Sombong (dalam istilah syar'i disebut kibr atau takabbur) adalah salah satu penyakit hati yang paling banyak diperingatkan dalam Al-Qur'an dan hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Bukan sekadar sikap yang tidak disukai, kesombongan bahkan disebut sebagai penghalang seseorang masuk surga - sebuah ancaman yang jarang ditemukan padanannya untuk penyakit hati lain. Artikel ini mengumpulkan ayat dan hadits tentang sombong yang paling sering dijadikan rujukan, dikutip langsung dari data primer Ngaji Sanad sendiri (hasil kurasi penuh Kutubus Sittah), mulai dari definisi kesombongan menurut Rasulullah, bentuknya yang tampak lewat cara berpakaian dan berjalan, akar historisnya pada kisah Iblis, sampai keutamaan tawadhu' sebagai lawannya.
Pertama: Definisi Kesombongan Menurut Rasulullah
Alih-alih membiarkan kata "sombong" dipahami secara umum dan kabur, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam justru memberikan definisi yang sangat presisi lewat sebuah dialog dengan salah seorang sahabat. Dialog ini diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu:
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ. قَالَ رَجُلٌ: إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً. قَالَ: إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi (dzarrah) dari kesombongan." Seorang laki-laki bertanya, "Sesungguhnya ada orang yang suka apabila bajunya bagus dan sandalnya bagus (apakah itu termasuk sombong)?" Beliau menjawab, "Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan itu adalah menolak kebenaran (bathrul haqq) dan meremehkan manusia (ghamthun-nas)." (HR. Muslim no. 265, dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu)1
Hadits ini menjawab kesalahpahaman yang sering muncul: bahwa menyukai penampilan yang rapi dan bagus itu sendiri adalah sombong. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam meluruskannya - menyukai keindahan bukan masalah, sebab Allah sendiri Maha Indah dan mencintai keindahan. Yang menjadi persoalan bukan soal bagus-tidaknya penampilan, melainkan dua hal yang beliau sebutkan secara eksplisit sebagai hakikat kibr: bathrul haqq (menolak kebenaran) dan ghamthun-nas (meremehkan manusia).
Sebagian ulama menjelaskan bahwa dua unsur ini sebenarnya mewakili dua wajah kesombongan yang berbeda tingkat bahayanya. Menolak kebenaran - yakni mengetahui sesuatu itu benar tapi enggan tunduk dan mengikutinya karena gengsi atau merasa diri lebih tahu - adalah bentuk kibr yang paling berbahaya, karena bisa menjerumuskan pelakunya pada penolakan terhadap kebenaran agama itu sendiri, sebagaimana yang terjadi pada Iblis (dibahas di bagian Ketiga). Adapun meremehkan manusia - memandang rendah orang lain karena merasa lebih kaya, lebih pintar, lebih terhormat nasabnya, atau sekadar lebih tampil rapi - adalah dosa besar yang mengotori hati meski tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari Islam.2 Riwayat lain dari sahabat yang sama menegaskan betapa kerasnya ancaman ini dengan perumpamaan yang lebih tajam lagi:
لاَ يَدْخُلُ النَّارَ أَحَدٌ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةِ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ، وَلاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ أَحَدٌ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةِ خَرْدَلٍ مِنْ كِبْرِيَاءَ
"Tidak akan masuk neraka seseorang yang di dalam hatinya ada seberat biji sawi dari iman, dan tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya ada seberat biji sawi dari kesombongan." (HR. Muslim no. 266, dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu)3
Kedua hadits ini diletakkan berdampingan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya, tepatnya dalam bab tentang haramnya sikap sombong di Kitab Iman - menegaskan bahwa kesombongan, sekecil apa pun kadarnya, dipandang serius dalam timbangan iman seorang muslim.
Kedua: Kesombongan yang Tampak Lewat Cara Berpakaian dan Berjalan
Selain sikap batin, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam juga mencontohkan bagaimana kesombongan bisa terlihat lewat hal-hal sekecil cara berpakaian. Salah satu bentuknya adalah isbal - menjulurkan kain sarung, celana, atau pakaian hingga melebihi mata kaki - ketika dilakukan dengan niat menyombongkan diri:
مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. قَالَ أَبُو بَكْرٍ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ أَحَدَ شِقَّىْ إِزَارِي يَسْتَرْخِي إِلاَّ أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ. فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: لَسْتَ مِمَّنْ يَصْنَعُهُ خُيَلاَءَ
"Siapa yang menjulurkan pakaiannya (hingga di bawah mata kaki) karena sombong (khuyala'), Allah tidak akan melihatnya pada hari Kiamat." Abu Bakar bertanya, "Wahai Rasulullah, salah satu sisi sarungku sering melorot sendiri, kecuali kalau aku terus menjaganya." Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, "Engkau bukan termasuk orang yang melakukannya karena sombong." (HR. Bukhari no. 5784, dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma)4
Dialog dengan Abu Bakar radhiyallahu 'anhu ini penting sekali dipahami, sebab ia menutup celah kesalahpahaman yang sering terjadi: bahwa setiap pakaian yang menjulur di bawah mata kaki otomatis dihukumi sombong. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri yang menegaskan bahwa yang diancam bukan bentuk pakaiannya, melainkan niat khuyala' (rasa ingin menyombongkan diri) di baliknya - persis sama dengan penjelasan tentang baju dan sandal bagus di bagian Pertama. Abu Bakar melorot sarungnya bukan karena ingin pamer, jadi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri yang membebaskannya dari ancaman itu.
Bentuk kesombongan lain yang disorot Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah cara berjalan yang penuh keangkuhan - dan beliau menyampaikan sebuah kisah dengan akhir yang dramatis sebagai peringatan:
بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي فِي حُلَّةٍ تُعْجِبُهُ نَفْسُهُ، مُرَجِّلٌ جُمَّتَهُ، إِذْ خَسَفَ اللَّهُ بِهِ، فَهْوَ يَتَجَلَّلُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
"Ketika seorang laki-laki berjalan dengan pakaian bagus yang membuatnya kagum pada dirinya sendiri, rambutnya tersisir rapi, tiba-tiba Allah membenamkannya ke dalam bumi. Ia pun terus terbenam bergerak-gerak (di dalamnya) hingga hari Kiamat." (HR. Bukhari no. 5789, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)5
Kedua hadits ini terletak dalam bab yang sama di Kitab Pakaian Shahih al-Bukhari, "Orang yang menjulurkan pakaiannya karena sombong."6 Keduanya saling melengkapi: yang pertama menegaskan bahwa hukumnya bergantung pada niat, sementara yang kedua menggambarkan betapa fatal akibatnya ketika kekaguman pada penampilan diri sendiri benar-benar berubah menjadi ujub dan takabbur di hadapan orang lain.
Ketiga: Iblis, Awal Mula Kesombongan
Kalau ditelusuri ke asal-usulnya, kesombongan bukan penyakit yang baru muncul di kalangan manusia - Al-Qur'an mencatat bahwa makhluk pertama yang tercatat menyombongkan diri di hadapan Allah adalah Iblis, ketika ia menolak perintah untuk bersujud kepada Nabi Adam 'alaihissalam:
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ
"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, 'Sujudlah kamu kepada Adam!' Maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri (istakbara), dan ia termasuk golongan yang kafir." (QS. Al-Baqarah: 34)7
Ayat ini sangat relevan dengan definisi kesombongan yang sudah dibahas di bagian Pertama: Iblis tahu perintah itu datang langsung dari Allah, tapi ia enggan tunduk - persis pola bathrul haqq (menolak kebenaran) yang disebutkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Bukan karena Iblis tidak tahu perintah itu benar, melainkan karena keangkuhannya membuatnya merasa lebih layak dari Adam - itulah sebabnya ayat ini menutup dengan menggolongkan Iblis ke dalam kafirin (golongan yang kafir/ingkar), bukan sekadar "pembangkang biasa". Iblis menjadi contoh paling ekstrem bahwa akar penolakan terhadap kebenaran, kalau ditarik ke ujungnya, bisa berubah menjadi kekufuran - sebuah peringatan keras bagi siapa pun yang merasa dirinya terlalu "benar" untuk tunduk pada kebenaran yang datang dari luar dirinya.
Keempat: Lawan Kesombongan - Tawadhu' yang Ditinggikan Allah
Setelah rangkaian ancaman di atas, Islam juga menawarkan jalan keluar sekaligus janji yang menenangkan: siapa pun yang mau merendahkan diri (tawadhu') karena Allah, justru akan diangkat derajatnya, bukan direndahkan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ
"Sedekah tidak akan mengurangi harta. Tidaklah seorang hamba memberi maaf melainkan Allah akan menambah kemuliaannya. Dan tidaklah seseorang merendahkan diri (tawadhu') karena Allah melainkan Allah akan mengangkat derajatnya." (HR. Muslim no. 6592, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)8
Hadits ini menyusun tiga pasang sebab-akibat yang di permukaan terlihat berlawanan dengan logika umum, tapi justru itulah polanya di sisi Allah: sedekah yang mengurangi harta secara hitungan matematis justru tidak benar-benar mengurangi (Allah menggantinya), pemaaf yang secara sosial terlihat "kalah" justru bertambah mulia, dan orang yang merendahkan diri - kebalikan total dari sombong - justru ditinggikan derajatnya. Poin ketiga inilah yang menjadi penutup paling relevan untuk tema kesombongan: tawadhu' bukan sikap yang membuat seseorang direndahkan orang lain, melainkan jalan yang justru dijanjikan Allah untuk mengangkat kedudukannya, baik di dunia lewat rasa hormat orang-orang di sekitarnya, maupun di akhirat lewat pahala yang dijanjikan. Pembahasan lebih lanjut tentang bagaimana tawadhu' seharusnya dipraktikkan, khususnya dalam konteks menuntut ilmu, bisa dibaca di Tawadhu dalam Berilmu.
Penutup
Lima dalil di atas menunjukkan bahwa kesombongan bukan sekadar sikap yang "kurang sopan" secara sosial, melainkan penyakit hati yang diperingatkan Al-Qur'an dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam secara serius: dari definisi presisinya (menolak kebenaran dan meremehkan manusia), bentuknya yang tampak lewat cara berpakaian dan berjalan, akar historisnya pada kisah Iblis, sampai jalan keluarnya lewat tawadhu' yang justru dijanjikan pengangkatan derajat. Sombong sering disebut sebagai penyakit hati yang "tersembunyi" karena pelakunya sendiri jarang sadar dirinya sedang sombong - sama seperti bahaya riya yang juga sulit dikenali dari dalam diri sendiri. Pembahasan yang lebih luas tentang kedudukan akhlak secara umum dalam Islam, termasuk bagaimana akhlak baik dan buruk ditimbang di sisi Allah, bisa dibaca di Hadits tentang Akhlak: Kedudukan dan Keutamaannya dalam Islam. Untuk mempelajari penyucian hati dan adab batin semacam ini secara lebih sistematis bersama pengajar bersanad, lihat jalur kelas Tazkiyatun Nafs di Ngaji Sanad.
Catatan & Referensi
HR. Muslim no. 265, dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu (Kitab Iman, bab 41 "Haramnya sikap sombong dan penjelasannya", cakupan hadits no. 265-267) - teks Arab dan terjemahan diambil langsung dari data hadits primer Ngaji Sanad sendiri (hadith-api/books/muslim.json), dicek silang terhadap struktur kitab/bab hasil kurasi Kutubus Sittah proyek ini (server/lib/hadith-chapters.js). Lihat teks lengkap di halaman hadits ini.
↩Pembagian dua wajah kibr (menolak kebenaran vs. meremehkan manusia) dan konsekuensinya yang berbeda tingkat bahaya adalah penjelasan klasik yang dibahas ulama dalam kitab-kitab syarah hadits, termasuk Syarh Shahih Muslim karya Imam An-Nawawi rahimahullah yang mengomentari langsung hadits ini. Riset awal memakai beberapa sumber sekunder berbahasa Indonesia dan Arab untuk orientasi, disintesis ulang dengan bahasa sendiri di sini, bukan dikutip/diterjemahkan langsung dari satu sumber tertentu.
↩HR. Muslim no. 266, dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu (bab yang sama dengan catatan 1 di atas, hadits berikutnya) - teks Arab dan terjemahan dari data primer Ngaji Sanad sendiri. Lihat teks lengkap di halaman hadits ini.
↩HR. Bukhari no. 5784, dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma (Kitab Pakaian, bab 2 "Orang yang menjulurkan sarungnya tanpa maksud sombong", cakupan hadits no. 5784-5785) - teks Arab dan terjemahan dari data primer Ngaji Sanad sendiri, dicek silang terhadap struktur kitab/bab hasil kurasi Kutubus Sittah proyek ini. Lihat teks lengkap di halaman hadits ini.
↩HR. Bukhari no. 5789, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu (Kitab Pakaian, bab 5 "Orang yang menjulurkan pakaiannya karena sombong", cakupan hadits no. 5788-5791) - teks Arab dan terjemahan dari data primer Ngaji Sanad sendiri. Lihat teks lengkap di halaman hadits ini.
↩Rujukan bab: lihat catatan 5 di atas. Riwayat semakna (redaksi sedikit berbeda, sama-sama dari Ibnu Umar/Abu Hurairah) juga ada di Bukhari no. 5783, 5788, 5791, dan pada Abu Dawud no. 4085, 4094, Tirmidzi no. 1730-1731, dan Nasa'i no. 5326-5328 (dicek dari data primer sendiri, tidak dikutip di badan karena redaksinya sejalan dengan yang sudah dikutip).
↩QS. Al-Baqarah: 34 - teks Arab dan terjemahan sudah diverifikasi sebelumnya (2+ sumber independen) sebagai bagian dari riset daleel proyek ini (docs/daleel-guide.md), dipakai ulang di sini, bukan riset baru. Alasan eksplisit kesombongan Iblis ("aku lebih baik darinya") ada di ayat lain (QS. Al-A'raf: 12 dan QS. Shad: 76) yang tidak dikutip di artikel ini karena fokusnya di sini hanya pada fakta penolakan dan kesombongannya, bukan alasan detailnya.
↩HR. Muslim no. 6592, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu (Kitab Kebajikan, Silaturahmi, dan Adab, bab 19 "Anjuran memaafkan dan bersikap rendah hati") - teks Arab dan terjemahan dari data primer Ngaji Sanad sendiri. Riwayat semakna juga ada di Tirmidzi no. 2029 (dinilai hasan shahih oleh Imam At-Tirmidzi sendiri dalam teks haditsnya, dicek dari data primer sendiri), tidak dikutip di badan karena redaksinya sejalan. Lihat teks lengkap di halaman hadits ini.
↩