Fathul Mughits Bab 59: Man 'Urifa bi-Kunyatihi

Bab sebelumnya membahas pendataan nama dan kun-yah secara umum. Bab ini membahas kasus khusus: rawi yang kun-yahnya jauh lebih masyhur dibanding nama aslinya.

Man 'Urifa bi-Kunyatihi

Kategori ini adalah bagian kedua dari sembilan atau sepuluh pembagian al-asma' wal-kuna yang dirangkum Alfiyah al-'Iraqi (lihat bab sebelumnya), sebagaimana disebutkan dalam bait berikut:

وَالثَّانِي مَنْ يُكْنَى وَلَا اسْمًا نَدْرِي ... نَحْوُ أَبِي شَيْبَةَ وَهْوَ الْخُدْرِي
"Dan yang kedua: orang yang dipanggil dengan kun-yah, sementara kita tidak mengetahui (dengan pasti) nama aslinya - seperti (kasus) Abu Syaibah, yaitu (yang bernisbah) Al-Khudri." (Alfiyah al-'Iraqi, bait 867, dinukil dan disyarah As-Sakhawi dalam Fathul Mughits, jilid 4 hlm. 211)

Man 'urifa bi-kunyatihi adalah rawi yang dikenal luas lewat kun-yahnya, sampai-sampai nama aslinya nyaris terlupakan atau bahkan diperselisihkan ulama sendiri.1 Fenomena ini cukup umum dalam sejarah periwayatan hadits - sebagian rawi memang lebih sering dipanggil dengan kun-yahnya sehari-hari oleh gurunya dan murid-muridnya, sehingga catatan riwayat yang diwariskan generasi berikutnya lebih sering mencantumkan kun-yah itu dibanding nama aslinya.

Kasus ini menuntut kehati-hatian ekstra dari peneliti sanad: kalau nama asli seorang rawi diperselisihkan atau bahkan tidak diketahui pasti, sementara ia hanya dikenal lewat kun-yahnya, verifikasi kredibilitasnya harus tetap dilakukan berdasarkan kun-yah itu sebagai identitas utama - bukan menunda penilaian sampai nama aslinya "ditemukan", karena riwayatnya sudah dikenal luas dan diverifikasi ulama lewat kun-yah tersebut.

Bab selanjutnya membahas identifikasi rawi lewat cara ketiga: gelar kehormatan yang disematkan kepada seorang rawi karena keistimewaan tertentu, al-alqab.

Catatan & Referensi

  1. Kategori man 'urifa bi-kunyatihi dijelaskan As-Sakhawi dalam Fathul Mughits sebagai bagian dari cabang ilmu al-asma' wal-kuna, mengikuti rumusan Ibnu Shalah.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email