النَّوْعُ الرَّابِعُ وَالْعِشْرُونَ: مَعْرِفَةُ كَيْفِيَّةِ سَمَاعِ الْحَدِيثِ وَتَحَمُّلِهِ وَصِفَةِ ضَبْطِهِ
"Anwa' kedua puluh empat: mengenal tata cara sama' (mendengar) hadits, tahammul (menerimanya), dan sifat dhabt-nya."
اعْلَمْ أَنَّ طُرُقَ نَقْلِ الْحَدِيثِ وَتَحَمُّلِهِ عَلَى أَنْوَاعٍ مُتَعَدِّدَةٍ، وَلْنُقَدِّمْ عَلَى بَيَانِهَا بَيَانَ أُمُورٍ:
"Ketahuilah bahwa jalan-jalan penukilan dan penerimaan hadits (tahammul) terdiri dari beberapa anwa'. Sebelum menjelaskannya, kami akan mendahulukan penjelasan beberapa perkara:"
Perkara pertama:
يَصِحُّ التَّحَمُّلُ قَبْلَ وُجُودِ الْأَهْلِيَّةِ، فَتُقْبَلُ رِوَايَةُ مَنْ تَحَمَّلَ قَبْلَ الْإِسْلَامِ وَرَوَى بَعْدَهُ، وَكَذَلِكَ رِوَايَةُ مَنْ سَمِعَ قَبْلَ الْبُلُوغِ وَرَوَى بَعْدَهُ. وَمَنَعَ مِنْ ذَلِكَ قَوْمٌ فَأَخْطَئُوا؛ لِأَنَّ النَّاسَ قَبِلُوا رِوَايَةَ أَحْدَاثِ الصَّحَابَةِ كَالْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ، وَابْنِ عَبَّاسٍ، وَابْنِ الزُّبَيْرِ، وَالنُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ، وَأَشْبَاهِهِمْ مِنْ غَيْرِ فَرْقٍ بَيْنَ مَا تَحَمَّلُوهُ قَبْلَ الْبُلُوغِ وَمَا بَعْدَهُ، وَلَمْ يَزَالُوا قَدِيمًا وَحَدِيثًا يُحْضِرُونَ الصِّبْيَانَ مَجَالِسَ التَّحْدِيثِ وَالسَّمَاعِ، وَيَعْتَدُّونَ بِرِوَايَتِهِمْ لِذَلِكَ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Sah hukumnya tahammul sebelum terpenuhinya syarat ahliyyah (kelayakan). Riwayat orang yang menerima hadits sebelum masuk Islam lalu meriwayatkannya setelah masuk Islam diterima, begitu pula riwayat orang yang mendengar sebelum baligh lalu meriwayatkannya setelah baligh. Sebagian orang melarang hal ini, dan mereka keliru, karena orang-orang telah menerima riwayat para sahabat yang masih muda usia seperti al-Hasan bin Ali, Ibnu Abbas, Ibnuz Zubair, an-Nu'man bin Basyir, dan yang semisal mereka, tanpa membedakan antara apa yang mereka terima sebelum baligh dan sesudahnya. Sejak dahulu hingga sekarang, orang-orang senantiasa menghadirkan anak-anak ke majelis-majelis periwayatan dan sama', serta memperhitungkan riwayat mereka karena itu. Wallahu a'lam."
Perkara kedua:
قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الزُّبَيْرِيُّ: "يُسْتَحَبُّ كَتْبُ الْحَدِيثِ فِي الْعِشْرِينَ؛ لِأَنَّهَا مُجْتَمَعُ الْعَقْلِ". قَالَ: "وَأُحِبُّ أَنْ يَشْتَغِلَ دُونَهَا بِحِفْظِ الْقُرْآنِ وَالْفَرَائِضِ". وَوَرَدَ عَنْ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ قَالَ: "كَانَ الرَّجُلُ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَطْلُبَ الْحَدِيثَ تَعَبَّدَ قَبْلَ ذَلِكَ عِشْرِينَ سَنَةً". وَقِيلَ لِمُوسَى بْنِ إِسْحَاقَ: "كَيْفَ لَمْ تَكْتُبْ عَنْ أَبِي نُعَيْمٍ؟" فَقَالَ: "كَانَ أَهْلُ الْكُوفَةِ لَا يُخْرِجُونَ أَوْلَادَهُمْ فِي طَلَبِ الْحَدِيثِ صِغَارًا حَتَّى يَسْتَكْمِلُوا عِشْرِينَ سَنَةً". وَقَالَ مُوسَى بْنُ هَارُونَ: "أَهْلُ الْبَصْرَةِ يَكْتُبُونَ لِعَشْرِ سِنِينَ، وَأَهْلُ الْكُوفَةِ لِعِشْرِينَ، وَأَهْلُ الشَّامِ لِثَلَاثِينَ"، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Abu Abdillah az-Zubairi berkata: 'dianjurkan menulis hadits pada usia dua puluh tahun, karena pada usia itu akal telah sempurna.' Ia berkata: 'aku suka jika sebelum usia itu ia menyibukkan diri dengan menghafal Al-Qur'an dan ilmu faraidh.' Diriwayatkan dari Sufyan ats-Tsauri, ia berkata: 'dahulu seseorang yang hendak menuntut hadits, ia beribadah dulu selama dua puluh tahun sebelum itu.' Musa bin Ishaq ditanya: 'mengapa engkau tidak menulis hadits dari Abu Nu'aim?' Ia menjawab: 'penduduk Kufah tidak membawa anak-anak mereka menuntut hadits sejak kecil hingga mereka genap berusia dua puluh tahun.' Musa bin Harun berkata: 'penduduk Basrah menulis hadits sejak usia sepuluh tahun, penduduk Kufah sejak dua puluh tahun, dan penduduk Syam sejak tiga puluh tahun.' Wallahu a'lam."
قُلْتُ: وَيَنْبَغِي بَعْدَ أَنْ صَارَ الْمَلْحُوظُ إِبْقَاءَ سِلْسِلَةِ الْإِسْنَادِ أَنْ يُبَكَّرَ بِإِسْمَاعِ الصَّغِيرِ فِي أَوَّلِ زَمَانٍ يَصِحُّ فِيهِ بِسَمَاعِهِ، وَأَمَّا الِاشْتِغَالُ بِكَتْبِهِ الْحَدِيثَ، وَتَحْصِيلِهِ، وَضَبْطِهِ، وَتَقْيِيدِهِ، فَمِنْ حِينِ يَتَأَهَّلُ لِذَلِكَ وَيَسْتَعِدُّ لَهُ، وَذَلِكَ يَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ الْأَشْخَاصِ، وَلَيْسَ يَنْحَصِرُ فِي سِنٍّ مَخْصُوصٍ، كَمَا سَبَقَ ذِكْرُهُ آنِفًا عَنْ قَوْمٍ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: setelah yang menjadi perhatian utama adalah menjaga kelestarian rangkaian isnad, sepatutnya anak kecil sudah mulai disertakan mendengar hadits sejak zaman paling awal yang sah baginya untuk mendengar. Adapun kesibukan menulis hadits, mengumpulkannya, men-dhabt-nya, dan mencatatnya, itu dimulai sejak ia benar-benar layak dan siap untuknya - dan ini berbeda-beda menurut pribadi masing-masing, tidak terbatas pada usia tertentu, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya dari sejumlah ulama. Wallahu a'lam."
Perkara ketiga:
اخْتَلَفُوا فِي أَوَّلِ زَمَانٍ يَصِحُّ فِيهِ سَمَاعُ الصَّغِيرِ، فَرُوِّينَا عَنْ مُوسَى بْنِ هَارُونَ الْحَمَّالِ - أَحَدِ الْحُفَّاظِ النُّقَّادِ - أَنَّهُ سُئِلَ: مَتَى يَسْمَعُ الصَّبِيُّ الْحَدِيثَ؟ فَقَالَ: "إِذَا فَرَّقَ بَيْنَ الْبَقَرَةِ وَالدَّابَّةِ"، وَفِي رِوَايَةٍ: "بَيْنَ الْبَقَرَةِ وَالْحِمَارِ". وَعَنْ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ سُئِلَ: "مَتَى يَجُوزُ سَمَاعُ الصَّبِيِّ لِلْحَدِيثِ؟" فَقَالَ: "إِذَا عَقَلَ وَضَبَطَ"، فَذُكِرَ لَهُ عَنْ رَجُلٍ أَنَّهُ قَالَ: "لَا يَجُوزُ سَمَاعُهُ حَتَّى يَكُونَ لَهُ خَمْسَ عَشْرَةَ سَنَةً"، فَأَنْكَرَ قَوْلَهُ وَقَالَ: "بِئْسَ الْقَوْلُ".
"Para ulama berselisih pendapat mengenai batas usia paling awal yang sah bagi sama' seorang anak kecil. Kami meriwayatkan dari Musa bin Harun al-Hammal -salah seorang hafizh kritikus- bahwa ia ditanya: kapan seorang anak boleh mendengar hadits? Ia menjawab: 'apabila ia sudah bisa membedakan antara sapi dan hewan tunggangan' -dalam riwayat lain: 'antara sapi dan keledai'. Dari Ahmad bin Hanbal radhiyallahu 'anhu, ia ditanya: 'kapan sah sama' seorang anak untuk hadits?' Ia menjawab: 'apabila ia sudah berakal dan bisa men-dhabt (mengingat dengan baik)'. Lalu disebutkan kepadanya pendapat seseorang yang berkata: 'tidak sah sama'-nya sampai ia berusia lima belas tahun', maka beliau mengingkari pendapat itu dan berkata: 'ini pendapat yang buruk.'"
وَأَخْبَرَنِي الشَّيْخُ أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْأَسَدِيُّ، عَنْ أَبِي مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَمَّدٍ الْأَشِيرِيِّ، عَنِ الْقَاضِي الْحَافِظِ عِيَاضِ بْنِ مُوسَى السَّبْتِيِّ الْيَحْصُبِيِّ قَالَ: "قَدْ حَدَّدَ أَهْلُ الصَّنْعَةِ فِي ذَلِكَ أَنَّ أَقَلَّهُ سِنُّ مَحْمُودِ بْنِ الرَّبِيعِ"، وَذَكَرَ رِوَايَةَ الْبُخَارِيِّ فِي صَحِيحِهِ بَعْدَ أَنْ تَرْجَمَ: "مَتَى يَصِحُّ سَمَاعُ الصَّغِيرِ؟" بِإِسْنَادِهِ عَنْ مَحْمُودِ بْنِ الرَّبِيعِ قَالَ: "عَقَلْتُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَجَّةً مَجَّهَا فِي وَجْهِي وَأَنَا ابْنُ خَمْسِ سِنِينَ مِنْ دَلْوٍ"، وَفِي رِوَايَةٍ أُخْرَى: أَنَّهُ كَانَ ابْنَ أَرْبَعِ سِنِينَ، (وَاللَّهُ أَعْلَمُ).
"Syaikh Abu Muhammad Abdurrahman bin Abdillah al-Asadi mengabarkan kepadaku, dari Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad al-Asyiri, dari Al-Qadhi al-Hafizh Iyadh bin Musa as-Sabti al-Yahshubi, ia berkata: 'ahli disiplin ini telah menetapkan bahwa batas paling minimal usia itu adalah usia Mahmud bin ar-Rabi'.' Ia menyebutkan riwayat al-Bukhari dalam Shahih-nya, setelah membuat judul bab: 'kapan sah sama' seorang anak kecil?', dengan sanadnya dari Mahmud bin ar-Rabi', ia berkata: 'aku ingat sebuah kumuran air yang disemburkan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ke wajahku, dari sebuah timba, ketika aku berusia lima tahun' -dalam riwayat lain: bahwa ia saat itu berusia empat tahun. Wallahu a'lam."
قُلْتُ: التَّحْدِيدُ بِخَمْسٍ هُوَ الَّذِي اسْتَقَرَّ عَلَيْهِ عَمَلُ أَهْلِ الْحَدِيثِ الْمُتَأَخِّرِينَ، فَيَكْتُبُونَ لِابْنِ خَمْسٍ فَصَاعِدًا (سَمِعَ)، وَلِمَنْ لَمْ يَبْلُغْ خَمْسًا (حَضَرَ)، أَوْ (أُحْضِرَ). وَالَّذِي يَنْبَغِي فِي ذَلِكَ أَنْ تُعْتَبَرَ فِي كُلِّ صَغِيرٍ حَالُهُ عَلَى الْخُصُوصِ، فَإِنْ وَجَدْنَاهُ مُرْتَفِعًا عَنْ حَالِ مَنْ لَا يَعْقِلُ فَهْمًا لِلْخِطَابِ وَرَدًّا لِلْجَوَابِ وَنَحْوَ ذَلِكَ صَحَّحْنَا سَمَاعَهُ، وَإِنْ كَانَ دُونَ خَمْسٍ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ كَذَلِكَ لَمْ نُصَحِّحْ سَمَاعَهُ، وَإِنْ كَانَ ابْنَ خَمْسٍ، بَلِ ابْنَ خَمْسِينَ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: penetapan usia lima tahun inilah yang menjadi standar tetap ahli hadits mutaakhirin, sehingga mereka menulis untuk anak berusia lima tahun ke atas kata 'sami'a' (ia mendengar), dan untuk yang belum mencapai lima tahun kata 'hadhara' (ia hadir) atau 'uhdhira' (ia dihadirkan). Namun yang lebih tepat dalam hal ini adalah memperhatikan keadaan masing-masing anak secara khusus: jika kami dapati ia berada di atas kondisi orang yang tidak berakal - mampu memahami perkataan dan menjawab dengan tepat, dan semisalnya - maka kami mensahkan sama'-nya sekalipun ia belum berusia lima tahun. Jika tidak demikian, kami tidak mensahkan sama'-nya sekalipun ia sudah berusia lima tahun, bahkan lima puluh tahun sekalipun."
وَقَدْ بَلَغَنَا عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعِيدٍ الْجَوْهَرِيِّ قَالَ: "رَأَيْتُ صَبِيًّا ابْنَ أَرْبَعِ سِنِينَ قَدْ حُمِلَ إِلَى الْمَأْمُونِ قَدْ قَرَأَ الْقُرْآنَ، وَنَظَرَ فِي الرَّأْيِ، غَيْرَ أَنَّهُ إِذَا جَاعَ يَبْكِي". وَعَنِ الْقَاضِي أَبِي مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَمَّدٍ الْأَصْبَهَانِيِّ قَالَ: "حَفِظْتُ الْقُرْآنَ وَلِي خَمْسُ سِنِينَ، وَحُمِلْتُ إِلَى أَبِي بَكْرِ بْنِ الْمُقْرِئِ لِأَسْمَعَ مِنْهُ وَلِي أَرْبَعُ سِنِينَ، فَقَالَ بَعْضُ الْحَاضِرِينَ: لَا تُسَمِّعُوا لَهُ فِيمَا قُرِئَ، فَإِنَّهُ صَغِيرٌ، فَقَالَ لِي ابْنُ الْمُقْرِئِ: اقْرَأْ سُورَةَ الْكَافِرِينَ، فَقَرَأْتُهَا، فَقَالَ: اقْرَأْ سُورَةَ التَّكْوِيرِ، فَقَرَأْتُهَا، فَقَالَ لِي غَيْرُهُ: اقْرَأْ سُورَةَ الْمُرْسَلَاتِ، فَقَرَأْتُهَا، وَلَمْ أَغْلَطْ فِيهَا. فَقَالَ ابْنُ الْمُقْرِئِ: سَمِّعُوا لَهُ وَالْعُهْدَةُ عَلَيَّ".
"Sampai kepada kami dari Ibrahim bin Sa'id al-Jauhari, ia berkata: 'aku pernah melihat seorang anak berusia empat tahun dibawa menghadap al-Ma'mun, ia sudah membaca Al-Qur'an dan sudah mempelajari ilmu ra'yu (fikih), hanya saja jika lapar ia masih menangis.' Dari Al-Qadhi Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad al-Ashbahani, ia berkata: 'aku hafal Al-Qur'an saat usiaku lima tahun, dan aku dibawa menghadap Abu Bakr bin al-Muqri' untuk mendengar hadits darinya saat usiaku empat tahun. Sebagian yang hadir berkata: jangan catatkan sama' untuknya atas apa yang dibacakan, karena ia masih kecil. Maka Ibnul Muqri' berkata kepadaku: bacalah surat al-Kafirun, aku pun membacanya. Ia berkata lagi: bacalah surat at-Takwir, aku pun membacanya. Orang lain berkata kepadaku: bacalah surat al-Mursalat, aku pun membacanya tanpa kesalahan. Maka Ibnul Muqri' berkata: catatkan sama' untuknya, dan tanggung jawabnya ada padaku.'"
وَأَمَّا حَدِيثُ مَحْمُودِ بْنِ الرَّبِيعِ: فَيَدُلُّ عَلَى صِحَّةِ ذَلِكَ مِنَ ابْنِ خَمْسٍ مِثْلِ مَحْمُودٍ، وَلَا يَدُلُّ عَلَى انْتِفَاءِ الصِّحَّةِ فِيمَنْ لَمْ يَكُنِ ابْنَ خَمْسٍ، وَلَا عَلَى الصِّحَّةِ فِيمَنْ كَانَ ابْنَ خَمْسٍ وَلَمْ يُمَيِّزْ تَمْيِيزَ مَحْمُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Adapun hadits Mahmud bin ar-Rabi': ia hanya menunjukkan sahnya sama' bagi anak berusia lima tahun seperti Mahmud, dan tidak menunjukkan tidak sahnya sama' bagi yang belum berusia lima tahun, juga tidak menunjukkan sahnya sama' bagi yang sudah berusia lima tahun namun belum memiliki tamyiz (daya bedanya) seperti Mahmud radhiyallahu 'anhu. Wallahu a'lam."
Bayan Aqsam Thuruq Naql al-Hadits wa Tahammulihi (Delapan Bentuk Tahammul)
وَمَجَامِعُهَا ثَمَانِيَةُ أَقْسَامٍ.
"Keseluruhannya terhimpun dalam delapan bagian (qism)."
Qism Pertama: As-Sama' min Lafzhi asy-Syaikh (Mendengar Langsung dari Lisan Guru)
وَهُوَ يَنْقَسِمُ إِلَى إِمْلَاءٍ، وَتَحْدِيثٍ مِنْ غَيْرِ إِمْلَاءٍ، وَسَوَاءٌ كَانَ مَنْ حِفْظِهِ أَوْ مِنْ كِتَابِهِ، وَهَذَا الْقِسْمُ أَرَفَعُ الْأَقْسَامِ عِنْدَ الْجَمَاهِيرِ.
"Bentuk ini terbagi menjadi imla' (dikte) dan tahdits tanpa imla', baik yang disampaikan dari hafalan sang guru maupun dari kitabnya. Bentuk ini adalah yang paling tinggi menurut mayoritas ulama."
وَفِيمَا نَرْوِيهِ عَنِ الْقَاضِي عِيَاضِ بْنِ مُوسَى السَّبْتِيِّ - أَحَدِ الْمُتَأَخِّرِينَ الْمُطَّلِعِينَ - قَوْلُهُ: "لَا خِلَافَ أَنَّهُ يَجُوزُ فِي هَذَا أَنْ يَقُولَ السَّامِعُ مِنْهُ: حَدَّثَنَا، وَأَخْبَرَنَا، وَأَنْبَأَنَا، وَسَمِعْتُ فُلَانًا يَقُولُ، وَقَالَ لَنَا فُلَانٌ، وَذَكَرَ لَنَا فُلَانٌ".
"Di antara yang kami riwayatkan dari Al-Qadhi Iyadh bin Musa as-Sabti -salah seorang ulama mutaakhirin yang luas pengetahuannya- adalah ucapannya: 'tidak ada perselisihan bahwa dalam bentuk ini boleh dikatakan oleh orang yang mendengar darinya: haddatsana, akhbarana, anba'ana, sami'tu fulanan yaqul, qala lana fulan, dzakara lana fulan.'"
قُلْتُ: فِي هَذَا نَظَرٌ، وَيَنْبَغِي فِيمَا شَاعَ اسْتِعْمَالُهُ مِنْ هَذِهِ الْأَلْفَاظِ مَخْصُوصًا بِمَا سُمِعَ مِنْ غَيْرِ لَفْظِ الشَّيْخِ - عَلَى مَا نُبَيِّنُهُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى - أَنْ لَا يُطْلَقَ فِيمَا سَمِعَ مِنْ لَفْظِ الشَّيْخِ لِمَا فِيهِ مِنَ الْإِيهَامِ وَالْإِلْبَاسِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: dalam hal ini masih perlu ditinjau (nazhar). Yang lebih tepat, di antara lafal-lafal ini yang telah masyhur digunakan khusus untuk apa yang didengar bukan langsung dari lisan sang guru -sebagaimana akan kami jelaskan insya Allah- sepatutnya tidak digunakan secara mutlak juga untuk apa yang didengar langsung dari lisan sang guru, karena dapat menimbulkan kesamaran dan kekeliruan. Wallahu a'lam."
وَذَكَرَ الْحَافِظُ أَبُو بَكْرٍ الْخَطِيبُ أَنَّ أَرْفَعَ الْعِبَارَاتِ فِي ذَلِكَ "سَمِعْتُ" ثُمَّ "حَدَّثَنَا وَحَدَّثَنِي"، فَإِنَّهُ لَا يَكَادُ أَحَدٌ يَقُولُ: "سَمِعْتُ" فِي أَحَادِيثِ الْإِجَازَةِ وَالْمُكَاتَبَةِ، وَلَا فِي تَدْلِيسِ مَا لَمْ يَسْمَعْهُ.
"Al-Hafizh Abu Bakr al-Khathib menyebutkan bahwa ungkapan yang paling tinggi dalam hal ini adalah 'sami'tu' (aku mendengar), kemudian 'haddatsana dan haddatsani' (ia menceritakan kepada kami/kepadaku). Sebab, hampir tidak ada seorang pun yang berkata 'sami'tu' untuk hadits yang diperoleh dengan ijazah atau mukatabah, ataupun untuk hadits yang di-tadlis (yang sebenarnya tidak ia dengar)."
وَكَانَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ يَقُولُ فِيمَا أُجِيزَ لَهُ "حَدَّثَنَا"، وَرُوِيَ عَنِ الْحَسَنِ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ: "حَدَّثَنَا أَبُو هُرَيْرَةَ" وَيَتَأَوَّلُ أَنَّهُ حَدَّثَ أَهْلَ الْمَدِينَةِ، وَكَانَ الْحَسَنُ إِذْ ذَاكَ بِهَا إِلَّا أَنَّهُ لَمْ يَسْمَعْ مِنْهُ شَيْئًا. قُلْتُ: وَمِنْهُمْ مَنْ أَثْبَتَ لَهُ سَمَاعًا مِنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Sebagian ulama biasa mengatakan 'haddatsana' untuk apa yang diijazahkan kepadanya. Diriwayatkan dari al-Hasan (al-Bashri), bahwa ia biasa berkata: 'haddatsana Abu Hurairah', dengan takwil bahwa Abu Hurairah pernah meriwayatkan hadits kepada penduduk Madinah, dan al-Hasan saat itu berada di sana - hanya saja ia sendiri tidak pernah mendengar apa pun langsung darinya. Aku (Ibnu Shalah) berkata: sebagian ulama menetapkan bahwa al-Hasan memang pernah mendengar dari Abu Hurairah. Wallahu a'lam."
ثُمَّ يَتْلُو ذَلِكَ قَوْلُ: "أَخْبَرَنَا" وَهُوَ كَثِيرٌ فِي الِاسْتِعْمَالِ، حَتَّى أَنَّ جَمَاعَةً مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ كَانُوا لَا يَكَادُونَ يُخْبِرُونَ عَمَّا سَمِعُوهُ مِنْ لَفْظِ مَنْ حَدَّثَهُمْ إِلَّا بِقَوْلِهِمْ: "أَخْبَرَنَا"، مِنْهُمْ حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ، وَهُشَيْمُ بْنُ بَشِيرٍ، وَعُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى، وَعَبْدُ الرَّزَّاقِ بْنُ هَمَّامٍ، وَيَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، وَعَمْرُو بْنُ عَوْنٍ، وَيَحْيَى بْنُ يَحْيَى التَّمِيمِيُّ، وَإِسْحَاقُ بْنُ رَاهَوَيْهِ، وَأَبُو مَسْعُودٍ أَحْمَدُ بْنُ الْفُرَاتِ، وَمُحَمَّدُ بْنُ أَيُّوبَ الرَّازِيَّانِ، وَغَيْرُهُمْ.
"Setelah itu menyusul ucapan 'akhbarana' (mengabarkan kepada kami), yang banyak digunakan, sampai-sampai sebagian ulama hampir tidak pernah mengabarkan apa yang mereka dengar langsung dari lisan guru mereka kecuali dengan ucapan 'akhbarana', di antaranya Hammad bin Salamah, Abdullah bin al-Mubarak, Husyaim bin Basyir, Ubaidullah bin Musa, Abdurrazzaq bin Hammam, Yazid bin Harun, Amr bin Aun, Yahya bin Yahya at-Tamimi, Ishaq bin Rahawaih, Abu Mas'ud Ahmad bin al-Furat, dan Muhammad bin Ayyub ar-Razi, serta selain mereka."
وَذَكَرَ الْخَطِيبُ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ رَافِعٍ قَالَ: كَانَ عَبْدُ الرَّزَّاقِ يَقُولُ: "أَنَا" حَتَّى قَدِمَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ، وَإِسْحَاقُ بْنُ رَاهْوَيْهِ، فَقَالَا لَهُ: قُلْ: "حَدَّثَنَا"، فَكُلُّ مَا سَمِعْتُ مَعَ هَؤُلَاءِ قَالَ: "حَدَّثَنَا" وَمَا كَانَ قَبْلَ ذَلِكَ قَالَ: "أَنَا". وَعَنْ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي الْفَوَارِسِ الْحَافِظِ قَالَ: هُشَيْمٌ، وَيَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، وَعَبْدُ الرَّزَّاقِ، لَا يَقُولُونَ إِلَّا "أَخْبَرَنَا" فَإِذَا رَأَيْتَ "حَدَّثَنَا" فَهُوَ مِنَ خَطَأِ الْكَاتِبِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Al-Khathib menyebutkan dari Muhammad bin Rafi', ia berkata: dahulu Abdurrazzaq biasa berkata 'ana' (singkatan dari akhbarana), sampai Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahawaih datang lalu berkata kepadanya: ucapkanlah 'haddatsana'. Maka semua yang aku dengar bersama mereka berdua, ia berkata 'haddatsana', dan yang sebelum itu ia berkata 'ana'. Dari Muhammad bin Abil Fawaris al-Hafizh, ia berkata: Husyaim, Yazid bin Harun, dan Abdurrazzaq tidak mengatakan kecuali 'akhbarana' - jika engkau melihat 'haddatsana' (dari mereka), maka itu adalah kesalahan penulis. Wallahu a'lam."
قُلْتُ: وَكَانَ هَذَا كُلُّهُ قَبْلَ أَنْ يَشِيعَ تَخْصِيصُ (أَخْبَرَنَا) بِمَا قُرِئَ عَلَى الشَّيْخِ، ثُمَّ يَتْلُو قَوْلَ "أَخْبَرَنَا" قَوْلُ "أَنْبَأَنَا"، وَ "نَبَّأَنَا"، وَهُوَ قَلِيلٌ فِي الِاسْتِعْمَالِ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: semua ini terjadi sebelum masyhurnya pengkhususan lafal 'akhbarana' untuk apa yang dibacakan kepada sang guru (qira'ah). Setelah 'akhbarana' menyusul ucapan 'anba'ana' dan 'nabba'ana', yang jarang digunakan."
قُلْتُ: (حَدَّثَنَا، وَأَخْبَرَنَا) أَرْفَعُ مِنْ (سَمِعْتُ) مِنْ جِهَةٍ أُخْرَى، وَهِيَ أَنَّهُ لَيْسَ فِي (سَمِعْتُ) دَلَالَةٌ عَلَى أَنَّ الشَّيْخَ رَوَّاهُ الْحَدِيثَ وَخَاطَبَهُ بِهِ، وَفِي (حَدَّثَنَا، وَأَخْبَرَنَا) دَلَالَةٌ عَلَى أَنَّهُ خَاطَبَهُ بِهِ وَرَوَاهُ لَهُ، أَوْ هُوَ مِمَّنْ فَعَلَ بِهِ ذَلِكَ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: (haddatsana dan akhbarana) sebenarnya lebih tinggi daripada (sami'tu) dari sisi yang lain, yaitu bahwa dalam (sami'tu) tidak ada indikasi bahwa sang guru sengaja meriwayatkan hadits itu dan menyampaikannya langsung kepadanya, sedangkan dalam (haddatsana dan akhbarana) ada indikasi bahwa ia sengaja menyampaikannya dan meriwayatkannya kepadanya, atau bahwa ia termasuk orang yang dituju penyampaian itu."
سَأَلَ الْخَطِيبُ أَبُو بَكْرٍ الْحَافِظُ شَيْخَهُ أَبَا بَكْرٍ الْبَرْقَانِيَّ الْفَقِيهَ الْحَافِظَ - رَحِمَهُمَا اللَّهُ تَعَالَى - عَنِ السِّرِّ فِي كَوْنِهِ يَقُولُ فِيمَا رَوَاهُ لَهُمْ عَنْ أَبِي الْقَاسِمِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ الْجُرْجَانِيِّ الْآبَنْدُونِيِّ "سَمِعْتُ" وَلَا يَقُولُ "حَدَّثَنَا، وَلَا أَخْبَرَنَا" فَذَكَرَ لَهُ: أَنَّ أَبَا الْقَاسِمِ كَانَ مَعَ ثِقَتِهِ وَصَلَاحِهِ عَسِرًا فِي الرِّوَايَةِ، فَكَانَ الْبَرْقَانِيُّ يَجْلِسُ بِحَيْثُ لَا يَرَاهُ أَبُو الْقَاسِمِ، وَلَا يَعْلَمُ بِحُضُورِهِ، فَيَسْمَعُ مِنْهُ مَا يُحَدِّثُ بِهِ الشَّخْصَ الدَّاخِلَ إِلَيْهِ، فَلِذَلِكَ يَقُولُ: "سَمِعْتُ"، وَلَا يَقُولُ: "حَدَّثَنَا، وَلَا أَخْبَرَنَا"، لِأَنَّ قَصْدَهُ كَانَ الرِّوَايَةَ لِلدَّاخِلِ إِلَيْهِ وَحْدَهُ.
"Al-Khathib Abu Bakr al-Hafizh bertanya kepada gurunya, Abu Bakr al-Barqani al-Faqih al-Hafizh -rahimahumallah Ta'ala- tentang rahasia mengapa ia mengatakan 'sami'tu' untuk apa yang ia riwayatkan kepada mereka dari Abul Qasim Abdullah bin Ibrahim al-Jurjani al-Abandūni, dan tidak mengatakan 'haddatsana' ataupun 'akhbarana'. Beliau menjelaskan: bahwa Abul Qasim, meski tsiqah dan shalih, sangat sulit dalam hal periwayatan (enggan meriwayatkan secara terbuka), sehingga al-Barqani biasa duduk di tempat yang tidak terlihat oleh Abul Qasim dan tidak diketahui kehadirannya, lalu ia mendengarkan apa yang diceritakan Abul Qasim kepada orang lain yang datang menemuinya. Karena itu ia mengatakan 'sami'tu' dan tidak mengatakan 'haddatsana' ataupun 'akhbarana', karena maksud Abul Qasim sesungguhnya hanya meriwayatkan kepada orang yang datang menemuinya itu saja."
وَأَمَّا قَوْلُهُ "قَالَ لَنَا فُلَانٌ، أَوْ ذَكَرَ لَنَا فُلَانٌ" فَهُوَ مِنْ قَبِيلِ قَوْلِهِ: "حَدَّثَنَا فُلَانٌ" غَيْرَ أَنَّهُ لَائِقٌ بِمَا سَمِعَهُ مِنْهُ فِي الْمُذَاكَرَةِ، وَهُوَ بِهِ أَشْبَهُ مِنْ (حَدَّثَنَا). وَقَدْ حَكَيْنَا فِي فَصْلِ التَّعْلِيقِ - عَقِيبَ النَّوْعِ الْحَادِيَ عَشَرَ - عَنْ كَثِيرٍ مِنَ الْمُحَدِّثِينَ اسْتِعْمَالَ ذَلِكَ مُعَبِّرِينَ بِهِ عَمَّا جَرَى بَيْنَهُمْ فِي الْمُذَاكَرَاتِ وَالْمُنَاظَرَاتِ.
"Adapun ucapan 'qala lana fulan' (fulan berkata kepada kami) atau 'dzakara lana fulan' (fulan menyebutkan kepada kami), ia termasuk golongan ucapan 'haddatsana fulan', hanya saja lebih cocok untuk apa yang didengar dalam sesi mudzakarah (diskusi lisan), dan lebih serupa dengannya daripada (haddatsana). Kami telah menceritakan dalam pasal ta'liq -setelah anwa' kesebelas- dari banyak muhaddits tentang penggunaan lafal ini untuk menceritakan apa yang terjadi di antara mereka dalam mudzakarah dan munazharah (perdebatan ilmiah)."
وَأَوْضَعُ الْعِبَارَاتِ فِي ذَلِكَ أَنْ يَقُولَ: "قَالَ فُلَانٌ، أَوْ: ذَكَرَ فُلَانٌ" مِنْ غَيْرِ ذِكْرِ قَوْلِهِ "لِي، وَلَنَا" وَنَحْوَ ذَلِكَ. وَقَدْ قَدَّمْنَا فِي فَصْلِ الْإِسْنَادِ الْمُعَنْعَنِ أَنَّ ذَلِكَ وَمَا أَشْبَهَهُ مِنَ الْأَلْفَاظِ مَحْمُولٌ عِنْدَهُمْ عَلَى السَّمَاعِ، إِذَا عُرِفَ لِقَاؤُهُ لَهُ وَسَمَاعُهُ مِنْهُ عَلَى الْجُمْلَةِ، لَا سِيَّمَا إِذَا عُرِفَ مِنْ حَالِهِ أَنَّهُ لَا يَقُولُ: "قَالَ فُلَانٌ" إِلَّا فِيمَا سَمِعَهُ مِنْهُ.
"Ungkapan yang paling rendah dalam hal ini adalah berkata: 'qala fulan' atau 'dzakara fulan' tanpa menyebut kata 'li' (kepadaku) atau 'lana' (kepada kami) dan semisalnya. Kami telah sebutkan sebelumnya dalam pasal isnad mu'an'an bahwa lafal ini dan yang serupa dengannya dibawa oleh para ulama kepada makna sama', apabila diketahui pertemuan dan pendengarannya darinya secara umum, terlebih lagi jika diketahui dari kebiasaannya bahwa ia tidak mengatakan 'qala fulan' kecuali untuk apa yang benar-benar ia dengar darinya."
وَقَدْ كَانَ حَجَّاجُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْأَعْوَرُ يَرْوِي عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ كُتُبَهُ، وَيَقُولُ فِيهَا: "قَالَ ابْنُ جُرَيْجٍ" فَحَمَلَهَا النَّاسُ عَنْهُ، وَاحْتَجُّوا بِرِوَايَاتِهِ، وَكَانَ قَدْ عُرِفَ مِنْ حَالِهِ أَنَّهُ لَا يَرْوِي إِلَّا مَا سَمِعَهُ. وَقَدْ خَصَّصَ الْخَطِيبُ أَبُو بَكْرٍ الْحَافِظُ الْقَوْلَ بِحَمْلِ ذَلِكَ عَلَى السَّمَاعِ بِمَنْ عُرِفَ مِنْ عَادَتِهِ مِثْلُ ذَلِكَ، وَالْمَحْفُوظُ الْمَعْرُوفُ مَا قَدَّمْنَا ذِكْرَهُ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Hajjaj bin Muhammad al-A'war biasa meriwayatkan kitab-kitab Ibnu Juraij dengan berkata: 'Ibnu Juraij berkata', maka orang-orang pun menerima riwayat itu darinya dan berhujjah dengannya, karena telah diketahui dari kebiasaannya bahwa ia tidak meriwayatkan kecuali apa yang benar-benar ia dengar. Al-Khathib Abu Bakr al-Hafizh mengkhususkan pendapat yang membawa lafal itu kepada makna sama' hanya bagi orang yang diketahui memiliki kebiasaan demikian, dan yang sudah menjadi ketetapan yang dikenal adalah apa yang telah kami sebutkan sebelumnya. Wallahu a'lam."
Perkara ketujuh (dari kaidah sama'):
يَصِحُّ السَّمَاعُ مِمَّنْ هُوَ وَرَاءَ حِجَابٍ، إِذَا عَرَفَ صَوْتَهُ، فِيمَا إِذَا حَدَّثَ بِلَفْظِهِ، وَإِذَا عَرَفَ حُضُورَهُ بِمَسْمَعٍ مِنْهُ فِيمَا إِذَا قُرِئَ عَلَيْهِ. وَيَنْبَغِي أَنْ يَجُوزَ الِاعْتِمَادُ فِي مَعْرِفَةِ صَوْتِهِ وَحُضُورِهِ عَلَى خَبَرِ مَنْ يُوثَقُ بِهِ. وَقَدْ كَانُوا يَسْمَعُونَ مِنْ عَائِشَةَ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا - وَغَيْرِهَا مِنْ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ، وَيَرْوُونَهُ عَنْهُنَّ اعْتِمَادًا عَلَى الصَّوْتِ. وَاحْتَجَّ عَبْدُ الْغَنِيِّ بْنُ سَعِيدٍ الْحَافِظُ فِي ذَلِكَ بِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّ بِلَالًا يُنَادِي بِلَيْلٍ، فَكُلُوا، وَاشْرَبُوا حَتَّى يُنَادِيَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ". وَرَوَى بِإِسْنَادِهِ عَنْ شُعْبَةَ أَنَّهُ قَالَ: إِذَا حَدَّثَكَ الْمُحَدِّثُ فَلَمْ تَرَ وَجْهَهُ فَلَا تَرْوِ عَنْهُ، فَلَعَلَّهُ شَيْطَانٌ قَدْ تَصَوَّرَ فِي صُورَتِهِ يَقُولُ: "حَدَّثَنَا، وَأَخْبَرَنَا"، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Sah sama' dari seseorang yang berada di balik tabir, apabila suaranya dikenali, dalam hal jika ia menyampaikan hadits dengan lisannya sendiri; dan apabila diketahui kehadirannya dalam jangkauan pendengaran, dalam hal jika dibacakan kepadanya. Sepatutnya boleh diandalkan pengetahuan tentang suara dan kehadirannya itu pada kabar dari orang yang bisa dipercaya. Dahulu para sahabat biasa mendengar dari Aisyah radhiyallahu 'anha dan istri-istri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang lain dari balik tabir, dan meriwayatkan darinya berdasarkan pengenalan suara. Abdul Ghani bin Sa'id al-Hafizh berhujjah dalam hal ini dengan sabda beliau shallallahu 'alaihi wasallam: 'sesungguhnya Bilal menyerukan azan pada malam hari, maka makan dan minumlah sampai Ibnu Ummi Maktum menyerukan azannya' -sebagai bukti bahwa pengenalan suara itu cukup. Ia juga meriwayatkan dengan sanadnya dari Syu'bah, bahwa ia berkata: 'apabila seorang muhaddits menceritakan hadits kepadamu dan engkau tidak melihat wajahnya, janganlah engkau meriwayatkan darinya, karena bisa jadi itu adalah setan yang menjelma dalam rupanya, berkata: haddatsana, akhbarana.' Wallahu a'lam."
Perkara kedelapan:
مَنْ سَمِعَ مِنْ شَيْخٍ حَدِيثًا، ثُمَّ قَالَ لَهُ: لَا تَرْوِهِ عَنِّي، أَوْ: لَا آذَنُ لَكَ فِي رِوَايَتِهِ عَنِّي، أَوْ قَالَ: لَسْتُ أُخْبِرُكَ بِهِ، أَوْ: رَجَعْتُ عَنْ إِخْبَارِي إِيَّاكَ بِهِ، فَلَا تَرْوِهِ عَنِّي، غَيْرَ مُسْنِدٍ ذَلِكَ إِلَى أَنَّهُ أَخْطَأَ فِيهِ، أَوْ شَكَّ فِيهِ، وَنَحْوَ ذَلِكَ، بَلْ مَنَعَهُ مِنْ رِوَايَتِهِ عَنْهُ مَعَ جَزْمِهِ بِأَنَّهُ حَدِيثُهُ وَرِوَايَتُهُ، فَذَلِكَ غَيْرُ مُبْطِلٍ لِسَمَاعِهِ، وَلَا مَانِعَ لَهُ مِنْ رِوَايَتِهِ عَنْهُ.
"Siapa yang mendengar suatu hadits dari seorang guru, lalu sang guru berkata kepadanya: 'jangan engkau riwayatkan dariku', atau 'aku tidak mengizinkanmu meriwayatkannya dariku', atau berkata: 'aku tidak lagi mengabarkannya kepadamu', atau 'aku menarik kembali pemberitahuanku kepadamu tentangnya, maka jangan engkau riwayatkan dariku' - tanpa menyandarkan larangan itu pada alasan bahwa ia keliru atau ragu di dalamnya, melainkan semata-mata melarangnya meriwayatkan darinya padahal sang guru tetap yakin bahwa itu memang haditsnya dan riwayatnya - maka hal itu tidak membatalkan sama'-nya, dan tidak menghalanginya untuk tetap meriwayatkannya darinya."
وَسَأَلَ الْحَافِظُ أَبُو سَعِيدِ بْنُ عَلِيَّكْ النَّيْسَابُورِيُّ الْأُسْتَاذَ أَبَا إِسْحَاقَ الْإِسْفَرَائِينِيَّ رَحِمَهُمَا اللَّهُ، عَنْ مُحَدِّثٍ خَصَّ بِالسَّمَاعِ قَوْمًا، فَجَاءَ غَيْرُهُمْ، وَسَمِعَ مِنْهُ مِنْ غَيْرِ عِلْمِ الْمُحَدِّثِ بِهِ، هَلْ يَجُوزُ لَهُ رِوَايَةُ ذَلِكَ عَنْهُ؟ فَأَجَابَ: بِأَنَّهُ يَجُوزُ، وَلَوْ قَالَ الْمُحَدِّثُ: إِنِّي أُخْبِرُكُمْ، وَلَا أُخْبِرُ فُلَانًا، لَمْ يَضُرَّهُ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Al-Hafizh Abu Sa'id bin Alaik an-Naisaburi bertanya kepada Ustadz Abu Ishaq al-Isfarayini -rahimahumallah- tentang seorang muhaddits yang mengkhususkan sama' bagi sekelompok orang tertentu, lalu datang orang lain dan mendengar darinya tanpa sepengetahuan sang muhaddits, apakah boleh baginya meriwayatkan hal itu darinya? Beliau menjawab: boleh. Sekalipun sang muhaddits berkata: 'aku hanya mengabarkan kepada kalian, dan tidak mengabarkan kepada si fulan', itu tidak membahayakannya. Wallahu a'lam."
Qism Kedua: Al-Qira'ah 'alash-Syaikh (Membaca di Hadapan Guru)
وَأَكْثَرُ الْمُحَدِّثِينَ يُسَمُّونَهَا (عَرْضًا) مِنْ حَيْثُ إِنَّ الْقَارِئَ يَعْرِضُ عَلَى الشَّيْخِ مَا يَقْرَؤُهُ كَمَا يُعْرَضُ الْقُرْآنُ عَلَى الْمُقْرِئِ. وَسَوَاءٌ كُنْتَ أَنْتَ الْقَارِئَ، أَوْ قَرَأَ غَيْرُكَ وَأَنْتَ تَسْمَعُ، أَوْ قَرَأْتَ مِنْ كِتَابٍ، أَوْ مِنْ حِفْظِكَ، أَوْ كَانَ الشَّيْخُ يَحْفَظُ مَا يُقْرَأُ عَلَيْهِ، أَوْ لَا يَحْفَظُهُ لَكِنْ يُمْسِكُ أَصْلَهُ هُوَ أَوْ ثِقَةٌ غَيْرُهُ. وَلَا خِلَافَ أَنَّهَا رِوَايَةٌ صَحِيحَةٌ، إِلَّا مَا حُكِيَ عَنْ بَعْضِ مَنْ لَا يُعْتَدُّ بِخِلَافِهِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Mayoritas muhaddits menamainya (ardh - penyodoran), karena si pembaca menyodorkan kepada gurunya apa yang ia baca, sebagaimana Al-Qur'an disodorkan kepada seorang muqri' (guru bacaan). Sama saja apakah engkau sendiri yang membaca, atau orang lain yang membaca sementara engkau mendengarkan, atau engkau membaca dari kitab, atau dari hafalanmu, atau sang guru hafal apa yang dibacakan kepadanya, atau tidak hafal namun ia sendiri atau orang tsiqah lain memegang naskah aslinya. Tidak ada perselisihan bahwa ini adalah riwayat yang sah, kecuali yang diceritakan dari sebagian orang yang perselisihannya tidak diperhitungkan. Wallahu a'lam."
وَاخْتَلَفُوا فِي أَنَّهَا مِثْلُ السَّمَاعِ مِنْ لَفْظِ الشَّيْخِ فِي الْمَرْتَبَةِ، أَوْ دُونَهُ، أَوْ فَوْقَهُ؟ فَنُقِلَ عَنْ أَبِي حَنِيفَةَ، وَابْنِ أَبِي ذِئْبٍ، وَغَيْرِهِمَا تَرْجِيحُ الْقِرَاءَةِ عَلَى الشَّيْخِ عَلَى السَّمَاعِ مِنْ لَفْظِهِ، وَرُوِيَ ذَلِكَ عَنْ مَالِكٍ أَيْضًا. وَرُوِيَ عَنْ مَالِكٍ، وَغَيْرِهِ: أَنَّهُمَا سَوَاءٌ، وَقَدْ قِيلَ: إِنَّ التَّسْوِيَةَ بَيْنَهُمَا مَذْهَبُ مُعْظَمِ عُلَمَاءِ الْحِجَازِ، وَالْكُوفَةِ، وَمَذْهَبُ مَالِكٍ وَأَصْحَابِهِ، وَأَشْيَاخِهِ مِنْ عُلَمَاءِ الْمَدِينَةِ، وَمَذْهَبُ الْبُخَارِيِّ، وَغَيْرِهِمْ.
"Para ulama berselisih pendapat apakah qira'ah 'alash-shaykh setara martabatnya dengan sama' dari lisan sang guru, atau di bawahnya, atau justru di atasnya? Dinukil dari Abu Hanifah, Ibnu Abi Dzi'b, dan selain keduanya, bahwa mereka mengunggulkan qira'ah 'alash-shaykh atas sama' dari lisannya - diriwayatkan pula demikian dari Malik. Diriwayatkan pula dari Malik dan selainnya bahwa keduanya setara. Ada yang mengatakan: penyetaraan keduanya adalah mazhab mayoritas ulama Hijaz dan Kufah, mazhab Malik dan para pengikut serta gurunya dari ulama Madinah, dan mazhab al-Bukhari serta selain mereka."
وَالصَّحِيحُ: تَرْجِيحُ السَّمَاعِ مِنْ لَفْظِ الشَّيْخِ، وَالْحُكْمُ بِأَنَّ الْقِرَاءَةَ عَلَيْهِ مَرْتَبَةٌ ثَانِيَةٌ. وَقَدْ قِيلَ: إِنَّ هَذَا مَذْهَبُ جُمْهُورِ أَهْلِ الْمَشْرِقِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Pendapat yang shahih adalah mengunggulkan sama' dari lisan sang guru, dan menghukumi qira'ah 'alash-shaykh sebagai martabat kedua. Ada yang mengatakan: inilah mazhab mayoritas ulama Masyriq (kawasan timur dunia Islam). Wallahu a'lam."
وَأَمَّا الْعِبَارَةُ عَنْهَا عِنْدَ الرِّوَايَةِ بِهَا فَهِيَ عَلَى مَرَاتِبَ: أَجْوَدُهَا وَأَسْلَمُهَا أَنْ يَقُولَ: (قَرَأْتُ عَلَى فُلَانٍ، أَوْ قُرِئَ عَلَى فُلَانٍ، وَأَنَا أَسْمَعُ، فَأَقَرَّ بِهِ) فَهَذَا سَائِغٌ مِنْ غَيْرِ إِشْكَالٍ.
"Adapun ungkapan yang dipakai ketika meriwayatkan dengan cara ini, terdiri dari beberapa martabat. Yang paling baik dan paling selamat adalah mengatakan: 'aku membaca di hadapan fulan', atau 'dibacakan kepada fulan, sementara aku mendengarkan, lalu ia mengakuinya (mengonfirmasi)'. Ini sah tanpa ada persoalan."
وَيَتْلُو ذَلِكَ مَا يَجُوزُ مِنَ الْعِبَارَاتِ فِي السَّمَاعِ مِنْ لَفْظِ الشَّيْخِ مُطْلَقَةً، إِذَا أَتَى بِهَا هَاهُنَا مُقَيَّدَةً، بِأَنْ يَقُولَ (حَدَّثَنَا فُلَانٌ قِرَاءَةً عَلَيْهِ، أَوْ: أَخْبَرَنَا قِرَاءَةً عَلَيْهِ) وَنَحْوَ ذَلِكَ. وَكَذَلِكَ (أَنْشَدَنَا قِرَاءَةً عَلَيْهِ) فِي الشِّعْرِ.
"Setelah itu, menyusul ungkapan-ungkapan yang boleh dipakai dari sama' langsung dari lisan guru secara mutlak, apabila di sini digunakan dengan taqyid (pembatasan), yaitu dengan mengatakan: 'haddatsana fulan qira'atan 'alaihi' (fulan menceritakan kepada kami, dengan cara dibacakan kepadanya), atau 'akhbarana qira'atan 'alaihi', dan semisalnya. Begitu pula 'ansyadana qira'atan 'alaihi' untuk syair."
وَأَمَّا إِطْلَاقُ (حَدَّثَنَا، وَأَخْبَرَنَا) فِي الْقِرَاءَةِ عَلَى الشَّيْخِ، فَقَدِ اخْتَلَفُوا فِيهِ عَلَى مَذَاهِبَ: فَمِنْ أَهْلِ الْحَدِيثِ مَنْ مَنَعَ مِنْهُمَا جَمِيعًا، وَقِيلَ: إِنَّهُ قَوْلُ ابْنِ الْمُبَارَكِ، وَيَحْيَى بْنِ يَحْيَى التَّمِيمِيِّ، وَأَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ، وَالنَّسَائِيِّ، وَغَيْرِهِمْ.
"Adapun penggunaan lafal (haddatsana dan akhbarana) secara mutlak dalam qira'ah 'alash-shaykh, para ulama berselisih pendapat menjadi beberapa mazhab. Sebagian ahli hadits melarang keduanya secara mutlak - dikatakan ini adalah pendapat Ibnul Mubarak, Yahya bin Yahya at-Tamimi, Ahmad bin Hanbal, an-Nasa'i, dan selain mereka."
وَمِنْهُمْ مَنْ ذَهَبَ إِلَى تَجْوِيزِ ذَلِكَ، وَأَنَّهُ كَالسَّمَاعِ مِنْ لَفْظِ الشَّيْخِ فِي جَوَازِ إِطْلَاقِ (حَدَّثَنَا، وَأَخْبَرَنَا، وَأَنْبَأَنَا). وَقَدْ قِيلَ: إِنَّ هَذَا مَذْهَبُ مُعْظَمِ الْحِجَازِيِّينَ، وَالْكُوفِيِّينَ، وَقَوْلُ الزُّهْرِيِّ، وَمَالِكٍ، وَسُفْيَانَ بْنِ عُيَيْنَةَ، وَيَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ الْقَطَّانِ، فِي آخَرِينَ مِنَ الْأَئِمَّةِ الْمُتَقَدِّمِينَ، وَهُوَ مَذْهَبُ الْبُخَارِيِّ صَاحِبِ الصَّحِيحِ فِي جَمَاعَةٍ مِنَ الْمُحَدِّثِينَ. وَمِنْ هَؤُلَاءِ مَنْ أَجَازَ فِيهَا أَيْضًا أَنْ يَقُولَ (سَمِعْتُ فُلَانًا).
"Sebagian lain berpendapat membolehkan hal itu, dan menganggapnya seperti sama' dari lisan sang guru dalam hal bolehnya penggunaan lafal (haddatsana, akhbarana, anba'ana) secara mutlak. Ada yang mengatakan: inilah mazhab mayoritas ulama Hijaz dan Kufah, dan pendapat az-Zuhri, Malik, Sufyan bin Uyainah, Yahya bin Sa'id al-Qaththan, dan sejumlah imam mutaqaddimin lainnya, serta mazhab al-Bukhari penulis kitab Shahih bersama sejumlah muhaddits lainnya. Sebagian dari mereka bahkan membolehkan juga mengatakan 'sami'tu fulanan' (aku mendengar fulan) dalam qira'ah."
وَالْمَذْهَبُ الثَّالِثُ: الْفَرْقُ بَيْنَهُمَا فِي ذَلِكَ، وَالْمَنْعُ مِنْ إِطْلَاقِ (حَدَّثَنَا)، وَتَجْوِيزُ إِطْلَاقِ (أَخْبَرَنَا)، وَهُوَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ، وَأَصْحَابِهِ، وَهُوَ مَنْقُولٌ عَنْ مُسْلِمٍ صَاحِبِ الصَّحِيحِ، وَجُمْهُورِ أَهْلِ الْمَشْرِقِ. وَذَكَرَ صَاحِبُ (كِتَابِ الْإِنْصَافِ) مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ التَّمِيمِيُّ الْجَوْهَرِيُّ الْمِصْرِيُّ: أَنَّ هَذَا مَذْهَبُ الْأَكْثَرِ مِنْ أَصْحَابِ الْحَدِيثِ الَّذِينَ لَا يُحْصِيهِمْ أَحَدٌ، وَأَنَّهُمْ جَعَلُوا (أَخْبَرَنَا) عَلَمًا يَقُومُ مَقَامَ قَوْلِ قَائِلِهِ: "أَنَا قَرَأْتُهُ عَلَيْهِ، لَا أَنَّهُ لَفَظَ بِهِ لِي". قَالَ: "وَمِمَّنْ كَانَ يَقُولُ بِهِ مِنْ أَهْلِ زَمَانِنَا أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ النَّسَائِيُّ، فِي جَمَاعَةٍ مِثْلِهِ مِنْ مُحَدِّثِينَا".
"Mazhab ketiga: membedakan antara keduanya, yaitu melarang penggunaan mutlak (haddatsana) dan membolehkan penggunaan mutlak (akhbarana) - inilah mazhab asy-Syafi'i dan para pengikutnya, dan dinukil pula dari Muslim penulis kitab Shahih serta mayoritas ulama Masyriq. Penulis Kitab al-Inshaf, Muhammad bin al-Hasan at-Tamimi al-Jauhari al-Mishri, menyebutkan bahwa ini adalah mazhab mayoritas ahli hadits yang jumlahnya tak terhitung, dan mereka menjadikan (akhbarana) sebagai penanda yang menggantikan ucapan: 'aku membacanya di hadapannya, bukan ia yang mengucapkannya kepadaku.' Ia berkata: 'di antara ulama zaman kami yang berpendapat demikian adalah Abu Abdirrahman an-Nasa'i, beserta sejumlah muhaddits kami yang semisalnya.'"
قُلْتُ: وَقَدْ قِيلَ: إِنَّ أَوَّلَ مَنْ أَحْدَثَ الْفَرْقَ بَيْنَ هَذَيْنِ اللَّفْظَيْنِ ابْنُ وَهْبٍ بِمِصْرَ. وَهَذَا يَدْفَعُهُ أَنَّ ذَلِكَ مَرْوِيٌّ عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، والْأَوْزَاعِيِّ، حَكَاهُ عَنْهُمَا الْخَطِيبُ أَبُو بَكْرٍ، إِلَّا أَنْ يَعْنِيَ أَنَّهُ أَوَّلُ مَنْ فَعَلَ ذَلِكَ بِمِصْرَ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: ada yang mengatakan bahwa orang pertama yang memunculkan pembedaan antara kedua lafal ini adalah Ibnu Wahb di Mesir. Namun ini terbantahkan, karena hal itu juga diriwayatkan dari Ibnu Juraij dan al-Auza'i - diceritakan dari keduanya oleh al-Khathib Abu Bakr - kecuali jika yang dimaksud adalah bahwa Ibnu Wahb-lah orang pertama yang melakukannya di Mesir. Wallahu a'lam."
قُلْتُ: الْفَرْقُ بَيْنَهُمَا صَارَ هُوَ الشَّائِعَ الْغَالِبَ عَلَى أَهْلِ الْحَدِيثِ، وَالِاحْتِجَاجُ لِذَلِكَ مِنْ حَيْثُ اللُّغَةُ عَنَاءٌ وَتَكَلُّفٌ، وَخَيْرُ مَا يُقَالُ فِيهِ: إِنَّهُ اصْطِلَاحٌ مِنْهُمْ أَرَادُوا بِهِ التَّمْيِيزَ بَيْنَ النَّوْعَيْنِ، ثُمَّ خُصِّصَ النَّوْعُ الْأَوَّلُ بِقَوْلِ "حَدَّثَنَا" لِقُوَّةِ إِشْعَارِهِ بِالنُّطْقِ، وَالْمُشَافَهَةِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: pembedaan antara keduanya inilah yang menjadi kebiasaan dominan di kalangan ahli hadits. Berhujjah untuk hal itu dari sisi bahasa adalah usaha yang berat dan dipaksakan. Sebaik-baik yang bisa dikatakan tentangnya adalah: ia merupakan istilah (ishthilah) dari mereka sendiri, yang dimaksudkan untuk membedakan dua bentuk ini, lalu bentuk pertama dikhususkan dengan ucapan 'haddatsana' karena kuatnya kesan ucapan lisan dan tatap muka langsung padanya. Wallahu a'lam."
وَمِنْ أَحْسَنِ مَا يُحْكَى عَمَّنْ يَذْهَبُ هَذَا الْمَذْهَبَ مَا حَكَاهُ الْحَافِظُ أَبُو بَكْرٍ الْبَرْقَانِيُّ، عَنْ أَبِي حَاتِمٍ مُحَمَّدِ بْنِ يَعْقُوبَ الْهَرَوِيِّ، أَحَدِ رُؤَسَاءِ أَهْلِ الْحَدِيثِ بِخُرَاسَانَ: أَنَّهُ قَرَأَ عَلَى بَعْضِ الشُّيُوخِ عَنِ الْفَرَبْرِيِّ صَحِيحَ الْبُخَارِيِّ، وَكَانَ يَقُولُ لَهُ فِي كُلِّ حَدِيثٍ: "حَدَّثَكُمُ الْفَرَبْرِيُّ"، فَلَمَّا فَرَغَ مِنَ الْكِتَابِ سَمِعَ الشَّيْخَ يَذْكُرُ: أَنَّهُ إِنَّمَا سَمِعَ الْكِتَابَ مِنَ الْفَرَبْرِيِّ قِرَاءَةً عَلَيْهِ، فَأَعَادَ أَبُو حَاتِمٍ قِرَاءَةَ الْكِتَابِ كُلِّهِ، وَقَالَ لَهُ فِي جَمِيعِهِ: "أَخْبَرَكُمُ الْفَرَبْرِيُّ"، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Di antara kisah paling baik yang diceritakan dari orang yang menganut mazhab ini adalah apa yang diceritakan al-Hafizh Abu Bakr al-Barqani, dari Abu Hatim Muhammad bin Ya'qub al-Harawi, salah seorang pemuka ahli hadits di Khurasan: bahwa ia pernah membaca Shahih al-Bukhari kepada sebagian syaikh, dari al-Farabri, dan syaikh itu biasa berkata untuk setiap hadits: 'al-Farabri telah menceritakan kepada kalian'. Ketika selesai membaca seluruh kitab, ia mendengar syaikh itu menyebutkan bahwa ia sesungguhnya hanya mendengar kitab itu dari al-Farabri dengan cara membaca di hadapannya (qira'ah). Maka Abu Hatim mengulang kembali membaca seluruh kitab itu, dan untuk seluruhnya ia mengatakan: 'al-Farabri telah mengabarkan kepada kalian'. Wallahu a'lam."
Tafri'at (Cabang-Cabang Pembahasan Qira'ah)
Cabang pertama:
إِذَا كَانَ أَصْلُ الشَّيْخِ عِنْدَ الْقِرَاءَةِ عَلَيْهِ بِيَدِ غَيْرِهِ، وَهُوَ مَوْثُوقٌ بِهِ مُرَاعٍ لِمَا يُقْرَأُ، أَهْلٌ لِذَلِكَ، فَإِنْ كَانَ الشَّيْخُ يَحْفَظُ مَا يُقْرَأُ عَلَيْهِ فَهُوَ كَمَا لَوْ كَانَ أَصْلُهُ بِيَدِ نَفْسِهِ، بَلْ أَوْلَى لِتَعَاضُدِ ذِهْنَيْ شَخْصَيْنِ عَلَيْهِ. وَإِنْ كَانَ الشَّيْخُ لَا يَحْفَظُ مَا يُقْرَأُ عَلَيْهِ، فَهَذَا مِمَّا اخْتَلَفُوا فِيهِ، فَرَأَى بَعْضُ أَئِمَّةِ الْأُصُولِ أَنَّ هَذَا سَمَاعٌ غَيْرُ صَحِيحٍ. وَالْمُخْتَارُ أَنَّ ذَلِكَ صَحِيحٌ، وَبِهِ عَمِلَ مُعْظَمُ الشُّيُوخِ، وَأَهْلِ الْحَدِيثِ.
"Apabila naskah asli sang guru, ketika dibacakan kepadanya, berada di tangan orang lain, dan orang itu terpercaya, memperhatikan dengan saksama apa yang dibaca, serta layak untuk itu - maka jika sang guru hafal apa yang dibacakan kepadanya, keadaannya sama seperti jika naskah asli itu ada di tangannya sendiri, bahkan lebih baik lagi karena bersatunya perhatian dua orang atasnya. Namun jika sang guru tidak hafal apa yang dibacakan kepadanya, ini termasuk yang diperselisihkan ulama: sebagian imam ushul berpandangan bahwa sama' semacam ini tidak sah. Yang dipilih adalah bahwa hal itu sah, dan inilah yang diamalkan mayoritas syaikh dan ahli hadits."
وَإِذَا كَانَ الْأَصْلُ بِيَدِ الْقَارِئِ، وَهُوَ مَوْثُوقٌ بِهِ دِينًا وَمَعْرِفَةً، فَكَذَلِكَ الْحُكْمُ فِيهِ، وَأَوْلَى بِالتَّصْحِيحِ. وَأَمَّا إِذَا كَانَ أَصْلُهُ بِيَدِ مَنْ لَا يُوثَقُ بِإِمْسَاكِهِ لَهُ، وَلَا يُؤْمَنُ إِهْمَالُهُ لِمَا يُقْرَأُ، فَسَوَاءٌ كَانَ بِيَدِ الْقَارِئِ أَوْ بِيَدِ غَيْرِهِ، فِي أَنَّهُ سَمَاعٌ غَيْرُ مُعْتَدٍّ بِهِ، إِذَا كَانَ الشَّيْخُ غَيْرَ حَافِظٍ لِلْمَقْرُوءِ عَلَيْهِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Apabila naskah asli itu berada di tangan si pembaca sendiri, dan ia terpercaya baik dari sisi agama maupun pengetahuannya, maka hukumnya sama, bahkan lebih pantas untuk disahkan. Adapun apabila naskah asli itu berada di tangan orang yang tidak dapat dipercaya penjagaannya, dan tidak aman dari kelalaiannya terhadap apa yang dibaca, maka sama saja apakah berada di tangan si pembaca atau orang lain - sama'-nya tidak diperhitungkan, apabila sang guru sendiri tidak hafal apa yang dibacakan kepadanya. Wallahu a'lam."
Cabang kedua:
إِذَا قَرَأَ الْقَارِئُ عَلَى الشَّيْخِ قَائِلًا: "أَخْبَرَكَ فُلَانٌ، أَوْ قُلْتَ: أَخْبَرَنَا فُلَانٌ"، أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ، وَالشَّيْخُ سَاكِتٌ، مُصْغٍ إِلَيْهِ، فَاهِمٌ لِذَلِكَ، غَيْرُ مُنْكِرٍ لَهُ، فَهَذَا كَافٍ فِي ذَلِكَ.
"Apabila si pembaca membaca di hadapan sang guru seraya berkata: 'fulan telah mengabarkan kepadamu', atau 'engkau berkata: fulan mengabarkan kepada kami', atau semisalnya, sementara sang guru diam, mendengarkan dengan saksama, memahaminya, dan tidak mengingkarinya, maka ini sudah cukup."
وَاشْتَرَطَ بَعْضُ الظَّاهِرِيَّةِ وَغَيْرُهُمْ إِقْرَارَ الشَّيْخِ نُطْقًا، وَبِهِ قَطَعَ الشَّيْخُ أَبُو إِسْحَاقَ الشِّيرَازِيُّ، وَأَبُو الْفَتْحِ سُلَيْمٌ الرَّازِيُّ، وَأَبُو نَصْرِ بْنُ الصَّبَّاغِ مِنَ الْفُقَهَاءِ الشَّافِعِيِّينَ. قَالَ أَبُو نَصْرٍ: لَيْسَ لَهُ أَنْ يَقُولَ (حَدَّثَنِي)، أَوْ (أَخْبَرَنِي)، وَلَهُ أَنْ يَعْمَلَ بِمَا قُرِئَ عَلَيْهِ، وَإِذَا أَرَادَ رِوَايَتَهُ عَنْهُ قَالَ: قَرَأْتُ عَلَيْهِ، أَوْ: قُرِئَ عَلَيْهِ، وَهُوَ يَسْمَعُ.
"Sebagian ulama Zhahiriyyah dan selain mereka mensyaratkan pengakuan lisan (iqrar bin-nuthq) dari sang guru - ini yang ditegaskan Syaikh Abu Ishaq asy-Syirazi, Abul Fath Sulaim ar-Razi, dan Abu Nashr Ibnush Shabbagh dari fuqaha Syafi'iyyah. Abu Nashr berkata: 'ia tidak boleh mengatakan haddatsani atau akhbarani, namun boleh mengamalkan apa yang dibacakan kepadanya, dan bila hendak meriwayatkannya darinya, ia berkata: aku membaca di hadapannya, atau: dibacakan kepadanya sementara ia mendengarkan.'"
وَفِي حِكَايَةِ بَعْضِ الْمُصَنِّفِينَ لِلْخِلَافِ فِي ذَلِكَ أَنَّ بَعْضَ الظَّاهِرِيَّةِ شَرَطَ إِقْرَارَ الشَّيْخِ عِنْدَ تَمَامِ السَّمَاعِ: بِأَنْ يَقُولَ الْقَارِئُ لِلشَّيْخِ "وَهُوَ كَمَا قَرَأْتُهُ عَلَيْكَ؟"، فَيَقُولُ: نَعَمْ. وَالصَّحِيحُ أَنَّ ذَلِكَ غَيْرُ لَازِمٍ، وَأَنَّ سُكُوتَ الشَّيْخِ عَلَى الْوَجْهِ الْمَذْكُورِ نَازِلٌ مَنْزِلَةَ تَصْرِيحِهِ بِتَصْدِيقِ الْقَارِئِ، اكْتِفَاءً بِالْقَرَائِنِ الظَّاهِرَةِ، وَهَذَا مَذْهَبُ الْجَمَاهِيرِ مِنَ الْمُحَدِّثِينَ، وَالْفُقَهَاءِ، وَغَيْرِهِمْ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Dalam penceritaan sebagian penulis tentang perselisihan ini, disebutkan bahwa sebagian Zhahiriyyah mensyaratkan pengakuan sang guru saat sama' selesai, yaitu si pembaca berkata kepada sang guru: 'apakah demikian bunyinya seperti yang kubacakan kepadamu?', lalu sang guru menjawab: 'ya'. Yang shahih, hal itu tidak wajib, dan diamnya sang guru dengan cara yang telah disebutkan sudah setara kedudukannya dengan pengakuan tegas atas kebenaran bacaan si pembaca, cukup dengan mengandalkan qarinah (indikasi) yang tampak. Inilah mazhab mayoritas muhaddits, fuqaha, dan selain mereka. Wallahu a'lam."
Cabang ketiga:
فِيمَا نَرْوِيهِ عَنِ الْحَاكِمِ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظِ رَحِمَهُ اللَّهُ، قَالَ: "الَّذِي أَخْتَارُهُ فِي الرِّوَايَةِ، وَعَهِدْتُ عَلَيْهِ أَكْثَرَ مَشَايِخِي، وَأَئِمَّةَ عَصْرِي: أَنْ يَقُولَ فِي الَّذِي يَأْخُذُهُ مِنَ الْمُحَدِّثِ لَفْظًا، وَلَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ: "حَدَّثَنِي فُلَانٌ"، وَمَا يَأْخُذُهُ مِنَ الْمُحَدِّثِ لَفْظًا، وَمَعَهُ غَيْرُهُ: "حَدَّثَنَا فُلَانٌ"، وَمَا قَرَأَ عَلَى الْمُحَدِّثِ بِنَفْسِهِ: "أَخْبَرَنِي فُلَانٌ"، وَمَا قُرِئَ عَلَى الْمُحَدِّثِ، وَهُوَ حَاضِرٌ: "أَخْبَرَنَا فُلَانٌ".
"Di antara yang kami riwayatkan dari al-Hakim Abu Abdillah al-Hafizh rahimahullah, ia berkata: 'yang aku pilih dalam periwayatan, dan yang aku ketahui menjadi pegangan mayoritas guru-guruku serta para imam sezamanku, adalah: untuk apa yang diambil langsung dari lisan muhaddits, tanpa disertai orang lain, dikatakan haddatsani fulan. Untuk apa yang diambil langsung dari lisan muhaddits bersama orang lain, dikatakan haddatsana fulan. Untuk apa yang dibaca sendiri di hadapan sang muhaddits, dikatakan akhbarani fulan. Dan untuk apa yang dibacakan kepada muhaddits sementara ia hadir, dikatakan akhbarana fulan.'"
وَقَدْ رُوِّينَا نَحْوَ مَا ذَكَرَهُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ وَهْبٍ صَاحِبِ مَالِكٍ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا - وَهُوَ حَسَنٌ رَائِقٌ.
"Kami juga meriwayatkan hal serupa dari Abdullah bin Wahb, murid Malik -radhiyallahu 'anhuma- dan ini adalah pendapat yang baik dan indah."
فَإِنْ شَكَّ فِي شَيْءٍ عِنْدَهُ أَنَّهُ مِنْ قَبِيلِ "حَدَّثَنَا، أَوْ أَخْبَرَنَا"، أَوْ مِنْ قَبِيلِ "حَدَّثَنِي، أَوْ أَخْبَرَنِي" لِتَرَدُّدِهِ فِي أَنَّهُ كَانَ عِنْدَ التَّحَمُّلِ، وَالسَّمَاعِ وَحْدَهُ أَوْ مَعَ غَيْرِهِ، فَيُحْتَمَلُ أَنْ نَقُولَ: لِيَقُلْ "حَدَّثَنِي أَوْ أَخْبَرَنِي"، لِأَنَّ عَدَمَ غَيْرِهِ هُوَ الْأَصْلُ. وَلَكِنْ ذَكَرَ عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْمَدِينِيُّ الْإِمَامُ، عَنْ شَيْخِهِ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ الْقَطَّانِ الْإِمَامِ، فِيمَا إِذَا شَكَّ أَنَّ الشَّيْخَ قَالَ: "حَدَّثَنِي فُلَانٌ"، أَوْ قَالَ "حَدَّثَنَا فُلَانٌ"، أَنَّهُ يَقُولُ "حَدَّثَنَا".
"Apabila seseorang ragu apakah suatu riwayat termasuk golongan 'haddatsana atau akhbarana' ataukah 'haddatsani atau akhbarani', karena ia bimbang apakah saat menerima dan mendengar riwayat itu ia sendirian ataukah disertai orang lain - maka dimungkinkan kami katakan: hendaklah ia mengatakan 'haddatsani atau akhbarani', karena tidak adanya orang lain adalah asalnya. Namun Ali bin Abdillah al-Madini al-Imam menyebutkan dari gurunya, Yahya bin Sa'id al-Qaththan al-Imam, bahwa dalam kasus ketika ragu apakah sang guru berkata 'haddatsani fulan' atau 'haddatsana fulan', hendaklah ia mengatakan 'haddatsana'."
وَهَذَا يَقْتَضِي فِيمَا إِذَا شَكَّ فِي سَمَاعِ نَفْسِهِ فِي مِثْلِ ذَلِكَ أَنْ يَقُولَ: "حَدَّثَنَا"، وَهُوَ عِنْدِي يَتَوَجَّهُ بِأَنَّ (حَدَّثَنِي) أَكْمَلُ مَرْتَبَةً، وَ (حَدَّثَنَا) أَنْقَصُ مَرْتَبَةً، فَلْيَقْتَصِرْ إِذَا شَكَّ عَلَى النَّاقِصِ؛ لِأَنَّ عَدَمَ الزَّائِدِ هُوَ الْأَصْلُ، وَهَذَا لَطِيفٌ. ثُمَّ وَجَدْتُ الْحَافِظَ أَحْمَدَ الْبَيْهَقِيَّ - رَحِمَهُ اللَّهُ - قَدِ اخْتَارَ بَعْدَ حِكَايَتِهِ قَوْلَ الْقَطَّانِ مَا قَدَّمْتُهُ.
"Ini menunjukkan bahwa dalam kasus ragu terhadap sama' dirinya sendiri, ia hendaknya mengatakan 'haddatsana'. Menurutku, hal ini bisa diarahkan bahwa (haddatsani) lebih sempurna martabatnya, dan (haddatsana) lebih rendah martabatnya, sehingga ketika ragu, hendaklah ia membatasi diri pada yang lebih rendah, karena ketiadaan tambahan itulah yang menjadi asalnya - dan ini adalah pandangan yang lembut/halus. Kemudian aku mendapati al-Hafizh Ahmad al-Baihaqi -rahimahullah- telah memilih pendapat yang telah kusampaikan ini, setelah menceritakan ucapan al-Qaththan."
ثُمَّ إِنَّ هَذَا التَّفْصِيلَ مِنْ أَصْلِهِ مُسْتَحَبٌّ، وَلَيْسَ بِوَاجِبٍ، حَكَاهُ الْخَطِيبُ الْحَافِظُ عَنْ أَهْلِ الْعِلْمِ كَافَّةً، فَجَائِزٌ إِذَا سَمِعَ وَحْدَهُ أَنْ يَقُولَ: "حَدَّثَنَا"، أَوْ نَحْوَهُ، لِجَوَازِ ذَلِكَ لِلْوَاحِدِ فِي كَلَامِ الْعَرَبِ، وَجَائِزٌ إِذَا سَمِعَ فِي جَمَاعَةٍ أَنْ يَقُولَ: "حَدَّثَنِي"؛ لِأَنَّ الْمُحَدِّثَ حَدَّثَهُ، وَحَدَّثَ غَيْرَهُ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Perincian ini pada asalnya hanyalah anjuran (mustahab), bukan kewajiban - diceritakan al-Khathib al-Hafizh dari seluruh ahli ilmu. Maka boleh saja ketika mendengar sendirian, seseorang mengatakan 'haddatsana' atau semisalnya, karena hal itu boleh digunakan untuk satu orang dalam bahasa Arab. Boleh pula ketika mendengar bersama sekelompok orang, ia mengatakan 'haddatsani', karena sang muhaddits memang menceritakan kepadanya, dan juga menceritakan kepada yang lain. Wallahu a'lam."
Cabang keempat:
رُوِّينَا عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - أَنَّهُ قَالَ: اتَّبِعْ لَفْظَ الشَّيْخِ فِي قَوْلِهِ: "حَدَّثَنَا، وَحَدَّثَنِي، وَسَمِعْتُ، وَأَخْبَرَنَا"، وَلَا تَعْدُوهُ.
"Kami meriwayatkan dari Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal radhiyallahu 'anhu, bahwa ia berkata: 'ikutilah lafal yang digunakan sang guru sendiri dalam ucapannya: haddatsana, haddatsani, sami'tu, akhbarana - dan janganlah engkau menyimpang darinya.'"
قُلْتُ: لَيْسَ لَكَ فِيمَا تَجِدُهُ فِي الْكُتُبِ الْمُؤَلَّفَةِ مِنْ رِوَايَاتِ مَنْ تَقَدَّمَكَ أَنْ تُبَدِّلَ فِي نَفْسِ الْكِتَابِ مَا قِيلَ فِيهِ (أَخْبَرَنَا) بِـ (حَدَّثَنَا)، وَنَحْوُ ذَلِكَ، وَإِنْ كَانَ فِي إِقَامَةِ أَحَدِهِمَا مَقَامَ الْآخَرِ خِلَافٌ وَتَفْصِيلٌ سَبَقَ، لِاحْتِمَالِ أَنْ يَكُونَ مَنْ قَالَ ذَلِكَ مِمَّنْ لَا يَرَى التَّسْوِيَةَ بَيْنَهُمَا. وَلَوْ وَجَدْتَ مِنْ ذَلِكَ إِسْنَادًا عَرَفْتَ مِنْ مَذْهَبِ رِجَالِهِ التَّسْوِيَةَ بَيْنَهُمَا فَإِقَامَتُكَ أَحَدَهُمَا مَقَامَ الْآخَرِ مِنْ بَابِ تَجْوِيزِ الرِّوَايَةِ بِالْمَعْنَى، وَذَلِكَ وَإِنْ كَانَ فِيهِ خِلَافٌ مَعْرُوفٌ فَالَّذِي نَرَاهُ الِامْتِنَاعَ مِنْ إِجْرَاءِ مِثْلِهِ فِي إِبْدَالِ مَا وُضِعَ فِي الْكُتُبِ الْمُصَنَّفَةِ، وَالْمَجَامِعِ الْمَجْمُوعَةِ، عَلَى مَا سَنَذْكُرُهُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: engkau tidak boleh, dalam kitab-kitab yang telah disusun berisi riwayat-riwayat generasi sebelummu, mengganti dalam kitab itu sendiri apa yang tertulis (akhbarana) menjadi (haddatsana) dan semisalnya, sekalipun ada perselisihan dan perincian yang telah lewat tentang menyamakan salah satunya dengan yang lain, karena bisa jadi orang yang menuliskan itu termasuk orang yang tidak berpandangan menyamakan keduanya. Sekiranya engkau mendapati sebuah sanad yang engkau ketahui bahwa mazhab para perawinya menyamakan keduanya, maka menggantikan salah satunya dengan yang lain termasuk bab bolehnya periwayatan secara makna - dan sekalipun hal itu ada perselisihan yang dikenal, yang kami pandang adalah larangan melakukan hal semacam itu dalam mengganti apa yang telah tertulis dalam kitab-kitab yang telah disusun dan kumpulan-kumpulan yang telah dihimpun, sebagaimana akan kami sebutkan insya Allah Ta'ala."
وَمَا ذَكَرَهُ الْخَطِيبُ أَبُو بَكْرٍ فِي "كِفَايَتِهِ" مِنْ إِجْرَاءِ ذَلِكَ الْخِلَافِ فِي هَذَا، فَمَحْمُولٌ عِنْدَنَا عَلَى مَا يَسْمَعُهُ الطَّالِبُ مِنْ لَفْظِ الْمُحَدِّثِ، غَيْرُ مَوْضُوعٍ فِي كِتَابٍ مُؤَلَّفٍ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Apa yang disebutkan al-Khathib Abu Bakr dalam kitabnya al-Kifayah, tentang berlakunya perselisihan itu dalam kasus ini, menurut kami dibawa kepada makna apa yang didengar langsung oleh sang penuntut ilmu dari lisan muhaddits, yang belum dituliskan dalam sebuah kitab yang tersusun. Wallahu a'lam."
Cabang kelima:
اخْتَلَفَ أَهْلُ الْعِلْمِ فِي صِحَّةِ سَمَاعِ مَنْ يَنْسَخُ وَقْتَ الْقِرَاءَةِ، فَوَرَدَ عَنِ الْإِمَامِ إِبْرَاهِيمَ الْحَرْبِيِّ، وَأَبِي أَحْمَدَ بْنِ عَدِيٍّ الْحَافِظِ، وَالْأُسْتَاذِ أَبِي إِسْحَاقَ الْإِسْفَرَائِينِيِّ الْفَقِيهِ الْأُصُولِيِّ، وَغَيْرِهِمْ نَفْيُ ذَلِكَ.
"Para ulama berselisih pendapat mengenai sahnya sama' orang yang sedang menyalin naskah pada saat qira'ah berlangsung. Diriwayatkan dari Imam Ibrahim al-Harbi, Abu Ahmad Ibnu Adi al-Hafizh, Ustadz Abu Ishaq al-Isfarayini al-Faqih al-Ushuli, dan selain mereka, penolakan atas hal itu."
وَرُوِّينَا عَنْ أَبِي بَكْرٍ أَحْمَدَ بْنِ إِسْحَاقَ الصِّبْغِيِّ، أَحَدِ أَئِمَّةِ الشَّافِعِيِّينَ بِخُرَاسَانَ أَنَّهُ سُئِلَ عَمَّنْ يَكْتُبُ فِي السَّمَاعِ؟ فَقَالَ: يَقُولُ: "حَضَرْتُ"، وَلَا يَقُلْ: "حَدَّثَنَا، وَلَا أَخْبَرَنَا". وَوَرَدَ عَنْ مُوسَى بْنِ هَارُونَ الْحَمَّالِ تَجْوِيزُ ذَلِكَ. وَعَنْ أَبِي حَاتِمٍ الرَّازِيِّ قَالَ: "كَتَبْتُ عِنْدَ عَارِمٍ وَهُوَ يَقْرَأُ، وَكَتَبْتُ عِنْدَ عَمْرِو بْنِ مَرْزُوقٍ، وَهُوَ يَقْرَأُ". وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ: أَنَّهُ قُرِئَ عَلَيْهِ، وَهُوَ يَنْسَخُ شَيْئًا آخَرَ غَيْرَ مَا يُقْرَأُ. وَلَا فَرْقَ بَيْنَ النَّسْخِ مِنَ السَّامِعِ، وَالنَّسْخِ مِنَ الْمُسْمِعِ.
"Kami meriwayatkan dari Abu Bakr Ahmad bin Ishaq ash-Shibghi, salah seorang imam Syafi'iyyah di Khurasan, bahwa ia ditanya tentang orang yang menulis (naskah lain) saat sama' berlangsung? Ia menjawab: hendaklah ia berkata 'hadhartu' (aku hadir), dan jangan mengatakan 'haddatsana' ataupun 'akhbarana'. Diriwayatkan dari Musa bin Harun al-Hammal bolehnya hal itu. Dari Abu Hatim ar-Razi, ia berkata: 'aku menulis di majelis Arim sementara ia sedang membaca, dan aku menulis di majelis Amr bin Marzuq sementara ia sedang membaca.' Dari Abdullah bin al-Mubarak: bahwa ia pernah dibacakan kepadanya sementara ia menyalin sesuatu yang lain, bukan apa yang sedang dibacakan. Tidak ada perbedaan antara menyalin dari pihak yang mendengar dan menyalin dari pihak yang membacakan."
قُلْتُ: وَخَيْرٌ مِنْ هَذَا الْإِطْلَاقِ التَّفْصِيلُ. فَنَقُولُ: لَا يَصِحُّ السَّمَاعُ إِذَا كَانَ النَّسْخُ بِحَيْثُ يَمْتَنِعُ مَعَهُ فَهْمُ النَّاسِخِ لِمَا يُقْرَأُ، حَتَّى يَكُونَ الْوَاصِلُ إِلَى سَمْعِهِ كَأَنَّهُ صَوْتٌ غُفْلٌ. وَيَصِحُّ إِذَا كَانَ بِحَيْثُ لَا يَمْتَنِعُ مَعَهُ الْفَهْمُ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: lebih baik daripada penetapan mutlak ini adalah perincian. Maka kami katakan: tidak sah sama' apabila menyalin itu sedemikian rupa sehingga mencegah pemahaman si penyalin terhadap apa yang dibaca, hingga apa yang sampai ke pendengarannya seolah hanya suara kosong belaka. Namun sah, apabila keadaannya tidak sampai mencegah pemahaman."
كَمِثْلِ مَا رُوِّينَاهُ عَنِ الْحَافِظِ الْعَالِمِ أَبِي الْحَسَنِ الدَّارَقُطْنِيِّ: أَنَّهُ حَضَرَ فِي حَدَاثَتِهِ مَجْلِسَ إِسْمَاعِيلَ الصَّفَّارِ، فَجَلَسَ يَنْسَخُ جُزْءًا كَانَ مَعَهُ، وَإِسْمَاعِيلُ يُمْلِي، فَقَالَ لَهُ بَعْضُ الْحَاضِرِينَ: لَا يَصِحُّ سَمَاعُكَ، وَأَنْتَ تَنْسَخُ، فَقَالَ: فَهْمِي لِلْإِمْلَاءِ خِلَافُ فَهْمِكَ، ثُمَّ قَالَ: تَحْفَظُ كَمْ أَمْلَى الشَّيْخُ مِنْ حَدِيثٍ إِلَى الْآنَ؟ فَقَالَ: لَا، فَقَالَ الدَّارَقُطْنِيُّ: أَمْلَى ثَمَانِيَةَ عَشَرَ حَدِيثًا، فَعُدَّتِ الْأَحَادِيثُ فَوُجِدَتْ كَمَا قَالَ. ثُمَّ قَالَ أَبُو الْحَسَنِ: الْحَدِيثُ الْأَوَّلُ مِنْهَا عَنْ فُلَانٍ، عَنْ فُلَانٍ، وَمَتْنُهُ كَذَا. وَالْحَدِيثُ الثَّانِي، عَنْ فُلَانٍ، عَنْ فُلَانٍ، وَمَتْنُهُ كَذَا، وَلَمْ يَزَلْ يَذْكُرُ أَسَانِيدَ الْأَحَادِيثِ، وَمُتُونَهَا عَلَى تَرْتِيبِهَا فِي الْإِمْلَاءِ حَتَّى أَتَى عَلَى آخِرِهَا، فَتَعَجَّبَ النَّاسُ مِنْهُ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Seperti yang kami riwayatkan dari al-Hafizh al-'Alim Abul Hasan ad-Daraquthni: bahwa di masa mudanya ia menghadiri majelis Isma'il ash-Shaffar, lalu ia duduk menyalin sebuah juz yang ia bawa, sementara Isma'il mengimla' (mendiktekan hadits). Sebagian yang hadir berkata kepadanya: 'sama'mu tidak sah, sementara engkau menyalin.' Ia menjawab: 'pemahamanku terhadap imla' berbeda dengan pemahamanmu.' Kemudian ia berkata: 'apakah engkau ingat berapa hadits yang telah didiktekan sang guru sampai sekarang?' Orang itu menjawab: 'tidak.' Ad-Daraquthni berkata: 'ia telah mendiktekan delapan belas hadits.' Maka hadits-hadits itu pun dihitung, dan ternyata memang seperti yang ia katakan. Kemudian Abul Hasan (ad-Daraquthni) berkata: 'hadits pertama darinya dari fulan, dari fulan, dan matannya demikian. Hadits kedua, dari fulan, dari fulan, dan matannya demikian' - dan ia terus menyebutkan sanad-sanad hadits dan matan-matannya sesuai urutan dalam imla' itu hingga sampai pada yang terakhir. Orang-orang pun terheran-heran dengannya. Wallahu a'lam."
Cabang keenam:
مَا ذَكَرْنَاهُ فِي النَّسْخِ مِنَ التَّفْصِيلِ يَجْرِي مِثْلُهُ فِيمَا إِذَا كَانَ الشَّيْخُ، أَوِ السَّامِعُ يَتَحَدَّثُ، أَوْ كَانَ الْقَارِئُ خَفِيفَ الْقِرَاءَةِ يُفْرِطُ فِي الْإِسْرَاعِ. أَوْ كَانَ يُهَيْنِمُ بِحَيْثُ يُخْفِي بَعْضَ الْكَلِمِ، أَوْ كَانَ السَّامِعُ بَعِيدًا عَنِ الْقَارِئِ، وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ. ثُمَّ الظَّاهِرُ أَنَّهُ يُعْفَى فِي كُلِّ ذَلِكَ عَنِ الْقَدْرِ الْيَسِيرِ نَحْوِ الْكَلِمَةِ وَالْكَلِمَتَيْنِ.
"Perincian yang telah kami sebutkan tentang menyalin naskah berlaku pula pada kasus yang serupa: apabila sang guru atau pendengar sedang berbicara (dengan orang lain), atau si pembaca membaca dengan sangat cepat secara berlebihan, atau bergumam sehingga sebagian kata tersamar, atau pendengar berada jauh dari pembaca, dan yang semisal itu. Yang tampak, dalam semua kasus ini dimaafkan jika hanya sebatas kadar sedikit, seperti satu atau dua kata saja."
وَيُسْتَحَبُّ لِلشَّيْخِ أَنْ يُجِيزَ لِجَمِيعِ السَّامِعِينَ رِوَايَةَ جَمِيعِ الْجُزْءِ، أَوِ الْكِتَابِ الَّذِي سَمِعُوهُ، وَإِنْ جَرَى عَلَى كُلِّهِ اسْمُ السَّمَاعِ. وَإِذَا بَذَلَ لِأَحَدٍ مِنْهُمْ خَطَّهُ بِذَلِكَ كَتَبَ لَهُ: سَمِعَ مِنِّي هَذَا الْكِتَابَ، وَأَجَزْتُ لَهُ رِوَايَتَهُ عَنِّي، أَوْ نَحْوَ هَذَا، كَمَا كَانَ بَعْضُ الشُّيُوخِ يَفْعَلُ.
"Dianjurkan bagi sang guru untuk mengijazahkan kepada seluruh pendengar periwayatan seluruh juz atau kitab yang telah mereka dengar, sekalipun seluruhnya sudah berstatus sama'. Apabila ia memberikan tulisan tangannya untuk itu kepada salah seorang dari mereka, hendaklah ia menuliskan: 'ia telah mendengar dariku kitab ini, dan aku mengijazahkan kepadanya untuk meriwayatkannya dariku', atau semisalnya - sebagaimana yang biasa dilakukan sebagian syaikh."
وَفِيمَا نَرْوِيهِ عَنِ الْفَقِيهِ أَبِي مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَتَّابٍ الْفَقِيهِ الْأَنْدَلُسِيِّ، عَنْ أَبِيهِ رَحِمَهُمَا اللَّهُ أَنَّهُ قَالَ: لَا غِنَى فِي السَّمَاعِ عَنِ الْإِجَازَةِ؛ لِأَنَّهُ قَدْ يَغْلَطُ الْقَارِئُ، وَيَغْفَلُ الشَّيْخُ، أَوْ يَغْلَطُ الشَّيْخُ إِنْ كَانَ الْقَارِئَ، وَيَغْفُلُ السَّامِعُ، فَيَنْجَبِرُ لَهُ مَا فَاتَهُ بِالْإِجَازَةِ. هَذَا الَّذِي ذَكَرْنَاهُ تَحْقِيقٌ حَسَنٌ.
"Di antara yang kami riwayatkan dari Al-Faqih Abu Muhammad bin Abi Abdillah bin Attab al-Faqih al-Andalusi, dari ayahnya rahimahumallah, bahwa ia berkata: 'sama' tidak bisa mencukupi tanpa disertai ijazah, karena bisa jadi si pembaca keliru sementara sang guru lalai, atau sang guru keliru -jika ia sendiri yang membaca- sementara pendengar lalai, sehingga apa yang terlewat itu bisa tertutupi dengan ijazah.' Ini adalah penjelasan yang baik."
وَقَدْ رُوِّينَا عَنْ صَالِحِ بْنِ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قُلْتُ لِأَبِي: الشَّيْخُ يُدْغِمُ الْحَرْفَ يُعْرَفُ أَنَّهُ كَذَا وَكَذَا، وَلَا يُفْهَمُ عَنْهُ، تَرَى أَنْ يُرْوَى ذَلِكَ عَنْهُ؟ قَالَ: أَرْجُو أَنْ لَا يَضِيقَ هَذَا.
"Kami meriwayatkan dari Shalih bin Ahmad bin Hanbal radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: aku bertanya kepada ayahku: 'seorang guru yang mengidgamkan (melebur) suatu huruf sehingga diketahui maksudnya demikian dan demikian, namun tidak sepenuhnya dipahami darinya - menurutmu bolehkah itu diriwayatkan darinya?' Ia menjawab: 'aku berharap hal itu tidak menjadi persoalan sempit.'"
وَبَلَغَنَا عَنْ خَلَفِ بْنِ سَالِمٍ الْمُخَرَّمِيِّ، قَالَ: سَمِعْتُ ابْنَ عُيَيْنَةَ يَقُولُ: "نا عَمْرُو بْنُ دِينَارٍ" يُرِيدُ "حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ دِينَارٍ" لَكِنِ اقْتَصَرَ مِنْ "حَدَّثَنَا" عَلَى "النُّونِ وَالْأَلِفِ" فَإِذَا قِيلَ لَهُ قُلْ: "حَدَّثَنَا عَمْرٌو"، قَالَ: لَا أَقُولُ؛ لِأَنِّي لَمْ أَسْمَعْ مِنْ قَوْلِهِ: "حَدَّثَنَا" ثَلَاثَةَ أَحْرُفٍ، وَهِيَ "حَدَّثَ" لِكَثْرَةِ الزِّحَامِ.
"Sampai kepada kami dari Khalaf bin Salim al-Mukharrami, ia berkata: aku mendengar Ibnu Uyainah berkata: 'na Amru bin Dinar', maksudnya 'haddatsana Amru bin Dinar', hanya saja ia membatasi diri dari 'haddatsana' hanya pada huruf 'nun' dan 'alif' saja. Ketika dikatakan kepadanya: ucapkanlah 'haddatsana Amrun' secara lengkap, ia menjawab: 'aku tidak akan mengucapkannya, karena aku tidak mendengar tiga huruf pertama dari kata haddatsana, yaitu had-tsa, karena terlalu ramai dan berdesakan.'"
قُلْتُ: قَدْ كَانَ كَثِيرٌ مِنْ أَكَابِرِ الْمُحَدِّثِينَ يَعْظُمُ الْجَمْعُ فِي مَجَالِسِهِمْ جِدًّا، حَتَّى رُبَّمَا بَلَغَ أُلُوفًا مُؤَلَّفَةً، وَيُبَلِّغُهُمْ عَنْهُمُ الْمُسْتَمْلُونَ، فَيَكْتُبُونَ عَنْهُمْ بِوَاسِطَةِ تَبْلِيغِ الْمُسْتَمْلِينَ، فَأَجَازَ غَيْرُ وَاحِدٍ لَهُمْ رِوَايَةَ ذَلِكَ عَنِ الْمُمْلِي.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: dahulu banyak sekali para tokoh besar muhaddits yang majelisnya dipadati sangat ramai, kadang mencapai ribuan orang, sehingga para mustamli (juru sampai suara) menyampaikan ucapan mereka kepada hadirin, lalu para hadirin menulis dari mereka melalui perantaraan penyampaian para mustamli itu. Tidak sedikit ulama yang membolehkan mereka meriwayatkan hal itu langsung dari sang pendikte (mumli)."
رُوِّينَا عَنِ الْأَعْمَشِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: كُنَّا نَجْلِسُ إِلَى إِبْرَاهِيمَ، فَتَتَّسِعُ الْحَلْقَةُ، فَرُبَّمَا يُحَدِّثُ بِالْحَدِيثِ فَلَا يَسْمَعُهُ مَنْ تَنَحَّى عَنْهُ، فَيَسْأَلُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا عَمَّا قَالَ، ثُمَّ يَرْوُونَهُ، وَمَا سَمِعُوهُ مِنْهُ. وَعَنْ حَمَّادِ بْنِ زَيْدٍ: أَنَّهُ سَأَلَهُ رَجُلٌ فِي مِثْلِ ذَلِكَ، فَقَالَ: يَا أَبَا إِسْمَاعِيلَ، كَيْفَ قُلْتَ؟ فَقَالَ: اسْتَفْهِمْ مَنْ يَلِيكَ. وَعَنِ ابْنِ عُيَيْنَةَ: أَنَّ أَبَا مُسْلِمٍ الْمُسْتَمْلِيَّ قَالَ لَهُ: إِنَّ النَّاسَ كَثِيرٌ لَا يَسْمَعُونَ، قَالَ أَلَا تَسْمَعُ أَنْتَ؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: فَأَسْمِعْهُمْ. وَأَبَى آخَرُونَ ذَلِكَ.
"Kami meriwayatkan dari al-A'masy radhiyallahu 'anhu, ia berkata: 'dahulu kami duduk mengelilingi Ibrahim (an-Nakha'i), lalu halaqahnya melebar sehingga terkadang ia menceritakan sebuah hadits, namun orang yang duduk agak jauh darinya tidak mendengarnya, maka mereka saling bertanya satu sama lain tentang apa yang beliau katakan, kemudian mereka meriwayatkannya - padahal itulah yang sebenarnya mereka dengar darinya.' Dari Hammad bin Zaid: bahwa seseorang bertanya kepadanya dalam kasus serupa, orang itu berkata: 'wahai Abu Isma'il, bagaimana engkau tadi mengatakannya?' Ia menjawab: 'tanyakanlah kepada orang di sampingmu.' Dari Ibnu Uyainah: bahwa Abu Muslim al-Mustamli berkata kepadanya: 'orang-orang banyak yang tidak mendengar.' Ia balik bertanya: 'bukankah engkau sendiri mendengar?' Ia menjawab: 'ya.' Ibnu Uyainah berkata: 'kalau begitu, sampaikanlah kepada mereka.' Namun ulama lain menolak cara ini."
رُوِّينَا عَنْ خَلَفِ بْنِ تَمِيمٍ قَالَ: سَمِعْتُ مِنْ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ عَشَرَةَ آلَافٍ، أَوْ نَحْوَهَا، فَكُنْتُ أَسْتَفْهِمُ جَلِيسِي، فَقُلْتُ لِزَائِدَةَ؟ فَقَالَ لِي: لَا تُحَدِّثْ مِنْهَا إِلَّا بِمَا تَحْفَظُ بِقَلْبِكَ، وَسَمِعَ أُذُنُكَ، قَالَ: فَأَلْقَيْتُهَا. وَعَنْ أَبِي نُعَيْمٍ: أَنَّهُ كَانَ يَرَى فِيمَا سَقَطَ عَنْهُ مِنَ الْحَرْفِ الْوَاحِدِ، وَالِاسْمِ مِمَّا سَمِعَهُ مِنْ سُفْيَانَ وَالْأَعْمَشِ، وَاسْتَفْهَمَهُ مِنْ أَصْحَابِهِ: أَنْ يَرْوِيَهُ عَنْ أَصْحَابِهِ، لَا يَرَى غَيْرَ ذَلِكَ وَاسِعًا لَهُ.
"Kami meriwayatkan dari Khalaf bin Tamim, ia berkata: 'aku pernah mendengar dari Sufyan ats-Tsauri sekitar sepuluh ribu hadits, dan aku biasa bertanya kepada teman dudukku (untuk mengonfirmasi apa yang terlewat). Aku pun bertanya kepada Za'idah?' Za'idah menjawabku: 'jangan engkau riwayatkan darinya kecuali apa yang benar-benar engkau hafal dalam hatimu, dan telinga engkau sendiri yang mendengarnya.' Khalaf berkata: 'maka aku pun membuang catatan itu (yang meragukan).' Dari Abu Nu'aim: bahwa mengenai satu huruf atau satu nama yang terlewat darinya, dari apa yang ia dengar dari Sufyan dan al-A'masy, dan yang ia tanyakan kepada teman-temannya (untuk konfirmasi), ia berpandangan boleh meriwayatkannya dari teman-temannya itu - ia tidak memandang cara lain sebagai kelonggaran baginya."
قُلْتُ: الْأَوَّلُ تَسَاهُلٌ بَعِيدٌ. وَقَدْ رُوِّينَا عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَنْدَهْ الْحَافِظِ الْأَصْبَهَانِيِّ أَنَّهُ قَالَ لِوَاحِدٍ مِنْ أَصْحَابِهِ: يَا فُلَانُ، يَكْفِيكَ مِنَ السَّمَاعِ شَمُّهُ. وَهَذَا إِمَّا مُتَأَوَّلٌ، أَوْ مَتْرُوكٌ عَلَى قَائِلِهِ. ثُمَّ وَجَدْتُ عَنْ عَبْدِ الْغَنِيِّ بْنِ سَعِيدٍ الْحَافِظِ، عَنْ حَمْزَةَ بْنِ مُحَمَّدٍ الْحَافِظِ بِإِسْنَادِهِ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ مَهْدِيٍّ أَنَّهُ قَالَ: يَا فُلَانُ، يَكْفِيكَ مِنَ الْحَدِيثِ شَمُّهُ. قَالَ عَبْدُ الْغَنِيِّ: قَالَ لَنَا حَمْزَةُ: يَعْنِي إِذَا سُئِلَ عَنْ أَوَّلِ شَيْءٍ عَرَفَهُ، وَلَيْسَ يَعْنِي التَّسْهِيلَ فِي السَّمَاعِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: sikap yang pertama (kasus sepuluh ribu hadits) adalah kemudahan yang berlebihan dan jauh (dari kehati-hatian). Kami meriwayatkan dari Abu Abdillah bin Mandah al-Hafizh al-Ashbahani, bahwa ia berkata kepada salah seorang muridnya: 'wahai fulan, cukup bagimu sekadar mencium bau sama' saja.' Ini bisa jadi ditakwilkan, atau ditinggalkan (tidak diikuti) siapa pun yang mengatakannya. Kemudian aku mendapati riwayat dari Abdul Ghani bin Sa'id al-Hafizh, dari Hamzah bin Muhammad al-Hafizh dengan sanadnya, dari Abdurrahman bin Mahdi, bahwa ia berkata: 'wahai fulan, cukup bagimu sekadar mencium bau hadits itu saja.' Abdul Ghani berkata: Hamzah menjelaskan kepada kami: maksudnya adalah apabila ia ditanya tentang hal pertama yang ia ketahui (segera mengenalinya), bukan bermaksud melonggarkan syarat dalam sama'. Wallahu a'lam."
Qism Ketiga: Al-Ijazah
وَهِيَ مُتَنَوِّعَةٌ أَنْوَاعًا.
"Ijazah ini terbagi menjadi beberapa anwa'."
Anwa' pertama dari ijazah:
أَنْ يُجِيزَ لِمُعَيَّنٍ فِي مُعَيَّنٍ، مِثْلَ أَنْ يَقُولَ: "أَجَزْتُ لَكَ الْكِتَابَ الْفُلَانِيَّ، أَوْ: مَا اشْتَمَلَتْ عَلَيْهِ فَهْرَسَتِي هَذِهِ"، فَهَذَا عَلَى أَنْوَاعِ الْإِجَازَةِ الْمُجَرَّدَةِ عَنِ الْمُنَاوَلَةِ. وَزَعَمَ بَعْضُهُمْ أَنَّهُ لَا خِلَافَ فِي جَوَازِهَا، وَلَا خَالَفَ فِيهَا أَهْلُ الظَّاهِرِ، وَإِنَّمَا خِلَافُهُمْ فِي غَيْرِ هَذَا النَّوْعِ. وَزَادَ الْقَاضِي أَبُو الْوَلِيدِ الْبَاجِيُّ الْمَالِكِيُّ فَأَطْلَقَ نَفْيَ الْخِلَافِ، وَقَالَ: "لَا خِلَافَ فِي جَوَازِ الرِّوَايَةِ بِالْإِجَازَةِ مِنْ سَلَفِ هَذِهِ الْأُمَّةِ وَخَلَفِهَا"، وَادَّعَى الْإِجْمَاعَ مِنْ غَيْرِ تَفْصِيلٍ، وَحَكَى الْخِلَافَ فِي الْعَمَلِ بِهَا، (وَاللَّهُ أَعْلَمُ).
"Mengijazahkan kepada orang yang tertentu, untuk sesuatu yang tertentu pula, misalnya berkata: 'aku ijazahkan kepadamu kitab fulan', atau 'apa yang termuat dalam daftar riwayatku ini'. Ini termasuk anwa' ijazah murni tanpa disertai munawalah. Sebagian ulama mengklaim tidak ada perselisihan tentang bolehnya jenis ini, bahkan ulama Zhahiriyyah pun tidak menyelisihinya - perselisihan mereka hanya pada jenis lain di luar ini. Al-Qadhi Abul Walid al-Baji al-Maliki bahkan menambahkan dengan menafikan perselisihan secara mutlak, ia berkata: 'tidak ada perselisihan tentang bolehnya periwayatan dengan ijazah, baik dari kalangan salaf umat ini maupun khalafnya', dan ia mengklaim adanya ijma' tanpa perincian, namun ia menceritakan adanya perselisihan dalam hal mengamalkannya. Wallahu a'lam."
قُلْتُ: هَذَا بَاطِلٌ، فَقَدْ خَالَفَ فِي جَوَازِ الرِّوَايَةِ بِالْإِجَازَةِ جَمَاعَاتٌ مِنْ أَهْلِ الْحَدِيثِ، وَالْفُقَهَاءِ، وَالْأُصُولِيِّينَ، وَذَلِكَ إِحْدَى الرِّوَايَتَيْنِ عَنِ الشَّافِعِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ. رُوِيَ عَنْ صَاحِبِهِ الرَّبِيعِ بْنِ سُلَيْمَانَ قَالَ: "كَانَ الشَّافِعِيُّ لَا يَرَى الْإِجَازَةَ فِي الْحَدِيثِ. قَالَ الرَّبِيعُ: أَنَا أُخَالِفُ الشَّافِعِيَّ فِي هَذَا.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: ini adalah keliru, karena sejumlah ahli hadits, fuqaha, dan ushuliyyin justru menyelisihi bolehnya periwayatan dengan ijazah - dan itu adalah salah satu dari dua riwayat dari asy-Syafi'i radhiyallahu 'anhu. Diriwayatkan dari muridnya, ar-Rabi' bin Sulaiman, ia berkata: 'asy-Syafi'i tidak berpandangan boleh ijazah dalam hadits.' Ar-Rabi' berkata: 'aku sendiri menyelisihi asy-Syafi'i dalam hal ini.'"
وَقَدْ قَالَ بِإِبْطَالِهَا جَمَاعَةٌ مِنَ الشَّافِعِيِّينَ، مِنْهُمُ الْقَاضِيَانِ حُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْمَرْوَرُّوذِيُّ، وَأَبُو الْحَسَنِ الْمَاوَرْدِيُّ، وَبِهِ قَطَعَ الْمَاوَرْدِيُّ فِي كِتَابِهِ (الْحَاوِي)، وَعَزَاهُ إِلَى مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ، وَقَالَا جَمِيعًا: "لَوْ جَازَتِ الْإِجَازَةُ لَبَطَلَتِ الرِّحْلَةُ". وَرُوِيَ أَيْضًا هَذَا الْكَلَامُ عَنْ شُعْبَةَ، وَغَيْرِهِ.
"Sejumlah ulama Syafi'iyyah berpendapat membatalkan (menolak) ijazah, di antaranya dua Qadhi: Husain bin Muhammad al-Marwarrudzi dan Abul Hasan al-Mawardi. Al-Mawardi menegaskannya dalam kitabnya al-Hawi, dan menisbatkannya kepada mazhab asy-Syafi'i. Keduanya berkata: 'seandainya ijazah dibolehkan, niscaya batallah rihlah (perjalanan menuntut ilmu untuk bertemu langsung dengan guru).' Ucapan ini juga diriwayatkan dari Syu'bah dan selainnya."
وَمِمَّنْ أَبْطَلَهَا مِنْ أَهْلِ الْحَدِيثِ الْإِمَامُ إِبْرَاهِيمُ بْنُ إِسْحَاقَ الْحَرْبِيُّ، وَأَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ الْأَصْبَهَانِيُّ الْمُلَقَّبُ بِأَبِي الشَّيْخِ، وَالْحَافِظُ أَبُو نَصْرٍ الْوَايِلِيُّ السِّجْزِيُّ. وَحَكَى أَبُو نَصْرٍ فَسَادَهَا عَنْ بَعْضِ مَنْ لَقِيَهُ. قَالَ أَبُو نَصْرٍ: وَسَمِعْتُ جَمَاعَةً مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ يَقُولُونَ: قَوْلُ الْمُحَدِّثِ: قَدْ أَجَزْتُ لَكَ أَنْ تَرْوِيَ عَنِّي تَقْدِيرُهُ: أَجَزْتُ لَكَ مَا لَا يَجُوزُ فِي الشَّرْعِ؛ لِأَنَّ الشَّرْعَ لَا يُبِيحُ رِوَايَةَ مَا لَمْ يُسْمَعْ.
"Di antara ahli hadits yang membatalkan ijazah adalah Imam Ibrahim bin Ishaq al-Harbi, Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad al-Ashbahani yang dijuluki Abusy-Syaikh, dan al-Hafizh Abu Nashr al-Wa'ili as-Sijzi. Abu Nashr menceritakan kesalahan ijazah dari sebagian ulama yang ia temui. Abu Nashr berkata: aku mendengar sejumlah ahli ilmu mengatakan: ucapan seorang muhaddits 'aku ijazahkan kepadamu untuk meriwayatkan dariku' pada dasarnya bermakna: 'aku ijazahkan kepadamu apa yang tidak diperbolehkan syariat', karena syariat tidak membolehkan periwayatan apa yang tidak pernah didengar."
قُلْتُ: وَيُشْبِهُ هَذَا مَا حَكَاهُ أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ ثَابِتٍ الْخُجَنْدِيُّ أَحَدُ مَنْ أَبْطَلَ الْإِجَازَةَ مِنَ الشَّافِعِيَّةِ، عَنْ أَبِي طَاهِرٍ الدَّبَّاسِ أَحَدِ أَئِمَّةِ الْحَنَفِيَّةِ قَالَ: مَنْ قَالَ لِغَيْرِهِ: "أَجَزْتُ لَكَ أَنْ تَرْوِيَ عَنِّي مَا لَمْ تَسْمَعْ"، فَكَأَنَّهُ يَقُولُ: "أَجَزْتُ لَكَ أَنْ تَكْذِبَ عَلَيَّ".
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: ini serupa dengan apa yang diceritakan Abu Bakr Muhammad bin Tsabit al-Khujandi -salah seorang Syafi'iyyah yang membatalkan ijazah- dari Abu Thahir ad-Dabbas, salah seorang imam Hanafiyyah, ia berkata: 'siapa yang berkata kepada orang lain: aku ijazahkan kepadamu untuk meriwayatkan dariku apa yang tidak pernah engkau dengar, maka seolah-olah ia berkata: aku ijazahkan kepadamu untuk berdusta atas namaku.'"
ثُمَّ إِنَّ الَّذِي اسْتَقَرَّ عَلَيْهِ الْعَمَلُ، وَقَالَ بِهِ جَمَاهِيرُ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَهْلِ الْحَدِيثِ، وَغَيْرِهِمُ: الْقَوْلُ بِتَجْوِيزِ الْإِجَازَةِ، وَإِبَاحَةِ الرِّوَايَةِ بِهَا. وَفِي الِاحْتِجَاجِ لِذَلِكَ غُمُوضٌ، وَيَتَّجِهُ أَنْ يَقُولَ: إِذَا أَجَازَ لَهُ أَنْ يَرْوِيَ عَنْهُ مَرْوِيَّاتِهِ، وَقَدْ أَخْبَرَهُ بِهَا جُمْلَةً، فَهُوَ كَمَا لَوْ أَخْبَرَهُ تَفْصِيلًا، وَإِخْبَارُهُ بِهَا غَيْرُ مُتَوَقِّفٍ عَلَى التَّصْرِيحِ نُطْقًا كَمَا فِي الْقِرَاءَةِ عَلَى الشَّيْخِ كَمَا سَبَقَ، وَإِنَّمَا الْغَرَضُ حُصُولُ الْإِفْهَامِ، وَالْفَهْمِ، وَذَلِكَ يَحْصُلُ بِالْإِجَازَةِ الْمُفْهِمَةِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Namun yang menjadi standar tetap dalam praktik, dan dipegang oleh mayoritas ahli ilmu dari kalangan ahli hadits dan selainnya, adalah pendapat yang membolehkan ijazah dan menghalalkan periwayatan dengannya. Berhujjah untuk itu memang agak samar, dan bisa diarahkan dengan mengatakan: apabila seseorang diijazahkan untuk meriwayatkan seluruh yang diriwayatkan sang guru, dan sang guru telah mengabarkannya secara global, maka itu sama seperti mengabarkannya secara rinci. Pengabaran itu sendiri tidak bergantung pada penegasan lisan, sebagaimana dalam qira'ah 'alash-shaykh yang telah lewat pembahasannya - yang menjadi tujuan hanyalah tercapainya pemahaman dan pemberitahuan, dan itu tercapai dengan ijazah yang memberi pemahaman. Wallahu a'lam."
ثُمَّ إِنَّهُ كَمَا تَجُوزُ الرِّوَايَةُ بِالْإِجَازَةِ يَجِبُ الْعَمَلُ بِالْمَرْوِيِّ بِهَا، خِلَافًا لِمَنْ قَالَ مِنْ أَهْلِ الظَّاهِرِ، وَمَنْ تَابَعَهُمْ: إِنَّهُ لَا يَجِبُ الْعَمَلُ بِهِ، وَإِنَّهُ جَارٍ مَجْرَى الْمُرْسَلِ. وَهَذَا بَاطِلٌ، لِأَنَّهُ لَيْسَ فِي الْإِجَازَةِ مَا يَقْدَحُ فِي اتِّصَالِ الْمَنْقُولِ بِهَا، وَفِي الثِّقَةِ بِهِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Sebagaimana boleh periwayatan dengan ijazah, wajib pula mengamalkan apa yang diriwayatkan dengannya - berbeda dengan pendapat sebagian ulama Zhahiriyyah dan pengikutnya bahwa tidak wajib mengamalkannya, dan bahwa ia berlaku seperti hadits mursal. Ini keliru, karena tidak ada dalam ijazah sesuatu yang mencacatkan kebersambungan riwayat yang diperoleh dengannya, ataupun kepercayaan terhadapnya. Wallahu a'lam."
Anwa' kedua dari ijazah:
أَنْ يُجِيزَ لِمُعَيَّنٍ فِي غَيْرِ مُعَيَّنٍ، مِثْلُ أَنْ يَقُولَ: "أَجَزْتُ لَكَ، أَوْ لَكُمْ جَمِيعَ مَسْمُوعَاتِي، أَوْ جَمِيعَ مَرْوِيَّاتِي" وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ. فَالْخِلَافُ فِي هَذَا النَّوْعِ أَقْوَى وَأَكْثَرُ، وَالْجُمْهُورُ مِنَ الْعُلَمَاءِ مِنَ الْمُحَدِّثِينَ وَالْفُقَهَاءِ، وَغَيْرِهِمْ عَلَى تَجْوِيزِ الرِّوَايَةِ بِهَا أَيْضًا، وَعَلَى إِيجَابِ الْعَمَلِ بِمَا رُوِيَ بِهَا بِشَرْطِهِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Mengijazahkan kepada orang tertentu, untuk sesuatu yang tidak tertentu, misalnya berkata: 'aku ijazahkan kepadamu, atau kepada kalian, seluruh yang aku dengar, atau seluruh yang aku riwayatkan', dan semisalnya. Perselisihan pada jenis ini lebih kuat dan lebih banyak. Namun mayoritas ulama dari kalangan muhaddits, fuqaha, dan selainnya membolehkan periwayatan dengannya juga, serta mewajibkan pengamalan apa yang diriwayatkan dengannya sesuai syaratnya. Wallahu a'lam."
Anwa' ketiga dari ijazah:
أَنْ يُجِيزَ لِغَيْرِ مُعَيَّنٍ بِوَصْفِ الْعُمُومِ، مِثْلُ أَنْ يَقُولَ: "أَجَزْتُ لِلْمُسْلِمِينَ، أَوْ أَجَزْتُ لِكُلِّ أَحَدٍ، أَوْ أَجَزْتُ لِمَنْ أَدْرَكَ زَمَانِي"، وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ، فَهَذَا نَوْعٌ تَكَلَّمَ فِيهِ الْمُتَأَخِّرُونَ مِمَّنْ جَوَّزَ أَصْلَ الْإِجَازَةِ، وَاخْتَلَفُوا فِي جَوَازِهِ. فَإِنْ كَانَ ذَلِكَ مُقَيَّدًا بِوَصْفٍ حَاصِرٍ أَوْ نَحْوِهِ، فَهُوَ إِلَى الْجَوَازِ أَقْرَبُ.
"Mengijazahkan kepada orang yang tidak tertentu, dengan sifat umum, misalnya berkata: 'aku ijazahkan kepada kaum muslimin', atau 'aku ijazahkan kepada setiap orang', atau 'aku ijazahkan kepada siapa saja yang sempat hidup semasaku', dan semisalnya. Ini adalah jenis yang dibahas para ulama mutaakhirin di antara yang membolehkan ijazah pada dasarnya, dan mereka berselisih pendapat mengenai bolehnya jenis ini. Apabila hal itu dibatasi dengan sifat yang membatasi jumlahnya atau semisalnya, maka lebih dekat kepada kebolehan."
وَمِمَّنْ جَوَّزَ ذَلِكَ كُلَّهُ أَبُو بَكْرٍ الْخَطِيبُ الْحَافِظُ. وَرُوِّينَا عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَنْدَهْ الْحَافِظِ أَنَّهُ قَالَ: "أَجَزْتُ لِمَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ". وَجَوَّزَ الْقَاضِي أَبُو الطَّيِّبِ الطَّبَرِيُّ أَحَدُ الْفُقَهَاءِ الْمُحَقِّقِينَ فِيمَا حَكَاهُ عَنْهُ الْخَطِيبُ الْإِجَازَةَ لِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ، مَنْ كَانَ مِنْهُمْ مَوْجُودًا عِنْدَ الْإِجَازَةِ. وَأَجَازَ أَبُو مُحَمَّدِ بْنُ سَعِيدٍ أَحَدُ الْجِلَّةِ مِنْ شُيُوخِ الْأَنْدَلُسِ لِكُلِّ مَنْ دَخَلَ قُرْطُبَةَ مِنْ طَلَبَةِ الْعِلْمِ. وَوَافَقَهُ عَلَى جَوَازِ ذَلِكَ مِنْهُمْ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ بْنُ عَتَّابٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ. وَأَنْبَأَنِي مَنْ سَأَلَ الْحَازِمِيَّ أَبَا بَكْرٍ، عَنِ الْإِجَازَةِ الْعَامَّةِ هَذِهِ، فَكَانَ مِنْ جَوَابِهِ: أَنَّ مَنْ أَدْرَكَهُ مِنَ الْحُفَّاظِ - نَحْوَ أَبِي الْعَلَاءِ الْحَافِظِ وَغَيْرِهِ - كَانُوا يَمِيلُونَ إِلَى الْجَوَازِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Di antara ulama yang membolehkan semua itu adalah Abu Bakr al-Khathib al-Hafizh. Kami meriwayatkan dari Abu Abdillah bin Mandah al-Hafizh, bahwa ia berkata: 'aku ijazahkan kepada siapa saja yang mengucapkan la ilaha illallah.' Al-Qadhi Abu Thayyib ath-Thabari, salah seorang fuqaha peneliti, sebagaimana diceritakan al-Khathib darinya, membolehkan ijazah untuk seluruh kaum muslimin, siapa saja dari mereka yang ada saat ijazah diberikan. Abu Muhammad bin Sa'id, salah seorang tokoh besar dari kalangan guru-guru Andalusia, memberi ijazah kepada setiap penuntut ilmu yang memasuki kota Kordoba. Abu Abdillah bin Attab radhiyallahu 'anhum juga sepakat membolehkan hal itu di antara mereka. Aku diberitahu oleh orang yang pernah bertanya kepada al-Hazimi Abu Bakr tentang ijazah umum semacam ini, jawabannya: bahwa siapa saja huffazh yang sempat ia jumpai -seperti Abul Ala al-Hafizh dan selainnya- cenderung membolehkannya. Wallahu a'lam."
قُلْتُ: وَلَمْ نَرَ، وَلَمْ نَسْمَعْ عَنْ أَحَدٍ مِمَّنْ يُقْتَدَى بِهِ أَنَّهُ اسْتَعْمَلَ هَذِهِ الْإِجَازَةَ فَرَوَى بِهَا، وَلَا عَنِ الشِّرْذِمَةِ الْمُسْتَأْخِرَةِ الَّذِينَ سَوَّغُوهَا، وَالْإِجَازَةُ فِي أَصْلِهَا ضَعْفٌ، وَتَزْدَادُ بِهَذَا التَّوَسُّعِ، وَالِاسْتِرْسَالِ ضَعْفًا كَثِيرًا لَا يَنْبَغِي احْتِمَالُهُ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: kami tidak pernah melihat maupun mendengar bahwa ada seorang pun panutan yang benar-benar menggunakan ijazah semacam ini lalu meriwayatkan dengannya, tidak pula dari kalangan minoritas belakangan yang membolehkannya. Ijazah pada dasarnya sudah lemah, dan dengan kelonggaran dan keluasan semacam ini, kelemahannya bertambah banyak, sehingga tidak sepatutnya ditoleransi. Wallahu a'lam."
Anwa' keempat dari ijazah:
الْإِجَازَةُ لِلْمَجْهُولِ، أَوْ بِالْمَجْهُولِ، وَيَتَشَبَّثُ بِذَيْلِهَا الْإِجَازَةُ الْمُعَلَّقَةُ بِالشَّرْطِ، وَذَلِكَ مِثْلُ أَنْ يَقُولَ: "أَجَزْتُ لِمُحَمَّدِ بْنِ خَالِدٍ الدِّمَشْقِيِّ"، وَفِي وَقْتِهِ ذَلِكَ جَمَاعَةٌ مُشْتَرِكُونَ فِي هَذَا الِاسْمِ، وَالنَّسَبِ، ثُمَّ لَا يُعَيِّنُ الْمُجَازَ لَهُ مِنْهُمْ. أَوْ يَقُولُ: "أَجَزْتُ لِفُلَانٍ أَنْ يَرْوِيَ عَنِّي كِتَابَ السُّنَنِ" وَهُوَ يَرْوِي جَمَاعَةً مِنْ كُتُبِ السُّنَنِ الْمَعْرُوفَةِ بِذَلِكَ، ثُمَّ لَا يُعَيِّنُ. فَهَذِهِ إِجَازَةٌ فَاسِدَةٌ لَا فَائِدَةَ لَهَا.
"Ijazah untuk orang yang majhul (tidak dikenal), atau dengan objek yang majhul - dan berkaitan erat dengannya ijazah yang digantungkan pada syarat (mu'allaqah bisy-syarth). Contohnya berkata: 'aku ijazahkan kepada Muhammad bin Khalid ad-Dimasyqi', padahal pada masa itu ada beberapa orang yang sama-sama memiliki nama dan nasab ini, lalu ia tidak menentukan siapa yang dimaksud di antara mereka. Atau berkata: 'aku ijazahkan kepada fulan untuk meriwayatkan dariku kitab as-Sunan', padahal ia meriwayatkan beberapa kitab as-Sunan yang dikenal dengan judul demikian, lalu ia tidak menentukan yang mana. Ini adalah ijazah yang rusak, tidak ada faidahnya."
وَلَيْسَ مِنْ هَذَا الْقَبِيلِ مَا إِذَا أَجَازَ لِجَمَاعَةٍ مُسَمَّيْنَ، مُعَيَّنِينَ بِأَنْسَابِهِمْ، وَالْمُجِيزُ جَاهِلٌ بِأَعْيَانِهِمْ غَيْرُ عَارِفٍ بِهِمْ، فَهَذَا غَيْرُ قَادِحٍ، كَمَا لَا يَقْدَحُ عَدَمُ مَعْرِفَتِهِ بِهِ إِذَا حَضَرَ شَخْصُهُ فِي السَّمَاعِ مِنْهُ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Tidak termasuk kategori ini, apabila seseorang mengijazahkan kepada sekelompok orang yang disebutkan namanya, ditentukan berdasarkan nasab mereka, sementara yang mengijazahkan tidak mengenal wajah-wajah mereka secara pribadi. Ini tidak mencacatkan sahnya, sebagaimana ketidaktahuan tentang identitas seseorang tidak mencacatkan sahnya sama' jika orang itu memang hadir mendengarkan langsung darinya. Wallahu a'lam."
وَإِنْ أَجَازَ لِلْمُسَمَّيْنَ الْمُنْتَسِبِينَ فِي الِاسْتِجَازَةِ، وَلَمْ يَعْرِفْهُمْ بِأَعْيَانِهِمْ، وَلَا بِأَنْسَابِهِمْ، وَلَمْ يَعْرِفْ عَدَدَهُمْ، وَلَمْ يَتَصَفَّحْ أَسْمَاءَهُمْ وَاحِدًا فَوَاحِدًا، فَيَنْبَغِي أَنْ يَصِحَّ ذَلِكَ أَيْضًا كَمَا يَصِحُّ سَمَاعُ مَنْ حَضَرَ مَجْلِسَهُ لِلسَّمَاعِ مِنْهُ، وَإِنْ لَمْ يَعْرِفْهُمْ أَصْلًا وَلَمْ يَعْرِفْ عَدَدَهُمْ، وَلَا تَصَفَّحْ أَشْخَاصَهُمْ وَاحِدًا وَاحِدًا.
"Apabila seseorang memberikan ijazah kepada mereka yang mengajukan permintaan ijazah (istijazah) dengan menyebutkan nama dan nasab, namun ia tidak mengenal identitas mereka secara pribadi, tidak mengenal nasab mereka, tidak mengetahui jumlah mereka, dan tidak memeriksa nama-nama mereka satu per satu - maka sepatutnya hal itu tetap sah, sebagaimana sahnya sama' orang yang hadir di majelisnya untuk mendengar darinya, sekalipun ia sama sekali tidak mengenal mereka, tidak mengetahui jumlah mereka, dan tidak memeriksa mereka satu per satu."
وَإِذَا قَالَ: "أَجَزْتُ لِمَنْ يَشَاءُ فُلَانٌ"، أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ، فَهَذَا فِيهِ جَهَالَةٌ، وَتَعْلِيقٌ بِشَرْطٍ، فَالظَّاهِرُ أَنَّهُ لَا يَصِحُّ، وَبِذَلِكَ أَفْتَى الْقَاضِي أَبُو الطَّيِّبِ الطَّبَرِيُّ الشَّافِعِيُّ، إِذْ سَأَلَهُ الْخَطِيبُ الْحَافِظُ عَنْ ذَلِكَ، وَعَلَّلَ بِأَنَّهُ إِجَازَةٌ لِمَجْهُولٍ، فَهُوَ كَقَوْلِهِ: "أَجَزْتُ لِبَعْضِ النَّاسِ" مِنْ غَيْرِ تَعْيِينٍ.
"Apabila seseorang berkata: 'aku ijazahkan kepada siapa saja yang dikehendaki fulan', atau semisalnya, ini mengandung kemajhulan dan penggantungan pada syarat, sehingga zahirnya tidak sah. Demikian fatwa Al-Qadhi Abu Thayyib ath-Thabari asy-Syafi'i, ketika ditanya al-Khathib al-Hafizh tentang hal itu. Ia beralasan bahwa itu adalah ijazah untuk objek yang majhul, sehingga sama seperti ucapan: 'aku ijazahkan kepada sebagian orang' tanpa penentuan."
وَقَدْ يُعَلِّلُ ذَلِكَ أَيْضًا بِمَا فِيهَا مِنَ التَّعْلِيقِ بِالشَّرْطِ، فَإِنَّ مَا يَفْسُدُ بِالْجَهَالَةِ يَفْسُدُ بِالتَّعْلِيقِ، عَلَى مَا عُرِفَ عِنْدَ قَوْمٍ. وَحَكَى الْخَطِيبُ، عَنْ أَبِي يَعْلَى بْنِ الْفَرَّاءِ الْحَنْبَلِيِّ، وَأَبِي الْفَضْلِ بْنِ عُمْرُوسٍ الْمَالِكِيِّ أَنَّهُمَا أَجَازَا ذَلِكَ، وَهَؤُلَاءِ الثَّلَاثَةُ كَانُوا مَشَايِخَ مَذَاهِبِهِمْ بِبَغْدَادَ إِذْ ذَاكَ.
"Dapat pula dijelaskan alasannya karena adanya unsur penggantungan pada syarat di dalamnya, sebab apa yang rusak karena kemajhulan juga rusak karena penggantungan (ta'liq), menurut sebagian ulama. Al-Khathib menceritakan dari Abu Ya'la Ibnul Farra' al-Hanbali dan Abul Fadhl Ibnu Amrus al-Maliki, bahwa keduanya membolehkan hal itu - ketiga tokoh ini adalah para syaikh mazhab masing-masing di Baghdad pada masa itu."
وَهَذِهِ الْجَهَالَةُ تَرْتَفِعُ فِي ثَانِي الْحَالِ عِنْدَ وُجُودِ الْمَشِيئَةِ، بِخِلَافِ الْجَهَالَةِ الْوَاقِعَةِ فِيمَا إِذَا أَجَازَ لِبَعْضِ النَّاسِ. وَإِذَا قَالَ: (أَجَزْتُ لِمَنْ شَاءَ) فَهُوَ كَمَا لَوْ قَالَ (أَجَزْتُ لِمَنْ شَاءَ فُلَانٌ) بَلْ هَذِهِ أَكْثَرُ جَهَالَةً، وَانْتِشَارًا، مِنْ حَيْثُ إِنَّهَا مُعَلَّقَةٌ بِمَشِيئَةِ مَنْ لَا يُحْصَرُ عَدَدُهُمْ بِخِلَافِ تِلْكَ. ثُمَّ هَذَا فِيمَا إِذَا أَجَازَ لِمَنْ شَاءَ الْإِجَازَةَ مِنْهُ لَهُ.
"Kemajhulan ini terangkat pada tahap berikutnya, saat kehendak itu benar-benar terwujud - berbeda dengan kemajhulan yang terjadi apabila seseorang mengijazahkan kepada 'sebagian orang' (tanpa batasan). Apabila seseorang berkata: 'aku ijazahkan kepada siapa saja yang berkehendak', maka itu sama seperti berkata: 'aku ijazahkan kepada siapa saja yang dikehendaki fulan' - bahkan yang pertama ini lebih besar kemajhulannya dan lebih luas cakupannya, karena digantungkan pada kehendak orang-orang yang jumlahnya tak terbatas, berbeda dengan yang tadi. Ini semua dalam kasus jika seseorang mengijazahkan kepada siapa saja yang menghendaki ijazah darinya."
فَإِنْ أَجَازَ لِمَنْ شَاءَ الرِّوَايَةَ عَنْهُ فَهَذَا أَوْلَى بِالْجَوَازِ، مِنْ حَيْثُ إِنَّ مُقْتَضَى كُلِّ إِجَازَةٍ تَفْوِيضُ الرِّوَايَةِ بِهَا إِلَى مَشِيئَةِ الْمُجَازِ لَهُ، فَكَانَ هَذَا - مَعَ كَوْنِهِ بِصِيغَةِ التَّعْلِيقِ - تَصْرِيحًا بِمَا يَقْتَضِيهِ الْإِطْلَاقُ وَحِكَايَةً لِلْحَالِ، لَا تَعْلِيقًا فِي الْحَقِيقَةِ. وَلِهَذَا أَجَازَ بَعْضُ أَئِمَّةِ الشَّافِعِيِّينَ فِي الْبَيْعِ أَنْ يَقُولَ: (بِعْتُكَ هَذَا بِكَذَا إِنْ شِئْتَ)، فَيَقُولُ: (قَبِلْتُ). وَوُجِدَ بِخَطِّ أَبِي الْفَتْحِ مُحَمَّدِ بْنِ الْحُسَيْنِ الْأَزْدِيِّ الْمَوْصِلِيِّ الْحَافِظِ: "أَجَزْتُ رِوَايَةَ ذَلِكَ لِجَمِيعِ مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَرْوِيَ ذَلِكَ عَنِّي".
"Namun jika seseorang mengijazahkan kepada siapa saja yang menghendaki periwayatan darinya, maka ini lebih layak dibolehkan, karena konsekuensi dari setiap ijazah adalah menyerahkan (pelaksanaan) periwayatan itu kepada kehendak orang yang diijazahkan - sehingga redaksi ini, sekalipun berbentuk ta'liq, sebenarnya hanya penegasan atas apa yang sudah menjadi konsekuensi bentuk mutlak, dan sekadar penceritaan keadaan, bukan ta'liq yang hakiki. Karena itulah sebagian imam Syafi'iyyah membolehkan dalam jual-beli ucapan: 'aku menjual ini kepadamu seharga sekian, jika engkau berkehendak', lalu dijawab: 'aku terima'. Ditemukan pula tulisan tangan Abul Fath Muhammad bin al-Husain al-Azdi al-Mawshili al-Hafizh: 'aku ijazahkan periwayatan itu kepada setiap orang yang ingin meriwayatkannya dariku.'"
أَمَّا إِذَا قَالَ: (أَجَزْتُ لِفُلَانٍ كَذَا وَكَذَا إِنْ شَاءَ رِوَايَتَهُ عَنِّي، أَوْ لَكَ إِنْ شِئْتَ، أَوْ أَحْبَبْتَ، أَوْ أَرَدْتَ)، فَالْأَظْهَرُ الْأَقْوَى أَنَّ ذَلِكَ جَائِزٌ، إِذْ قَدِ انْتَفَتْ فِيهِ الْجَهَالَةُ، وَحَقِيقَةُ التَّعْلِيقِ، وَلَمْ يَبْقَ سِوَى صِيغَتِهِ، وَالْعِلْمُ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى.
"Adapun jika seseorang berkata: 'aku ijazahkan kepada fulan demikian dan demikian, jika ia berkehendak meriwayatkannya dariku', atau 'kepadamu jika engkau berkehendak, atau menyukai, atau menginginkannya', maka pendapat yang lebih kuat: hal itu boleh, karena kemajhulan dan hakikat ta'liq telah tidak ada, yang tersisa hanyalah redaksinya saja. Wallahu a'lam bishshawab."
Anwa' kelima dari ijazah:
الْإِجَازَةُ لِلْمَعْدُومِ. وَلْنَذْكُرْ مَعَهُ الْإِجَازَةَ لِلطِّفْلِ الصَّغِيرِ. هَذَا نَوْعٌ خَاضَ فِيهِ قَوْمٌ مِنَ الْمُتَأَخِّرِينَ، وَاخْتَلَفُوا فِي جَوَازِهِ، وَمِثَالُهُ: أَنْ يَقُولَ: (أَجَزْتُ لِمَنْ يُولَدُ لِفُلَانٍ).
"Ijazah untuk orang yang belum ada (ma'dum). Kami sertakan pula pembahasan ijazah bagi anak kecil. Ini adalah jenis yang dibahas mendalam oleh sejumlah ulama mutaakhirin, dan mereka berselisih pendapat mengenai bolehnya. Contohnya: berkata: 'aku ijazahkan kepada siapa saja yang akan lahir bagi fulan.'"
فَإِنْ عَطَفَ الْمَعْدُومَ فِي ذَلِكَ عَلَى الْمَوْجُودِ بِأَنْ قَالَ: (أَجَزْتُ لِفُلَانٍ وَلِمَنْ يُوَلَدُ لَهُ، أَوْ أَجَزْتُ لَكَ وَلِوَلَدِكَ، وَلِعَقِبِكَ مَا تَنَاسَلُوا)، كَانَ ذَلِكَ أَقْرَبَ إِلَى الْجَوَازِ مِنَ الْأَوَّلِ. وَلِمِثْلِ ذَلِكَ أَجَازَ أَصْحَابُ الشَّافِعِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي الْوَقْفِ الْقِسْمَ الثَّانِيَ دُونَ الْأَوَّلِ. وَقَدْ أَجَازَ أَصْحَابُ مَالِكٍ، وَأَبِي حَنِيفَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا - أَوْ مَنْ قَالَ ذَلِكَ مِنْهُمْ فِي الْوَقْفِ - الْقِسْمَيْنِ كِلَيْهِمَا.
"Apabila objek yang belum ada itu digandengkan (di-'athf-kan) kepada yang sudah ada, dengan berkata: 'aku ijazahkan kepada fulan dan siapa saja yang akan lahir baginya', atau 'aku ijazahkan kepadamu, kepada anakmu, dan keturunanmu selama mereka beranak-pinak' - maka ini lebih dekat kepada kebolehan dibanding yang pertama. Untuk kasus semisal ini, para pengikut asy-Syafi'i radhiyallahu 'anhu membolehkan bagian kedua (dalam masalah wakaf) namun tidak yang pertama. Sementara para pengikut Malik dan Abu Hanifah radhiyallahu 'anhuma -atau sebagian dari mereka yang berpendapat demikian dalam masalah wakaf- membolehkan kedua bagian itu sekaligus."
وَفَعَلَ هَذَا الثَّانِيَ فِي الْإِجَازَةِ مِنَ الْمُحَدِّثِينَ الْمُتَقَدِّمِينَ أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي دَاوُدَ السِّجِسْتَانِيُّ، فَإِنَّا رُوِّينَا عَنْهُ أَنَّهُ سُئِلَ الْإِجَازَةَ، فَقَالَ: "قَدْ أَجَزْتُ لَكَ، وَلِأَوْلَادِكَ، وَلِحَبَلِ الْحَبَلَةِ". يَعْنِي الَّذِينَ لَمْ يُولَدُوا بَعْدُ.
"Bentuk kedua ini juga pernah dilakukan dalam ijazah oleh salah seorang muhaddits mutaqaddimin, yaitu Abu Bakr bin Abi Dawud as-Sijistani. Kami meriwayatkan darinya, bahwa ia dimintai ijazah, lalu ia berkata: 'aku ijazahkan kepadamu, kepada anak-anakmu, dan kepada habal al-habalah (janin dari janin)' - maksudnya mereka yang belum lahir kelak."
وَأَمَّا الْإِجَازَةُ لِلْمَعْدُومِ ابْتِدَاءً، مِنْ غَيْرِ عَطْفٍ عَلَى مَوْجُودٍ: فَقَدْ أَجَازَهَا الْخَطِيبُ أَبُو بَكْرٍ الْحَافِظُ، وَذَكَرَ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا يَعْلَى بْنَ الْفَرَّاءِ الْحَنْبَلِيَّ، وَأَبَا الْفَضْلِ بْنَ عُمْرُوسٍ الْمَالِكِيَّ يُجِيزَانِ ذَلِكَ. وَحَكَى جَوَازَ ذَلِكَ أَيْضًا أَبُو نَصْرِ بْنُ الصَّبَّاغِ الْفَقِيهُ، فَقَالَ: ذَهَبَ قَوْمٌ إِلَى أَنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يُجِيزَ لِمَنْ لَمْ يُخْلَقْ، قَالَ: "وَهَذَا إِنَّمَا ذَهَبَ إِلَيْهِ مَنْ يَعْتَقِدُ أَنَّ الْإِجَازَةَ إِذْنٌ فِي الرِّوَايَةِ لَا مُحَادَثَةٌ". ثُمَّ بَيَّنَ بُطْلَانَ هَذِهِ الْإِجَازَةِ، وَهُوَ الَّذِي اسْتَقَرَّ عَلَيْهِ رَأْيُ شَيْخِهِ الْقَاضِي أَبِي الطَّيِّبِ الطَّبَرِيِّ الْإِمَامِ.
"Adapun ijazah untuk orang yang belum ada secara langsung, tanpa disandingkan pada yang sudah ada, al-Khathib Abu Bakr al-Hafizh membolehkannya, dan menyebutkan bahwa ia mendengar Abu Ya'la Ibnul Farra' al-Hanbali dan Abul Fadhl Ibnu Amrus al-Maliki membolehkan hal itu. Bolehnya hal ini juga diceritakan oleh Abu Nashr Ibnush Shabbagh al-Faqih, ia berkata: sebagian ulama berpendapat boleh mengijazahkan kepada orang yang belum diciptakan. Ia berkata: 'pendapat ini hanya dianut oleh orang yang meyakini bahwa ijazah adalah izin dalam periwayatan, bukan percakapan (pemberitahuan langsung).' Kemudian ia menjelaskan batalnya ijazah semacam ini - dan itulah pendapat yang menjadi ketetapan gurunya, Al-Qadhi Abu Thayyib ath-Thabari al-Imam."
وَذَلِكَ هُوَ الصَّحِيحُ الَّذِي لَا يَنْبَغِي غَيْرُهُ؛ لِأَنَّ الْإِجَازَةَ فِي حُكْمِ الْإِخْبَارِ جُمْلَةً بِالْمُجَازِ، عَلَى مَا قَدَّمْنَاهُ فِي بَيَانِ صِحَّةِ أَصْلِ الْإِجَازَةِ، فَكَمَا لَا يَصِحُّ الْإِخْبَارُ لِلْمَعْدُومِ لَا تَصِحُّ الْإِجَازَةُ لِلْمَعْدُومِ. وَلَوْ قَدَّرْنَا أَنَّ الْإِجَازَةَ إِذْنٌ فَلَا يَصِحُّ أَيْضًا ذَلِكَ لِلْمَعْدُومِ، كَمَا لَا يَصِحُّ الْإِذْنُ فِي بَابِ الْوَكَالَةِ لِلْمَعْدُومِ، لِوُقُوعِهِ فِي حَالَةٍ لَا يَصِحُّ فِيهَا الْمَأْذُونُ فِيهِ مِنَ الْمَأْذُونِ لَهُ.
"Itulah pendapat yang shahih, yang tidak sepatutnya diselisihi, karena ijazah pada hakikatnya berhukum sebagai pengabaran secara global tentang apa yang diijazahkan, sebagaimana telah kami sebutkan dalam menjelaskan sahnya ijazah pada dasarnya. Maka sebagaimana tidak sah pengabaran kepada orang yang belum ada, tidak sah pula ijazah kepada orang yang belum ada. Sekalipun kita anggap ijazah sebagai izin (bukan pengabaran), tetap saja tidak sah untuk orang yang belum ada, sebagaimana tidak sahnya izin dalam bab perwakilan (wakalah) bagi orang yang belum ada, karena hal itu terjadi pada keadaan di mana objek yang diizinkan belum sah bagi orang yang diberi izin."
وَهَذَا أَيْضًا يُوجِبُ بُطْلَانَ الْإِجَازَةِ لِلطِّفْلِ الصَّغِيرِ الَّذِي لَا يَصِحُّ سَمَاعُهُ. قَالَ الْخَطِيبُ: سَأَلْتُ الْقَاضِيَ أَبَا الطَّيِّبِ الطَّبَرِيَّ عَنِ الْإِجَازَةِ لِلطِّفْلِ الصَّغِيرِ، هَلْ يُعْتَبَرُ فِي صِحَّتِهَا سِنُّهُ أَوْ تَمْيِيزُهُ، كَمَا يُعْتَبَرُ ذَلِكَ فِي صِحَّةِ سَمَاعِهِ؟ فَقَالَ: لَا يُعْتَبَرُ ذَلِكَ، قَالَ: فَقُلْتُ لَهُ: أَنَّ بَعْضَ أَصْحَابِنَا قَالَ: لَا تَصِحُّ الْإِجَازَةُ لِمَنْ لَا يَصِحُّ سَمَاعُهُ، فَقَالَ: قَدْ يَصِحُّ أَنْ يُجِيزَ ذَلِكَ لِلْغَائِبِ عَنْهُ، وَلَا يَصِحُّ السَّمَاعُ لَهُ. وَاحْتَجَّ الْخَطِيبُ لِصِحَّتِهَا لِلطِّفْلِ بِأَنَّ الْإِجَازَةَ إِنَّمَا هِيَ إِبَاحَةُ الْمُجِيزِ لِلْمُجَازِ لَهُ أَنْ يَرْوِيَ عَنْهُ، وَالْإِبَاحَةُ تَصِحُّ لِلْعَاقِلِ، وَغَيْرِ الْعَاقِلِ.
"Hal ini juga mengharuskan batalnya ijazah bagi anak kecil yang belum sah sama'-nya. Al-Khathib berkata: aku bertanya kepada Al-Qadhi Abu Thayyib ath-Thabari tentang ijazah bagi anak kecil, apakah dalam sahnya disyaratkan usia atau kemampuan tamyiz-nya, sebagaimana disyaratkan dalam sahnya sama'? Ia menjawab: 'tidak disyaratkan itu.' Al-Khathib berkata: aku katakan kepadanya: 'sebagian sahabat kami (Syafi'iyyah) berkata: tidak sah ijazah bagi orang yang tidak sah sama'-nya.' Ia menjawab: 'boleh mengijazahkan kepada orang yang tidak hadir (ghaib), padahal sama' tidak sah baginya (karena ketidakhadirannya).' Al-Khathib berhujjah untuk sahnya ijazah bagi anak kecil dengan alasan bahwa ijazah pada hakikatnya adalah pembolehan (ibahah) dari sang pemberi ijazah bagi yang diberi ijazah untuk meriwayatkan darinya, dan ibahah itu sah baik bagi orang yang berakal maupun yang belum berakal."
قَالَ: وَعَلَى هَذَا رَأَيْنَا كَافَّةَ شُيُوخِنَا يُجِيزُونَ لِلْأَطْفَالِ الْغُيَّبِ عَنْهُمْ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَسْأَلُوا عَنْ مَبْلَغِ أَسْنَانِهِمْ، وَحَالِ تَمْيِيزِهِمْ، وَلَمْ نَرَهُمْ أَجَازُوا لِمَنْ لَمْ يَكُنْ مَوْلُودًا فِي الْحَالِ.
"Al-Khathib melanjutkan: berdasarkan hal ini, kami melihat seluruh guru-guru kami mengijazahkan kepada anak-anak kecil yang tidak hadir di hadapan mereka, tanpa bertanya tentang usia atau kemampuan tamyiz mereka - namun kami tidak pernah melihat mereka mengijazahkan kepada orang yang belum lahir saat itu."
قُلْتُ: كَأَنَّهُمْ رَأَوُا الطِّفْلَ أَهْلًا لِتَحَمُّلِ هَذَا النَّوْعِ مِنْ أَنْوَاعِ تَحَمُّلِ الْحَدِيثِ، لِيُؤَدِّيَ بِهِ بَعْدَ حُصُولِ أَهْلِيَّتِهِ، حِرْصًا عَلَى تَوْسِيعِ السَّبِيلِ إِلَى بَقَاءِ الْإِسْنَادِ الَّذِي اخْتَصَّتْ بِهِ هَذِهِ الْأُمَّةُ، وَتَقْرِيبِهِ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، (وَاللَّهُ أَعْلَمُ).
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: sepertinya mereka memandang anak kecil layak untuk menerima jenis tahammul ini, agar kelak ia menyampaikannya setelah mencapai kelayakan, demi menjaga keluasan jalan bagi kelestarian isnad yang menjadi kekhususan umat ini, serta demi mendekatkan (jarak sanad) kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Wallahu a'lam."
Anwa' keenam dari ijazah:
إِجَازَةُ مَا لَمْ يَسْمَعْهُ الْمُجِيزُ، وَلَمْ يَتَحَمَّلْهُ أَصْلًا بَعْدُ، لِيَرْوِيَهُ الْمُجَازُ لَهُ إِذَا تَحَمَّلَهُ الْمُجِيزُ بَعْدَ ذَلِكَ.
"Mengijazahkan sesuatu yang belum pernah didengar oleh sang pemberi ijazah, dan belum sama sekali diterimanya (tahammul), agar diriwayatkan oleh yang diberi ijazah kelak setelah sang pemberi ijazah benar-benar menerimanya di kemudian hari."
أَخْبَرَنِي مَنْ أَخْبَرَ عَنِ الْقَاضِي عِيَاضِ بْنِ مُوسَى مِنْ فُضَلَاءِ وَقْتِهِ بِالْمَغْرِبِ، قَالَ: "هَذَا لَمْ أَرَ مَنْ تَكَلَّمَ عَلَيْهِ مِنَ الْمَشَايِخِ، وَرَأَيْتُ بَعْضَ الْمُتَأَخِّرِينَ وَالْعَصْرِيِّينَ يَصْنَعُونَهُ"، ثُمَّ حَكَى عَنْ أَبِي الْوَلِيدِ يُونُسَ بْنِ مُغِيثٍ قَاضِي قُرْطُبَةَ أَنَّهُ سُئِلَ الْإِجَازَةَ لِجَمِيعِ مَا رَوَاهُ إِلَى تَارِيخِهَا، وَمَا يَرْوِيهِ بَعْدُ، فَامْتَنَعَ مِنْ ذَلِكَ، فَغَضِبَ السَّائِلُ، فَقَالَ لَهُ بَعْضُ أَصْحَابِهِ: يَا هَذَا، يُعْطِيكَ مَا لَمْ يَأْخُذْهُ؟ هَذَا مُحَالٌ! قَالَ عِيَاضٌ: "وَهَذَا هُوَ الصَّحِيحُ".
"Aku diberitahu oleh orang yang mengabarkan dari Al-Qadhi Iyadh bin Musa, salah seorang ulama utama sezamannya di Maghrib, ia berkata: 'aku belum pernah melihat ada seorang guru pun yang membahas masalah ini, namun aku melihat sebagian ulama mutaakhirin dan sezamanku melakukannya.' Kemudian ia menceritakan dari Abul Walid Yunus bin Mughits, Qadhi Kordoba, bahwa ia pernah dimintai ijazah untuk seluruh apa yang telah diriwayatkannya sampai saat itu, dan apa yang akan diriwayatkannya kelak, lalu ia menolak permintaan itu. Peminta ijazah itu pun marah. Salah seorang sahabatnya berkata kepadanya: 'wahai fulan, apakah ia akan memberimu apa yang belum ia miliki sendiri? Ini mustahil!' Iyadh berkata: 'dan inilah pendapat yang shahih.'"
قُلْتُ: يَنْبَغِي أَنْ يُبْنَى هَذَا عَلَى أَنَّ الْإِجَازَةَ فِي حُكْمِ الْإِخْبَارِ بِالْمُجَازِ جُمْلَةً، أَوْ هِيَ إِذْنٌ، فَإِنْ جُعِلَتْ فِي حُكْمِ الْإِخْبَارِ لَمْ تَصِحَّ هَذِهِ الْإِجَازَةُ، إِذْ كَيْفَ يُخْبِرُ بِمَا لَا خَبَرَ عِنْدَهُ مِنْهُ. وَإِنْ جُعِلَتْ إِذْنًا انْبَنَى هَذَا عَلَى الْخِلَافِ فِي تَصْحِيحِ الْإِذْنِ فِي بَابِ الْوَكَالَةِ فِيمَا لَمْ يَمْلِكْهُ الْآذِنُ الْمُوَكِّلُ بَعْدُ، مِثْلَ أَنْ يُوَكِّلَ فِي بَيْعِ الْعَبْدِ الَّذِي يُرِيدُ أَنْ يَشْتَرِيَهُ. وَقَدْ أَجَازَ ذَلِكَ بَعْضُ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ. وَالصَّحِيحُ بُطْلَانُ هَذِهِ الْإِجَازَةِ، وَعَلَى هَذَا يَتَعَيَّنُ عَلَى مَنْ يُرِيدُ أَنْ يَرْوِيَ بِالْإِجَازَةِ عَنْ شَيْخٍ أَجَازَ لَهُ جَمِيعَ مَسْمُوعَاتِهِ مَثَلًا أَنْ يَبْحَثَ حَتَّى يَعْلَمَ أَنَّ ذَاكَ الَّذِي يُرِيدُ رِوَايَتَهُ عَنْهُ مِمَّا سَمِعَهُ قَبْلَ تَارِيخِ هَذِهِ الْإِجَازَةِ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: sepatutnya persoalan ini dibangun berdasarkan apakah ijazah pada hakikatnya adalah pengabaran secara global tentang apa yang diijazahkan, ataukah ia sekadar izin. Jika dianggap sebagai pengabaran, ijazah semacam ini tidak sah, karena bagaimana mungkin seseorang mengabarkan sesuatu yang bahkan tidak ada beritanya di sisinya. Jika dianggap sebagai izin, persoalan ini dibangun di atas perselisihan tentang sahnya izin dalam bab perwakilan (wakalah) untuk sesuatu yang belum dimiliki oleh pemberi izin (pemberi kuasa) itu sendiri, misalnya mewakilkan penjualan seorang budak yang baru hendak dibelinya - sebagian pengikut asy-Syafi'i membolehkan hal itu. Namun yang shahih adalah batalnya ijazah semacam ini. Berdasarkan hal ini, wajib bagi siapa saja yang hendak meriwayatkan dengan ijazah dari seorang guru yang mengijazahkan kepadanya seluruh yang ia dengar - misalnya - untuk meneliti terlebih dahulu hingga ia yakin bahwa apa yang hendak ia riwayatkan darinya memang termasuk yang telah didengar sang guru sebelum tanggal ijazah tersebut."
وَأَمَّا إِذَا قَالَ: أَجَزْتُ لَكَ مَا صَحَّ وَيَصِحُّ عِنْدَكَ مِنْ مَسْمُوعَاتِي"، فَهَذَا لَيْسَ مِنْ هَذَا الْقَبِيلِ، وَقَدْ فَعَلَهُ الدَّارَقُطْنِيُّ، وَغَيْرُهُ، وَجَائِزٌ أَنْ يَرْوِيَ بِذَلِكَ عَنْهُ مَا صَحَّ عِنْدَهُ بَعْدَ الْإِجَازَةِ أَنَّهُ سَمِعَهُ قَبْلَ الْإِجَازَةِ، وَيَجُوزُ ذَلِكَ، وَإِنِ اقْتَصَرَ عَلَى قَوْلِهِ: "مَا صَحَّ عِنْدَكَ"، وَلَمْ يَقُلْ: "وَمَا يَصِحُّ"، لِأَنَّ الْمُرَادَ "أَجَزْتُ لَكَ أَنْ تَرْوِيَ عَنِّي مَا صَحَّ عِنْدَكَ"، فَالْمُعْتَبَرُ إِذًا فِيهِ صِحَّةُ ذَلِكَ عِنْدَهُ حَالَةَ الرِّوَايَةِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Adapun jika seseorang berkata: 'aku ijazahkan kepadamu apa yang sudah dan akan terbukti (shah) menurutmu, dari apa yang aku dengar', ini bukan termasuk kategori (yang tertolak) tadi. Ad-Daraquthni dan selainnya telah melakukannya, dan boleh baginya meriwayatkan dengan ijazah tersebut apa yang terbukti baginya setelah ijazah bahwa itu memang telah ia dengar sebelum ijazah itu. Ini tetap boleh, sekalipun ia hanya membatasi diri pada ucapan 'apa yang terbukti bagimu' tanpa mengatakan 'dan apa yang akan terbukti', karena maksudnya adalah 'aku ijazahkan kepadamu untuk meriwayatkan dariku apa yang terbukti bagimu' - maka yang menjadi patokan adalah terbuktinya hal itu baginya pada saat periwayatan berlangsung. Wallahu a'lam."
Anwa' ketujuh dari ijazah:
إِجَازَةُ الْمُجَازِ. مِثْلُ أَنْ يَقُولَ الشَّيْخُ (أَجَزْتُ لَكَ مُجَازَاتِي، أَوْ أَجَزْتُ لَكَ رِوَايَةَ مَا أُجِيزَ لِي رِوَايَتُهُ)، فَمَنَعَ مِنْ ذَلِكَ بَعْضُ مَنْ لَا يُعْتَدُّ بِهِ مِنَ الْمُتَأَخِّرِينَ.
"Ijazah atas ijazah (ijazatul mujaz) - misalnya sang guru berkata: 'aku ijazahkan kepadamu segala yang telah diijazahkan kepadaku', atau 'aku ijazahkan kepadamu periwayatan atas apa yang telah diijazahkan kepadaku untuk kuriwayatkan'. Sebagian ulama mutaakhirin yang tidak diperhitungkan pendapatnya melarang hal ini."
وَالصَّحِيحُ - وَالَّذِي عَلَيْهِ الْعَمَلُ - أَنَّ ذَلِكَ جَائِزٌ، وَلَا يُشْبِهُ ذَلِكَ مَا امْتَنَعَ مِنْ تَوْكِيلِ الْوَكِيلِ بِغَيْرِ إِذْنِ الْمُوَكِّلِ، وَوَجَدْتُ عَنْ أَبِي عَمْرٍو السَّفَاقُسِيِّ الْحَافِظِ الْمَغْرِبِيِّ قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا نُعَيْمٍ الْحَافِظَ الْأَصْبَهَانِيَّ يَقُولُ: "الْإِجَازَةُ عَلَى الْإِجَازَةِ قَوِيَّةٌ جَائِزَةٌ".
"Yang shahih -dan yang menjadi pegangan amal- adalah bahwa hal itu boleh, dan tidak serupa dengan kasus terlarangnya seorang wakil mewakilkan lagi tanpa izin pemberi kuasa. Aku mendapati riwayat dari Abu Amr as-Safaqusi al-Hafizh al-Maghribi, ia berkata: aku mendengar Abu Nu'aim al-Hafizh al-Ashbahani berkata: 'ijazah atas ijazah itu kuat lagi boleh.'"
وَحَكَى الْخَطِيبُ الْحَافِظُ تَجْوِيزَ ذَلِكَ عَنِ الْحَافِظِ الْإِمَامِ أَبِي الْحَسَنِ الدَّارَقُطْنِيِّ، وَالْحَافِظِ أَبِي الْعَبَّاسِ الْمَعْرُوفِ بِابْنِ عُقْدَةَ الْكُوفِيِّ، وَغَيْرِهِمَا، وَقَدْ كَانَ الْفَقِيهُ الزَّاهِدُ نَصْرُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْمَقْدِسِيُّ يَرْوِي بِالْإِجَازَةِ عَنِ الْإِجَازَةِ، حَتَّى رُبَّمَا وَالَى فِي رِوَايَتِهِ بَيْنَ إِجَازَاتٍ ثَلَاثٍ.
"Al-Khathib al-Hafizh menceritakan bolehnya hal itu dari al-Hafizh al-Imam Abul Hasan ad-Daraquthni, al-Hafizh Abul Abbas yang dikenal dengan Ibnu Uqdah al-Kufi, dan selain keduanya. Al-Faqih az-Zahid Nashr bin Ibrahim al-Maqdisi biasa meriwayatkan dengan ijazah dari ijazah, bahkan terkadang dalam satu riwayat ia merangkai tiga ijazah berturut-turut."
وَيَنْبَغِي لِمَنْ يَرْوِي بِالْإِجَازَةِ عَنِ الْإِجَازَةِ أَنْ يَتَأَمَّلَ كَيْفِيَّةَ إِجَازَةِ شَيْخِ شَيْخِهِ، وَمُقْتَضَاهَا، حَتَّى لَا يَرْوِيَ بِهَا مَا لَمْ يَنْدَرِجْ تَحْتَهَا، فَإِذَا كَانَ مَثَلًا صُورَةُ إِجَازَةِ شَيْخِ شَيْخِهِ (أَجَزْتُ لَهُ مَا صَحَّ عِنْدَهُ مِنْ سَمَاعَاتِي)، فَرَأَى شَيْئًا مِنْ مَسْمُوعَاتِ شَيْخِ شَيْخِهِ، فَلَيْسَ لَهُ أَنْ يَرْوِيَ ذَلِكَ عَنْ شَيْخِهِ عَنْهُ، حَتَّى يَسْتَبِينَ أَنَّهُ مِمَّا كَانَ قَدْ صَحَّ عِنْدَ شَيْخِهِ كَوْنُهُ مِنْ سَمَاعَاتِ شَيْخِهِ الَّذِي تِلْكَ إِجَازَتُهُ، وَلَا يَكْتَفِي بِمُجَرَّدِ صِحَّةِ ذَلِكَ عِنْدَهُ الْآنَ، عَمَلًا بِلَفْظِهِ، وَتَقْيِيدِهِ، وَمَنْ لَا يَتَفَطَّنْ لِهَذَا وَأَمْثَالِهِ يَكْثُرْ عِثَارُهُ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Sepatutnya bagi orang yang meriwayatkan dengan ijazah dari ijazah, untuk mencermati bentuk ijazah dari guru gurunya dan konsekuensinya, agar ia tidak meriwayatkan dengannya sesuatu yang sebenarnya tidak tercakup di dalamnya. Misalnya, jika bentuk ijazah dari guru gurunya adalah 'aku ijazahkan kepadanya apa yang terbukti baginya dari apa yang aku dengar', lalu ia mendapati sesuatu dari yang didengar guru gurunya, ia tidak boleh meriwayatkannya dari gurunya (yang meriwayatkan) darinya, sampai jelas bahwa itu memang termasuk yang telah terbukti bagi gurunya sebagai bagian dari yang didengar guru gurunya yang ijazah itu diberikan untuknya - dan tidak cukup hanya karena hal itu terbukti baginya sekarang, sebagai konsekuensi lafal dan pembatasan ijazah tersebut. Siapa yang tidak cermat terhadap hal ini dan yang semisalnya, akan banyak tersandung. Wallahu a'lam."
هَذِهِ أَنْوَاعُ الْإِجَازَةِ الَّتِي تَمَسُّ الْحَاجَةُ إِلَى بَيَانِهَا، وَيَتَرَكَّبُ مِنْهَا أَنْوَاعٌ أُخَرُ سَيَتَعَرَّفُ الْمُتَأَمِّلُ حُكْمَهَا مِمَّا أَمْلَيْنَاهُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى.
"Itulah anwa'-anwa' ijazah yang penting untuk dijelaskan. Dari anwa' ini pula tersusun jenis-jenis lain yang hukumnya akan dikenali oleh orang yang mencermati apa yang telah kami paparkan, insya Allah Ta'ala."
Beberapa Perkara Penting tentang Ijazah
Perkara pertama:
رُوِّينَا عَنْ أَبِي الْحُسَيْنِ أَحْمَدَ بْنِ فَارِسٍ الْأَدِيبِ الْمُصَنِّفِ رَحِمَهُ اللَّهُ قَالَ: "مَعْنَى الْإِجَازَةِ فِي كَلَامِ الْعَرَبِ مَأْخُوذٌ مِنْ جَوَازِ الْمَاءِ الَّذِي يُسْقَاهُ الْمَالُ مِنَ الْمَاشِيَةِ وَالْحَرْثِ، يُقَالُ مِنْهُ: اسْتَجَزْتُ فُلَانًا، فَأَجَازَ لِي، إِذَا أَسْقَاكَ مَاءً لِأَرْضِكَ، أَوْ مَاشِيَتِكَ، كَذَلِكَ طَالِبُ الْعِلْمِ يَسْأَلُ الْعَالِمَ أَنْ يُجِيزَهُ عِلْمَهُ، فَيُجِيزُهُ إِيَّاهُ.
"Kami meriwayatkan dari Abul Husain Ahmad bin Faris al-Adib, penulis kitab, rahimahullah, ia berkata: 'makna ijazah dalam bahasa Arab diambil dari kata jawaz al-ma' (lewatnya air) yang mengairi hewan ternak dan tanaman. Dikatakan: istajaztu fulanan, fa ajaza li, apabila seseorang memberimu air untuk tanahmu atau hewan ternakmu. Begitu pula penuntut ilmu meminta kepada seorang alim agar mengijazahkan ilmunya kepadanya, lalu sang alim pun mengijazahkannya kepadanya.'"
قُلْتُ: فَلِلْمُجِيزِ عَلَى هَذَا أَنْ يَقُولَ: "أَجَزْتُ فُلَانًا مَسْمُوعَاتِي، أَوْ مَرْوِيَّاتِي"، فَيُعَدِّيَهُ بِغَيْرِ حَرْفِ جَرٍّ مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ إِلَى ذِكْرِ لَفْظِ الرِّوَايَةِ، أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ، وَيَحْتَاجُ إِلَى ذَلِكَ مِنْ يَجْعَلُ الْإِجَازَةَ بِمَعْنَى التَّسْوِيغِ، وَالْإِذْنِ، وَالْإِبَاحَةِ، وَذَلِكَ هُوَ الْمَعْرُوفُ، فَيَقُولُ: (أَجَزْتُ لِفُلَانٍ رِوَايَةَ مَسْمُوعَاتِي) مَثَلًا، وَمَنْ يَقُولُ مِنْهُمْ: (أَجَزْتُ لَهُ مَسْمُوعَاتِي) فَعَلَى سَبِيلِ الْحَذْفِ الَّذِي لَا يَخْفَى نَظِيرُهُ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: berdasarkan ini, sang pemberi ijazah boleh mengatakan: 'aku mengijazahkan fulan apa yang kudengar, atau apa yang kuriwayatkan', dengan mentransitifkannya tanpa huruf jar, tanpa perlu menyebut kata 'riwayat' atau semisalnya. Sedangkan yang menjadikan ijazah bermakna tasawugh (pembolehan), izin, dan ibahah -yang inilah makna yang dikenal umum- perlu menyebutnya, sehingga berkata: 'aku ijazahkan kepada fulan periwayatan atas apa yang kudengar', misalnya. Adapun yang berkata: 'aku ijazahkan kepadanya apa yang kudengar' (tanpa kata 'riwayat'), itu berjalan dengan cara pembuangan (hadzf) yang padanannya sudah dikenal. Wallahu a'lam."
Perkara kedua:
إِنَّمَا تُسْتَحْسَنُ الْإِجَازَةُ إِذَا كَانَ الْمُجِيزُ عَالِمًا بِمَا يُجِيزُ، وَالْمُجَازُ لَهُ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ؛ لِأَنَّهَا تَوَسُّعٌ، وَتَرْخِيصٌ، يَتَأَهَّلُ لَهُ أَهْلُ الْعِلْمِ لِمَسِيسِ حَاجَتِهِمْ إِلَيْهَا، وَبَالَغَ بَعْضُهُمْ فِي ذَلِكَ فَجَعَلَهُ شَرْطًا فِيهَا. وَحَكَاهُ أَبُو الْعَبَّاسِ الْوَلِيدُ بْنُ بَكْرٍ الْمَالِكِيُّ، عَنْ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ. وَقَالَ الْحَافِظُ أَبُو عُمَرَ: "الصَّحِيحُ أَنَّهَا لَا تَجُوزُ إِلَّا لِمَاهِرٍ بِالصِّنَاعَةِ، وَفِي شَيْءٍ مُعَيَّنٍ لَا يُشْكِلُ إِسْنَادُهُ"، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Ijazah dipandang baik hanya apabila sang pemberi ijazah mengetahui apa yang ia ijazahkan, dan yang diberi ijazah adalah orang yang berilmu, karena ijazah adalah kelonggaran dan keringanan yang hanya layak bagi ahli ilmu, mengingat besarnya kebutuhan mereka terhadapnya. Sebagian ulama bahkan menegaskan hal ini sebagai syarat mutlak baginya - dihikayatkan oleh Abul Abbas al-Walid bin Bakr al-Maliki dari Malik radhiyallahu 'anhu. Al-Hafizh Abu Umar (Ibnu Abdil Barr) berkata: 'yang shahih, ijazah tidak boleh kecuali bagi orang yang mahir dalam disiplin ini, dan untuk sesuatu yang tertentu yang sanadnya tidak rumit.' Wallahu a'lam."
Perkara ketiga:
يَنْبَغِي لِلْمُجِيزِ إِذَا كَتَبَ إِجَازَتَهُ أَنْ يَتَلَفَّظَ بِهَا، فَإِنِ اقْتَصَرَ عَلَى الْكِتَابَةِ كَانَ ذَلِكَ إِجَازَةً جَائِزَةً، إِذَا اقْتَرَنَ بِقَصْدِ الْإِجَازَةِ. غَيْرَ أَنَّهَا أَنْقَصُ مَرْتَبَةً مِنَ الْإِجَازَةِ الْمَلْفُوظِ بِهَا، وَغَيْرُ مُسْتَبْعَدٍ تَصْحِيحُ ذَلِكَ بِمُجَرَّدِ هَذِهِ الْكِتَابَةِ فِي بَابِ الرِّوَايَةِ، الَّتِي جُعِلَتْ فِيهِ الْقِرَاءَةُ عَلَى الشَّيْخِ مَعَ أَنَّهُ لَمْ يَلْفِظْ بِمَا قُرِئَ عَلَيْهِ إِخْبَارًا مِنْهُ بِمَا قُرِئَ عَلَيْهِ، عَلَى مَا تَقَدَّمَ بَيَانُهُ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Sepatutnya sang pemberi ijazah, apabila ia menuliskan ijazahnya, juga mengucapkannya secara lisan. Namun jika ia hanya membatasi diri pada tulisan saja, itu tetap menjadi ijazah yang sah, selama disertai niat untuk mengijazahkan. Hanya saja martabatnya lebih rendah dibanding ijazah yang diucapkan secara lisan. Tidak jauh dari kemungkinan bahwa hal itu dapat disahkan semata-mata dengan tulisan ini saja dalam bab periwayatan - sebagaimana qira'ah 'alash-shaykh juga dijadikan sah, padahal sang guru sendiri tidak mengucapkan lafal apa yang dibacakan kepadanya sebagai pemberitahuan langsung atas apa yang dibacakan itu, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Wallahu a'lam."
Qism Keempat: Al-Munawalah (Penyerahan Naskah)
وَهِيَ عَلَى نَوْعَيْنِ.
"Munawalah ini terbagi menjadi dua jenis."
Jenis pertama: Al-Munawalah al-Maqrunah bil-Ijazah (Munawalah yang Disertai Ijazah)
وَهِيَ أَعْلَى أَنْوَاعِ الْإِجَازَةِ عَلَى الْإِطْلَاقِ. وَلَهَا صُوَرٌ: مِنْهَا: أَنْ يَدْفَعَ الشَّيْخُ إِلَى الطَّالِبِ أَصْلَ سَمَاعِهِ، أَوْ فَرْعًا مُقَابَلًا بِهِ، وَيَقُولَ: (هَذَا سَمَاعِي، أَوْ رِوَايَتِي عَنْ فُلَانٍ، فَارْوِهِ عَنِّي، أَوْ أَجَزْتُ لَكَ رِوَايَتَهُ عَنِّي)، ثُمَّ يُمَلِّكَهُ إِيَّاهُ. أَوْ يَقُولَ: (خُذْهُ، وَانْسَخْهُ، وَقَابِلْ بِهِ، ثُمَّ رُدَّهُ إِلَيَّ) أَوْ نَحْوَ هَذَا.
"Ini adalah yang paling tinggi martabatnya dari seluruh jenis ijazah secara mutlak. Bentuknya bermacam-macam: di antaranya, sang guru menyerahkan kepada murid naskah asli sama'-nya, atau salinan yang telah dicocokkan dengannya, sambil berkata: 'ini adalah sama'ku', atau 'riwayatku dari fulan, maka riwayatkanlah dariku', atau 'aku ijazahkan kepadamu untuk meriwayatkannya dariku' - kemudian menghibahkan kepemilikannya kepada murid tersebut. Atau ia berkata: 'ambillah, salinlah, cocokkanlah dengannya, lalu kembalikan kepadaku', atau semisalnya."
وَمِنْهَا: أَنْ يَجِيءَ الطَّالِبُ إِلَى الشَّيْخِ بِكِتَابٍ، أَوْ جُزْءٍ مِنْ حَدِيثِهِ، فَيَعْرِضُهُ عَلَيْهِ، فَيَتَأَمَّلُهُ الشَّيْخُ وَهُوَ عَارِفٌ مُتَيَقِّظٌ، ثُمَّ يُعِيدُهُ إِلَيْهِ، وَيَقُولُ لَهُ: (وَقَفْتُ عَلَى مَا فِيهِ، وَهُوَ حَدِيثِي عَنْ فُلَانٍ، أَوْ رِوَايَتِي عَنْ شُيُوخِي فِيهِ، فَارْوِهِ عَنِّي، أَوْ أَجَزْتُ لَكَ رِوَايَتَهُ عَنِّي). وَهَذَا قَدْ سَمَّاهُ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ أَئِمَّةِ الْحَدِيثِ (عَرْضًا)، وَقَدْ سَبَقَتْ حِكَايَتُنَا فِي الْقِرَاءَةِ عَلَى الشَّيْخِ أَنَّهَا تُسَمَّى عَرْضًا، فَلْنُسَمِّ ذَلِكَ (عَرْضَ الْقِرَاءَةِ)، وَهَذَا (عَرْضَ الْمُنَاوَلَةِ)، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Di antaranya lagi: seorang murid datang membawa kitab atau juz hadits kepada sang guru, lalu menyodorkannya kepadanya. Sang guru mencermatinya dengan penuh pengetahuan dan kewaspadaan, lalu mengembalikannya kepada si murid seraya berkata: 'aku telah memeriksa isinya, dan itu adalah haditsku dari fulan', atau 'riwayatku dari guru-guruku di dalamnya, maka riwayatkanlah dariku', atau 'aku ijazahkan kepadamu untuk meriwayatkannya dariku'. Ini telah dinamai oleh banyak imam hadits dengan 'ardh (penyodoran). Kami telah menyebutkan sebelumnya dalam pembahasan qira'ah 'alash-shaykh bahwa itu juga disebut 'ardh - maka mari kita namakan yang itu 'ardhul qira'ah, dan ini 'ardhul munawalah. Wallahu a'lam."
وَهَذِهِ الْمُنَاوَلَةُ الْمُقْتَرِنَةُ بِالْإِجَازَةِ: حَالَّةٌ مَحَلَّ السَّمَاعِ عِنْدَ مَالِكٍ، وَجَمَاعَةٍ مِنْ أَئِمَّةِ أَصْحَابِ الْحَدِيثِ. وَحَكَى الْحَاكِمُ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ النَّيْسَابُورِيُّ - فِي عَرْضِ الْمُنَاوَلَةِ الْمَذْكُورِ - عَنْ كَثِيرٍ مِنَ الْمُتَقَدِّمِينَ: أَنَّهُ سَمَاعٌ.
"Munawalah yang disertai ijazah ini berkedudukan setara sama' menurut Malik dan sejumlah imam ahli hadits. Al-Hakim Abu Abdillah al-Hafizh an-Naisaburi menceritakan -tentang 'ardhul munawalah ini- dari banyak ulama mutaqaddimin, bahwa mereka menganggapnya sebagai sama'."
وَهَذَا مُطَّرِدٌ فِي سَائِرِ مَا يُمَاثِلُهُ مِنْ صُوَرِ الْمُنَاوَلَةِ الْمَقْرُونَةِ بِالْإِجَازَةِ: فَمِمَّنْ حَكَى الْحَاكِمُ ذَلِكَ عَنْهُمْ: ابنُ شِهَابٍ الزُّهْرِيُّ، وَرَبِيعَةُ الرَّأْيِ، وَيَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْأَنْصَارِيُّ، وَمَالِكُ بْنُ أَنَسٍ - الْإِمَامُ -، فِي آخَرِينَ مِنَ الْمَدَنِيِّينَ، وَمُجَاهِدٌ، وَأَبُو الزُّبَيْرِ، وَابْنُ عُيَيْنَةَ فِي جَمَاعَةٍ مِنَ الْمَكِّيِّينَ، وَعَلْقَمَةُ، وَإِبْرَاهِيمُ النَّخَعِيَّانِ، وَالشَّعْبِيُّ فِي جَمَاعَةٍ مِنَ الْكُوفِيِّينَ، وَقَتَادَةُ، وَأَبُو الْعَالِيَةِ، وَأَبُو الْمُتَوَكِّلِ النَّاجِيُّ فِي طَائِفَةٍ مِنَ الْبَصْرِيِّينَ، وَابْنُ وَهْبٍ، وَابْنُ الْقَاسِمِ، وَأَشْهَبُ فِي طَائِفَةٍ مِنَ الْمِصْرِيِّينَ، وَآخَرُونَ مِنَ الشَّامِيِّينَ، وَالْخُرَاسَانِيِّينَ.
"Ini berlaku konsisten pada seluruh bentuk yang menyerupainya dari munawalah yang disertai ijazah. Di antara ulama yang diceritakan al-Hakim menganut pendapat ini adalah: Ibnu Syihab az-Zuhri, Rabi'ah ar-Ra'yi, Yahya bin Sa'id al-Anshari, dan Malik bin Anas al-Imam, bersama sejumlah ulama Madinah lainnya; Mujahid, Abu az-Zubair, dan Ibnu Uyainah bersama sekelompok ulama Makkah; Alqamah, Ibrahim an-Nakha'i, dan asy-Sya'bi bersama sekelompok ulama Kufah; Qatadah, Abul Aliyah, dan Abul Mutawakkil an-Naji bersama sejumlah ulama Basrah; Ibnu Wahb, Ibnul Qasim, dan Asyhab bersama sejumlah ulama Mesir; serta ulama-ulama lain dari Syam dan Khurasan."
وَرَأَى الْحَاكِمُ طَائِفَةً مِنْ مَشَايِخِهِ عَلَى ذَلِكَ، وَفِي كَلَامِهِ بَعْضُ التَّخْلِيطِ مِنْ حَيْثُ كَوْنُهُ خَلَطَ بَعْضَ مَا وَرَدَ فِي (عَرْضِ الْقِرَاءَةِ) بِمَا وَرَدَ فِي (عَرْضِ الْمُنَاوَلَةِ) وَسَاقَ الْجَمِيعَ مَسَاقًا وَاحِدًا.
"Al-Hakim sendiri melihat sekelompok gurunya menganut pendapat itu. Namun dalam pemaparannya ada sedikit kekeliruan, karena ia mencampuradukkan sebagian yang berkaitan dengan 'ardhul qira'ah dengan yang berkaitan dengan 'ardhul munawalah, dan menyajikan keduanya dalam satu alur yang sama."
وَالصَّحِيحُ: أَنَّ ذَلِكَ غَيْرُ حَالٍّ مَحَلَّ السَّمَاعِ، وَأَنَّهُ مُنْحَطٌّ عَنْ دَرَجَةِ التَّحْدِيثِ لَفْظًا، وَالْإِخْبَارِ قِرَاءَةً. وَقَدْ قَالَ الْحَاكِمُ فِي هَذَا الْعَرْضِ: "أَمَّا فُقَهَاءُ الْإِسْلَامِ الَّذِينَ أَفْتَوْا فِي الْحَلَالِ، وَالْحَرَامِ، فَإِنَّهُمْ لَمْ يَرَوْهُ سَمَاعًا، وَبِهِ قَالَ الشَّافِعِيُّ، وَالْأَوْزَاعِيُّ، وَالْبُوَيْطِيُّ، وَالْمُزْنِيُّ، وَأَبُو حَنِيفَةَ، وَسُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ، وَأَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ، وَابْنُ الْمُبَارَكِ، وَيَحْيَى بْنُ يَحْيَى، وَإِسْحَاقُ بْنُ رَاهْوَيْهِ. قَالَ: وَعَلَيْهِ عَهِدْنَا أَئِمَّتَنَا، وَإِلَيْهِ ذَهَبُوا، وَإِلَيْهِ نَذْهَبُ"، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Yang shahih adalah bahwa munawalah tidak berkedudukan setara sama', dan derajatnya di bawah derajat tahdits secara lisan dan pengabaran melalui qira'ah. Al-Hakim sendiri berkata mengenai 'ardh ini: 'adapun para fuqaha Islam yang berfatwa tentang halal-haram, mereka tidak menganggapnya sebagai sama'. Inilah pendapat asy-Syafi'i, al-Auza'i, al-Buwaithi, al-Muzani, Abu Hanifah, Sufyan ats-Tsauri, Ahmad bin Hanbal, Ibnul Mubarak, Yahya bin Yahya, dan Ishaq bin Rahawaih.' Al-Hakim melanjutkan: 'demikianlah yang kami ketahui menjadi pegangan para imam kami, itulah pendapat mereka, dan itulah pendapat kami.' Wallahu a'lam."
وَمِنْهَا: أَنْ يُنَاوِلَ الشَّيْخُ الطَّالِبَ كِتَابَهُ، وَيُجِيزَ لَهُ رِوَايَتَهُ عَنْهُ، ثُمَّ يُمْسِكَهُ الشَّيْخُ عِنْدَهُ، وَلَا يُمَكِّنَهُ مِنْهُ، فَهَذَا يَتَقَاعَدُ عَمَّا سَبَقَ، لِعَدَمِ احْتِوَاءِ الطَّالِبِ عَلَى مَا تَحَمَّلَهُ، وَغَيَّبْتَهُ عَنْهُ، وَجَائِزٌ لَهُ رِوَايَةُ ذَلِكَ عَنْهُ، إِذَا ظَفِرَ بِالْكِتَابِ، أَوْ بِمَا هُوَ مُقَابَلٌ بِهِ عَلَى وَجْهٍ يَثِقُ مَعَهُ بِمُوَافَقَتِهِ لِمَا تَنَاوَلَتْهُ الْإِجَازَةُ، عَلَى مَا هُوَ مُعْتَبَرٌ فِي الْإِجَازَاتِ الْمُجَرَّدَةِ عَنِ الْمُنَاوَلَةِ.
"Di antara bentuk lainnya lagi: sang guru menyerahkan kitabnya kepada murid dan mengijazahkan riwayatnya, namun kemudian ia tetap menyimpan kitab itu di tangannya dan tidak menyerahkannya secara utuh kepada murid. Ini lebih rendah dari yang telah disebutkan sebelumnya, karena si murid tidak benar-benar menguasai apa yang ia terima itu. Boleh baginya meriwayatkan hal itu darinya, apabila kelak ia berhasil memperoleh kitab tersebut atau salinan yang telah dicocokkan dengannya, sedemikian rupa sehingga ia yakin akan kesesuaiannya dengan apa yang dicakup ijazah tersebut - sebagaimana yang berlaku dalam ijazah murni tanpa munawalah."
ثُمَّ إِنَّ الْمُنَاوَلَةَ فِي مِثْلِ هَذَا لَا يَكَادُ يَظْهَرُ حُصُولُ مَزِيَّةٍ بِهَا عَلَى الْإِجَازَةِ الْوَاقِعَةِ فِي مُعَيَّنٍ كَذَلِكَ مِنْ غَيْرِ مُنَاوَلَةٍ. وَقَدْ صَارَ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنَ الْفُقَهَاءِ وَالْأُصُولِيِّينَ إِلَى أَنَّهُ لَا تَأْثِيرَ لَهَا وَلَا فَائِدَةَ، غَيْرَ أَنَّ شُيُوخَ أَهْلِ الْحَدِيثِ فِي الْقَدِيمِ وَالْحَدِيثِ - أَوْ مَنْ حُكِيَ ذَلِكَ عَنْهُ مِنْهُمْ - يَرَوْنَ لِذَلِكَ مَزِيَّةً مُعْتَبَرَةً، وَالْعِلْمُ عِنْدَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى.
"Munawalah dalam kasus semacam ini hampir tidak menampakkan keunggulan apa pun dibanding ijazah biasa untuk objek yang tertentu tanpa munawalah. Tidak sedikit fuqaha dan ushuliyyin berpandangan bahwa hal itu tidak berpengaruh dan tidak ada faidahnya. Namun para guru ahli hadits, baik dahulu maupun sekarang -atau mereka yang diceritakan demikian- tetap memandang ada keunggulan yang diperhitungkan padanya. Wallahu a'lam."
وَمِنْهَا: أَنْ يَأْتِيَ الطَّالِبُ الشَّيْخَ بِكِتَابٍ أَوْ جُزْءٍ فَيَقُولُ: (هَذَا رِوَايَتُكَ، فَنَاوِلْنِيهِ، وَأَجِزْ لِي رِوَايَتَهُ)، فَيُجِيبُهُ إِلَى ذَلِكَ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْظُرَ فِيهِ، وَيَتَحَقَّقَ رِوَايَتَهُ لِجَمِيعِهِ، فَهَذَا لَا يَجُوزُ، وَلَا يَصِحُّ. فَإِنْ كَانَ الطَّالِبُ مَوْثُوقًا بِخَبَرِهِ، وَمَعْرِفَتِهِ جَازَ الِاعْتِمَادُ عَلَيْهِ فِي ذَلِكَ، وَكَانَ ذَلِكَ إِجَازَةً جَائِزَةً، كَمَا جَازَ فِي الْقِرَاءَةِ عَلَى الشَّيْخِ الِاعْتِمَادُ عَلَى الطَّالِبِ، حَتَّى يَكُونَ هُوَ الْقَارِئُ مِنَ الْأَصْلِ، إِذَا كَانَ مَوْثُوقًا بِهِ مَعْرِفَةً وَدِينًا.
"Di antaranya lagi: seorang murid mendatangi gurunya membawa kitab atau juz, lalu berkata: 'ini riwayatmu, sudilah engkau menyerahkannya kepadaku dan mengijazahkan periwayatannya kepadaku', lalu sang guru pun memenuhinya tanpa terlebih dahulu memeriksanya dan memastikan bahwa itu semua benar-benar riwayatnya. Ini tidak boleh dan tidak sah. Namun jika si murid dapat dipercaya kabarnya dan pengetahuannya, boleh mengandalkannya dalam hal ini, dan itu menjadi ijazah yang sah - sebagaimana dalam qira'ah 'alash-shaykh juga boleh mengandalkan si murid, hingga ia sendiri yang membaca dari naskah asli, apabila ia dipercaya baik pengetahuan maupun agamanya."
قَالَ الْخَطِيبُ أَبُو بَكْرٍ رَحِمَهُ اللَّهُ: "وَلَوْ قَالَ: حَدِّثْ بِمَا فِي هَذَا الْكِتَابِ عَنِّي إِنْ كَانَ مِنْ حَدِيثِي مَعَ بَرَاءَتِي مِنَ الْغَلَطِ وَالْوَهْمِ، كَانَ ذَلِكَ جَائِزًا حَسَنًا"، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Al-Khathib Abu Bakr rahimahullah berkata: 'seandainya seorang guru berkata: sampaikanlah dariku apa yang ada dalam kitab ini, jika memang itu haditsku, dengan syarat aku terbebas dari kekeliruan dan kesalahan (yang mungkin ada di dalamnya), maka itu boleh dan baik.' Wallahu a'lam."
Jenis kedua: Al-Munawalah al-Mujarradah 'anil-Ijazah (Munawalah Tanpa Disertai Ijazah)
بِأَنْ يُنَاوِلَهُ الْكِتَابَ كَمَا تَقَدَّمَ ذِكْرُهُ أَوَّلًا، وَيَقْتَصِرَ عَلَى قَوْلِهِ: "هَذَا مِنْ حَدِيثِي، أَوْ مِنْ سَمَاعَاتِي" وَلَا يَقُولُ: "ارْوِهِ عَنِّي، أَوْ أَجَزْتُ لَكَ رِوَايَتَهُ عَنِّي" وَنَحْوَ ذَلِكَ. فَهَذِهِ مُنَاوَلَةٌ مُخْتَلَّةٌ، لَا تَجُوزُ الرِّوَايَةُ بِهَا، وَعَابَهَا غَيْرُ وَاحِدٍ مِنَ الْفُقَهَاءِ، وَالْأُصُولِيِّينَ عَلَى الْمُحَدِّثِينَ الَّذِينَ أَجَازُوهَا وَسَوَّغُوا الرِّوَايَةَ بِهَا.
"Yaitu sang guru menyerahkan kitab sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, namun hanya membatasi diri pada ucapan: 'ini adalah haditsku', atau 'ini apa yang kudengar', tanpa mengatakan: 'riwayatkanlah dariku', atau 'aku ijazahkan kepadamu untuk meriwayatkannya dariku', dan semisalnya. Ini adalah munawalah yang cacat, tidak boleh diriwayatkan dengannya. Tidak sedikit fuqaha dan ushuliyyin mencela para muhaddits yang membolehkannya dan menghalalkan periwayatan dengannya."
وَحَكَى الْخَطِيبُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّهُمْ صَحَّحُوهَا، وَأَجَازُوا الرِّوَايَةَ بِهَا، وَسَنَذْكُرُ - إِنْ شَاءَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ، وَتَعَالَى - قَوْلَ مَنْ أَجَازَ الرِّوَايَةَ بِمُجَرَّدِ إِعْلَامِ الشَّيْخِ الطَّالِبِ أَنَّ هَذَا الْكِتَابَ سَمَاعُهُ مِنْ فُلَانٍ، وَهَذَا يَزِيدُ عَلَى ذَلِكَ وَيَتَرَجَّحُ بِمَا فِيهِ مِنَ الْمُنَاوَلَةِ، فَإِنَّهَا لَا تَخْلُو مِنْ إِشْعَارٍ بِالْإِذْنِ فِي الرِّوَايَةِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Al-Khathib menceritakan dari sejumlah ahli ilmu, bahwa mereka mensahkannya dan membolehkan periwayatan dengannya. Kami akan sebutkan -insya Allah Ta'ala- pendapat orang yang membolehkan periwayatan hanya dengan pemberitahuan sang guru kepada murid bahwa kitab ini adalah sama'-nya dari fulan (qism 6) - dan bentuk munawalah ini lebih unggul dari itu, karena adanya unsur penyerahan fisik naskah, yang tidak lepas dari indikasi izin dalam periwayatan. Wallahu a'lam."
Ucapan Perawi untuk Munawalah dan Ijazah
حُكِيَ عَنْ قَوْمٍ مِنَ الْمُتَقَدِّمِينَ وَمَنْ بَعْدَهُمْ: أَنَّهُمْ جَوَّزُوا إِطْلَاقَ "حَدَّثَنَا، وَأَخْبَرَنَا" فِي الرِّوَايَةِ بِالْمُنَاوَلَةِ، حُكِيَ ذَلِكَ عَنِ الزُّهْرِيِّ، وَمَالِكٍ، وَغَيْرِهِمَا، وَهُوَ لَائِقٌ بِمَذْهَبِ جَمِيعِ مَنْ سَبَقَتِ الْحِكَايَةُ عَنْهُمْ: أَنَّهُمْ جَعَلُوا عَرْضَ الْمُنَاوَلَةِ الْمَقْرُونَةِ بِالْإِجَازَةِ سَمَاعًا. وَحُكِيَ أَيْضًا عَنْ قَوْمٍ مِثْلُ ذَلِكَ فِي الرِّوَايَةِ بِالْإِجَازَةِ.
"Diceritakan dari sejumlah ulama mutaqaddimin dan generasi setelahnya, bahwa mereka membolehkan penggunaan mutlak 'haddatsana' dan 'akhbarana' dalam periwayatan dengan munawalah - dikisahkan hal ini dari az-Zuhri, Malik, dan selain keduanya. Ini sejalan dengan mazhab semua yang telah disebutkan sebelumnya, yang menganggap 'ardhul munawalah yang disertai ijazah sebagai sama'. Diceritakan pula dari sejumlah ulama hal yang serupa dalam periwayatan dengan ijazah."
وَكَانَ الْحَافِظُ أَبُو نُعَيْمٍ الْأَصْبَهَانِيُّ - صَاحِبُ التَّصَانِيفِ الْكَثِيرَةِ فِي عِلْمِ الْحَدِيثِ - يُطْلِقُ (أَخْبَرَنَا) فِيمَا يَرْوِيهِ بِالْإِجَازَةِ. رُوِّينَا عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: أَنَا إِذَا قُلْتُ: (حَدَّثَنَا) فَهُوَ سَمَاعِي، وَإِذَا قُلْتُ: (أَخْبَرَنَا) عَلَى الْإِطْلَاقِ فَهُوَ إِجَازَةٌ مِنْ غَيْرِ أَنْ أَذْكُرَ فِيهِ (إِجَازَةً، أَوْ كِتَابَةً، أَوْ كَتَبَ إِلَيَّ، أَوْ أَذِنَ لِي فِي الرِّوَايَةِ عَنْهُ).
"Al-Hafizh Abu Nu'aim al-Ashbahani -penulis banyak karya dalam ilmu hadits- biasa menggunakan (akhbarana) secara mutlak untuk apa yang ia riwayatkan dengan ijazah. Kami meriwayatkan darinya, ia berkata: 'jika aku katakan (haddatsana), itu adalah sama'-ku. Jika aku katakan (akhbarana) secara mutlak, itu adalah ijazah, tanpa perlu aku sebutkan lagi (ijazah, atau kitabah, atau ia menulis kepadaku, atau ia mengizinkanku meriwayatkan darinya).'"
وَكَانَ أَبُو عُبَيْدِ اللَّهِ الْمَرْزُبَانِيُّ الْأَخْبَارِيُّ - صَاحِبُ التَّصَانِيفِ فِي عِلْمِ الْخَبَرِ - يَرْوِي أَكْثَرَ مَا فِي كُتُبِهِ إِجَازَةً مِنْ غَيْرِ سَمَاعٍ، وَيَقُولُ فِي الْإِجَازَةِ: (أَخْبَرَنَا)، وَلَا يُبَيِّنُهَا، وَكَانَ ذَلِكَ - فِيمَا حَكَاهُ الْخَطِيبُ - مِمَّا عِيبَ بِهِ.
"Abu Ubaidillah al-Marzubani al-Akhbari -penulis karya-karya di bidang ilmu khabar- biasa meriwayatkan sebagian besar isi kitabnya dengan ijazah, bukan sama', namun ia menggunakan lafal (akhbarana) tanpa menjelaskan bahwa itu ijazah. Ini, sebagaimana diceritakan al-Khathib, adalah salah satu hal yang dicela darinya."
وَالصَّحِيحُ - وَالْمُخْتَارُ الَّذِي عَلَيْهِ عَمَلُ الْجُمْهُورِ، وَإِيَّاهُ اخْتَارَ أَهْلُ التَّحَرِّي، وَالْوَرَعِ - الْمَنْعُ فِي ذَلِكَ مِنْ إِطْلَاقِ (حَدَّثَنَا، وَأَخْبَرَنَا)، وَنَحْوِهِمَا مِنَ الْعِبَارَاتِ، وَتَخْصِيصُ ذَلِكَ بِعِبَارَةٍ تُشْعِرُ بِهِ، بِأَنْ يُقَيِّدَ هَذِهِ الْعِبَارَاتِ فَيَقُولَ: (أَخْبَرَنَا، أَوْ حَدَّثَنَا فُلَانٌ مُنَاوَلَةً وَإِجَازَةً، أَوْ أَخْبَرَنَا إِجَازَةً، أَوْ أَخْبَرَنَا مُنَاوَلَةً، أَوْ أَخْبَرَنَا إِذْنًا، أَوْ فِي إِذْنِهِ، أَوْ فِيمَا أَذِنَ لِي فِيهِ، أَوْ فِيمَا أَطْلَقَ لِي رِوَايَتَهُ عَنْهُ)، أَوْ يَقُولُ: (أَجَازَ لِي فُلَانٌ، أَوْ أَجَازَنِي فُلَانٌ كَذَا وَكَذَا، أَوْ نَاوَلَنِي فُلَانٌ)، وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ مِنَ الْعِبَارَاتِ.
"Yang shahih -dan pilihan yang menjadi pegangan mayoritas, serta dipilih oleh ahli tahri (kehati-hatian) dan wara'- adalah melarang penggunaan mutlak (haddatsana) dan (akhbarana) serta yang semisalnya dalam kasus ini, dan mengkhususkannya dengan ungkapan yang menjelaskan hakikatnya, yaitu membatasi ungkapan tersebut dengan mengatakan: 'akhbarana, atau haddatsana fulan, munawalatan wa ijazatan', atau 'akhbarana ijazatan', atau 'akhbarana munawalatan', atau 'akhbarana idznan', atau 'fi idznihi', atau 'fima adzina li fih', atau 'fima athlaqa li riwayatahu 'anhu'. Atau berkata: 'fulan telah mengijazahkan kepadaku', atau 'fulan mengijazahkanku demikian dan demikian', atau 'fulan menyerahkan naskah kepadaku (nawalani)', dan yang semisal dari ungkapan-ungkapan itu."
وَخَصَّصَ قَوْمٌ الْإِجَازَةَ بِعِبَارَاتٍ لَمْ يَسْلَمُوا فِيهَا مِنَ التَّدْلِيسِ، أَوْ طَرَفٍ مِنْهُ، كَعِبَارَةِ مَنْ يَقُولُ فِي الْإِجَازَةِ (أَخْبَرَنَا مُشَافَهَةً) إِذَا كَانَ قَدْ شَافَهَهُ بِالْإِجَازَةِ لَفْظًا، كَعِبَارَةِ مَنْ يَقُولُ: (أَخْبَرَنَا فُلَانٌ كِتَابَةً، أَوْ فِيمَا كَتَبَ إِلَيَّ، أَوْ فِي كِتَابِهِ) إِذَا كَانَ قَدْ أَجَازَهُ بِخَطِّهِ. فَهَذَا - وَإِنْ تَعَارَفَهُ فِي ذَلِكَ طَائِفَةٌ مِنَ الْمُحَدِّثِينَ الْمُتَأَخِّرِينَ - فَلَا يَخْلُو عَنْ طَرَفٍ مِنَ التَّدْلِيسِ، لِمَا فِيهِ مِنْ الِاشْتِرَاكِ، وَالِاشْتِبَاهِ بِمَا إِذَا كَتَبَ إِلَيْهِ ذَلِكَ الْحَدِيثَ بِعَيْنِهِ.
"Sebagian ulama mengkhususkan ijazah dengan ungkapan yang tidak lepas dari tadlis, atau setidaknya sebagian darinya, seperti ungkapan orang yang berkata dalam ijazah 'akhbarana musyafahatan' (mengabarkan kepada kami secara tatap muka lisan), padahal ijazah itu memang diberikan secara lisan tatap muka. Begitu pula ungkapan orang yang berkata: 'akhbarana fulan kitabatan', atau 'fima kataba ilayya', atau 'fi kitabihi' (dalam suratnya), padahal ia mengijazahkannya secara tertulis. Ini, sekalipun dikenal di kalangan sebagian muhaddits mutaakhirin, tidak lepas dari sedikit unsur tadlis, karena mengandung kesamaan dan kerancuan dengan kasus jika ia menuliskan hadits itu sendiri secara langsung kepadanya."
وَوَرَدَ عَنِ الْأَوْزَاعِيِّ أَنَّهُ خَصَّصَ الْإِجَازَةَ بِقَوْلِهِ: "خَبَّرَنَا" بِالتَّشْدِيدِ، وَالْقِرَاءَةَ عَلَيْهِ بِقَوْلِهِ "أَخْبَرَنَا". وَاصْطَلَحَ قَوْمٌ مِنَ الْمُتَأَخِّرِينَ عَلَى إِطْلَاقِ (أَنْبَأَنَا) فِي الْإِجَازَةِ، وَهُوَ الْوَلِيدُ بْنُ بِكْرٍ صَاحِبُ (الْوَجَازَةِ فِي الْإِجَازَةِ). وَقَدْ كَانَ (أَنْبَأَنَا) عِنْدَ الْقَوْمِ - فِيمَا تَقَدَّمَ - بِمَنْزِلَةِ (أَخْبَرَنَا)، وَإِلَى هَذَا نَحَا الْحَافِظُ الْمُتْقِنُ أَبُو بَكْرٍ الْبَيْهَقِيُّ إِذْ كَانَ يَقُولُ: "أَنْبَأَنِي فُلَانٌ إِجَازَةً"، وَفِيهِ أَيْضًا رِعَايَةٌ لِاصْطِلَاحِ الْمُتَأَخِّرِينَ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Diriwayatkan dari al-Auza'i bahwa ia mengkhususkan lafal ijazah dengan ucapan 'khabbarana' (dengan tasydid), dan qira'ah dengan ucapan 'akhbarana'. Sebagian ulama mutaakhirin membuat konvensi menggunakan (anba'ana) secara mutlak untuk ijazah - salah satunya al-Walid bin Bikr, penulis kitab al-Wajazah fil-Ijazah. Padahal (anba'ana) menurut ulama sebelumnya setara kedudukannya dengan (akhbarana). Ke arah inilah al-Hafizh yang teliti Abu Bakr al-Baihaqi condong, karena ia biasa berkata: 'anba'ani fulan ijazatan' - dan dalam hal ini juga terdapat perhatian atas konvensi ulama mutaakhirin. Wallahu a'lam."
وَرُوِّينَا عَنِ الْحَاكِمِ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظِ رَحِمَهُ اللَّهُ أَنَّهُ قَالَ: "الَّذِي أَخْتَارُهُ، وَعَهِدْتُ عَلَيْهِ أَكْثَرَ مَشَايِخِي، وَأَئِمَّةِ عَصْرِي أَنْ يَقُولَ فِيمَا عَرَضَ عَلَى الْمُحَدِّثِ، فَأَجَازَ لَهُ رِوَايَتَهُ شِفَاهًا: "أَنْبَأَنِي فُلَانٌ"، وَفِيمَا كَتَبَ إِلَيْهِ الْمُحَدِّثُ مِنْ مَدِينَةٍ، وَلَمْ يُشَافِهْهُ بِالْإِجَازَةِ: "كَتَبَ إِلَيَّ فُلَانٌ". قَالَ: "وَرُوِّينَا عَنْ أَبِي عَمْرِو بْنِ أَبِي جَعْفَرِ بْنِ حَمْدَانَ النَّيْسَابُورِيِّ) قَالَ: سَمِعْتُ أَبِي يَقُولُ: كُلُّ مَا قَالَ الْبُخَارِيُّ "قَالَ لِي فُلَانٌ" فَهُوَ عَرْضٌ، وَمُنَاوَلَةٌ.
"Kami meriwayatkan dari al-Hakim Abu Abdillah al-Hafizh rahimahullah, bahwa ia berkata: 'yang aku pilih, dan yang aku ketahui menjadi pegangan mayoritas guru-guruku serta para imam sezamanku, adalah: untuk apa yang disodorkan kepada sang muhaddits, lalu ia mengijazahkan periwayatannya secara lisan tatap muka, dikatakan anba'ani fulan. Sedangkan untuk apa yang ditulis sang muhaddits kepadanya dari sebuah kota, tanpa tatap muka langsung dalam ijazah tersebut, dikatakan kataba ilayya fulan.' Al-Hakim melanjutkan: 'kami meriwayatkan dari Abu Amr bin Abi Ja'far bin Hamdan an-Naisaburi, ia berkata: aku mendengar ayahku berkata: setiap kali al-Bukhari berkata: qala li fulan, itu adalah 'ardh dan munawalah.'"
قُلْتُ: وَوَرَدَ عَنْ قَوْمٍ مِنَ الرُّوَاةِ التَّعْبِيرُ عَنِ الْإِجَازَةِ بِقَوْلِ: "أَخْبَرَنَا فُلَانٌ أَنَّ فُلَانًا حَدَّثَهُ، أَوْ أَخْبَرَهُ". وَبَلَغَنَا ذَلِكَ عَنِ الْإِمَامِ أَبِي سُلَيْمَانَ الْخَطَّابِيِّ أَنَّهُ اخْتَارَهُ، أَوْ حَكَاهُ، وَهَذَا اصْطِلَاحٌ بَعِيدٌ عَنِ الْإِشْعَارِ بِالْإِجَازَةِ، وَهُوَ فِيمَا إِذَا سَمِعَ مِنْهُ الْإِسْنَادَ، فَحَسْبُ، وَأَجَازَ لَهُ مَا رَوَاهُ قَرِيبٌ، فَإِنَّ كَلِمَةَ (أَنَّ) فِي قَوْلِهِ: "أَخْبَرَنِي فُلَانٌ أَنَّ فُلَانًا أَخْبَرَهُ"، فِيهَا إِشْعَارٌ بِوُجُودِ أَصْلِ الْإِخْبَارِ وَإِنْ أَجْمَلَ الْمُخْبَرَ بِهِ، وَلَمْ يَذْكُرْهُ تَفْصِيلًا.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: diriwayatkan dari sejumlah perawi bahwa mereka mengungkapkan ijazah dengan ucapan: 'akhbarana fulan anna fulanan haddatsahu (atau: akhbarahu)'. Sampai kepada kami bahwa Imam Abu Sulaiman al-Khaththabi memilih atau menceritakan ungkapan ini. Namun ini adalah konvensi yang jauh dari mengesankan ijazah, dan lebih cocok untuk kasus jika ia hanya mendengar sanadnya saja, sementara ijazah untuk apa yang diriwayatkannya diberikan belakangan, karena kata 'anna' dalam ucapan 'akhbarani fulan anna fulanan akhbarahu' mengandung kesan adanya pengabaran asli, sekalipun apa yang dikabarkan itu disebutkan secara global, bukan rinci."
قُلْتُ: وَكَثِيرًا مَا يُعَبِّرُ الرُّوَاةُ الْمُتَأَخِّرُونَ عَنِ الْإِجَازَةِ الْوَاقِعَةِ فِي رِوَايَةِ مَنْ فَوْقَ الشَّيْخِ الْمُسْمِعِ بِكَلِمَةِ (عَنْ)، فَيَقُولُ أَحَدُهُمْ إِذَا سَمِعَ عَلَى شَيْخٍ بِإِجَازَتِهِ عَنْ شَيْخِهِ: (قَرَأْتُ عَلَى فُلَانٍ، عَنْ فُلَانٍ)، وَذَلِكَ قَرِيبٌ فِيمَا إِذَا كَانَ قَدْ سَمِعَ مِنْهُ بِإِجَازَتِهِ عَنْ شَيْخِهِ، إِنْ لَمْ يَكُنْ سَمَاعًا فَإِنَّهُ شَاكٌّ، وَحَرْفُ (عَنْ) مُشْتَرَكٌ بَيْنَ السَّمَاعِ، وَالْإِجَازَةِ صَادِقٌ عَلَيْهِمَا، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: para perawi mutaakhirin sering mengungkapkan ijazah yang terjadi pada riwayat di atas tingkatan sang guru langsung (yakni ijazah pada guru dari gurunya) dengan kata (an - dari). Salah seorang dari mereka, apabila ia sama' pada seorang guru yang mendapat ijazah dari gurunya sendiri, berkata: 'aku membaca di hadapan fulan, dari fulan'. Ini masih dekat dengan kebenaran dalam kasus jika ia memang mendengar darinya lewat ijazahnya dari gurunya, meskipun jika bukan sama' ia dianggap ragu-ragu. Kata (an) memang bersifat musytarak (dapat bermakna ganda) antara sama' dan ijazah, keduanya sama-sama benar disebut demikian. Wallahu a'lam."
ثُمَّ اعْلَمْ أَنَّ الْمَنْعَ مِنْ إِطْلَاقِ (حَدَّثَنَا، وَأَخْبَرَنَا) فِي الْإِجَازَةِ لَا يَزُولُ بِإِبَاحَةِ الْمُجِيزِ لِذَلِكَ، كَمَا اعْتَادَهُ قَوْمٌ مِنَ الْمَشَايِخِ مِنْ قَوْلِهِمْ فِي إِجَازَتِهِمْ لِمَنْ يُجِيزُونَ لَهُ، إِنْ شَاءَ قَالَ: (حَدَّثَنَا)، وَإِنْ شَاءَ قَالَ: (أَخْبَرَنَا) فَلْيَعْلَمْ ذَلِكَ، وَالْعِلْمُ عِنْدَ اللَّهِ تَبَارَكَ، وَتَعَالَى.
"Ketahuilah bahwa larangan penggunaan mutlak (haddatsana) dan (akhbarana) dalam ijazah tidak hilang hanya karena sang pemberi ijazah membolehkannya, sebagaimana kebiasaan sebagian guru yang berkata dalam ijazah mereka kepada yang diberi ijazah: 'jika ia mau, silakan katakan haddatsana, dan jika mau katakan akhbarana'. Ketahuilah hal ini. Wallahu a'lam."
Qism Kelima: Al-Mukatabah (Korespondensi Tertulis)
وَهِيَ أَنْ يَكْتُبَ الشَّيْخُ إِلَى الطَّالِبِ، وَهُوَ غَائِبٌ شَيْئًا مِنْ حَدِيثِهِ بِخَطِّهِ، أَوْ يَكْتُبَ لَهُ ذَلِكَ، وَهُوَ حَاضِرٌ. وَيَلْتَحِقُ بِذَلِكَ مَا إِذَا أَمَرَ غَيْرَهُ بِأَنْ يَكْتُبَ لَهُ ذَلِكَ عَنْهُ إِلَيْهِ. وَهَذَا الْقِسْمُ يَنْقَسِمُ أَيْضًا إِلَى نَوْعَيْنِ: أَحَدُهُمَا: أَنْ تَتَجَرَّدَ الْمُكَاتَبَةُ عَنِ الْإِجَازَةِ. وَالثَّانِي: أَنْ تَقْتَرِنَ بِالْإِجَازَةِ، بِأَنْ يَكْتُبَ إِلَيْهِ وَيَقُولَ: (أَجَزْتُ لَكَ مَا كَتَبْتُهُ لَكَ، أَوْ مَا كَتَبْتُ بِهِ إِلَيْكَ)، أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ مِنْ عِبَارَاتِ الْإِجَازَةِ.
"Mukatabah adalah sang guru menuliskan kepada murid yang sedang tidak hadir sebagian haditsnya dengan tulisan tangannya sendiri, atau menuliskannya untuknya padahal ia hadir. Termasuk pula dalam kategori ini, jika ia memerintahkan orang lain untuk menuliskannya untuk sang murid atas namanya. Bentuk ini terbagi lagi menjadi dua jenis: pertama, mukatabah murni tanpa disertai ijazah. Kedua, mukatabah yang disertai ijazah, yaitu ia menuliskan kepadanya seraya berkata: 'aku ijazahkan kepadamu apa yang kutuliskan untukmu', atau 'apa yang kutuliskan kepadamu', atau semisalnya dari ungkapan-ungkapan ijazah."
أَمَّا الْأَوَّلُ: وَهُوَ مَا إِذَا اقْتَصَرَ عَلَى الْمُكَاتَبَةِ فَقَدْ أَجَازَ الرِّوَايَةَ بِهَا كَثِيرٌ مِنَ الْمُتَقَدِّمِينَ، وَالْمُتَأَخِّرِينَ، مِنْهُمْ: أَيُّوبُ السِّخْتِيَانِيُّ، وَمَنْصُورٌ، وَاللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ، وَقَالَهُ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنَ الشَّافِعِيِّينَ، وَجَعَلَهَا أَبُو الْمُظَفَّرِ السَّمْعَانِيُّ مِنْهُمْ أَقْوَى مِنَ الْإِجَازَةِ، وَإِلَيْهِ صَارَ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنَ الْأُصُولِيِّينَ. وَأَبَى ذَلِكَ قَوْمٌ آخَرُونَ، وَإِلَيْهِ صَارَ مِنَ الشَّافِعِيِّينَ الْقَاضِي الْمَاوَرْدِيُّ، وَقَطَعَ بِهِ فِي كِتَابِهِ (الْحَاوِي).
"Adapun jenis pertama, yaitu mukatabah murni tanpa ijazah, banyak ulama mutaqaddimin dan mutaakhirin membolehkan periwayatan dengannya, di antaranya Ayyub as-Sikhtiyani, Manshur, dan al-Laits bin Sa'd. Tidak sedikit Syafi'iyyah juga berpendapat demikian, dan Abul Muzhaffar as-Sam'ani, salah satunya, bahkan menganggapnya lebih kuat daripada ijazah - pendapat ini juga dianut tidak sedikit ushuliyyin. Sebagian ulama lain menolaknya, di antaranya dari kalangan Syafi'iyyah adalah Al-Qadhi al-Mawardi, yang menegaskannya dalam kitabnya al-Hawi."
وَالْمَذْهَبُ الْأَوَّلُ هُوَ الصَّحِيحُ الْمَشْهُورُ بَيْنَ أَهْلِ الْحَدِيثِ، وَكَثِيرًا مَا يُوجَدُ فِي مَسَانِيدِهِمْ، وَمُصَنَّفَاتِهِمْ قَوْلُهُمْ: "كَتَبَ إِلَيَّ فُلَانٌ قَالَ: حَدَّثَنَا فُلَانٌ"، وَالْمُرَادُ بِهِ هَذَا. وَذَلِكَ مَعْمُولٌ بِهِ عِنْدَهُمْ، مَعْدُودٌ فِي الْمُسْنَدِ الْمَوْصُولِ، وَفِيهَا إِشْعَارٌ قَوِيٌّ بِمَعْنَى الْإِجَازَةِ فَهِيَ وَإِنْ لَمْ تَقْتَرِنْ بِالْإِجَازَةِ لَفْظًا فَقَدْ تَضَمَّنَتِ الْإِجَازَةَ مَعْنًى.
"Mazhab pertama inilah yang shahih dan masyhur di kalangan ahli hadits, dan sering ditemukan dalam musnad-musnad dan karya-karya mereka ucapan: 'fulan menuliskan kepadaku, ia berkata: haddatsana fulan' - dan itulah yang dimaksudkan. Ini diamalkan di kalangan mereka, dianggap termasuk musnad yang bersambung, dan mengandung kesan kuat bermakna ijazah - sehingga sekalipun tidak disertai lafal ijazah secara eksplisit, ia sudah mengandung makna ijazah di dalamnya."
ثُمَّ يَكْفِي فِي ذَلِكَ أَنْ يَعْرِفَ الْمَكْتُوبُ إِلَيْهِ خَطَّ الْكَاتِبِ، وَإِنْ لَمْ تَقُمِ الْبَيِّنَةُ عَلَيْهِ. وَمِنَ النَّاسِ مَنْ قَالَ: "الْخَطُّ يُشْبِهُ الْخَطَّ فَلَا يَجُوزُ الِاعْتِمَادُ عَلَى ذَلِكَ". وَهَذَا غَيْرُ مَرْضِيٍّ؛ لِأَنَّ ذَلِكَ نَادِرٌ، وَالظَّاهِرُ أَنَّ خَطَّ الْإِنْسَانِ لَا يَشْتَبِهُ بِغَيْرِهِ، وَلَا يَقَعُ فِيهِ الْتِبَاسٌ.
"Cukup dalam hal ini bagi orang yang menerima surat untuk mengenali tulisan tangan sang penulis, sekalipun tidak ada bukti (bayyinah) formal atasnya. Sebagian orang berkata: 'tulisan tangan bisa menyerupai tulisan tangan lain, sehingga tidak boleh mengandalkan hal itu.' Ini tidak dapat diterima, karena hal itu jarang terjadi, dan yang zahir adalah bahwa tulisan tangan seseorang tidak menyerupai orang lain dan tidak menimbulkan kerancuan."
ثُمَّ ذَهَبَ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ عُلَمَاءِ الْمُحَدِّثِينَ، وَأَكابِرِهِمْ، مِنْهُمْ اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ، وَمَنْصُورٌ: إِلَى جَوَازِ إِطْلَاقِ (حَدَّثَنَا وَأَخْبَرَنَا) فِي الرِّوَايَةِ بِالْمُكَاتَبَةِ. وَالْمُخْتَارُ: قَوْلُ مَنْ يَقُولُ فِيهَا: (كَتَبَ إِلَيَّ فُلَانٌ: قَالَ: حَدَّثَنَا فُلَانٌ بِكَذَا وَكَذَا)، وَهَذَا هُوَ الصَّحِيحُ اللَّائِقُ بِمَذَاهِبِ أَهْلِ التَّحَرِّي، وَالنَّزَاهَةِ. وَهَكَذَا لَوْ قَالَ: (أَخْبَرَنِي بِهِ مُكَاتَبَةً، أَوْ كِتَابَةً) وَنَحْوَ ذَلِكَ مِنَ الْعِبَارَاتِ، (وَاللَّهُ أَعْلَمُ).
"Tidak sedikit ulama muhaddits dan tokoh besar mereka, di antaranya al-Laits bin Sa'd dan Manshur, berpandangan bolehnya penggunaan mutlak (haddatsana) dan (akhbarana) dalam periwayatan dengan mukatabah. Yang dipilih adalah pendapat yang menggunakan ungkapan: 'fulan menuliskan kepadaku, ia berkata: haddatsana fulan demikian dan demikian' - inilah yang shahih dan sesuai dengan mazhab ahli tahri dan kebersihan (nazahah). Begitu pula jika ia berkata: 'akhbarani bihi mukatabatan, atau kitabatan' dan yang semisal dari ungkapan-ungkapan itu. Wallahu a'lam."
أَمَّا الْمُكَاتَبَةُ الْمَقْرُونَةُ بِلَفْظِ الْإِجَازَةِ فَهِيَ فِي الصِّحَّةِ، وَالْقُوَّةِ شَبِيهَةٌ بِالْمُنَاوَلَةِ الْمَقْرُونَةِ بِالْإِجَازَةِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Adapun mukatabah yang disertai lafal ijazah, dari segi kesahihan dan kekuatannya, ia serupa dengan munawalah yang disertai ijazah. Wallahu a'lam."
Qism Keenam: I'lam ar-Rawi lith-Thalib (Pemberitahuan Guru kepada Murid)
إِعْلَامُ الرَّاوِي لِلطَّالِبِ بِأَنَّ هَذَا الْحَدِيثَ، أَوْ هَذَا الْكِتَابَ سَمَاعُهُ مِنْ فُلَانٍ، أَوْ رِوَايَتُهُ، مُقْتَصِرًا عَلَى ذَلِكَ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَقُولَ: (ارْوِهِ عَنِّي، أَوْ أَذِنْتُ لَكَ فِي رِوَايَتِهِ) وَنَحْوَ ذَلِكَ.
"Pemberitahuan sang guru kepada murid, bahwa hadits ini atau kitab ini adalah sama'-nya dari fulan, atau riwayatnya, hanya sebatas itu saja, tanpa mengatakan: 'riwayatkanlah dariku', atau 'aku mengizinkanmu meriwayatkannya', dan semisalnya."
فَهَذَا عِنْدَ كَثِيرِينَ طَرِيقٌ مُجَوِّزٌ لِرِوَايَةِ ذَلِكَ عَنْهُ وَنَقْلِهِ. حُكِيَ ذَلِكَ عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، وَطَوَائِفَ مِنَ الْمُحَدِّثِينَ، وَالْفُقَهَاءِ، وَالْأَصْلِيِّينَ وَالظَّاهِرِيِّينَ، وَبِهِ قَطَعَ أَبُو نَصْرِ بْنُ الصَّبَّاغِ مِنَ الشَّافِعِيِّينَ، وَاخْتَارَهُ وَنَصَرَهُ أَبُو الْعَبَّاسِ الْوَلِيدُ بْنُ بَكْرٍ الْغَمْرِيُّ الْمَالِكِيُّ فِي كِتَابِ (الْوَجَازَةُ فِي تَجْوِيزِ الْإِجَازَةِ).
"Menurut banyak ulama, ini adalah jalan yang membolehkan periwayatan dan penukilan dari sang guru. Ini dikisahkan dari Ibnu Juraij, dan sejumlah kelompok muhaddits, fuqaha, ushuliyyin, dan Zhahiriyyah. Abu Nashr Ibnush Shabbagh dari kalangan Syafi'iyyah menegaskannya, dan dipilih serta dibela oleh Abul Abbas al-Walid bin Bakr al-Ghamri al-Maliki dalam kitabnya al-Wajazah fi Tajwizil-Ijazah."
وَحَكَى الْقَاضِي أَبُو مُحَمَّدِ بْنُ خَلَّادٍ الرَّامَهُرْمُزِيُّ صَاحِبُ كِتَابِ (الْفَاصِلُ بَيْنَ الرَّاوِي وَالْوَاعِي) عَنْ بَعْضِ أَهْلِ الظَّاهِرِ أَنَّهُ ذَهَبَ إِلَى ذَلِكَ، وَاحْتَجَّ لَهُ، وَزَادَ فَقَالَ: "لَوْ قَالَ لَهُ: هَذِهِ رِوَايَتِي، لَكِنْ لَا تَرْوِهَا عَنِّي، كَانَ لَهُ أَنْ يَرْوِيَهَا عَنْهُ، كَمَا لَوْ سَمِعَ مِنْهُ حَدِيثًا، ثُمَّ قَالَ لَهُ: لَا تَرْوِهِ عَنِّي، وَلَا أُجِيزُهُ لَكَ، لَمْ يَضُرُّهُ ذَلِكَ".
"Al-Qadhi Abu Muhammad Ibnu Khallad ar-Ramahurmuzi, penulis kitab al-Fashil bainar-Rawi wal-Wa'i, menceritakan dari sebagian ulama Zhahiriyyah bahwa mereka menganut pendapat ini, dan berhujjah untuknya, bahkan menambahkan: 'seandainya sang guru berkata kepadanya: ini riwayatku, namun jangan engkau riwayatkan dariku, maka murid itu tetap boleh meriwayatkannya - sebagaimana jika ia mendengar sebuah hadits darinya, lalu sang guru berkata kepadanya: jangan riwayatkan dariku, dan aku tidak mengijazahkannya kepadamu, itu tidak membahayakannya (tetap boleh diriwayatkan).'"
وَوَجْهُ مَذْهَبِ هَؤُلَاءِ اعْتِبَارُ ذَلِكَ بِالْقِرَاءَةِ عَلَى الشَّيْخِ، فَإِنَّهُ إِذَا قَرَأَ عَلَيْهِ شَيْئًا مِنْ حَدِيثِهِ، وَأَقَرَّ بِأَنَّهُ رِوَايَتُهُ عَنْ فُلَانِ بْنِ فُلَانٍ، جَازَ لَهُ أَنْ يَرْوِيَهُ عَنْهُ، وَإِنْ لَمْ يَسْمَعْهُ مِنْ لَفْظِهِ، وَلَمْ يَقُلْ لَهُ: "ارْوِهِ عَنِّي، أَوْ أَذِنْتُ لَكَ فِي رِوَايَتِهِ عَنِّي"، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Alasan mazhab kelompok ini adalah menganalogikan hal itu dengan qira'ah 'alash-shaykh: apabila seseorang membaca sebagian hadits di hadapan sang guru dan sang guru mengakuinya sebagai riwayatnya dari fulan bin fulan, maka ia boleh meriwayatkannya darinya, sekalipun ia sendiri tidak mendengarnya langsung dari lisannya dan sang guru tidak mengatakan: 'riwayatkanlah dariku', atau 'aku mengizinkanmu meriwayatkannya dariku'. Wallahu a'lam."
وَالْمُخْتَارُ مَا ذُكِرَ عَنْ غَيْرِ وَاحِدٍ مِنَ الْمُحَدِّثِينَ وَغَيْرِهِمْ مِنْ: أَنَّهُ لَا تَجُوزُ الرِّوَايَةُ بِذَلِكَ، وَبِهِ قَطَعَ الشَّيْخُ أَبُو حَامِدٍ الطُّوسِيُّ مِنَ الشَّافِعِيِّينَ، وَلَمْ يَذْكُرْ غَيْرَ ذَلِكَ، وَهَذَا لِأَنَّهُ قَدْ يَكُونُ ذَلِكَ مَسْمُوعَهُ وَرِوَايَتَهُ، ثُمَّ لَا يَأْذَنُ لَهُ فِي رِوَايَتِهِ عَنْهُ، لِكَوْنِهِ لَا يُجَوِّزُ رِوَايَتَهُ لِخَلَلٍ يَعْرِفُهُ فِيهِ، وَلَمْ يُوجَدْ مِنْهُ التَّلَفُّظُ بِهِ، وَلَا مَا يَتَنَزَّلُ مَنْزِلَةَ تَلَفُّظِهِ بِهِ، وَهُوَ تَلَفُّظُ الْقَارِئِ عَلَيْهِ وَهُوَ يَسْمَعُ وَيُقِرُّ بِهِ حَتَّى يَكُونَ قَوْلُ الرَّاوِي عَنْهُ السَّامِعِ ذَلِكَ (حَدَّثَنَا، وَأَخْبَرَنَا) صِدْقًا، وَإِنْ لَمْ يَأْذَنْ لَهُ فِيهِ.
"Yang dipilih adalah pendapat yang disebutkan tidak sedikit muhaddits dan selain mereka: bahwa periwayatan dengan cara ini tidak boleh. Syaikh Abu Hamid ath-Thusi dari kalangan Syafi'iyyah menegaskan pendapat ini tanpa menyebutkan pendapat lain. Alasannya, bisa jadi hadits itu memang sama'-nya dan riwayatnya, namun ia tidak mengizinkan periwayatannya darinya, karena ia sendiri tidak membolehkan periwayatan itu akibat cacat yang ia ketahui padanya. Belum pernah terjadi darinya pengucapan lisan atas hadits itu, ataupun sesuatu yang setara dengan pengucapan lisan, yaitu pengucapan si pembaca di hadapannya, sementara ia mendengarkan dan mengakuinya, sehingga ucapan perawi darinya yang mendengar hal itu 'haddatsana' dan 'akhbarana' menjadi benar-benar jujur - sekalipun sang guru tidak mengizinkannya."
وَإِنَّمَا هَذَا كَالشَّاهِدِ، إِذَا ذُكِرَ فِي غَيْرِ مَجْلِسِ الْحُكْمِ شَهَادَتُهُ بِشَيْءٍ فَلَيْسَ لِمَنْ سَمِعَهُ أَنْ يَشْهَدَ عَلَى شَهَادَتِهِ، إِذَا لَمْ يَأْذَنْ لَهُ، وَلَمْ يُشْهِدْهُ عَلَى شَهَادَتِهِ. وَذَلِكَ مِمَّا تَسَاوَتْ فِيهِ الشَّهَادَةُ، وَالرِّوَايَةُ؛ لِأَنَّ الْمَعْنَى يَجْمَعُ بَيْنَهُمَا فِي ذَلِكَ، وَإِنِ افْتَرَقَا فِي غَيْرِهِ.
"Ini serupa dengan kasus seorang saksi yang menyebutkan persaksiannya tentang sesuatu di luar majelis hukum - orang yang mendengarnya tidak boleh bersaksi atas persaksiannya itu, jika ia tidak mengizinkannya dan tidak menjadikannya saksi atas persaksian tersebut. Ini adalah salah satu hal di mana persaksian dan periwayatan setara, karena maknanya sama-sama menghimpun keduanya dalam kasus ini, sekalipun keduanya berbeda dalam hal lain."
ثُمَّ إِنَّهُ يَجِبُ عَلَيْهِ الْعَمَلُ بِمَا ذَكَرَهُ لَهُ إِذَا صَحَّ إِسْنَادُهُ، وَإِنْ لَمْ تَجُزْ لَهُ رِوَايَتُهُ عَنْهُ؛ لِأَنَّ ذَلِكَ يَكْفِي فِيهِ صِحَّتُهُ فِي نَفْسِهِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Meski demikian, wajib baginya mengamalkan apa yang telah disebutkan sang guru kepadanya itu, jika memang sanadnya shahih, sekalipun ia tidak boleh meriwayatkannya darinya - karena untuk pengamalan, cukup dengan keshahihan hadits itu sendiri. Wallahu a'lam."
Qism Ketujuh: Al-Washiyyah bil-Kutub (Wasiat Kitab)
بِأَنْ يُوصِيَ الرَّاوِي بِكِتَابٍ يَرْوِيهِ عِنْدَ مَوْتِهِ، أَوْ سَفَرِهِ لِشَخْصٍ، فَرُوِيَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ رَضِيَ اللَّهُ [تَعَالَى] عَنْهُمْ: أَنَّهُ جَوَّزَ بِذَلِكَ رِوَايَةَ الْمُوصَى لَهُ لِذَلِكَ عَنِ الْمُوصِي الرَّاوِي.
"Yaitu seorang perawi berwasiat dengan sebuah kitab yang ia riwayatkan, kepada seseorang, saat kematiannya atau saat ia bepergian. Diriwayatkan dari sebagian salaf radhiyallahu Ta'ala 'anhum, bahwa ia membolehkan dengan wasiat itu periwayatan orang yang diberi wasiat dari sang perawi pemberi wasiat."
وَهَذَا بِعِيدٌ جِدًّا، وَهُوَ إِمَّا زَلَّةُ عَالِمٍ، أَوْ مُتَأَوَّلٌ عَلَى أَنَّهُ أَرَادَ الرِّوَايَةَ عَلَى سَبِيلِ الْوِجَادَةِ الَّتِي يَأْتِي شَرْحُهَا، إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى. وَقَدِ احْتَجَّ بَعْضُهُمْ لِذَلِكَ، فَشَبَّهَهُ بِقِسْمِ الْإِعْلَامِ، وَقِسْمِ الْمُنَاوَلَةِ، وَلَا يَصِحُّ ذَلِكَ، فَإِنَّ لِقَوْلِ مَنْ جَوَّزَ الرِّوَايَةَ بِمُجَرَّدِ الْإِعْلَامِ، وَالْمُنَاوَلَةِ مُسْتَنَدًا ذَكَرْنَاهُ، لَا يَتَقَرَّرُ مِثْلُهُ، وَلَا قَرِيبٌ مِنْهُ هَاهُنَا، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Ini adalah pendapat yang sangat jauh (dari kebenaran), dan bisa jadi merupakan kekeliruan seorang alim, atau ditakwilkan bahwa yang dimaksud adalah periwayatan dengan cara wijadah yang akan datang penjelasannya, insya Allah Ta'ala. Sebagian ulama berhujjah untuk pendapat ini dengan menyerupakannya dengan qism i'lam (pemberitahuan) dan qism munawalah, namun ini tidak sah. Sebab, ucapan orang yang membolehkan periwayatan hanya dengan i'lam dan munawalah memiliki sandaran yang telah kami sebutkan, dan sandaran semacam itu, atau yang mendekatinya, sama sekali tidak dapat ditetapkan di sini. Wallahu a'lam."
Qism Kedelapan: Al-Wijadah (Menemukan Naskah)
وَهِيَ مَصْدَرٌ لِـ (وَجَدَ يَجِدُ)، مُوَلَّدٌ غَيْرُ مَسْمُوعٍ مِنَ الْعَرَبِ. رُوِّينَا عَنِ الْمُعَافَى بْنِ زَكَرِيَّا النَّهْرَوَانِيِّ الْعَلَّامَةِ فِي الْعُلُومِ أَنَّ الْمُوَلَّدِينَ فَرَّعُوا قَوْلَهُمْ: (وِجَادَةً) فِيمَا أُخِذَ مِنَ الْعِلْمِ مِنْ صَحِيفَةٍ مِنْ غَيْرِ سَمَاعٍ، وَلَا إِجَازَةٍ، وَلَا مُنَاوَلَةٍ مِنْ تَفْرِيقِ الْعَرَبِ بَيْنَ مَصَادِرِ (وَجَدَ) لِلتَّمْيِيزِ بَيْنَ الْمَعَانِي الْمُخْتَلِفَةِ، يَعْنِي قَوْلَهُمْ "وَجَدَ ضَالَّتَهُ وِجْدَانًا، وَمَطْلُوبَهُ وُجُودًا"، وَفِي الْغَضَبِ "مَوْجِدَةً"، وَفِي الْغِنَى "وُجْدًا"، وَفِي الْحُبِّ "وَجْدًا".
"Wijadah adalah masdar dari kata (wajada-yajidu), sebuah kata baru (muwallad) yang tidak pernah terdengar langsung dari bahasa Arab asli. Kami meriwayatkan dari al-Mu'afa bin Zakariya an-Nahrawani, ulama besar dalam berbagai ilmu, bahwa para ulama pembuat istilah baru ini membentuk kata 'wijadah' -untuk ilmu yang diperoleh dari sebuah naskah tanpa sama', ijazah, maupun munawalah- dari kebiasaan bangsa Arab yang membedakan bentuk-bentuk masdar dari kata 'wajada' untuk membedakan makna yang berbeda-beda: mereka berkata 'wajada dhallatahu wijdanan' (menemukan barang hilangnya), 'wajada mathlubahu wujudan' (menemukan yang dicarinya); dalam konteks marah disebut 'mawjidah'; dalam konteks kaya disebut 'wujdan'; dan dalam konteks cinta disebut 'wajdan'."
مِثَالُ الْوِجَادَةِ: أَنْ يَقِفَ عَلَى كِتَابِ شَخْصٍ فِيهِ أَحَادِيثُ يَرْوِيهَا بِخَطِّهِ، وَلَمْ يَلْقَهُ، أَوْ لَقِيَهُ، وَلَكِنْ لَمْ يَسْمَعْ مِنْهُ ذَلِكَ الَّذِي وَجَدَهُ بِخَطِّهِ، وَلَا لَهُ مِنْهُ إِجَازَةٌ، وَلَا نَحْوُهَا. فَلَهُ أَنْ يَقُولَ (وَجَدْتُ بِخَطِّ فُلَانٍ، أَوْ قَرَأْتُ بِخَطِّ فُلَانٍ، أَوْ فِي كِتَابِ فُلَانٍ بِخَطِّهِ أَخْبَرَنَا فُلَانُ بْنُ فُلَانٍ) وَيَذْكُرُ شَيْخَهُ، وَيَسُوقُ سَائِرَ الْإِسْنَادِ، وَالْمَتْنِ. أَوْ يَقُولُ: (وَجَدْتُ، أَوْ قَرَأْتُ بِخَطِّ فُلَانٍ عَنْ فُلَانٍ)، وَيَذْكُرُ الَّذِي حَدَّثَهُ وَمَنْ فَوْقَهُ.
"Contoh wijadah: seseorang mendapati kitab milik orang lain yang berisi hadits-hadits yang diriwayatkannya, tertulis dengan tulisan tangannya sendiri, padahal ia tidak pernah bertemu orang itu, atau pernah bertemu namun tidak pernah mendengar langsung darinya apa yang ia temukan tertulis itu, dan tidak pula memiliki ijazah atau semisalnya darinya. Maka ia boleh berkata: 'aku menemukan tertulis dengan tangan fulan', atau 'aku membaca tulisan tangan fulan', atau 'dalam kitab fulan, tertulis dengan tangannya sendiri: akhbarana fulan bin fulan', lalu menyebutkan gurunya dan membawakan seluruh sanad serta matannya. Atau ia berkata: 'aku menemukan, atau membaca tulisan tangan fulan, dari fulan', lalu menyebutkan orang yang menceritakan kepadanya dan orang-orang di atasnya."
هَذَا الَّذِي اسْتَمَرَّ عَلَيْهِ الْعَمَلُ قَدِيمًا، وَحَدِيثًا، وَهُوَ مِنْ بَابِ الْمُنْقَطِعِ، وَالْمُرْسَلِ، غَيْرَ أَنَّهُ أَخَذَ شَوْبًا مِنْ الِاتِّصَالِ بِقَوْلِهِ (وَجَدْتُ بِخَطِّ فُلَانٍ).
"Inilah cara yang menjadi kebiasaan tetap, dahulu maupun sekarang. Statusnya termasuk bab munqathi' dan mursal, hanya saja ia mengandung sedikit unsur ittishal (kebersambungan) karena adanya ucapan 'aku menemukan tertulis dengan tangan fulan'."
وَرُبَّمَا دَلَّسَ بَعْضُهُمْ، فَذَكَرَ الَّذِي وَجَدَ خَطَّهُ، وَقَالَ فِيهِ: (عَنْ فُلَانٍ، أَوْ قَالَ فُلَانٌ)، وَذَلِكَ تَدْلِيسٌ قَبِيحٌ، إِذَا كَانَ بِحَيْثُ يُوهِمُ سَمَاعَهُ مِنْهُ، عَلَى مَا سَبَقَ فِي نَوْعِ التَّدْلِيسِ. وَجَازَفَ بَعْضُهُمْ، فَأَطْلَقَ فِيهِ (حَدَّثَنَا وَأَخْبَرَنَا) وَانْتَقَدَ ذَلِكَ عَلَى فَاعِلِهِ.
"Terkadang sebagian orang melakukan tadlis, dengan menyebutkan orang yang ia temukan tulisan tangannya, lalu mengatakan tentangnya: 'dari fulan', atau 'fulan berkata' - ini adalah tadlis yang buruk, jika sampai memberi kesan bahwa ia benar-benar mendengar langsung darinya, sebagaimana telah dibahas dalam anwa' tadlis. Sebagian lain berlaku sembrono, menggunakan lafal (haddatsana) dan (akhbarana) secara mutlak untuk kasus ini - dan hal itu dikritik keras kepada pelakunya."
وَإِذَا وَجَدَ حَدِيثًا فِي تَأْلِيفِ شَخْصٍ، وَلَيْسَ بِخَطِّهِ فَلَهُ أَنْ يَقُولَ: (ذَكَرَ فُلَانٌ، أَوْ قَالَ فُلَانٌ: أَخْبَرَنَا فُلَانٌ، أَوْ ذَكَرَ فُلَانٌ عَنْ فُلَانٍ)، وَهَذَا مُنْقَطِعٌ لَمْ يَأْخُذْ شَوْبًا مِنْ الِاتِّصَالِ.
"Apabila seseorang menemukan sebuah hadits dalam karya tulis seseorang, namun bukan tulisan tangan aslinya (salinan), maka ia boleh berkata: 'fulan menyebutkan', atau 'fulan berkata: akhbarana fulan', atau 'fulan menyebutkan dari fulan'. Ini termasuk munqathi' tanpa mengandung unsur ittishal sedikit pun."
وَهَذَا كُلُّهُ إِذَا وَثِقَ بِأَنَّهُ خَطُّ الْمَذْكُورِ، أَوْ كِتَابُهُ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ كَذَلِكَ، فَلْيَقُلْ: (بَلَغَنِي عَنْ فُلَانٍ، أَوْ وَجَدْتُ عَنْ فُلَانٍ)، أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ مِنَ الْعِبَارَاتِ، أَوْ لِيُفْصِحْ بِالْمُسْتَنَدِ فِيهِ، بِأَنْ يَقُولَ مَا قَالَهُ بَعْضُ مَنْ تَقَدَّمَ: (قَرَأْتُ فِي كِتَابِ فُلَانٍ بِخَطِّهِ، وَأَخْبَرَنِي فُلَانٌ أَنَّهُ بِخَطِّهِ) أَوْ يَقُولُ: (وَجَدْتُ فِي كِتَابٍ ظَنَنْتُ أَنَّهُ بِخَطِّ فُلَانٍ، أَوْ فِي كِتَابٍ ذَكَرَ كَاتِبُهُ أَنَّهُ فُلَانُ بْنُ فُلَانٍ، أَوْ فِي كِتَابٍ قِيلَ إِنَّهُ بِخَطِّ فُلَانٍ).
"Semua ini berlaku apabila ia yakin bahwa itu benar tulisan tangan atau kitab orang yang dimaksud. Jika tidak demikian, hendaklah ia berkata: 'telah sampai kepadaku dari fulan', atau 'aku menemukan dari fulan', atau semisalnya dari ungkapan-ungkapan itu. Atau hendaklah ia menjelaskan secara terus terang dasar sandarannya, dengan mengatakan seperti yang dikatakan sebagian ulama terdahulu: 'aku membaca dalam kitab fulan, dengan tulisan tangannya, dan fulan mengabarkan kepadaku bahwa itu memang tulisan tangannya', atau berkata: 'aku menemukan dalam sebuah kitab yang kuduga tulisan tangan fulan', atau 'dalam sebuah kitab yang penulisnya menyebutkan bahwa ia adalah fulan bin fulan', atau 'dalam sebuah kitab yang dikatakan bahwa itu tulisan tangan fulan'."
وَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَنْقُلَ مِنْ كِتَابٍ مَنْسُوبٍ إِلَى مُصَنِّفٍ فَلَا يَقُلْ: (قَالَ فُلَانٌ كَذَا وَكَذَا) إِلَّا إِذَا وَثِقَ بِصِحَّةِ النُّسْخَةِ، بِأَنْ قَابَلَهَا هُوَ أَوْ ثِقَةٌ غَيْرُهُ بِأُصُولٍ مُتَعَدِّدَةٍ، كَمَا نَبَّهْنَا عَلَيْهِ فِي آخِرِ النَّوْعِ الْأَوَّلِ، وَإِذَا لَمْ يُوجَدْ ذَلِكَ وَنَحْوُهُ فَلْيَقُلْ (بَلَغَنِي عَنْ فُلَانٍ أَنَّهُ ذَكَرَ كَذَا وَكَذَا، أَوْ وَجَدْتُ فِي نُسْخَةٍ مِنَ الْكِتَابِ الْفُلَانِيِّ)، وَمَا أَشْبَهَ هَذَا مِنَ الْعِبَارَاتِ.
"Apabila seseorang hendak menukil dari sebuah kitab yang dinisbatkan kepada seorang penulis tertentu, janganlah ia berkata: 'fulan berkata demikian dan demikian', kecuali jika ia yakin akan keabsahan naskah itu, dengan mencocokkannya sendiri atau melalui orang tsiqah lain dengan beberapa naskah asli lainnya - sebagaimana telah kami singgung di akhir anwa' pertama. Jika hal itu dan yang semisalnya tidak ditemukan, hendaklah ia berkata: 'telah sampai kepadaku dari fulan bahwa ia menyebutkan demikian dan demikian', atau 'aku menemukan dalam sebuah naskah dari kitab fulan', dan yang semisal dari ungkapan-ungkapan itu."
وَقَدْ تَسَامَحَ أَكْثَرُ النَّاسِ فِي هَذِهِ الْأَزْمَانِ بِإِطْلَاقِ اللَّفْظِ الْجَازِمِ فِي ذَلِكَ مِنْ غَيْرِ تَحَرٍّ، وَتَثَبُّتٍ، فَيُطَالِعُ أَحَدُهُمْ كِتَابًا مَنْسُوبًا إِلَى مُصَنِّفٍ مُعَيَّنٍ، وَيَنْقُلُ مِنْهُ عَنْهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَثِقَ بِصِحَّةِ النُّسْخَةِ، قَائِلًا: (قَالَ فُلَانٌ كَذَا وَكَذَا، أَوْ ذَكَرَ فُلَانٌ كَذَا وَكَذَا)، وَالصَّوَابُ مَا قَدَّمْنَاهُ.
"Sebagian besar orang di zaman ini bermudah-mudahan dalam menggunakan lafal yang tegas tanpa kehati-hatian dan pembuktian yang sungguh-sungguh: salah seorang dari mereka membaca sebuah kitab yang dinisbatkan kepada penulis tertentu, lalu menukil darinya dengan mengatasnamakannya, padahal tidak yakin akan keabsahan naskah itu, sambil berkata: 'fulan berkata demikian dan demikian', atau 'fulan menyebutkan demikian dan demikian'. Yang benar adalah seperti apa yang telah kami kemukakan sebelumnya."
فَإِنْ كَانَ الْمُطَالِعُ عَالِمًا فَطِنًا، بِحَيْثُ لَا يَخْفَى عَلَيْهِ فِي الْغَالِبِ مَوَاضِعُ الْإِسْقَاطِ، وَالسَّقْطِ، وَمَا أُحِيلَ عَنْ جِهَتِهِ مِنْ غَيْرِهَا رَجَوْنَا أَنْ يَجُوزَ لَهُ إِطْلَاقُ اللَّفْظِ الْجَازِمِ فِيمَا يَحْكِيهِ مِنْ ذَلِكَ، وَإِلَى هَذَا - فِيمَا أَحْسَبُ - اسْتَرْوَحَ كَثِيرٌ مِنَ الْمُصَنِّفِينَ فِيمَا نَقَلُوهُ مِنْ كُتُبِ النَّاسِ، وَالْعِلْمُ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى.
"Namun apabila pembaca itu adalah seorang alim yang cerdas, sedemikian rupa sehingga pada umumnya tidak tersembunyi baginya letak-letak penyisipan, kesalahan, dan hal yang diselewengkan dari maksud aslinya, maka kami berharap boleh baginya menggunakan lafal yang tegas dalam apa yang ia ceritakan itu. Kepada hal inilah -menurutku- banyak penulis merasa longgar dalam apa yang mereka nukil dari kitab-kitab orang lain. Wallahu a'lam bishshawab."
هَذَا كُلُّهُ كَلَامٌ فِي كَيْفِيَّةِ النَّقْلِ بِطَرِيقِ الْوِجَادَةِ. وَأَمَّا جَوَازُ الْعَمَلِ اعْتِمَادًا عَلَى مَا يُوثَقُ بِهِ مِنْهَا، فَقَدْ رُوِّينَا عَنْ بَعْضِ الْمَالِكِيَّةِ: أَنَّ مُعْظَمَ الْمُحَدِّثِينَ وَالْفُقَهَاءِ مِنَ الْمَالِكِيِّينَ، وَغَيْرِهِمْ لَا يَرَوْنَ الْعَمَلَ بِذَلِكَ. وَحُكِيَ عَنِ الشَّافِعِيِّ، وَطَائِفَةٍ مِنْ نُظَّارِ أَصْحَابِهِ جَوَازُ الْعَمَلِ بِهِ.
"Semua ini adalah pembahasan tentang tata cara penukilan melalui wijadah. Adapun bolehnya mengamalkan (isi kitab) dengan mengandalkan bagian yang dapat dipercaya darinya, kami meriwayatkan dari sebagian ulama Malikiyyah, bahwa mayoritas muhaddits dan fuqaha dari kalangan Malikiyyah dan selain mereka tidak berpandangan boleh mengamalkannya. Sementara diceritakan dari asy-Syafi'i dan sejumlah ahli nazhar dari pengikutnya, bolehnya mengamalkan hal itu."
قُلْتُ: قَطَعَ بَعْضُ الْمُحَقِّقِينَ مِنْ أَصْحَابِهِ فِي أُصُولِ الْفِقْهِ بِوُجُوبِ الْعَمَلِ بِهِ عِنْدَ حُصُولِ الثِّقَةِ بِهِ، وَقَالَ: "لَوْ عُرِضَ مَا ذَكَرْنَاهُ عَلَى جُمْلَةِ الْمُحَدِّثِينَ لَأَبَوْهُ"، وَمَا قُطِعَ بِهِ هُوَ الَّذِي لَا يَتَّجِهُ غَيْرُهُ فِي الْأَعْصَارِ الْمُتَأَخِّرَةِ، فَإِنَّهُ لَوْ تَوَقَّفَ الْعَمَلُ فِيهَا عَلَى الرِّوَايَةِ لَانْسَدَّ بَابُ الْعَمَلِ بِالْمَنْقُولِ، لِتَعَذُّرِ شَرْطِ الرِّوَايَةِ فِيهَا، عَلَى مَا تَقَدَّمَ فِي النَّوْعِ الْأَوَّلِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: sebagian ulama peneliti dari kalangan pengikutnya (Syafi'iyyah) dalam ilmu ushul fikih menegaskan wajibnya mengamalkan hal itu apabila telah tercapai kepercayaan padanya, dan berkata: 'seandainya apa yang kami sebutkan ini disodorkan kepada seluruh ahli hadits, niscaya mereka akan menolaknya'. Pendapat yang ditegaskan ini adalah satu-satunya arah yang tepat pada zaman-zaman belakangan, karena seandainya pengamalan bergantung pada periwayatan (yang bersyarat ketat), niscaya tertutuplah pintu pengamalan atas apa yang dinukil, mengingat sulitnya memenuhi syarat periwayatan pada zaman ini, sebagaimana telah dijelaskan pada anwa' pertama. Wallahu a'lam."