Rukun iman sering disebut berdampingan dengan rukun Islam, padahal keduanya membahas hal yang berbeda. Rukun Islam adalah lima perkara amal lahiriah, yaitu syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji, yang sudah dibahas tersendiri lewat hadits kelima rukun Islam. Rukun iman, sebaliknya, adalah enam perkara keyakinan batin: iman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta qadha dan qadar, yakni takdir baik dan buruk.
Sumber hadits yang paling masyhur untuk keenam perkara ini adalah Hadits Jibril, riwayat panjang dari Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu tentang seorang laki-laki asing yang bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam soal makna Islam, iman, dan ihsan, yang belakangan diketahui adalah Malaikat Jibril 'alaihissalam sendiri (HR. Muslim no. 93 dan Bukhari no. 50). Hadits itu sudah dibahas tuntas, teks lengkap dan syarahnya, di Hadits Jibril: Syarah Islam, Iman, dan Ihsan, sehingga artikel ini sengaja tidak mengulang teksnya. Sebagai gantinya, artikel ini menelusuri jalur dalil yang berbeda: delapan ayat Al-Qur'an yang, secara independen dari Hadits Jibril, juga menyebutkan keenam perkara yang sama. Ini membuktikan bahwa rukun iman bukan sekadar rumusan ulama belakangan, melainkan sesuatu yang berulang kali ditegaskan langsung oleh Al-Qur'an sendiri.
Pertama: Satu Ayat, Empat Rukun Sekaligus
Kalau Hadits Jibril adalah rujukan hadits yang menyusun keenam rukun iman dalam satu tarikan napas, Al-Qur'an punya padanannya sendiri. Di penutup surah Al-Baqarah, Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ ۚ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
"Rasul (Muhammad) beriman pada apa (Al-Qur'an) yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang mukmin. Masing-masing beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata,) 'Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.' Mereka juga berkata, 'Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami, wahai Tuhan kami. Hanya kepada-Mu tempat (kami) kembali.'" (QS. Al-Baqarah: 285)1
Dalam satu ayat ini saja sudah tersebut empat dari enam rukun: iman kepada Allah, mala'ikah (malaikat), kutub (kitab-kitab-Nya), dan rusul (rasul-rasul-Nya). Urutan dan redaksinya nyaris sama persis dengan yang disebutkan Malaikat Jibril dalam hadits di atas. Ayat ini juga menambahkan satu penekanan penting: seorang mukmin tidak boleh "membeda-bedakan" antar rasul dengan mengimani sebagian dan mengingkari sebagian yang lain. Semuanya harus diyakini sebagai utusan Allah yang benar, meski syariat yang mereka bawa berbeda-beda dan hanya syariat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam yang berlaku sampai hari ini. Dua rukun yang belum disebut di sini, yaitu hari akhir dan qadar, akan ditemukan di ayat-ayat lain yang dibahas di bagian selanjutnya.
Kedua: Iman kepada Allah
Rukun pertama dan paling mendasar adalah tauhid, yaitu meyakini bahwa Allah subhanahu wa ta'ala adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam penciptaan (rububiyyah), dalam ibadah (uluhiyyah), maupun dalam nama dan sifat-Nya (asma' was-shifat). Ketiganya adalah sisi tauhid yang dirumuskan ulama untuk memudahkan pembahasan, bukan istilah yang tertulis literal dalam Al-Qur'an. Ringkasan paling padat tentang siapa Allah ada dalam surah pendek yang oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sendiri disebut setara sepertiga Al-Qur'an:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
"Katakanlah (Nabi Muhammad), 'Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, serta tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.'" (QS. Al-Ikhlas: 1-4)2
Empat ayat pendek ini menolak dua kesalahan sekaligus: menyekutukan Allah dengan sesuatu (syirik) dan menyerupakan-Nya dengan makhluk. Iman kepada Allah bukan sekadar percaya "ada Tuhan" secara umum, karena keyakinan semacam itu bahkan diakui Al-Qur'an ada pada orang-orang musyrik zaman jahiliyah. Iman yang benar berarti meyakini Allah sebagaimana Dia memperkenalkan diri-Nya sendiri: Esa, tempat bergantung segala sesuatu, dan tidak setara dengan apa pun.
Ketiga: Iman kepada Malaikat
Rukun kedua adalah meyakini keberadaan mala'ikah (malaikat), yaitu makhluk ghaib ciptaan Allah yang tidak pernah membangkang perintah-Nya. Salah satu di antaranya, Jibril 'alaihissalam, bahkan pernah menampakkan diri dalam wujud manusia untuk mengajarkan Islam, iman, dan ihsan kepada para sahabat. Peristiwa itulah yang menjadi asal-usul istilah "Hadits Jibril" yang disebut di awal artikel ini. Sifat umum malaikat digambarkan Al-Qur'an dalam surah Al-Anbiya:
وَلَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَمَنْ عِنْدَهُ لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَلَا يَسْتَحْسِرُونَ يُسَبِّحُونَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لَا يَفْتُرُونَ
"Hanya milik-Nya siapa yang di langit dan di bumi. (Malaikat-malaikat) yang di sisi-Nya tidak mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tidak (pula) merasa letih. Mereka bertasbih pada waktu malam dan siang dengan tidak henti-hentinya." (QS. Al-Anbiya: 19-20)3
Ayat ini menyorot dua sifat malaikat, tidak sombong dan tidak pernah lelah, yang menjelaskan kenapa mereka berbeda total dari manusia maupun jin: tidak punya hawa nafsu, tidak pernah menolak perintah, dan ibadahnya tidak pernah putus. Iman kepada malaikat berarti meyakini keberadaan mereka sebagai makhluk nyata (bukan simbol atau metafora), meski wujud aslinya tidak bisa dilihat mata manusia di dunia ini kecuali dalam keadaan khusus seperti yang dialami para sahabat saat Jibril datang.
Keempat: Iman kepada Kitab-Kitab Allah
Rukun ketiga adalah meyakini bahwa Allah menurunkan kutubullah (kitab-kitab-Nya) kepada para rasul sebagai petunjuk bagi manusia, di antaranya Taurat kepada Nabi Musa, Zabur kepada Nabi Dawud, Injil kepada Nabi Isa, dan Al-Qur'an kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam sebagai kitab terakhir dan penyempurna. Berbeda dari kitab-kitab sebelumnya yang naskah aslinya sudah tidak lagi terjaga utuh, Al-Qur'an secara tegas dijamin keasliannya langsung oleh Allah:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya." (QS. Al-Hijr: 9)4
Ayat ini sering dijadikan dasar kenapa Al-Qur'an, berbeda dari kitab-kitab samawi sebelumnya, tetap sama persis dari generasi ke generasi selama lebih dari empat belas abad. Ia terjaga bukan lewat satu naskah tunggal yang rawan hilang atau diubah, melainkan lewat hafalan berjuta-juta umat Islam dan sanad periwayatan yang bersambung, sesuatu yang justru menjadi fondasi seluruh proyek Ngajisanad ini. Iman kepada kitab-kitab Allah berarti mempercayai bahwa semuanya benar-benar wahyu dari Allah pada masanya masing-masing, sekaligus meyakini bahwa Al-Qur'an adalah penutup dan rujukan akhir yang tidak lagi memerlukan kitab baru sesudahnya.
Kelima: Iman kepada Rasul-Rasul Allah
Rukun keempat adalah meyakini bahwa Allah mengutus para rasul kepada setiap umat untuk menyampaikan tauhid dan syariat-Nya, mulai dari Nabi Adam sampai penutup seluruh nabi dan rasul, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Kedudukan beliau sebagai khataman-nabiyyin (penutup para nabi) ditegaskan langsung dalam Al-Qur'an:
مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَٰكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا
"Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, melainkan dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. Al-Ahzab: 40)5
Karena kedudukan itu, tidak ada lagi nabi atau rasul sesudah beliau, dan syariat yang wajib diikuti seluruh manusia sampai hari kiamat hanyalah syariat yang beliau bawa. Seperti sudah disinggung di bagian pertama lewat QS. Al-Baqarah: 285, iman kepada rasul juga berarti tidak "membeda-bedakan" antar mereka, yakni meyakini seluruh nabi dan rasul sebelumnya, dari Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, sampai Isa 'alaihimus salam, benar-benar utusan Allah, sekaligus meyakini bahwa risalah mereka masing-masing sudah selesai masanya dan digantikan oleh risalah terakhir Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.
Keenam: Iman kepada Hari Akhir
Rukun kelima adalah meyakini kepastian yaumul akhir atau yaumul qiyamah (hari akhir/hari kiamat), yaitu hari ketika seluruh alam semesta ini berakhir, setiap manusia dibangkitkan kembali, dan seluruh amal selama hidup di dunia dihisab satu per satu. Kepastian ini ditegaskan tanpa celah keraguan dalam surah Al-Hajj:
وَأَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لَا رَيْبَ فِيهَا وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَنْ فِي الْقُبُورِ
"Sesungguhnya kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya dan sesungguhnya Allah akan membangkitkan siapa pun yang di dalam kubur." (QS. Al-Hajj: 7)6
Frasa "tidak ada keraguan padanya" (la raiba fiha) muncul berulang kali di Al-Qur'an setiap kali membahas hari kiamat. Penekanan seperti ini tidak diberikan pada rukun iman lain dengan intensitas yang sama, mengingat hari akhir adalah rukun yang paling sering diingkari manusia karena tidak bisa dibuktikan secara empiris sebelum benar-benar terjadi. Iman kepada hari akhir bukan sekadar percaya dunia akan berakhir, tapi juga mencakup keyakinan pada seluruh rangkaian peristiwa sesudahnya: kebangkitan, hisab, mizan (timbangan amal), hingga surga dan neraka sebagai balasan akhir. Keyakinan inilah yang secara psikologis menjadi rem paling efektif bagi perbuatan seseorang, dan karena itu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berulang kali menyinggungnya dalam berbagai hadits tentang adab sehari-hari.
Ketujuh: Iman kepada Qadha dan Qadar
Rukun keenam, sekaligus yang paling sering disalahpahami, adalah meyakini qadha dan qadar, yaitu bahwa segala sesuatu yang terjadi, baik atau buruk menurut penilaian manusia, sudah berada dalam ketetapan dan ilmu Allah. Al-Qur'an menegaskannya secara ringkas dalam surah Al-Qamar:
إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ
"Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu sesuai dengan ukuran (takdir)." (QS. Al-Qamar: 49)7
Rukun ini paling sering disalahpahami karena dua alasan yang berlawanan: sebagian orang menjadikannya alasan untuk pasrah total dan meninggalkan usaha ("toh sudah ditakdirkan"), sementara sebagian lain justru menolaknya karena dianggap bertentangan dengan kebebasan memilih (ikhtiar) manusia. Keduanya keliru. Iman kepada qadar tidak meniadakan usaha, karena usaha itu sendiri juga bagian dari apa yang sudah Allah tetapkan, dan manusia tetap diperintahkan berikhtiar sambil menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah. Pembahasan lebih mendalam soal hadits penciptaan manusia dan penulisan takdir sejak dalam kandungan sudah dibahas tersendiri di Hadits Tentang Takdir (Arbain Nawawi #4). Artikel itu menelusuri sisi hadits secara mendalam, sementara ayat di atas menunjukkan bahwa prinsip yang sama juga tertulis eksplisit dalam Al-Qur'an, bukan hanya dalam hadits.
Penutup: Enam Rukun, Satu Keyakinan Utuh
Sebagai penutup, ada satu ayat lagi yang layak disorot karena menyebutkan hampir seluruh rukun iman sekaligus dalam satu tarikan napas, lebih lengkap dari QS. Al-Baqarah: 285 yang dibahas di bagian pertama, karena ayat ini juga menambahkan hari akhir:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۚ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا
"Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah, Rasul-Nya (Nabi Muhammad), Kitab (Al-Qur'an) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, dan kitab yang Dia turunkan sebelumnya. Siapa yang kufur kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, dan hari akhir, sungguh dia telah tersesat sangat jauh." (QS. An-Nisa: 136)8
Lima dari enam rukun iman tersebut jelas dalam satu ayat ini; hanya qadha dan qadar yang tidak disebutkan secara eksplisit di sini, sebagaimana sudah dibahas tersendiri lewat QS. Al-Qamar: 49 di bagian sebelumnya. Ayat ini juga diarahkan langsung kepada "orang-orang yang beriman" ("ya ayyuhal-ladzina amanu"), sebuah seruan untuk tetap teguh, bukan sekadar mengenal enam rukun ini sebagai daftar hafalan.9 Rukun iman bukan trivia akidah yang cukup dihafal lalu selesai, melainkan fondasi yang harus terus dijaga dan diperbarui keyakinannya sepanjang hidup.
Delapan ayat yang dibahas di atas, dari Al-Baqarah, Al-Ikhlas, Al-Anbiya, Al-Hijr, Al-Ahzab, Al-Hajj, Al-Qamar, hingga An-Nisa, menunjukkan bahwa keenam rukun iman bukan rumusan yang hanya bersumber dari satu hadits, betapapun otoritatifnya Hadits Jibril itu. Al-Qur'an sendiri, di berbagai surah dan konteks berbeda, berulang kali menegaskan pokok-pokok keyakinan yang sama. Bagi yang ingin mendalami setiap rukun ini lebih jauh secara berjenjang dan bersanad kepada pengajar, termasuk nama dan sifat Allah, pembahasan lengkap Hadits Jibril, serta bantahan atas penyimpangan akidah, jalur kelas Aqidah di Ngajisanad adalah tempat yang tepat untuk memulai.
Catatan & Referensi
Hadits Jibril: HR. Muslim no. 93 (Kitab Iman) dan Bukhari no. 50 (Kitab Iman). Teks lengkap, takhrij, dan syarahnya sudah dibahas tersendiri di Hadits Jibril: Syarah Islam, Iman, dan Ihsan (Arbain Nawawi #2), sengaja tidak diulang di artikel ini. QS. Al-Baqarah: 285. Teks Arab dan terjemahan mengikuti mushaf standar Kementerian Agama RI, diverifikasi silang dengan terjemahan internasional.
↩QS. Al-Ikhlas: 1-4. Teks Arab dan terjemahan mengikuti mushaf standar Kementerian Agama RI, diverifikasi silang dengan terjemahan internasional. Pembagian tauhid menjadi rububiyyah/uluhiyyah/asma wa shifat adalah kerangka yang lazim dipakai ulama akidah untuk menjelaskan cakupan tauhid, bukan istilah yang tertulis literal dalam ayat ini maupun hadits manapun, disebutkan di sini sebagai konteks keilmuan tambahan.
↩QS. Al-Anbiya: 19-20. Teks Arab dan terjemahan mengikuti mushaf standar Kementerian Agama RI, diverifikasi silang dengan terjemahan internasional.
↩QS. Al-Hijr: 9. Teks Arab dan terjemahan mengikuti mushaf standar Kementerian Agama RI, diverifikasi silang dengan terjemahan internasional.
↩QS. Al-Ahzab: 40. Teks Arab dan terjemahan mengikuti mushaf standar Kementerian Agama RI, diverifikasi silang dengan terjemahan internasional.
↩QS. Al-Hajj: 7. Teks Arab dan terjemahan mengikuti mushaf standar Kementerian Agama RI, diverifikasi silang dengan terjemahan internasional.
↩QS. Al-Qamar: 49. Teks Arab dan terjemahan mengikuti mushaf standar Kementerian Agama RI, diverifikasi silang dengan terjemahan internasional. Pembahasan hadits terkait takdir (penciptaan manusia bertahap dan penulisan takdir sejak dalam kandungan, HR. Bukhari no. 3208 dan Muslim no. 6723) ada di Hadits Tentang Takdir (Arbain Nawawi #4), tidak diulang di artikel ini.
↩QS. An-Nisa: 136. Teks Arab dan terjemahan mengikuti mushaf standar Kementerian Agama RI, diverifikasi silang dengan terjemahan internasional.
↩Istilah "rukun iman" (enam perkara) sendiri bukan frasa yang tertulis literal kata per kata di Al-Qur'an maupun di redaksi Hadits Jibril. Istilah itu adalah rumusan ulama untuk merangkum keenam perkara yang disebutkan Malaikat Jibril dalam hadits tersebut ("an tu'mina billahi wa mala'ikatihi wa kutubihi wa rusulihi wal-yaumil-akhiri wa tu'mina bil-qadari khairihi wa syarrihi"). Artikel ini menghindari penyebutan "utlubul 'ilma minal mahdi ilal lahdi" atau "utlubul 'ilma walau bish-shin" sebagai dalil apa pun, karena keduanya bukan hadits shahih dan tidak relevan untuk topik rukun iman.
↩