Muqaddimah Ibnu Shalah Bab 17: Ziyadatuts Tsiqat
16 Agustus 2026 · 6 menit baca
وَذَلِكَ فَنٌّ لَطِيفٌ تُسْتَحْسَنُ الْعِنَايَةُ بِهِ. وَقَدْ كَانَ أَبُو بَكْرِ بْنُ زِيَادٍ النَّيْسَابُورِيُّ، وَأَبُو نُعَيْمٍ الْجُرْجَانِيُّ، وَأَبُو الْوَلِيدِ الْقُرَشِيُّ الْأَئِمَّةُ مَذْكُورِينَ بِمَعْرِفَةِ زِيَادَاتِ الْأَلْفَاظِ الْفِقْهِيَّةِ فِي الْأَحَادِيثِ.
"Itu adalah suatu cabang ilmu yang halus yang layak diperhatikan dengan baik. Abu Bakar bin Ziyad an-Naisaburi, Abu Nu'aim al-Jurjani, dan Abu al-Walid al-Qurasyi adalah para imam yang dikenal memiliki keahlian dalam mengenali tambahan-tambahan lafal fikih di dalam hadits-hadits."
وَمَذْهَبُ الْجُمْهُورِ مِنَ الْفُقَهَاءِ وَأَصْحَابِ الْحَدِيثِ فِيمَا حَكَاهُ الْخَطِيبُ أَبُو بَكْرٍ: أَنَّ الزِّيَادَةَ مِنَ الثِّقَةِ مَقْبُولَةٌ إِذَا تَفَرَّدَ بِهَا، سَوَاءٌ كَانَ ذَلِكَ مِنْ شَخْصٍ وَاحِدٍ بِأَنْ رَوَاهُ نَاقِصًا مَرَّةً وَرَوَاهُ مَرَّةً أُخْرَى وَفِيهِ تِلْكَ الزِّيَادَةُ، أَوْ كَانَتِ الزِّيَادَةُ مِنْ غَيْرِ مَنْ رَوَاهُ نَاقِصًا.
"Mazhab mayoritas fuqaha dan ahli hadits, sebagaimana dinukil oleh al-Khathib Abu Bakar, adalah bahwa tambahan dari seorang perawi tsiqah dapat diterima apabila ia menyendiri dengan tambahan itu - baik tambahan itu berasal dari orang yang sama (dengan cara ia meriwayatkannya tanpa tambahan pada satu waktu, dan meriwayatkannya dengan tambahan itu pada waktu yang lain), maupun tambahan itu berasal dari perawi lain, bukan dari orang yang meriwayatkannya tanpa tambahan."
خِلَافًا لِمَنْ رَدَّ مِنْ أَهْلِ الْحَدِيثِ ذَلِكَ مُطْلَقًا، وَخِلَافًا لِمَنْ رَدَّ الزِّيَادَةَ مِنْهُ وَقَبِلَهَا مِنْ غَيْرِهِ. وَقَدْ قَدَّمْنَا عَنْهُ حِكَايَتَهُ عَنْ أَكْثَرِ أَهْلِ الْحَدِيثِ فِيمَا إِذَا وَصَلَ الْحَدِيثَ قَوْمٌ وَأَرْسَلَهُ قَوْمٌ: أَنَّ الْحُكْمَ لِمَنْ أَرْسَلَهُ، مَعَ أَنَّ وَصْلَهُ زِيَادَةٌ مِنَ الثِّقَةِ.
"Berbeda dengan sebagian ahli hadits yang menolak tambahan itu secara mutlak, dan berbeda pula dengan yang menolak tambahan dari perawi yang sama namun menerimanya dari perawi lain. Kami telah mengemukakan sebelumnya nukilan dari mayoritas ahli hadits mengenai kasus apabila sebagian meriwayatkan hadits secara maushul (bersambung) dan sebagian lain meriwayatkannya secara mursal (terputus): bahwa hukumnya diberikan kepada yang meriwayatkannya secara mursal, meskipun penyambungan sanad (washl) itu sendiri sebenarnya merupakan tambahan dari perawi tsiqah."
وَقَدْ رَأَيْتُ تَقْسِيمَ مَا يَنْفَرِدُ بِهِ الثِّقَةُ إِلَى ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ:
"Aku berpendapat bahwa apa yang diriwayatkan sendirian oleh seorang perawi tsiqah dapat dibagi menjadi tiga bagian:"
أَحَدُهَا: أَنْ يَقَعَ مُخَالِفًا مُنَافِيًا لِمَا رَوَاهُ سَائِرُ الثِّقَاتِ، فَهَذَا حُكْمُهُ الرَّدُّ كَمَا سَبَقَ فِي نَوْعِ الشَّاذِّ.
"Pertama: tambahan itu bertentangan dan berlawanan dengan apa yang diriwayatkan oleh perawi-perawi tsiqah lainnya. Hukumnya adalah tertolak, sebagaimana telah dijelaskan pada pembahasan hadits syadz."
الثَّانِي: أَنْ لَا تَكُونَ فِيهِ مُنَافَاةٌ وَمُخَالَفَةٌ أَصْلًا لِمَا رَوَاهُ غَيْرُهُ كَالْحَدِيثِ الَّذِي تَفَرَّدَ بِرِوَايَةِ جُمْلَتِهِ ثِقَةٌ، وَلَا تَعَرُّضَ فِيهِ لِمَا رَوَاهُ الْغَيْرُ بِمُخَالَفَةٍ أَصْلًا، فَهَذَا مَقْبُولٌ، وَقَدِ ادَّعَى الْخَطِيبُ فِيهِ اتِّفَاقَ الْعُلَمَاءِ عَلَيْهِ، وَسَبَقَ مِثَالُهُ فِي نَوْعِ الشَّاذِّ.
"Kedua: tambahan itu sama sekali tidak bertentangan atau berlawanan dengan apa yang diriwayatkan oleh perawi lain, seperti sebuah hadits yang keseluruhan kalimatnya hanya diriwayatkan sendirian oleh seorang tsiqah, tanpa ada persinggungan sama sekali dengan riwayat perawi lain yang berlawanan dengannya. Bagian ini diterima, dan al-Khathib menyatakan bahwa para ulama sepakat menerimanya. Contohnya telah disebutkan pada pembahasan hadits syadz."
الثَّالِثُ: مَا يَقَعُ بَيْنَ هَاتَيْنِ الْمَرْتَبَتَيْنِ مِثْلَ زِيَادَةِ لَفْظَةٍ فِي حَدِيثٍ لَمْ يَذْكُرْهَا سَائِرُ مَنْ رَوَى ذَلِكَ الْحَدِيثَ.
"Ketiga: yang berada di antara dua tingkatan tersebut, seperti tambahan satu lafal dalam sebuah hadits yang tidak disebutkan oleh perawi-perawi lain yang meriwayatkan hadits yang sama."
مِثَالُهُ: مَا رَوَاهُ مَالِكٌ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ: " أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَضَ زَكَاةَ الْفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ عَلَى كُلِّ حُرٍّ أَوْ عَبْدٍ، ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى مِنَ الْمُسْلِمِينَ ". فَذَكَرَ أَبُو عِيسَى التِّرْمِذِيُّ أَنَّ مَالِكًا تَفَرَّدَ مِنْ بَيْنِ الثِّقَاتِ بِزِيَادَةِ قَوْلِهِ: " مِنَ الْمُسْلِمِينَ ".
"Contohnya: apa yang diriwayatkan Malik, dari Nafi', dari Ibnu Umar: 'Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mewajibkan zakat fitri dari bulan Ramadhan atas setiap orang merdeka atau budak, laki-laki atau perempuan, dari kalangan muslimin.' Abu Isa at-Tirmidzi menyebutkan bahwa Malik menyendiri di antara para perawi tsiqah dengan tambahan lafal 'min al-muslimin' (dari kalangan muslimin)." (HR. Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, melalui riwayat Malik dalam al-Muwaththa')
وَرَوَى عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ، وَأَيُّوبُ، وَغَيْرُهُمَا هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ دُونَ هَذِهِ الزِّيَادَةِ، فَأَخَذَ بِهَا غَيْرُ وَاحِدٍ مِنَ الْأَئِمَّةِ وَاحْتَجُّوا بِهَا، مِنْهُمُ الشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Ubaidullah bin Umar, Ayyub, dan yang lainnya meriwayatkan hadits ini dari Nafi', dari Ibnu Umar, tanpa tambahan tersebut. Meski demikian, tidak sedikit dari kalangan imam yang mengambil dan berhujjah dengan tambahan itu, di antaranya asy-Syafi'i dan Ahmad radhiyallahu 'anhuma. Wallahu a'lam."
وَمِنْ أَمْثِلَةِ ذَلِكَ حَدِيثُ: " جُعِلَتْ لَنَا الْأَرْضُ مَسْجِدًا، وَجُعِلَتْ تُرْبَتُهَا لَنَا طَهُورًا ". فَهَذِهِ الزِّيَادَةُ تَفَرَّدَ بِهَا أَبُو مَالِكٍ سَعْدُ بْنُ طَارِقٍ الْأَشْجَعِيُّ، وَسَائِرُ الرِّوَايَاتِ لَفْظُهَا: " وَجُعِلَتْ لَنَا الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا ".
"Di antara contoh lainnya adalah hadits: 'Telah dijadikan bumi bagi kami sebagai tempat sujud, dan telah dijadikan tanahnya bagi kami sebagai alat bersuci.' Tambahan kata 'turbatuha' (tanahnya) ini hanya diriwayatkan sendirian oleh Abu Malik Sa'd bin Thariq al-Asyja'i, sedangkan seluruh riwayat lainnya berlafal: 'Dan telah dijadikan bumi bagi kami sebagai tempat sujud dan alat bersuci.'" (HR. Muslim, dari Hudzaifah radhiyallahu 'anhu)
فَهَذَا وَمَا أَشْبَهَهُ يُشْبِهُ الْقِسْمَ الْأَوَّلَ مِنْ حَيْثُ إِنَّ مَا رَوَاهُ الْجَمَاعَةُ عَامٌّ، وَمَا رَوَاهُ الْمُنْفَرِدُ بِالزِّيَادَةِ مَخْصُوصٌ، وَفِي ذَلِكَ مُغَايَرَةٌ فِي الصِّفَةِ وَنَوْعٌ مِنَ الْمُخَالَفَةِ يَخْتَلِفُ بِهِ الْحُكْمُ.
"Contoh ini dan yang serupa dengannya menyerupai bagian pertama, karena apa yang diriwayatkan oleh jamaah bersifat umum, sedangkan apa yang diriwayatkan oleh perawi yang menyendiri dengan tambahan itu bersifat khusus. Di dalamnya terdapat perbedaan sifat dan semacam penyelisihan yang membuat hukumnya berbeda."
وَيُشْبِهُ أَيْضًا الْقِسْمَ الثَّانِيَ مِنْ حَيْثُ إِنَّهُ لَا مُنَافَاةَ بَيْنَهُمَا.
"Namun juga menyerupai bagian kedua, karena tidak ada pertentangan (munafah) di antara keduanya."
وَأَمَّا زِيَادَةُ الْوَصْلِ مَعَ الْإِرْسَالِ فَإِنَّ بَيْنَ الْوَصْلِ وَالْإِرْسَالِ مِنَ الْمُخَالَفَةِ نَحْوَ مَا ذَكَرْنَاهُ، وَيَزْدَادُ ذَلِكَ بِأَنَّ الْإِرْسَالَ نَوْعُ قَدْحٍ فِي الْحَدِيثِ، فَتَرْجِيحُهُ وَتَقْدِيمُهُ مِنْ قَبِيلِ تَقْدِيمِ الْجَرْحِ عَلَى التَّعْدِيلِ. وَيُجَابُ عَنْهُ بِأَنَّ الْجَرْحَ قُدِّمَ لِمَا فِيهِ مِنْ زِيَادَةِ الْعِلْمِ، وَالزِّيَادَةُ هَاهُنَا مَعَ مَنْ وَصَلَ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Adapun tambahan berupa penyambungan sanad (washl) di samping riwayat yang terputus (irsal): antara washl dan irsal terdapat penyelisihan seperti yang telah kami sebutkan, dan hal itu semakin bertambah karena irsal merupakan sejenis cacat pada hadits, sehingga mengunggulkan dan mendahulukan riwayat yang mursal termasuk dalam kaidah mendahulukan jarh (celaan) atas ta'dil (pemujian). Jawabannya: jarh didahulukan karena mengandung tambahan pengetahuan, sedangkan tambahan pengetahuan di sini justru ada pada pihak yang menyambungkan sanad (washl). Wallahu a'lam."