Muqaddimah Ibnu Shalah Bab 15: Hadits Munkar
16 Agustus 2026 · 4 menit baca
بَلَغَنَا عَنْ أَبِي بَكْرٍ أَحْمَدَ بْنِ هَارُونَ الْبَرْدِيجِيِّ الْحَافِظِ: أَنَّهُ الْحَدِيثُ الَّذِي يَنْفَرِدُ بِهِ الرَّجُلُ، وَلَا يُعْرَفُ مَتْنُهُ مِنْ غَيْرِ رِوَايَتِهِ لَا مِنَ الْوَجْهِ الَّذِي رَوَاهُ مِنْهُ وَلَا مِنْ وَجْهٍ آخَرَ، فَأَطْلَقَ الْبَرْدِيجِيُّ ذَلِكَ وَلَمْ يُفَصِّلْ.
"Telah sampai kepada kami dari Abu Bakar Ahmad bin Harun al-Bardiji al-Hafizh: bahwa hadits munkar adalah hadits yang diriwayatkan sendirian oleh seseorang, dan matannya tidak dikenal dari selain riwayatnya itu, baik dari jalur yang ia riwayatkan maupun dari jalur lain. Al-Bardiji menyebutkan hal ini secara mutlak (umum) tanpa merincinya."
وَإِطْلَاقُ الْحُكْمِ عَلَى التَّفَرُّدِ بِالرَّدِّ أَوِ النَّكَارَةِ أَوِ الشُّذُوذِ مَوْجُودٌ فِي كَلَامِ كَثِيرٍ مِنْ أَهْلِ الْحَدِيثِ، وَالصَّوَابُ فِيهِ التَّفْصِيلُ الَّذِي بَيَّنَّاهُ آنِفًا فِي شَرْحِ الشَّاذِّ.
"Penetapan hukum secara mutlak atas kesendirian riwayat sebagai tertolak, munkar, atau syadz banyak dijumpai dalam perkataan para ahli hadits. Namun yang benar dalam hal ini adalah perincian yang telah kami jelaskan sebelumnya dalam pembahasan hadits syadz."
وَعِنْدَ هَذَا نَقُولُ: الْمُنْكَرُ يَنْقَسِمُ قِسْمَيْنِ، عَلَى مَا ذَكَرْنَاهُ فِي الشَّاذِّ، فَإِنَّهُ بِمَعْنَاهُ.
"Maka di sini kami katakan: hadits munkar terbagi menjadi dua bagian, sebagaimana telah kami sebutkan pada pembahasan hadits syadz, karena munkar semakna dengannya."
مِثَالُ الْأَوَّلِ - وَهُوَ الْمُنْفَرِدُ الْمُخَالِفُ لِمَا رَوَاهُ الثِّقَاتُ -: رِوَايَةُ مَالِكٍ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ حُسَيْنٍ، عَنْ عُمَرَ بْنِ عُثْمَانَ، عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " لَا يَرِثُ الْمُسْلِمُ الْكَافِرَ وَلَا الْكَافِرُ الْمُسْلِمَ ".
"Contoh bagian pertama - yaitu riwayat yang menyendiri dan menyelisihi riwayat para perawi tsiqah -: riwayat Malik, dari az-Zuhri, dari Ali bin Husain, dari Umar bin Utsman, dari Usamah bin Zaid, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: 'Seorang muslim tidak mewarisi orang kafir, dan orang kafir tidak mewarisi orang muslim.'" (HR. Bukhari dan Muslim, dari Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhu)
فَخَالَفَ مَالِكٌ غَيْرَهُ مِنَ الثِّقَاتِ فِي قَوْلِهِ: عُمَرُ بْنُ عُثْمَانَ، بِضَمِّ الْعَيْنِ.
"Malik menyelisihi perawi-perawi tsiqah lainnya dalam penyebutan nama gurunya: 'Umar bin Utsman', dengan huruf 'ain yang didhammahkan."
وَذَكَرَ مُسْلِمٌ صَاحِبُ الصَّحِيحِ فِي كِتَابِ " التَّمْيِيزِ " أَنَّ كُلَّ مَنْ رَوَاهُ مِنْ أَصْحَابِ الزُّهْرِيِّ قَالَ فِيهِ: عَمْرُو بْنُ عُثْمَانَ، يَعْنِي، بِفَتْحِ الْعَيْنِ.
"Imam Muslim, penulis kitab Shahih, menyebutkan dalam kitab 'at-Tamyiz' bahwa seluruh murid az-Zuhri yang meriwayatkan hadits ini menyebutnya 'Amr bin Utsman', yakni dengan huruf 'ain yang difathahkan."
وَذَكَرَ أَنَّ مَالِكًا كَانَ يُشِيرُ بِيَدِهِ إِلَى دَارِ عُمَرَ بْنِ عُثْمَانَ، كَأَنَّهُ عَلِمَ أَنَّهُمْ يُخَالِفُونَهُ، وَعَمْرٌو وَعُمَرُ جَمِيعًا وَلَدُ عُثْمَانَ، غَيْرَ أَنَّ هَذَا الْحَدِيثَ إِنَّمَا هُوَ عَنْ عَمْرٍو - بِفَتْحِ الْعَيْنِ - وَحَكَمَ مُسْلِمٌ وَغَيْرُهُ عَلَى مَالِكٍ بِالْوَهْمِ فِيهِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Disebutkan pula bahwa Malik biasa menunjuk dengan tangannya ke arah rumah Umar bin Utsman, seolah-olah ia menyadari bahwa yang lain menyelisihinya. Amr dan Umar sama-sama merupakan anak dari Utsman, hanya saja hadits ini sesungguhnya diriwayatkan dari Amr (dengan fathah pada 'ain), dan Imam Muslim serta ulama lainnya menetapkan bahwa Malik keliru (waham) dalam hal ini. Wallahu a'lam."
وَمِثَالُ الثَّانِي: وَهُوَ الْفَرْدُ الَّذِي لَيْسَ فِي رَاوِيهِ مِنَ الثِّقَةِ وَالْإِتْقَانِ مَا يُحْتَمَلُ مَعَهُ تَفَرُّدُهُ: مَا رُوِّينَاهُ مِنْ حَدِيثِ أَبِي زُكَيْرٍ يَحْيَى بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ قَيْسٍ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " كُلُوا الْبَلَحَ بِالتَّمْرِ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ إِذَا رَأَى ذَلِكَ غَاظَهُ، وَيَقُولُ: عَاشَ ابْنُ آدَمَ حَتَّى أَكَلَ الْجَدِيدَ بِالْخَلِقِ ". تَفَرَّدَ بِهِ أَبُو زُكَيْرٍ، وَهُوَ شَيْخٌ صَالِحٌ، أَخْرَجَ عَنْهُ مُسْلِمٌ فِي كِتَابِهِ، غَيْرَ أَنَّهُ لَمْ يَبْلُغْ مَبْلَغَ مَنْ يُحْتَمَلُ تَفَرُّدُهُ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Contoh bagian kedua - yaitu riwayat fard yang pada diri perawinya tidak terdapat tingkat tsiqah dan itqan (ketelitian) yang membuat kesendiriannya dapat diterima -: apa yang kami riwayatkan dari hadits Abu Zukair Yahya bin Muhammad bin Qais, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Makanlah kurma muda bersama kurma matang, karena setan bila melihat hal itu menjadi murka dan berkata: anak Adam terus hidup sampai memakan yang baru bersama yang lama.' Abu Zukair menyendiri dalam meriwayatkan hadits ini. Ia seorang syaikh yang saleh, Imam Muslim meriwayatkan darinya dalam kitabnya, hanya saja ia belum mencapai tingkat yang membuat kesendiriannya dapat diterima. Wallahu a'lam." (diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha melalui jalur Abu Zukair Yahya bin Muhammad bin Qais, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya - dinilai Ibnu Shalah sendiri sebagai riwayat fard yang lemah dan tertolak, bukan contoh yang diterima)