِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: ini berkaitan dengan apa yang kami riwayatkan dari Mas'ud bin Ali as-Sijzi, bahwa ia mendengar al-Hakim Abu Abdillah al-Hafizh berkata: 'termasuk yang wajib dimiliki seorang ahli hadits dari dhabt dan ketelitian adalah membedakan antara ucapan 'mitslahu' dan 'nahwahu'. Tidak halal baginya mengucapkan 'mitslahu' kecuali setelah mengetahui bahwa keduanya sama persis lafalnya. Namun halal baginya mengucapkan 'nahwahu' apabila hanya semisal maknanya.' Wallahu a'lam."

Cabang ketujuh belas:
إِذَا ذَكَرَ الشَّيْخُ إِسْنَادَ الْحَدِيثِ، وَلَمْ يَذْكُرْ مِنْ مَتْنِهِ إِلَّا طَرَفًا، ثُمَّ قَالَ: (وَذَكَرَ الْحَدِيثَ)، أَوْ قَالَ: (وَذَكَرَ الْحَدِيثَ بِطُولِهِ) فَأَرَادَ الرَّاوِي عَنْهُ أَنْ يَرْوِيَ عَنْهُ الْحَدِيثَ بِكَمَالِهِ وَبِطُولِهِ، فَهَذَا أَوْلَى بِالْمَنْعِ مِمَّا سَبَقَ ذِكْرُهُ فِي قَوْلِهِ (مِثْلَهُ)، أَوْ (نَحْوَهُ). فَطَرِيقُهُ أَنْ يُبَيِّنَ ذَلِكَ، بِأَنْ يَقْتَصَّ مَا ذَكَرَهُ الشَّيْخُ عَلَى وَجْهِهِ وَيَقُولَ: (قَالَ: وَذَكَرَ الْحَدِيثَ بِطُولِهِ)، ثُمَّ يَقُولَ: (وَالْحَدِيثُ بِطُولِهِ هُوَ كَذَا وَكَذَا)، وَيَسُوقَهُ إِلَى آخِرِهِ.
"Apabila sang guru menyebutkan sanad hadits, namun dari matannya hanya menyebutkan sepotong saja, kemudian berkata: '(ia menyebutkan haditsnya)', atau berkata: '(ia menyebutkan haditsnya secara lengkap)' - lalu perawi darinya hendak meriwayatkan hadits itu darinya secara lengkap dan penuh, ini lebih layak dilarang daripada kasus yang telah disebutkan sebelumnya dalam ucapan 'mitslahu' atau 'nahwahu'. Caranya adalah menjelaskan hal itu, dengan mengikuti persis apa yang disebutkan sang guru sesuai bentuknya, dan berkata: '(ia berkata: dan ia menyebutkan haditsnya secara lengkap)', kemudian berkata: '(dan hadits lengkapnya adalah demikian dan demikian)', lalu membawakannya hingga tuntas."

وَسَأَلَ بَعْضُ أَهْلِ الْحَدِيثِ أَبَا إِسْحَاقَ إِبْرَاهِيمَ بْنَ مُحَمَّدٍ الشَّافِعِيَّ الْمُقَدَّمَ فِي الْفِقْهِ، وَالْأُصُولِ عَنْ ذَلِكَ، فَقَالَ: "لَا يَجُوزُ لِمَنْ سَمِعَ عَلَى هَذَا الْوَصْفِ أَنْ يَرْوِيَ الْحَدِيثَ بِمَا فِيهِ مِنَ الْأَلْفَاظِ عَلَى التَّفْصِيلِ".
"Sebagian ahli hadits bertanya kepada Abu Ishaq Ibrahim bin Muhammad asy-Syafi'i, yang terkemuka dalam fikih dan ushul, tentang hal itu, ia menjawab: 'tidak boleh bagi orang yang sama'-nya dalam bentuk ini meriwayatkan hadits dengan lafal-lafal yang terperinci di dalamnya.'"
وَسَأَلَ أَبُو بَكْرٍ الْبَرْقَانِيُّ الْحَافِظُ الْفَقِيهُ أَبَا بَكْرٍ الْإِسْمَاعِيلِيَّ الْحَافِظَ الْفَقِيهَ، عَمَّنْ قَرَأَ إِسْنَادَ حَدِيثٍ عَلَى الشَّيْخِ، ثُمَّ قَالَ: "وَذَكَرَ الْحَدِيثَ" هَلْ يَجُوزُ أَنْ يُحَدِّثَ بِجَمِيعِ الْحَدِيثِ؟ فَقَالَ: إِذَا عَرَفَ الْمُحَدِّثُ، وَالْقَارِئُ ذَلِكَ الْحَدِيثَ، فَأَرْجُو أَنْ يَجُوزَ ذَلِكَ، وَالْبَيَانُ أَوْلَى أَنْ يَقُولَ كَمَا كَانَ.
"Abu Bakr al-Barqani al-Hafizh al-Faqih bertanya kepada Abu Bakr al-Isma'ili al-Hafizh al-Faqih, tentang orang yang membaca sanad sebuah hadits di hadapan sang guru, lalu berkata: '(ia menyebutkan haditsnya)' - apakah boleh baginya menceritakan hadits itu secara lengkap? Ia menjawab: 'apabila sang muhaddits dan si pembaca sama-sama mengetahui hadits itu, aku berharap itu boleh, namun lebih utama tetap menjelaskan sebagaimana adanya.'"
قُلْتُ: إِذَا جَوَّزْنَا ذَلِكَ فَالتَّحْقِيقُ فِيهِ أَنَّهُ بِطَرِيقِ الْإِجَازَةِ فِيمَا لَمْ يَذْكُرْهُ الشَّيْخُ، لَكِنَّهَا إِجَازَةٌ أَكِيدَةٌ قَوِيَّةٌ مِنْ جِهَاتٍ عَدِيدَةٍ، فَجَازَ لِهَذَا مَعَ كَوْنِ أَوَّلِهِ سَمَاعًا إِدْرَاجُ الْبَاقِي عَلَيْهِ مِنْ غَيْرِ إِفْرَادٍ لَهُ بِلَفْظِ الْإِجَازَةِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: apabila kami membolehkan hal itu, hakikatnya adalah dengan jalan ijazah untuk bagian yang tidak disebutkan sang guru, hanya saja ini adalah ijazah yang kuat dan tegas dari berbagai sisi. Karena itu, boleh bagi hal ini, dengan bagian awalnya tetap berstatus sama', menyisipkan sisanya tanpa menyendirikannya dengan lafal ijazah eksplisit. Wallahu a'lam."

Cabang kedelapan belas:
الظَّاهِرُ أَنَّهُ لَا يَجُوزُ تَغْيِيرُ (عَنِ النَّبِيِّ) إِلَى (عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ)، وَكَذَا بِالْعَكْسِ، وَإِنْ جَازَتِ الرِّوَايَةُ بِالْمَعْنَى، فَإِنَّ شَرْطَ ذَلِكَ أَنْ لَا يَخْتَلِفَ الْمَعْنَى، وَالْمَعْنَى فِي هَذَا مُخْتَلِفٌ.
"Yang zahir adalah tidak boleh mengubah (an-Nabiyyi - dari Nabi) menjadi (an Rasulillahi shallallahu 'alaihi wasallam - dari Rasulullah), begitu pula sebaliknya, sekalipun periwayatan secara makna itu sendiri boleh, karena syaratnya adalah maknanya tidak berbeda, sedangkan makna dalam kasus ini berbeda."

وَثَبَتَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ أَنَّهُ رَأَى أَبَاهُ إِذَا كَانَ فِي الْكِتَابِ (النَّبِيُّ)، فَقَالَ الْمُحَدِّثُ: "عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ" ضَرَبَ وَكَتَبَ "عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ".
"Tsabit dari Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, bahwa ia melihat ayahnya, apabila di kitab tertulis (an-Nabiyy), sementara sang muhaddits mengatakan: 'dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam', ayahnya mencoretnya dan menuliskan 'dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam'."
وَقَالَ الْخَطِيبُ أَبُو بَكْرٍ: "هَذَا غَيْرُ لَازِمٍ، وَإِنَّمَا اسْتَحَبَّ أَحْمَدُ اتِّبَاعَ الْمُحَدِّثِ فِي لَفْظِهِ، وَإِلَّا فَمَذْهَبُهُ التَّرْخِيصُ فِي ذَلِكَ". ثُمَّ ذَكَرَ بِإِسْنَادِهِ عَنْ صَالِحِ بْنِ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ، قَالَ: قُلْتُ لِأَبِي: يَكُونُ فِي الْحَدِيثِ "قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ"، فَيَجْعَلُ الْإِنْسَانُ "قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ"، قَالَ: أَرْجُو أَنْ لَا يَكُونَ بِهِ بَأْسٌ.
"Al-Khathib Abu Bakr berkata: 'ini tidak wajib, Ahmad hanya menganjurkan mengikuti lafal sang muhaddits, jika tidak, mazhabnya adalah memberi keringanan dalam hal itu.' Kemudian ia menyebutkan dengan sanadnya dari Shalih bin Ahmad bin Hanbal, ia berkata: aku bertanya kepada ayahku: 'suatu hadits tertulis: qala Rasulullahi shallallahu 'alaihi wasallam, lalu seseorang menjadikannya: qala an-Nabiyyu shallallahu 'alaihi wasallam?' Ayahku menjawab: 'aku berharap itu tidak mengapa.'"
وَذَكَرَ الْخَطِيبُ بِسَنَدِهِ عَنْ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ أَنَّهُ كَانَ يُحَدِّثُ، وَبَيْنَ يَدَيْهِ عَفَّانُ، وَبَهْزٌ، فَجَعَلَا يُغَيِّرَانِ "النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ" مِنْ "رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ"، فَقَالَ لَهُمَا حَمَّادٌ: أَمَّا أَنْتُمَا فَلَا تَفْقَهَانِ أَبَدًا، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Al-Khathib menyebutkan dengan sanadnya dari Hammad bin Salamah, bahwa ia sedang menceritakan hadits, sementara di hadapannya ada Affan dan Bahz, keduanya mengubah 'an-Nabiyy shallallahu 'alaihi wasallam' menjadi 'Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam'. Hammad pun berkata kepada mereka berdua: 'kalian berdua tidak akan pernah memahami (ilmu ini)!' Wallahu a'lam."

Cabang kesembilan belas:
إِذَا كَانَ سَمَاعُهُ عَلَى صِفَةٍ فِيهَا بَعْضُ الْوَهْنِ فَعَلَيْهِ أَنْ يَذْكُرَهَا فِي حَالَةِ الرِّوَايَةِ، فَإِنَّ فِي إِغْفَالِهَا نَوْعًا مِنَ التَّدْلِيسِ، وَفِيمَا مَضَى لَنَا أَمْثِلَةٌ لِذَلِكَ.
"Apabila sama' seseorang berlangsung dengan bentuk yang mengandung sedikit kelemahan, wajib baginya menyebutkannya pada saat periwayatan, karena melalaikannya adalah sejenis tadlis - dan kami telah menyebutkan sebelumnya contoh-contoh untuk hal ini."

وَمِنْ أَمْثِلَتِهِ مَا إِذَا حَدَّثَهُ الْمُحَدِّثُ مِنْ حِفْظِهِ فِي حَالَةِ الْمُذَاكَرَةِ، فَلْيَقُلْ: (حَدَّثَنَا فُلَانٌ مُذَاكَرَةً)، أَوْ (حَدَّثَنَاهُ فِي الْمُذَاكَرَةِ)، فَقَدْ كَانَ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ مُتَقَدِّمِ الْعُلَمَاءِ يَفْعَلُ ذَلِكَ.
"Di antara contohnya: apabila sang muhaddits menceritakan hadits dari hafalannya dalam sesi mudzakarah, hendaklah dikatakan: '(fulan menceritakan kepada kami dalam mudzakarah)', atau '(ia menceritakannya kepada kami dalam mudzakarah)'. Tidak sedikit ulama terdahulu melakukan hal itu."
وَكَانَ جَمَاعَةٌ مِنْ حُفَّاظِهِمْ يَمْنَعُونَ مِنْ أَنْ يُحْمَلَ عَنْهُمْ فِي الْمُذَاكَرَةِ شَيْءٌ، مِنْهُمْ: عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ، وَأَبُو زُرْعَةَ الرَّازِيُّ، وَرُوِّينَاهُ عَنِ ابنِ الْمُبَارَكِ، وَغَيْرِهِ. وَذَلِكَ لِمَا قَدْ يَقَعُ فِيهَا مِنَ الْمُسَاهَلَةِ، مَعَ أَنَّ الْحِفْظَ خَوَّانٌ، وَلِذَلِكَ امْتَنَعَ جَمَاعَةٌ مِنْ أَعْلَامِ الْحُفَّاظِ مِنْ رِوَايَةِ مَا يَحْفَظُونَهُ إِلَّا مِنْ كُتُبِهِمْ، مِنْهُمْ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِينَ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Sekelompok hafizh mereka melarang diambilnya apa pun dari mereka dalam mudzakarah, di antaranya Abdurrahman bin Mahdi dan Abu Zur'ah ar-Razi - kami meriwayatkan hal ini juga dari Ibnul Mubarak dan selainnya. Ini karena kemungkinan terjadinya sikap bermudah-mudahan di dalamnya, ditambah lagi hafalan itu bisa mengkhianati. Karena itu, sekelompok tokoh besar hafizh menolak meriwayatkan apa yang mereka hafal kecuali dari kitab-kitab mereka sendiri, di antaranya Ahmad bin Hanbal radhiyallahu 'anhum ajma'in. Wallahu a'lam."

Cabang kedua puluh:
إِذَا كَانَ الْحَدِيثُ عَنْ رَجُلَيْنِ: أَحَدُهُمَا مَجْرُوحٌ مِثْلُ أَنْ يَكُونَ عَنْ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ، وَأَبَانِ بْنِ أَبِي عَيَّاشٍ، عَنْ أَنَسٍ، فَلَا يُسْتَحْسَنُ إِسْقَاطُ الْمَجْرُوحِ مِنَ الْإِسْنَادِ، وَالِاقْتِصَارُ عَلَى ذِكْرِ الثِّقَةِ، خَوْفًا مِنْ أَنْ يَكُونَ فِيهِ عَنِ الْمَجْرُوحِ شَيْءٌ لَمْ يَذْكُرْهُ الثِّقَةُ، قَالَ نَحْوًا مِنْ ذَلِكَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ، ثُمَّ الْخَطِيبُ أَبُو بَكْرٍ.
"Apabila sebuah hadits berasal dari dua orang perawi, salah satunya majruh (dijarh) - misalnya hadits dari Tsabit al-Bunani dan Aban bin Abi Ayyasy, keduanya dari Anas - tidak baik menggugurkan yang majruh dari sanad dan hanya membatasi diri menyebut yang tsiqah, karena khawatir ada sesuatu dari yang majruh itu yang tidak disebutkan oleh yang tsiqah. Ahmad bin Hanbal berkata semisal itu, begitu pula al-Khathib Abu Bakr."

قَالَ الْخَطِيبُ: "وَكَانَ مُسْلِمُ بْنُ الْحَجَّاجِ فِي مِثْلِ هَذَا رُبَّمَا أَسْقَطَ الْمَجْرُوحَ مِنَ الْإِسْنَادِ، وَيَذْكُرُ الثِّقَةَ، ثُمَّ يَقُولُ: "وَآخَرُ" كِنَايَةً عَنِ الْمَجْرُوحِ، قَالَ: "وَهَذَا الْقَوْلُ لَا فَائِدَةَ فِيهِ".
"Al-Khathib berkata: 'Muslim bin al-Hajjaj dalam kasus semacam ini terkadang menggugurkan yang majruh dari sanad, dan menyebut yang tsiqah, kemudian berkata: wa akhar (dan yang lain), sebagai kinayah (sindiran) untuk yang majruh.' Al-Khathib berkata: 'ucapan semacam ini tidak ada faidahnya.'"
قُلْتُ: وَهَكَذَا يَنْبَغِي إِذَا كَانَ الْحَدِيثُ عَنْ رَجُلَيْنِ ثِقَتَيْنِ أَنْ لَا يُسْقِطَ أَحَدَهُمَا مِنْهُ، لِتَطَرُّقِ مِثْلِ الِاحْتِمَالِ الْمَذْكُورِ إِلَيْهِ، وَإِنْ كَانَ مَحْذُورُ الْإِسْقَاطِ فِيهِ أَقَلَّ، ثُمَّ لَا يَمْتَنِعُ ذَلِكَ فِي الصُّورَتَيْنِ امْتِنَاعَ تَحْرِيمٍ؛ لِأَنَّ الظَّاهِرَ اتِّفَاقُ الرِّوَايَتَيْنِ، وَمَا ذُكِرَ مِنْ الِاحْتِمَالِ نَادِرٌ بَعِيدٌ، فَإِنَّهُ مِنَ الْإِدْرَاجِ الَّذِي لَا يَجُوزُ تَعَمُّدُهُ كَمَا سَبَقَ فِي نَوْعِ الْمُدْرَجِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: begitu pula sepatutnya, apabila sebuah hadits berasal dari dua orang perawi yang sama-sama tsiqah, tidak menggugurkan salah satunya darinya, karena bisa muncul kemungkinan serupa yang telah disebutkan tadi - sekalipun bahaya penggugurannya lebih kecil dalam kasus ini. Namun larangan ini dalam kedua kasus tersebut tidak sampai pada larangan haram, karena zahirnya kedua riwayat itu sepakat, dan kemungkinan yang disebutkan tadi jarang terjadi lagi jauh - karena itu termasuk idraj (penyisipan) yang tidak boleh sengaja dilakukan, sebagaimana telah dijelaskan dalam anwa' mudraj. Wallahu a'lam."

Cabang kedua puluh satu:
إِذَا سَمِعَ بَعْضَ حَدِيثٍ مِنْ شَيْخٍ، وَبَعْضَهُ مِنْ شَيْخٍ آخَرَ، فَخَلَطَهُ، وَلَمْ يُمَيِّزْهُ، وَعَزَى الْحَدِيثَ جُمْلَةً إِلَيْهِمَا، مُبَيِّنًا أَنَّ عَنْ أَحَدِهِمَا بَعْضَهُ، وَعَنِ الْآخَرِ بَعْضَهُ، فَذَلِكَ جَائِزٌ، كَمَا فَعَلَ الزُّهْرِيُّ فِي حَدِيثِ الْإِفْكِ، حَيْثُ رَوَاهُ، عَنْ عُرْوَةَ، وَابْنِ الْمُسَيَّبِ، وَعَلْقَمَةَ بْنِ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيِّ، وَعُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، وَقَالَ: "وَكُلُّهُمْ حَدَّثَنِي طَائِفَةً مِنْ حَدِيثِهَا، قَالُوا: قَالَتْ:.... الْحَدِيثَ".
"Apabila seseorang mendengar sebagian hadits dari seorang guru, dan sebagian lainnya dari guru lain, lalu ia menggabungkannya tanpa membedakannya, dan menyandarkan hadits itu secara keseluruhan kepada keduanya, dengan menjelaskan bahwa sebagiannya dari yang satu dan sebagiannya dari yang lain - ini boleh, sebagaimana dilakukan az-Zuhri dalam hadits al-Ifk, di mana ia meriwayatkannya dari Urwah, Ibnul Musayyab, Alqamah bin Waqqash al-Laitsi, dan Ubaidullah bin Abdillah bin Utbah, dari Aisyah radhiyallahu 'anha, dan ia berkata: 'masing-masing dari mereka menceritakan kepadaku sebagian dari haditsnya, mereka berkata: Aisyah berkata:...' -hadits ini seterusnya."

ثُمَّ إِنَّهُ مَا مِنْ شَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ الْحَدِيثِ إِلَّا وَهُوَ فِي الْحُكْمِ كَأَنَّهُ رَوَاهُ عَنْ أَحَدِ الرَّجُلَيْنِ عَلَى الْإِبْهَامِ، حَتَّى إِذَا كَانَ أَحَدُهُمَا مَجْرُوحًا لَمْ يَجُزْ الِاحْتِجَاجُ بِشَيْءٍ مِنْهُ حَتَّى يَتَبَيَّنَ أَنَّهُ رِوَايَةُ الثِّقَةِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Sesungguhnya tidak ada bagian pun dari hadits itu, kecuali secara hukum ia dianggap seolah diriwayatkan dari salah satu dari kedua orang itu secara samar (ibham) - sehingga apabila salah satunya majruh, tidak boleh berhujjah dengan bagian mana pun darinya sampai jelas bahwa itu memang riwayat dari yang tsiqah. Wallahu a'lam."3

Catatan & Referensi

  1. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 208.

  2. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 208-221.

  3. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 221-236.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email