Muqaddimah Ibnu Shalah Bab 18: Hadits Afrad

وَقَدْ سَبَقَ بَيَانُ الْمُهِمِّ مِنْ هَذَا النَّوْعِ فِي الْأَنْوَاعِ الَّتِي تَلِيهِ قَبْلَهُ، لَكِنْ أَفْرَدْتُهُ بِتَرْجَمَةٍ كَمَا أَفْرَدَهُ الْحَاكِمُ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ، وَلِمَا بَقِيَ مِنْهُ فَنَقُولُ:
"Penjelasan penting mengenai bab ini telah disebutkan pada anwa' sebelumnya yang mendahuluinya. Namun aku sengaja memberinya judul tersendiri sebagaimana al-Hakim Abu Abdillah juga memberinya judul tersendiri. Adapun sisa pembahasannya, maka kami katakan:"
الْأَفْرَادُ مُنْقَسِمَةٌ إِلَى مَا هُوَ فَرْدٌ مُطْلَقًا، وَإِلَى مَا هُوَ فَرْدٌ بِالنِّسْبَةِ إِلَى جِهَةٍ خَاصَّةٍ.
"Al-Afrad (hadits-hadits fard) terbagi menjadi: yang berstatus fard secara mutlak, dan yang berstatus fard secara relatif (nisbi) terhadap sisi tertentu."
أَمَّا الْأَوَّلُ: فَهُوَ مَا يَنْفَرِدُ بِهِ وَاحِدٌ عَنْ كُلِّ أَحَدٍ، وَقَدْ سَبَقَتْ أَقْسَامُهُ وَأَحْكَامُهُ قَرِيبًا.
"Adapun yang pertama (fard muthlaq): yaitu hadits yang diriwayatkan sendirian oleh satu orang dari semua orang lainnya. Pembagian dan hukumnya telah disebutkan sebelumnya, tidak jauh dari sini."
وَأَمَّا الثَّانِي: وَهُوَ مَا هُوَ فَرْدٌ بِالنِّسْبَةِ، فَمِثْلَمَا يَنْفَرِدُ بِهِ ثِقَةٌ عَنْ كُلِّ ثِقَةٍ، وَحُكْمُهُ قَرِيبٌ مِنْ حُكْمِ الْقِسْمِ الْأَوَّلِ.
"Adapun yang kedua (fard nisbi): yaitu seperti hadits yang diriwayatkan sendirian oleh seorang perawi tsiqah dari setiap perawi tsiqah lainnya. Hukumnya mendekati hukum bagian pertama."
وَمِثْلَمَا يُقَالُ فِيهِ: " هَذَا حَدِيثٌ تَفَرَّدَ بِهِ أَهْلُ مَكَّةَ، أَوْ: تَفَرَّدَ بِهِ أَهْلُ الشَّامِ، أَوْ: أَهْلُ الْكُوفَةِ، أَوْ: أَهْلُ خُرَاسَانَ، عَنْ غَيْرِهِمْ. أَوْ: لَمْ يَرْوِهِ عَنْ فُلَانٍ غَيْرُ فُلَانٍ، وَإِنْ كَانَ مَرْوِيًّا مِنْ وُجُوهٍ عَنْ غَيْرِ فُلَانٍ، أَوْ: تَفَرَّدَ بِهِ الْبَصْرِيُّونَ عَنِ الْمَدَنِيِّينَ، أَوْ: الْخُرَاسَانِيُّونَ عَنِ الْمَكِّيِّينَ "، وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ، وَلَسْنَا نُطَوِّلُ بِأَمْثِلَةِ ذَلِكَ فَإِنَّهُ مَفْهُومٌ دُونَهَا.
"Dan seperti pula ungkapan: 'Ini adalah hadits yang hanya diriwayatkan sendirian oleh penduduk Makkah,' atau 'hanya diriwayatkan sendirian oleh penduduk Syam,' atau 'penduduk Kufah,' atau 'penduduk Khurasan,' dari selain mereka. Atau: 'Tidak ada yang meriwayatkannya dari fulan selain fulan,' meskipun hadits itu sendiri diriwayatkan dari berbagai jalur dari selain fulan tersebut. Atau: 'Hanya diriwayatkan sendirian oleh penduduk Bashrah dari penduduk Madinah,' atau 'penduduk Khurasan dari penduduk Makkah,' dan yang serupa dengan itu. Kami tidak perlu memperpanjang dengan contoh-contohnya, karena hal ini sudah dapat dipahami tanpa perlu dicontohkan."
وَلَيْسَ فِي شَيْءٍ مِنْ هَذَا مَا يَقْتَضِي الْحُكْمَ بِضَعْفِ الْحَدِيثِ، إِلَّا أَنْ يُطْلِقَ قَائِلٌ قَوْلَهُ: تَفَرَّدَ بِهِ أَهْلُ مَكَّةَ، أَوْ تَفَرَّدَ بِهِ الْبَصْرِيُّونَ عَنِ الْمَدَنِيِّينَ، أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ عَلَى مَا لَمْ يَرْوِهِ إِلَّا وَاحِدٌ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ، أَوْ وَاحِدٌ مِنَ الْبَصْرِيِّينَ وَنَحْوَهُ، وَيُضِيفُهُ إِلَيْهِمْ كَمَا يُضَافُ فِعْلُ الْوَاحِدِ مِنَ الْقَبِيلَةِ إِلَيْهَا مَجَازًا. وَقَدْ فَعَلَ الْحَاكِمُ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ هَذَا فِيمَا نَحْنُ فِيهِ، فَيَكُونُ الْحُكْمُ فِيهِ عَلَى مَا سَبَقَ فِي الْقِسْمِ الْأَوَّلِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Tidak ada satu pun dari ungkapan-ungkapan ini yang mengharuskan penetapan hukum kedhaifan sebuah hadits, kecuali apabila seseorang mengatakan secara mutlak: 'Hanya diriwayatkan sendirian oleh penduduk Makkah,' atau 'hanya diriwayatkan sendirian oleh penduduk Bashrah dari penduduk Madinah,' atau semacamnya, padahal yang sebenarnya hadits itu hanya diriwayatkan oleh satu orang saja dari penduduk Makkah, atau satu orang saja dari penduduk Bashrah, dan semisalnya - lalu ia menisbatkannya kepada seluruh penduduk kota itu, sebagaimana perbuatan satu orang dari suatu kabilah dinisbatkan kepada kabilah itu secara majaz (kiasan). Al-Hakim Abu Abdillah melakukan hal ini dalam pembahasan yang sedang kita bicarakan. Maka hukumnya sama seperti yang telah disebutkan pada bagian pertama. Wallahu a'lam."1

Catatan & Referensi

  1. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 88-89.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email