An-Nau' Ats-Tsamin 'Asyar: Ma'rifatul Hadits al-Mu'allal
وَيُسَمِّيهِ أَهْلُ الْحَدِيثِ (الْمَعْلُولَ)، وَذَلِكَ مِنْهُمْ وَمِنَ الْفُقَهَاءِ فِي قَوْلِهِمْ فِي بَابِ الْقِيَاسِ: “الْعِلَّةُ وَالْمَعْلُولُ” مَرْذُولٌ عِنْدَ أَهْلِ الْعَرَبِيَّةِ وَاللُّغَةِ.
"Ahli hadits menyebutnya dengan istilah al-ma'lul (yang di-'illat-i). Penggunaan istilah ini oleh ahli hadits, dan juga oleh para fuqaha dalam pembahasan qiyas — yakni ungkapan ‘al-'illah wal ma'lul’ — sebenarnya dinilai kurang tepat (mardzul) oleh ahli bahasa Arab dan tata bahasa."
اعْلَمْ أَنَّ مَعْرِفَةَ عِلَلِ الْحَدِيثِ مِنْ أَجَلِّ عُلُومِ الْحَدِيثِ وَأَدَقِّهَا وَأَشْرَفِهَا، وَإِنَّمَا يَضْطَلِعُ بِذَلِكَ أَهْلُ الْحِفْظِ وَالْخِبْرَةِ وَالْفَهْمِ الثَّاقِبِ، وَهِيَ عِبَارَةٌ عَنْ أَسْبَابٍ خَفِيَّةٍ غَامِضَةٍ قَادِحَةٍ فِيهِ.
"Ketahuilah bahwa ilmu 'ilal al-hadits termasuk cabang ilmu hadits yang paling agung, paling rumit, dan paling mulia. Yang mampu menguasainya hanyalah orang-orang yang memiliki hafalan kuat, pengalaman luas, dan pemahaman yang tajam. 'Illat sendiri adalah ungkapan tentang sebab-sebab yang tersembunyi dan samar yang mencacatkan (keshahihan) sebuah hadits."
فَالْحَدِيثُ الْمُعَلَّلُ هُوَ الْحَدِيثُ الَّذِي اطُّلِعَ فِيهِ عَلَى عِلَّةٍ تَقْدَحُ فِي صِحَّتِهِ، مَعَ أَنَّ ظَاهِرَهُ السَّلَامَةُ مِنْهَا.
"Maka hadits mu'allal adalah hadits yang padanya ditemukan suatu 'illat yang mencacatkan keshahihannya, padahal secara lahiriah tampak selamat darinya."
وَيَتَطَرَّقُ ذَلِكَ إِلَى الْإِسْنَادِ الَّذِي رِجَالُهُ ثِقَاتٌ، الْجَامِعِ شُرُوطَ الصِّحَّةِ مِنْ حَيْثُ الظَّاهِرُ.
"Cacat ini bisa menyusup ke dalam sanad yang seluruh perawinya tsiqah, yang secara lahiriah telah memenuhi syarat-syarat keshahihan."
وَيُسْتَعَانُ عَلَى إِدْرَاكِهَا بِتَفَرُّدِ الرَّاوِي وَبِمُخَالَفَةِ غَيْرِهِ لَهُ، مَعَ قَرَائِنَ تَنْضَمُّ إِلَى ذَلِكَ تُنَبِّهُ الْعَارِفَ بِهَذَا الشَّأْنِ عَلَى إِرْسَالٍ فِي الْمَوْصُولِ، أَوْ وَقْفٍ فِي الْمَرْفُوعِ، أَوْ دُخُولِ حَدِيثٍ فِي حَدِيثٍ، أَوْ وَهْمِ وَاهِمٍ بِغَيْرِ ذَلِكَ، بِحَيْثُ يَغْلِبُ عَلَى ظَنِّهِ ذَلِكَ، فَيَحْكُمُ بِهِ، أَوْ يَتَرَدَّدُ فَيَتَوَقَّفُ فِيهِ. وَكُلُّ ذَلِكَ مَانِعٌ مِنَ الْحُكْمِ بِصِحَّةِ مَا وُجِدَ ذَلِكَ فِيهِ.
"Untuk mengenali 'illat ini digunakan bantuan berupa penyendirian seorang perawi (tafarrud) dan adanya penyelisihan dari perawi lain terhadapnya, disertai qarinah-qarinah (indikasi) lain yang menyertainya, yang membuat orang yang ahli dalam bidang ini menyadari adanya irsal dalam sanad yang tampak muttashil, atau waqf dalam hadits yang tampak marfu', atau tercampurnya satu hadits ke dalam hadits lain, atau kekeliruan seorang perawi dalam bentuk lain — sehingga persangkaan kuatnya mengarah ke sana, lalu ia pun menetapkan hukumnya, atau ia ragu sehingga menahan diri (tawaqquf) darinya. Semua ini menghalangi penetapan hukum shahih atas hadits yang di dalamnya ditemukan hal-hal tersebut."
وَكَثِيرًا مَا يُعَلِّلُونَ الْمَوْصُولَ بِالْمُرْسَلِ مِثْلَ: أَنْ يَجِيءَ الْحَدِيثُ بِإِسْنَادٍ مَوْصُولٍ، وَيَجِيءَ أَيْضًا بِإِسْنَادٍ مُنْقَطِعٍ أَقْوَى مِنْ إِسْنَادِ الْمَوْصُولِ، وَلِهَذَا اشْتَمَلَتْ كُتُبُ عِلَلِ الْحَدِيثِ عَلَى جَمْعِ طُرُقِهِ.
"Para ulama hadits sering kali men-ta'lil (mencacatkan) riwayat yang muttashil dengan riwayat yang mursal — misalnya sebuah hadits datang dengan sanad yang muttashil, namun datang pula dengan sanad yang munqathi' (terputus) yang justru lebih kuat daripada sanad yang muttashil tersebut. Karena itulah kitab-kitab 'ilal al-hadits memuat pengumpulan seluruh jalur periwayatan suatu hadits."
قَالَ الْخَطِيبُ أَبُو بَكْرٍ: “السَّبِيلُ إِلَى مَعْرِفَةِ عِلَّةِ الْحَدِيثِ أَنْ يُجْمَعَ بَيْنَ طُرُقِهِ، وَيُنْظَرَ فِي اخْتِلَافِ رُوَاتِهِ، وَيُعْتَبَرَ بِمَكَانِهِمْ مِنَ الْحِفْظِ وَمَنْزِلَتِهِمْ فِي الْإِتْقَانِ وَالضَّبْطِ”.
"Al-Khathib Abu Bakr berkata: ‘Jalan untuk mengetahui 'illat sebuah hadits adalah dengan mengumpulkan seluruh jalur periwayatannya, meneliti perbedaan di antara para perawinya, dan mempertimbangkan kedudukan mereka dalam hal hafalan serta ketelitian dan kecermatan mereka.’"
وَرَوَى عَنْ عَلِيِّ بْنِ الْمَدِينِيِّ قَالَ: “الْبَابُ إِذَا لَمْ تُجْمَعْ طُرُقُهُ لَمْ يَتَبَيَّنْ خَطَؤُهُ”.
"Diriwayatkan dari Ali bin al-Madini, ia berkata: ‘Sebuah bab (masalah hadits), apabila seluruh jalurnya belum dikumpulkan, maka kesalahan di dalamnya tidak akan tampak jelas.’"
ثُمَّ قَدْ تَقَعُ الْعِلَّةُ فِي إِسْنَادِ الْحَدِيثِ، وَهُوَ الْأَكْثَرُ، وَقَدْ تَقَعُ فِي مَتْنِهِ.
"'Illat itu kadang terjadi pada sanad hadits — dan inilah yang paling banyak terjadi — dan kadang terjadi pula pada matannya."
ثُمَّ مَا يَقَعُ فِي الْإِسْنَادِ قَدْ يَقْدَحُ فِي صِحَّةِ الْإِسْنَادِ وَالْمَتْنِ جَمِيعًا، كَمَا فِي التَّعْلِيلِ بِالْإِرْسَالِ وَالْوَقْفِ، وَقَدْ يَقْدَحُ فِي صِحَّةِ الْإِسْنَادِ خَاصَّةً مِنْ غَيْرِ قَدْحٍ فِي صِحَّةِ الْمَتْنِ.
"'Illat yang terjadi pada sanad terkadang mencacatkan keshahihan sanad sekaligus matannya, sebagaimana pada ta'lil dengan irsal dan waqf, dan terkadang hanya mencacatkan keshahihan sanad saja tanpa mencacatkan keshahihan matannya."
فَمِنْ أَمْثِلَةِ مَا وَقَعَتِ الْعِلَّةُ فِي إِسْنَادِهِ مِنْ غَيْرِ قَدَحٍ فِي الْمَتْنِ: مَا رَوَاهُ الثِّقَةُ يَعْلَى بْنُ عُبَيْدٍ عَنْ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ...” الْحَدِيثَ. فَهَذَا إِسْنَادٌ مُتَّصِلٌ بِنَقْلِ الْعَدْلِ عَنِ الْعَدْلِ، وَهُوَ مُعَلَّلٌ غَيْرُ صَحِيحٍ، وَالْمَتْنُ عَلَى كُلِّ حَالٍ صَحِيحٌ، وَالْعِلَّةُ فِي قَوْلِهِ: “عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ”، إِنَّمَا هُوَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، هَكَذَا رَوَاهُ الْأَئِمَّةُ مِنْ أَصْحَابِ سُفْيَانَ عَنْهُ. فَوَهِمَ يَعْلَى بْنُ عُبَيْدٍ، وَعَدَلَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ إِلَى عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ، وَكِلَاهُمَا ثِقَةٌ.
"Di antara contoh 'illat yang terjadi pada sanad tanpa mencacatkan matan: riwayat yang dibawakan oleh Ya'la bin 'Ubaid — seorang perawi tsiqah — dari Sufyan ats-Tsauri, dari 'Amr bin Dinar, dari Ibnu 'Umar, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: ‘Dua orang yang berjual beli, masing-masing punya hak khiyar (memilih)...’ hadits ini seterusnya. Sanad ini muttashil, dinukil oleh perawi yang adil dari perawi yang adil, namun ia mu'allal (bercacat), tidak shahih — sementara matannya sendiri, bagaimanapun juga, tetap shahih. 'Illat-nya terletak pada ucapan ‘dari 'Amr bin Dinar’, yang benar sebenarnya adalah ‘dari 'Abdullah bin Dinar, dari Ibnu 'Umar’, demikianlah yang diriwayatkan oleh para imam dari kalangan murid-murid Sufyan darinya. Ya'la bin 'Ubaid keliru, ia beralih dari 'Abdullah bin Dinar kepada 'Amr bin Dinar, padahal keduanya sama-sama tsiqah."
وَمِثَالُ الْعِلَّةِ فِي الْمَتْنِ: مَا انْفَرَدَ مُسْلِمٌ بِإِخْرَاجِهِ فِي حَدِيثِ أَنَسٍ مِنَ اللَّفْظِ الْمُصَرِّحِ بِنَفْيِ قِرَاءَةِ “بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ”، فَعَلَّلَ قَوْمٌ رِوَايَةَ اللَّفْظِ الْمَذْكُورِ لَمَّا رَأَوُا الْأَكْثَرِينَ إِنَّمَا قَالُوا فِيهِ: “فَكَانُوا يَسْتَفْتِحُونَ الْقِرَاءَةَ بِـ ‘الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ’”، مِنْ غَيْرِ تَعَرُّضٍ لِذِكْرِ الْبَسْمَلَةِ، وَهُوَ الَّذِي اتَّفَقَ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ عَلَى إِخْرَاجِهِ فِي الصَّحِيحِ، وَرَأَوْا أَنَّ مَنْ رَوَاهُ بِاللَّفْظِ الْمَذْكُورِ رَوَاهُ بِالْمَعْنَى الَّذِي وَقَعَ لَهُ، فَفَهِمَ مِنْ قَوْلِهِ: كَانُوا يَسْتَفْتِحُونَ بِالْحَمْدِ أَنَّهُمْ كَانُوا لَا يُبَسْمِلُونَ، فَرَوَاهُ عَلَى مَا فَهِمَ وَأَخْطَأَ، لِأَنَّ مَعْنَاهُ أَنَّ السُّورَةَ الَّتِي كَانُوا يَفْتَتِحُونَ بِهَا مِنَ السُّوَرِ هِيَ الْفَاتِحَةُ، وَلَيْسَ فِيهِ تَعَرُّضٌ لِذِكْرِ التَّسْمِيَةِ.
"Adapun contoh 'illat pada matan: riwayat yang hanya dikeluarkan sendiri oleh Imam Muslim dalam hadits Anas, dengan lafal yang secara tegas menafikan bacaan ‘Bismillahirrahmanirrahim’ (di awal shalat). Sebagian ulama men-ta'lil riwayat dengan lafal tersebut, karena mereka melihat mayoritas perawi hanya menyebutkan: ‘Mereka (Nabi dan para sahabat) membuka bacaan dengan Alhamdulillahi Rabbil 'alamin’, tanpa menyinggung sama sekali soal basmalah — dan riwayat inilah yang disepakati al-Bukhari dan Muslim untuk dikeluarkan dalam kitab Shahih mereka. Mereka menilai bahwa perawi yang meriwayatkan dengan lafal yang menegaskan peniadaan basmalah tadi sebenarnya meriwayatkan secara makna sesuai pemahamannya sendiri — ia memahami dari ucapan ‘mereka membuka bacaan dengan Alhamdu’ bahwa mereka tidak membaca basmalah, lalu ia riwayatkan sesuai pemahamannya itu, padahal ia keliru. Sebab makna sebenarnya adalah bahwa surah yang mereka jadikan pembuka bacaan adalah surah Al-Fatihah, dan tidak ada di dalamnya penyinggungan soal penyebutan basmalah."
وَانْضَمَّ إِلَى ذَلِكَ أُمُورٌ، مِنْهَا: أَنَّهُ ثَبَتَ عَنْ أَنَسٍ: أَنَّهُ سُئِلَ عَنِ الِافْتِتَاحِ بِالتَّسْمِيَةِ، فَذَكَرَ أَنَّهُ لَا يَحْفَظُ فِيهِ شَيْئًا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Bergabung pula dengan hal itu beberapa perkara pendukung, di antaranya: telah pasti diriwayatkan dari Anas bahwa ia pernah ditanya tentang pembukaan bacaan dengan basmalah, lalu ia menyebutkan bahwa dirinya tidak menghafal sesuatu pun tentang hal itu dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Wallahu a'lam."
ثُمَّ اعْلَمْ: أَنَّهُ قَدْ يُطْلَقُ اسْمُ الْعِلَّةِ عَلَى غَيْرِ مَا ذَكَرْنَاهُ مِنْ بَاقِي الْأَسْبَابِ الْقَادِحَةِ فِي الْحَدِيثِ الْمُخْرِجَةِ لَهُ مِنْ حَالِ الصِّحَّةِ إِلَى حَالِ الضَّعْفِ، الْمَانِعَةِ مِنَ الْعَمَلِ بِهِ عَلَى مَا هُوَ مُقْتَضَى لَفْظِ الْعِلَّةِ فِي الْأَصْلِ، وَلِذَلِكَ تَجِدُ فِي كُتُبِ عِلَلِ الْحَدِيثِ الْكَثِيرَ مِنَ الْجَرْحِ بِالْكَذِبِ، وَالْغَفْلَةِ، وَسُوءِ الْحِفْظِ، وَنَحْوِ ذَلِكَ مِنْ أَنْوَاعِ الْجَرْحِ.
"Selanjutnya, ketahuilah bahwa istilah 'illat terkadang juga digunakan secara lebih luas, di luar apa yang telah kami sebutkan, mencakup sebab-sebab lain yang mencacatkan hadits — yang mengeluarkannya dari status shahih menuju status dha'if, sehingga menghalangi pengamalannya — sesuai makna asal kata 'illat itu sendiri. Karena itulah dalam kitab-kitab 'ilal al-hadits banyak dijumpai jarh (celaan terhadap perawi) berupa tuduhan dusta, kelalaian, buruknya hafalan, dan jenis-jenis jarh lainnya yang serupa."
وَسَمَّى التِّرْمِذِيُّ النَّسْخَ عِلَّةً مِنْ عِلَلِ الْحَدِيثِ.
"At-Tirmidzi bahkan menyebut naskh (penghapusan hukum oleh dalil yang datang kemudian) sebagai salah satu bentuk 'illat hadits."
ثُمَّ إِنَّ بَعْضَهُمْ أَطْلَقَ اسْمَ الْعِلَّةِ عَلَى مَا لَيْسَ بِقَادِحٍ مِنْ وُجُوهِ الْخِلَافِ، نَحْوَ إِرْسَالِ مَنْ أَرْسَلَ الْحَدِيثَ الَّذِي أَسْنَدَهُ الثِّقَةُ الضَّابِطُ حَتَّى قَالَ: مِنْ أَقْسَامِ الصَّحِيحِ مَا هُوَ صَحِيحٌ مَعْلُولٌ، كَمَا قَالَ بَعْضُهُمْ: مِنَ الصَّحِيحِ مَا هُوَ صَحِيحٌ شَاذٌّ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Selain itu, sebagian ulama juga menggunakan istilah 'illat untuk bentuk-bentuk perbedaan riwayat yang sebenarnya tidak mencacatkan keshahihan hadits, seperti irsal yang dilakukan oleh sebagian perawi terhadap hadits yang justru telah di-musnad-kan (disambungkan sanadnya) oleh perawi tsiqah yang dhabith (kuat hafalannya) — sampai-sampai ada yang berkata: ‘Di antara jenis hadits shahih, ada yang disebut shahih ma'lul.’ Sebagaimana sebagian ulama juga berkata: ‘Di antara hadits shahih, ada yang disebut shahih syadz.’ Wallahu a'lam."1