النَّوْعُ التَّاسِعُ: مَعْرِفَةُ الْمُرْسَلِ
"Anwa' kesembilan: mengenal al-mursal."1
وَصُورَتُهُ الَّتِي لَا خِلَافَ فِيهَا: حَدِيثُ التَّابِعِيِّ الْكَبِيرِ، الَّذِي لَقِيَ جَمَاعَةً مِنَ الصَّحَابَةِ وَجَالَسَهُمْ، كَعُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَدِيِّ بْنِ الْخِيَارِ، ثُمَّ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ، وَأَمْثَالِهِمَا، إِذَا قَالَ: " قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ". وَالْمَشْهُورُ: التَّسْوِيَةُ بَيْنَ التَّابِعِينَ أَجْمَعِينَ فِي ذَلِكَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ.
"Bentuk mursal yang tidak diperselisihkan adalah: hadits Tabi'in besar, yang berjumpa dengan sekelompok Sahabat dan duduk bersama mereka, seperti 'Ubaidillah bin 'Adi bin al-Khiyar, lalu Sa'id bin al-Musayyab, dan yang semisal keduanya, apabila ia berkata: 'Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda...' Yang masyhur: persamaan hukum di antara seluruh Tabi'in radhiyallahu 'anhum dalam hal ini."
Tiga Bentuk yang Diperselisihkan
وَلَهُ صُوَرٌ اخْتُلِفَ فِيهَا: أَهِيَ مِنَ الْمُرْسَلِ أَمْ لَا؟
"Ada pula beberapa bentuk lain yang diperselisihkan: apakah termasuk mursal atau bukan?"
إِحْدَاهَا: إِذَا انْقَطَعَ الْإِسْنَادُ قَبْلَ الْوُصُولِ إِلَى التَّابِعِيِّ، فَكَانَ فِيهِ رِوَايَةُ رَاوٍ لَمْ يَسْمَعْ مِنَ الْمَذْكُورِ فَوْقَهُ، فَالَّذِي قَطَعَ بِهِ الْحَاكِمُ الْحَافِظُ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ وَغَيْرُهُ مِنْ أَهْلِ الْحَدِيثِ أَنَّ ذَلِكَ لَا يُسَمَّى مُرْسَلًا، وَأَنَّ الْإِرْسَالَ مَخْصُوصٌ بِالتَّابِعِينَ.
"Yang pertama: apabila sanad terputus sebelum sampai kepada Tabi'in, sehingga di dalamnya terdapat riwayat seorang perawi yang tidak mendengar dari orang yang disebut di atasnya, maka yang ditegaskan oleh Al-Hakim al-Hafizh Abu 'Abdillah dan ahli hadits lainnya adalah bahwa itu tidak disebut mursal, dan bahwa irsal itu khusus bagi Tabi'in."
بَلْ إِنْ كَانَ مَنْ سَقَطَ ذِكْرُهُ قَبْلَ الْوُصُولِ إِلَى التَّابِعِيِّ شَخْصًا وَاحِدًا سُمِّيَ مُنْقَطِعًا فَحَسْبُ، وَإِنْ كَانَ أَكْثَرَ مِنْ وَاحِدٍ سُمِّيَ مُعْضَلًا، وَيُسَمَّى أَيْضًا مُنْقَطِعًا. وَسَيَأْتِي مِثَالُ ذَلِكَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى.
"Bahkan, jika yang gugur sebelum sampai kepada Tabi'in hanya satu orang, disebut munqathi' saja, dan jika lebih dari satu orang, disebut mu'dhal, dan disebut pula munqathi'. Contohnya akan disebutkan nanti insya Allah Ta'ala."
وَالْمَعْرُوفُ فِي الْفِقْهِ وَأُصُولِهِ أَنَّ كُلَّ ذَلِكَ يُسَمَّى مُرْسَلًا، وَإِلَيْهِ ذَهَبَ مِنْ أَهْلِ الْحَدِيثِ أَبُو بَكْرٍ الْخَطِيبُ وَقَطَعَ بِهِ، وَقَالَ: " إِلَّا أَنَّ أَكْثَرَ مَا يُوصَفُ بِالْإِرْسَالِ مِنْ حَيْثُ الِاسْتِعْمَالُ مَا رَوَاهُ التَّابِعِيُّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَمَّا مَا رَوَاهُ تَابِعِيُّ التَّابِعِيِّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَيُسَمُّونَهُ الْمُعْضَلَ "، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Yang dikenal dalam ilmu fikih dan ushul fikihnya, bahwa semua itu disebut mursal, dan pendapat ini dianut dan ditegaskan oleh Abu Bakr al-Khathib dari kalangan ahli hadits, ia berkata: 'Hanya saja, yang paling umum disifati sebagai irsal dari segi penggunaannya adalah apa yang diriwayatkan Tabi'in dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, sedangkan apa yang diriwayatkan Tabi' at-Tabi'in dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, mereka menyebutnya al-mu'dhal.' Wallahu a'lam."
الثَّانِيَةُ: قَوْلُ الزُّهْرِيِّ، وَأَبِي حَازِمٍ، وَيَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ الْأَنْصَارِيِّ، وَأَشْبَاهِهِمْ مِنْ أَصَاغِرِ التَّابِعِينَ: " قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ "، حَكَى ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ أَنَّ قَوْمًا لَا يُسَمُّونَهُ مُرْسَلًا، بَلْ مُنْقَطِعًا؛ لِكَوْنِهِمْ لَمْ يَلْقَوْا مِنَ الصَّحَابَةِ إِلَّا الْوَاحِدَ وَالِاثْنَيْنِ، وَأَكْثَرُ رِوَايَتِهِمْ عَنِ التَّابِعِينَ.
"Yang kedua: perkataan az-Zuhri, Abu Hazim, Yahya bin Sa'id al-Anshari, dan yang semisal mereka dari kalangan Tabi'in kecil: 'Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda...' — Ibnu 'Abdil Barr menceritakan bahwa sebagian ulama tidak menyebutnya mursal, melainkan munqathi'; karena mereka hanya berjumpa dengan satu atau dua orang Sahabat saja, dan kebanyakan riwayat mereka berasal dari kalangan Tabi'in."
قَالَ الشَّيْخُ أَبْقَاهُ اللَّهُ: وَهَذَا الْمَذْهَبُ فَرْعٌ لِمَذْهَبِ مَنْ لَا يُسَمِّي الْمُنْقَطِعَ قَبْلَ الْوُصُولِ إِلَى التَّابِعِيِّ مُرْسَلًا. وَالْمَشْهُورُ التَّسْوِيَةُ بَيْنَ التَّابِعِينَ فِي اسْمِ الْإِرْسَالِ كَمَا تَقَدَّمَ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Asy-Syaikh (Ibnu Shalah), semoga Allah memanjangkan usianya, berkata: pendapat ini adalah cabang dari pendapat yang tidak menyebut munqathi' sebelum sampai kepada Tabi'in sebagai mursal. Yang masyhur adalah persamaan hukum di antara seluruh Tabi'in dalam penamaan irsal, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Wallahu a'lam."
الثَّالِثَةُ: إِذَا قِيلَ فِي الْإِسْنَادِ: " فُلَانٌ، عَنْ رَجُلٍ أَوْ عَنْ شَيْخٍ عَنْ فُلَانٍ " أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ، فَالَّذِي ذَكَرَهُ الْحَاكِمُ فِي " مَعْرِفَةِ عُلُومِ الْحَدِيثِ " أَنَّهُ لَا يُسَمَّى مُرْسَلًا بَلْ مُنْقَطِعًا، وَهُوَ فِي بَعْضِ الْمُصَنَّفَاتِ الْمُعْتَبَرَةِ فِي أُصُولِ الْفِقْهِ مَعْدُودٌ مِنْ أَنْوَاعِ الْمُرْسَلِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Yang ketiga: apabila dalam sanad dikatakan: 'Fulan, dari seorang laki-laki, atau dari seorang syaikh, dari Fulan' atau semacam itu, maka yang disebutkan Al-Hakim dalam kitab 'Ma'rifat 'Ulum al-Hadits' adalah bahwa itu tidak disebut mursal melainkan munqathi', dan dalam sebagian kitab yang menjadi rujukan dalam ushul fikih, itu dihitung termasuk jenis-jenis mursal. Wallahu a'lam."
Hukum Hujjah dengan Mursal
ثُمَّ اعْلَمْ أَنَّ حُكْمَ الْمُرْسَلِ حُكْمُ الْحَدِيثِ الضَّعِيفِ، إِلَّا أَنْ يَصِحَّ مُخْرَجُهُ بِمَجِيئِهِ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ، كَمَا سَبَقَ بَيَانُهُ فِي نَوْعِ الْحَسَنِ. وَلِهَذَا احْتَجَّ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِمُرْسَلَاتِ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، فَإِنَّهَا وُجِدَتْ مَسَانِيدَ مِنْ وُجُوهٍ أُخَرَ، وَلَا يَخْتَصُّ ذَلِكَ عِنْدَهُ بِإِرْسَالِ ابْنِ الْمُسَيَّبِ، كَمَا سَبَقَ.
"Ketahuilah kemudian, bahwa hukum mursal adalah hukum hadits dhaif, kecuali jika keabsahannya terbukti karena datang dari jalur lain, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya dalam anwa' hasan. Karena itulah Imam asy-Syafi'i radhiyallahu 'anhu berhujjah dengan mursal-mursal Sa'id bin al-Musayyab radhiyallahu 'anhuma, karena riwayat-riwayat itu didapati sebagai musnad dari jalur-jalur lain, dan hal itu menurutnya tidak khusus berlaku pada irsal Ibnu al-Musayyab saja, sebagaimana telah disebutkan."
وَمَنْ أَنْكَرَ ذَلِكَ زَاعِمًا أَنَّ الِاعْتِمَادَ حِينَئِذٍ يَقَعُ عَلَى الْمُسْنَدِ دُونَ الْمُرْسَلِ، فَيَقَعُ لَغْوًا لَا حَاجَةَ إِلَيْهِ، فَجَوَابُهُ أَنَّهُ بِالْمُسْنَدِ يَتَبَيَّنُ صِحَّةُ الْإِسْنَادِ الَّذِي فِيهِ الْإِرْسَالُ، حَتَّى يُحْكَمَ لَهُ مَعَ إِرْسَالِهِ بِأَنَّهُ إِسْنَادٌ صَحِيحٌ تَقُومُ بِمِثْلِهِ الْحُجَّةُ، عَلَى مَا مَهَّدْنَا سَبِيلَهُ فِي النَّوْعِ الثَّانِي. وَإِنَّمَا يُنْكِرُ هَذَا مَنْ لَا مَذَاقَ لَهُ فِي هَذَا الشَّأْنِ.
"Siapa yang mengingkari hal itu, dengan menganggap bahwa yang menjadi pegangan pada saat itu adalah riwayat musnad-nya, bukan mursal-nya, sehingga penyebutan mursal itu menjadi sia-sia dan tidak diperlukan — jawabannya adalah bahwa dengan adanya riwayat musnad itulah keabsahan sanad yang mengandung irsal tadi menjadi jelas, sehingga hadits itu dihukumi, meski ia diriwayatkan secara mursal, sebagai sanad yang sahih yang dapat dijadikan hujjah, sebagaimana telah kami paparkan jalannya dalam anwa' kedua (Hasan). Yang mengingkari hal ini hanyalah orang yang tidak memiliki kepekaan rasa (mazaq) dalam bidang ini."
وَمَا ذَكَرْنَاهُ مِنْ سُقُوطِ الِاحْتِجَاجِ بِالْمُرْسَلِ وَالْحُكْمِ بِضَعْفِهِ هُوَ الْمَذْهَبُ الَّذِي اسْتَقَرَّ عَلَيْهِ آرَاءُ جَمَاهِيرِ حُفَّاظِ الْحَدِيثِ وَنُقَّادِ الْأَثَرِ، وَقَدْ تَدَاوَلُوهُ فِي تَصَانِيفِهِمْ.
"Apa yang telah kami sebutkan, yaitu gugurnya hujjah dengan mursal dan hukum kedhaifannya, adalah pendapat yang menjadi pegangan tetap mayoritas huffazh hadits dan kritikus atsar, dan mereka telah membahasnya berulang kali dalam karya-karya tulis mereka."
وَفِي صَدْرِ صَحِيحِ مُسْلِمٍ: " الْمُرْسَلُ فِي أَصْلِ قَوْلِنَا وَقَوْلِ أَهْلِ الْعِلْمِ بِالْأَخْبَارِ لَيْسَ بِحُجَّةٍ ". وَابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ - حَافِظُ الْمَغْرِبِ - مِمَّنْ حَكَى ذَلِكَ عَنْ جَمَاعَةِ أَصْحَابِ الْحَدِيثِ.
"Dalam muqaddimah Shahih Muslim disebutkan: 'Mursal, pada dasar pendapat kami dan pendapat ahli ilmu khabar, bukanlah hujjah.' Ibnu 'Abdil Barr — hafizh negeri Maghrib — termasuk yang menceritakan hal itu dari sekelompok ahli hadits."
وَالِاحْتِجَاجُ بِهِ مَذْهَبُ مَالِكٍ وَأَبِي حَنِيفَةَ وَأَصْحَابِهِمَا [رَحِمَهُمُ اللَّهُ] فِي طَائِفَةٍ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Adapun berhujjah dengannya adalah mazhab Malik dan Abu Hanifah beserta murid-murid keduanya [semoga Allah merahmati mereka], dalam sebagian keadaan. Wallahu a'lam."
Pengecualian: Mursal Sahabat
ثُمَّ إِنَّا لَمْ نَعُدَّ فِي أَنْوَاعِ الْمُرْسَلِ وَنَحْوِهِ مَا يُسَمَّى فِي أُصُولِ الْفِقْهِ مُرْسَلَ الصَّحَابِيِّ مِثْلَمَا يَرْوِيهِ ابْنُ عَبَّاسٍ وَغَيْرُهُ مِنْ أَحْدَاثِ الصَّحَابَةِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَمْ يَسْمَعُوهُ مِنْهُ؛ لِأَنَّ ذَلِكَ فِي حُكْمِ الْمَوْصُولِ الْمُسْنَدِ، لِأَنَّ رِوَايَتَهُمْ عَنِ الصَّحَابَةِ، وَالْجَهَالَةَ بِالصَّحَابِيِّ غَيْرُ قَادِحَةٍ، لِأَنَّ الصَّحَابَةَ كُلَّهُمْ عُدُولٌ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Selanjutnya, kami tidak memasukkan ke dalam jenis-jenis mursal dan semisalnya, apa yang dalam ilmu ushul fikih disebut mursal sahabat, seperti apa yang diriwayatkan Ibnu 'Abbas dan Sahabat-Sahabat muda lainnya dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam padahal mereka tidak mendengarnya langsung dari beliau; karena riwayat semacam itu berhukum sebagai riwayat yang bersambung (mausul musnad), sebab riwayat mereka sebenarnya berasal dari Sahabat lain, dan ketidaktahuan tentang siapa Sahabat itu tidaklah mencacatkan, karena seluruh Sahabat itu adil ('udul). Wallahu a'lam."2