Muqaddimah Ibnu Shalah Bab 21: Hadits Mudraj

An-Nau' Al-'Isyrun: Ma'rifatul Mudraj fil Hadits

وَهُوَ أَقْسَامٌ: مِنْهَا: مَا أُدْرِجَ فِي حَدِيثِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ كَلَامِ بَعْضِ رُوَاتِهِ، بِأَنْ يَذْكُرَ الصَّحَابِيُّ أَوْ مَنْ بَعْدَهُ عَقِيبَ مَا يَرْوِيهِ مِنَ الْحَدِيثِ كَلَامًا مِنْ عِنْدِ نَفْسِهِ، فَيَرْوِيَهُ مَنْ بَعْدَهُ مَوْصُولًا بِالْحَدِيثِ غَيْرَ فَاصِلٍ بَيْنَهُمَا بِذِكْرِ قَائِلِهِ، فَيَلْتَبِسَ الْأَمْرُ فِيهِ عَلَى مَنْ لَا يَعْلَمُ حَقِيقَةَ الْحَالِ، وَيَتَوَهَّمَ أَنَّ الْجَمِيعَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
"Idraj (penyisipan) ini terbagi menjadi beberapa bagian. Di antaranya: sesuatu yang disisipkan ke dalam hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berupa ucapan sebagian perawinya sendiri — yaitu ketika seorang sahabat, atau orang yang meriwayatkan sesudahnya, menyebutkan ucapan dari dirinya sendiri setelah hadits yang ia riwayatkan, kemudian orang yang meriwayatkan sesudahnya menyambungkan ucapan tersebut dengan hadits tanpa memisahkan keduanya atau menyebutkan siapa yang sebenarnya mengucapkannya. Akibatnya, perkara ini menjadi rancu bagi orang yang tidak mengetahui hakikat keadaan sebenarnya, sehingga ia mengira seluruhnya berasal dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam."
وَمِنْ أَمْثِلَتِهِ الْمَشْهُورَةِ: مَا رُوِّينَاهُ فِي التَّشَهُّدِ عَنْ أَبِي خَيْثَمَةَ زُهَيْرِ بْنِ مُعَاوِيَةَ، عَنِ الْحَسَنِ بْنِ الْحُرِّ، عَنِ الْقَاسِمِ بْنِ مُخَيْمِرَةَ، عَنْ عَلْقَمَةَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَّمَهُ التَّشَهُّدَ فِي الصَّلَاةِ فَقَالَ: “قُلِ: التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ” فَذَكَرَ التَّشَهُّدَ، وَفِي آخِرِهِ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، فَإِذَا قُلْتَ هَذَا فَقَدَ قَضَيْتَ صَلَاتَكَ، إِنْ شِئْتَ أَنْ تَقُومَ فَقُمْ، وَإِنْ شِئْتَ أَنْ تَقْعُدَ فَاقْعُدْ، هَكَذَا رَوَاهُ أَبُو خَيْثَمَةَ عَنِ الْحَسَنِ بْنِ الْحُرِّ، فَأَدْرَجَ فِي الْحَدِيثِ قَوْلَهُ: فَإِذَا قُلْتَ هَذَا إِلَى آخِرِهِ، وَإِنَّمَا هَذَا مِنْ كَلَامِ ابْنِ مَسْعُودٍ، لَا مِنْ كَلَامِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
"Di antara contohnya yang masyhur: riwayat yang kami terima tentang tasyahhud, dari Abu Khaitsamah Zuhair bin Mu'awiyah, dari al-Hasan bin al-Hurr, dari al-Qasim bin Mukhaimirah, dari 'Alqamah, dari 'Abdullah bin Mas'ud, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan tasyahhud dalam shalat kepadanya, beliau bersabda: ‘Ucapkanlah: At-Tahiyyatu lillah...’ — lalu ia menyebutkan bacaan tasyahhud, dan di akhirnya: ‘Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah. Apabila engkau telah mengucapkan ini, maka shalatmu telah sempurna. Jika engkau ingin berdiri, maka berdirilah, dan jika engkau ingin duduk, maka duduklah.’ Demikianlah Abu Khaitsamah meriwayatkannya dari al-Hasan bin al-Hurr, sehingga ia menyisipkan ke dalam hadits ucapan ‘Apabila engkau telah mengucapkan ini...’ hingga akhir kalimat tersebut — padahal sebenarnya itu adalah ucapan Ibnu Mas'ud sendiri, bukan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam."
وَمِنَ الدَّلِيلِ عَلَيْهِ أَنَّ الثِّقَةَ الزَّاهِدَ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ ثَابِتِ بْنِ ثَوْبَانَ رَوَاهُ عَنْ رِوَايَةِ الْحَسَنِ بْنِ الْحُرِّ كَذَلِكَ، وَاتَّفَقَ حُسَيْنٌ الْجُعْفِيُّ وَابْنُ عَجْلَانَ وَغَيْرُهُمَا فِي رِوَايَتِهِمْ عَنِ الْحَسَنِ بْنِ الْحُرِّ عَلَى تَرْكِ ذِكْرِ هَذَا الْكَلَامِ فِي آخِرِ الْحَدِيثِ، مَعَ اتِّفَاقِ كُلِّ مَنْ رَوَى التَّشَهُّدَ عَنْ عَلْقَمَةَ وَعَنْ غَيْرِهِ، عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ عَلَى ذَلِكَ، وَرَوَاهُ شَبَابَةُ عَنْ أَبِي خَيْثَمَةَ فَفَصَلَهُ أَيْضًا.
"Di antara bukti atas hal ini adalah bahwa perawi tsiqah lagi zuhud, 'Abdurrahman bin Tsabit bin Tsauban, juga meriwayatkannya dari jalur al-Hasan bin al-Hurr dengan susunan yang sama, yakni memisahkan tambahan tersebut. Husain al-Ju'fi, Ibnu 'Ajlan, dan yang lainnya juga sepakat dalam riwayat mereka dari al-Hasan bin al-Hurr untuk tidak menyebutkan ucapan tersebut di akhir hadits, sejalan dengan kesepakatan semua orang yang meriwayatkan tasyahhud dari 'Alqamah maupun dari selainnya, dari Ibnu Mas'ud, atas hal itu. Syababah juga meriwayatkannya dari Abu Khaitsamah dan turut memisahkan tambahan tersebut."
وَمِنْ أَقْسَامِ الْمُدْرَجِ: أَنْ يَكُونَ مَتْنُ الْحَدِيثِ عِنْدَ الرَّاوِي لَهُ بِإِسْنَادٍ إِلَّا طَرَفًا مِنْهُ، فَإِنَّهُ عِنْدَهُ بِإِسْنَادٍ ثَانٍ، فَيُدْرِجُهُ مَنْ رَوَاهُ عَنْهُ عَلَى الْإِسْنَادِ الْأَوَّلِ، وَيَحْذِفُ الْإِسْنَادَ الثَّانِيَ، وَيَرْوِي جَمِيعَهُ بِالْإِسْنَادِ الْأَوَّلِ.
"Di antara jenis idraj lainnya: matan sebuah hadits yang dimiliki seorang perawi dengan satu sanad, kecuali satu bagian (thoraf) darinya yang sebenarnya ia miliki dengan sanad kedua yang berbeda — lalu orang yang meriwayatkan darinya menyisipkan bagian tersebut ke dalam sanad pertama, membuang sanad kedua, dan meriwayatkan keseluruhannya hanya dengan sanad pertama."
مِثَالُهُ: حَدِيثُ ابْنِ عُيَيْنَةَ وَزَائِدَةَ بْنِ قُدَامَةَ، عَنْ عَاصِمِ بْنِ كُلَيْبٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ فِي صِفَةِ صَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَفِي آخِرِهِ: أَنَّهُ جَاءَ فِي الشِّتَاءِ، فَرَآهُمْ يَرْفَعُونَ أَيْدِيَهُمْ مِنْ تَحْتِ الثِّيَابِ. وَالصَّوَابُ رِوَايَةُ مَنْ رَوَى عَنْ عَاصِمِ بْنِ كُلَيْبٍ بِهَذَا الْإِسْنَادِ صِفَةَ الصَّلَاةِ خَاصَّةً، وَفَصَلَ ذِكْرَ رَفْعِ الْأَيْدِي عَنْهُ، فَرَوَاهُ عَنْ عَاصِمٍ، عَنْ عَبْدِ الْجَبَّارِ بْنِ وَائِلٍ، عَنْ بَعْضِ أَهْلِهِ، عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ.
"Contohnya: hadits Ibnu 'Uyainah dan Za'idah bin Qudamah, dari 'Ashim bin Kulaib, dari ayahnya, dari Wa'il bin Hujr, tentang tata cara shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam — dan di akhirnya disebutkan: bahwa beliau datang pada musim dingin, lalu beliau melihat mereka mengangkat tangan dari balik pakaian mereka. Yang benar adalah riwayat orang-orang yang meriwayatkan dari 'Ashim bin Kulaib dengan sanad ini hanya tata cara shalatnya saja, dan memisahkan penyebutan tentang mengangkat tangan dari balik pakaian tersebut — karena riwayat itu (tentang mengangkat tangan dari balik pakaian) sebenarnya diriwayatkan dari 'Ashim, dari 'Abdul Jabbar bin Wa'il, dari sebagian keluarganya, dari Wa'il bin Hujr, yakni dengan sanad yang berbeda."
وَمِنْهَا: أَنْ يُدْرِجَ فِي مَتْنِ حَدِيثٍ بَعْضَ مَتْنِ حَدِيثٍ آخَرَ، مُخَالِفٍ لِلْأَوَّلِ فِي الْإِسْنَادِ.
"Di antara jenis idraj lainnya: menyisipkan ke dalam matan sebuah hadits sebagian matan hadits lain, yang sanadnya berbeda dari hadits yang pertama."
مِثَالُهُ: رِوَايَةُ سَعِيدِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ، عَنْ مَالِكٍ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَلَا تَنَافَسُوا... الْحَدِيثَ. فَقَوْلُهُ: “لَا تَنَافَسُوا” أَدْرَجَهُ ابْنُ أَبِي مَرْيَمَ مِنْ مَتْنِ حَدِيثٍ آخَرَ، رَوَاهُ مَالِكٌ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ فِيهِ: “لَا تَجَسَّسُوا، وَلَا تَحَسَّسُوا، وَلَا تَنَافَسُوا، وَلَا تَحَاسَدُوا”. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Contohnya: riwayat Sa'id bin Abi Maryam, dari Malik, dari az-Zuhri, dari Anas, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: ‘Janganlah kalian saling membenci, saling mendengki, saling membelakangi (memutus hubungan), dan saling bersaing...’ hadits ini seterusnya. Ucapan ‘dan janganlah kalian saling bersaing’ disisipkan oleh Ibnu Abi Maryam dari matan hadits lain, yang diriwayatkan Malik dari Abu az-Zinad, dari al-A'raj, dari Abu Hurairah, yang di dalamnya terdapat: ‘Janganlah kalian saling memata-matai (tajassus), saling mencari-cari kesalahan (tahassus), saling bersaing, dan saling mendengki.’ Wallahu a'lam."
وَمِنْهَا أَنْ يَرْوِيَ الرَّاوِي حَدِيثًا عَنْ جَمَاعَةٍ، بَيْنَهُمُ اخْتِلَافٌ فِي إِسْنَادِهِ، فَلَا يَذْكُرُ الِاخْتِلَافَ، بَلْ يُدْرِجُ رِوَايَتَهُمْ عَلَى الِاتِّفَاقِ.
"Di antara jenis idraj lainnya: seorang perawi meriwayatkan sebuah hadits dari sekelompok gurunya yang sebenarnya berbeda-beda dalam susunan sanadnya, namun ia tidak menyebutkan perbedaan tersebut, melainkan menggabungkan riwayat mereka seolah-olah semuanya sepakat pada satu susunan sanad."
مِثَالُهُ: رِوَايَةُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ مَهْدِيٍّ، وَمُحَمَّدِ بْنِ كَثِيرٍ الْعَبْدِيِّ، عَنِ الثَّوْرِيِّ، عَنْ مَنْصُورٍ وَالْأَعْمَشِ وَوَاصِلٍ الْأَحْدَبِ، عَنْ أَبِي وَائِلٍ، عَنْ عَمْرِو بْنِ شُرَحْبِيلَ، عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ قُلْتُ: “يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟...” الْحَدِيثَ. وَوَاصِلٌ إِنَّمَا رَوَاهُ عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ مِنْ غَيْرِ ذِكْرِ عَمْرِو بْنِ شُرَحْبِيلَ بَيْنَهُمَا، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Contohnya: riwayat 'Abdurrahman bin Mahdi dan Muhammad bin Katsir al-'Abdi, dari ats-Tsauri, dari Manshur, al-A'masy, dan Washil al-Ahdab, dari Abu Wa'il, dari 'Amr bin Syurahbil, dari Ibnu Mas'ud, ia berkata: ‘Wahai Rasulullah, dosa apakah yang paling besar?...’ hadits ini seterusnya. Padahal Washil sebenarnya meriwayatkannya dari Abu Wa'il, dari 'Abdullah (Ibnu Mas'ud) langsung, tanpa menyebutkan 'Amr bin Syurahbil di antara keduanya. Wallahu a'lam."
وَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا يَجُوزُ تَعَمُّدُ شَيْءٍ مِنَ الْإِدْرَاجِ الْمَذْكُورِ، وَهَذَا النَّوْعُ قَدْ صَنَّفَ فِيهِ الْخَطِيبُ أَبُو بَكْرٍ كِتَابَهُ الْمَوْسُومَ “بِالْفَصْلِ لِلْوَصْلِ الْمُدْرَجِ فِي النَّقْلِ” فَشَفَى وَكَفَى، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Ketahuilah bahwa tidak boleh sama sekali sengaja melakukan idraj dalam bentuk apa pun yang telah disebutkan di atas. Tentang anwa' ini, Al-Khathib Abu Bakr telah menulis sebuah kitab khusus yang diberi judul ‘Al-Fashl lil-Washl al-Mudraj fin-Naql’, yang telah menuntaskan dan mencukupi pembahasannya. Wallahu a'lam."1

Catatan & Referensi

  1. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, an-Nau' al-'Isyrun: Ma'rifatul Mudraj fil Hadits, hlm. 95–98.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email