Fathul Mughits Bab 51: Riwayatul Akabir 'anil Ashaghir

Bab sebelumnya membahas tabi'in. Bab ini membahas fenomena yang terdengar terbalik dari kebiasaan umum: seorang rawi senior meriwayatkan dari rawi yang jauh lebih muda usianya, bahkan dari muridnya sendiri.

Riwayatul Akabir 'anil Ashaghir

Alfiyah al-'Iraqi merangkum definisi riwayatul akabir 'anil ashaghir dalam bait berikut:

وَقَدْ رَوَى الْكَبِيرُ عَنْ ذِي الصُّغْرِ ... طَبَقَةً وَسِنًّا اوْ فِي الْقَدْرِ
أَوْ فِيهِمَا وَمِنْهُ أَخْذُ الصَّحْبِ ... عَنْ تَابِعٍ كَعِدَّةٍ عَنْ كَعْب
ِ
"Dan sungguh, seorang rawi senior (al-kabir) telah meriwayatkan dari yang lebih junior (dzu ash-shughr) - baik dalam thabaqah (tingkatan generasi), usia, maupun kedudukan (keilmuan), atau junior dalam keduanya sekaligus. Termasuk contohnya: pengambilan riwayat oleh sebagian sahabat dari seorang tabi'in, seperti riwayat sejumlah sahabat dari Ka'ab (Al-Ahbar)." (Alfiyah al-'Iraqi, bait 831-832, dinukil dan disyarah As-Sakhawi dalam Fathul Mughits, jilid 4 hlm. 165)

As-Sakhawi lalu menjelaskan sendiri hikmah di balik jenis periwayatan ini dalam prosa syarahnya:

الْأَكَابِرُ الَّذِينَ يَرْوُونَ عَنِ الْأَصَاغِرِ، وَهُوَ نَوْعٌ مُهِمٌّ تَدْعُو لِفِعْلِهِ الْهِمَمُ الْعَلِيَّةُ وَالْأَنْفُسُ الزَّكِيَّةُ ; وَلِذَا قِيلَ كَمَا تَقَدَّمَ فِي مَحَلِّهِ: لَا يَكُونُ الرَّجُلُ مُحَدِّثًا حَتَّى يَأْخُذَ عَمَّنْ فَوْقَهُ وَمِثْلَهُ وَدُونَهُ
"Al-akabir adalah mereka yang meriwayatkan dari al-ashaghir - ini adalah jenis (periwayatan) penting yang lahir dari semangat yang tinggi dan jiwa yang bersih (kerendahan hati mencari ilmu); karena itu dikatakan, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya: 'Seseorang belum (layak) disebut muhaddits sampai ia mengambil ilmu dari yang di atasnya, yang sepadan dengannya, dan yang di bawahnya.'" (As-Sakhawi, Fathul Mughits, jilid 4 hlm. 165)

Riwayatul akabir 'anil ashaghir adalah kasus seorang rawi yang lebih senior - baik dari sisi usia, generasi, maupun kedudukan keilmuan - meriwayatkan hadits dari rawi yang jauh lebih muda atau lebih junior.1 Ini kebalikan dari pola periwayatan yang biasa (rawi muda belajar dari rawi senior), tapi tetap sah dan terdokumentasi luas dalam sejarah periwayatan hadits.

Fenomena ini bisa terjadi karena beberapa sebab: sang rawi muda kebetulan lebih dulu mendengar suatu riwayat dari sumber yang sama, sang rawi muda punya sanad yang lebih tinggi (lebih pendek) untuk riwayat tertentu, atau sang rawi senior ingin memastikan riwayatnya terverifikasi lewat murid yang ia percaya ketelitiannya.2 Kasus ekstrem dari fenomena ini bahkan mencakup seorang guru meriwayatkan dari muridnya sendiri, yang akan disinggung lagi dalam konteks ayah-anak di bab mendatang.

Mengetahui pola akabir 'anil ashaghir penting supaya kamu tidak keliru mengira urutan sanad "aneh" (rawi yang secara usia lebih tua justru berada di posisi bawah, seolah "murid" dari orang yang lebih muda) sebagai tanda kekeliruan atau pemalsuan - selama hubungan itu bisa diverifikasi lewat catatan biografis, ia sah sebagai bagian dari keragaman pola periwayatan hadits.

Bab selanjutnya membahas fenomena terkait: dua rawi sederajat yang justru saling meriwayatkan satu sama lain, al-mudabbaj.

Catatan & Referensi

  1. Definisi riwayatul akabir 'anil ashaghir dirumuskan Ibnu Shalah dalam Muqaddimah-nya dan dijelaskan As-Sakhawi dalam Fathul Mughits.

  2. Sebab-sebab terjadinya riwayatul akabir 'anil ashaghir dijelaskan As-Sakhawi dalam Fathul Mughits sebagai bagian dari cabang ilmu rijalul hadits yang mendata pola-pola periwayatan tidak lazim.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email