Fathul Mughits Bab 62: Al-Muttafiq wal-Muftariq

Bab sebelumnya membahas nama yang tulisannya sama tapi bacaannya berbeda. Bab ini membahas kasus yang lebih ekstrem: nama yang identik persis, baik tulisan maupun bacaannya, tapi tetap merujuk pada orang yang berbeda.

Al-Muttafiq wal-Muftariq

Alfiyah al-'Iraqi mendefinisikan istilah ini lewat dua bait, lengkap dengan contoh nama yang sama tapi dipakai enam orang berbeda:

وَلَهُمُ الْمُتَّفْقُ وَالْمُفْتَرِقُ ... مَا لَفْظُهُ وَخَطُّهُ مُتَّفِقُ
لَكِنْ مُسَمَّيَاتُهُ لِعِدَّهْ ... نَحْوُ ابْنِ أَحْمَدَ الْخَلِيلِ سِتَّه
ْ
"Ada juga bagi mereka (istilah) al-muttafiq wal-muftariq, yaitu (nama) yang lafalnya dan tulisannya sama, tapi orang yang dinamai dengannya berbeda-beda jumlahnya - seperti (nama) Ibnu Ahmad Al-Khalil, ada enam (orang berbeda)." (Alfiyah al-'Iraqi, bait 926-927, dinukil dan disyarah As-Sakhawi dalam Fathul Mughits, jilid 4 hlm. 266)

As-Sakhawi sendiri, dalam prosa syarahnya, menegaskan betapa pentingnya ilmu ini dan menyebut karya rujukan utamanya:

وَهِيَ نَوْعٌ جَلِيلٌ يَعْظُمُ الِانْتِفَاعُ بِهِ، صَنَّفَ فِيهِ الْخَطِيبُ كِتَابًا نَفِيسًا
"Ia adalah jenis (ilmu) yang mulia, besar sekali manfaatnya - Al-Khathib (al-Baghdadi) telah menyusun sebuah kitab yang berharga khusus tentangnya." (As-Sakhawi, Fathul Mughits, jilid 4 hlm. 266)

Al-muttafiq wal-muftariq ("yang bersepakat tapi berpisah") adalah kasus dua rawi atau lebih yang memiliki nama - termasuk nama ayah dan kadang kakeknya sekaligus - yang identik persis, baik dari sisi tulisan maupun cara membacanya, tapi tetap orang yang benar-benar berbeda.1 Ini kasus paling berbahaya di antara seluruh persoalan identifikasi nama yang sudah dibahas, karena tidak ada petunjuk tekstual sama sekali yang bisa membedakan keduanya hanya dengan melihat nama yang tertulis di sanad.

Satu-satunya cara membedakan dua rawi al-muttafiq wal-muftariq adalah lewat konteks di luar nama itu sendiri: siapa gurunya, siapa muridnya, periode hidupnya, dan kota tempat tinggalnya.2 Inilah kenapa ilmu-ilmu biografis yang sudah dan akan dibahas di rangkaian bab ini - thabaqat, tawarikh, dan awthanur ruwah - menjadi krusial justru untuk menyelesaikan kasus seperti ini, bukan sekadar informasi pelengkap.

Bab selanjutnya menutup kelompok pembahasan kerancuan nama dengan kategori yang lebih luas, mencakup baik al-mu'talif-mukhtalif maupun al-muttafiq-muftariq sekaligus: al-musytabih.

Catatan & Referensi

  1. Definisi al-muttafiq wal-muftariq dirumuskan Al-Khathib Al-Baghdadi dalam kitabnya yang khusus membahas topik ini dan dijelaskan ulang As-Sakhawi dalam Fathul Mughits, mengikuti rumusan Ibnu Shalah.

  2. Ketergantungan pada konteks biografis (guru, murid, periode, kota) untuk membedakan al-muttafiq wal-muftariq ditegaskan As-Sakhawi dalam Fathul Mughits.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email